Manajemen Kewaspadaan Umum Profilaksis Pasca Pajanan PPP OLEH




























- Slides: 28
Manajemen Kewaspadaan Umum Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) OLEH: Aprianti, M. Kes
�Epidemi HIV/AIDS merupakan krisis global dan tantangan yang berat bagi pembangunan dan kemajuan sosial. �Belum ada vaksin untuk mencegah HIV/AIDS, dan pengobatannya juga belum ada �Pekerja sektor kesehatan dalam memberikan perawatan kepada pasien HIV/AIDS juga berisiko mendapat penularan, khususnya bila aturan-aturan dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K 3) tidak dilaksanakan.
KEWASPADAAN UNIVERSAL Pendekatan ini muncul sebagai reaksi terhadap merebaknya wabah HIV/AIDS dan kesadaran akan pentingnya strategi baru untuk melindungi pegawai rumah sakit dari berbagai infeksi melalui darah. pendekatan ini menekankan penerapan kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh dan dilaksanakan secara universal terhadap semua orang tanpa memandang status infeksi
Kewaspadaan Universal Mencakup � Penanganan hati-hati terhadap pengumpulan dan pembuangan berbagai benda tajam (jarum suntik atau benda tajam lainnya), sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. � Cuci tangan sebelum dan sesudah setiap prosedur kegiatan di air mengalir dengan memakai detergen atau sabun atau alkohol 70%. � Penggunaan berbagai pelindung seperti sarung tangan, jubah, masker, setiap kali kontak langsung dengan darah atau berbagai cairan tubuh. � Membuang sisa darah atau sisa cairan tubuh yang tercemar secara aman. � Semua peralatan yang tercemar dilakukan sterilisasi dengan menggunakan disinfektan yang tepat secara khusus. � Kain-kain kotor dilakukan pencucian dengan detergen dan bahan disinfektan dengan temperatur 80°C
1. Profilaksis Pascapajanan Profilaksis berarti pencegahan infeksi dengan obat. Pajanan adalah peristiwa yang menimbulkan risiko penularan. Jadi profilaksis pascapajanan (PPP) berarti penggunaan obat untuk mencegah infeksi setelah terjadi peristiwa yang berisiko.
2. Jenis Pajanan �Pajanan di tempat kerja. Pajanan ini biasa terjadi dalam sarana medis, dan berasal jika darah, air mani, cairan vagina atau ASI dari seorang yang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang lain, dalam hal ini biasanya petugas perawatan kesehatan. �Peristiwa yang termaksud biasanya kecelakaan akibat tertusuk jarum suntik bekas pakai secara tidak sengaja pada petugas. Pajanan juga dapat terjadi dengan pisau bedah, atau jika darah atau cairan lain pasien kena luka terbuka, atau mulut, hidung atau mata petugas atau orang lain.
Risiko Penularan Akibat Pajanan di Tempat Kerja �Kemungkinan terjadinya penularan akibat tertusuk jarum suntik adalah rendah: rata-rata 0, 3%. Kurang lebih satu dari 300 kasus akan menghasilkan infeksi HIV pada petugas kesehatan, bila tidak dilakukan tindakan pencegahan.
Risiko Penularan Risiko penularan dipengaruhi oleh : �Dalamnya luka �Darah terlihat pada jarum �Penempatan jarum pada vena/arteri pasien �Sumber padanan terinfeksi HIV fase lanjut (berhubungan dengan tingginya kadar virus pada sumber tersebut)
�Pajanan akibat hubungan seks berisiko, misalnya bila kondom pecah atau lepas saat seorang Odha berhubungan seks dengan pasangan HIVnegatif. �Pajanan akibat perkosaan. Pemerkosa hampir pasti tidak memakai kondom. Tambahannya, jika hubungan seks terjadi secara paksa, yang sering disertai kekerasan, risiko penularan lebih tinggi.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Pajanan �Luka tusuk: bilas dengan air mengalir dan sabun atau antiseptik. Jangan dihisap dengan mulut, dan jangan ditekan karena ini tidak berguna. Desinfeksi luka dan daerah sekitar kulit dengan betadine selama lima menit atau alkohol selama tiga menit. �Pajanan mulut: ludahkan dan berkumur. �Pajanan hidung: hembuskan keluar dan bersihkan dengan air. �Pajanan mata: bilas selama beberapa menit dengan air bersih. �Hubungan seks: jangan bilas vagina.
3. Alur tatalaksana pajanan Langkah 1 : Menentukan kode pajanan (KP)
Langkah 2: Menentukan Status HIV dari sumber pajanan
Sumber Pajanan Bila sumber atau pasien tidak diketahui status HIVnya dapat dilakukan tes cepat yang dalam waktu < 1 jam dapat diketahui hasilnya. Tes ini dapat dipercaya hasilnya dan sangat efektif untuk mencegah penggunaan obat profilaksis yang tidak diperlukan.
4. Pemberian Obat PPP �PPP dimulai sesegera mungkin setelah pajanan, sebaiknya dalam waktu 2 -4 jam 36 jam pasca pajanan �Kombinasi dan dosis yang direkomendasikan tanpa adanya resistensi terhadap Zidovudinen (AZT) atau Lamivudine (3 TC) pada tenaga pelayanan kesehatan yang terpajan adalah : 1. ZDV 250 - 300 mg 2 x per hari 2. Lamividine 150 mg 2 x per hari �Obat ketiga yang ditambahkan : Indinavir 800 mg 3 x perhari atau Efavirenz 600 mg hanya sekali sehari ( tidak dianjurkan untuk wanita hamil).
Menentukan Pengobatan Profilaksis Pasca Pajanan
Tatalaksana Profilaksis HIV pasca pajanan untuk luka perkutaneus
Tatalaksana Profilaksis Pasca pajanan melalui membran mukosa dan kulit yang tidak utuh (Dermatitis, Abrasi, Luka)
4. Efek Samping Efek samping yang sering terjadi dengan pemberian ARV adalah �mual �perasaan tidak enak. Pengaruh yang lainnya kemungkinan: �sakit kepala �lelah, �mual dan �diare.
6. Monitoring dan Konseling �Tes serologi HIV harus dilakukan pada saat kejadian, dan diulang pada minggu ke-6, 3 bulan dan 6 bulan �Tes ini harus diulang pada bulan 12 untuk pekerja atau buruh menderita hepatitis C karena dapat memperlambat pembentukan serokonversi HIV
�mendapatkan konseling untuk melakukan hubungan seks dengan aman atau tidak melakukan hubungan seks sampai hasil tes serologi negatif setelah 6 bulan pasca pajanan
Pengendalan Risiko Eliminasi membuang secara sempurna potensi bahaya dari tempat kerja, Contohnya mencakup membuang benda-benda tajam dan jarum dan mengeliminasi semua suntikan yang tidak perlu 2. Subtitusi mengganti cara kerja dengan cara lain yang menimbulkan risiko lebih kecil. menggantinya dengan pengobatan oral dengan efek yang sama 1.
3. Pengendalian teknis mengisolasi atau membuang potensi bahaya dari tempat kerja. Dapat mencakup penggunaan mekanisme, metoda dan peralatan yang tepat untuk mencegah pajanan pekerja 4. Pengendalian administratif kebijakan tempat kerja yang bertujuan untuk membatasi pajanan pada potensi bahaya, seperti perubahan skedul, rotasi, atau akses ke daerah risiko
5. Pendidikan, pelatihan dan penyebarluasan informasi kepada pekerja/buruh 6. Alat Pelindung Diri (APD) peralatan untuk melindungi pekerja dari pajanan terhadap darah atau cairan tubuh
APD Perban tidak berpori dan kedap air untuk pekerja sektor kesehatan dengan kulit yang lecet atau terluka; b. Sarung tangan dengan berbagai ukuran, steril dan non -steril , termasuk lateks berat, vinil, kulit kedap air dan bahan-bahan tusukan lainnya; c. Pelindung pernafasan yang tepat, termasuk masker untuk resusitasi mulut ke mulut bila kantong sistem (bagging system) tidak tersedia atau tidak efektif, d. Celemek plastik, gaun kedap air, pelindung mata, masker tahan cairan, overal dan overboot bagi pekerja yang mungkin terpercik atau tersemprot darah dalam pekerjaan mereka a.
Pekerja/buruh bidang kesehatan dengan HIV positif berdasarkan United State Centre for Diseases Control and Prevention (CDC) dapat tetap menangani pasien dengan prosedur operasi selama: 1. pasien mengetahui status HIV pekerja tersebut 2. ada persetujuan tindak medis tertulis dari pasien
KESIMPULAN �Profilaksis pascapajanan (PPP) adalah penggunaan ARV secepatnya setelah terjadi peristiwa yang berisiko penularan HIV, untuk mencegah infeksi HIV. PPP dapat mengurangi risiko terinfeksi hingga 79%. �PPP hanya dipakai setelah penyelidikan menunjukkan ada risiko pada orang yang terpajan. Hanya 0, 3% pajanan menghasilkan infeksi HIV. Karena ARV dapat menyebabkan efek samping yang cukup berat, sebaiknya PPP hanya dipakai jika benar -benar dibutuhkan.
�PPP terdiri dari tiga obat yang dipakai dua kali sehari selama empat minggu. PPP tidak 100% efektif; berarti PPP tidak menjamin pajanan pada HIV tidak akan menghasilkan infeksi
TERIMA KASIH




























