AUDIT INTERNAL TM 11 KECURANGAN KARYAWAN DAN MANAJEMEN

  • Slides: 3
Download presentation
AUDIT INTERNAL TM 11 KECURANGAN KARYAWAN DAN MANAJEMEN Hakekat Kecurangan Kecurangon adalah sebuah representasi

AUDIT INTERNAL TM 11 KECURANGAN KARYAWAN DAN MANAJEMEN Hakekat Kecurangan Kecurangon adalah sebuah representasi yang salah atau penyembunyian fakta-fakta yang material untuk mempengaruhi seseorang agar mau ambil bagian dalam suatu hal yang berharga untuk memperoleh nilai yang bersifat material untuk individu/kelompok. Pengertian Kecurangan 1. Kecurangan tidak termasuk pencurian oleh karyawan, pemerasan, ataupun. konversi penggunaan secara pribadi aktiva-aktiva yang berada di bawah pengawasan si pelaku kejahatan. Institute of Internal Auditors (IIA) menyebutkan kecurangan adalah meliputi serangkaian tindakan-tindakan tidak wajar dan ilegal yang sengaja dilakukan untuk menipu. Tindakan tersebut dapat dilakukan untuk keuntungan ataupun kerugian organisasi dan oleh orang di luar maupun di dalam organisasi. 2. Kecurangan adalah serangkaian tindakan dilakukan dengan cara-cara nonfisik melalui penyembunyian ataupun penipuan untuk uang ataupun harta benda, untuk menghindari pembayaran atau hilangnya uang atau harta benda atau untuk mendapatkan keuntungan bisnis atau pribadi. 3. Kecurangan adalah sebagai penggunaan jabatan/pekerjaan seseorang untuk memperoleh kekayaan pribadi melalui penerapan penyalahgunaan secara sengaja sumber daya ataupun kekayaan organisasi yang mempekerjakan. Ketiga istilah di atas memiliki arti yang khusus bagi para pembaca awam yang lebih berguna daripada penggunaan istilah-istilah penipuan, kejahatan, penyalahgunaan yang lebih luas. Dalam bab ini, seluruh kejahatan melalui penipuan di dalam sektor publik dan swasta akan kecurangan karyawan dan manajemen. Ini dibedakan dari pencurian secara gamblang, penvembunyian tindakan kejahatan yang dilakukan secara aktif. ‘ 12 1 Audit Internal Suparno, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http: //www. mercubuana. ac. id dan

a) Penyeleksian karyawan. g) Kontrol atas perancangan system. b) Definidi tugas. h) Keamanan atas

a) Penyeleksian karyawan. g) Kontrol atas perancangan system. b) Definidi tugas. h) Keamanan atas akses fisik. c) Pemisahan tugas. I) Keamanan atas akses elektronik. d) Akses ganda. j) Kontrol dan pengeditan internal. e) Etika professional. k) Ketakutan akan deteksi. f) Lisensi. Tanggung Jawab Perspektif Historis Pada tahun-tahun awal, perhatian auditor terutama diarahkan pada pendeteksian yang keliru dan curang. Secara umum, mereka melakukan tindakan polisi. protektif dan detektif daripada konstruktif. Tidak ada standar formal baku yang tanggung jawab kepada auditor internal untuk mencegah dan mendeteksi pengadilan telah menentukan tanggung jawab auditor eksternal untuk pencegahan dan pendeteksian seperti itu. Sejak abad ke-19 di Inggris, pengadilan menerapkan aturan akal diharapkan sebagai auditor yang dapat dianggap cukup memiliki kemampuan. Aturan yang sama dapat diterapkan pula bagi auditor internal. Dalam kasus London and General Bank (No. 2), (1885, 2 B. 673), seorang auditor diminta membayar kepada Official Receiver of the London and Generar Bank, yang perkaranya sedang diputuskan, sejumlah dividen tertentu yang dibayarkan atas dasar tidak dinyatakan cadangan piutang tak tertagih dengan benar dalam neraca yang telah disertifikasi oeh auditor. Jika saja cadangan tersebut telah dibuat dengan benar, dividen yang dibayarkan tidak akan pernah dinyatakan. Dalam menyanggah sidang pengadilan dan pembelaan bahwa auditor tidak dapat dipersalahkan terhadap salah satu dan dividen tersebut, sidang banding menyatakan sbb: Seorang auditor, tidak terikat untuk melaksanakan lebih dari melaksanakan perhatian dan keahliah yang wajar dalam memberikan pertanyaa-pertanyaan dan investigasi. Ia bukan seorang penjamin. Begitu yang saya tangkap dari tugas seorang auditor, ia harus jujur, bahwa ia tidak harus memberikan pernyataan atas apa yang dianggap tidak benar, serta ia harus bertindak hati-hati dan dengan keahlian yang wajar sebelum ia yakin bahwa apa yang ia nyatakan adalah benar. ‘ 12 3 Audit Internal Suparno, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http: //www. mercubuana. ac. id

3. Karakteristik perilaku seseorang Kedua kondisi di atas dapat terjadi, namun jika individu tersebut

3. Karakteristik perilaku seseorang Kedua kondisi di atas dapat terjadi, namun jika individu tersebut memiliki sifat jujur yang tinggi, kecurangan tidak akan dilakukan. Akan tetapi, kasus-kasus ekstrem dari unsur pertama di atas, ditambah dengan situasi kontrol yang lemah dari unsur yang kedua, dapat menguasai moral dasar seseorang yang menjauhi hal-hal seperti itu dan akan membuka pintu terjadinya penyelewengan. Deteksi Kendala-kendala Seorang kepala teller di sebuah bank berhasil mengambil dana lebih dari $1 juta selama masa 3 tahun melalui manipulasi komputer bank. Kontrol internal normal bank tidak dapat mendektesi penyelewengan tersebut. Ia kemudian ditahan hanya karena agen-agen federal, yang melakukan investigasi atas aktivitas sebuah tempat judi yang dicurigai, menemukan bahwa ia mempertaruhkan lebih dari $ 30. 000 sehari di atas meja judi. Dengan mengikutinya, mereka menemukan dari mana ia memperoleh uang untuk judi tersebut. Pendeteksian di atas terjadi karena kebetulan, bukan dirancang terlebih insiden yang didasarkan atas ketidakjujuran dapat lolos dari sampai 15 pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik independen. Beberapa yang lainnya tetap tidak terungkap selama lebih dari 25 tahun meskipun telah dilakukan upaya-upaya rutin dari pemeriksa-pemeriksa negara bagian dan federal. Jika auditor internal ingin berhasil dalam mendeteksi kecurangan, mereka harus mengembangkan kewaspadaan yang tinggi mengenai bagaimana kecurangan dapat terjadi. Langkah pertama adalah meluangkan lebih banyak waktu untuk menilai bagaimana sistem kontrol dan risiko-risiko apa yang sedang atau sebaiknya dijauhkan. Selanjutnya auditor apakah dalam praktik nyata di lapangan, prosedur-prosedur kontrol telah mengalami pelanggaran. Pencegahan Kontrol adalah penting namun control bukanlah asuransi yang lengkap. Kontrol membuat pelaksanaan kecurangan menjadi lebih sulit, namun bukan sesuatu yang mustahil. Baik manajemen maupun auditor internal sebaiknya tidak terlena dengan perasanaan aman yang palsu karena telah ada control yang dilakukan dengan baik. Berikade apapun dapat ditembus oleh seorang pencuri yang tekun dan ahli, namun control yang baik dapat membuat pekerjaan pencuri tersebut menjadi lebih sulit. ‘ 12 5 Audit Internal Suparno, SE. MM. Pusat Bahan Ajar dan Elearning Universitas Mercu Buana http: //www. mercubuana. ac. id