Sumber Hukum Islam Hukum Taklifi dan Hukum Wadi

  • Slides: 16
Download presentation
Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i By: Fani

Sumber Hukum Islam, Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i By: Fani

A. Sumber Hukum Islam l l 1. Pengertian Hukum dan Sumber Hukum Islam Hukum

A. Sumber Hukum Islam l l 1. Pengertian Hukum dan Sumber Hukum Islam Hukum menurut pengertian bahasa berarti menetapkan sesuatu atau tidak menetapkannya. Misalnya, menetapkan sifat panas pada api dan menetapkan sifat dingin pada es atau tidak menetapkannya. Menurut istilah ahli usul fikih, hukum adalah khitab atau perintah Allah SWT, yang menuntut mukalaf (orang yang sesudah balig dan berakal sehat) untuk memilih antara mengerjakan dan tidak mengerjakan, atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal, rakhsah (kemudahan), dan azimah. Menurut istilah ahli fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat, berupa al-wujub, al-mandub, alhurmah, al-karahah dan al-ibadah. Sedangkan perbuatan yang dituntut itu disebut wajib, sunnah (mandub), haram, makruh, dan mubah. Maksud sumber hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan, yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam. Dasar hukum ijtihad adalah Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Turmuzi dan Abu Daud yang mengungkapkan dialog Nabi SAW dengan Mu’az bin Jabal, ketika Mu’az akan ditugaskan sebagai Gubernur Yaman.

2. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Al-Qur’an • A. Pengertian • Secara harfiah, Al-Qur’an berasal

2. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Al-Qur’an • A. Pengertian • Secara harfiah, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau himpunan. Al. Qur’an berarti bacaan, karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari, dan berarti himpunan karena merupakan himpunan firman Allah SWT (wahyu). Menurut istilah, Al. Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah ibadah.

b. Kedudukan Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama

b. Kedudukan Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam, baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam.

c. Fungsi u Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai

c. Fungsi u Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

3. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis o A. Pengertian o Perkataan hadis berasal dari

3. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis o A. Pengertian o Perkataan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah ahli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir (persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi SAW.

b. Kedudukan Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai

b. Kedudukan Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an. Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-Qur’an surah Ali’Imran, 3: 132, surah Al-Ahzab, 33: 36 dan Al. Hasyr, 59: 7, serta hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal tentang sumber hukum Islam.

c. Fungsi • Fungsi atau peranan hadis (sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah: 1)

c. Fungsi • Fungsi atau peranan hadis (sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah: 1) Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bayan at-taqriri atau at-ta’kid). 2) Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan samar (bayan at-tafsir). 3) Mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an (bayan at-tasyri; namun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Al. Qur’an.

4. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Ijtihad n n A. Pengertian Menurut pengertian kebahasaan kata

4. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Ijtihad n n A. Pengertian Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata kerjanya “jahada”, yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh.

b. Kedudukan § Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis.

b. Kedudukan § Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dalilnya adalah Al-Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman: Artinya: ”Dan dari mana saja kamu keluar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu (sekalian) berada maka palingkanlah wajahmu ke arahnya. ”(Q. S. Al-Baqarah, 2: 150)

c. Fungsi n Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil

c. Fungsi n Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti di dalam Al-Qur’an dan Hadis.

B. Hukum Taklifi Dan Hukum Wad’i • • • 1. Pengertian Hukum Taklifi dan

B. Hukum Taklifi Dan Hukum Wad’i • • • 1. Pengertian Hukum Taklifi dan Hukum Wad’I, Kedudukannya dan Fungsinya A. Pengertian Hukum taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian beban. Sedangkan menurut istilah ialah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukalaf (balig dan berakal sehat) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, atau berbentuk pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Tuntutan Allah SWT untuk melakukan suatu perbuatan, misalnya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah, 2: 110. Artinya: ”Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. ”(Q. S. Al-Baqarah, 2: 110) Tuntutan Allah SWT untuk meninggalkan suatu perbuatan, misalnya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al. Isra’, 17: 33. Artinya: ”Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu alasan yang benar. ”(Q. S. Al-Isra’, 17: 33) Tuntutan Allah SWT mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya, seperti firman Allah SWT dalam Al -Qur’an surah Al-Jumu’ah, 62: 10. Artinya: ”Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. ”(Q. S. Al-Jumu’ah, 62: 10)

b. Kedudukan dan Fungsi u Kedudukan dan fungsi hukum taklifi menempati posisi yang utama

b. Kedudukan dan Fungsi u Kedudukan dan fungsi hukum taklifi menempati posisi yang utama dalam ajaran Islam, karena hukum taklifi membahas sumber hukum Islam yang utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadis dari segi perintah-perintah Allah SWT dan rasul-Nya yang wajib dikerjakan, larangan-larangan Allah SWT dan rasul. Nya yang harus ditinggalkan serta berbentuk pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. 1) Al-Ijab, yaitu tuntutan secara pasti dari syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh (dilarang)ditinggalkan, karena orang yang meninggalkannya dikenai hukuman. Bentuk hukuman dari al-ijab ialah wajib (fardu), yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan, pelakunya mendapat pahala, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya dianggap berdosa dan akan mendapat hukuman. Contohnya: - Memandikan, mengkafani, mensalatkan, dan menguburkan jenazah seorang Muslim. -Membangun masjid, rumah sakit, jalan, dan jembatan jika masyarakat membutuhkannya. 2) An. Nadb, yaitu tuntutan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, yang apabila dikerjakan pelakunya akan mendapat pahala, tetapi apabila ditinggalkan tidak mendapat siksa. Contohnya: - Salat sunah rawatib (salat sunah yang mengiringi salat fardu). - Puasa pada hari senin dan kamis di luar daripada bulan Ramadan. - Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum wr. wb. ) bila bertemu dengan sesama Muslim.

3) Al-Karahah ialah sesuatu yang dituntut syar’I kepada mukalaf untuk meninggalkannya dalam bentuk tuntutan

3) Al-Karahah ialah sesuatu yang dituntut syar’I kepada mukalaf untuk meninggalkannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti. Bentuk hukum dari al-karahah disebut makruh. Orang yang mengerjakan perbuatan makruh dianggap tidak berdosa, dan yang meninggalkannya mendapat pujian dan pahala. Contohnya: - Memakanan berbau seperti pete ketika akan bergaul dengan orang lain. - Berjualan ketika azan Jum’at. 4) At-Tahrim, yaitu tuntutan syar’I untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti. Bentuk hukum dari at-tahrim ialah haram, yaitu perbuatan yang apabila dikerjakan dianggap berdosa, tetapi apabila ditinggalkan pelakunya akan mendapat pahala. Contohnya: - Meminuman keras yang memabukkan (Q. S. Al-Maidah, 5: 90). -Melakukan pencurian (Q. S. Al. Maidah, 5: 38). -Durhaka kepada kedua orangtua. 5) Al-Ibadah, yaitu firman Allah SWT yang mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Bentuk hukum dari al-ibadah ialah mubah, yaitu perbuatan yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Dikerjakan atau ditinggalkan, pelakunya tidak akan mendapat pahala, dan tidak pula dianggap berdosa. Contohnya: -Memakan berbagai jenis makanan halal, seperti nasi, sayur-mayur, dan buah-buahan. -Memilih warna pakaian untuk menutup aurat. -Berusaha mencari rezeki dengan jalan berdagang.

n Bentuk hukum wad’I adalah merupakan ketentuan-ketentuan Allah SWT yang mengatur tentang sebab, syarat,

n Bentuk hukum wad’I adalah merupakan ketentuan-ketentuan Allah SWT yang mengatur tentang sebab, syarat, mani’(penghalang), batal (fasid), azimah, dan rukhsah dalam hukum Islam. 1) Sebab Menurut istilah syara’sebab adalah suatu keadaan atau peristiwa yang dijadikan sebagai sebab adanya hukum, dan tidak adanya keadaan atau peristiwa itu, menyebabkan tidak adanya hukum. 2) Syarat ialah sesuatu yang dijadikan syar’I (Hukum Islam), sebagai pelengkap terhadap perintah syar’I, tidak sah pelaksanaan suatu perintah syar’I, kecuali dengan adanya syarat tersebut. 3) Mani’ (penghalang) Mani’ adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan syar’I menjadi penghalang bagi adanya hukum atau membatalkan hukum. 4) Azimah dan Rukhsah Azimah ialah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada nas (Al-Qur’an dan Hadis) dan berlaku umum. Misalnya: - Kewajiban salat lima waktu dan puasa Ramadan. -Haramnya memakan bangkai, darah, dan daging babi. Rukhsah ialah ketentuan yang disyariatkan oleh Allah SWT sebagai keringanan yang diberikan kepada mukalaf dalam keadaan-keadaan khusus.

2. Penerapan Hukum Taklifi dan Hukum Wad’I dalam Kehidupan Sehari-hari Setiap Muslim/Muslimah hendaknya menerapkan

2. Penerapan Hukum Taklifi dan Hukum Wad’I dalam Kehidupan Sehari-hari Setiap Muslim/Muslimah hendaknya menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari-hari.