PENERAPAN METODE EPIDEMIOLOGI Oleh Ikrimah Nafilata S K
















- Slides: 16
PENERAPAN METODE EPIDEMIOLOGI Oleh : Ikrimah Nafilata, S. K. M. , M. Kes. (Epid) PROGRAM STUDI D-3 TEKNOLOGI BANK DARAH STIKES GUNA BANGSA YOGYAKARTA
Metode Epidemiologi • Metode Epidemiologi merupakan cara pendekatan ilmiah dalam mencari faktor penyebab serta hubungan sebab akibat terjadinya peristiwa tertentu (termasuk penyakit infeksi) pada suatu populasi tertentu.
Metode Epidemiologi • Epidemiologi Deskriptif Mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya, serta waktu. Epidemiologi deskriptif juga dapat digunakan untuk mempelajari perjalanan alamiah penyakit. • Epidemiologi Analitik Menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/ pengaruh paparan terhadap penyakit.
Epidemiologi Deskripif • Tujuan : 1. Memberikan informasi tentang distribusi penyakit, besarnya beban penyakit (disease burden), dan kecenderungan (trend) penyakit pada populasi, yang berguna dalam perencanaan dan alokasi sumber daya untuk intervensi kesehatan; 2. Memberikan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit; 3. Merumuskan hipotesis tentang paparan sebagai faktor risiko/ kausa penyakit.
Epidemiologi Analitik • Tujuan : 1. Menentukan faktor risiko/ faktor pencegah/ kausa/ determinan penyakit, 2. Menentukan faktor yang mempengaruhi prognosis kasus; 3. Menentukan efektivitas intervensi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi.
Desain Studi Epidemiologi Studi Deskriptif Case Report Studi Analitik Case Series Observasional Cross Sectional Time series Studi Ekologi Eksperimental True Eksperimen Cross Sectional Case Control Kuasi Eksperimen Cohort
Deskriptif Case Series • Studi epidemiologi deskriptif tentang serangkaian kasus, yang berguna untuk mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan prognosis kasus. • Case series banyak dijumpai dalam literatur kedokteran klinik. Tetapi desain studi ini lemah untuk memberikan bukti kausal, sebab pada case series tidak dilakukan perbandingan kasus dengan non-kasus.
Deskriptif Cross Sectional • Untuk mendeskripsikan penyakit dan paparan pada populasi pada satu titik waktu tertentu. • Data yang dihasilkan dari studi potong-lintang (Cross Sectional) adalah data prevalensi (deskriptif). • Contoh : Gambaran kejadian HIV/AIDS reaktif pada darah donor di UTD PMI Kota Yogyakarta.
Analitik Cross Sectional • Studi potong-lintang (Cross Sectional) dapat juga digunakan untuk meneliti hubungan paparanpenyakit, meskipun bukti yang dihasilkan tidak kuat untuk menarik kesimpulan kausal antara paparan dan penyakit, karena tidak dengan desain studi ini tidak dapat dipastikan bahwa paparan mendahului penyakit. • Contoh : Hubungan Karakteristik Pekerjaan dengan Kejadian Sifilis Pada Pemandu Lagu di Karaoke XXX.
Case Control • Studi analitik untuk melihat E (Eksposure) menjadi D (Disease), dengan mengelompokkan kasus dan kontrol kemudian Eksposure ditelusur ke belakang. • Contoh : Pengaruh Faktor Risiko terhadap Kejadian Hepatitis B pada Mahasiswa Stikes Guna Bangsa Yogyakarta.
Cohort • Studi analitik untuk melihat E (Eksposure) menjadi D (Disease), dimana awal penelitian dimulai saat sampel belum ada Eksposure kemudian diikuti ke depan untuk mendapatkan outcome. • Contoh : Pengaruh Gigitan Vektor terhadap Kejadian Malaria
Kesimpulan Cross Sectional Case Control Waktu Penelitian Cohort Garis Waktu
Eksperimental • Peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari berbagai level intervensi itu. • Kelompok subjek yang mendapatkan intervensi disebut kelompok eksperimental (kelompok intervensi). • Kelompok subjek yang tidak mendapatkan intervensi atau mendapatkan intervensi lain disebut kelompok kontrol. • Peneliti mengontrol kondisi penelitian untuk meningkatkan validitas internal, yaitu agar kesimpulan yang ditarik tentang efek intervensi memang merupakan efek yang sesungguhnya dari intervensi tersebut.
Kuasi Eksperimen • Intervensi yang biasanya dilakukan di Komunitas. • Subjek penelitian dialokasikan ke dalam kelompok eksperimen atau kelompok kontrol tidak dengan prosedur randomisasi, maka desain studi eksperimental ini disebut eksperimen kuasi (eksperimen non-randomisasi).
True Eksperimen (RCT) • Peneliti menerapkan prosedur randomisasi dalam mengalokasikan (menempatkan) subjek penelitian ke dalam kelompok eksperimental dan kelompok kontrol. • Intervensi yang dilakukan berbasis laboratorium.
“Everything will be simple after systematized”
















