TEORITEORI MEMORI DAN MEMORI JANGKA PANJANG TEORI MEMORI






















- Slides: 22
TEORI-TEORI MEMORI DAN MEMORI JANGKA PANJANG
TEORI MEMORI JANGKA PANJANG Dengan perkecualian refleks-refleks bawaan yang ada pada diri kita sejak masa kelahiran. Segala pengetahuan kita tentang diri kita dan tentang dunia disimapng dalam memori jangka panjang. Kemampuan kita untuk menanggapi peristiwa-peristiwa sensorik yang paling kecil sekalipin kata penghubung yang membentuk “masa kini” dalam kontinum waktu-fungsi utama dari STM kita. Sebagai tempat penyimpanan transitorik (sementara): sedangkan kemmapuan kita untuk memahami masa lalu dan menggunakan informasi tersebut untuk mengelolah “masa kini” adalah fungsi dari LTM kita memampukan kita tinggal di dua dunia secara bersamaan (yakni pada masa lalu dan masa kini), dan melalui proses tersebut, kita dapat memahami aliran pengalaman saat ini yang datang terus-menerus. LTM harus “ditarik” ke dalam STM agar dapat digabungkan dengan informasi dalam STM dan digunakan untuk memahami aliran informasi yang kita terima saat ini.
LAKOLISASI DAN DISTRIBUSI LTM Studi-studi masa kini yang mempelajari memori dalam kaitannya dengan neurosains kognitif cenderung bersifat terus terang (straighforward). Studi-studi tersebut melibatkan penetuan letak (plotting) fungsi kognitif dalam topografi otak, melibatkan pelacakan jejak-jejak memori (memori traces), dan pengidentifikasi perubahan-perubahan di otak yang terasosiasi dengan pembentukan dan perubahan memori. Sebagian besar teknik-teknik yang digunakan dalam studi-studi tersebut telah didiskusikan sebelumnya. Dan secara umum, meliputi penggunaan teknik pencitraan otak (seperti pemindaian PET, MRI, dan perekaman EEG). Lokasi tempat memori disimpan dalam adalah diseluruh bagian otak. Meskipun juga terpusat di bagian-bagian tertentu. Sebagai contoh, studi-studi PET menunjukkan bahwa area frontal diotak terlibat dalam pemrosesan mendalam terhadap informasi, seperti menentukan apakah suatu kata mendeskripsikan benda hidup atau benda mati. Studi-studi tersebut mengindikasikan bahwa jenis-jenis kinerja memori bersifat spesifik. Meskipun demikian, dalam pemrosesan-pemosesan spesifik tersebut, bagian-bagian lain di otak tetap terlibat, meskipun hanya dalam tingkat yang rendah. Prinsip spesialisasi dan distribusi fungsi tersebut didapati pada jenis-jenis kinerja memori dan sistem penyimpanan yang lain.
MENYUSUN MEMORI MODULAR Area-area pada otak tampaknya terus terspesialisasi selama 3 dekade terakhir. Para ilmuwan neurosans telah membagi korteks visual tempat otak melalui proses sinyal-sinyal yang datang dari mata menjadi lokasi-lokasi yang makin kecil dan semakin terspesialisasi. Beberapa area tersebut merespon warna, sejumlah area yang lain merespon bentuk, dan sejumlah area yang lain merespon gerak. Namun ketika memikirkan objek, kita mengingat karakteristik tersebut sehingga logis bagi para ilmuwan untuk mengansumsikan bahwa informasi-informasi yang berbeda tersebut digabungkan dalam area-area tempat memori dibentuk dan proses-proses kognitif terjadi. “Memori bersifat modular : artinya tidak terpusat disatu lokasi. ” Ujar Patricia Goldmanrakic. Salah seorang lmuwan saraf. “ Inilah bukti fisiologis pertama yang menunjukkan pemisahan antar modul tersebut. ” Rakic dan rekan-rekannya. Fraser A. Willson dan Seamas P. O. Scalaidhe, melaporkan temuan-temuan bahwa neuron-neuron di dua area dalam korteks refrontol kera memberikan respons yang berbeda-beda terhadap isyarat visual yang berbeda-beda.
ANALISI TEORITIK TENTANG KEPAKARAN Chase dan Ericson (1982) telah mendemonstrasikan kinerja memori yang istimewa menggunakan tiga prinsip yang menjelaskan kinerja memori yang terlatih sekaligus menjelaskan bagaimana para pakar menggunakan LTM mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang tidak lazim. Prinsip Penyandian Mnemonic atau mnemonic encoding principle (terkait dengan pengorganisasian)menyatakan bahwa para pakar menyandikan informasi berdasarkan basis pengetahuan yang luas, yang dimilki para pakar tersebut. Prinsip Struktur Pengambilan Informasi atau retrieval structure principle (terkait dengan akses) menyatakan bahwa para pakar menggunakan pengetahuan mereka tentang suatu subjek (seperti mengeti, bermain catur, bermain baseball, memilih barang) untuk mengembangkan mekanisme yang sangat terspesialisasi dan abstrak, yang secara sistematik menyandikan dan mengambil pola-pola yang bermakna dari LTM. Prinsip Percepatan atau speed-up (terkait dengan kecepatan) menyatakan bahwa latihan akan meningkatkan kecepatan para pakar dalam mengenali dan menyandikan pola-pola.
DURASI LTM VLTM dalam Bahasa Spanyol Dalam studi lain oleh Bahrick (1984) dan Phelps (1987). Secara umum Bahrick menemukan bahwa semakin saksama partisipan memepelaari bahasa spanyol semasa SMU, semakin baik pula kinerja dalam tes-tes yang diberikan saat penelitian yakni 50 tahun kemudian. Meskipun demikian, kinerja VLTM sesungguhnya memuaskan orang-orang yang berhasrat untuk memiliki umur panjang. Kemampuan berbahasa spanyol, secara umum menurun paling tajam pada 3 tahun pertama (bila tidak dipelajari) dan kemudian mencapai suatu level yang stabil selama kurang lebih 30 tahun. VLTM dan Psikologi Kognitif Berapa banyak informasi dari buku ini yang akan bertahan di LTM? Dalam artikel yang ditulis Conway, Cohn, dan Stanhope 1991 (berjudul “On The Vary Long-Term Retention of Knowledge Acquired Through Formal Education: Twelve Years of Cognitive Pschylogy. ” Para peneliti menguji sempel yang terdiri dari mantan mahasiswa untuk menyelesaikan mata kuliah psikologi kognitif sejak 12 tahun yang lalu. Para mantan mahasiswa tersebut diminta menyelesaikan sebuah tes memori yang didesain sebagai metode assesment terhadap kemampuan retensi materi yang dipelajari pada waktu yang lampau. Tes tersebut terdiri dari uji memori terhadap nama-nama peneliti dan nama-nama konsep.
Retensi nama menunjukkan penurunan yang sedikit lebih cepat dibandingkan pengingatan (recall) dan rekognisi konsep. Rekognisi terhadap nama dan konsep mengikuti pola serupa. Kami mengemati adanya penurunan awal yang jauh lebih tajam dalam recall nama dan konsep. Sebuah penemuan yang menarik dan diduga menunjukkan danya hubungan yang kaut anatara nilai dan skor VLTM. Data tersebut konsisten dengan eksperimen penting Bahrick dkk, yakni bahwa sebagai suatu bentuk informasi, VLTM baik berupa memori tentang kawan-kawan masa kecil maupun berupa dikotomi STM/LTM menurun dengan cepat pada awalnya dan kemudian menjadi stabil selama bertahun-tahun.
MEMORI TENTANG GAMBAR Sebuah demonstrasi yang menakjubkan tentang kemampuan manusia mengenali gambar setelah jeda waktu yang sangat lama, ditunjukkan oleh Shepard (1967). Beliau memilih 612 gambar berdasarkan sejumlah besar gambar yang mudah diingat (seperti gambar-gambar iklan di majalah). Tugas rekognisi yang dilakukan seketika setelah penampilan 612 gambar pertama, menghasilkan jawaban benar dengan persentasi yang sangat tinggi. Hasil serupa dilaporkan ole Nickerson (1965, 1968) dam Standing (1973) menggunakan 10. 000 gambar. Standing, Conezio, dan Haber (1970)menyajikan 2. 560 slide bewarna kepada sejumlah partisipan dan menemukan bahwa rekognisi berkisar dari 97 persen ke sekitar 63 persen setelah jeda 1 tahun. Sebuah hal yang menarik adalah bahwa penurunan dalam skor rekognisi rata-rata terjadi setelah 4 bulan.
MEMORI OTOBIOGRAFIS Memori autobiografis adalah memori yang dimilki seseorang menegenai masa lalunya. Salah satu alasan mengapa memori pribadi dipandang menarik adalah karena memori pribadi berkaitan dengan individu yang bersangkutan beserta seluruh sejarah hidupnya yang unik. Memori otobiografis juga dapat memberitahu kita berbagai hal mengenai kepribadian dan konsep diri orang yang bersangkutan. Isi memori pribadi kita tidaklah terdiri dari sekumpulan impresi sensorik yang merata. LTM kita tidak merekam informasi secara “liar”, namun sangat selektif. Memori otobiografis pada umumnya sangat akurat(bahkan mungkin sangat sempurna). Data-data yang objektif tentang topik ini memang sulit ditemukan (siapa yang bisa menyanggah suatu memori pribadi ).
PENYIMPANAN LTM Sebuah penjelasan tentang bagaimana memori jangka panjang dibentuk dan disimpan, ditemukan dalam karya Donald Hebb yang menjadi klasik. Versi sederhana dari gagasan Hebb tentang LTM menyatakan bahwa informasi dari STM akan dikirim ke LTM apabila diulang-ualng di STM dalam jangka waktu yang cukup lama. Transformasi informasi dari STM ke LTM tersebut terjadi karena struktur STM di otak memilki sirkuit yang berisikan aktivitas-aktivitas neural yang bergema. , yang memilki neuron-neuron yang mampu bergerak dalam putaran secara mandiri. Manakala sirkuit tetap aktif selama satu periode tertentu, terjadilah perubahan kimiawi dan perubahan struktural dan memori akan disimpan secara permanen dalam LTM. Jika informasi tersebut dikombinasikan dengan memori lain yang bermakna, terjadilah peningkatan memorabilitas(kemudahan memori untuk diingat.
SANDI Dalam LTM, informasi disandikan secara akustik, secara visual, dan secara semantik. Hakikat ketiga jenis sandi (codes) dalam LTM tersebut dapat diilustrasikan dengan mudah. Bagian besar dari kita pernah mengalami kondisi tip of the tongue (TOT jung lidah) dalam kondisi TOT anda mampu mengingat atribut-atribut item yang bersangkutan. Namun, nama item itu sendiri seolah berada diluar jangkaun anda.
LEVEL PEMROSESAN Otak dapat menggunakan metode heuristik (metode yang menuntun kepada penemuan sesuatu, atau penyelidikan terhadap sesuatu, sehingga menyebabkan perumusan-perumusan pikiran-pikiran atau kesimpulan baru). Diasumsikan bahwa otak menggunakan heuristik terhadap jumlah upaya dan waktu yang dicurahkan untuk pemenuhan sasaran. Dalam pandangan Craik dan Lockhart, isu yang signifikan adalah bahwa kita mampu menganalisis atau mempersepsi informasi pada level yang rumit, yang penuh makna (meaningful) sebelum kita menganalisis informasi tersebut pada level yang lebih primitif. Dengan demikian, level pemrosesan lebih menyerupai pemrosesan yang "tersebar"; yang memproses stimuli yang sangat familiar dan penuh makna secara lebih mendalam dibandingkan stimuli yang kurang bermakna. Gagasan bahwa kita dapat menganalisis informasi pada level yang lebih dalam sebelum pada level yang lebih dangkal menyebabkan timbulnya keragu-raguan besar terhadap teori asli yang menyatakan keberadaan sejumlah level pemrosesan. Mungkin kita sekedar memiliki jenis-jenis pemrosesan yang berbeda-beda, yang tidak berupa rangkaian yang konstan. Jika seluruh tipe pemrosesan dapat menerima stimulus (yang sama), akibatnya teori mengenai keberadaan sejumlah level dapat digantikan oleh sebuah sistem yang melenyapkan konsep "sejumlah level" atau "sejumlah kedalaman pemrosesan" namun tetap mempertahankan beberapa gagasan Craik dan Lockhart mengenai pengulangan (rehearsal) dan mengenai pembentukan jejak memori.
LEVEL PEMROSESAN VERSUS PEMROSESAN INFORMASI Model-model memori yang menggunakan konsep pemrosesan informasi pada umumnya menekankan komponen- komponen struktural (seperti penyimpanan sensorik, STM, dan LTM) yang berhubungan dengan pemrosesan (seperti atensi, penyandian, pengulangan, transformasi informasi dan kelupaan) sebagai jenis-jenis kinerja yang berhubungan erat (terkadang secara unik) dengan komponen struktular. Meskipun demikian, sebuah pendekatan lain adalah mendalilkan proses dan kemudian menyusun suatu sistem memori dalam kaitannya dengan kinerja-kinerja tersebut. Craik dan Lockhart telah mengambil posisi tersebut, dan kritisisme implisit mereka terhadap model pemrosesan informasi (bersama Neisser. 1976) mungkin menunjukkan bahwa model pemrosesan informasi sekarang sedang berada dalam posisi terpojok.
Sebuah perbedaan jelas antara teori "kotak dalam kepala" (Waugh dan Norman. Atkinson dan Shiffrin) dan teori level-level pemrosesan (Craik dan Lockhart) adalah pada gagasan utama mengenai pengulangan (rehearsal). Dalam teori "kotak dalam kepala", pengulangan informasi dalam STM berfungsi mentransfer informasi ke dalam penyimpanan memori jangka panjang, sedangkan dalam teori level pemrosesan pengulangan dikonseptualisasikan sebagai tindakan mempertahankan informasi pada suatu level analisis atau pengelaborasian informasi dengan cara memproses informasi tersebut pada level yang lebih dalam. Tipe pertama, maintenance rehearsal, tidak akan menyebabkan retensi yang lebih baik.
EFEK REFERENSI-DIRI Konsep level pemrosesan mengaiami kemajuan pesat ketika Rogers. Kuiper. dan Kirker (1977) menemukan bahwa referensi-diri (self-reference) merupakan sebuah faktor yang kuat. Dengan menggunakan suatu metode yang menyerupai metode Craik dan Tulving (1975), para peneliti meminta partisipan untuk mengevaluasi sebuah daftar yang berisi 40 kata sifat : (adjecetive) setelah para partisipan tersebut sebelumnya dibagi ke dalan empat kelompok tugas (empat kondisi perlakuan): tugas struktural, fonermik, semantik, dan referensi-diri. Tugas struktural merepresentasikan penyandian yang paling dangkal sedangkan tugas referensi-diri merepresentasikan penyandian yang paling dalam. Dalam keempat tugas tersebut, para partisipan melihat satu dari keempat tugas, dan kemudian kata sifat dimunculkan, dan selanjutnya partisipan diminta menjawab "ya" atau "tidak" terhadap tiap-tiap pertanyaan. Dalam tugas struktural, para partisipan ditanyai apakah kata sifat yang ditampilkan memiliki ukuran huruf yang sama dengan pertanyaan isyarat ("Huruf besar"). Dalam tugas fonemik, para partisipan melhat sebuah kata dan ditanyai apakah kata tersebut berima dengan kata sifat yang disajikan ("Berima dengan? "). Dalam tugas semantik, para partisipan melihat sebuah kata dan ditanyai apakah kata tersebut merupakan sinonim dari kata sifat yang disajikan ("Memiliki arti sama dengan? "). Dalam tugas referensi-diri, para partisipan ditanyai apakah kata sifat yang disajikan menggambarkan diri mereka ("Apakah kata ini mendeskripsikan diri Anda? ").
Tentu saja. jika Anda diminta mengevaluasi suatu trair kepribadian diri Anda sendiri, seperti serakah, welas asih, atau marah. Anda menggunakan suatu skema diri (selfschema) yang sangat kuat (Markus. 1977). Skema diri adalah suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari atribut internal yang terpusat pada topik "Aku, diriku, milikku" (I, me, mine). Kita mengetahui banyak hal mengenai diri kita sendiri (dan kita memiliki minat emosional dan intelektual yang mendalam mengenai diri kita sendiri) sehingga kita memiliki jaringan internal yang besar dan rumit untuk menyimpan informasi mengenai diri kita sendiri.
MODEL KONEKSIONIS TENTANG MEMORI Pendekatan terhadap memori sebagaimana yang diajukan Tulving menemukan adanya korelasi langsung antara aktivitas-aktivitas neural dan jenis-jenis memori. Model koneksionis, yang dikembangkan oleh Rumelhart, Mc. Clelland dan sejumlah peneliti lain (1986), juga diinspirasikan oleh adanya aktivitas-aktivitas neural, namun berusaha mendeskripsikan memori berdasarkan analisis unit pemrosesan yang lebih halus (hine- grained), yang menyerupai neuron. Lebih lanjut, model Tulving dihasilkan dari observasi terhadap aktivitas-aktivitas otak sehingga model koneksionis dibuat berdasarkan hukum-hukum perkembangan yang mengatur representasi pengetahuan dalam memori. Sebuah fitur tambahan dari model PDP (parallel distributed processing, lihat Bab 1) adalah bahwa model tersebut bukan sekedar model memori, melainkan suatu model aksi dan representasi pengetahuan.
SKEMA DAN INTISARI (GIST) Sejumlah besar peneliti memusatkan upayanya untuk mengungkap proses-proses psikologis yang melibatkan memori dan bagaimana memori dapat dipengaruhi oleh proses pengambilan memori (retrieval) itu sendiri. Penelitian rekonstruksi memori yang paling termasyhur dilakukan oleh Sir Frederic Bartlett dari Universitas Cambridge dan hasilnya dilaporkan dalam buku Sir Bartlett yang menakjubkan, Remembering: A Study in Experimental and Social Psychology (1932). Dalam buku tersebut, Sir Bartlett menjabarkan sejumlah eksperimen yang menggunakan cerita-cerita singkat, prosa, gambar dan sketsa-sketsa yang dibuat kaum Indian untuk menguji proses mengingat (dan proses melupakan) materi-materi yang bermakna.
JENIS-JENIS MEMORI Secara umum, kita dapat menganalogikan LTM sebagai suatu tempat penyimpanan (repository) segala hal dalam memori yang saat itu tidak sedang digunakan namun memiiki makna yang penting dan dapat diambil kembali (retrievable). Sejumlah kategori umum dari jenis informasi yang disimpan dalam LTM (Bower, 1975) disusun berdasarkan kemungkinan fungsi adaptifnya. Kemampuan Spasial, Informasi mengenai lokasi kita di dunia dan objek-objek yang penting. Pengetahuan ini memungkinkan kita melakukan pergerakan atau manuver efektif di lingkungan kita. Karakteristik-karakteristik Fisik Dunia Sekeliling Kita, Informasi ini memungkinkan kita berinteraksi secara aman dengan objek-objek yang kita jumpai. Hubungan Sosial, Penting untuk mngetahui siapa kawan kita, siapa kerabat kita, dan siapa orang yang dapat kita percayai. Mengenali siapa musuh kita bahkan lebih penting lagi. Nilai nilai Sosial, Pengetahuan mengenai apa yang dianggap penting oleh keiompok kita. Keterampilan-keterampilan motorik, Penggunaan alat, pemanipulasian objek. Keterampilan-keterampilan perseptual. Memungkinkan kita memahami stimuli dalam lingkungan kita, mulai dari bahasa hingga musik.
MEMORI EPISODIK DAN MEMORI SEMANTIK Memori episodik (episodic memory) adalah suatu "sistem memori neurokognitif yang memungkinkan seseorang mengingat peristiwapetistiwa pada masa lalunya". Artinya. memori mengenai pengalaman-pengalaman khusus (misalnya melihat pemandangan laut yang indah, merasakan ciuman pertama, mengunjungi restoran China yang istimewa) membentuk mermorimemori episodik. Peristiwa-peristiwa tersebut disimpan sebagai referensi otobiografis". Memori semantik (semantic memory) adalah memori mengenai kata, konsep, peraturan, dan ide-ide abstrak: memori ini penting bagi penggunaan bahasa. Dalam kata-kata Tulving : "Memori semantik adalah sebuah kamus mental, sebuah pengetahuan terorganisasi yang dimiliki seseorang, mengenai kata dan simbol verbal lainnya
DUKUNGAN NEUROSAINS KOGNITITF Melalui penggunaan teknik-teknik mutakhir, para peneliti memahami struktur arsitektural otak manusia. Sebuah hal yang bahkan lebih menarik lagi bagi para psikolog kognitif adalah penemuan karakteristik fungsional otak: hubungan internal antara karakteristik-karakteristik tersebut; dan hubungan antara karakteristil karakteristik tersebut dengan memori, persepsi, emosi, bahasa, dan proses-proses kognitif yang lain. Sebagai hasil dari penemuan tersebut, para psikolog mampu menyusun hipotesis mengenai keberadaan dua jenis memori: memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Sejumlah besar data-data penelitian psikologi mendukung gagasan tersebut, namun pada masa kini bukti-bukti tersebut ditambah dengan adanya bukti fisiologis berdasarkan karakteristik-karakteristik struktural dan karakteristik pemrosesan informasi di otak. Sebagai kesimpulan, meskipun masih banyak hal yang perlu dipelajari lebih lanjut mengenai hakikat neurobiologis pada memori, sesungguhnya kita juga telah mengetahui sejumlah hal yang penting. Stimuli fisik dari dunia eksternal, seperti energi cahaya dan energi suara, dideteksi oleh sistem sensorik, ditransduksikan menjadi impuls-impuls saraf. dan ditransmisikan ke otak. Di otak, impuls-impuls tersebut awalnya dianalisis dan secara serempak dikirimkan ke pusat pengolahan informasi seperti hipokampus, yang salah satu fungsinya adalah mengenali makna emosional dalam informasi. Jejak tersebut (yang terkadang disebut engram-satu jejak atau bekas hipotetis yang tertinggal dalam sistem saraf sebagai hasil upaya belajar) lebih lanjut dikirim balik ke korteks dan lokasi-lokasi lain tempat pengaktifan senyawa kimiawi saraf (neurochemicals). Proses tersebut terkadang menyebabkan pembentukan jejak-jejak memori permanen schingga tatkala impresi sensorik yang serupa (atau sama) diterima pada lain waktu, jejak memori tersebut dapat diaktifkan.
THANK YOU