Definisi Mutlaq lafal yang menunjukkan satuan yang tidak

  • Slides: 31
Download presentation

Definisi Mutlaq : “lafal yang menunjukkan satuan yang tidak dibatasi oleh satuan batasan yang

Definisi Mutlaq : “lafal yang menunjukkan satuan yang tidak dibatasi oleh satuan batasan yang mengurangi keseluruhan jangkauannya”. Muqayyad : “lafal yang menunjukkan satuan-satuan tertentu yang dibatasi oleh batasan yang mengurangi keseluruhan jangkauannya”.

Perbedaan ﺍﻟﻌﻢ dan ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﺍﻟﻌﻢ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ Menunjukkan pd seluruh satuan dari satuan-satuan yg ada.

Perbedaan ﺍﻟﻌﻢ dan ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﺍﻟﻌﻢ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ Menunjukkan pd seluruh satuan dari satuan-satuan yg ada. Menunjukkan pd satuan yg tergolong dalam satuan itu sj (tdk seluruh satuan). Mencakup seluruh satuan 2 yg dapat dimasukan ke dalamnya. Tidak dapat mencakup seluruh satuan, selain hanya satuan yg dapat dimasukan ke dalamnya.

Contoh : Mahasiswa itu berpakaian Mutlaq

Contoh : Mahasiswa itu berpakaian Mutlaq

Apa ciri Warna muqoyyad Kuning ? Mahasiswa itu berpakaian warna kuning Muqoyyad

Apa ciri Warna muqoyyad Kuning ? Mahasiswa itu berpakaian warna kuning Muqoyyad

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 1. Hukum Mutlaq : ﻕﻯ ﻯ ﺍ ﺍ ﻯ “Mutlaq

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 1. Hukum Mutlaq : ﻕﻯ ﻯ ﺍ ﺍ ﻯ “Mutlaq itu ditetapkan menurut kemutlakannya selama belum ada bukti yang membatasinya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 322)

Contoh : QS. An Nisa : 23 ﺥﻝ ﺍ ﺍ ﻩ ﺍﻯ ﻭ ﺍﻟ

Contoh : QS. An Nisa : 23 ﺥﻝ ﺍ ﺍ ﻩ ﺍﻯ ﻭ ﺍﻟ ﺽ ﻩ ﺍ ﻭ . . . ﻩ ﺍ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua)…”. (Mutlaq)

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 2. Hukum Muqayyad : ﻯﺍ ﺍﻯ ﺍ “Muqayyad itu ditetapkan

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 2. Hukum Muqayyad : ﻯﺍ ﺍﻯ ﺍ “Muqayyad itu ditetapkan berdasarkan batasannya selama belum ada dalil yg menyatakan kemutlakannya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 232)

Contoh : Hukum kafarat Zihar ﺍ ﺫ ﺗ ﺍﻟﻠ ﺍ ﺍ ﺍﺍ ﺍﻅ ﺍ

Contoh : Hukum kafarat Zihar ﺍ ﺫ ﺗ ﺍﻟﻠ ﺍ ﺍ ﺍﺍ ﺍﻅ ﺍ “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujadillah, 58 : 3)

 ﺍ ﺍ “Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan

ﺍ ﺍ “Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut -turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. ”. (QS. Al Mujadillah, 58 : 4) ---Muqayyad

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 3. Hukum Mutlaq yang sudah dibatasi : ﺍﻕﻯ ﻯ ﺍ

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 3. Hukum Mutlaq yang sudah dibatasi : ﺍﻕﻯ ﻯ ﺍ ﺍ ﻯ “Lafal Mutlaq tidak boleh dinyatakan mutlak karena telah ada batasan yang membatasinya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 323)

Contoh : Ketentuan jumlah harta wasiat ﻯﺍ “Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat

Contoh : Ketentuan jumlah harta wasiat ﻯﺍ “Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. ”. (QS. An Nisa, 4 : 11) Ayat tersebut bersifat mutlaq

Contoh : Ketentuan jumlah harta wasiat ﺍ ﺍﻟ ﺍ ﺍ ﺍﻟ ، ﺍﻟ “Sepertiga,

Contoh : Ketentuan jumlah harta wasiat ﺍ ﺍﻟ ﺍ ﺍ ﺍﻟ ، ﺍﻟ “Sepertiga, Sepertiga itu banyak dan besar. Karena jika kamu meninggalkan ahli waris dalam keadaan yan berkecukupan adalah lebih baik daripada jika kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang banyak. ”. (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini bersifat Muqayyad

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Hukum Muqayyad yang dihapuskan batasannya: ﺍ ﻕﻯ ﻯ ﺍ

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Hukum Muqayyad yang dihapuskan batasannya: ﺍ ﻕﻯ ﻯ ﺍ “Muqayyad tidak tetap dinyatakan kemuqayyadannya karena ada dalil lain yang menunjukkan kemutlakannya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 324)

Contoh : ﺍﺍ ﻧﺍ ﺍ ﺍﻯ ﺏ ﺍﻯ ﻯ. . . ﻩ “Diharamkan atas

Contoh : ﺍﺍ ﻧﺍ ﺍ ﺍﻯ ﺏ ﺍﻯ ﻯ. . . ﻩ “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. . . , anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya…”. (QS. An Nisa, 4 : 23) “dalam pemeliharaan” dari “isteri yang telah kamu campuri”--(Taqyid) “belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan)”--(Penghilang taqyid)

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 5. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: a. Jika Hukum dan

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 5. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: a. Jika Hukum dan Sebab sama : ﻯ ﺍ ﺍ ﻯ ﺍﻟ ﺍ “Mutlak dibawa ke muqayyad jika sebab dan hukumnya sama”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 324)

. . . ﺍ ﺍﻟ ﺍ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (QS.

. . . ﺍ ﺍﻟ ﺍ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (QS. al Maidah : 3) (Mutlaq) ﺍﺍ ﺍ ﻝﻯ ﺍ ﺍ ﺍﻯﺍ Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir. . ” (QS. al An’am : 145) (Muqayyad)

Kasus : Bagaimana hukumnya tentang darah? Hukumnya : sama ---Hukum memakan darah adalah Haram

Kasus : Bagaimana hukumnya tentang darah? Hukumnya : sama ---Hukum memakan darah adalah Haram (QS. al Maidah : 3) Hukum memakan darah = Haram (Mutlak) (QS. al An’am : 145) Hukum memakan darah yang mengalir = Haram (Muqayyad) Sebab : Sama (=Keadaan berupa darah)

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: b. Jika Hukum sama,

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: b. Jika Hukum sama, tetapi Sebabnya berbeda : ﻯ ﺍ ﺍﻟﺍ ﻯ ﺍﻟ “Mutlak dibawa ke muqayyad jika berbeda sebabnya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 324)

 ﺍ ﺫ ﺗ ﺍﻟﻠ ﺍ ﺍ ﺍﺍ ﺍﻅ ﺍ “Orang-orang yang menzhihar isteri

ﺍ ﺫ ﺗ ﺍﻟﻠ ﺍ ﺍ ﺍﺍ ﺍﻅ ﺍ “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujadillah, 58 : 3) ﻟﻰ ﺍﺍ “…barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu)…”. (QS. an Nisa : 92)

Kafarat Zihar memerdekakan budak (QS. al Mujadillah : 3) (Mutlak) Kafarat pembunuhan tidak sengaja

Kafarat Zihar memerdekakan budak (QS. al Mujadillah : 3) (Mutlak) Kafarat pembunuhan tidak sengaja memerdekakan budak yang beriman (QS. an Nisa : 92) (Muqayyad) Hukum = sama (memerdekakan Budak Sahaya) Sebab = berbeda (Zihar dan membunuh tanpa sengaja)

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: c. Jika Hukum Berbeda,

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: c. Jika Hukum Berbeda, tetapi Sebabnya sama : ﺍ ﻯ ﺍ ﺍ ﺍﻟﺍﻯ ﺍ “Mutlak tidak dibawa ke muqayyad jika berbeda hukumnya”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 324)

(QS. al Maidah : 6) Hukum Berbeda : Tayamum dan Berwudhu q Mengusap tangan

(QS. al Maidah : 6) Hukum Berbeda : Tayamum dan Berwudhu q Mengusap tangan (Tayamum) (Mutlak) q Membasuh tangan sampai dg siku (Wudhu) (Muqayyad) Sebab sama = Menghilangkan hadats/Hendak melakukan salat.

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: d. Jika Sebab dan

Kaidah-Kaidah Mutlaq - Muqoyyad 4. Variasi Ketentuan Mutlaq dan Muqayyad: d. Jika Sebab dan Hukumnya Berbeda : ﺍ ﻯ ﺍ ﺍ ﺍﻟﺍ ﻯ ﺍﻟ ﺍ “Mutlak tidak dibawa ke muqayyad jika sebab dan hukumnya berbeda”. (Ahmad Muhammad asy Syafi’I, 1983 : 324)

 ﺍﻟ ﺍ ﺍﺍ ﺍ ﺍ ﻙﺍ ﺍﻟﻠ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang

ﺍﻟ ﺍ ﺍﺍ ﺍ ﺍ ﻙﺍ ﺍﻟﻠ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. al Maidah : 38) ----- (Mutlaq)

 ﻱ ﺍ ﺍ ﺃﺍ ﺍ ﻟﻰ ﺍﻟ ﻟﻮ ﺍﺍ ﻟﻰ ﺍﺍ “Wahai orang-orang

ﻱ ﺍ ﺍ ﺃﺍ ﺍ ﻟﻰ ﺍﻟ ﻟﻮ ﺍﺍ ﻟﻰ ﺍﺍ “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, … (QS. Al Maidah, 5 : 6) --(Muqayyad)

Hukum Potong tangan bagi pencuri (QS. al Maidah : 38) --- (Mutlak) Sebab :

Hukum Potong tangan bagi pencuri (QS. al Maidah : 38) --- (Mutlak) Sebab : karena mencuri Hukum Berwudhu membasuh tangan sampai dengan siku (QS. al Maidah : 6) --(Muqayyad) Sebab : Hendak melakukan salat Hukum = Berbeda Sebab = Berbeda