TITRASI PENGENDAPAN ARGENTOMETRI Dasar Reaksi pengendapan dari senyawa




![Belum mencapai TE, [Cl- ]sisa = 3 mmol /(50+20)m. L = 0, 043 M Belum mencapai TE, [Cl- ]sisa = 3 mmol /(50+20)m. L = 0, 043 M](https://slidetodoc.com/presentation_image_h/ac3dfa3ee61b48593e07e4f680ce233c/image-5.jpg)
![Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-] Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya. Ksp Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-] Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya. Ksp](https://slidetodoc.com/presentation_image_h/ac3dfa3ee61b48593e07e4f680ce233c/image-6.jpg)










- Slides: 16
TITRASI PENGENDAPAN ARGENTOMETRI
Dasar : Reaksi pengendapan dari senyawa ionik. l Jika titrant yang digunakan adalah larutan Perak Nitrat (Ag. NO 3) maka disebut dengan Argentometri. l Kurva Titrasi analog kurva titrasi reaksi asam basa. Perbedaannya hasil kelarutan endapan disubstitusikan ke dalam harga Ksp nya. Volume titrant vs p. X ( X= anion atau kation) l Pada bagian ini akan dibahas hanya untuk Argentometri l
l 1. 2. 3. 4. Ada 4 daerah perhitungan p. X untuk titrasi pengendapan yaitu: p. X mula : ditentukan dari konsentrasi analat. p. X sebelum Titik Ekivalent : ditentukan dari setelah penambahan titrant tetapi belum mencapai ekivalen dgn analat. p. X Titik Ekivalent : ditentukan saat titik ekivalent tercapai. p. X setelah Titik Ekivalent : ditentukan setelah kelebihan titrant setelah mencapai titik ekivalent.
l Contoh : Hitung p. Ag dari larutan pada titrasi 50 m. L Na. Cl 0, 1 M dengan Ag. NO 3 0, 1 M setelah penambahan volume : 0 m. L; b. 20 m. L; c. 50 m. L; d. 60 m. L (Ksp Ag. Cl = 1, 83 x 10 -10 ). Reaksi yg terjadi : Na. Cl + Ag. NO 3 ↔ Ag. Cl↓ + Na. NO 3 Ag. Cl↓ ↔ Ag+ + Cla. Belum ada penambahan titrant Ag. NO 3 -, sehingga [Ag+]=0 dan p. Ag tidak dapat ditentukan. b. Setelah penambahan 20 m. L Ag. NO 3 0, 1 M Na. Cl l Mula mula Reaksi Sisa 5 mmol 2 mmol 3 mmol + Ag. NO 3 ↔ 2 mmol 0 mmol Ag. Cl↓ 0 mmol 2 mmol + Na. NO 3 0 mmol 2 mmol
Belum mencapai TE, [Cl- ]sisa = 3 mmol /(50+20)m. L = 0, 043 M l Adanya Cl- dari Na. Cl pada pengendapan Ag. Cl (pengaruh ion senama) l Ksp Ag. Cl↓ = [Ag+][Cl-] [Ag+] = Ksp / [Cl-] [Ag+] = 1, 82 x 10 -10 / [0, 043] = 4, 23 x 10 -9 p. Ag = -log [4, 23 x 10 -9 ] = 8, 37 l c. Setelah penambahan 50 m. L Ag. NO 3 0, 1 M. Mula mula l Reaksi l Sisa l Na. Cl 5 mmol 0 mmol + Ag. NO 3 ↔ Ag. Cl↓ + Na. NO 3 5 mmol 0 mmol 5 mmol
Titik ekivalen tercapai , [Ag+] = [Cl-] Harga [Ag+] dihitung dari Ksp nya. Ksp Ag. Cl↓ = [Ag+][Cl-] [Ag+] =√ Ksp [Ag+] = √ 1, 82 x 10 -10 = 1, 35 x 10 -5 p. Ag = -log [1, 35 x 10 -5] = 4, 87 d. Setelah penambahan 60 m. L Ag. NO 3. l Mula mula l Reaksi l Sisa l Na. Cl + 5 mmol 0 mmol Ag. NO 3 ↔ 6 mmol 5 mmol 1 mmol Ag. Cl↓ + 0 mmol 5 mmol Na. NO 3 0 mmol 5 mmol Melewati TE, [Ag+ ]sisa =1 mmol /(50+60)m. L= 9, 091 x 10 -3 M p. Ag =-log[9, 091 x 10 -3 ]= 2, 04
l 1. 2. Faktor yang mempengaruhi titik ekivalen: Konsentrasi analat dan titrant : Makin besar konsentrasinya makin besar daerah perubahan p. Ag (p. X) sekitar TE, sehingga makin mudah menentukan TE. Harga Ksp: Makin kecil harga ksp, maka makin cepat terbentuk endapan, sehingga makin sempurna reaksi pengendapan daerah perubahan p. Ag sekitar TE makin besar, jadi makin mudah menentukan TE.
Pengaruh konsentrasi titrant pada kurva titrasi: A. 50 m. L Na. Cl 0, 05 M dengan Ag. NO 3 0, 1 M. B. 50 m. L Na. Cl 0, 005 M dengan Ag. NO 3 0, 1 M
Pengaruh kesempurnaan reaksi pada kurva titrasi. Untuk setiap kurva, 50 m. L larutan anion 0, 05 M yang dititrasi dengan 0, 1 M Ag. NO 3
l 1. 2. 3. Ada tiga bentuk titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan Perak nitrat (Ag. NO 3) yaitu : Indikator Kimia Potensiometri Amperometri Titik akhir yang dihasilkan dengan indikator kimia biasanya terjadi perubahan warna atau munculnya / hilangnya turbiditas ( kekeruhan) dari larutan yang dititrasi.
3. Ada 3 jenis metode pada titrasi Argentometri yang berdasarkan indikator kimia yang digunakan. Metode Mohr Metode Volhard Metode Fajans 1. Metode Mohr n 1. 2. Indikator : Ion Kromat (K 2 Cr. O 4) Titrant : Ag. NO 3 Tujuan : Menentukan garam Halida (secara langsung). n n Reaksi : Ag+ berlebih + Cl- ↔ Ag. Cl↓ (putih) + Ag+sisa + Cr. O 4= ↔ Ag 2 Cr. O 4 ↓(merah bata)
n Pengaruh p. H : p. H > : terbentuk endapan Ag. OH 2 Ag+ + 2 OH- ↔ 2 Ag. OH↓ ↔ Ag 2 O↓ + H 2 O p. H < : Cr. O 4= ↔ Cr 2 O 7= 2 H+ + Cr. O 4= ↔ Cr 2 O 7= + H 2 O Dapat mengurangi konsentrasi indikator sehingga sulit timbul endapan. Selama titrasi, larutan harus di aduk supaya tidak terjadi kelebihan titrant lokal, akibatnya akan terjadi pengendapan indikator sebelum TE.
2. Metode Volhard n n n Indikator : Ion Besi III Titrant : SCN- (titrasi langsung) Ag. NO 3 (titrasi tidak langsung) Tujuan : Menentukan ion Ag+ (secara langsung Menentukan anion (titrasi tidak langsung) n Reaksi yang terjadi pada titrasi langsung : Ag+ (analat) + SCN-berlebih ↔ Ag. SCN↓ (putih) + SCN-sisa +Fe 3+ ↔ Fe(SCN)2+(merah) n Reaksi yang terjadi pada titrasi tidak langsung : Ag+(berlebih) + X- ↔ Ag. X↓ + Ag+ sisa + SCN-berlebih ↔ Ag. SCN↓ (putih) + SCN-sisa +Fe 3+ ↔ Fe(SCN)2+(merah)
n n Konsentrasi Fe 3+ minimum 6, 4 x 10 -6 M atau bisa digunakan konsentrasi 0, 01 M. Untuk menghindari kesalahan pada metode Volhard, maka dapat dilakukan langkah sbb: 1. Dihindari penentuan anion X yang kelarutannya besar. 2. Bila kelarutannya besar maka dilakukan isolasi Ag. X agar tidak bereaksi dengan ion SCN dengan cara : a) b) c) Endapan Ag. X disaring, dicuci, filtrat nya dititrasi. Setelah terjadi pengendapan Ag. X, lalu campuran ditambah Nitrobenzena sehingga endapan terbungkus / terisolasi. Bila endapan Ag. X dapat larut dalam asam kuat yang encer, maka endapan disaring, lalu dilarukan dalam asam terus dititrasi.
3. Metode Fajans ü ü Indikator : indikator adsorpsi ( Fluoresen) Titrant : Ag. NO 3 Tujuan : Menentukan anion Reaksi yang terjadi: Sebelum TE : endapan terdapat dalam lingkungan yang masih ada kelebihan ion X- endapan menyerap X-. Butiran endapan / koloid bermuatan negatif, akibatnya ion Fl- (dari indikator) tidak diserap Saat TE : Tidak ada kelebihan X- maupun Ag+ endapan / koloid bersifat netral. Ion Fl- dari indikator tidak diserap. Sesudah TE : Kelebihan Ag+, sehingga diserap endapan / koloid dan bermuatan positif. Ion Fl- dari indikator akan diserap. Terbentuk endapan warna merah muda.
n Indikator fluoresen berwarna kuning dan endapan yang terbentuk kolod. Untuk memudahkan melihat TA maka : Endapan putih merah muda & menggumpal Endapan keruh jernih Endapan kuning hijau tidak berwarna.
















