Ke 4 Kapita Selekta Manajemen Pendidikan Paradigma Pendidikan

  • Slides: 21
Download presentation
Ke. 4. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan Paradigma Pendidikan Indonesia Perspektif Manajemen Pendidikan

Ke. 4. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan Paradigma Pendidikan Indonesia Perspektif Manajemen Pendidikan

1. Pendahuluan Ø Dengn diberlakukannya UU No 22 Tahun 1999 tentang PEMDA , PP

1. Pendahuluan Ø Dengn diberlakukannya UU No 22 Tahun 1999 tentang PEMDA , PP No. 25 ttg kewenangan Pemerintah Pusat dan kewnangan Propinsi sbg daerah Otonom , menunjukkan bahwa manajemn berbasis pusat mrpkn salah satu faktor yg menyebabkn kurang optimalnya kinerja sekolah adalah perlu diterapkan manajemen berbasis Sekolh Apa itu MBS? Ø Esensi MBS adalh otonomi sekolah plus pengambilan keputusan partisipatif Ø Otonomi Sekolh adalah kewenangan sekolah untk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolh menurut prakarsa sendiri berdsrkn aspirasi warga sekolah sesuai dg peraturan per UU penddkn Nasional yg berlaku 2

 • Pendidikan Sentralistik adalah pendidikan yang sistem manajemennya masih berpusat pada pemerintah. Jadi,

• Pendidikan Sentralistik adalah pendidikan yang sistem manajemennya masih berpusat pada pemerintah. Jadi, konsep sentralisasi menekankan pemusatan pengurusan pendidikan. • Artinya segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan diurus oleh organisasi pendidikan tingkat pusat.

 • Kurikulum pendidikan, prasarana da sarana pendidikan, ketenagaan pendidikan, serta peraturan pendukungnya semua

• Kurikulum pendidikan, prasarana da sarana pendidikan, ketenagaan pendidikan, serta peraturan pendukungnya semua ditetapkan oleh pemerintah pusat. Daerah hanya sekedar menjalankan keputusan – keputusan yang berasal dari pusat.

 • Dalam konteks pendidikan desentralisasi bermakna seperangkat proses yang bersifat kompleks, berhubungan dengan

• Dalam konteks pendidikan desentralisasi bermakna seperangkat proses yang bersifat kompleks, berhubungan dengan perubahan sistem pengambilan keputusan dalam satuan pendidikan, pendapatan, pengeluaran biaya pendidikan, pengembangan kapasitas guru, rancangan kurikulum dan pengelolaan sekolah. • Desentralisasi pendidikan lahir dari landasan pemikiran dan perdebatan yang melingkupinya sehingga dapat diintegrasikan ke dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.

 • Dengan demikian, kreativitas dan ruang gerak inovasi menjadi hilang karena segala sesuatu

• Dengan demikian, kreativitas dan ruang gerak inovasi menjadi hilang karena segala sesuatu telah ditentukan oleh pemerintah, Sehingga apa yang diinginkan daerah (lembaga pendidikan) tidak tercapai karena sifat yang sentralistik tersebut. • Hasilnya adalah jumlah out-put banyak namun itu menambah pengangguran yang banyak pula.

Peran Lembaga Pemerintah • Peran pemerintah bergeser dari “regulator” menjadi “fasilitator”. • Alasan utama

Peran Lembaga Pemerintah • Peran pemerintah bergeser dari “regulator” menjadi “fasilitator”. • Alasan utama keterlibatan pemerintah dalam penyelenggaraan ini hanya mencakup dua aspek, yaitu: 1. mutu Pendidikan 2. pemerataan Pendidikan. (Pemerintah menjamin pemerataan kesempatan bagi seluruh siswa dari semua lapisan masyarakat untuk mendapat pendidikan). 7

 • Perubahan peran pemerintah ini mengubah hierarki pengambilan keputusan yang selama ini selalu

• Perubahan peran pemerintah ini mengubah hierarki pengambilan keputusan yang selama ini selalu berawal dari pemerintah pusat dan bermuara di sekolah. • Dalam skema otonomi pengelolaan masa yang akan datang, hierarki pengambilan keputusan berubah menjadi piramida terbalik, kedudukan lembaga sekolah berada di atas sedangkan lembaga pemerintah berada di bawah. 8

PERTIMBANGAN PARADIGMA BARU BAGI PENDIDIKAN DI INDONESIA Dalam upaya menjawab kebutuhan dan tantangan dunia

PERTIMBANGAN PARADIGMA BARU BAGI PENDIDIKAN DI INDONESIA Dalam upaya menjawab kebutuhan dan tantangan dunia global saat ini Ada 3 aspek dalam sistem pendidikan yang dilakukan untuk menuju perubahan menjadi paradigma baru : 1. Aspek dalam metode pembelajaran 2. Aspek manajemen lembaga pendidikan 3. Dari Teaching ke Learning 9

1. Aspek dalam metode pembelajaran Sejak dahulu metode pembelajaran kita selalu berorientasi dan bersumber

1. Aspek dalam metode pembelajaran Sejak dahulu metode pembelajaran kita selalu berorientasi dan bersumber hanya kepada guru dan berlangsung satu arah (one way), kita sepakat bahwa metode ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi dengan tanpa mengenyampingkan bahwa GURU itu tetap harus menjadi insan yang patut di Gugu dan di ti. Ru. 10

 • Sudah saatnya kini orientasi berubah tidak hanya kepada satu sumber saja (Guru),

• Sudah saatnya kini orientasi berubah tidak hanya kepada satu sumber saja (Guru), tetapi harus dilakukan berorientai kepada siswa dan secara multi arah, • dengan terjadinya proses interaksi ini diharapkan akan menstimulir para siwa untuk lebih menumbuhkan tingkat kepercayaan dirinya, proaktif, mau saling bertukar informasi, meningkatkan keterampilan berkomunikasi, berfikir kritis, membangun kerja sama 11

memahami dan menghormati akan adanya perbedaan pendapat dan masih banyak harapan positif lainnya yang

memahami dan menghormati akan adanya perbedaan pendapat dan masih banyak harapan positif lainnya yang lahir dari adanya perubahan tersebut serta pada akhirnya siswa akan dihadapkan pada realitas yang sebenarnya dalam memandang dan memahami konteks dalam kehidupan kesehariannya 12

2. Aspek manajemen lembaga pendidikan Seperti kita alami selama ini dimana pada waktu sebelumnya

2. Aspek manajemen lembaga pendidikan Seperti kita alami selama ini dimana pada waktu sebelumnya sekolah hanya bergerak dan beroperasi sendiri-sendiri secara mandiri, maka dalam konteks pembelajaran masa kini dan kedepan setiap sekolah harus mempunyai dan membangun networking antar lembaga pendidikan yang dapat saling bertukar informasi, pengetahuan dan sumber daya, artinya sekolah lain sebagai institusi tidak lagi dipandang sebagai rival atau kompetitor semata tetapi lebih sebagai mitra (counterpart). 13

3. Dari Teaching ke Learning § Keberadaan guru cenderung lebih banyak menghambat daripada memotivasi

3. Dari Teaching ke Learning § Keberadaan guru cenderung lebih banyak menghambat daripada memotivasi potensi otak (siswa harus mendengar, menerima dan mentaati segala perlakuan guru); § Apa yang dipelajari oleh siswa di sekolah tidak integrative dengan kehidupan realistis sehari; 14

Peran Sekolah, Pemerintah, dan Pengurus Pendidikan 1. Sekolah perlu memiliki guru yang berkualitas tinggi

Peran Sekolah, Pemerintah, dan Pengurus Pendidikan 1. Sekolah perlu memiliki guru yang berkualitas tinggi 2. Kepemimpinan sekolah yang kuat dan merata di Indonesia 3. Sekolah berfokus pada prestasi siswa 4. Pemerintah perlu komitmen untuk mendukung sekolah dan memperbaiki kualitas guru 5. Komitmen menyempurnakan kurikulum 6. Sekolah berorientasi pada manajemen berbasis sekolah serta mengembangkan kurikulum sesuai dengan konteks local.

Solusinya : 1. Merubah Paradigma Teaching (mengajar) menjadi Learning (belajar); proses belajar bersama antara

Solusinya : 1. Merubah Paradigma Teaching (mengajar) menjadi Learning (belajar); proses belajar bersama antara guru dan murid. Hal ini sesuai dengan 4 visi pendidikan menuju abad 21 versi UNISCO yang berdasarkan pada paradigma learning. 16

2. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik kognitif, akan tetapi juga berorientasi pada

2. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik kognitif, akan tetapi juga berorientasi pada kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, mampu mengambil pelajaran dari pengalaman diri dan orang lain, mampu memanfaatkan alam sekitar, dsb; sehingga siswa mampu mengembangkan sikap kreatif dan daya pikir imaginative. 3. Metode Guru dalam mengajar tidak lagi mementingkan “subject matter” (seperti silabus/RPP), akan tetapi justru mementingkan kebutuhan 17

Implementasi Paradigma Baru Manajemen Pendidikan • Output yang bagaimana yang dapat kita harapkan dari

Implementasi Paradigma Baru Manajemen Pendidikan • Output yang bagaimana yang dapat kita harapkan dari suatu proses perubahan pendidikan dalam menuju kearah peningkatan kualitas adalah tergantung dari bagaimana kita mengimplemantisakan, dengan tetap berkomitmen dan berpegang pada aspek perubahan paradigma baru sistem pendidikan dan stressing nya difokuskan terhadap hal-hal berikut ini : (R. Eko Inrajit, 2006, Halaman 379) 18

Implementasi Paradigma Baru Manajemen Pendidikan 1. Sistem Pendidikan harus diimplementasikan dengan berpegang pada prinsip

Implementasi Paradigma Baru Manajemen Pendidikan 1. Sistem Pendidikan harus diimplementasikan dengan berpegang pada prinsip “muatan lokal, orientasi global” ada penciptaan kompetensi siswa (kognitif, afektif dan psikomotorik) 3. Proses belajar mengajar harus berorientasi pada p 2. Konten dan kurikulum yang dibuat harus berbasis pemecahan masalah riil dalam kehidupan, tidak sekedar mengawang (problem base learning) 4. Fasilitas sarana dan prasarana harus berbasis teknologi informasi agar dapat tercipta jejaring pendidikan antar sekolah dan lembaga lainnya 19

5. Sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidkan harus mempunyai kemampuan multi dimensi

5. Sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidkan harus mempunyai kemampuan multi dimensi yang dapat merangsang multi intelejensia peserta didik 6. Manajemen pendidikan harus berbasis sekolah ? Sistem informasi terpadu untuk menunjang proses administrasi dan strategis 7. Otoritas pemerintah daerah diharapkan lebih berperan dalam menunjang infrastruktur dan suprastruktur pendidikan , sesuai strategi otonomi daerah yang diterapkan secara nasional. 20

 • Sudah dulu !!! 21

• Sudah dulu !!! 21