UNIVERSITAS KLABAT Airmadidi Manado 95371 SULUT INDONESIA 62
UNIVERSITAS KLABAT Airmadidi, Manado 95371 - SULUT - INDONESIA ☏ (62) 85256923813 - ✉ purnawinadi 87@unklab. ac. id http: //igemiracle. weebly. com Psychiatric Nursing Prepared by Ns. I Gede Purnawinadi, S. Kep. , M. Kes.
COURSE OUTLINE Matakuliah/Kode Subject/Code SKS/ Paralel Credit/ Parallel Jadwal Schedule Dosen Teacher Psychiatric Nursing/Keperawatan Jiwa/PSYN 411 3 credits / A Monday, Wednesday, & Friday at GK 1 -403 (15. 10 – 17. 00) Ns. I Gede Purnawinadi, S. Kep. , M. Kes.
Course Description • Psychiatric nursing or mental health nursing is the appointed position of a nurse that specializes in mental health, and cares for people of all ages experiencing mental illnesses or distress. Nurses serve an essential function to support who needs mental-health assistance to fulfill their life, include: üDetermine nursing diagnose üProvide protection üBuild relationship üTeach the patient
Course Methodology • This will be demonstrated initially through introductory of the course outline and reading material including the textbook, and incorporated with class discussion as well as individual and group assignment. • A dynamic and interesting class interactive will be incorporated, and a series of quizzes and examination will be administered to evaluate the effective of the course. • Mid-semester and final exam will be applied as the core indicators of the well absorption of class lectures and materials from all students.
Description of Grading Percentage Attendance 10 % Class Participation 5% Textbook and Notebook 5% Assignment 15 % Unit Examination/Quizzes 15 % Mid-Semester Examination 25 % Final Examination 25 % TOTAL 100%
% Range Letter Grade 91 – 100 A 70 – 74 C+ 85 – 90 A- 67 – 69 C 82 – 84 B+ 60 – 66 C- 78 – 81 B 40 – 59 D 75 – 77 B- 0 – 39 F
No. Jadwal Materi 1 Monday Oct 8, 2018 Course Outline 2 Wednesday Oct 10, 2018 Perkembangan Keperawatan Jiwa 3 Friday Oct 12, 2018 Konsep Dasar Keperawatan Jiwa 4 Monday Oct 15, 2018 Chapter Test 5 Wednesday Oct 17, 2018 Terapi Modalitas dalam Keperawatan Jiwa 6 Friday Oct 19, 2018 Konsep Psikofarmaka 7 Monday Oct 22, 2018 Peran Perawat dalam Terapi Psikofarmaka 8 Wednesday Oct 24, 2018 Chapter Test 9 Friday Oct 26, 2018 Schizophrenia dan Bipolar Disorder 10 Monday Oct 29, 2018 Psychopath dan Obsessive Compulsive Disorder 11 Wednesday Oct 31, 2018 Schizoaffective dan Anorexia Nervosa 12 Monday Nov 5, 2018 Multiple Identity Disorder dan Self Harm/Injures 13 Wednesday Nov 7, 2018 Sexual dan Antisocial Personality Disorder 14 Friday Nov 9, 2018 Mid- Semester Test
No. Jadwal Materi 15 Monday Nov 12, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Penyalahgunaan Zat 16 Wednesday Nov 14, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Ansietas 17 Friday Nov 16, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Gangguan Citra Tubuh 18 Monday Nov 19, 2018 Chapter Test 19 Wednesday Nov 21, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Kehilangan 20 Friday Nov 23, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Harga Diri Rendah 21 Monday Nov 26, 2018 Chapter Test 22 Wednesday Nov 28, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Isolasi Sosial 23 Friday Nov 30, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi 24 Monday Dec 3, 2018 Chapter Test 25 Wednesday Dec 5, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Perilaku Kekerasan 26 Monday Dec 7, 2018 ASKEP Pada Pasien dengan Defisit Perawatan Diri 27 Wednesday Dec 10, 2018 Issues and Trends 28 Friday Dec 12, 2018 Final Test
or re s St Mampu Berinteraksi Jiwa Fisik Mental Sosial Spiritual yang SEHAT Respon Produktif
Jiwa adalah unsur manusia yang bersifat nonmateri, tetapi fungsi dan manifestasinya sangat terkait pada materi Ø T: “Jika kamu tidak suka dengan aku, tidak usah ke sini. Buat apa kamu datang jika tidak suka sama aku, pergi kamu, pergiiii. . . ”. Ø K : kami tertegun, kemudian menjawab “Justru aku ke sini karena aku suka kamu, kami ada perhatian dengan kamu, kami ingin tahu bagaimana kabar dan keadaanmu”. Ø T : “Tapi kenapa kamu pakai baju merah? ” (salah satu di antara kami ada yang memakai baju merah). Ø K : “Memang kenapa? Ada apa dengan baju merah? ” Ø T : “Merah kan artinya Stop, tidak boleh jalan, dilarang masuk. Berarti kamu tidak suka dengan aku, pergi kamu, pergiii. . ”.
Perkembangan Keperawatan Jiwa Masa Peradaban Masa Pertengahan Abad 18 dan 19 Abad 20 Tidak berfungsinya Otak ü ü ü Ketenangan Asupan gizi Personal hygiene Music therapy Rekreasi Pengobatan Moral ü ü Hubungan Pasien-Dokter Pendampingan pasien Komunikasi Kajian riwayat Treatise on Insanity ü ü ü Pendampingan terlatih RS Jiwa Pendidikan Spesialis Jiwa Psikofarmaka Hidroterapi ü Kedokteran ü Keperawatan ü Jenjang Pendidikan tinggi ü Terintegrasi Ø Penekanan upaya PREVENTIF Ø Pengembangan Pusat Kesehatan Mental Ø Praktek Mandiri Ø Pelayanan RS Ø Day Care Ø Identifikasi kelompok berisiko Ø Pendekatan multidisipliner
KEPERAWATAN JIWA DI INDONESIA Penjajahan Belanda Penjajahan Inggris (1812 – 1816) Perawat merupakan penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit. Tahun 1799 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Rumah Sakit Binen Hospital di Jakarta, Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Jenderal Daendels juga mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan staff dan tentara Belanda. kesehatan adalah milik setiap manusia, melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain melakukan pencacaran umum, cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan kesehatan para tahanan. Tahun 1819 didirikanlah RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindahkan ke Salemba yang sekarang bernama RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Antara tahun 1816 hingga 1942 pemerintah Hindia Belanda banyak mendiirikan rumah sakit di Indonesia. Di Jakarta didirikanlah RS. PGI Cikini dan RS. ST Carollus. Di Bandung didirikan RS. ST. Boromeus dan RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat.
Penjajahan Jepang (1942 – 1945) Kemerdekaan Pada masa penjajahan Jepang, perkembangan keperawatan di Indonesia mengalami kemunduran dan merupakan zaman kegelapan, Pada masa itu, tugas keperawatan tidak dilakukan oleh tenaga terdidik dan pemerintah Jepang mengambil alih pimpinan rumahsakit. Hal ini mengakibatkan berjangkitnya wabah penyakit karena ketiadaan persediaan obat. Empat tahun setelah kemerdekaan barulah dimulai pembangunan bidang kesehatan yaitu pendirian rumah sakit dan balai pengobatan. Pendirian sekolah keperawatan dimulai pertama kali tahun 1952 dengan didirikannya Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setingkat SMP. Tahun 1962 didirikan Akademi Keperawatan milik Departemen Kesehatan di Jakarta bertujuan untuk menghasilkan Sarjana Muda Keperawatan. Tahun 1985 merupakan momentum kebangkitan keperawatan di Indonesia, karena Universitas Indonesia mendirikan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) di Fakultas Kedokteran. Sepuluh tahun kemudian PSIK FK UI berubah menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan. Setelah itu berdirilah PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dll.
• ORGANISASI PROFESI • Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa (IPKJI )dibentuk tahun 1997 bersamaan dengan Jambore Kesehatan Jiwa yang dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor (sekarang RS Dr H. Marzoeki Mahdi Bogor). http: //ipkji. org/profil-ipkji/
• Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. • Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47, 5 juta terkena dimensia. • Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. • Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400. 000 orang atau sebanyak 1, 7 per 1. 000 penduduk.
Konsep Dasar Organobiologik Jiwa Psiko-edukatif SEHAT Sosial-Budaya yang Spiritual WHO (1959) • Individu mampu menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya. • Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya. • Merasa lebih puas memberi dari pada menerima. • Secara relatif bebas dari rasa tegang (stress), cemas dan depresi. • Mampu berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan. • Mampu menerima kekecewaan sebagai pelajaran yang akan datang • Mempunyai rasa kasih sayang.
GANGGUAN JIWA • Gangguan jiwa menurut PPDGJ III adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat (Maslim, 2002; Maramis, 2010). Somatogenik Psikogenik Sosial Budaya
Klasifikasi Gangguan Jiwa Kriteria diagnosis DSM menggunakan sistem multiaksis, yang menggambarkan berbagai gejala yang harus ada agar diagnosis dapat ditegakkan (Katona, 2012). Aksis 1 : sindroma klinis dan kondisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian klinis. Aksis 2 : gangguan kepribadian dan retardasi mental. Aksis 3 : kondisi medis secara umum. Aksis 4 : masalah lingkungan dan psikososial. Aksis 5 : penilaian fungsi secara global.
F 00 – F 09 : gangguan mental organik (termasuk gangguan mental simtomatik). • Pedoman penggolongan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia (PPDGJ) pada awalnya disusun berdasarkan berbagai klasifikasi pada DSM, tetapi pada PPDGJ III disusun berdasarkan ICD X. Secara singkat, klasifikasi PPDGJ III : F 10 – F 19 : gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif. F 20 – F 29 : skizofrenia, gangguan skizotipal, dan gangguan waham. F 30 – F 39 : gangguan suasana perasaan (mood/afektif). F 40 – F 48 : gangguan neurotik, gangguan somatoform, dan gangguan terkait stres. F 50 – F 59 : sindroma perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik. F 60 – F 69 : gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa. F 70 – F 79 : retardasi mental. F 80 – F 89 : gangguan perkembangan psikologis. F 90 – F 98 : gangguan perilaku dan emosional dengan onset biasanya pada anak dan remaja.
• Klasifikasi diagnosis keperawatan pada pasien gangguan jiwa dapat ditegakkan berdasarkan kriteria NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) ataupun NIC (Nursing Intervention Classification) NOC (Nursing Outcame Criteria). Untuk di Indonesia menggunakan hasil penelitian terhadap berbagai masalah keperawatan yang paling sering terjadi di rumah sakit jiwa. Pada penelitian tahun 2000, didapatkan tujuh masalah keperawatan utama yang paling sering terjadi di rumah sakit jiwa di Indonesia, yaitu: Perilaku Kekerasan (PK) Halusinasi Menarik Diri (ISOS) Waham Resiko Bunuh Diri Defisit Perawatan Diri Harga Diri Rendah (HDR)
Perilaku Kekerasan • Hasil penelitian terakhir, yaitu tahun 2005, didapatkan sepuluh diagnosis keperawatan terbanyak yang paling sering ditemukan di rumah sakit jiwa di Indonesia adalah sebagai berikut. Risiko Perilaku Kekerasan (pada diri sendiri, orang lain, lingkungan, verbal) Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi (pendengaran, pengelihatan, pengecap, peraba, penciuman Gangguan Proses Pikir Strategi Pelaksanaan Kerusakan Komunikasi Verbal Risiko Bunuh Diri Isolasi Sosial (SP) Tindakan Keperawatan Kerusakan Interaksi Sosial Defisit Perawatan Diri (mandi, berhias, makan, eliminasi) Harga Diri Rendah Kronis standar rencana tindakan yang dapat digunakan acuan perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan jiwa.
Trust KEPERAWATAN JIWA Helper Proses Interpersonal Meningkatkan dan Mempertahankan Perilaku Fungsi Terintegrasi Terapeutik 1. Apakah saya dapat dipandang sebagai orang yang dapat dipercaya, serta dapat dijadikan pegangan atau konsisten dalam arti yang mendalam? 2. Apakah saya cukup ekspresif? 3. Apakah saya bersikap positif, hangat, perhatian, menyukai, menaruh perhatian, dan respek? 4. Apakah saya cukup stabil untuk berpisah dengan seseorang? 5. Apakah saya dapat membiarkan diri sepenuhnya “masuk ke dunia” orang lain (perasaan, makna diri) dan menerima pihak lain apa adanya? 6. Apakah perilaku saya tidak dianggap sebagai ancaman pihak lain? 7. Apakah saya membebaskan pasien dari perasaan terancam oleh kritik/kecaman/penilaian eksternal? 8. Apakah saya menerima pasien sebagai “on becoming individu” ataukah terikat oleh kesan yang lalu?
FALSAFAH KEPERAWATAN JIWA
MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN JIWA
Stimulus: 1. Kejadian yang menekan (stressful) 2. Ketegangan hidup Penentuan arti dan pemahaman terhadap pengaruh situasi yang penuh dengan stres bagi individu 1. Problem Focus 2. Cognitive Focus 3. Emotion Focus Sumber Utama: 1. Biologi: latar belakang genetik, status nutrisi, kepekaan biologis, kesehatan umum, dan terpapar racun. 2. Psikologis: kecerdasan, keterampilan verbal, moral, personal, pengalaman masa lalu, konsep diri, motivasi, pertahanan psikologis, dan kontrol. 3. Sosiokultural: usia, gender, pendidikan, pendapatan, okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial, dan tingkatan sosial.
Mekanisme Pertahanan
Standar Praktik Keperawatan Jiwa Standar I Pengkajian Standar Va. Konseling Standar Vb. Terapi Lingkungan Standar Vc. Aktivitas Asuhan Mandiri Standar Vd. Intervensi Psikobiologis Standar Ve. Penyuluhan Kesehatan Standar Vf. Manajemen Kasus Standar Vg. Pemeliharaan dan Peningkatan Kesehatan Intervensi Praktik Tahap Lanjut Vh–Vj Standar Vh. Psikoterapi Standar Vi. Preskripsi Agen Farmakologis Standar Vj. Konsultasi Standar II Diagnosis Standar III Identifikasi Hasil Standar IV Perencanaan Standar V Implementasi Standar Vl. Evaluasi
- Slides: 33