TEORI KOMUNIKASI MASSA BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI Stephen
TEORI KOMUNIKASI MASSA
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: Stephen W. Littlejohn, 2002, Theories of Human Communication 7 th Edition PART II: TOPICS IN COMMUNICATION THEORY • System Theory – – – • Theories of Sign & Language – – – • The Social Construction of Reality Language & Culture Theories of Experience & Interpretation – – – • Symboloc Interactionism (Chicago School vs Iowa School) Structuration Theory Theories of Social & Cultural Reality – – • Cognitive Theories of Message Reception & Processing Theories of Symbolic Interaction, Structuration, and Convergece – – • Conversation Analysis Theories of Message Production – • • Classical Semantic Theory Language & the Study of Syntatics The Semantic & Syntatics of Nonverbal Behaviour Theories of Discourse – • Information Theory Cybernetics Dinamic Social Impact Theory Phenomenology Heurmeneutics Cultural Interpretation Critical Theories – – Cultural Studies Feminist Studies
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: Stephen W. Littlejohn, 2002, Theories of Human Communication 7 th Edition PART III: CONTEXTUAL THEMES • Communication in Relationship – The Nature of Relationship – Managing Relationship • Communication in Group Decision Making – The Input-Process-Output Model • Commmunication & Organizational Networks • Communication & Media – Mediium Theory – Semiotic Media – The Function of Cultural Outcomes • • • The Function of Mass Communication Theory The Diffusuion of Inovation Theory Public Opinion & the Spiral of Science Cultivation Analysis Agenda-Setting – Theories of Individual outcomes • Uses & Gratification
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: EM Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory DIVISION-2: INTERPERSONAL COMMUNICATION • Symbolic Interactionsm • Coordinates management of Meaning • Expectancy Violations Theory • Interpersonal Deception Theory • Constructivism • Social Penetration Theory • Uncertainty Reduction Theory • Relational Dialectics • Social Judgment Theory • Elaborationlikelihood Model • Cognitive Dissonance Theory
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: EM Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory DIVISION-3: GROUP & PUBLIC COMMUNICATION DIVISION-4: MASS COMMMUNICATION • Technological Determinism • Semiotics • Cultural Studies • Cultivation Theory • Agenda-Setting Theory • Media Equation DIVISION-5: CULTURAL CONTEXT
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: Denis Mc. Quail & Sven Windahl , 1993, Communication Models for the Study of Mass Communication CHAPTER-2: BASIC MODELS • The Laswell Formula • Shannon-Weaver’s, Osgood & Schramm’s, and Dance’s Models • Gerbner’s General Model of Communication • Newcomb’s ABX Model • Westley & Mac. Lean’s Conceptual Model for Communications Research • Maletzke’s Model of the Mass Communication Process • Alternatives to Transmission: Ritual & Attention Models CHAPTER-3: PERSONAL INFLUENCE, DIFFUSION & SHORT-TERM EFFECT OF MASS COMMUNICATION ON INDIVIDUAL • Stimulus-Response Models • Katz & Lazarsfeld’s Two-Step Flow Model of Mass Media & Personal Influence • Comstocs’s Psychological Model Television Effects on Individual Behaviour • Rogers & Shoemaker’s Model of Innovation Diffusion
BEBERAPA BUKU TEORI KOMUNIKASI: Denis Mc. Quail & Sven Windahl , 1993, Communication Models for the Study of Mass Communication CHAPTER-4: EFFECT OF MASS COMMUNICATION ON CULTURE & SOCIETY • Cultural Indicators & the Cultivation Process • Agenda Setting • A Dependency Model of Mass Communication Effect • The Spiral of Silence • Informations Gaps of Effects • Centrifugal vs Centripetal Effect of Media Society CHAPTER-5: AUDIENCE-CENTRED MODELS • The Uses & Gratification Approach • Renckstorf’s Social Action Model • Audience Reception & Decoding • Audience Reach, Choise, and Appreciation
PENGARUHI KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI SATU LANGKAH • TSL berpendapat bhw pengaruh media bersifat langsung dan segera. – Anda membaca SK dan diyakinkan oleh apa yg Anda baca – Akibatnya: Anda mengubah pemikiran dan perilaku sesuai apa yg disuntikkan media – Pesan merasuk dalam satu langkah: dari media ke pembaca
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI SATU LANGKAH • STIMULUS RESPONSE THEORY – Efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu. – Karenanya, reaksi audiens bisa diarahkan/diperkirakan – Elemen utama teori ini • S: stimulus berupa pesan • O: organisme atau penerima pesan • R: efek atau pengaruh yg ditimbulkan pesan
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI SATU LANGKAH • HYPHODERMIC NEEDLE’S THEORY – Media dipandang sebagai “serum” yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah audiens • Audiens akan bereaksi persis seperti yg diharapkan – Asumsi dasar: • Masyarakat modern merupakan agregasi individu-individu yang terisolasi, bertindak atas kepentingan pribadi, dan tidak tterpengaruh oleh kendala dan ikatan sosial • Media massa seolah-olah melakukan kampanye untuk memobilisasi perilaku sesuai dengan tujuan dari berbagai kekuatan yanga da dalam masyarakat.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI SATU LANGKAH • Teori Jarum Hipodermic – Pesan dipersiapkan didistribusikan scr sistematik dalam skala luas – Scr serempak pesan tersedia bagi sejumlah besar individu, bukan pada orang per orang – Pengunaan teknologi untuk produksi dan distribusi pesan dapat meningkatkan jumlah penerimaan dan response audiens – Seluruh individu yang menerima pesan dianggap sama/seimbang • Jadi, hanya dikenal agregasi konsumen, suporter, dll – Pesan media pasti menimbulkan efek • Individu yg tidak terjangkau media tidak akan terpengaruh
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU PENGEMBANGAN TEORI SATU LANGKAH • SILVER BULLET THEORY (Schramm & Proter, 1982) – Media bekerja seperti peluru yg dibidikkan ke sasaran. • Jika senapan diisi scr benar dan dibidikkan scr akurat, peluru akan menembus sasaran. • Media akan menghasilkan efek yang diinginkan atas khalayak sasaran. – Khalayak, seperti sasaran tembak, bersifat pasif dan tidak menunjukkan penolakan.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI DUA LANGKAH • TDL berpendapat bahwa orang lebih dipengaruhi orang lain daripada langsung oleh media massa (utamanya SK dan Radio) • Mereka yang menyebarkan pengaruh disebut OPINION LEADER.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU KATZ & LAZARSFELD’S TWO STEP MODEL (1955) Early Mass Communication Model Mass Media o oo Two-Step-Flow Communication Model Mass Media o o oo o o oo oo o oo oo
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU KATZ & LAZARSFELD’S TWO STEP MODEL (1955) • Lazarsfeld, Berelson, Gaudet meneliti kampanye pemilihan presiden AS, 1940. • Hipotesis penelitian: – Proses S-R bekerja dalam menghasilkan efek media massa, namun hasil menunjukkan sebaliknya: • Efek media massa ternyata rendah • Asumsi S-R tidak cukup menggambarkan realitas audiens media massa dalam penyebaran informasi dan pembentukan pendapat uumum – Mengajukan gagasan komunikasi dua tahap dan memperkenalkan isitilah OL • Seringkali informasi mengalir dari media massa (SK/Radio) ke para OL, dan dari OL kepada anggota masyarakat yg kurang aktif – Mengusulkan evaluasi terhadap teori S-R dalam konteks media massa
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU KATZ & LAZARSFELD’S TWO STEP MODEL (1955) • Asumsi dasar: – Individu tidak terisolasi dalam kehidupan sosial, tapi merupakan anggota kelompok sosial dan berinteraksi satu dengan lainnya – Respons terhadap pesan media tidak terjadi seketika, tapi melalui perantaraan dipengaruhi oleh hubungan sosial tsb. – Terdapat dua proses: • Penerimaan dan perhatian • Persetujuan atau penolakan – Individu tidak bersikap sama terhadap pesan media melainkan memiliki sikap berbeda: • Mereka yg aktif menerima dan meneruskan gagasan media • Hanya mengandalkan hubungan personal orang lain sebagai panutannya – Individu yg berperan lebih aktif (OL) ditandai dengan penggunaan media yg lebih besar, tingkat pergaulan lebih tinggi, anggapan bahwa dirinya memiliki pengaruh, dan memiliki pesan sebagai sumber informasi dan panutan
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU PENGEMBANGAN: TEORI MULTI LANGKAH • Kriktik atas Teori Dua Langkah – Bermanfaat dan jelas, tapi sangat sederhana – Teori ini tidak selalu benar • Banyak dari informasi yg kita terima berasal langsung dari media – Media massa masa kini (TV) punya kredibilitas tinggi • Banyak orang menerima informasi dari TV menganggap benar begitu saja tanpa harus lagi perlu pendapat orang lain – Konsep OL perlu ditelaah lebih jauh lagi. • Ada pemimpin dari pemimpin • Ada pemimpin dari para pengikut • Ada pemimpin yang menerima informasi dari media, ada juga yang menerimanya dari pemimpin lain (bukan dari media) • Banyak OL juga adalah orang media. • Maka lahir TEORI MULTI LANGKAH
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI MULTI LANGKAH • Dikembangkan sbg kritik atas Teori Dua Langkah • TML menyatakan: – Pengaruh mengalir ulang-alik dr media ke khalayak, dimana individu khalayak juga berinteraksi satu dengan lainnya, dan kemballi ke media, kemudian kembali ke khalayak, dan seterusnya – Artinya: ada banyak langkah yg harus ditelaah sebelum mulai dapat menjelaskan pengaruh/efek media. Media Pemirsa/ Pembaca/ Pendengar
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI MULTI LANGKAH • Media dan khalayak saling mempengaruhi atau antarkhalayak juga dapat saling mempengaruhi • Jamieson & Campbell (1988) – Cara mempengaruhi media: • Menyampaikan keluhan individu • Mengorganisasikan tekanan masyarakat • Mendesak pihak yudikatif melakukan tindakan (kepolisian/kejaksaan) • Mengadu ke legislatif (DPR/DPRD)
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU TEORI DIFUSI INOVASI • Latar: – Terdapat tuntutan yang terus menerus dalam perubahan sosial dan teknologi guna mencari cara -cara lama • Gambaran Umum: – Pada dasarnya merupakan proses komunikasi 2 tahap. • Ada pemuka pendapat atau “agent of change” – Artinya, teori ini menekankan peran sumber non media dalam penyevarluaasan sebuah gagasan baru
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Teori Difusi Inovasi • Difusi mengacu pada menyebarnya informasi baru/gagasan baru/teknologi baru (=inovasi) ke seluruh masyarakat hinggga akhirnya bisa diadopsi masyarakat. • Inovasi mengacu pada segala sesuatu yang “baru”, mengganti yang “lama”. • Adopsi mengacu pada reaksi positif terhadap inovasi dan pemanfaatannya
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Difusi Inovasi (Roger-Shoemaker, 1973) • Proses Difusi Inovasi melalui 3 tahapan aktivitas: – Antaseden • Situasi atau karakteristik dari orang yg terlibat yang memungkinkannnya mengalami terpaan inovasi – Misalnya: lebih mudah terjadi pada mereka yang terbuka pada perubahaan – Proses • Terdiri dari tahapan pengetahuan, persuasi, keputusan, dan konfirmasi. Dari sini, nilai inovatif yang dirasa memegang peranan penting, demikian pula dengan norma-norma dan sistem sosialnya. – Misalnya: terkadang peerlatan yang bermanfaat ditolak karena bertentangan dengan norma kultural. – Konsewensi • Merujuk pada keadaan selanjutnya jika terjadi adopsi inovasi. Keadaan dapat berupa terus menerima atau tidak menggunakannya lagi.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Difusi Inovasi (Roger-Shoemaker, 1973) • Tahap Ke-2 (Proses) pada dasarnya terdiri dari 4 subtahapan: – Pengetahuan • Tahap kesadaran individu akan adanya inovasi dan bagaimana inovasi itu berfungsi – Persuasi • Tahap dimana individu mulai dipengaruhi/terpengaruh untuk menolak atau menerima inovasi itu – Keputusan • Tahap dimana individu mulai memutuskan apakah akan menerima atau menolak inovasi itu – Konfirmasi • Tahap dimana individu mengkonfirmasi bahwa keputusannya untuk menerima/menolak inovasi itu adalah benar/keliru
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Difusi Inovasi (Roger-Shoemaker, 1973) • Difusi inovasi melibatkan berbagai sumber komunikasi yang berbeda (media massa, periklanan atau promosi, penyuluhan, atau kontak sosial informal) dan efektivitas sumber-sumber ini berbeda setiap saat, serta untuk fungsi yang juga berbeda. Jadi, media massa berguna untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan, penyuluhan berguna untuk persuasi, pengaruh antarpribadi berguna dalam pengambilan keputusan, dalam menerima atau menolak inovasi, serta pengalaman dalam menggunakan inovasi dapat menjadi konfirmasi atas keputusan yang dibuat.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Difusi Inovasi (Roger-Shoemaker, 1973) • Teori ini melihat adanya “variabel penerima” selain “variabel sistem sosial”. Kedua variabel ini berperanan penting dalam Tahap Ke-1 (Antaseden) dan akan bherperan/turut menentukan pada taha-tahap berikutnya.
Process Antacedents Consequences Receiver Variables 1. 2. 3. 4. Personality characteristics (e. g. attitude toward change) Social characteristics (e. g. cosmopolitanism) Perceived need for the innovation Etc. Adoption Continued Adaption Discontinued: 1. Replacement 2. Dishancement Communication Sources (channels) Persuasion II Knowledge I Decision III Confirmation IV Later Adaption Social System Variables 1. 2. 3. 4. Social system norms Toleramce of deviancy Communication integration Etc Perceived Characteristics of Inovations 1. 2. 3. 4. Relative Advantage Compatibility Triablitity Observability Rejection Continued Rejection
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Teori Adopsi Inovasi (Mc. Ewen, 1975) • Tiga Tahap Adopsi: – Tahap Akuisisi Informasi • Target komunikan memperoleh atau memahami inovasi. – Tahap Evaluasi Informasi • Target komunikan mulai mengevaluasi informasi tentang inovasi: menilai apakah inovasi itu bermanfaat atau tidak baginya – Tahap Adopsi (Penerimaan) atau Penolakan
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU Teori Adopsi Inovasi (Mc. Ewen, 1975) • Lima Tipe Adopter – Inovator • Mereka yg pertama mengadopsi inovasi walau belum tentu pencetus inovasi itu sendiri – Adopter Awal • Disebut juga “pembawa pengaruh” melegitimasi gagasan dan membuatnya diterima masyarakat umumnya – Mayoritas Awal • Mengikuti “pembawa p[engaruh” dan melegitimasi lebih jauh inovasi itu. – Mayoritas Akhir • Mengadopsi inovasi belakangan setelah masyarakat umumnya menggunakan inovasi – Kelompok Tertinggal (Laggards) • Kelompok yang paling akhir mengadopsi inovasi – Kelompok Kepala Batu (Diehards) • Kelompok kecil yang tetap menolak inovasi itu
Early Majority Later Majority Early Adopters Lagggards Inovator 3% 14% 34% 14% Diehards
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU RINGKASAN UMUM 1. Studi tentang Komas biasanya mengkaji tentang efek. Terdapat dua aliran yang menginspirasi teori-teori Komas berikutnya: 2. – Media massa memiliki efek langsung ke individu • – Media massa memiliki efek tidak langsung, melainkan melalui hubungan komunikasi antarpribadi • 3. Misal: Teori S-R, Jarum Hypodermic Misal: Teori Two-step-flow/OL Teori Difusi Inovasi merupakan gabungan dari prinsip dua teori utama di atas. Artinya, memanfaatkan kekuatan media massa pada taraf tertentu tapi juga melibatkan jaringan antarpribadi yang mempengaruhi tingkat adopsi seseorang terhadap inovasi.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT & BUDAYA
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT & BUDAYA Teori Agenda Setting (Mc. Combs & Shaw, 1977) • Betapa pun, efek media massa memiliki pengaruh kuat pada kognitif khalayak. • Khalayak tidak hanya mempelajari berita melalui media massa melainkan juga mempersepsi pentingnya berita tersebut dari cara media memberikan penekanannya. • Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif khalayak merupakan aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. – Misal: dalam Kampanye, jika pemilih bisa diyakinkan pentingnya suatu issue, maka mereka akan memilih kandidat yang dianggap paling kompeten menangani issue itu.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT & BUDAYA Teori Agenda Setting (Mc. Combs & Shaw, 1977) • Dasar Pemikiran: – Di antara berbagai topiki yang dimuat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan menjadi lebih akrab bagi pembaca dan dianggap penting dalam periode waktu tertentu; dan sebaliknya. • Teknik Penelitian: – Membandingkan hasil analisis isi (kuantitatif) terhadap isi media dengan survey pendapat umum pada dua (atau lebih) waktu yang berbeda.
PENGARUH KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT & BUDAYA RINGKASAN UMUM • Agenda Setting menjelaskan bahwa media dengan menyusun prioritas topik akan mempengaruhi perhatian khalayak terhadap topik mana yang dianggap lebih penting dari topik lainnya.
BERPUSAT PADA AUDIENS
Uses & Gratifications • Uses: penggunaan • Gratifications: penemuan kebutuhan • Sikap dasar: – Daripada mengkaji apa yang media lakukan pada manusia, lebih baik mempelajari apa yang dilakukan manusia pada media
Uses & Gratifications Asumsi Dasar • Asumsi Dasar – Tren perkembangan aliran filsafat dari “determinisme” ke “kehendak bebas” – Menekankan “motif” pada tindakan manusia, juga dalam hal memilih dan menggunakan media
Uses & Gratifications Filosofi Dasar • Aliran Determinisme: – Berasal dari studi tentang binatang – Determinisme Genetis • Saya begini karena begitulah yang diturunkan oleh kakek nenek saya – Determinisme Psikis • Saya begini karena begitulah orangtua mengajarkan kepada saya selama ini – Determinis lingkungan • Saya begini karena lingkunganlah yang menjadikan saya seperti ini • Uses & Gratifications menolak ini: – Bahwa di antara stimulus dan respons ada “kehendak bebas”
Model Jarum Hypodermic Komunikator Media Komunikan Model Uses & Gratifications Komunikator Media Komunikan
Uses & Gratifications (Katz dkk, 1974) Faktor Sosial Psikologis (1) Harapan-harapan (3) thdp Media Massa (4) Kebutuhan (2) menimbulkan melahirkan menghasilkan Perbedaan pola penggunaan media (5) atau yg mengarah pada Gratifikasi kebutuhan (6 a) Konsekwensi lain (6 b) Lihat juga versi Rosengren (1974)
Uses & Effect • Merupakan sintesis antara paradigma “uses” dan paradigma “effect”. • Dalam model U&G kegunaan media ditentukan kebutuhan dasar individu • Dalam model U&E kebutuhan individu bukan merupakan satu-satunya faktor yang mengarah pada kegunaan media
Uses & Effect • Penggunaan (Uses) tergantung kepada – – Karakteristik individu Harapan individu, Persepsi (individu terhadap) media Tingkat exposure media • Akan mempengaruhi keputusan individu atas penggunaan media massa • Konsep “penggunaan” mencakup: – Jumlah isi yang digunakan – Jenis isi yang digunakan – Hubunganan antar pengguna - media
Uses & Efek Berbagai bentuk hubungan penggunaan - hasilnya 1. Hasil ditentukan oleh sifat isi media, sehingga penggunaan media dianggap sebagai faktor antara. Hasilnya disebut EFEK Media content Media Use Effect 2. Hasil merupakan akibat langsung penggunaan media, bukan sifat isinya. Penggunaan media menimbulkan konsekwensi psikologis (seperti ketergantungan pada media tertentu). Karenanya, disebut KONSEKWENSI Media content Media Use Consequences 3. Hasil merupakan akibat sifat isi dan penggunaan media yang berlangsung simultan, dan disebut KONSEFEK Media content Media Use Conseffect
Uses & Effect Audience & karakteristik Intra/ekstra individu (termasuk kebutuhan & kepentingan) Harapan dan persepsi atas media, isi media, dan komunikator Keputusan untuk menggunakan media alternatif Media Eksposure Keputusan untuk menggunakan media dan isi Penggunaan Media: Jumlah isi yang digunakan, jenis isi yang digunakan, hubungan antara penggunaann isi dan cara menggunakannya Efek: Terutama disebabkan sifat-sifat media dan isinya Konsekwensi: terutama disebabkan oleh penggunaan media Hasil pada tataran lainnya Konsefek: Disebabkan secara simultan oleh isi media maupun penggunaannya
RINGKASAN UMUM • Jika teori sebelumnya nelihat proses komunikasi dan efek dari perspektif media, maka dua teori berikut ini menjadikan audiens sebagai pusat dan titik awal dalam memahami proses komunikasi massa • U&G menjelaskan suatu proses dimana kondisi sisial psikologis seseorang akan menyebabkan adanya kebutuhan menciptakan harapan terhadap media massa yang membawa perbedaan pola penggunaan media yang akhirnya menghasilkan pemenuhan kebutuhan. • U&E kebutuhan hanya salah satu faktor yang menyebabkan penggunaan media. Karakteristik individu, harapan, dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses kepada media akan membawa individu pada keputusan penggunaan media & isinya.
Contoh-contoh Aplikasi Teori pada Penelitian
Contoh Penelitian: Stimulus - Respons • Latarbelakang Masalah: – Motivasi karyawan PT KBM belakangan ini mengalami peningkatan signifikan. Diindikasikan bahwa hal ini dikarenakan adanya pimpinan baru yang sangat efektif dalam melakukan komunikasi antar pribadi. • Rumusan Masalah: – Apakah ada hubungan antara efektivitas komunikasi antarpribadi dengan motivasi kerja karyawan PT Kembar Bangun Mandiri? • Tujuan Penelitian: – Mengetahui besarnya efektivitas komunikasi antarpribadi dari pimpinan PT KBM di mata karyawannya. – Mengetahui tingkat motivasi kerja karyawan PT KBM – Mengetahui apakah ada hubungan antara efektivitas komunikasi antarpribadi dengan motivasi kerja karyawan PT Kembar Bangun Mandiri,
Contoh Penelitian: Teori Stimulus-Respons • Landasan Teori Stimulus Respon • Kerangka Pikir X Y Efektivitas KAP Motivasi Kerja • Hipotesis: – Terdapat hubungan yang positif antara efektivitas komunikasi antarpribadi dengan motivasi kerja karyawan PT Kembar Bangun Mandiri
Contoh Penelitian: Teori Komunikasi Dua Langkah • Latar Belakang Masalah: – PT GG memiliki dua divisi utama: Divisi Yogya untuk wilayah Jawa Tengah dan Divisi Semarang untuk wilayah Jawa Timur. Masing-masing divisi memiliki jumlah buruh 250 orang. Namun Divisi Yogya ternyata lebih bergolak dibanding Semarang dalam menyikapi keputusan-keputusan pimpinan yang disebarluaskan melalui News Letter. – Timbul pertanyaan: mengapa Yogya lebih bergolak dibanding Semarang? Berdasarkan penelitian pendahuluan diketahui bahwa kedua divisi memiliki Serikat Buruh-nya masing-masing. Apakah sikap (pimpinan) serikat Buruh mempengaruhi sikap para buruh?
Contoh Penelitian: Teori Komunikasi Dua Langkah • Rumusan Masalah: – Apakah ada kesesuaian antara sikap pimpinan buruh dengan anggotanya terhadap kebijakan yang diinformasikan melalui News Letter? • Tujuan Penelitian: – Untuk mengetahui sikap pimpinan buruh terhadap kebijakan yang diinformasikan melalui News Letter – Untuk mengetahui sikap anggota buruh terhadap kebijakan yang diinformasikan melalui News Letter – Untuk mengetahui bagaimana hubungan kesesuaian antara sikap pimpinan buruh dengan anggotanya terhadap kebijakan yang diinformasikan melalui News Letter
Contoh Penelitian: Teori Komunikasi Dua Langkah • Landasan Teori: Two Step Flow • Kerangka Pemikiran: Isi News Letter: (Kebijakan Perusahaan) Sikap Pimpinan Buruh Div Yogya Sikap Pimpinan Buruh Div Semarang Sikap Para Buruh Div Yogya Sikap Para Buruh Div Semarang
Contoh Penelitian: Teori Komunikasi Dua Langkah • Hipotesis: – Terdapat korelasi positif antara sikap pimpinan buruh dengan anggotanya: • jika pimpinan buruh menolak isi news letter, maka sikap para buruh juga menolak; • Sebaliknya jika pimpinan buruh menerima isi news letter maka sikap para buruh juga menerima.
Contoh-contoh Kasus
Contoh Kasus-1 LATAR BELAKANG MASALAH • Balai Lelang (BL/Auction House) adalah perusahaan yg bergerak di bidang jasa lelang. • Untuk menjangkau peseta lelang dalam wilayah luas (bahkan mencanegara) BL menyebarluaskan informasi melalui email. • Dengan media ini BL mengharapkan feedback dari peserta lelang atas prosedur/tatacara lelang • Namun terlihat feedback yang rendah dan juga pemahaman yang rendah dari peserta lelang terhadap prosedur lelang.
Contoh Kasus-1 LATAR BELAKANG MASALAH • Penelitian pendahuluan terhadap 10 responden tentang perhatian terhadap prosedur lelang menunjukkan adanya hubungan antara perhatian dengan pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang yang disampaikan melalui email: – Dua responden (20%) menyatakan tidak selalu mengecek email yang masuk. – Enam respondej (60%) menyatakan kurang memahami informasi prosedur lelang yang disampaikan melalui email. – Dua responden (20%) lainnya menyatakan informasi yang disampaikan kurang jelas sehingga harus menelepon kembali untuk mendapat penjelasan lebih jauh. • Timbul pertanyaan: apakah rendahnya pemahaman peserta lelang karena rendahnya perhatian mereka atas isi pesan yang disebarluaskan melalui email?
Contoh Kasus-1 RUMUSAN MASALAH • Bagaimana hubungan antara perhatian dengan pemahaman peserta lelang atas prosedur lelang BL melalui email?
Contoh Kasus-1 TUJUAN PENELITIAN • Untuk mengetahui tingkat perhatian peserta lelang terhadap prosedur lelang yang disampaikan melalui email • Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang yang disampaikan melalui email • Untuk mengetahui hambatan yang ada antara perhatian dengan pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang yang disampaikan melalui email
Contoh Kasus-1 KERANGKA TEORI • Teori Stimulus - Respons • Teori-teori perhatian • Teori-teori pemahaman
Contoh Kasus-1 KERANGKA PIKIR • X Y • Variabel X: perhatian peserta lelang terhadap prosedur lelang yang dikirmkan melalui email oleh BL • Variabel Y: pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang yang dikirmkan melalui email oleh BL
Contoh Kasus-1 HIPOTESIS • Jika perhatian peserta lelang terhadap prosedur lelang tinggi maka pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang juga tinggi
Contoh Kasus-1 OPERASIONALISASI VARIABEL • Variabel X: – perhatian peserta lelang terhadap prosedur lelang • Atribut: – Tinggi • Jika responden menjawab 5 -6 pertanyaan yang diajukan menganai prosedur lelang yang dikirim melalui email – Sedang • Jika menjawab benar 3 -4 pertanyaan yang diajukan mengenai prosedur lelang yang dikirim melalui email – Rendah • Jika responden menjawab benar 1 -2 pertanyaan yang diajukan mengenai prosedur lelang yang dikirim melalui email • Indikator: – perhatian peserta lelang terhadap prosedur lelang yang dikirim melalui email dapat dilihat melalui pertanyaan sbb.
Contoh Kasus-1 OPERASIONALISASI VARIABEL • Variabel Y: – pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang • Atribut: – Tinggi • Jika responden menjawab 5 -6 pertanyaan yang diajukan menganai prosedur lelang yang dikirim melalui email – Sedang • Jika menjawab benar 3 -4 pertanyaan yang diajukan mengenai prosedur lelang yang dikirim melalui email – Rendah • Jika responden menjawab benar 1 -2 pertanyaan yang diajukan mengenai prosedur lelang yang dikirim melalui email • Indikator: – pemahaman peserta lelang terhadap prosedur lelang yang dikirim melalui email dapat dilihat melalui pertanyaan sbb.
Contoh Kasus-2 LATAR BELAKANG MASALAH • Sebagian masyarakat mengindikasikan bahwa pemberitaan media massa tentang konflik Ambon menyimpan kecenderungan berpihak membela kelompok tertentu. • Kompas, oleh sebagian masyarakat, dinilai pembela Nasrani sementara Republika adalah media Islami.
Contoh Kasus-2 RUMUSAN MASALAH • Bagaimana objektifitas pemberitaan konflik Ambon pada Suratkabar Kompas dan Republika? – Secara lebih spesifik objektifitas yang dipermasalahkan oleh penelitian ini adalah: • Bagaimanakah akurasi informasi dan data, apakah ada percampuran antara fakta dengan opini? • Bagaimanakah kesesuaian antara judul berita dengan isi berita? • Bagaimana keseimbangan jumlah sumber berita? • Bagaimana keberpihakan media massa terhadap pihak yang berselisih paham?
Contoh Kasus-2 TUJUAN PENELITIAN • Mengukur akurasi informasi, kelengkapan data, pencantuman waktu, dan kejelasan antara fakta dan opini • Mengukur kesesuaian antara judul berita dengan isi berita • Mengukur keseimbangan sumber berita • Mengukur keberpihakan media massa pada pihak-pihak yang berselisih paham
Contoh Kasus-2 Tinjauan Pustaka • Suratkabar • Berita & Jenis Berita • Proses Pengolahan Berita – Teori Komunikasi: GATE KEEPER • • Berita Konflik Objektifitas Berita Faktualitas Impartialitas
Contoh Kasus-2 KERANGKA PEMIKIRAN Sumber Berita Wartawan Berita Objektif Faktualitas Relevansi Akurasi -Kesesuaian judul & isi -Kelengkapan data -Pencantuman waktu -Pemisahan fakta & opini Impartialitas Keseimbangan -Jumlah sumber berita Netralitas -Sikap media
TEORI-TEORI NON POSITIVIST
DUA PARADIGMA UTAMA • • • Positivist – Scientific – Menstandarisasi observasi – Ilmu ada “di luar sana” – Fokus perhatian pada “dunia hasil penemuan” (discovered world) – Berupaya memperoleh hukum general – Memisahkan dengan tegas objek dan subjek • Sistematis Objektif Metodis Universal • • Nonpositivist – Humanistic – Mengutamakan kreatifitas individual – Ilmu ada “di dalam sini” – Fokus perhatian pada “dunia para penemunya” (discovering person) – Mengutamakan interpretasi alternatif – Objek merupakan interpretasi subjek Sistematis Intersubjektif Metodis Ideografik
PERSPEKTIF TEORETIS - METODOLOGI - METODE THEORETICAL PERSPECTIVE METHODOLOGY METHODS Positivism - Experimental Research - Survey Research - Measurement Scalling - Sampling - Questionaire Interpretivism - Symbolic Interactionalism - Phenomenology - Hermeneutics - Ethnography - Phenomenological Research - Grounded Theory - Heureistic Inquiry - Observation - Participant Observation - Interview - Focus Group - Case Study - Life History Critical Inquiry - Action research - Discourse Analysis - Comparative Analysis - Document Analysis - Interpretatif Methods - Content Analysis
Teori-tori Komunikasi Interpretif & Kritis • Asumsi dasar: – Manusia bertindak – Tindakan manusia memiliki arti – Interpretasi diperlukan untuk memahami tindakan manusia • Interpretivisme berupaya memahami pengalaman hidup manusia atau memaknai teks dalam kehidupan manusia • Kritisisme menganggap pemaknaan saja tidak cukup, melainkan harus menemukan cara dan metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.
LANDASAN KEILMUAN TEORI KOMUNIKASI INTERPRETIF DAN KRITIS • FENOMENOLOGI – Ilmu yang mempelajari fenomena dalam kehidupan manusia yang muncul dari pengalaman yang diperoleh secara sadar • HERMENEUTIKA – Ilmu yang mempelajari interpretsasi teks: • Merujuk segala tindak komunikasi dan segala hasil penggunaan akal budi manusia baik bahasa lisan/tulisan, serta tindakan verbal maupun non verbal – Dalam perkembangannya, Heurmeneutika hampir sama dengan interpretasi itu sendiri
LANDASAN KEILMUAN TEORI KOMUNIKASI INTERPRETIF DAN KRITIS: 1. FENOMENOLOGI • Studi mengenai bagaimana manusia mengalami kehidupannya di dunia • Melihat objek dan peristiwa dari perspektif orang yang mengalami • Realitas merupakan bagian dari pengalaman sadar seseorang – “Seluruh pengetahuan saya tentang dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh dari sudut pandang saya sendiri. ” • Fenomenologi berarti membiarkan segala sesuatu mengungkapkan dirinya sendiri tanpa memaksakan kategori kita kepada mereka. • Fenomenologi terpecah dalam dua kubu: – EDMUND HUSSERL: Fenomenologi bisa menjadi disiplin ilmu (ilmiah). Kebenaran bisa diungkap dengan kesadaran yang jernih. – MARTIN HEIDEGER: Pengetahuan yang pasti adalah tidak mungkin. Manusia tidak bisa memisahkan diri dari pengalaman subjektif mereka.
LANDASAN KEILMUAN TEORI KOMUNIKASI INTERPRETIF DAN KRITIS: 2. HERMENEUTIKA • Adalah studi mengenai pemahaman – dengan menginterpretasikan tindakan dan teks. • Tujuan: – menciptakan pemahaman terhadap karya dan tindakan manusia dengan cara menginterpretasikan sifat dan makna. • • Memahami perasaan dan maksud orang lain, Memahami makna peristiwa Menerjemahkan tindakan suatu kelompok Mengungkap makna suatu tulisan • Metode: Lingkaran Hermeneutika – Peneliti (interpreter) menginterpretasikan sesuatu dari umum ke khusus dan dari khusus ke umum secara terus menerus (reflektif) sampai terbentuk pemahaman yang cukup.
Teori-teori Komunikasi Interpretif • Asumsi: – Makna dapat berarti lebih daripada apa yang dijelaskan oleh pelaku. – Interpretasi adalah tindakan kreatif dalam mengungkap kemungkinan-kemungkinan makna. • ALFRED SCHUZT: Orang melakukan interpretasi sosial dalam kehidupannya. Ketika orang bertindak dalam kehidupan seharinya, mereka membuat tiga asumsi dasar: – Bahwa realitas dan struktur kehidupana adalah konstan, yaitu bahwa kehidupan akan tampak seperti keadaan semula – Bahwa pengalaman mereka terhadap kehidupan adalah valid, sehingga orang menganggap bahwa persepsi mereka terhadap peristiwa adalah akurat – Bahwa ia melihat dirinya memiliki kekuatan untuk bertindak dan mencapai sesuatu dan mempengaruhi kehidupannya.
Teori-teori Komunikasi Interpretif • PAUL RICOEUR (menggunakan hermeneutika & fenomenologi) untuk teori interprteasi tekstualnya. – Percakapan dapat dipahami secara linguistik, yaitu dengan menganalisis kata, atau secara personal, yaitu dengan menemukan makna dari pembicara itu sendiri atas apa yang dikatakannya. Karena kata memiliki banyak makna, maka percakapan memerlukan interpretasi. • GADAMER: – Orang selalu memahami pengalaman dengan praduga. • Tradisi memberi kita cara memahami sesuatu dan kita tidak bisa memisahkan diri dari tradisi itu. – Pengamatan, pemahaman, penalaran tidak dapat objektif murni, semua diwarnai sejarah dan komunitas. Sejarah tidak bisa dilepaskan dari keadaan saat ini. – Kita selalu merupakan bagian dari masa lalu, masa kini dan antisipasi masa datang. • Masa lalu berada dalam diri kita sekarang di masa kini dan mempengaruhi konsepsi kita akan masa mendatang. – Pada saat yang sama, perhatian kita pada realitas masa kini mempengaruhui bagaimana pandangan kita terhadap masa lalu. Kita tidak dapat eksis di luar tradisi historis.
Kritik Terhadap Interpretivisme • Bagi Positivist: – Interpretivisme bertentangan dengan perspektif keilmuan (saintifik) – Mengabaikan efek kausal dari struktur eksternal – Objek benar-benar terpisah dari pengalaman manusia. Karena itu, penemuan lebih penting daripada interpretasi, dan itu merupakan jalur yang benar ke arah pengetahuan • Bagi Kritisisme: – Pendekatan ini terlalu konservatif dan tidak melakukan penilaian (nonjudgemental) – Teori Interpretif terlalu konservatif dan tidak memiliki karakter ideologis: hanya sekedar memahami tindakan manusia tidak berarti apa -apa! – Ilmuwan Sosial harus mempelajari bagaimana manusia ditindas sehingga mereka ddapat bangkit dan mengubah kondisi kehidupan mereka.
Teori Komunikasi Kritis • Asumsi: – Mengunakan prinsip dasar interpretivisme, namun tidak sekedar menginterpretasikan, melainkan memberi landasan kritis demi membangun tatanan masyarakat yang lebih baik – Mengkaji kondis-kondisi sosial dalam upaya mengungkap struktur-struktur yang tersembunyi • Pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga dapat dilakukan tindakan untuk mengatasi penindasan – Berupaya secara sadar menggabungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut memang normatif dan bertindak untuk mencapai perubahan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi hidup kita. • Teori Komunikasi Kritis memiliki implikasi ekonomi dan politik; berhubungan juga dengan berbagai topik relevan seperti bahasa, struktur organisasi, hubungan antarpribadi, termasuk media.
Teori Kritis Frankfurt School • Berangkat dengan landasan pemikiran Marxis • Mengembangkan kritik sosial umum dimana komunikasi menjadi titik sentral dalam prinsipnya dan sistem komunikasi massa merupakan fokus sangat penting di dalamnya. • Dimulai dengan karya-karya Mark Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse (1923) • Dengan bangkitnya Nazi (1930 -an) anggota Frankfurt School bermigrasi ke AS. Menaruh perhatian besar pada komunikasi massa dan media sebagai struktur penindas dalam masyarakat kapitalistik, khususnya dalam struktur AS.
Teori Kritis Dewasa Ini • Semakin berkembang, menyebar, dan semakin metateoretik. • Tidak semua yang ada dalam Teori Kritis adalah Marxis, meskipun Marx memberi pengaruh pada teori ini. • Teoretisi Kritis mengangap tugas mereka mengungkap kekuatan-kekuatan penindas dalam masyarakat melalui analisiis dialektik. • Hanya dengan melakukan dialektika antar kekuatan yang bertentangan bisa dihasilkan sintesis untuk mengubah tatanan yang ada. • Analisis ini merupakan suatu praxis (tindakan) karena meruntuhkan kemapanan guna mengubah tatanan yang ada.
Teori Kritis Jurgen Habermas • Mengembangkan teorinya dari berbagai pemikiran dan menghadirkan pandangan kritis mengenai komunikasi dan masyarakat. • Masyarakat harus dipahami sebagai campuran dari tiga kepentingan yang diperlukan dan tidak terpisahkan dari kondisi manusia: – Kerja – Interaksi – Kekuasaan
Teori Kritis Jurgen Habermas • Kerja – Usaha menciptakan sumber-sumber materi yang diperlukan – Bersifat sangat instrumental: mencapai tugas dan tujuan konkrit – Merupakan “kepentingan teknis” • Interaksi – Penggunaan bahasa dan simbol-simbol lainnya dalam berhubungan dengan pihak lain – Merupakan “kepentingan praktis” • Kekuasaan – Tatanan sosial menimbulkan distribusi kekuasaan. – Kekuasaan menyebabkan distorsi komunikasi • Tapi dengan menyadari ideologi yang mendominasi dalam masyarakat, kelompok-kelompok dapat memperkuat diri mereka guna mengubah masyarakat. – Merupakan “kepentingan pembebasan”
Contoh Aplikasi Teoretis pada Penelitian: Analisis Teks • Tiga pandangan dalam analisis teks/bahasa: – Positivisme-empiris – Interpretivisme-konstruktif – Kritisisme
Tiga pandangan dalam analisis teks/bahasa: 1. Positivisme-empiris • Teks/bahasa adalah jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya • Manusia dapat mengekspresikan pengalamannya secara langsung melalui bahasa tanpa kendala sejauh disampiakan dengan bahasa yang logis, sintaksis, dan terkait pengalaman empiris. • Manusia tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau “nilai” yang mendasari pernyataannya karena yang penting pernyataan dilontarkan secara benar melalui kaidah berbahasa. • Analisis teks dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. • Teks diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidakbenaran menurut kaidah bahasa.
Tiga pandangan dalam analisis teks/bahasa: 2. Interpretivisme-konstruktif • • • Banyak dipengaruhi fenomenologi Menolak positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa Bahasa bukan semata alat memahami realitas objektif yang terpisah dari subjek yang menyampaikan pesan. Subjek merupakan faktor sentral dalam kegiatan berbahasa serta hubungan-hubungan sosialnya. Analsis teksnya disebut analisis wacana. Subjek punya kemampuann kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana. Setiap tindakan manusia pada dasarnya merupakan tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri dari sang pembicara. Analisis wacana dimaksudkan sebagai upaya membongkar maksud dan makna-makna tertentu. Analisis wacana adalah upaya pengungkapann maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukaakan suatuu pernyataan. Pengungkapan dilakukan di antaranya dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara.
Tiga pandangan dalam analisis teks/bahasa: 3. Kritisisme • • Ingin mengoreksi pandangan Interpretivisme-konstruktifyang dianggap kuranng sensitif padda proses produksi dan reproduksi makna Analisis wacana tidak dipusatkan pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tatabahasa (positivis) atau pun penafsiran (interpetif) semata, melainkan menekankan padda konstelasi kekuatan yang terjadi padda proses produksi dan reproduksi makna: – Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafasirkan secara bebas sesuai pikirannya karena sangat berhubungan dan sagat dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang adda dalam masyarakat. • • Bahasa tidak dipandang sebagai medium netral yang terletak di luar diri pembicara. Bahasa adalah representasi yang berperan dalam membentuk subjek-subjek tertentu, tema-tema wacana ertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam proses bahasa. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. – Karenanya disebut CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS (ANALISIS WACANA KRITIS).
Karateristik Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) • Dalam CDA: – wacana tidak semata dipandang sebagai studi bahasa melainkan juga menghubungkanya dengan konteks. • Artinya: bahasa digunakan untuk tujuan tertentu. – Wacana merupakan bentuk praktik sosial. • Artinya, ada hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, struktur sosial yang membentuknya. • Prsktik wacana bisa menampilkan ideologi, memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dann minoritas melalui mana perbedaan direpresentasikan melalui posisi sosial yang ditampilkan. • CDA melihat bahasa sebagai faktor penting: bagaimana bahasa dipakai guna melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat
Kesimpulan (CDA dalam konteks bedah berita) • CDA melihat pesan sebagai pertarungan kekuasaan, sehingga teks berita dipandang sebagai bentuk dominasi dan hegemoni satu kelompok pada kelompok lain. • Wacana merupakan alat representasi dimana kelompok dominan memarjinalkan kelompok lainnya. – Kelompok petani yang menuntut haknya sering digambarkan sebagai kelompok yang anarkis, berlainan dengasn pihak pengusaha yang baik. – Buruh yang bertdemonsttrasi menuntut kenaikan gaji dianggap sebagai pihak pembuat onar, menimbulkan kemacetan, keresahan. Sebaliknya pengusaha yang bersikapn tidak adil kurang mendapat liputan memadai.
CDA • Paradigma – Kritis • Teori Wacana – Michel Foucault – Louis Althusser • Model Analisis – – – Roger Fowler Theo van Leeuwen Sara Mills Teun A. van Dijk Norman Fairclough
Contoh CDA: Model Sara Mills (SM) • SM banyak menulis teori wacana , tapi perhatiannnya terutama pada feminisme: – Bagaimana wanita ditampilkan dalam teks (novel, gambar, foto, berita, dll) • Wacana feminis: – Bagaimana teks bias dalam menampilkan wanita – Wanita ditampilkan sevagai pihak yang salah, pihak marjinal dibandingkan lelaki • Penggambaran buruk mengenai wanita menjadi sasaran tulisan SM • Banyak berita menampilkan wanita sebagai objek pemberitaan – CDA coba menunjukkan bagaimana wanita digambarkan dimarjinalkan dalam teks berita dan bagaima bentuk dann pola pemarjinalan itu dilakukan.
Contoh CDA: Model Sara Mills (SM) • Model SM melihat: – POSISI SUBJEK-OBJEK: • Bagaimana posisi-posisi aktor ditampilkan dalam teks: – Siapa yang jadi subjek dan siapa yang menjadi objek menentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan – POSISI PENULIS-PEMBACA: • Bagaimana pembaca mengidentifikasi dan menempatkan dirinya dalam penceritaan teks – Penceritaan ini menempatkan pembaca pada salah satu posisi dan mempengaruhi bagaimana teks hendak dipahami dan bagaimana aktor sosial itu ditempatkan – Cara penceritaan dan posisi-posisi yang ditempatkan ditampilkan dalam teks ini membuat satu pihak menjadi legitimate dan pihak lain menjadi illegitimate.
Contoh Aplikasi Model Sara Mills: Analisis Teks Berita Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2002 Tergiur Lihat Adegan Syur, Gadis Bisu Diperkosa Tiga Sekawan KERANGKA ANALISIS TINGKAT YANG INGIN DILIHAT Posisi Subjek-Objek • Bagaimana peristiwa dilihat: darikacamata siapa peristiwa itu dilihat • Siapa yang diposisikan sebagai pencerita (subjek) dan siapa yang menjadi objek yang diceritakan • Apakah masing-masing aktor dalam kelompokm sosial punya kesempatan menampilkan dirinya sendiri, gagasan ataukah kehadirannya, ataukah gagasannya ditampilkan oleh kelompok/orang lain Posisi Penulis-Pembaca • Bagaimana posisi pembaca ditampilkan dalam teks • Bagaimana pembaca memposisikan dirinya dalam teks • Kepada kelompok mana pembaca diposisikan untuk mengidentifikasi dirinya
Tergiur Lihat Adegan Syur, Gadis Bisu Diperkosa Tiga Sekawan (Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2002) Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin ungkapan inilah yang cocok bagi Sahar (20), pemuda tanggung yang dituduh menghamili Santi (18, bukan nama sebenarnya), gadis manis tunawicara. Akibat perbuatan amoralnya, Sahar babak belur “dipermak” massa dan dipaksa mempertangungjawabkan perbuatannya dengan menikahi Santi. Bukan hanya itu, ia dan Arifin (27), rekannya kini terpaksa meringkuk di tahanan Mapolres Tangerang. “Saya enggan menikahi Santi, soalnya dia juga sempat dipakai oleh Arifin dan Umar sih, ” jelas Sahar tentang penolakan tangungjawabnya atas kehamilan Santi, saat ditemui Rakyat Merdeka di Mapolres Tangerang, Jumat (18/8). Sahar, warga RT 001/02, Kampung Cilenggang, Tangerang, dengan muka lebam penuh luka dihajar massa mengungkakan bahwa Kamis (17/8), sekitar pukul 17. 00 WIB, Muin (bukan nama sebenarnya), orang tua Santi, datang ke rumah. Saat itu ayah korban bermaksud mengundang Sahar dan Arifin agar datang ke rumahnya. Ia dan Arifin sama sekali tidak mengira jika undangan bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antara ia, Arifin, dan keluarga Santi, berkaitan dengan kehamilan Santi, putri sulung Muin. “Waktu itu Santi disuruh memilih saya atau Arifin yang menjadi suaminya. Ternyata Santi memilih saya. Karena takut digebuk massa, ya saya terima saja, ” ujar Sahar yang diikuti oleh anggukan kepala Arifin. Ternyata bukan hanya keluarga Santi yang membuat keduanya merasa tertekan. Massa yang berkumpul di luar rumah pun diakui cukup menjerikan hati mereka. Itulah sebabnya, tanpa tawar menawar lagi, Sahar dan Arifin langsung menyepakati perjanjian dengan keluarga Santi. Isi perjanjian tersebut, mereka bersedia bertanggungjawab atas status Santi kelak. Tidak lama setelah Sahar menandatangani perjanjian di atas segel untuk menikahi Santi, di luar rumah terjadi kegaduhan. Terdengar teriakan massa yang menghendaki agar Sahar dan Arifin segera dibawa keluar rumah dan dikenai hukuman setimpal dengan perbuatannya. Beberapa warga Dadap bahkan telah masuk dan menarik keduanya keluar. “Di luar itu, saya dan Arifin habis dipukuli massa. Malahan, massa hampir membakar kami hidup-hidup. Beruntung petugas kepolisian cepat datang menyelamatkan kami. Coba kalau nggak, mungkin kami sudah hangus terbakar, ” kata Sahar.
…… dst …… Sahar baru mengetahui jika Santi itu gadis bisu setelah pertemuannya kembali di kolam renang Bumi Serpong Damai. “Tanpa sengaja, saya ketemu dia di kolam. Eh… waktu saya ajak bicara, ini anak kok cuma senyum melulu. Ditanya senyum, dipegang tangannya senyum, dirayu juga senyum. Saya pikir jangan-jangan ini anak kalau dipakai senyum juga. Makanya saya jadi tergoda untuk mengajak Santi ke rumah saya, ” kata Sahara mengakui, Santi digarap di rumahnya pertama kali saat tengah hari bolong. Namun ia membantah jika dirinya dituduh menggarap Santi dengan cara paksa. “Saya melakukan perbuatan itu berdasarkan suka sama suka kok, ” tukas Sahar. Menurut Sahar, dirinya sempat pula menceritakan perihal pengalamannya saat mencicipi keperawanan Santi kepada kedua rekannya, yakni Arifin dan Umar. Dan ternyata setelah mendengar kisah Sahar, keduanya tertarik. Bukan hanya itu, kedua rekannya ini pun bahkan menantang Sahar untuk membuktikan ceritanya. Alhasil, disusunlah rencana untuk membawa Santi ke gubug di pinggir sawah sekitar Pemancingan Pelayangan, Cilenggang 1, Tangerang. …. . dst …
Contoh Aplikasi Model Sara Mills: Teks Berita Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2002 Tergiur Lihat Adegan Syur, Gadis Bisu Diperkosa Tiga Sekawan HASIL ANALISIS • • Berita mengisahkan perkosaan yang dilakukan Sahar, Umar, dan Arifin terhadap Santi yang tunawicara. Yang pertama terlihat bagaimana Sahar, pelaku, ditempatkan sebagai subjek pencerita dan Santi, korban, sebagai objek yang diceritakan. Seluruh peristiwa diketahui wartawan melalui mulut Sahar, menempatkan Sahar sebagai tukang cerita. Pembaca mengetahui peristiwa perkosaan itu dari mulut Sahar. Akibatnya, peristiwa diceritakan dalam perspektif Sahar. Karena diceritakan dari sisi pelaku, maka tulisan atas peristiwa itu memarjinalkan si korban. Santi tidak berbicara mengenai dirinya atau peristiwa itu. Ia bahkan tidak hadir, kehadirannya dimunculkan dalam teks melalui mulut Sahar.
• • • Berita dikisahkan dengan alur yang menguntungkan Sahar. Sebagai subjek pencerita, ia bukan hanya menempatkan versi kebenaran mengenai suatu peristiwa dalam kontrolnya, alur cerita juga berada dalam tangannya. Berita bermula dari kisah yang menyebabkan Sahar dan temannya dihajar massa. Sahar dipanggil Muin, orangtua korban. Di sana, mereka bukan hanya dipaksa mengawini Santi bahkan juga ditekan massa dan hampir dibunuh. Berita berlanjut dengan kilas balik bagaimana Sahar bertemu Santi, hingga terjadi perkosaan itu. Kenapa yang diceritakan pertamakali dalam berita adalah tindakan massa yang ingin menghajar Sahar? Teks berita dimulai dengan “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Metafora ini digunakan untuk menggambarkan kesialan nasib Sahar, bukan kenaasan yang dialami Santi. Kenapa bukan perbuatan Sahar itu sendiri yang mulai diceritakan dalam teks berita? Hal ini tidak bisa dipisahkan dari posisi Sahar sebagai pencerita yang mendikte bagaimana seharusnya peristiwa dirangkai dan diceritakan. Hal ini menguntungkan Sahar: peristiwa perkosaan digeser menjadi tindakan main hakim sendiri dari massa. Pembaca diajak bersimpati kepada Sahar, yang datang dengan itikad baik ke rumah korban, tapi tetap saja hendak dihajar massa. Tindakan perkosaan itu sendiri diletakkan di bagian akhir. Dengan kata lain, pola penceritaan menempatkan tindakan main hakim massa itulah yang menjadi penyebab, bukannya perkosaan itu yang berakibat tindakan main hakim dari masyarakat.
Contoh Aplikasi Model Sara Mills: Teks Berita Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2002 Tergiur Lihat Adegan Syur, Gadis Bisu Diperkosa Tiga Sekawan KESIMPULAN • • Bahwa keseluruhan teks berita menggambarkan bagaimana posisi subjek dan objek penceritaan, menentukan bagaimana teks hadir kepada khalayak pembaca. Teks berita ini sangat bias gender, karena peristiwa diceritakan dari sudut pandang pria; lengkap dengan prasangka dan kepemihakannya. Wanita korban bukan hanya tidak ditampilkan, bahkan kehadirannya ditampilkan oleh pria. Dalam teks semacam ini, wanita menjadi objek, dipandang dan direpresentasikan secara buruk. Menarik juga untuk melihat, bagaimana pembaca diposisikan sebagai pihak pria (Sahar, pelaku). Mengikuti kisah ini, pembaca diposisikan seperti ketika ia memerankan Sahar. Dengan pemosisian itu, pembaca tidak akan banyak protes, karena selaras dengan apa yang diinginkan penulis. Dan, pada akhirnya, “kerjasama” antar penulis – pembaca ini kembali melestarikan bias gender yang ada dalam masyarakat.
Contoh Aplikasi Paradigma Kritis dalam Penelitian IDEOLOGI KEBEBASAN SEKSUAL DALAM MEDIA Studi Analisis Wacana Program Radio Guys Talk, Hard Rock FM 87, 6 Jakarta Skripsi Satya Saraswati, FISIP UI • Abstract: – Program ini mengungkap ideologi laten yang ada di balik program acara radio Guy’s Talk, Hard Rock FM 87, 6 Jakarta. – Penelitian menggunakan analisis kritis wacana Norman Fairclough, yang menghubungkan 3 dimensi dalam communicative events, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosio kultural. – Penelitian ini menemukan bahwa Guy’s Talk secara taat asas menyampaikan ideologi kebebasan seksual dengan menampilkan seks sebagai sesuatu yang bebas, individual, subjektif dan hedonis.
- Slides: 99