Periode Kritika Pada masa memuncaknya semangat keilmuan Estetika


















- Slides: 18
Periode Kritika Pada masa memuncaknya semangat keilmuan, Estetika mengalami krisis dan terancam kehancuran tatakala muncul penggemar ilmu seni yang mengarah untuk menjadikan Estetika sebagai bahasan teknik. Apabila periode Dogmatis yang masa pertumbuhannya ber langsung sejak Sokrates hingga Boungarten (1714 1762) yang kemu dian dikenal dengan penggali istilah “estetika” sebagai filsafat keindahan (Wadjiz 1935: 11). Periode kritika berangkat sesudah Boungarten sampai wafatnya Kant 1904 dan imbas setelah Kant. Pada periode ini secara ringkas membahas sumber filsafat Kant, tendensi dan pengaruhnya, elemen dasarnya dari sebelum Kant, Kant dan sesudah Kant
Periode kritika sebelum Kant Jikalau kita memandang kepada gerakan filsafat sebelum Kant, maka dari jauh kita dapat dengan mudah menentukan bahwa gerakan itu berkisar antara dua aliran besar: rasionalisme Leibniz dan Baumgarten dan sensualisme Burke. Sedang Kant berusaha untuk merukun kan kedua aliran. Akan tatapi sebelum itu Descrates telah merubah haluan fisafat umum sari obyektivisme ke arah yang subektif dan relatif sebagai tanda dibukanya jaman baru di dalam sejarah pikiran murni (Wadjiz 1985: 25). Kata Montaigne: “Besar sekali kemungkinan bahwa kita tidak akan mengetahui apa hekekat keindahan yang sebenarnya”. Kecantikan menurut orang negro berada pada bibir yang tebal, menurut orang Peru (Indian) ada pada telinga yang besar, dan menurut sementara bangsa lain ada pada gigi yang merah atau hitam. . BACA HALAMAN 23 ALINEA 2
Lord Kaimes dengan karyanya Elemants of Cirticism (terbit pada tahun 1961) sependapat dengan Burke, mengemukakan suatu titik tolak baru, bahwa pengalaman mengenai suatu emosi walaupun sangat pedih seperti emosi takut atau kesengsaraan simpatis, adalah menyenangkan. Atau seperti kata Lord Kaimes, emosi yang menyedih kan adalah menyenangkan bila direnungkan. Perang, bencana alam adalah menyedihkan: tetapi kita suka mendengar beritanya dan senang melihat gambaran berkecamuknya, di dalam panggung sandi wara dan surat kabar. Kejadian yang paling dahsyat dan ngeri justru yang paling mengesan dan menggambirakan (Wadjiz 1985: 27).
Periode kritika – Kant Kita perlu memahami garis besar pikiran Kant, dan mengabaikan langkah detail dari jalan antologi yang ditempuhnya. Orang orang sebelum Kant, dan terutama Leibniz mengemukakan bahwa keindahan itu terdapat di dalam keseragaman atau dengan kata lain, terwujudnya logika di dalam indrawi. Kemudian mereka membuang “teleologisme obyektif”, menonjolkan pentingnya arti forma tau konsepsi mengenai fenomena dan menganggap selera (Geshmack) sebagai fungsi persepsi dan bukan fungsi akal. Mereka mengemukakan konsepsi subyektif tentang keindahan. Pendapat yang berserakan mengenaisegi kejiwaan dari Estetika ini akhirnya tersusun rapi di dalam filsafat Kant. Namun filsafat Kant mempunyai ciri yang khusus, yaitu ditemu kannya “kritik ketiga” yang merupakan suatu teori baru mengenai selera. Selera tidak lagi merupakan sekedar penilain tentang perasaan “Gefuehlsurtheil” tetapi juga merupakan perasaan mengenai penilaian “Urtheilsgefuehl”, dan dengan kata lain ia bersifat universil, pasti, berdasar emosi (Wadjiz 1985: 29) BACA HALAMAN 27 ALINEA 2
Perasaan estetis menurut Kant berada pada keselarasan pikiran dengan imaginasi dengan dasar bebasnya kerja imaginasi. Teori “Keselarasan subyektif” ini mentafsirkan segala idea estetis Kant. Keselarasan inilah yang melahirkan adanya tujuan (purposiveness) yang tak bertujuan selain mewujudkan rasa keindahan. Seni menurut Kant ialah penciptaan sadar terhadap obyek yang menyebabkan orang yang mengenangnya merasa seolah obyek itu dicipta serti alam tanpa tujuan. Ciri utama dari seni berada pada seni adalah berdasarkan pembagian seni kemanusiaan, menjadi seni bahasa (rhetorika dan puisi) seni rupa (pahat, arsitektur, lukis, seni mengatur kebun), seni suara (musik) atau lebih tepat seni “permainan perasaan”, dan akhirnya seni campuran antara pelbagi seni di atas dengan cara berbeda seperti drama, menyanyi, opera, atau tarian (Wadjiz 1985: 33).
Periode kritika sesudah Kant Schiller yang sejaman dengan gurunya, hidup pada tahun 1758 1805, Ia memulai bahwa seni adalah kegiatan dan permainan dan letak keindahan, ialah pada pertemuan antara ruh dan alam, atau antara materi dan forma, kerena keindahan adalah hidup, atau juga gambar yang hidup (Lebende Gestalt): rahasia seniman besar ialah karena ia dapat menyembunyikan materi denga perantaraan forma. Menurut Schiller, bidang estetika sajalah bidang yang luas dan mencakup bidang lain. Ia, berbeda dari segala bentuk kegiatan kemanusiaan lainnya, tidak memberikan arah tertentu dan “pengala man estetis sajalah yang membawa kita kepada alam yang tak terbatas” (Wadjiz 1985: 34).
Schelling menyatakan bahwa hal itu terdapat di dalam kegiatan estetis yang dianggapnya sebagai “kunci pembuka filsafat”. Ada dua jalan yang dapat dipakai untuk keluar dari dunia kenyataan sehari, jalan puisi yaitu pelarian ke dunia idea dan jalan filsafat yaitu penghancuran dunia kenyataan. Schelling menegaskan pula bahwa seni alah bukan sekedar alat filsafat, tapi sumber yang sesungguhnya. Filssafat dilahirkan dari syair, maka akan tiba satu saat di mana ia akan kembali ke induk yang pernah ia lepaskan.
a. Seni Hegel, menurutnya bahwa keindahan ialah idea yang terwujud di dalam indera. “Beauty is the Idea as it shows itself to sense”. Maka meteri seni tak lain ialah idea, sedang formanya terdapat dalam gambaran inderawi dan khayalinya. Maka agar dua segi ini tergabung di dalam seni, materi itu harus sesuai untuk berubah menjadi obyek seni, karena Hegel selalu berusaha untuk menyelami dengan akal batin segala obyek kenyataan
b. Pentahapan Seni Hegel seni ialah hubungan yang terdapat antara idea dan gambaran indera. Maka disebutnya “simbolis” dalam tahapnya yang permulaan, karena hubungannya itu tidak mencapai idealisme seni tang stabil. Kemudian tahap “kalsik” tatkala seni merupakan realisasi dari idea, telah membentuk kesatuan inderawi yang hidup antara dua pihak tadi dan kesatuan ini terealisir dalam kesatuan yang terbatas. Akhirnya tahap “romantik” yaitu tatkala hubungan dialektik yang etrdapat antara dua tahap tadi mencapai tingkat di mana idea yang tak terbatas tidak terrlisasi kecuali di dalam “ infinitasnya intuisi di dalam gerak yang selalu menyerang dan membubarkan segala bentuk iderawi”.
c. Matinya Seni Filsafat Hegel menubruk kesulitan itu, dan ia berusaha mengatasi dengan memadukan seni, agama dan filsafat. Seni dan Agama mempunyai fungsi yang berlainan dari filsafat, dan agaknya berada di bawah tingkatan filsafat, akan tetapi tidak dapat dibuang jauh dari usaha untuk mengenal “ruh” (Geist). Mana yang lebih besar nilainya antara filsafat di satu pihak dan seni dan agama dipihak lain, dalam hal ini? menurut Croce, sistem filsafat Hegel pada hekekatnya adalah bertentang pada seni sebagimana juga karena terlalu rasionil bertentangan dengan agama. Hegel mengemukakan: bahwa kita telah memberikan kepada seni kedudukan yang sangat tinggi, akan tetapi perlu diingat bahwa seni baik dalam materinya maupun dalam formanya adalah bukan jalan yang mulia untuk mengembalikan kesadaran ruh mengenai instink instiknya yang sesungguhnya. Seni karena formanya maka terkurung di dalam materi yang sempit, karya seni hanya menyo dorkan kebenaran secara terbatas dan sempit.
Schopenhauer yang merupakan penutup dari periode kritika dalam sejarah Estetika. Schopenhauer (1788 1860) selalu menyebut filsafat Kant sebagai sumber dari filsafatnya dan Plato sebagai orang yang sangat digemarinya. Segala seni mempunyai tempat tertentu di dalam idea yang diben tangkan dalam bukunya yang berjudul “World as Will and Idea”: BACA HALAMAN 33 ALINEA 2
Pertumbuhan estetika Periode Kritika Sebelum Kant “Revolusi Kopernik” dalam filsafat Kant Mempertanyakan hakekat keindahan Keindahan relatif Analisa daya penilaian daya estetikmembedakan antara nilai beautiful (cantik) dan Sublim (agung) Kant Sesudah Kant Muncunya tokoh-tokoh pengikut Kant Schller, Schelling , Scopenhauer Schller yang berpendapat bahwa seni merupakan sebuah Idea Schelling yang berpendapat bahwa seni merupanan ungkapan rasa yang dikomunikasikan lewat Simbol. Scopenhauer Seni merupakan jalan yang terbagus uuntuk mencapai “kemurnian tentang” dunia
Periode Positif Periode positip mempunyai ciri sangat membenci metafisika. Tacher adalah orang yang berjasa dalam merintis penggunaan eksperiman yang sistematis untuk membentuk Estika formil yang ilmiah. Peri ode positif dibagi atas 2 masa yaitu: Estetika Atas Estetika atas yaitu menyelidiki estetika filsafat murni, selan jutnya disusul oleh tokoh Estetika Teoritis di Perancis Paul Scurian (1881) yang terkenal dengan istilah estetika gerak (1889). Tolstoy dalam bukunya “What is Art”, ia membuat definisi tentang seni: Aktivitas seni ialah untuk membangkitkan dengan suatu yang pernah dialami dan setelah perasaan itu timbul, maka dengan perantaraan gerak, garis, warna, suara dan bentuk kata, perasaan yang disampaikan kepada orang agar mengalami perasaan yang sama. Selanjutnya dikatakan: Bahwa seni adalah suatu aktivitas kemanusiaan secara sadar menyangkut lambang atau simbol untuk menyampaikan perasaan tersebut, dan ikut mengalami. Seniman hendaknya tidak hanya berhasil dalam mengejowantahkan perasaannya, tetapi juga berhasil menyampaikan, atau menginformasikan kepada orang lain.
Estetika Bawah Estetika bawah merupakan eksperimental dan akhirnya estetika pada masa sekarang Fechner (Gustav Theodor Fechner) tahun 1807 1887 Jerman. Untuk pertama kalinya mengusulkan nama estetik Induktif (1828 1893) penulis “Filsafat Seni” yang berusaha mendirikan Estetika historis yang tidak bersifat dari kekuatan yaitu: ling kungan, Jaman dan Bangsa. Estetika masa depan ttergantung pada ilmu seni, maka harus diusa hakan terciptanya hasil eksperimennya yang menyakinkan (Wadjiz, 1985: 47).
Estetika dari Bawah Ke Atas Estetika ini diharapkan pengikut estetika masa depan, baik pada masa kini maupun masa yang dekat. Estetika masih menya darkan corak yang berlainan, tidak ada keseragaman antara penulis yang mengabadikan hidupnya untuk bidang pembahasan ini. Kebanyakan pembahasan Estetika mendukung metode dan cara berfikir kaum posittif dan berkeyakinan bahwa estetika benar memasu ki tahap positif. Estetika dari bawah ke atas memadukan tunttu nan tuntunan pemikiran filsafat dan berkeharusan metode penyeli dikan secara positif yang terdapat didalam ilmu jiwa penghayat. Oleh Valentin Fieldman, aliran estetik di Perancis membagi menja di tiga aliran besar: a. Aliran Romantisme, Victor Bach dan Bergson. b. Rasonalisme, Etienne Sourian dan Raymond Boyer. c. Positivisme, Allain, Henri Delacraix dan Chaeles Lalo (Wadjiz, 1985: 52)
Periode Positif Paul Scurias Estetika Gerak Estetika Atas Tolstoy Seniman tidak sekedar mengejowantahkan tetapi mengomunikasikan Estika Bawah Munculnya estetika Ilmiah Munculnya Estetika Historis Estetika masa depan tergantung dari Ilmu seni itu sendiri dan eksperimen yang meyakinkan Estetika dari bawah ke atas Gabungan antara tuntutan pemikiran filsafat dan penggunaan metode penyelidikan positis dalam Ilmu jiwa dan Ilmu penghayatan Aliran Romantis Estetik tidak berpangkal pada pengetahuan tetapi pada rasa yang mendalam Aliran Rasionalis Estetik ada karena diciptakan Aliran Positivis Yang mampu melahirkan estetik hanyalah seni, sehingga estetik tergantung dari seni dan senimannya
Tugas 1 Cari definisi tentang Seni 10 Kutipan Estetika 10 kutipan Contoh: Plato berpendapat bahwa untuk mengetahui keindahan yang sebenarn ya , kita terlebih dahulu harus mengosongkan pikiran dan member sihkan diri dari segala kesalahan dan kekurangan. Kita harus mmembuang segala kesalahan dosa yang pernah terjadi dan mencoba kembali ke dalamm kesucian jiwa kita (wadjiz 1985: 16).
Hegel mengatakan bahwa seni ialah hubungan yang terdapat antara idea dan gambaran indera. Maka disebutnya “simbolis” dalam tahapnya yang permulaan, karena hubungannya itu tidak mencapai idealisme seni tang stabil. Kemudian tahap “kalsik” tatkala seni merupakan realisasi dari idea, telah membentuk kesatuan inderawi yang hidup antara dua pihak tadi dan kesatuan ini terealisir dalam kesatuan yang terbatas (dharsono 2007: 33) Daftar Pustaka Wadjiz Anwar (1985). Filsafat Estetika. Yogyakarta: Penerbit Nur Cahaya. Dharsono (Sony Kartika) (2007), Estetika, Bandung: Rekayasa sains


















