RAHAYU CAHYANI 16842021 SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI PENINGKATAN SOFT

















- Slides: 17
RAHAYU CAHYANI 16842021 SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI PENINGKATAN SOFT SKILLS SISWA MELALUI PEMBELAJARAN GENERATIF DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG 2020
A. Latar Belakang BAB 1 Pendidikan merupakan segala usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya sendiri dan masyarakat (UU No. 20 Tahun 2003). Proses pendidikan dilakukan dalam proses pengajaran untuk mengajarkan dua keterampilan yaitu Hard Skill dan Soft Skill. Berdasarkan kondisi yang ada di lapangan selama ini yang lebih dominan adalah kemampuan hard skill dibandingkan dengan kemampuan yang sifatnya soft skill hal ini dikarenakan sebagian besar guru yang ada disekolah ketika melakukan proses pembelajaran di kelas masih menerapkan pembelajaran yang cenderung konvensional, akan tetapi guru pernah menerapkan metode diskusi namun tidak berjalan efektif. Guru cenderung terfokus pada hard skill karena mengingat waktu yang terbatas
B. Identifikasi Masalah 1. Siswa masih kesulitan memahami yang diajarkan. 2. Siswa kurang mampu untuk bekerjasama dalam tim. 3. Siswa mudah menyerah ketika mengerjakan soal yang diberikan. 4. Kurangnya partisipasi aktif dari siswa 5. Guru cenderung terfokus pada hard skill karena mengingat waktu yang terbatas. C. Pembatasan Masalah 1. Penelitian ini hanya fokus pada aspek soft skill matematis. 2. Materi dalam penelitian ini hanya dibatasi pada materi pola bilangan.
D. Rumusan masalah C. Tujuan Penelitian “Apakah terdapat peningkatan soft skill siswa yang diberi model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional? ” Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan soft skill antara siswa yang diberi model pembelajaran generatif pendekatan dengan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional
F. Manfaat Penelitian Bagi Siswa Bagi Guru 1. Dapat digunakan sebagai 1. Dapat dijadikan alternatif sarana yang dapat pilihan model pembelajaran membantu siswa dalam untuk memperbaiki kualitas memahami materi pembelajaran matematika 2. Memotivasi siswa dalam rangka peningkatkan mengikuti kegiatan soft skill siswa pembelajaran matematika. 2. Memberikan pengalaman 3. Menumbukan sikap dan wawasan dalam tenggang rasa, kerjasama mengelola kegiatan antar kelompok dan pembelajaran matematika menghargai pendapat orang dengan model pembelajaran lain. deneratif dalam rangka peningkatan soft skill siswa Bagi Penelitian ini memberikan masukan sekaligus pengetahuan untuk mengetahui gambaran kuantitatif seberapa besarnya soft skill siswa setelah diterapkannya model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika
SOFT SKILLS BAB II 1. Pengertian soft skill Ramdhani (2009) mengemukakan bahwa soft skill juga sering disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain. Alfindri, dkk (2009) mengemukan bahwa soft skills merupakan keterampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain (interpersonal skills), dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan produktivitas kerja secara maksimal (Moma, 2015, h. 249). Soft skill adalah karakteristik yang mempengaruhi hubungan pribadi dan profesional seorang individu dan bekerja yang berkaitan dengan prospek karir (Vyas & Chauhan, 2013). Dalam penelitian (Fani dan Rasto, 2016, h. 160). A. Deskripsi Teori
SOFT SKILLS BAB II 2. Jenis-jenis soft skill Sumarmo(2015) mengemukakan beberapa jenis soft skills matematis antara lain: 1) disposisi matematis, 2) kemandirian belajar (self-regulator learning), 3) self-efficacy, 4) self-esteem, 5) self-concept, 6) self-confidence, 7) habits of mind, 8) pendidikan nilai, budaya, dan karakter serta pandangan siswa terhadap pembelajaran matematika. 3. Indikator soft skill Dari pemaparan yang sudah dijelaskan di atas terkait jenis-jenis soft skill menurut Sumarmo (2015), maka peneliti menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan soft skills siswa dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan mengacu pada indikator soft skills yang akan dikembangkan dalam penelitian ini, meliputi: (a) berfikir logis, (b)Keaktifan belajar, (c) kerjasama tim, (d) rasa percayaan diri, (e) berani mengambil resiko, (f) toleransi, (g) etika-moral, (h) kemampuan manajemen/ mengatur (organization skill).
Pembelajaran Generatif Pengertian Pembelajaran generatif adalah satu model pembelajaran yang berlandaskan pada pandangan konstruktivisme, dengan asumsi dasar bahwa pengetahuan seorang siswa dibangun dalam pikirannya, seperti membangun ide tentang suatu fenomena, dan juga dapat membangun sebuah strategi. Tahapan pembelajaran 1. Tahap orientasi 2. Tahap pengungkapan ide 3. Tahap tantangan dan restrukturisasi 4. Tahap penerapan 5. Tahap melihat kembali
Pembelajaran Generatif Kelebihan 1. Menciptakan suasana belajar yang aktif 2. Merangsang siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah didapat sebelumnya 3. Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah dipelajari 4. Siswa mampu menemukan fenomena/ gejala-gejala, lalu dapat memecahkan masalah yang ada 5. Memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam mengeluarkan ide dan pendapat 6. Siswa lebih terarah mandiri dan mampu bekerja sendiri Kelemahan 1. Siswa yang pasif merasa diteror untuk mengontruksi konsep 2. Suasana kelas tidak terkontrol karena adanya perbedaan pendapat antara satu siswa dengan siswa yang lain, sehingga suasana kelas menjadi ribut
Pendekatan Kontekstual Pengertian Pendekatan kontekstual (Contextual teaching and learning) adalah konsep pembelajaran yang menekankan keterlibatan seluruh peserta didik untuk memahami isi materi yang diberikan guru dengan mengaitkan materi pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata yang dialami peserta didik dapat dengan mudah memahami isi materi yang diberikan guru, kemudian akan terwujudnya berbagai macam pemikiran dan pemahaman siswa untuk meningkatkan soft skill siswa. Komponen : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kontruktivisme Inkuiri Bertanya Masyarakat belajar Pemodelan Refleksi Penilaian nyata
Langkah-langkah pendekatan kontekstual Kegiatan Awal 1. Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. 2. Apersepsi sebagai penggalian pengetahuan awal siswa terhadap materi yang akan dipelajari. 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang akan dipelajari. 3. Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar. Kegiatan Inti 1. Siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan permasalahan yang diajukan guru. Guru berkeliling untuk memandu proses penyelesaian permasalahan. 2. Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan atas jawaban permasalahan yang diajukan guru. 3. Siswa dalam kelompok menyelesaikan lembar kerja yang diajukan guru. Guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi kerja sama. 4. Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok yang lain menanggapi hasil kerja kelompok yang mendapat tugas. 5. Dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa membahas cara penyelesaian masalah yang tepat. 6. Guru mengadakan refleksi dengan menanyakan kepada siswa tentang hal-hal yang dirasakan siswa, materi yang belum dipahami dengan baik, kesan dan pesan selama mengikuti pembelajaran. Kegiatan Akhir 1. Guru dan siswa membuat kesimpulan dari permasalahan yang dibahas. 2. Siswa mengerjakan lembar tugas. 3. Siswa menukarkan lembar tugas satu dengan yang lain, kemudian guru bersama siswa membahas penyelesaian lembar tugas sekaligus memberi nilai pada lembar tugas sesuai kesepakatan yang telah diambil
Pendekatan kontekstual Kelebihan 1. Pembelajaran lebih bermakna 2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa 3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat 4. Menumbuhkan rasa ingin tahu 5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan teman 6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran Kelemahan 1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman yang lainnya 2. Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa 3. Banyaknya siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerjasama dengan yang lainnya
B. PENELITIAN RELEVAN 1. Penelitian yang dilakukan oleh La Moma (2015) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon, dengan judul “Peningkatan Soft Skills Siswa SMP Melalui Pembelajaran Generatif”. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Cut Luthfia Harum, Tarmizi, dan Abdul Hamid dari Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Generatif Berbantu Simulasi Physics Education Technology (PHET) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Intan Purnama Sari, Yenni, dan Aji Raditya dari Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang, dengan judul “Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP”.
Kerangka Berpikir Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran generatif (X 1), dan pendekatan kontekstual (X 2), sedangkan variabel terikatnya adalah soft skill matematis siswa (Y). Dengan diterapkannya melalui model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual ini diharapkan akan terdapat peningkatan pada soft skill yang dimiliki oleh siswa. Uji Hipotesis Penelitian Pretes H 0 : Tidak terdapat perbedaan soft skill siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. H 1 : Terdapat perbedaan soft skill siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Hipotesis Penelitian Postes H 0: Tidak terdapat perbedaan soft skill siswa yang diberi model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional. H 1: Terdapat perbedaan soft skill siswa yang diberi model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional. Hipotesis Analisis Gain H 0 : Tidak terdapat peningkatan soft skill siswa yang diberi model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional. H 1 : Terdapat peningkatan soft skill siswa yang diberi model pembelajaran generatif dengan pendekatan kontekstual, dan siswa yang diberi metode konvensional
Tempat Penelitian: SMPN 1 Jambe Metode penelitian: Quasi Eksperimen Dengan jenis: Nonequivalent Control Group Design Pupolasi : Siswa kelas VIII yang berjumlah 242 BAB III Sampel : Memakai 2 ruang siswa kelas VIII Teknik Pengumpulan Data: 1. Observasi 3. Dokumentasi 2. Angket
THANK YOU