POWER DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL Yun Fitrahyati Laturrakhmi Sinta

  • Slides: 28
Download presentation
POWER DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL Yun Fitrahyati Laturrakhmi Sinta Swastikawara

POWER DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL Yun Fitrahyati Laturrakhmi Sinta Swastikawara

“Power is the ability of one person to influence what another person thinks or

“Power is the ability of one person to influence what another person thinks or does” DEFINISI (De. Vito, 2013) • Hal terpenting yang perlu digarisbawahi tentang power adalah ‘power is assymmetrical’ artinya jika seseorang mempunyai power yang lebih besar, maka orang lainnya mempunyai power yang lebih kecil (De. Vito, 2013) • Para peneliti komunikasi interpersonal mempercayai bahwa semua bentuk komunikasi memuat dimensi power, bahkan perbincangan sederhana sekalipun.

PRINSIP-PRINSIP POWER DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terkait power, perlu

PRINSIP-PRINSIP POWER DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terkait power, perlu dipahami beberapa prinsip power dalam interpersonal relationship Some people are more powerful than others Power can be shared Power can be increased or decreased Power follows the principle of less interest Power generates privilege (De. Vito, 2013) Power has a cultural dimension

PRINSIP 1: SOME PEOPLE ARE MORE POWERFUL THAN OTHERS • Beberapa orang dilahirkan dengan

PRINSIP 1: SOME PEOPLE ARE MORE POWERFUL THAN OTHERS • Beberapa orang dilahirkan dengan power tertentu, namun beberapa orang tidak – sehingga orang-orang yang terlahir dengan power (misal karena kekayaan, attractiveness, tidak berpenyakit) akan memiliki power yang besar sedangkan mereka yang terlahir sebaliknya dapat tidak mempunyai power • Beberapa orang bisa meraih power pada area tertentu, sementara lainnya tidak • Power dalam hubungan dekat dapat melahirkan kekerasan interpersonal (De. Vito, 2013)

PRINSIP 2: POWER CAN BE SHARED • Pandangan pertama, individu akan meyakini bahwa power

PRINSIP 2: POWER CAN BE SHARED • Pandangan pertama, individu akan meyakini bahwa power seharusnya dijaga – sehingga ketika power dibagikan pada orang lain, maka ia akan kehilangan power yang dimilikinya • Pandangan kedua, melalui upaya kita membagi power yang kita miliki (melalui empowering others), maka sejatinya kita menumbuhkan power yang kita miliki • Ketika kita memberdayakan orang lain (empowering), maka kita dapat meraih kontrol yang lebih besar terhadap orang tersebut dan lingkungannya (De. Vito, 2013)

PRINSIP 3: POWER CAN BE INCREASED OR DECREASED • Meskipun masing-masing individu mempunyai jumlah

PRINSIP 3: POWER CAN BE INCREASED OR DECREASED • Meskipun masing-masing individu mempunyai jumlah power yang berbeda -beda, mereka dapat menaikkan (meningkatkan) power mereka • Menurunkan berat badan untuk meningkatkan physical power • Mengasah teknik negosiasi untuk meningkatkan power dalam negosiasi • Mempelajari prinsip komunikasi untuk meningkatkan persuasive power yang dimiliki • Power dapat pula menurun – umumnya terjadi ketika kita membiarkan orang lain mengontrol kita, serta kegagalan kita dalam mengontrol orang lain (De. Vito, 2013)

PRINSIP 4: POWER FOLLOWS THE PRINCIPLE OF LESS INTEREST • Dalam beberapa hubungan interpersonal,

PRINSIP 4: POWER FOLLOWS THE PRINCIPLE OF LESS INTEREST • Dalam beberapa hubungan interpersonal, individu pemegang power adalah orang yang less interested atau less dependent terhadap reward dan punishment yang dikontrol partner mereka • A mempunyai power dalam sebuah hubungan sejauh ia tidak bergantung pada rewards dan punishment di bawah kontrol B • Semakin seseorang membutuhkan sebuah hubungan, semakin rendah power yang dimilikinya (dalam hubungan tersebut), demikian pula sebaliknya • Individu yang dengan mudah mampu mengakhiri hubungan akan mempunyai power yang lebih besar (De. Vito, 2013)

PRINSIP 5: POWER GENERATES PRIVILEGE • Ketika seseorang memegang power atas orang lain, maka

PRINSIP 5: POWER GENERATES PRIVILEGE • Ketika seseorang memegang power atas orang lain, maka ia cenderung dianggap mempunyai privilege tertentu (umumnya dalam bentuk communication privilege) • Pesan nonverbal, power and privilege • Jarak (proxemics) – dekan dapat memasuki ruangan staf/dosen dengan bebas, sementara staf maupun dosen setidaknya harus izin untuk memasuki ruang dekan • Sentuhan (haptics) – individu dengan power lebih dianggap punya privilege untuk menyentuh dibanding yang powerless (misal: dokter-pasien; status sosial tinggi vs rendah (De. Vito, 2013; Wood, 2001)

 • Pesan verbal dan power – orang dengan power lebih akan dapat ‘mengakhiri’

• Pesan verbal dan power – orang dengan power lebih akan dapat ‘mengakhiri’ (menyimpulkan, memenangkan) diskusi ataupun debat – hadir sebagai privilege • Bentuk privilege yang lain adalah individu dengan power lebih dapat ‘melanggar aturan’ sementara bagi mereka dengan power rendah hal tsb tidak berlaku • Mahasiswa tidak boleh terlambat, bagaimana dengan dosen? ? • Pejabat boleh terlambat untuk membuka acara, bagaimana dengan peserta? (De. Vito, 2013)

PRINSIP 6: POWER HAS A CULTURAL DIMENSION • Kultur berbeda dalam mengasumsikan jarak kekuasaan

PRINSIP 6: POWER HAS A CULTURAL DIMENSION • Kultur berbeda dalam mengasumsikan jarak kekuasaan (power distance) • Bagi beberapa kultur, power dapat ditentukan berdasarkan beberapa hal berikut (De. Vito, 2013) : • Jenis kelamin – posisi laki-laki dan perempuan (misal: laki-laki punya posisi lebih tinggi dari perempuan karena ia laki-laki – Asia, Afrika, budaya Arab, Italia, Yunani) • Tingkat pendidikan • Kemampuan menghasilkan uang – US culture

 • Kultur dan Power – meminjam hasil riset Hofstede (dalam Ting. Toomey &

• Kultur dan Power – meminjam hasil riset Hofstede (dalam Ting. Toomey & Chung, 2012): • Mengacu pada keyakinan individu dalam memandang jarak kekuasaan (setara atau tidak setara) dalam suatu episode interaksi • Small power distance ü Cenderung menilai distribusi kekuasaan yg setara, kesetaraan hak dan kesetaraan relasi • Large power distance ü Cenderung menerima distribusi kekuasaan yg tidak setara, hirarki kekuasaan, senioritas, reward dan punishment berdasarkan usia

KARAKTERISTIK NILAI DALAM SMALL AND LARGE POWER DISTANCE CULTURES Situations Small PD cultures Large

KARAKTERISTIK NILAI DALAM SMALL AND LARGE POWER DISTANCE CULTURES Situations Small PD cultures Large PD cultures General Emphasize interpersonal equality Emphasize status-based difference Family Children may contradict parents Children should obey parents Relationships Younger people are smart Older people are wise Communication Informal comm patterns Formal comm patterns Personality equivalence Horizontal self Vertical self Sumber: Ting-Toomey and Chung (2012: 49) Sumber: Ting-Toomey & Chung (2012)

Power in Person RELATIONSHIP AND PERSON POWER Power in the relationship Charisma Character (De.

Power in Person RELATIONSHIP AND PERSON POWER Power in the relationship Charisma Character (De. Vito, 2013) Competence Legitimate dst Referent

6 TIPE POWER DALAM HUBUNGAN Referent Power Legitimate Power Expert Power Persuasive Power Reward

6 TIPE POWER DALAM HUBUNGAN Referent Power Legitimate Power Expert Power Persuasive Power Reward Power Coercive Power

REFERENT POWER Referent power merujuk pada kekuatan karisma dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang.

REFERENT POWER Referent power merujuk pada kekuatan karisma dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang. Ini berarti bahwa kekuatan yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan atraksi interpersonalnya

LEGITIMATE POWER Legitimate power merujuk pada posisi atau jabatan yang dimiliki oleh seseorang. Legitimate

LEGITIMATE POWER Legitimate power merujuk pada posisi atau jabatan yang dimiliki oleh seseorang. Legitimate power seringkali dihubungkan dengan kepemimpinan seseorang. Namun, legitimate power juga bisa dihubungkan dengan peran orang tua terhadap anaknya.

EXPERT POWER Expert power atau information power merujuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang

EXPERT POWER Expert power atau information power merujuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang membuat ia memiliki poin lebih dalam bidang pengetahuan yang ia miliki dibandingkan orang lain.

PERSUASIVE POWER Persuasive power merujuk pada kemampuan komunikator untuk tampak masuk akal dengan pendapatnya

PERSUASIVE POWER Persuasive power merujuk pada kemampuan komunikator untuk tampak masuk akal dengan pendapatnya sehingga dapat mempengaruhi org lain. Persuasive power banyak merujuk pada kredibilitas dari seorang komunikator.

REWARD POWER Reward power merujuk pada kekuatan seseorang didasarkan pada kemampuan mereka untuk memberikan

REWARD POWER Reward power merujuk pada kekuatan seseorang didasarkan pada kemampuan mereka untuk memberikan penghargaan kepada orang lain. Mereka memiliki sumber daya yang lebih dalam memberikan penghargaan kepada orang lain baik yang berbentuk material maupun non-material.

COERCIVE POWER Coercive power merujuk pada kemampuan untuk menghukum dan memberikan sanksi kepada orang

COERCIVE POWER Coercive power merujuk pada kemampuan untuk menghukum dan memberikan sanksi kepada orang lain. Orang yang memiliki kemampuan utk menunjukkan coercive power maka ia juga memiliki kemampuan untuk menunjukkan reward power.

KONFLIK DAN POWER • Keterkaitan konflik dan power Dalam situasi konflik, power seringkali memiliki

KONFLIK DAN POWER • Keterkaitan konflik dan power Dalam situasi konflik, power seringkali memiliki pengaruh atas hasil akhir dari proses penyelesaiaan konflik. Ini berarti bahwa, orang dengan power yang lebih besar dapat mengendalikan konflik hingga berujung pada hasil akhir dari konflik tersebut.

4 CARA MENUNJUKKAN KEKUATAN DALAM KONFLIK Direct apllication of power Direct and virtual use

4 CARA MENUNJUKKAN KEKUATAN DALAM KONFLIK Direct apllication of power Direct and virtual use of power Indirect application of power Hidden use of power

DIRECT APPLICATION OF POWER Penggunaan sumber daya kekuatan yang ada dalam diri seseorang dengan

DIRECT APPLICATION OF POWER Penggunaan sumber daya kekuatan yang ada dalam diri seseorang dengan memaksa orang lain untuk menuruti keinginannya walaupun hal tersebut bertentangan dengan keinginan orang yang dipaksa tersebut. Exp: Orang tua memarahi anak mereka dan menyuruh mereka masuk ke dlm kamar

DIRECT AND VIRTUAL USE OF POWER Penggunaan direct and virtual use of power berpotensi

DIRECT AND VIRTUAL USE OF POWER Penggunaan direct and virtual use of power berpotensi pada direct application of power. Menunjukkan adanya penggunaan ancaman dan janji yang diberikan oleh si pemilik power yang lebih besar kepada si pemilik power yang lebih kecil.

INDIRECT APPLICATION OF POWER Berfokus pada penggunaan kekuatan tanpa menunjukkannya secara eksplisit. Exp: membuat

INDIRECT APPLICATION OF POWER Berfokus pada penggunaan kekuatan tanpa menunjukkannya secara eksplisit. Exp: membuat orang lain merasa berhutang budi atas kebaikan atau pengorbanan yg telah dirinya lakukan

HIDDEN USE OF POWER Jika selama ini kita berpikiran bahwa power merupakan kemampuan utk

HIDDEN USE OF POWER Jika selama ini kita berpikiran bahwa power merupakan kemampuan utk memaksa orang lain agar mematuhi keputusan, maka pada hidden use of power kita akan mendapati bahwa kemampuan pribadi untuk memutuskan sesuatu harus ditekan dengan tujuan mementingkan kepentingan salah satu pihak Exp: kita tdk akan membahas sesuatu hal yg dianggap sensitif bagi teman kita, krn kita tahu bahwa hal tersebut akan membuatnya marah

RENUNGKAN!! Dalam penyelesaian konflik yang Anda hadapi selama ini, bagaimana cara Anda menunjukkan kekuatan

RENUNGKAN!! Dalam penyelesaian konflik yang Anda hadapi selama ini, bagaimana cara Anda menunjukkan kekuatan yang Anda miliki dalam hubungan interpesonal?

TUGAS DI KELAS! • Tuliskan contoh-contoh dari 6 sumber kekuatan yang selama ini pernah

TUGAS DI KELAS! • Tuliskan contoh-contoh dari 6 sumber kekuatan yang selama ini pernah anda temui dan rasakan