KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERTEMUAN

  • Slides: 44
Download presentation
KONSEP DASAR ILMU, PENDIDIKAN, DAN ILMU PENDIDIKAN PERTEMUAN 1 Dr. RATNAWATI SUSANTO, M. M.

KONSEP DASAR ILMU, PENDIDIKAN, DAN ILMU PENDIDIKAN PERTEMUAN 1 Dr. RATNAWATI SUSANTO, M. M. , M. Pd. PGSD - FKIP

VISI DAN MISI UNIVERSITAS ESA UNGGUL

VISI DAN MISI UNIVERSITAS ESA UNGGUL

VISI FKIP MISI FKIP

VISI FKIP MISI FKIP

TUJUAN FKIP

TUJUAN FKIP

MATERI SEBELUM UTS 01. Konsep Dasar Ilmu, Pendidikan, dan Ilmu Pendidikan. 02. Konsep Dasar

MATERI SEBELUM UTS 01. Konsep Dasar Ilmu, Pendidikan, dan Ilmu Pendidikan. 02. Konsep Dasar Manusia dan Pendidikan. 03. Aliran, Landasan Pendidikan, dan Pembangunan Nasional. 04. Permasalahan, Tantangan Pendidikan, dan Sistem Pendidikan. 05. Pendidikan Seumur Hidup.

MATERI SEBELUM UTS 06. Peranan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Dalam Pendidikan. 07. Penerapan Konsep

MATERI SEBELUM UTS 06. Peranan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Dalam Pendidikan. 07. Penerapan Konsep Pendidikan Agama Dalam Pendidikan Di Indonesia.

MATERI SETELAH UTS 08. Konsep Demokrasi Pendidikan. 09. Adopsi dan Inovasi Pendidikan. 10. Pengembangan

MATERI SETELAH UTS 08. Konsep Demokrasi Pendidikan. 09. Adopsi dan Inovasi Pendidikan. 10. Pengembangan Kurikulum Pendidikan. 11. Penilaian Di Indonesia. 12. Pengembangan Metode Pendidikan. 13. Pengembangan Media Pendidikan. 14. Issue Strategic.

KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN 1. 2. Mahasiswa mampu menguraikan secara konseptual, prosedur, dan operasional

KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN 1. 2. Mahasiswa mampu menguraikan secara konseptual, prosedur, dan operasional aspek-aspek yang berhubungan dengan Pengantar Ilmu Pendidikan. Mampu mengintegrasikan dan menggunakan konsep pemahaman teori dan keterampilan paradigma pengantar ilmu pendidikan yang menunjukkan sikap guru profesional yang memiliki kecirian intelektualitas, kreatifitas, dan kewirausahaan.

MODEL PEMBELAJARAN 1. 2. Model Pembelajaran Ekspository. Media Pembelajaran di kelas menggunakan Komputer, LCD,

MODEL PEMBELAJARAN 1. 2. Model Pembelajaran Ekspository. Media Pembelajaran di kelas menggunakan Komputer, LCD, White Board, dan Web Hybrid Learning.

SUMBER PEMBELAJARAN 1. 2. 3. Djaelani, M. Solikodin dkk, 2015, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta :

SUMBER PEMBELAJARAN 1. 2. 3. Djaelani, M. Solikodin dkk, 2015, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta : Pustaka Mandiri. Achdiyat, Maman dkk, 2014, Dasar Pendidikan sebagai Pengantar, Jakarta : Pustaka Mandiri. Hidayat, Syarif, 2013, Teori dan Prinsip Pendidikan, Jakarta : Pustaka Mandiri.

EVALUASI PEMBELAJARAN Komponen penilaian : • Kehadiran = • Tugas = • UTS =

EVALUASI PEMBELAJARAN Komponen penilaian : • Kehadiran = • Tugas = • UTS = 30 % • UAS = 30 % 15 % 25 %

EVALUASI PEMBELAJARAN PROSEDUR BENTUK BOBOT Pre Test Tes Lisan 0% Embedded Test Tugas Individu

EVALUASI PEMBELAJARAN PROSEDUR BENTUK BOBOT Pre Test Tes Lisan 0% Embedded Test Tugas Individu Tugas Kelompok & Presentasi : 3 Kali Quiz 0% 0% 5% Project Tugas Individu Tugas Kelompok & Presentasi : 3 Kali 5% 15 %

I. KONSEP DASAR ILMU A. MENURUT FRANCIS BACON Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid

I. KONSEP DASAR ILMU A. MENURUT FRANCIS BACON Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan. B. ILMU SECARA ETIMOLOGI Berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam hal penyerapannya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah sosial, dan sebagainya.

C. SYARAT – SYARAT ILMU 1. Objective Adalah Ilmu harus memiliki obyek studi terdiri

C. SYARAT – SYARAT ILMU 1. Objective Adalah Ilmu harus memiliki obyek studi terdiri dari satu kelas properti dasarnya masalah yang sama, tampak dari luar serta bentuk dalam. Objek mungkin ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam meninjau objek, yang dicari adalah kebenaran, korespondensi antara pengetahuan dengan objek, yang disebut kebenaran obyektif, subjektif tidak didasarkan pada subjek penelitian atau subjek dukungan penelitian.

2. Metodis Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran.

2. Metodis Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Akibatnya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “metodos” yang berarti : Cara atau Jalan. Secara umum, metodis merupakan metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.

3. Sistematis Dalam mencoba untuk mengidentifikasi dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan

3. Sistematis Dalam mencoba untuk mengidentifikasi dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan dirumuskan dalam hubungan teratur dan logis, sehingga membentuk suatu sistem yang secara keseluruhan, komprehensif, terintegrasi, dan mampu menjelaskan urutan penyebab dan efek terhadap objek. Pengetahuan sistematis diatur dalam serangkaian sebab dan akibat adalah kebutuhan ilmu ketiga.

4. Universal Kebenaran yang ingin dicapai adalah kebenaran universal yang umum (non-spesifik). Contoh :

4. Universal Kebenaran yang ingin dicapai adalah kebenaran universal yang umum (non-spesifik). Contoh : 180°-an sudut semua segitiga. Oleh karena itu universal kebutuhan ilmu keempat. Kemudian ilmu-aware konten sosial untuk sang jenderal (universal) yang berisi berbeda dari ilmu-ilmu alam mengingat objek adalah tindakan manusia. Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

D. ESENSI KONSEP ILMU 1. Pengertian Ilmu • Pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. •

D. ESENSI KONSEP ILMU 1. Pengertian Ilmu • Pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. • Membahas tentang hal-hal yang dapat diamati (Observable). 2. Ciri – ciri Ilmu • Mempunyai Objek Tertentu. • Menggunakan Metode Tertentu. • Bersifat Sistematis. • Berguna (Nilai Aksiologis) • Bersifat Universal.

II. KONSEP PENDIDIKAN A. PENDIDIKAN 1. Usaha sadar secara terencana untuk mewujudkan suasana belajar

II. KONSEP PENDIDIKAN A. PENDIDIKAN 1. Usaha sadar secara terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat serta tuntutan perkembangan zaman.

2. Pendidikan adalah “PEDAGOGIK” Ilmu menuntun anak. Dalam pandangan orang romawi, pendidikan adalah :

2. Pendidikan adalah “PEDAGOGIK” Ilmu menuntun anak. Dalam pandangan orang romawi, pendidikan adalah : “Educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, suatu tindakan merealisasikan potensi anak yang dilahirkan ke dunia. 2. Pendidikan adalah “ERZICHUNG” Menurut Bangsa Jerman, setara dengan “Educare”. Membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan / potensi yang dimiliki setiap anak yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan-perbedaan.

4. Langeveld Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, bantuan yang diberikan kepada anak yang

4. Langeveld Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, bantuan yang diberikan kepada anak yang diarahkan pada pendewasaan anak sehingga cakap dan mampu melaksanakan tugas hidupnya. 5. John Dewey Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan essensial baik secara intelektual maupun emosional. 6. John Rousseau Pendidikan adalah proses memberi pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi sangat dibutuhkan pada masa dewasa.

7. Driyakara Pendidikan adalah upaya pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf

7. Driyakara Pendidikan adalah upaya pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani. 8. Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah tuntutan di dalam tumbuh kembangnya anak-anak, yaitu menuntun segala kekuatan yang ada pada anak-anak berupa potensi agar mereka seagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

9. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Dalam UU Sisdiknas : Pendidikan adalah usaha

9. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Dalam UU Sisdiknas : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

10. Kajian pendidikan sebagai “PEDAGOGI” dan “PEDAGOGIK” Pedagogi = pendidikan Pedagogik + ilmu pendidikan

10. Kajian pendidikan sebagai “PEDAGOGI” dan “PEDAGOGIK” Pedagogi = pendidikan Pedagogik + ilmu pendidikan : menyelidiki, merenungkan gejala perbuatan mendidik. Berasal dari kata “Pedagogian” (Yunani) : berarti pergaulan dengan anak-anak. Berasal dari kata : “Paedos” = anak dan “Agoge” = yang membimbing, memimpin.

B. PENDIDIKAN MERUPAKAN SUATU INTERAKSI PEDAGOGIK 1. Interaksi yang memberikan pengaruh. 2. Pengaruh itu

B. PENDIDIKAN MERUPAKAN SUATU INTERAKSI PEDAGOGIK 1. Interaksi yang memberikan pengaruh. 2. Pengaruh itu dilaksanakan oleh orang dewasa (dalam berbagai bentuk, sekolah, pelajaran agama, buku, pelajaran) kepada orang yang belum dewasa. 3. Adanya kesabaran orang dewasa akan kemampuan dan tindakannya sendiri terhadap anak yang dianggap belum mampu dan belum dewasa.

C. PENDIDIK HENDAKNYA ORANG YANG DEWASA 1. Karena mendidik adalah mendewasakan anak didik. 2.

C. PENDIDIK HENDAKNYA ORANG YANG DEWASA 1. Karena mendidik adalah mendewasakan anak didik. 2. Kedewasaan berarti Kedewasaan Jasmani dan Rohani orang dewasa itu. 3. Kedewasaan berarti Stabilitas dan Kestabililan.

D. PENDEKATAN PENDIDIKAN 1. Pendekatan PEDAGOGISME Titik tolak dari teori ini adalah bahwa anak

D. PENDEKATAN PENDIDIKAN 1. Pendekatan PEDAGOGISME Titik tolak dari teori ini adalah bahwa anak yang akan dibesarkan menjadi manusia dewasa. Pandangan ini memiliki bahwa anak telah mempunyai kemampuan yang dilahirkan dan tinggal dikembangkan saja.

2. Pendekatan FILOSOFIS Anak manusia pada hakekatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa.

2. Pendekatan FILOSOFIS Anak manusia pada hakekatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa. Oleh karenanya proses pendewasaan anak betitik tolak dari anak sebagai manusia yang mempunyai tingkat dan orang dewasa memiliki peran sebagai orang yang memfasilitasi apa yang sudah dimiliki anak. 3. Pendekatan PHSYCOLOGIS Bahwa manusia memiliki jiwa yang khas dan satu sama lain berbeda. 4. Pendekatan SOSIOLOGIS Titik tolak pandangan ini adalah prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu.

5. Pendekatan HOLISTIC INTEGRATIF • Pendidikan merupakan proses berkesinambungan. • Proses pendidikan berarti menumbuh-kembangkan

5. Pendekatan HOLISTIC INTEGRATIF • Pendidikan merupakan proses berkesinambungan. • Proses pendidikan berarti menumbuh-kembangkan eksistensi manusia. • Esksistensi manusia yang memasyarakat. • Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya. • Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang.

E. CIRI / UNSUR PENDIDIKAN 1. Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu

E. CIRI / UNSUR PENDIDIKAN 1. Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu yang kemampuan-kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat bagi hidupnya, masyarakat, dan negara. 2. Untuk mencapai tujuan, pendidikan perlu melakukan usaha-usaha yang sengaja dan berencana dalam memilih isi / materi, strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. 3. Kegiatan tersebut dapat diberikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pendidikan formal, dan pendidikan non formal.

F. FAKTOR - FAKTOR PENDIDIKAN 1. Faktor Tujuan. 2. Faktor Pendidik. 3. Faktor Peserta

F. FAKTOR - FAKTOR PENDIDIKAN 1. Faktor Tujuan. 2. Faktor Pendidik. 3. Faktor Peserta Didik. 4. Faktor Isi / Materi Pendidikan. 5. Faktor Metode Pendidikan. 6. Faktor Situasi Lingkungan.

G. TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Membangun Kualitas Manusia yang Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

G. TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL Membangun Kualitas Manusia yang Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-NYA sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila, mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian yang kuat, cerdas, terampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mengembangkan daya estetik, berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya.

H. FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL 1. Pengembangan Pribadi. 2. Pengembangan Warga Negara. 3. Pengembangan Kependudukan.

H. FUNGSI PENDIDIKAN NASIONAL 1. Pengembangan Pribadi. 2. Pengembangan Warga Negara. 3. Pengembangan Kependudukan. 4. Pengembangan Bangsa.

I. TUJUAN INSTITUSIONAL PENDIDIKAN 1. Perumusan secara umum pada perilaku dan kemampuan yang harus

I. TUJUAN INSTITUSIONAL PENDIDIKAN 1. Perumusan secara umum pada perilaku dan kemampuan yang harus dimiliki lulusan suatu lembaga pendidikan : • Mampu berpikir secara kreatif dan kritis. • Mampu untuk mengembangkan pola pengambilan keputusan dalam bidang keahliannya berdasarkan kesadaran bahwa keputusan – keputusan tersebut selalu menyangkut segi – segi kebudayaan serta nilai – nilai hidup bermasyarakat. 2. Perumusan tujuan institusional dilandaskan pada : • Tujuan Pendidikan Nasional. • Kekhususan masing – masing Lembaga. • Tingkat Usia Siswa. • Pemberian Pengalaman Belajar Berdasarkan Kekhususan Lembaga.

J. TUJUAN KURIKULER 1. Tujuan Kurikuler ditentukan oleh Tujuan Institusional Lembaga Pendidikan. 2. Tujuan

J. TUJUAN KURIKULER 1. Tujuan Kurikuler ditentukan oleh Tujuan Institusional Lembaga Pendidikan. 2. Tujuan ini untuk menentukan macam – macam pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan. K. TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa sebagai hasil dari kegiatan pengalaman belajarnya. 2. Terdiri dari Tujuan Instruksional Umum dan Instruksional Khusus.

L. ESENSI PENDIDIKAN 1. Suatu proses pertumbuhan yang sesuai dengan lingkungan. 2. Suatu pengarahan

L. ESENSI PENDIDIKAN 1. Suatu proses pertumbuhan yang sesuai dengan lingkungan. 2. Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam pertumbuhannya. 3. Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang dikehendaki oleh masyarakat. 4. Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju kedewasaan. 5. Aktifitas yang dilakukan secara sengaja dan terencana oleh manusia dewasa yang bertujuan untuk membantu manusia lain agar menjadi manusia yang mandiri fisik dan mental (Manusia Rohaniah). 6. Manusia Rohaniah adalah Manusia yang Mandiri, Bertanggungjawab, Adaptif, dan Berguna bagi orang lain.

III. KONSEP ILMU PENDIDIKAN A. KONSEP ILMU PENDIDIKAN Ilmu yang mempelajari hal / peristiwa

III. KONSEP ILMU PENDIDIKAN A. KONSEP ILMU PENDIDIKAN Ilmu yang mempelajari hal / peristiwa yang timbul dalam praktek pendidikan (dengan bantuan ilmu – ilmu lain yang mendukung). Hasil penelitian empirik dan analisis visional atas situasi pendidikan.

B. SIFAT ILMU PENDIDIKAN 1. Terbuka. Memerlukan bantuan ilmu – ilmu lain yang mendukung

B. SIFAT ILMU PENDIDIKAN 1. Terbuka. Memerlukan bantuan ilmu – ilmu lain yang mendukung (Psikologi, Antropologi, Sosial, Budaya, Filsafat, Ekonomi, Politik, dll). 2. Teoritis. Mengkaji bidang keilmuan secara luas, dalam, dan spesifik. 3. Praktis / Terapan. 4. Normatif. Memiliki ciri dasar / aturan dasar yang baku. 5. Deskriptif Menggambarkan adanya peristiwa / proses belajar untuk memperoleh hasil belajar.

C. SITUASI PENDIDIKAN Terdapat dalam situasi kehidupan manusia yang diarahkan ke masa depan yang

C. SITUASI PENDIDIKAN Terdapat dalam situasi kehidupan manusia yang diarahkan ke masa depan yang dipengaruhi oleh kekuatan sosial, ekonomi, politik, dan kultural. D. PERISTIWA PENDIDIKAN Muncul karena perubahan yang terjadi dalam situasi pergaulan, adanya keharusan menanamkan nilai dan norma yang hidup dalam diri anak didik. Penanaman nilai atau norma hidup pertama kali melalui contoh orang dewasa diikuti oleh pengetahuan, pengertian, dan kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk.

Teknologi Pendidikan Ilmu Pendidikan Praktis Ilmu Pendidikan Komparatif Ilmu Pendidikan Historis Andragogik Pedagogik Filsafat

Teknologi Pendidikan Ilmu Pendidikan Praktis Ilmu Pendidikan Komparatif Ilmu Pendidikan Historis Andragogik Pedagogik Filsafat Ilmu Pendidikan

FILSAFAT PSIKOLOGI SEJARAH PENDIDIKAN SOSIOLOGI SOSPOL ANTROPOLOGI

FILSAFAT PSIKOLOGI SEJARAH PENDIDIKAN SOSIOLOGI SOSPOL ANTROPOLOGI

SELESAI

SELESAI