TEKNOLOGI PERBANYAKAN Trichoderma sp BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN
TEKNOLOGI PERBANYAKAN Trichoderma sp. BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN JAWA TIMUR Malang, 2 September 2020
PENDAHULUAN • Semua jenis tanaman (hortikultura, pangan, perkebunan) dapat terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) dari mulai pembibitan sampai panen. • Salah satu OPT yang menyerang tanaman adalah penyakit tanaman : - Tular tanah (disebarkan oleh air dan serangga), - Tular udara (disebarkan oleh angin, percikan air & serangga), - Tular bibit (penyakit terbawa dari bibit).
LANJUTAN Pengendalian penyakit tanaman • kultur teknis, (tp. tanaman yang toleran masih terbatas) • Fungisida, (aplikasi fungisida relatif mudah dan praktis dilakukan, namun pemakaian yang terus menerus dapat menyebabkan kekebalan sehingga digunakan tidak efektif lagi). fungisida yang
• Pengendalian hayati : alternatif pengendalian yang aman, murah dan ramah lingkungan. • Sebagai daerah tropis, Indonesia kaya sumber daya alam seperti mikroorganisme. • Mikroorganisme ini dapat dijadikan sumber pengendalian penyakit secara hayati yaitu dengan isolasi, perbanyakan massal dan memanfaatkannya lewat aplikasi, sehingga mikroorganisme yang berasal dari alam ini dapat berkembang secara alami bila lingkungan menguntungkan.
• Bbrp penelitian melaporkan keberhasilan penggunaan agens hayati dr gol. cendawan → Trichoderma sp. • Agens hayati ini didapat dari isolasi cendawan tanah yang bersifat parasit bagi cendawan lain, tetapi tidak bersifat patogen bagi hewan atau manusia sehingga dapat mengendalikan penyakit tanaman. • Selain sbg agen hayati, Trichoderma juga berfungsi sebagai dekomposer, karena mengandung enzim selulase yang dapat memutuskan ikatan glikosida β 1, 4 di dalam selulosa
• Pemanfaatan Trichoderma sebagai Pengendali Hayati → salah satu komponen dalam sistem PHT disamping cara bercocok tanam dan varietas. • UU RI No 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Tanaman berkelanjutan, • UU RI No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, • UU RI. No 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup • PP RI No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman
Trichoderma sp. • Trichoderma dikenal luas, mudah diisolasi dari tanah, kayu membusuk & bentuk lain dari BO tanaman. • Pertumbuhan cepat dalam medium buatan, koloni melingkar yg berwarna hijau terang sampai gelap, • Mekanisme antagonis oleh Trichoderma thd organisme lain meliputi mikoparasitisme, antibiotik, kompetisi, mengeluarkan enzim, dan induksi ketahanan • Dapat mengendalikan bbrp cendawan patogen tular tanah seperti R. solani, S. rolfsii, Aspergillus niger, Fusarium sp. , Phytium. a b
• Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari dalam sel sehingga cendawan akan mati). • Menghasilkan antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang dapat menghancurkan sel cendawan melalui pengrusakan terhadap permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase yang dapat menyebabkan lisis dinding sel. • Mempunyai kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan sumber makanan. • Mempunyai kemampuan melakukan interfensi hifa. Hifa Trichoderma sp. Akan mengakibatkan perubahan permeabilitas dinding sel.
TEKNIK PRODUKSI DAN APLIKASI • Salah satu faktor penentu keberhasilan penggunaan agen hayati utk pengendalian di lapangan → bentuk formulasi • Formulasi yg tepat dpt meningkatkan keefektifan agen hayati, ketahanan hidup lebih lama dan yang penting mudah dlm aplikasinya. • Proses produksi Trichoderma tgt pada bentuk akhir produknya (padat, cair atau serbuk)
Proses Produksi dibagi menjadi dua tahap : 1. Produksi konidia-biomassa yang mencakup kegiatan peremajaan isolat, perbanyakan biomassa dan spora, pembuatan starter 2. Penyiapan bahan padat pencampur, pencampuran biomassa -spora dengan bahan padat, pengeringan campuran dan pengepakan produk
Perbanyakan dalam media beras jagung I • Cuci beras jagung sampai bersih rendam selama 12 jam (semalam ) • Kukus selama 15 menit, angkat, dinginkan • Masukkan ke dalam kantong plastik , ½ bag, sterilkan dengan autoclave • Dinginkan, diletakkan dalam rak atau keranjang plastik • Setelah dingin media diinokulasi dengan Trichoderma dalam laminar flow atau enkas • Setiap kantong plastik yang diinokulasi ditutup dengan menggunakan sealer • Inkubasi diletakkan dalam rak/keranjang plastik di dalam suhu ruang dan tidak terkena sinar matahari langsung. • Inkubasi dilakukan selama 7 hari.
Perbanyakan Trichoderma dalam media beras jagung b a Gambar 6 c d e biomassa Trichoderma
Pembuatan Trichoderma sp. Serbuk Bahan • Stater Jagung Trichoderma sp. Steril Cara Pembuatan • Stater Jagung Trichoderma Steril dikeringkan dengan menggunakan oven dengan suhu 40 o C selama 48 jam (Korlina dan Diding, 2013) • Blender sampai halus • Taburkan dalam beras jagung • Dosis 1 gram/250 gram media beras jagung
Pembuatan. Trichoderma sp. Serbuk
Pembuatan Trichoderma sp. cair I Bahan • 100 g Stater Jagung Trichoderma sp. • 100 g gula • 1 liter aquadest Cara Pembuatan • Rebus gula dengan 250 ml air, dinginkan • Haluskan Stater Trichoderma dengan 750 ml air sisanya, saring • Apabila air gula sdh dingin, campurkan ke dalam saringan air Trichoderma aduk sampai rata • Simpan dalam botol kemasan • Dosis 10 -20 cc/liter air
Perbanyakan dalam media beras jagung II • Cuci beras jagung sampai bersih, rendam selama 12 jam (semalam ) • Kukus selama 15 menit, angkat, dinginkan • Setelah dingin masukkan ke dalam kantong plastik ½ bagian • Taburi dengan serbuk Trichoderma sp. sebanyak 1 sendok spatula • Kocok sampai tercampur rata, ikat ujungnya • Tusuk dengan menggunakan jarum sebanyak 5 tusukan • Inkubasi diletakkan dalam rak atau keranjang plastik di dalam suhu ruang dan tidak terkena sinar matahari langsung. • Inkubasi dilakukan selama 7 hari. Tiap hari diamati dan di tusuk ulang.
Cara Pembuatan Trichocompos • Pukan, sekam & bekatul dicampur jadi satu sampai menjadi rata, dibagi 4 bag • Larutkan Dekomposer ke dalam air • Satu bagian (t. d pukan, sekam, dan bekatul) dibuat satu lapisan, kemudian tuangkan lar. dekomposer dg gembor pd campuran tsb smp lembab, dg tanda-tanda jika dikepal dengan tangan, air tidak keluar dan bila kepalan dilepas adonan tidak pecah, tambahkan Trichoderma sp. cair atau Trichoderma sp. padat. • Ulangi sampai empat (4) lapisan. • Adonan ditumpuk di atas ubin kering/tanah kering yg sdh di alas karung goni. Tinggi tumpukan ± 40 cm, kemudian ditutup dengan karung goni. Tempat timbunan harus terlindung dari sinar matahari dan hujan • Pertahankan suhu adonan 40 -60 o C. • Setelah 4 hari pupuk organik plus Trichoderma telah selesai difermentasi dan menjadi kompos aktif yang siap digunakan sebagai pupuk organik plus.
PROSES PEMBUATAN TRICHOCOMPOS:
CIRI-CIRI FISIK PROSES FERMENTASI : • Terjadi kenaikan suhu • Muncul jamur-jamur fermentasi berwarna putih diatas adonan • Terjadi perubahan aroma dari khas bahan organik menjadi bau netral • Adanya perubahan warna bahan ke arah hitam kecoklatan • Kadar air turun
Trichocompos Kompos/bokasi yang diperkaya dengan Trichoderma sp. yang berasal dari pencampuran biomassa-spora dengan bahan padat
Pembuatan Trichoderma cair II Bahan • 2, 5 kg kentang kupas • 200 g gula • 10 liter aquadest Cara Pembuatan • Rebus kentang setengah matang, saring • Tambahkan gula pada air rebusan kentang, rebus hingga mendidih • Masukkan dalam botol besar, siap disterilkan • Steril menggunakan dandang besar selama 2 jam • Setelah dingin masukkan isolat Trichoderma sebanyak 1 tube • Pasang aerator, selama 6 hari
Kegunaan Dapat mengendalikan beberapa cendawan patogen tular tanah seperti : • • • Fusarium sp. Rizoctonia solani Phytophtora spp. Sclerotinia sclerotiorium. Phytium spp. Pada tanaman hias, sayuran, Tanaman Pangan dan buahan
CARA APLIKASI Tricho compos : • Dicampurkan pada media pesemaian sebanyak 1 kg trichocompos/4 m • 10 gram/lubang tanam • 20 -30 kg per hektar
Trichoderma cair Inokulasi Benih : • Campurkan 10 ml Tricoderma/l air • Rendam benih selama 15 menit • Untuk Bibit lakukan pencelupan ke dalam larutan Trichoderma (10 ml/l air) sebatas leher akar selama 5 -10 menit Setelah tanam : • Dosis 10 -20 ml Trichoderma/liter air • Siramkan pada lubang tanam 200 -500 ml/lubang tanam • Interval 7 -15 hari
Hasil Penelitian Trichoderma • Aplikasi Trichoderma cair pada bibit bawang merah sebelum ditanam, dapat meningkatkan hasil bawang merah 11% lebih tinggi daripada tanpa aplikasi Trichoderma pada varietas Sumenep (Korlina dkk, 2008 a). • Pada cabai rawit pemberian Trichoderma sp. cair mampu menekan serangan penyakit layu Fusarium sp. sebesar 73, 77% dan Trichokompos sebesar 78, 08% (Sarwono dkk, 2009). • Aplikasi Trichoderma dapat mengurangi serangan penyakit fusarium pada tanaman bawang merah sebesar 59, 91 % di kediri (Korlina dkk, 2016) dan 64, 06 % di Nganjuk (Rachmawati dkk, 2017
Uji Efektifitas Trichoderma sp. untuk mengendalikan penyakit antraknose pada cabai kecil secara in vitro Tichoderma koningii vs antraknose Trichoderma sp. Vs antraknose
Ucapan Terima Kasih Ir. Eli Kolina M. Si Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang
Terima kasih
Pengendali Hayati penyakit tanaman : suatu cara untuk mengurangi jumlah inokulum patogen atau menekan aktifitas patogen baik aktif atau dorman dalam menimbulkan penyakit dengan satu atau beberapa organisme secara alami atau melalui manipulasi lingkungan, inang atau antagonis
- Slides: 32