Kegawat Daruratan Sistem Neurologis KGD Pertemuan ke 7



























- Slides: 27
Kegawat Daruratan Sistem Neurologis KGD Pertemuan ke 7 Ns. Ira Rahmawati S. kep. , MNSc(EM) Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu – Ilmu Kesehatan
VISI DAN MISI UNIVERSITAS ESA UNGGUL
Visi dan Misi Prodi Keperawatan Visi Menjadi pusat pendidikan Ners yang kompeten berbasis intelektulitas, kreatifitas, dan kewirausahaan, dengan keunggulan dibidang nursing home care serta berdaya saing global pada tahun 2020 Misi 1) Mengembangkan program pendidikan Ners dengan keunggulan nursing home care yang berwawasan global dan berbasis Ilmu pengetahuan dan teknologi 2) Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di bidang keperawatan dengan keunggulan nursing home care melalui kegiatan penelitian 3) Menerapkan dan mengembangkan ilmu keperawatan dengan keunggulan nursing home care melalui pengabdian kepada masyarakat 4) Menyiapkan sumber daya manusia keperawatan dengan keunggulan nursing home care yang berdaya saing global dan menciptakan calon pemimpin yang berkarakter bagi bangsa dan negara 5) Mengelola sarana dan prasarana yang menunjang program akademik dan profesi keperawatan dengan keunggulan nursing home care 6) Berperan aktif dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu keperawatan dengan keunggulan nursing home care yang bermanfaat bagi organisasi profesi, bagi bangsa dan negara Indonesia serta segenap umat manusia
KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN ü Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kejang ü Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial ü Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke
KEJANG § Kejang merupakan salah satu penyebab paling sering pasien datang ke IGD. § Kejang disebabkan adanya loncatan-loncatan aliran listrik didalam otak yang terjadi secara tiba-tiba.
Tahap-Tahap Terjadinya Kejang 1. Aural Phase: fase Aura ü Tidak semua pasien mengalami fase aura ü Aura dapat berupa: perasaan Dejavu, perasaan mencium bau khas/aneh, flash light, merasakan sesuatu, gangguan gastro intestinal 2. Ictal Phase : fase Ictus ü Fase kejang ü Manifestasi motorik atau kognitif ü Berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit ü Kebanyakan kejang berlangsung < 1 menit
3. Postictal Phase: fase post Ictal ü Fase setelah kejang ü Pasien biasanya mengalami confusion, altered mental status (perubahan tingkat kesadaran), somnolen. ü Dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam ü Pasien dapat mengalami Todd’s Paralysis yaitu kelumpuhan singkat setelah kejang yang dapat terjadi pada salah satu sisi tubuh maupun seluruhnya.
Jenis jenis kejang A. Kejang Menyeluruh (generalized seizure) Terjadi akibat loncatan impuls listrik pada seluruh bagian otak Generalized seizure terdiri dari: 1. Tonic-Clonic Seizures (kejang tonik-klonik) - Merupakan jenis kejang menyeluruh yang paling umum terjadi - Tonic artinya muscle stiffness (kaku otot) - Clonic artinya gerakan menyentak yang terjadi selama kejang - Dikenal juga dengan istilah grand mall seizure 2. Non tonic-clonic seizure Jenis kejang bukan tonik klonik adalah? - Absence seizure (episode ‘diam atau menatap kosong beberapa saat) - Atonic seizure (hilang tonus otot secara menyeluruh beberapa saat, menyebabkan pasien tiba-tiba jatuh). - Myoclonic seizure (kontraksi otot secara tiba dan sesaat)
B. Focal Seizures (kejang sebagian/partial seizure) Ø Loncatan impuls listrik terjadi hanya pada bagian tertentu otak Ø Penegakkan diagnosa focal seizure berdasarkan riwayat kesehatan, manifestasi klinis dan EEG (Electroencephalogram) Terdiri dari 1. Focal aware seizure (dulunya kejang parsial sederhana) ü tidak ada penurunan kesadaran 2. Focal impaired awareness (dulunya kejang parsial kompleks) ü Terjadi Penurunan kesadaran Manifestasi klinik kejang focal diantaranya: - Kesemutan - Anggota tubuh tertentu menyentak
Important notes § Pada umumnya, apapun jenis kejang yang dialami pasien, penatalaksaan di ED sama. § Tidak semua kejang disebabkan impuls listrik yang abnormal Beberapa keadaan yang menyerupai kejang: 1. syncope - Disebabkan penurunan perfusi otak - Manifestasi klinik diantaranya: penurunan kesadaran sesaat, hentakan anggota gerak dan kaku 2. Psychogenic nonepileptic seizure (PNES)
Penatalaksanaan kejang Ketika menghadapi kejang yang sedang berlangsung, maka ü Miringkan pasien untuk mencegah aspirasi ü Pastikan pasien tidak mengalami cedera misalnya dengan memasang bantalan di sekitar tempat tidur ü Pasang IV line jika belum terpasang ü Berikan antikonvulsan seperti diazepam, lorazepam atau fenitoin. Pada anak sering diberikan fenobarbital. ü Berikan medikasi sesuai penyebab kejang. - antipiretik: ibuprofen supp, paracetamol IV >>> terutama pada anak - dextrose 40% jika cek GDA stik menunjukkan hipoglikemia ü Setelah kejang berakhir lakukan penanganan pasca kejang
Status epileptikus Definisi: Menurut International League Against Epilepsy: status epileptikus adalah aktivitas kejang yang berlangsung selama 30 menit atau lebih. Definisi epilepsy menurut ILAE: Epilepsy is a disease of the brain defined by any of the following conditions 1. A least two unprovoked (or reflex) seizures occurring >24 h apart 2. One unprovoked (or reflex) seizure and a probability of further seizures similar to the general recurrence risk (at least 60%) after two unprovoked seizures, occurring over the next 10 years Unprovoked seizure: Kejang yang terjadi tanpa adanya penyebab yang diketahui. Atau adanya penyakit sistemik > 7 hari sebelumnya. Provoked seizure: kejang yang terjadi dalam 7 hari setelah adanya gangguan pada otak yang diketahui. Misalnya stroke, alcohol withdrawl, brain injury, CNS infection, kidney failure
Seizure versus Epilepsy • A seizure is the event • Epilepsy is the disease associated with spontaneously recurring seizures
Masalah keperawatan pada pasien dengan kejang 1. Jalan nafas tidak paten 2. Resiko cedera 3. Perfusi cerebral tidak adekut
Tekanan Intrakranial § Adalah tekanan didalam rongga kranial/tengkorak § Nilainya harus selalu dalam batas normal : 5 – 15 mm. Hg Tekanan intrakranial dibentuk oleh 3 unsur yaitu: 1. Jaringan otak 2. darah 3. Cairan cerebro spinalis
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan intrakranial 1. 2. 3. 4. Temperature Posisi Status oksigenasi: kadar Pa. CO 2 dan Pa. O 2 dalam darah Faktor-faktor yang dapat meningkatkan tekanan intra-thorax dan intra abdomen seperti muntah, mengedan
Kondisi-kondisi yang dapat meningkatkan tekanan tinggi intrakranial 1. Tumor 2. Stroke 3. TBI (traumatic brain injury) 4. Hidrosefalus 5. Meningitis
Tanda-tanda dini peningkatan tekanan intrakranial - Mental status changes: gelisah, bingung, tidak dapat merespon terhadap pertanyaan dengan baik - Muntah - Sakit kepala - Unisokor - Papiledema Late signs of increased intracranial pressure: “Cushing Triad” 1. Peningkatan SBP / widening pulse pressure 2. Bradikardia 3. Irregular breathing
Hukum Monro-Kellie menyatakan bahwa: “Jumlah total volume dari jaringan otak, CSF dan darah didalam otak adalah selalu tetap. Apabila terjadi peningkatan volume salah satu komponen diatas, maka harus diringi dengan pengurangan volume komponen yang lain”. Mekanisme kompensasi yang terjadi untuk mempertahankan tekanan intrakranial yang konstan adalah: 1. Vasokontriksi pembuluh darah otak 2. Penurunan produksi CSF (Cerebro Spinal Fluid) 3. Pengaliran cairan cerebrospinalis ke rongga subarachoid medula spinalis
Subarachnoid Space
Hemodinamik Otak § CBF : Cerebral blood flow : adalah jumlah aliran darah ke otak yang dibutuhkan untuk aktivitas selsel otak § CBF ditentukan oleh Cerebral perfusion Pressure (CPP) dan ICP § Cerebal perfusion pressure adalah tingginya tekanan darah yang diperlukan untuk dapat mengalirkan darah ke seluruh bagian otak. CPP yang tidak adequat akan menyebabkan iskemik sel -sel otak. § Normal CPP adalah 60 -100 mm. Hg § CPP = MAP – ICP § MAP = mean arterial pressure § Cara menghitung MAP : {(2 x tekanan darah diastolik + tekanan darah sistolik) / 3 } § ICP normal = 5 -15 mm. Hg
Penatalaksanaan Pasien dengan TTIK 1. Memposisikan kepala pasien lebih tinggi 30 – 35 derajat - posisi kepala midline - hindari fleksi leher dan panggul 2. Memfasilitasi hiperventilasi: pertahankan pa. CO 2 30 -35 mm. Hg hyperventilasi >> Pa. CO 2 dalam darah ↓↓ >> Pa. CO 2 di extravascular ↓↓ >> p. H↑↑ >> Vasokontriksi pembuluh darah otak note: pa. CO 2 < 25 mm. Hg tidak dianjurkan
Penatalaksanan Pasien dengan. Tekanan TTIK 3. Pemberian cairan hiperosmolar: infus mannitol dianjurkan dengan dosis 0, 25 – 1 g/ kg. BB dan hanya untuk periode akut
Penatalaksanaan Pasien dengan TTIK 4. Pemberian cairan hipertonik ( larutan Na. Cl 3%) 5. Ventriculostomy/ VP shunt 6. Decompressive craniectomy / trepanasi
Daftar Pustaka American Heart Association. 2015. https: //www. heart. org/ International League Against epilepsy. www. ilae. org. Marieb, E. (2015). , Essential of Human Anatomy & Physiology. , 11 th ed. , England: Pearson Education Limited. Sherwood, L. (2012). Human Physiology : from cells to system, (8 th ed). California: Thomson Learning Ross and Wilson ( 2014 ) Anatomy and Physiology in Health and Illness ( 12 th ed ) Edinburgh



























