Pertemuan ke 11 Pola dan bentuk perjalanan wisatawan
Pertemuan ke 11: Pola dan bentuk perjalanan wisatawan Institusional dan non istitusional Form of Tourism Oleh : R Bagus Handoko Y, S. Pd, M. Par Secara umum, Pola Perjalanan Wisata dapat dibagi menjadi beberapa jenis, tergantung dari pada sudut pandang pembahasannya. Secara garis besar, dapat dilihat antara lain dari: 1. Cara melakukannya. Secara berombongan dalam ikatan dengan paket wisata tertentu, dikenal sebagai GIT (Grouped Inclusive Travel), segala sesuatunya (jadual, destinasi, tiket, hotel dll) diatur sesuai program (itinerary) paket yang dipilihnya; Perjalanan perorangan, baik sendiri-sendiri maupun kelompok kecil mandiri, mengatur sendiri perjalanannya, baik jadual maupun destinasinya, bebas dari ikatan dengan paket wisata, dikenal dengan sebutan FIT (Free Individual Travel). Meskipun demikian, kelompok ini acapkali menggunakan juga jasa biro perjalanan dalam hal pemesanan tiket atau kamar hotel. 2. Jarak perjalanannya. Jarak dekat (short-haul); pada umumnya jarak perjalanan dinilai dari lamanya penerbangan yang ditempuh secara nonstop. Dalam hal jarak dekat tidak lebih dari 3 jam. Berbeda dengan ketentuan yang berlaku internasional, short-haul untuk penerbangan domestik pada umumnya ditetapkan tidak lebih dari 1, 5 jam lamanya, yaitu dengan jarak sekitar 500 mil (atau setara dengan 800 km); Jarak menengah (medium-haul), lama perjalanan udara nonstop antara 3 jam s/d 6 jam; Jarak jauh (long-haul), meliputi perjalanan udara nonstop lebih dari 6 jam, yang lazimnya menggunakan pesawat berbadan lebar yang mampu terbang nonstop minimal 6 -7 jam. Dewasa ini, banyak pesawat yang dioperasikan oleh airlines secara non-stop menjelajahi udara dalam waktu 11 s/d 13 jam penerbangan.
3. Moda transportasi yang digunakan. Transportasi di permukaan bumi (surface transport), baik di darat maupun di laut dan/atau kombinasi antara laut (kapal pesiar / cruise) dan darat; Transportasi udara (air transport). 4. Motivasi perjalanan. Motivasi bisnis (busness tourism), yang dirinci lebih jauh atas sub-motive (TICO = trade, idustrial, commercial, official dan MICE = meeting, incentive, conference / convention, exhibition); Motivasi pesiar (leisure/pleasure travel), yang juga dirinci atas beberapa sub-motive lebih lanjut (NATURAL = adventure, agricultural/agro, marine, special interest, health, dsb. serta CULTURAL = historical, educational, family visit, religious, sport, dsb. ) 5. Kelompok jenis kelamin (gender). Wisata wanita (female tourism); Wisata pria (male tourism). 6. Kelompok usia. Wisata muda/remaja (youth tourism); Wisata dewasa (adult tourism); kelompok ini bisa dipecah lebih lanjut dengan Wisata lansia (senior tourism, elderly tourism). 7. Sifat kegiatan selama perjalanan Wisata aktif (active tourism); Wisata pasif (passive tourism). 8. Lokasi destinasi. Wisata domestik (domestic tourism); Wisata regional (regional tourism); Wisata internasional (international tourism); Wisata desa (rural tourism); Wisata kota (urban tourism), dsb.
Bentuk Pariwisata 1. Dari Segi Jumlah nya : a) Individual Tour (wisatawan perorangan), yaitu suatu perjalan yang dilakukan oleh satu orang atau sepasang suami istri. b) Family Group Tour (wisata keluarga), yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh serombongan keluarga, yang masih mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain. c) Group Tour (wisata rombongan), yaitu suatu perjalanan yang dilakukan bersama-sama dengan dipimpin oleh seseorang yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kebutuhan seluruh anggotanya.
2. Dari segi kepengaturannya, a) Pre-arranged Tour (wisata berencana), yaitu suatu perjalanan wisata yang jauh hari sebelumnya telah diatur segala sesuatunya, baik transportasi, akomodasi, maupun objek-objek yang akan dikunjungi. b) Package Tour (wisata paket atau paket wisata), suatu produk wisata yang merupakan suatu komposisi perjalanan yang disusun dan dijual guna memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan perjalanan. c) Coach Tour (wisata terpimpin), yaitu suatu paket perjalanan ekskursi yang dijual oleh biro perjalanan dengan dipimpin oleh seorang pemandu wisata dan merupakan perjalanan wisata yang diselenggarakan secara rutin, dalam jangka yang telah ditetapkandan dengan rute perjalanan yang tertentu pula. d) Special Arranged Tour (wisata khusus), yaitu suatu perjalanan wisata yang disusun secara khusus guna memenuji permintaan seorang langganan atau lebih sesuai dengan kepentingannya. e) Optional Tour (wisata tambahan / manasuka), yaitu suatu perjalanan wisata tambahan diluar pengaturan yang telah disusun dan diperjanjikan pelaksanaannya, yang dilakukan atas permintaan pelanggan.
3. Dari segi maksud dan tujuannya a) Holiday Tour (wisata liburan), suatu perjalanan wisata yangdiselenggarakan diikuti oleh anggotanya guna berlibur, bersenang-senang dan menghibur diri. b) Familiarization Tour (wisata pengenalan), yaitu suatu perjalanan anjangsana yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaannya. c) Education Tour (wisata pendidikan), yaitu suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun pengetahuan mengenai bidang kerja yang dikunjunginya. d) Scientific Tour (wisata pengetahuan), yaitu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah memperoleh pengetahuan atau penyelidikan suatu bidang ilmu pengetahuan. e) Pilgrimage Tour (wisata keagamaan), perjalanan wisata guna melakukan ibadah keagamaan. f) Special Mission Tour (wisata kunjungan khusus), yaitu perjalanan wisata dengan suatu maksud khusus, misalnya misi dagang, misi kesenian dan lain-lain g) Special Program Tour (wisata program khusus), yaitu suatu perjalanan wisata untuk mengisi kekosongan khusus h) Hunting Tour (wisata perburuan), yaitu suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan pemburuan binatang yang diijinkan oleh penguasa setempat, untuk hiburan semata.
4. Dari segi penyelenggaraanya, wisata dibedakan atas : a) Ekskursi (excursion), yaitu suatu perjalanan wisata jarak pendek yang ditempuh kurang dari 24 jam guna mengunjungi satu atau lebih objek wisata. b) Safari Tour yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan secara khusus dengan perlengkapan atau peralatan khusus pula. c) Cruze Tour yaitu perjalanan wisata yang menggunakan kapal pesiar mengunjungi objek-objek wisata bahari, dan objek wisata di darat tetapi menggunakan kapal pesiar sebagai basis pemberangkatannya. d) Youth Tour (wisata remaja), yaitu suatu kunjungan wisata yang penyelenggaraannya khusus diperuntukan bagi para remaja menurut golongan umus yang ditetapkan oleh hukum negara masing-masing. e) Marine Tour (wisata bahari), suatu kunjungan objek wisata khususnya untuk menyaksikan kaindahan lautan.
Berdasarkan beberapa uraian tentang Pola wisata diatas, dapat disimpulkan, bahwa motivasi yang mendorong wisatawan untuk mengadakan perjalanan wisata adalah sebagai berikut : a) Dorongan kebutuhan untuk berlibur dan berekreasi, b) Dorongan kebutuhan pendidikan dan penelitian, c) Dorongan kebutuhan keagamaan, Sumber : http: //imamutasim. blogspot. co. id/2013/11/ wisata-pengertian-ciri-tujuan-bent. html d) Dorongan kebutuhan kesehatan, e) Dorongan atas minat terhadap kebudayaan dan kesenian, f) Dorongan kepentingan keamanan, g) Dorongan kepentingan hubungan keluarga h) Dorongan kepentingan politik, (Gamal Santoro 14 -17)
Pergeseran Tren Pariwisata Dunia Oleh Prof. Azril Azahari, Ph. D
SHIFTING TOURISM PARADIGM: REFLECTION ON FUTURE INDONESIA TOURISM OPPORTUNITIES & CHALLENGES 2016
PERGESERAN TREN PARIWISATA DUNIA “SHIFTING PARADIGM” Kesenangan Manusia Menguasai Alam Mass Tourism (Unsustainable Tourism) Manusia Selaras dengan Alam Ketenangan Special Interest/Quality Tourism (Sustainable Tourism)
PERGESERAN TREN PARIWISATA DUNIA 165 Kesenangan Manusia Menguasai Alam Mass Tourism (Unsustainable Tourism) % increase the number of people taking “faith -based” vacations in the last five years John Marcus April 25, 2015 Old Tourism New Tourism Sun Sand Sea Serenity Sustainability Spirituality “shifting paradigm” Manusia Selaras dengan Alam Ketenangan Special Interest/Alternative/Quality Tourism (Sustainable Tourism) In an age of soulless materialism and endless consumption, taking time out to explore the depths of the world's wisdom traditions is probably a good idea. Ben Bowler – founder of “Monk for a Month”
PERGESERAN TREN PARIWISATA DUNIA “Eat Pray Love’s Spiritual Tourism” Spiritual tourism is not only pilgrimage, religious activities, but it is also a momentum to enhance exchange and socio-economic development. It contributes to heritage tourism, to protect religion and promote beautiful places.
PERGESERAN TREN PARIWISATA DUNIA Tema (Concept): Wisata Ziarah Hijau/Berbasis Lingkungan (Green Pilgrimage) Greening Waste Greening Sanitation Greening Buildings Greening Transport Greening Food and Accommodation sociocultural • Partnership for a green pilgrimage place • Faith group and local authority draw-up action plan for a green city • Faith group draw-up green theology • Faith responsibility to care for the environmental responsible tourism (sustainable tourism) economic (Azahari, 2015)
1. SIKAP Setiap lulusan program Sarjana Pariwisata (S. Par) harus memiliki sikap sebagai berikut: a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius; b. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika; c. berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila; d. berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa; e. menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain; f. bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan; g. taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara; h. menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik; i. menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang pariwisata secara mandiri; j. menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan pariwisata. k. menunjukkan sikap terpercaya (berintegritas), responsif, professional sesuai dengan Global Code of Ethic of Tourism yang berkepribadian Indonesia
2. PENGUASAAN PENGETAHUAN a. konsep teoretis secara mendalam terkait dengan teori pariwisata, pariwisata berkelanjutan, pariwisata berbasis pada masyarakat dan pengambilan keputusan; b. konsep teoretis secara umum terkait dengan teori-teori: kewirausahaan, inovasi sebagai bagian dari teori kreasi pengetahuan (knowledge creation), motivasi (motivation theory), perubahan (sosial dan manajemen) khususnya perilaku sosial dalam kewirausahaan, lintas budaya dalam kepariwisataan, dan teori pemangku kepentingan; c. konsep umum teori ekonomi, dan sistem politik; d. pengetahuan faktual dan terkini tentang hukum bisnis dan etika pariwisata (Global Code of Ethic of Tourism); e. metodologi penelitian; dan f. prinsip dan teknik komunikasi persuasif lintas organisasi dan lintas budaya di bidang pariwisata.
3. KETERAMPILAN KHUSUS 2. Pada area pengembangan profesionalisme penyedia jasa pariwisata a. Mampu melaksanakan dan membangun strategi pengembangan diri yang sejalan dengan prinsip-prinsip strategi pengembangan diri pada organisasi kepariwisataan. b. Mampu melaksanakan dan membangun strategi pengembangan karir SDM di organisasi pariwisata. c. Mampu melakukan evaluasi diri dan mengidentifikasi gap antara kompetensi diri dengan target pengembangan profesionalnya. d. Mampu melaksanakan dan mengembangkan sistem pengelolaan stress untuk internal organisasi kepariwisataan dan penanganan klien pada tingkat perusahaan skala kecil dan menengah secara komprehensif yang mementingkan keragaman sosial budaya klien, kebutuhan khusus, dan kearifan lokal. e. Mampu mempromosikan, melaksanakan dan membangun sistem manajemen SDM yang positif meliputi kepemimpinan, kerja sama tim berbasis pada dinamika tim, dan kemampuan menangani konflik dalam bekerja dengan pengetahuan dasar lintas sektor pariwisata. f. Mampu menganalisis deskripsi pekerjaan (job analyses) dalam organisasi kepariwisataan hingga tingkat manajer. g. Mampu melaksanakan dan membangun sistem SDM organisasi kepariwisataan pariwisata, mencakup sistem rekrutmen, penempatan, promosi, mutasi, dan pemberhentian pegawai di organisasi kepariwisataan berbasis pada peraturan ketenagakerjaan yang berlaku, prinsip efektivitas, efisiensi, dan keadilan. h. Mampu melaksanakan dan membangun sistem penilaian kinerja SDM organisasi kepariwisataan hingga tingkat manajer, mencakup penetapan lingkup dan target kinerja, strategi, siklus, program, aktivitas dalam pengukuran kinerja, serta mekanisme umpan balik untuk peningkatan kinerja organisasi kepariwisataan secara menyeluruh. i. Mampu melaksanakan sistem pelatihan SDM organisasi kepariwisataan pariwisata hingga tingkat manajer, mencakup penetapan lingkup dan target pelatihan, strategi, siklus, program, aktivitas, serta evaluasi hasil pelatihan pada jangka pendek dan menengah. j. Mampu mengidentifikasi dan menyusun tanggung jawab dan peran berjenjang hingga tingkat manajer pada organisasi kepariwisataan dalam penanganan keamanan dan kesehatan wisatawan dan/atau pelanggan saat menggunakan layanan jasa atau produk pariwisata. k. Mampu mengedukasi personel internal dan wisatawan dan/atau pelanggan untuk menggunakan layanan jasa atau produk pariwisata secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.
TERIMA KASIH Prof. Azril Azahari Ph. D, +62 82111198333, azazahari@gmail. com
- Slides: 17