PREVIEW PERCOBAAN 6 9 PRAKTIKUM KIMIA DASAR Percobaan
PREVIEW PERCOBAAN 6 -9 PRAKTIKUM KIMIA DASAR
Percobaan 6: Redoks dan Elektrokimia Tujuan 1. Mengetahui pengaruh besarnya potensial oksidasi dari beberapa jenis logam. 2. Menentukan zat-zat yang mengalami reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Praktikum yang dilakukan: 1. Reaksi pembentukan gas 2. Kekuatan asam 3. Reaksi karbonat
REAKSI REDUKSI REAKSI REDOKS PENGIKATAN DAN PELEPASAN OKSIGEN SERAH TERIMA ELEKTRON REAKSI OKSIDASI BILANGAN OKSIDASI TATANAMA SENYAWA ION BINER DENGAN UNSUR LOGAM BERBILOKS > 1 SENYAWA ION POLIATOMIK
REAKSI REDOKS MERUPAKAN GABUNGAN DARI DUA REAKSI, YAITU REAKSI OKSIDASI DAN REAKSI REDUKSI.
REDOKS BERDASARKAN PENGIKATAN DAN PELEPASAN OKSIGEN OKSIDASI 1. Oksidasi suatu unsur akan menghasilkan suatu oksida. 4 Fe +O 2 2 Fe 2 O 3 2 Mn + O 2 2 Mn. O C + O 2 CO 2 S + O 2 SO 2 N 2 + O 2 2 NO 2. Oksidasi senyawa sulfida menghasilkan oksida logam penyusunnya. 4 Fe. S 2 +11 O 2 2 Fe 2 O 3 + 8 SO 2 3. Oksidasi atau pembakaran senyawa karbon menghasilkan gas karbondioksida dan air. C 3 H 8 + 5 O 2 3 CO 2 + 4 H 2 O C 12 H 22 O 11 + 12 O 2 12 CO 2 + 11 H 2 O REDUKSI 1. Pemanasan raksa oksida (Hg. O) 2 Hg. O 2 Hg + O 2 2. Pemanasan kalium klorat (KCl. O 3) 2 KCl. O 3 2 KCl + 3 O 2 OKSIDASI = PENGIKATAN OKSIGEN REDUKSI = PELEPASAN OKSIGEN
REDOKS BERDASARKAN PERPINDAHAN ELEKTRON 1. 2 Cu + O 2 2 Cu. O 2 Cu 2+ + 4 e (Oksidasi) 2. Cu Cu + Cl 2 Cu 2+ + 2 e Cu. Cl 2 (Oksidasi) O 2 + 4 e 2 O 2 - (Reduksi) Cl 2 + 2 e 2 Cl- (Reduksi) 2 Cu + O 2 2 Cu. O (Redoks) Cu + Cl 2 Cu. Cl 2 (Redoks) OKSIDASI = PELEPASAN ELEKTRON REDUKSI = PENGIKATAN ELEKTRON
REDOKS BERDASARKAN PERUBAHAN BILANGAN OKSIDASI REDUKSI OKSIDASI = NAIKNYA BIL. OKSIDASI REDUKSI = TURUNNYA BIL. OKSIDASI
ATURAN PENENTUAN BILANGAN OKSIDASI ATURAN CONTOH 1. Bilangan oksidasi unsur bebas adalah nol. 1. Bilangan oksidasi atom-atom pada Ne, H 2, O 2, Cl 2, P 4, S 8, C, Cu, Fe, dan Na adalah nol. 2. Bilangan oksidasi monoatom sama dengan muatan ionnya. 3. Jumlah bilangan oksidasi atom -atom pembentuk ion poliatom sama dengan muatan ion poliatom tersebut. 2. Bilangan oksidasi Na+ = +1, bilangan oksidasi Mg 2+= +2, bilangan oksidasi S 2 -= -2 3. Jumlah bilangan oksidasi atom S dan atom O dalam SO 42 - adalah -2
4. Jumlah bilangan oksidasi untuk semua atom dalam senyawa adalah nol. 5. Bilangan oksidasi unsur-unsur logam golongan utama (IA, IIIA) sesuai dengan nomor golongannya. 6. Bilangan oksidasi unsur-unsur logam golangan transisi lebih dari satu. 7. Biloks. hidrogen dalam senyawanya adalah +1, kecuali dalam hidrida, atom hidrogen mempunyai biloks. -1. 8. Biloks. oksigen dalam senyawanya adalah -2, kecuali dalam peroksida (-1) dan dalam senyawa biner dengan fluor (+2) 4. Jumlah bilangan oksidasi atom Cu dan atom O dalam Cu. O adalah nol. 5. Biloks. K dalam KCl, KNO 3, dan K 2 SO 4 = +1, biloks. Ca dalam Ca. SO 4 dan biloks. Mg dalam Mg. SO 4= +2. 6. Biloks. Cu =+1 dan +2 Fe=+2 dan +3 Sn=+2 dan +4 Pb=+2 dan +4 Au=+1 dan +3 7. Biloks. H dalam H 2 O, NH 3 dan HCl = +1, biloks H dalam Na. H dan Ca. H 2 = -1. 8. Biloks. O dalam H 2 O = -2 Biloks. O dalam H 2 O 2 dan Ba. O 2= -1 Biolks. O dalam OF 2 = +2
Assign the oxidation state to each element for the following substances: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Cl 2 Na. Cl Ca. Cl 2 H 2 O Na. OH H 2 SO 4 Na 3 PO 4 CH 4 Cl: 0 (pure element) Na: +1(group 1) Cl: -1 (group 7) Ca: +2 (group 2) Cl: -1 (group 7) H: +1 (always) O: -2 (always) Na: +1 O: -2 H: +1 (see above) H: +1 O: -2 S: +6 (+2 +6 – 8 = 0) Na: +1 O: -2 P: +5 (+3 +5 – 8 = 0) H: +1 C: -4 (+4 - 4 = 0)
Bagaimana cara membedakan reaksi redoks dan bukan redoks? Suatu reaksi disebut redoks, jika pada reaksi itu terdapat zat yang mengalami reduksi dan zat yang mengalami oksidasi. Manakah yang bukan reaksi redoks pada reaksi berikut? 1. 2 Ag + Cl 2 2 Ag. Cl 2. Sn. Cl 2 + I 2 +2 HCl 3. Cu. O + 2 HCl 4. H 2 + Cl 2 Sn. Cl 4 + 2 HI Cu. Cl 2 +H 2 O 2 HCl
0 0 +1 -1 1. 2 Ag + Cl 2 2 Ag. Cl (redoks) Oksidasi Reduksi +2(-1)2 0 +1 -1 2. Sn. Cl 2 + I 2 +2 HCl +4(-1)4 +1 -1 Sn. Cl 4 + 2 HI (redoks) Oksidasi Reduksi +2 -2 +1 -1 +2(-1)2 (+1)2 -2 3. Cu. O + 2 HCl 0 0 4. H 2 + Cl 2 Cu. Cl 2 +H 2 O (bukan redoks) +1 -1 2 HCl Oksidasi Reduksi (redoks)
Tentukan zat reduktor, zat oksidator, hasil reduksi dan hasil oksidasi dari reaksi redoks berikut : +2(-1)2 0 +1 -1 Sn. Cl 2 + I 2 +2 HCl +4(-1)4 Sn. Cl 4 + 2 HI reduksi oksidasi Zat reduktor (pereduksi) = Zat oksidator (pengoksidasi) = Hasil reduksi = Hasil oksidasi = +1 -1 Sn. Cl 2 I 2 HI Sn. Cl 4
Reaksi Autoredoks (Disproporsionasi) Reaksi redoks dengan satu jenis atom yang bilangan oksidasinya berubah mengalami oksidasi dan reduksi sekaligus. 0 +1 -2 +1 Cl 2 + 2 KOH Reduksi Oksidasi +1 -1 +1+1 -2 (+1)2 -2 KCl + KCl. O + H 2 O
Bilangan oksidasi untuk menentukan nama senyawa 1. Penamaan senyawa ion biner yang unsur logamnya berbiloks lebih dari satu. 2. Penamaan senyawa ion poliatomik.
1. Tabel Penamaan senyawa pada unsur dengan logam berbiloks lebih dari satu. Unsur Fe Jenis Biloks kation Fe 2+ Fe 3+ Pb Pb 2+ Pb 4+ Cu Cu+ Cu 2+ +2 Jenis anion Cl- +3 +2 O 2 - +4 + +2 SO 42 - Biloks Rumus kimia Nama senyawa -1 Fe. Cl 2 Besi(II)klorida -1 Fe. Cl 3 Besi(III)klorida -2 Pb. O Timbal(II)oksida -2 Pb. O 2 Timbal(IV)oksida -2 Cu 2 SO 4 Tembaga(I)sulfat -2 Cu. SO 4 Tembaga(II)sulfat
2. Tabel Nama senyawa ion poliatomik berdasarkan sistem stock. Nama Senyawa Jenis ion Biloks K+ +1 Cl. O- +1 (Cl) K+ +1 Cl. O 3 - +5(Cl) KCl. O 3 Nama biasa Nama sistem stock Kalium hipoklorit Kalium klorat(I) Kalium klorat(V) 3. Tabel Nama senyawa yang memiliki biloks rendah dan tinggi. Unsur Biloks logam Nama senyawa Hg. Cl +1 Merkuro klorida Hg. Cl 2 +2 Merkuri klorida Sn. O +2 Stano oksida Sn. O 2 +4 Stani oksida
Reaksi redoks disekitar kita 1. 2. 3. 4. 5. Reaksi Reaksi redoks pada pengaratan logam besi. redoks pada pemutihan pakaian. redoks pada penyetruman akumulator. redoks pada ekstraksi logam. redoks pada daur ulang perak.
Percobaan 7: Kinetika Kimia Tujuan 1. Praktikan mampu menjelaskan tanda-tanda reaksi kimia 2. Praktikan mampu menentukan laju dan orde reaksi. Praktikum yang dilakukan: 1. Mengenal jenis-jenis reaksi 2. Kinetika reaksi logam Mg dengan HCl 3. Reaksi karbonat
Laju Reaksi ada yang berjalan cepat dan ada yang lambat. q Seberapa cepat atau lambat suatu proses berlangsung q Besarnya perubahan yang terjadi dalam satuan waktu, misal dalm detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. . . q Laju berkurangnya pereaksi (-) atau laju bertambahnya pembentukan produk (+)
Penentuan Laju Reaksi § Dengan percobaan, yaitu mengukur banyaknya pereaksi yang dihabiskan atau banyaknya produk yang dihasilan. § Mengukur jumlah satu reaktan atau produknya
Laju reaksi untuk sistem Homogen A + B → C + D
Contoh Laju Reaksi 2 N 2 O 5 (g) → 4 NO 2 (g) + O 2 (g) § Sesuai dengan perbandingan koefisien pereaksinya, maka
Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Laju Reaksi 1. Luas Permukaan untuk reaksi yang melibatkan zat padat. contoh : pelarutan caustic soda untuk menaikkan p. H air pada eksternal water treatment. Dari grafik: t pertikel serbuk reaksinya lebih cepat dari pertikel batangan. Mengapa? Krn, pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas bidang sentuh
§ Semakin luas bidang sentuh semakin cepat reaksi berlangsung. § Semakin halus/kecil ukuran partikel/kepingan zat padat semakin luas permukaannya semakin cepat bereaksi. § Bandingkan waktu pelarutan gula batu dalam air dengan gula pasir, manakah yang lebih cepat larut?
2. Konsentrasi Pereaksi § § Dari grafik: Reaksi dengan konsentrasi A berlangsung lebih cepat drpd reaksi dg konsentrasi B Jumlah produk (vol. Gas) yang dihasilkan sama, namun laju reaksinya berbeda. “Semakin besar konsentrasi semakin cepat reaksi berlangsung”
3. Tekanan Untuk reaksi dalam fasa gas, sehingga laju reaksi dipengaruhi tekanan. P > Volume < Konsentrasi > Laju reaksi >
4. Suhu Lebih cepat larut mana, gula pasir + air panas atau gula pasir + air dingin? Mengapa? Pada dasarnya setiap partikel selalu bergerak, dengan meningkatkan suhu maka energi gerak (energi kinetik) molekul akan bertambah tumbukan sering terjadi. Pada umumnya laju reaksi menjadi 2 kali lebih besar jika T (suhu) dinaikkan 10 o. C, mengikuti persamaan:
5. Katalis Zat yg mempercepat laju reaksi, tetapi zat tsb tidak mengalami perubahan kekal (tdk dikonsumsi & tdk dihabiskan) Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah.
5. Katalis Contoh katalis : enzim “tiap kenaikan 10 o. C, maka reaksi enzim menjadi 2 x lipat. Tetapi peningkatan suhu yang tinggi dapat menyebabkan atom-atom penyusun enzim bergetar sehingga ikatan hidrogen terputus dan enzim terdenaturasi, rusaknya enzim, sehingga aktivitas enzim menurun. Contoh lain : reaksi peruraian larutan peroksida menjadi oksigen (gas) dan air (cair), dimana reaksi ini berjalan lambat. Namun setelah ditambahkan katalis Fe. CL 3 reaksinya berjalan cepat. Katalis sefase (homogen), berbeda fase (heterogen)
ORDE REAKSI Pangkat konsentrasi pereaksi pada laju reaksi Orde reaksi : total keseluruhan orde pada setiap pereaksinya, misal: ü Orde reaksi ditentukan melalui percobaan ü Tidak ada kaitannya dengan koefisien reaksi ü Menunjukkan pengaruh konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksinya.
MAKNA ORDE REAKSI 1. Rx. Orde Nol Rx. Berorde nol pada salah satu pereaksinya, apabila perubahan konsentrasi tidak berpengaruh pada laju rx 2. Rx. Orde Satu Rx berorde satu terhadap salah satu pereaksinya, jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi 3. Rx. Orde Dua Rx berorde 2 terhadap salah satu pereaksinya, jika laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksinya
MENENTUKAN PERSAMAAN LAJU REAKSI Ditentukan dari percobaan, bukan dari stoikiometri reaksi, dimana laju diukur pada awal reaksi dengan konsentrasi berbeda-beda. Misal : A + B C + D Untuk menentukan orde reaksi thd A maka konsentrasi B dibuat tetap, sedangkan A diubah-ubah. Begitupula sebaliknya.
Template Provided By www. animationfactory. com 500, 000 Downloadable Power. Point Templates, Animated Clip Art, Backgrounds and Videos
Percobaan 8: Analisis Volumetri: Reaksi Asam Basa Tujuan 1. Praktikan mampu melakukan analisis volumetri menggunakan titrasi asam-basa untuk menentukan konsentrasi asam atau basa. 2. Praktikan mampu menentukan nilai Ka dari asam lemah Praktikum yang dilakukan: 1. Standarisasi Na. OH dengan larutan standar asam oksalat 2. Studi kasus: Penetapan kadar asam asetat (asam cuka)
DASAR KIMIA ANALITIK DEFINISI • Metode titrimetri dikenal juga sebagai metode volumetri • Yaitu metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip stoikiometri reaksi kimia atau pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna dengan analit
DASAR KIMIA ANALITIK What happen? • Dalam setiap metode titrimetri selalu terjadi reaksi kimia antara komponen analit dengan zat pendeteksi yang disebut titran • a. Analit + t. Titran Hasil reaksi a : jumlah mol analit t : jumlah mol titran
DASAR KIMIA ANALITIK ? ? ?
DASAR KIMIA ANALITIK Titran (dalam buret) ditambahkan ke dalam larutan analit (labu Erlenmeyer) hingga tercapai titik ekivalen Titik ekivalen tercapai ditandai dengan adanya perubahan zat indikator
DASAR KIMIA ANALITIK • Titik ekivalen adalah keadaan disaat terjadinya kesetaraan mol antara zat yang dititrasi dan zat pentitrasi. • Titik akhir titrasi adalah keadaan waktu menghentikan titrasi, jika menggunakan indikator yaitu pada saat indikator berubah warna. • Idealnya, titik ekivalensi dan titik akhir titrasi adalah sama.
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK Asidi-Alkalimetri Asidi alkalimetri, prinsip reaksi asam basa (netralisasi). Alkalimetri: HA +OH A + H 2 O (A=asam, T=Basa) Asidimetri: BOH + H 2 O+ B+ + 2 H 2 O (A=basa, T=Asam) A = Analit T = Titran
DASAR KIMIA ANALITIK Lanjutan Kompleksometri, prinsip pembentukan kompleks stabil. Ag+ +2 CN [Ag(CN)2] Oksidimetri, prinsip reaksi redoks, Fe 3+ + Ce 4+ Fe 3+ + Ce 3+ Argentometri (Titrasi Pengendapan), prinsip reaksi pegendapan. Ag+ + X Ag. X(s)
DASAR KIMIA ANALITIK Perhitungan Volumetri
DASAR KIMIA ANALITIK Perhitungan Volumetri
DASAR KIMIA ANALITIK Perhitungan Volumetri
DASAR KIMIA ANALITIK 4 persyaratan metode titrimetri
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK Macam Larutan Baku 1. Larutan Baku Primer 2. Larutan Baku Sekunder.
DASAR KIMIA ANALITIK Larutan Standar Primer • Zat standar primer, adalah zat baku yang langsung dapat digunakan dalam titrasi sehingga dapat menentukan jumlah zat yang dianalisa. Contoh: • H 2 C 2 O 4, Na 2 C 2 O 4, KBr. O 3, KIO 3, • Na. Cl, boraks, dan Na 2 CO 3.
DASAR KIMIA ANALITIK Larutan Standar Sekunder • Zat standar sekunder adalah larutan standar lain yang ditetapkan konsentrasinya melalui titrasi dengan menggunakan larutan standar primer. Contoh: • Na. OH, KMn. O 4, HCl, H 2 SO 4
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK
DASAR KIMIA ANALITIK Standarisasi N Metode o 1 Asidimetri Stand Sek Stand Primer HCl/H 2 SO 4 2 3 Alkalimetri Argentometri Na. OH/KOH Ag. NO 3 Na 2 CO 3/ Na 2 B 4 O 7. 10 H 2 O H 2 C 2 O 4. 2 H 2 O Na. Cl 4 Kompleksometri Na 2 EDTA Zn. SO 4. 7 H 2 O 5 Permanganometri KMn. O 4 6 7 Iodometri Iodimetri Na 2 S 2 O 3 I 2 Indikator TAT MO/MR Merah konstan PP K 2 Cr 2 O 7/ K 2 Cr. O 4 EBT+buffer p. H=10 autoindikat or Merah konstan Endapan merah bata Merah anggur biru Merah muda H 2 C 2 O 4. 2 H 2 O (+H 2 SO 4, panaskan <800 C) KIO 3/ K 2 Cr 2 O 7 Amilum As 2 O 3/ Na 2 S 2 O 3 Amilum (hasil iodometri) Biru bening Biru
DASAR KIMIA ANALITIK IDIKATOR INDIKATOR WARNA ASAM WARNA BASA TRAYEK p. H Alizarin kuning ungu 10, 1 -12, 0 Fenolftalein tak berwarna merah 8, 0 -9, 6 Metil merah KUNING MERAH 6. 8 – 8. 4 METIL JINGGA MERAH KUNING 4. 2 – 6. 2
Kurva Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat p. H 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Fenolftalein Titik ekuivalen Biru bromtimol Merah metil 10 20 30 40 50 60 70 ml Na. OH
Titrasi asam kuat - basa kuat misalkan 50 ml HCl 0, 1 M dititrasi dengan Na. OH 0, 1 M HCl(aq) + Na. OH(aq) Na. Cl(aq) + H 2 O(l) atau H+(aq) + OH-(aq) H 2 O(l) sebelum penambahan Na. OH HCl adalah asam kuat dan terdisosiasi lengkap, jadi [H+] = 0, 1 p. H = - log [H+] = 1 Setelah penambahan 10 ml Na. OH reaksi yang terjadi selama titrasi adalah H+(aq) + OH-(aq) H 2 O(l) (50 ml) x (0, 1 mmol/ml) H+ bereaksi dengan (10 ml) x (0, 1 mmol/ml) OHH+(aq) 5, 00 mmol 1, 00 mmol 4, 00 mmol + OH-(aq) 1, 00 mmol H 2 O(l) 0 dalam kesetimbangan terdapat 4, 00 mmol H+ dalam 60 ml larutan. Jadi, [H+] = 4, 00 mmol / 60 ml = 6, 67 x 10 -2 mmol/ml p. H = - log [H+] = 2 - log 6, 67 = 1, 18 hitung p. H larutan setelah penambahan 20, 30, 45 dan 49, 9 ml Na. OH
Setelah penambahan 50 ml Na. OH reaksi berlangsung sempurna, garam yang dihasilkan yaitu Na. Cl tidak asam dan tidak pula basa dalam larutan air (tidak dihidrolisis), maka larutan itu netral; [H+] = [OH-] = 1, 0 x 10 -7 p. H = 7 Setelah penambahan 60 ml Na. OH Perhatikan: setelah titik ekuivalen tercapai (besar p. H = 7, 00), penambahan 0, 05 ml titran akan merubah p. H menjadi 9, 7 nilai tersebut diperoleh dari H+(aq) + OH-(aq) H 2 O(l) 5, 00 mmol 5, 05 mmol 5, 00 mmol 0 0, 05 mmol dalam kesetimbangan terdapat 0, 05 mmol OH- dalam 100, 05 ml larutan. Jadi, [OH-] = 0, 05 mmol / 100, 05 ml = 0, 0005 mmol/ml p. OH = - log [OH-] = 3, 30125 p. H = 14 - p. OH = 9, 7 H+(aq) + OH-(aq) H 2 O(l) 5, 00 mmol 6, 00 mmol 5, 00 mmol 0 1, 00 mmol dalam kesetimbangan terdapat 1, 00 mmol OH- dalam 110 ml larutan. Jadi, [OH-] = 1, 00 mmol / 110 ml = 9, 1 x 10 -3 mmol/ml p. OH = - log [OH-] = 3 - log 9, 1 = 2, 04 hitung p. H larutan setelah p. H = 14 - p. OH = 11, 96 penambahan 51, 70, 80, 100 ml Na. OH
Perubahan warna pada fenolftalien • Perubahan warna terjadi pada p. H 8, 3 10
Perubahan warna pada biru bromtimol • Perubahan warna terjadi pada p. H 6 7, 6
Perubahan warna pada merah metil • Perubahan warna terjadi pada p. H 4, 2 6, 3
Kurva Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat p. H 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Titik ekuivalen 10 20 30 40 50 60 70 ml Na. OH
Titrasi asam lemah - basa kuat misalkan 50 ml suatu asam lemah HA Ka =1, 0 x 10 -5 0, 1 M dititrasi dengan Na. OH 0, 1 M sebelum penambahan Na. OH HA adalah asam lemah dan terdisosiasi dengan lemah HA (aq) + H 2 O (l) H 3 O+ (aq) + AMaka dianggap [H 3 O+] [A-] dan [HA] = 0, 1 [H 3 O+][A-] = Ka [HA] [H 3 O]2 0, 1 = 1, 0 x 10 -5 [H 3 O+] = 1, 0 x 10 -3 p. H = 3, 00 (aq) Setelah penambahan 10 ml Na. OH reaksi yang terjadi selama titrasi adalah HA + OH- H 2 O + A(50 ml) x (0, 1 mmol/ml) HA bereaksi dengan (10 ml) x (0, 1 mmol/ml) OHHA 5, 00 mmol 1, 00 mmol 4, 00 mmol + OH- 1, 00 mmol 0 H 2 O + A- 1, 0 mmol dalam kesetimbangan terdapat 4, 00 mmol HA dan 1, 0 mmol A- dalam 60 ml larutan.
[HA] = [A-] = 4, 00 60 - [H 3 O+] 4, 00 60 1, 00 + [H 3 O+] 60 60 [H 3 O+][A-] = Ka [HA] Setelah penambahan 50 ml Na. OH (p. H pada titik ekuivalen) terbentuk 5, 00 mmol A-; [A-] = 5, 00/100 = 0, 05 M A- adalah basa dan reaksinya dengan air adalah A- + H 2 O HA + OHdianggap [HA] [OH-] maka [HA][OH-] = Kb = 1, 0 x 10 -9 [A- ] [H 3 O+] (1, 0/60) (4, 0/60) = 1, 0 x 10 -5 [H 3 O+] = 4 x 10 -5 p. H = 5 - log 4 = 4, 40 [OH-] 0, 05 2 = 1, 0 x 10 -9 [OH-] = 7, 1 x 10 -6 p. OH = 5, 15 p. H = 8, 85
Setelah penambahan 60 ml Na. OH setelah tercapai titik ekuivalen, masih terdapat 10 ml OH- 0, 1 M atau 1, 0 mmol sementara OH- yang dihasilkan dari reaksi A - + H 2 O HA + OHdapat diabaikan, sehingga 1, 0 mmol [OH ] = = 9, 1 x 10 -3 110 ml p. OH = 2, 04 p. H = 11, 96 Perhatikan: setelah titik ekuivalen tercapai (besar p. H = 8, 85), penambahan 0, 10 ml titran akan merubah p. H menjadi 9, 7 nilai tersebut diperoleh dari 0, 01 mmol [OH-] = 100, 1 ml p. OH = 4, 0 p. H = 10, 0 = 9, 99 x 10 -5
Cara menghitung p. H titrasi untuk titrasi asam lemah - basa kuat Spesi yang terdapat pada larutan HA asam terionisasi HA dan Abuffer A- HA + OH Persamaan + H 3 O++ A- Ka = [H 3 O ][A ] HA + H 2 O [H 3 O+] Ka = = Ka. [HA] [H 3 O+][A-] [HA] A- + H 2 O [H 3 [HA] = [A-] O+] p. H = p. Ka + log HA + OH Garam [OH-] = Kb. [A-] terhidrolisis OH- A- + H 2 O - [OH-] = kelebihan titran - Kb = [A-] [HA][OH -] [A-] [HA] = [OH -]
Cara menghitung p. H titrasi untuk titrasi basa lemah - asam kuat Spesi yang terdapat pada larutan B Basa terionisasi B dan HB+ buffer HB+ Garam terhidrolisis H 3 O+ Persamaan B + H 2 O [OH-] Kb = = B + H 3 O+ HB+ + OH - Kb. [A-] HB+ + H 2 O [HB+][OH -] [B] [HB] = [OH -] [HB+][OH -] [B] Kb = HB+ + H 2 O p. OH = p. Kb + log H 3 O++ B [H 3 O+] = Ka. [HB+] [H 3 O+] = kelebihan titran Ka = [HB+] [H 3 O+][B] [HB+] [H 3 O+] = [B]
DASAR KIMIA ANALITIK Asidimetri, prinsip reaksi asam basa (netralisasi). BOH + H 2 O+ B+ + 2 H 2 O (A=basa, T=Asam) Cara Kerja : • Dipipet 10, 0 ml larutan baku primer Na 2 B 4 O 7. 10 H 2 O 0, 0100 N dan dimasukkan dalam erlenmeyer. • ditambahkan 2 3 tetes indikator MR dan dititrasi dengan larutan HCl sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah yang konstan. • Dihitung Normalitas HCl N 1. V 1 = N 2. V 2 N 1: Normalitas H 2 C 2 O 4 N 2: Normalitas Na. OH V 1: Volume H 2 C 2 O 4 V 2: Normalitas Na. OH
DASAR KIMIA ANALITIK • Data yang diperoleh dianalisis: Per c. Vol Na 2 B 4 O 7. 10 H 2 O 0, 0100 N (ml) Vol HCl (m. L) 1 10, 0 m. L 10, 2 2 10, 0 m. L 10, 1 3 10, 0 m. L 10, 3 Vol rata HCL 10, 2 • (N. V)HCL = (N. V)Na B O • Reaksi yang terjadi: 2 4 7 Na 2 B 4 O 7 + 2 HCl + 6 H 2 O 4 H 3 BO 3 + 2 Na. Cl + H 2 O
DASAR KIMIA ANALITIK Alkalimetri alkalimetri, prinsip reaksi asam basa (netralisasi). HA +OH A + H 2 O (A=asam, T=Basa) Cara Kerja : 1. Pembuatan larutan baku primer H 2 C 2 O 4. 2 H 2 O 0, 0100 N sebanyak 100 m. L. • Diketahui massa molar C=12 g/mol, O= 16 g/mol, H = 1 g/mol! • Massa H 2 C 2 O 4. 2 H 2 O =
DASAR KIMIA ANALITIK 2. Standarisasi Larutan Na. OH • Dipipet 10, 0 ml larutan baku primer H 2 C 2 O 4 2 H 2 O 0, 0100 N dan dimasukkan dalam erlenmeyer. • ditambahkan 2 3 tetes indikator PP • dititrasi dengan larutan Na. OH sampai terjadi warna merah yang konstan. (3 kali) • Dihitung normalitas Na. OH N 1. V 1 = N 2. V 2 N 1: Normalitas H 2 C 2 O 4 N 2: Normalitas Na. OH V 1: Volume H 2 C 2 O 4 V 2: Normalitas Na. OH Reaksi: 2 Na. OH + H 2 C 2 O 4. 2 H 2 O Na 2 C 2 O 4 + 4 H 2 O
Percobaan 9: Pengenalan Gugus Fungsi Tujuan Praktikan mampu mengidentifikasi gugus fungsi suatu senyawa melalui reaksi kimia Praktikum yang akan dilakukan: 1. Reaksi senyawa alkohol 2. Reaksi senyawa aldehid dan keton Ø Membedakan aldehid dan keton Ø Identifikasi keton 3. Reaksi esterifikasi
SENYAWA TURUNAN ALKANA Atom atau gugusan atom bagian dari senyawa yang menentukan sifat kimia senyawa tersebut disebut : GUGUS FUNGSI CH 3 -CH 2 -OH O CH 3 -CH 2 - C -OH O CH 3 -CH 2 -C – CH 3 Bagian senyawa inilah yang menentukan sifat kimia senyawa. Bagian senyawa ini Yang akan berubah Jika bereaksi dengan Senyawa lain
BEBERAPA HOMOLOG SENYAWA TURUNAN ALKANA Homolog Gugus Fungsi Struktur umum Rumus umum Contoh senyawa Alkil alkohol / alkanol -OH R-OH Cn. H 2 n+2 O CH 3 CH 2 -OH 1 -Propanol Alkoksi alkana (Eter) -O- R-O-R Cn. H 2 n+2 O CH 3 CH 2 –O-CH 3 Metoksi etana Apa perbedaan dan kesamaan antara kedua rumus umum dan rumus strukturnya Keduanya Isomer fungsi
BEBERAPA HOMOLOG SENYAWA TURUNAN ALKANA Homolog Gugus Fungsi Struktur umum Alkanal / aldehid O -C - H O R-C – H Alkanon (Keton) O -C- O R-C-R Apa perbedaan dan kesamaan antara kedua rumus umum dan rumus strukturnya Rumus umum Contoh senyawa Cn. H 2 n. O O CH 3 CH 2 C-H Propanal Cn. H 2 n. O O CH 3 CH 2 –C-CH 3 Butanon Keduanya Isomer fungsi
BEBERAPA HOMOLOG SENYAWA TURUNAN ALKANA Homolog Gugus Fungsi As. Alkan oat / alkil alkanoat O -C -OH Alkil alkanoat (Ester) O -C-OR Struktur umum Rumus umum O R-C – OH Cn. H 2 n. O 2 O R-C-OR Apa perbedaan dan kesamaan antara kedua rumus umum dan rumus strukturnya Cn. H 2 n. O 2 Contoh senyawa O CH 3 CH 2 C-OH As. Propanoat O CH 3 CH 2 -C-O-CH 3 Metil Propanoat Keduanya Isomer
Tata nama Alkanol/alkil alkohol 1. Alkohol monovalen 1. Tentukan rantai utama dan berikan penomoran atom C dimulai dari atom C yang paling dekat dengan gugus OH 2. Tuliskan nama alkana dengan akhiran nol dengan letak OH dinyatakan dengan bilangan yang ditulis didepan nama alkanol. R - OH Alkana + akhiran nol 3 2 1 CH 3 -CH 2 -OH 1 -Propanol
Contoh : 4 3 1 2 CH 3 –CH-CH 2 -OH 3 -metil 1 -butanol CH 3 metil 4 3 2 1 CH 3 –CH - CH-CH 3 3 -metil 2 -butanol CH 3 OH metil OH 1 2 CH 3 –C – 3 CH 2 4 -CH 3 metil 2 -butanol
4 3 OH 2 1 CH 3 –CH-CH-CH 2 -OH 3 -metil 1, 2 -butanadiol CH 3 metil CH 2 OH CH 2 OH 1, 2, 3 –propanatriol (gliserol) 1, 2 –etanadiol (glikol)
Tata nama alkoksi alkana (Eter) propana CH 3 -CH 2 - O – CH 2 -CH 3 Rantai yang lebih panjang di pakai sebagai Alkana Etoksi propana Etil propil eter Etoksi Rantai yang lebih pendek di pakai sebagai Alkoksi (alkana dengan akhiran oksi. CH 3 -CH 2 -CH- O – CH 2 -CH 3 Butana 2 -Etoksi Butana etil sek. butil eter Etoksi terikat pada atom C no 2
Propil –CH 2 - CH 3 isopropil –CH–CH 3 butil –CH 2 - CH 3 Isobutil - CH 2–CH- CH 3 Sek. butil –CH- CH 2 - CH 3 Ters. butil CH 3 –C - CH 3 Amil -C 5 H 11
Tata nama alkanal (Aldehid) Sebutkan nama ranyai karnobnya sesuai dengan nama alkana dengan akhiran nal O H-C-H Metanal; formaldehid O CH 3 -C-H etanal; Asetaldehid O CH 3 – CH 2 -C-H O 1 CH 3 –CH-CH 2 -C -H 4 3 CH 3 metil 2 propanal; propionaldehid 3 -metil butanal
Tata nama alkanon (Keton) O CH 3 -C-CH 3 Propanon O CH 3 –C –CH 2 - CH 3 2 -pentanon O CH 3 – CH 2 -C-CH 3 2 -Butanon (Butanon) O CH 3 –CH-C –CH 3 3 -metil 2 -butanon
Asam alkanoat / As. Karboksilat O R–C–O–H Asam Alkanoat O H – C – OH O CH 3 –C -OH O CH 3 –CH-C –OH CH 3 Asam metanoat /Asam formiat Asam etanoat /Asam asetat Asam cuka Asam 2 -metil propanoat
Alkil alkanoat / Ester O R–C–O–R Alkil Alkanoat O H – C – O-CH 3 metil metanoat /metil formiat O CH 3 –C –O-CH 3 metil etanoat /metil asetat O CH 3 –CH-C –O-CH 3 - CH 3 etil 2 -metil propanoat
Jenis Alkohol Berdasarkan letak gugus OH pada rantai karbonnya, alkohol dibedakan menjadi 3 jenis: 1. Alkohol Primer. Gusus OH terikat pada atom C primer. CH 3 CH -C -CH 2 -OH CH 3 2, 2, 3 -trimetil 1 -butanol
2. Alkohol Sekunder. Gusus OH terikat pada atom C sekunder. CH 3 CH -C -CH 2 - CH 3 3, 3 -dimetil 2 -pentanol OH CH 3 3. Alkohol Tersier. Gusus OH terikat pada atom C Tersier. CH 3 CH -C CH 2 - CH 3 2, 3 -dimetil 3 -pentanol CH 3 OH Amati nomor letak cabang dan letak gugus OH nya, dan cari ciri khas dari ketiga jenis alkohol.
Reaksi pada Alkohol 1. Reaksi dengan logam Na R-OH + Na R-ONa + H 2 Na. alkanolat 2. Reaksi dengan HCl, PX 3 atau PX 5 R-OH + HCl R-Cl + H 2 O R-OH + PX 3 R-X + H 3 PO 3 R-OH + PX 5 R-X + POX 3 + HX 3. Reaksi Oksidasi alkohol Alkohol Primer Oks. Alkanal O R-CH 2 – OH Oks Alkohol Sekunder OH R-CH – CH 3 R-C-H Oks. O Oks R-C –OH Alkanon O Oks O R-C –OH R-C-CH 3 Oks
Oks Alkohol tersier CH 3 C Mengapa tidak teroksidasi ? Oks OH CH 3 4. Reaksi Alkohol + asam alkanoat O Alkil alkanoat + air O R-C –OR’ + H 2 O R-C –OH + HO- R’ H 2 O 5. Reaksi Alkohol + asam Sulfat (pekat) 180 o. C 130 o. C CH 3 CH 2 OH H 2 SO 4 180 o. C 130 o. C CH 2=CH 2 Alkena Eter + H 2 O CH 3 CH 2 O CH 2 CH 3 + H 2 O
REAKSI-REAKSI ETER 1. Pembakaran eter CH 3 -O-CH 3 + O 2(g) CO 2(g) + H 2 O(g) 2. Reaksi dengan logam Na R-O-R + Na 3. Reaksi dengan PCl 5 R-O-R + PCl 5 Reaksi ini dapat dipakai untuk membedakan antara alkanol dan eter. tidak membebaskan HCl, berbeda dengan alkohol R-Cl + POCl 3 4. Reaksi dengan Asam Halida terutama HI R-O-R + HI R-OH + R-I R-O-R + HI R-I + H 2 O Jumlah HI berlebih Jumlah HI terbatas
REAKSI-REAKDI ALDEHID 1. Oksidasi Aldehid. O R-C-H O Oks R-C –OH Sebagai oksidator dapat berupa Cu. O (fehling) atau Ag 2 O (tollen) Perekasi Fehling : terdiri dari Fehling A dan Fehling B Fehlinh A ; terdiri dari larutan Cu. SO 4 Fehlinh B ; terdiri dari larutan K. Na. tartrat dalam larutan Na. OH Pereksi Tollen : terdiri dari larutan perak nitrat yang diberi amoniah berlebih (perak amoniakal)/Ag 2 O
O O R-C-H 2 Cu. O R-C –OH O R-C-H O Ag 2 O + Cu 2 O Merah bata R-C –OH + Ag(s) Cermin perak 2. Reduksi Aldehid. Reduksi aldehid (dereaksikan dengan H 2) akan menghasilkan alkohol primer. O OH R-C-H + H 2 R-CH 2 Alkanal Alkanol
- Slides: 96