TUGAS RELIGIOSITAS MGR albertus soegidjopranata sj Nama kelompok
TUGAS RELIGIOSITAS “MGR albertus soegidjopranata, sj. ’ Nama kelompok : Bisma Titis Restu Aji Chaterine Itory. Sitorus Kristy Aprilia Sola Gracia Bernadine M XI MIA SMA SINT CAROLUS BENGKULU
p u d i H t a y a Riw • MGR Albertus Soegijapranata lahir dengan nama Soegija di Surakarta, 25 November 1896. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang diangkat menjadi Uskup. Agung • Soegija dibesarkan dalam keluarga kejawen muslim yang merupakan abdi dalem Keraton Surakarta. • Ia mendapatkan nama Albertus Magnus setelah prosesi pembaptisan yang dilakukan ketika ia bersekolah di Kolose Xaverius. Setelah menamatkan sekolahnya, ia berkeinginan untuk menjadi imam, sehingga pada tahun 1916, ia dikirim untuk mengekuti kegiatan Imamat di. Gymnasium, Uden, Belanda
Riwayat Hidup • Soegija kemudian masuk. Novisiat SJ di Mariendaal. Dan Ia belajar Filsafat di Kolese Berchman, Oudenbosch pada tahun 1923 sampai 1926. • Hinggatahun 1928, Soegija mengabdikan dirinya di Kolose Xaverius sebagai pengajar, setelah itu, ia kembali berlayar ke Belandauntuk memperdalam ilmu Teologi di Maastricht. • Tahun 1931, Soegija menerima Sakramen Imamat yang ditahbiskan di kota Maastricht , dan Ia menambah namanya dengan Pranata sehingga menjadi Soegijapranata
Riwayat Hidup • Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Pastur Paroki, setelah itu Berdasarkan telegram dari MGR Montini di Roma, Soegijapranata diangkat sebagai Vikaris. Apostolik yang memangku jabatan keuskupan , sehingga ia menjadi uskup pertama di Indonesia • Ia meninggal pada tahun 1963 di Steyl, Belanda dan jenazahnya diterbangkan kembali ke Indonesia. Ia dijadikan seorang Pahlawan Nasional dan dikebumikan di Taman makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.
KEUTAMAAN • Nilai-Nilai Kemanusiaan Tampak dari usahanya mengayomi, melayani serta melindungi masyarakat • Nasionalisme Tampak dari usahanya untuk membela negara indonesia, seperti kutipannya” 100% indonesia 100% katolik”
KARIER 1. Pengajar di Kolese. Xaverius. Muntilan (19261928) 2. Pastor Pembantu di Paroki. Kidulloji, Yogyakarta (1933) 3. Vikaris. Apostolik Semarang (1940) 4. Uskup Agung Pertama (1940)
Bentuk-Bentuk Pelayanan • Ia menjadi guru agama, bahasa Jawa, dan aljabar di Kolese Xaverius • menangani keperluan paroki di Bintaran • berkhotbah kepada warga kota pribumi yang Katolik • menjadi penasihat untuk berbagai kelompok • mendirikan sebuah koperasi untuk masyarakat Katolik • menjadi penasihat untuk pasangan Katolik muda sebelum mereka menikah
Lanjutan • Berusaha untuk menghentikan penyitaan terhadap Gereja yang dilakukan oleh Jepang • Berusaha menghentikan penyiksaan terhadap tawanan perang Jepang
KESAKSIAN 1. Kesaksian Soegija Saat pendudukan Jepang di Indonesia "di mana-mana ada kebakaran. . . Tidak ada tentara, tidak ada police, tidak ada pegawai. Di jalanan pun terdapat berbagai bangkai kendaraan yang terbakar. . . Untung masih ada beberapa pegawai kejaksaan dan beberapa tokoh Katolik yang tidak pergi. Mereka bekerja dengan mengatasnamakan diri dari instansiyang berwenang untuk mengatur kota agar tercipta suasana rust en order, tertib dan damai. "
N A I S K A KES 2. Kesaksian saat Belanda menyerang Yogyakarta , “…sekitar pk 10 pagi Belanda mulai mendatangkan pesawat pembom. Sesudah beberapa kali berputar di atas kota, mereka kemudian menjatuhkan bom, terus menerus dijatuhkan, susul menyusul meledak, tanpa reda. Dimana-mana terdengar deru mesin pesawat terbang, bunyi tembakan senapan, rentetan ledakan senapan mesin berikut dentuman meriam. Sejumlah pengungsi mulai menyelamatkan diri, dengan berduyun-duyun masuk ke dalam Pasturan Bintaran …”
Lampiran foto MGR Albertus Soegijapranata, SJ Oudenbosch, Grave, Belanda
Pertemuan , dengan Soekarno Gereja paroki Ganjuran, Bantul
K N A TH . . . U YO Xie x GRACIAS. . ie. . .
- Slides: 15