PERSPEKTIF ILMU KOMUNIKASI Teori dan Paradigma Mirza Shahreza

  • Slides: 61
Download presentation
PERSPEKTIF ILMU KOMUNIKASI Teori dan Paradigma Mirza Shahreza, M. I. K

PERSPEKTIF ILMU KOMUNIKASI Teori dan Paradigma Mirza Shahreza, M. I. K

Perspektif dan Persepsi • Charon (1998: 8): “perspektif itu bukanlah persepsi, melainkan memandu persepsi

Perspektif dan Persepsi • Charon (1998: 8): “perspektif itu bukanlah persepsi, melainkan memandu persepsi kita; perspektif mempengaruhi apa yg kita lihat & bagaimana kita melihatnya serta menafsirkan apa yg kita lihat. • Perspektif adl “kacamata” yg kita pakai utk melihat, (Mulyana, 2001: 7).

 • Tanpa perspektif pandangan kita akan berantakan, centang perenang, ngawur dan tak bermakna.

• Tanpa perspektif pandangan kita akan berantakan, centang perenang, ngawur dan tak bermakna. • Melalui perspektif, kita memperhatikan, memahami suatu stimulus dari realitas tertentu dan mengabaikan stimulus lainnya, & bertindak berdasarkan pemahaman kita lewat perspektif tsb. • Persp memang membatasi pandangan kita dan kita hanya dpt melihat sst sejauh berada dlm perspektif kita. • Perspektif kita bisa berubah tergantung dari reference group kita.

PERSPEKTIF Kumpulan asumsi / keyakinan tentang sesuatu hal. Melalui perspektif orang akan memandang sesuatu

PERSPEKTIF Kumpulan asumsi / keyakinan tentang sesuatu hal. Melalui perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara 2 tertentu. Cara 2 tsb berhubungan dg asumsi dasar yg menjadi alasan dari pandangannya tsb, unsur 2 pembentuknya & ruang lingkup apa yg dipandangnya.

Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yg relevan dg fenomena yg terpilih dari

Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yg relevan dg fenomena yg terpilih dari konsep 2 tertentu untuk dipandang secara rasional.

perspektif Adl kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yg mempengaruhi cara pandang manusia

perspektif Adl kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yg mempengaruhi cara pandang manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu.

Paradigma dalam bidang keilmuan juga disebut perspektif, atau sering pula disebut mazhab pemikiran (school

Paradigma dalam bidang keilmuan juga disebut perspektif, atau sering pula disebut mazhab pemikiran (school of thought) atau teori. Paradigma sendiri adalah suatu cara pandang untuk memahami dunia nyata, (Deddy Mulyana, 2001: 8 -9). Paradigma juga dapat diartikan sebagai : “. . . a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principles. . . a world view that defines, for its holder, the nature of the ‘world’. . . ” (Guba, dalam Denzin dan Lincoln, 1994: 107).

Paradigma adalah sekumpulan keyakinan dasar yang kemudian akan menuntun pada suatu tindakan (Denzin dan

Paradigma adalah sekumpulan keyakinan dasar yang kemudian akan menuntun pada suatu tindakan (Denzin dan Lincoln, 2000).

PENGERTIAN PARADIGMA 1. (Patton dalam Mulyana) Paradigma adalah: • Suatu cara pandang untuk memahami

PENGERTIAN PARADIGMA 1. (Patton dalam Mulyana) Paradigma adalah: • Suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. • Sesuatu yang menunjukan apa yang penting, masuk akal dan absah. • Bersifat normatif, menunjukan apa yang harus dilakukan tanpa harus melakukan pertimbangan eksistensial/epistemologi yang panjang.

Lanjutan Pengertian Paradigma…. . 2. Anderson: “Suatu ideologi dan praktik suatu komunitas ilmuwan yang

Lanjutan Pengertian Paradigma…. . 2. Anderson: “Suatu ideologi dan praktik suatu komunitas ilmuwan yang menganut suatu pandangan yang sama tentang suatu realitas, memiliki seperangkat kriteria yang sama untuk menilai aktivitas penelitian dan menggunalan metode. ” 3. Baldwin: “Pada dasarnya merupakan pendekatan yang sifatnya masih general dalam memandang realitas kehidupan. Dan teori akan membantu suatu fenomena menjadi lebih spesifik/khusus.

Lanjutan Pengertian Paradigma…. . 4. Kunh: § Paradigma merupakan cara memandang kehidupan sosial dan

Lanjutan Pengertian Paradigma…. . 4. Kunh: § Paradigma merupakan cara memandang kehidupan sosial dan kehidupan alam dengan seperangkat asumsi atau keyakinan mengenai bagaimana dunia tersebut. § Paradigma yang sifatnya umum menjadi lebih spesifik dengan lahirnya kelompok teori dan lebih spesifik lagi masuk kepada teori-teori yang mengkaji gejala yang lebih khusus.

4 Tipologi Paradigma (Guba & Lincoln (1994) Positivism, Critical Theories, Postpositivism Constructivism.

4 Tipologi Paradigma (Guba & Lincoln (1994) Positivism, Critical Theories, Postpositivism Constructivism.

3 PARADIGMA ILMU SOSIAL Classical paradigm ( mencakup positivism & postpositivism) Critical paradigm Constructivism

3 PARADIGMA ILMU SOSIAL Classical paradigm ( mencakup positivism & postpositivism) Critical paradigm Constructivism paradigm

TIGA PARADIGMA PENELITIAN KOMUNIKASI KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS Menempatkan ilmu komunikasi seperti ilmu alam; metode

TIGA PARADIGMA PENELITIAN KOMUNIKASI KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS Menempatkan ilmu komunikasi seperti ilmu alam; metode yang terorganisasi; logika deduktif; pengamatan empiris; probbabilitas; hukum sebab akibat untuk prediksi pola umum (generalisasi) Menempatkan ilmu komunikasi sebagai analis sistematis thd socially meaningful action; pengamatan langsung; “alamiah”; penafsiran tentang pelaku sosial dalam mengelola dunia sosial mereka. Menempatkan ilmu komunikasi sebagai soatu proses kritis yang mengungkapkan the real structures yang ditampakkan dunia materi dengan tujuan memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia

PARADIGMA KLASIK =METODE KUANTITATIF DAN PARADIGMA KONSTRUKTIVIS DAN KRITIS=METODE KUALITATIF Penelitian Kuantitatif • Ilmu-ilmu

PARADIGMA KLASIK =METODE KUANTITATIF DAN PARADIGMA KONSTRUKTIVIS DAN KRITIS=METODE KUALITATIF Penelitian Kuantitatif • Ilmu-ilmu keras • Fokus ringkas dan sempit • Reduksionistik • Objektif • Penalaran logis, deduktif • Basis pengetahuan: hubungan sebabakibat • Menguji teori • Kontrol atas variabel • Instrumen • Elemen dasar analitis: angka • Analisis atas statistik • generalisasi Penelitian Kualitatif • Ilmu-ilmu lunak • Fokus konpleks dan luas • Holistik dan menyeluruh • Subjektif/perspektif etnik • Penalaran dialektif-induktif • Basis pengetahuan: temuan makna dan • Mengembangkan/membangun teori • Sumbangsih tafsiran • Komunikasi dan observasi • Elemen dasar analitis: kata-kata • Interpretasi individual

RENTANG PERSPEKTIF SUBJEKTIF DAN PERSPEKTIF OBJEKTIF SUBJEKTIF OBJEKTIF Fenome Teori Etno Siber Teori Behavioris

RENTANG PERSPEKTIF SUBJEKTIF DAN PERSPEKTIF OBJEKTIF SUBJEKTIF OBJEKTIF Fenome Teori Etno Siber Teori Behavioris nologi Tindakan metodolo netik Sistem me Sosial gi Terbuka Teori Belajar Gareth Morgan dan Linda Smircich 3 sosial Dapat dijadikan sebagai teori umum (grand theory) dalam ilmu komunikasi

Rentang Ilmu Berdasarkan Paradigma Subjektif Objektif ________________________ Fenome Etnome Teori nologi delogi Tindakan Sosial

Rentang Ilmu Berdasarkan Paradigma Subjektif Objektif ________________________ Fenome Etnome Teori nologi delogi Tindakan Sosial Sibernetika Teori Sistem Behaviorisme Terbuka Teori Belajar Sosial

PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI Stephen Littlejohn PERSPEKTIF BEHAVIORISTIK (BEHAVIORISTIC PERSPECTIVE) Berkaitan dengan perilaku atau sikap

PERSPEKTIF TEORI KOMUNIKASI Stephen Littlejohn PERSPEKTIF BEHAVIORISTIK (BEHAVIORISTIC PERSPECTIVE) Berkaitan dengan perilaku atau sikap yang dipengaruhi oleh rangsangan dan tanggapan (stimulus dan response) terhadap pesan (komunikasi) yang diterima PERSPEKTIF TRANSMISSIONAL (TRANSMISSIONAL PERSPECTIVE PERSPEKTIF INTERAKSIONAL (INTERACTIONAL PERSPECTIVE Menekankan pada suatu media komunikasi, waktu dan unsur – unsur konsekuensi. Perspektif ini memandang komunikasi sebagai pengiriman informasi dari nara sumber kepada penerimanya, yaitu menggunakan gerakan model linier dari suatu tempat ke tempat lainnya Pelaku komunikasi saling menanggapi satu sama lain atau terjadi interaksi yaitu menggunakan model sirkuler dan terjadi umpan balik dan efek bersama merupakan kunci konsepnya PERSPEKTIF TRANSAKSIONAL (TRANSACTIONAL PERSPECTIVE) Menekankan pada kegiatan saling memberi, konteks, proses, dan fungsional. Dalam komunikasi pesertanya terlibat secara aktif dan perspektif ini menekankan bolisme, yang proses komunikasinya saling menyampaikan makna satu sama lain. Melahirkan sejarah perkembangan ilmu komunikasi dimana ke empat perspektif tersebut dijadikan sebagai teori umum ilmu komunikasi (Deddy Mulyana)

5 PENDKT TEORI ORGANISASI (Baldwin, dkk, 2004: 278 -304) Teori Sistem Teori Klasik Teori

5 PENDKT TEORI ORGANISASI (Baldwin, dkk, 2004: 278 -304) Teori Sistem Teori Klasik Teori Human Relations (teori motivasi, teori X & teori Y) Teori Human Resources (Teori Hierarki kebutuhan, Teori Z) Teori Pendekatan Budaya

Klasifikasi Teori-Teori Ilmu Komunikasi 1. Teori tentang pesan: information theory, meaning of meaning, symbolic

Klasifikasi Teori-Teori Ilmu Komunikasi 1. Teori tentang pesan: information theory, meaning of meaning, symbolic interaction, semiotic, expectancy violations theory dll 2. Teori tentang komunikasi interpersonal: cognotive dissonancy theory, social penetration theory dll 3. Teori komunikasi kelompok dan komunikasi publik: cultural approach, symbolic convergency dll 4. Teori komunikasi massa: spiral of silence, agenda setting, uses and gratification dll 5. Teori konteks budaya: face negotiation theory, speech code theory, genderlect style dll

PARADIGMA JENIS TEORI TEORI GAMBAR : Paradigma, jenis-jenis teori, dan teori-teori (M. Baldwin, 2004

PARADIGMA JENIS TEORI TEORI GAMBAR : Paradigma, jenis-jenis teori, dan teori-teori (M. Baldwin, 2004 : 25)

POSTPOSITIVISM CRITIS POSITIVISM KOGNITIF PSIKOANALISIS BEHAVIOUR S-R SOCIAL THEORY LEARNING EXCHANGE THEORY APLIKASI PARADIGMA,

POSTPOSITIVISM CRITIS POSITIVISM KOGNITIF PSIKOANALISIS BEHAVIOUR S-R SOCIAL THEORY LEARNING EXCHANGE THEORY APLIKASI PARADIGMA, JENIS TEORI DAN TEORI

Paradigma Interaksi Simbolik Theory Type: Labeling Theory Type: Transaksional Theory Type: Dramaturgi Theory: Atribusi

Paradigma Interaksi Simbolik Theory Type: Labeling Theory Type: Transaksional Theory Type: Dramaturgi Theory: Atribusi Theory: Penetrasi Sosial Theory: Penetapan Sosial Bagan Aplikasi Paradigma dan Teori

PARADIGMA : SCIENTIFIC TIPE TEORI : TEORI ORGANISASI & PUBLIC RELATIONS TEORI : TEORI

PARADIGMA : SCIENTIFIC TIPE TEORI : TEORI ORGANISASI & PUBLIC RELATIONS TEORI : TEORI KLASIK, TEORI HUMAN RELATIONS, TEORI HUMAN RESOURCES

Dari Cara Pandang (Paradigma) ‘Pengunaan istilah’Lain: • Positivis • Interpretif • Kritis

Dari Cara Pandang (Paradigma) ‘Pengunaan istilah’Lain: • Positivis • Interpretif • Kritis

Paradigma POSITIVISTIK • Ilmu didasarkan pada hukum dan prosedur 2 baku • Secara mendasar

Paradigma POSITIVISTIK • Ilmu didasarkan pada hukum dan prosedur 2 baku • Secara mendasar ilmu bebeda dari spekulasi dan “common sense” • Bersifat deduktif (dari hal umum dan abstrak menuju yang konkret dan spesifik/khusus) • Nomotetik (didasarkan pada hukum 2 kausal yang universal yg digunakan untuk menjelaskan peristiwa 2 sosial seta hub bariabel 2 di dalamnya) • Ilmu adl pengetahuan yang diperoleh dari indra, sumber pengetahuan lain dianggap tidak reliabel • Ilmu bebas nilai (dapat dan perlu memisahkan fakta dari nilai) (Sarantakos, 1993) 28

PARADIGMA DAN ILMU Paradigma INTERPRETIF (FENOMENOLOGIS) (berada di kutub yg berlawanan dengan Positivistik) •

PARADIGMA DAN ILMU Paradigma INTERPRETIF (FENOMENOLOGIS) (berada di kutub yg berlawanan dengan Positivistik) • Dasar untuk menjelaskan kehidupan, peristiwa sosial, dan manusia adalah common sense. (langkah awal penelitian bermula dari arti/makna yg diberikan individu terhadap pengalaman dan kehidupannya sehari-hari) • Induktif (berjalan dari yg spesifik menuju ke yg umum, dari yg konkret menuju ke yg abstrak) • Idiografis, bukan nomotetis (realitas terungkap dalam simbol 2 melalui bentuk 2 deskriptif) • Pengetahuan tidak hanya dapat diperoleh melalui indera, karena pemahaman mengenai makna dan interpretasi adl jauh lebih penting • Ilmu tidak bebas nilai. (Kondisi bebas nilai tidak mungkin dicapai) Misal: jumlah korban sipil menurut GAM dan TNI berbeda (Sarantakos, 1993) 29

PARADIGMA DAN ILMU Paradigma KRITIKAL (berkembang belakangan namun mampu mengembangkan pandangan 2 baru yg

PARADIGMA DAN ILMU Paradigma KRITIKAL (berkembang belakangan namun mampu mengembangkan pandangan 2 baru yg sangat penting dan tidak dapat diabaikan) • Ilmu berada di antara positivisme dan interpretif, di antara determinisme dan humanisme (kebebasan manusia) • Manusia dihadapkan pada berbagai kondisi sosial-ekonomi yg memengaruhi kehidupan • Kelompok yang satu dengan yang lain dalam masyarakat berada dalam posisi berbeda. • Manusia mampu memberikan, menciptakan arti terhadap kehidupan yang dialami, dan mengubah arti tersebut. • Ilmu tidak dapat dipisahkan dari nilai yang hidup dalam masyarakat (seperti yang diyakini peneliti interpretif) 30

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA POSITIVISTIK KRITERIA POSITIVISME Realitas • Objektif, di luar individu • Dipersepsi

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA POSITIVISTIK KRITERIA POSITIVISME Realitas • Objektif, di luar individu • Dipersepsi melalui indera • Dipersepsi seragam • Diatur oleh hukum-hukum universal • Terintegrasi dengan baik untuk kebaikan semua Manusia • Rasional • Mengikuti hukum di luar diri • Tidak memiliki kebebasan kehendak ILMU • Didasarkan pada hukum dan prosedur ketat • Deduktif • Nomotetis (mencari hukum-hukum umum) • Didasarkan pada impresi indera • Bebas nilai Tujuan Penelitian • Menjelaskan fakta, penyebab & efek • Meramalkan • Menekankan fakta objektif • Menekankan peramalan 31

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA INTERPRETIF KRITERIA INTERPRETIF Realitas §Subjektif §Diciptakan, bukan telah ada dng sendirinya

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA INTERPRETIF KRITERIA INTERPRETIF Realitas §Subjektif §Diciptakan, bukan telah ada dng sendirinya §diinterpretasikan Manusia • Pencipta dunia • Memberi arti pada dunia • Tidak dibatasi hukum di luar diri • Menciptakan rangkaian makna Ilmu • Didasari pengetahuan sehari-hari • Induktif • Ideografis • Didasarkan pada interpretasi • Tidak bebas nilai Tujuan Penelitian • Menginterpretasi dunia • Memahami kehidupan sosial • Menekankan makna • Menekankan upaya memahami 32

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA KRITIKAL KRITERIA KRITIKAL Realitas • Antara Manusia • Dinamis, pencipta nasib

PERSPEKTIF TEORITIS PARADIGMA KRITIKAL KRITERIA KRITIKAL Realitas • Antara Manusia • Dinamis, pencipta nasib subjektivitas dan objektivitas • Sangat kompleks • Diciptakan manusia, bukan dng sendirinya • Berada dalam ketegangan, penuh kontradiksi • Didasari opresi (penekanan) dan eksploitasi terhadap pihak yang ‘lemah’ • Dicuci otak (brain-wash), diarahkan dng tdk tepat, dikondisikan • Dihalangi dari realisasi potensi secara utuh Ilmu • Antara positivistik & interpretif; kondisi 2 sosial membentuk Tujuan Penelitian • Mengungkap yang ada ‘di balik’ yang kelihatan kehidupan, tetapi dapat diubah • Membebaskan, memampukan • Menjelaskan dinamika sitem 2 yang ada dan berkembang dlm msy • Tidak bebas nilai • Mengungkap mitos 2 dan ilusi • Menekankan terbukanya keyakinan/ide-ide keliru • Membebaskan, memampukan 33

DIKOTOMI POSITIVISTIK PASCA POSITIVISTIK/ FENOMENOLOGIK

DIKOTOMI POSITIVISTIK PASCA POSITIVISTIK/ FENOMENOLOGIK

POSITIVISTIK • BERAKAR DARI ILMU EKSAKTA • DISEBUT JUGA STUDI STATISTIK • Disyaratkan adanya

POSITIVISTIK • BERAKAR DARI ILMU EKSAKTA • DISEBUT JUGA STUDI STATISTIK • Disyaratkan adanya variabel yang dikontrol. • Pengacakkan sampel • Pengujian validitas dan realibilitas instrumen • Ditujukan untuk menggenarilasasi sampel dalam populasi • Penelitian yang masuk kategori ini adalah: eksperimen, korelasi, survey, dll

PASCA POSITIVISTIK/FENOMENOLOGIS • BERAKAR pada tradisi dalam sosiologi dan antropologi • bertujuan untuk memahami

PASCA POSITIVISTIK/FENOMENOLOGIS • BERAKAR pada tradisi dalam sosiologi dan antropologi • bertujuan untuk memahami suatu gejala seperti apa adanya • tanpa harus mengontrol variabel dan tidak berusaha menggeneralisasi gejala tersebut dalam gejala-gejala yang lain • CONTOH penelitian ini adalah etnografi, studi kasus, studi naturalistic, sejarah, biografi, teori membum. I (grounded theory), dan studi deskriptif (Creswell, 1998; Denzin dan Lincoln, 2003; Merriam, 1998).

Eichelberger selanjutnya membedakan tiga paradigma filsafat melandasi metodologi pengetahuan positivistik • keberadaan sesuatu merupakan

Eichelberger selanjutnya membedakan tiga paradigma filsafat melandasi metodologi pengetahuan positivistik • keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur • Peneliti adalah • pengamat yang objectif atas peristiwa yang terjadi di dunia • dapat diuji secara empirik Fenomenologik • Filsafat fenomenologik pertama kali dikembangkan oleh seorang matematikawan Jerman Edmund Husserl (1850 -1938) • filsafat fenomenologik berupaya untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna

Hermeneutik • Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher, 2003: 17) •

Hermeneutik • Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher, 2003: 17) • usaha mencari kebenaran dengan menafsirkan makna atas gejala yang ada. • Interprestasi atau penafsiran tersebut berlangsung dalam suatu konteks tradisi. Implikasinya adalah bahwa ilmuwan sosial atau interpretator harus telah memiliki prapemahaman atas objek ketika ia mengkaji objek tersebut, sehingga tidak mungkin untuk memulai dengan sebuah pemikiran netral

POSITIVISTIK FENOMENOLOGIK HERMENEUTIK Analitik Holistik Sintetik Nomotetik Ideografik Interpretatik Dedukatif Induktif Sinkretik Laboratorik Empirik

POSITIVISTIK FENOMENOLOGIK HERMENEUTIK Analitik Holistik Sintetik Nomotetik Ideografik Interpretatik Dedukatif Induktif Sinkretik Laboratorik Empirik Empatik Pembuktian dengan logika Pengukuhan pengalaman Penafsiran tak memihak Kebenaran universal Kebenaran bersifat unik Kebenaran yang diterima Bebas nilai Tidak bebas nilai

FENOMENOLOGIK SUMBER: Jurnal Pendidikan Penabur - No. 05/ Th. IV / Desember 2005 menganggap

FENOMENOLOGIK SUMBER: Jurnal Pendidikan Penabur - No. 05/ Th. IV / Desember 2005 menganggap bahwa pengalaman bukanlah merupakan suatu dunia eksternal yang bersifat objektif. Pengalaman bukan sekedar lama waktu seseorang berinteraksi dengan lingkungannya, melainkan pelajaran yang diperoleh dalam rentangan waktu tertentu. Untuk memahami pengalaman itu digunakan pemikiran, perasaan, tanggapan, dan berbagai ungkapan psikologis atau mental lain.

Gejala yang diamati dari suatu pengalaman perlu dibandingkan dengan pengalaman lain agar halhal yang

Gejala yang diamati dari suatu pengalaman perlu dibandingkan dengan pengalaman lain agar halhal yang esensial dari berbagai pengalaman itu dapat dipahami. Hal-hal yang esensial tersebut selanjutnya perlu digabungkan dengan hasil pengalaman lain, sehingga dapat diidentifikasi kesamaan yang bersifat hakiki.

Paradigma fenomenologik ini justru menggunakan akal sehat (common sense) yang oleh penganut positivistik dianggap

Paradigma fenomenologik ini justru menggunakan akal sehat (common sense) yang oleh penganut positivistik dianggap tidak/kurang ilmiah. Akal sehat ini mengandung makna yang diberikan seseorang dalam menghadapi pengalaman dan kehidupannnya sehari-hari. Jadi tidak semata-mata didasarkan pada data atau informasi yang diperoleh melalui penginderaan.

Dalam paradigma ini suatu kebenaran ilmiah tidak dimulai dengan adanya sejumlah teori yang mendasari,

Dalam paradigma ini suatu kebenaran ilmiah tidak dimulai dengan adanya sejumlah teori yang mendasari, namun secara induktif mengakumulasikan pengalaman khusus menjadi umum, atau yang konkrit menjadi abstrak, dan bahkan kemudian bahkan mengukuhkan pengalaman itu menjadi teori (teori membumi = grounded theory) yang bersifat holistik (meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman yang bersangkutan)

 • Kebenaran ilmiah • menurut paradigma ini tidak bersifat nomotetik melainkan bersifat ideografik,

• Kebenaran ilmiah • menurut paradigma ini tidak bersifat nomotetik melainkan bersifat ideografik, • yaitu mengungkap secara naratif dengan memberikan uraian rinci mengenai • hakekat suatu objek atau konsep. Kebenaran itu juga bersifat unik dan hanya • dapat ditransfer bila kondisi dan situasinya sama atau tidak berbeda. Kebenaran • ini sarat dengan nilai (value loaded).

FILSAFAT HERMENEUTIK Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher, 2003: 17; Eichelberger,

FILSAFAT HERMENEUTIK Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher, 2003: 17; Eichelberger, 1998: 7), dalam usaha mencari kebenaran dengan menafsirkan makna atas gejala yang ada. Sejarawan akan menafsirkan legenda, artefak atau berbagai naskah kuno berdasarkan perspektif terkini. Seorang ahli tafsir agama akan berusaha menelaah ayat-ayat dari kitab suci dan memberikan makna berdasarkan kondisi yang berkembang sekarang.

Sedangkan seorang ahli hukum akan menafsirkan pasal dan ayat dalam kitab hukum dan jurisprudensi

Sedangkan seorang ahli hukum akan menafsirkan pasal dan ayat dalam kitab hukum dan jurisprudensi dengan mempertimbangkan azas keadilan dan/atau manfaat. Interprestasi atau penafsiran tersebut berlangsung dalam suatu konteks tradisi. Implikasinya adalah bahwa ilmuwan sosial atau interpretator harus telah memiliki pra-pemahaman atas objek ketika ia mengkaji objek tersebut, sehingga tidak mungkin untuk memulai dengan sebuah pemikiran netral (Bleicher, 2003: ix).

Pengkajian atas objek itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, mendalam, teliti dan tepat agar dapat

Pengkajian atas objek itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, mendalam, teliti dan tepat agar dapat diterima oleh orang lain yang melakukan pengkajian yang sama, dan kemudian dapat digabungkan menjadi bangunan pengetahuan. Pendekatan hermeneutik ini pada awalnya banyak digunakan oleh para agamawan, sejarawan dan ahli hukum. Mereka ini menafsikan apa yang ada dalam naskah (kitab suci, artefak atau kitab undang-undang) sesuai masalah yang dihadapinya dengan membangun argumentasi sendiri.

Paradigma hermeneutik, meskipun dapat dikatakan satu kategori dengan paradigma fenomenologik, mempunyai sejumlah ketentuan yang

Paradigma hermeneutik, meskipun dapat dikatakan satu kategori dengan paradigma fenomenologik, mempunyai sejumlah ketentuan yang berbeda. Kebenaran ilmiah dalam paradigma ini tidak analitik maupun holistik, melainkan sintetik yaitu memadukan pendapat yang berlawanan (tesis dan antitesis). Kebenaran dinyatakan dalam bentuk interpretatik, yaitu penafsiran yang didasarkan pada keyakinan tertentu.

Pendekatan yang dilakukan tidak berupa deduktif atau induktif, melainkan sinkretik, yaitu menggunakan berbagai pandangan

Pendekatan yang dilakukan tidak berupa deduktif atau induktif, melainkan sinkretik, yaitu menggunakan berbagai pandangan dan praktek. Seorang pengacara dalam membela kliennya, tidak hanya menafsirkan hukum dari aspek legal saja (secara deduktif membangun kesimpulan dari kasus), melainkan berusaha memasukkan aspek moral, sosial dan politik, sehingga diharapkan dapat menjadi suatu keputusan jurisprudensi tersendiri.

Data dan informasi yang dikumpulkan tidak dari latar laboratorik maupun empirik, melainkan dengan cara

Data dan informasi yang dikumpulkan tidak dari latar laboratorik maupun empirik, melainkan dengan cara empatik yaitu data yang diperoleh dengan membangun kepedulian dengan adanya getaran yang bermakna. Kebenaran diperoleh melalui penafsiran yang tidak memihak, meskipun dilandasi oleh prasangka dan adanya pengetahuan awal. Setiap pengacara akan bertolak dari azas praduga tidak bersalah sebagai suatu kebenaran. Dia berlindung dibalik azas ini tanpa “kelihatan” memihak kepada klien yang dibelanya.

Kebenaran yang diusahakan adalah kebenaran yang dapat diterima oleh mereka yang berkepentingan. Kebenaran ini

Kebenaran yang diusahakan adalah kebenaran yang dapat diterima oleh mereka yang berkepentingan. Kebenaran ini tidak bersifat bebas nilai.

PENGELOMPOKKAN TEORI DAN PARADIGMA PENELITIAN ILMU KOMUNIKASI TEORI / PENDEKATAN Theories of Message Theories

PENGELOMPOKKAN TEORI DAN PARADIGMA PENELITIAN ILMU KOMUNIKASI TEORI / PENDEKATAN Theories of Message Theories of Disclosure Theories Sign and Language Interpersonal Communications Symbolic interactionism Social Judgement theory Cognitive Dissonance theory Theories of experience and interpretation Theories of Receptions and Processing Group/Public/Organisational Communication Information system approach in Organisation Social Exchange theories Theories of Communication Network Mass Communication and Society Structural-Functionalism theories of mass media Agenda Setting theory Uses and Gratifications Political-economy theories of mass media Mass media and social construction of reality Media and cultural studies Theories of message production Theories of Mass Media and Persuasion, effectiveness of ads and communication program PARADIGMA KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS √ √ √ (Iowa School) √ √ √ (Chicago School) √ √ √ √ √ √ (liberal poitical economy √ (culturalsm/constructivism (Golding &Murdoch) √ √ instrumentalism & structuralism (Chomasky, Schudson) √ √ √

Apa itu teori? ? Teori merupakan susunan • Dibuat oleh manusia • Ketika para

Apa itu teori? ? Teori merupakan susunan • Dibuat oleh manusia • Ketika para akademisi menguji sesuatu yg ada di dunia, mereka membuat pilihan, • bagaimana mengelompokkan yg mereka amati. • Bagaimana menyebut konsep yg mereka fokuskan • Seberapa luas dan sempitkan fokus mereka.

teori Mnrt Abraham Kaplan Stanley Deetz • Merepresentasikan beragam cara pengamat melihat lingkungan sekitar

teori Mnrt Abraham Kaplan Stanley Deetz • Merepresentasikan beragam cara pengamat melihat lingkungan sekitar mereka lebih dari kenyataan g dapat mereka tangkap. • Teori : cara utuk melihat fakta, menyusun dan menunjukkannya • Teori: sebuah cara untuk melihat dan memikirkan dunia

Teori merupakan tafsiran, sehingga mempertanyakan kegunaan teori lebih bijaksana dari pada mempertanyakan kebenarannya. •

Teori merupakan tafsiran, sehingga mempertanyakan kegunaan teori lebih bijaksana dari pada mempertanyakan kebenarannya. • Teori menyusun dan menyatukan pengetahuan yang sudah ada, sehingga kita tidak perlu memulai semua penelitian dari awal.

Teori menawarkan satu cara untuk menangkap “kebenaran” dari sebuah fenomena, tetapi bukanlah satu-satunya cara

Teori menawarkan satu cara untuk menangkap “kebenaran” dari sebuah fenomena, tetapi bukanlah satu-satunya cara untuk memandang fenoomena tersebut. Teori berisi seperangkat pelajaran utnuk membaca dunia dan bertindak di dalamnya. Sebuah teori mengatur bagaimana cara kita melakukan pendekatan terhadap dunia kita (JAMES ANDERSON)

DIMENSI-DIMENSI TEORI ASUMSI FILOSOFIS PRINSIP DIMENSI TEORI PENJELASAN KONSEP

DIMENSI-DIMENSI TEORI ASUMSI FILOSOFIS PRINSIP DIMENSI TEORI PENJELASAN KONSEP

Asumsi filosofis ONTOLOGI (TENTANG KEBERADAAN) EPISTEMOLOGI (TENTANG PENGETAHUAN) AKSIOLOGI (TENTANG NILAI) ASUMSI FILOSOFIS

Asumsi filosofis ONTOLOGI (TENTANG KEBERADAAN) EPISTEMOLOGI (TENTANG PENGETAHUAN) AKSIOLOGI (TENTANG NILAI) ASUMSI FILOSOFIS

TEORI NOMOTETIK TUJUAN • SESUATU YG MELIHAT HUKUM UNIVERSAL ATAU UMUM • PENDEKATAN INI

TEORI NOMOTETIK TUJUAN • SESUATU YG MELIHAT HUKUM UNIVERSAL ATAU UMUM • PENDEKATAN INI BERPENGARUH DLM IPA PERCOBAAN DAN CONTOH BAGI BANYAK PENELITIAN SOSIAL • UNTUK MENGGAMBARKAN DENGAN TEPAT CARA KEHIDUPAN SOSIAL BERJALAN • TEORI NOMOTETIK TDK MEBUAT PENILAIAN ATAU SOLUSI MENGENAI MASALAH, PARA ILMUAN HANYA MENGGAMBARKAN TENTANG SESUATU.

GAGASAN KLASIK SEBUAH ILMU PENGETAHUAN Induksi TEORI PENYIMPULAN Metode & pengukuran Teori HIPOTESIS OBSERVASI

GAGASAN KLASIK SEBUAH ILMU PENGETAHUAN Induksi TEORI PENYIMPULAN Metode & pengukuran Teori HIPOTESIS OBSERVASI Tindakan

TEORI PRAKTIS DIRANCANG UNTUK • MENGUMPULKAN BANYAK PERPEDAAN ANTAR SITUASI DAN UNTUK MEMBERIKAN SEBUAH

TEORI PRAKTIS DIRANCANG UNTUK • MENGUMPULKAN BANYAK PERPEDAAN ANTAR SITUASI DAN UNTUK MEMBERIKAN SEBUAH SUSUNAN PEMAHAMAN YANG MEMUNGKINKAN PENELITI MEMPERTIMBANGKAN RANGKAIAN ALTERNATIF • TINDAKAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN.