Persediaan Oleh Muhammad Zainal Abidin SE Ak MM
Persediaan Oleh : Muhammad Zainal Abidin SE, Ak, MM
Definisi, Klasifikasi Definisi Menurut Kiesso & Weygandt Persediaan adalah aktiva perusahaan yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan atau akan digunakan/ dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual Klasifikasipersediaan q Perusahaan jasa tidak memiliki persediaan q Perusahaan dagang hanya memiliki satu jenis persediaan yaitu persediaan barang jadi. q Perusahaan manufaktur memiliki 3 jenis persediaan, yaitu: persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi POLITEKNIK NSC
Fungsi dan Manfaat Persediaan Mengatasi risiko keterlambatan pengiriman Mengatasi risiko kesalahan pengiriman Mengatasi risiko kenaikan harga Mengatasi ketergantungan pada musim Mendapatkan keuntungan dari pembelian Menjaga kelangsungan operasional perusahaan POLITEKNIK NSC
Masalah Kepemilikan Barang sudah dicatat sebagai persediaan didasarkan pada hak kepemilikannya. Penentuan perpindahan hak atas barang antara lain timbul dalam keadaan: Barang dalam perjalanan Barang yang dipisahkan Barang konsinyasi Barang Angsuran POLITEKNIK NSC
Masalah Kepemilikan Barang q Barang Dalam Perjalanan (Goods on Transit) § FOB Shipping Point : hak atas seluruh muatan beralih ke pembeli dengan pada saat pengiriman. Ketika barang dalam perjalanan dimasukkan dalam persediaan si pembeli § FOB Destination : hak tidak beralih sampai barang diterima oleh pembeli. Ketika barang dalam perjalanan dimasukkan dalam persediaan si penjual q Barang yang dipisahkan § Apabila melakukan pembelian tetapi pengiriman tidak dilakukan sekaligus maka pembeli dapat mencatat pembelian dan menambah persediaan barangnya. POLITEKNIK NSC
Masalah Kepemilikan Barang q Barang konsinyasi § Sebelum barang tersebut dijual masih tetap menjadi persediaan pihak yang menitipkan (consignor) dan pihak yang menerima titipan (consignee) tidak mempunyai hak atas barang tersebut sehingga tidak mencatat sebagai persediaan. q Barang Angsuran § Hak atas barang tetap pada penjual sampai seluruh harga jualnya dilunasi. § Penjual akan melaporkan barang tersebut dalam persediaannya dikurangi dengan jumlah yang sudah dibayar. § Pembeli akan melaporkan barang-barang tersebut dalam persediaannya sejumlah yang sudah dibayarkan POLITEKNIK NSC
Metode Pencatatan Persediaan Periodik Perpetu al 1. Periodik Nilai persediaan ditentukan secara periodic dalam kurun waktu tertentu. Kurun waktu bisa 1 tahun atau hanya 1 bulan 2. Perpetual Nilai persediaan selalu diperbarui sehingga perusahaan bisa mengetahui nilai persediaan dan HPP setiap saat. POLITEKNIK NSC
Metode Pencatatan Persediaan Keterangan Periodik Perpetual Pembelian barang dagangan Pembelian Persediaan Utang Dagang/Kas Penjualan barang dagangan Kas/Piutang Usaha Penjualan HPP Persediaan Penyesuaian pada akhir periode Persediaan akhir HPP Pembelian Persediaan Awal Tidak ada jurnal, kecuali dari perhitungan fisik ada selisih kurang maka jurnal: Kerugian Persediaan Dari jurnal dapat dilihat : 1. Pada Metode Periodik, setiap terjadi pembelian dan penjualan nilai persediaan tidak diperbarui. Nilai persediaan akhir diperoleh dari perhitungan fisik yang dilakukan secara periodik. 2. Pada Metode Perpetual, nilai persediaan selalu diperbarui, sehingga perusahaan bisa mengetahui nilai persediaan dan HPP setiap saat. POLITEKNIK NSC
Pengakuan Harga Perolehan Persediaan Gross Metho d Net Metho d Nilai persediaan adalah harga beli ditambah semua biaya pembeliaan dan biaya lain yang membuat persediaan tersebut siap untuk digunakan. Persediaan = Harga pembelian + Pajak (selain PPN) + Bea Masuk + Biaya Angkut + Biaya lain yang dapat diatribusikan – Diskon Pembelian POLITEKNIK NSC
Pengakuan Harga Perolehan Persediaan Contoh perbandingan jurnal antara Metode Gross Method dan Net Method sbb: Pada tanggal 1 Maret 2014 PT Poltek NSC membeli persediaan secara kredit senilai Rp 20. 000 dengan syarat pembayaran 2/10, n/30. Tanggal 5 Maret 2014 perusahaan melunasi hutang dagang sebesar Rp 8. 000, sehingga nilai kas yang dibayarkan hanya sebesar Rp 7. 840. 000 karena sudah dipotong diskon. Pelunasan terakhir dilakukan pada tanggal 20 Maret 2008 POLITEKNIK NSC
Pengakuan Harga Perolehan Persediaan Tanggal Metode Bruto (Gross Method) Metode Bersih (Net Method) 1 -Mar-14 Pembelian 20. 000 Utang Dagang 20. 000 (Mencatat pembelian kredit) 5 -Mar-14 Utang Dagang 8. 000 Diskon Pembelian 160. 000 Kas 7. 840. 000 (Mencatat pelunasan pd periode diskon) Utang Dagang 7. 840. 000 Kas 7. 840. 0000 (8 jt-(8 jt x 2%) (Mencatat pelunasan pd periode diskon) 20 -Mar-14 Utang Dagang 12. 000 Kas 12. 000 (Mencatat pelunasan utang di luar periode diskon) Utang Dagang 11. 760. 000 Beban lain-pembatalan Diskon 240. 000 Kas 12. 000 (Mencatat pelunasan utang di luar periode diskon) POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan FIFO IDENTIFIKASI KHUSUS LIFO AVERAGE POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan q Perusahaan harus menentukan penghitungan persediaan yang relevan. q Masalah : Harga persediaan per unit mengalami perubahan dari waktu ke waktu. q Contoh : Perusahaan memiliki persediaan awal sejumlah 100 unit dengan nilai per unit sebesar Rp 1. 000, kemudian perusahaan tersebut melakukan pembelian dan penjualan dengan data: Pembelian : § 4 Okt 2014 ; 200 unit ; @Rp 1. 100 § 6 Okt 2014 ; 100 unit ; @Rp 1. 200 Penjualan : § 5 Okt 2014 ; 60 unit § 7 Okt 2014 ; 60 unit POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan FIFO q Perhitungan HPP dari unit yang dijual berdasarkan harga beli persediaan yang masuk paling awal, sedangkan persediaan akhir dihitung dari harga beli persediaan yang masuk paling akhir dan belum terjual. q Keuntungan FIFO adalah nilai persediaan akhir akan mendekati nilai beli saat ini sehingga nilai persediaan akhir tidak akan memiliki selisih nilai yang besar dengan nilai belinya. q Kelemahan FIFO adalah dalam hal penandingan antara penghasilan dan beban : § Nilai penjualan saat ini tidak dikurangi dengan nilai HPP saat ini, tetapi dari pembelian yang lama. § Nilai pembelian saat ini akan mengurangi nilai penjualan suatu saat di masa mendatang, dimana harga beli persediaan mungkin sudah jauh berbeda. § Secara teknis akan memberikan informasi laba kotor dan nilai persediaan akhir yang bias. POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan FIFO Perpetual Pembelian Tgl 1 -10 4 -10 Unit Jumlah (Rp) HPP (Rp) Penjualan Unit Saldo Jumlah (Rp) HPP (Rp) Unit HPP (Rp) Jumlah (Rp) 100 1, 000 100, 000 200 1, 100 220, 000 100 1, 000 100, 000 200 1, 100 220, 000 5 -10 60 1, 000 60, 000 40 1, 000 40, 000 200 1, 100 220, 000 1, 200 120, 000 40 1, 000 40, 000 6 -10 200 1, 100 220, 000 100 1, 200 120, 000 7 -10 40 1, 000 40, 000 180 1, 100 198, 000 20 1, 100 22, 000 100 1, 200 120, 000 Maka: Nilai persediaan akhir = Rp 318. 000 (198. 000 + 120. 000) Nilai HPP = Rp 122. 000 (60. 000 + 40. 000 + 22. 000) POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan FIFO Periodik Persediaan Awal Pembelian Yang tersedia untuk dijual Persediaan akhir (tersisa 280 buah) HPP (terjual 120 buah) 100 buah x Rp 1. 000 Rp 100. 000 200 buah x Rp 1. 100 Rp 340. 000 100 buah x Rp 1. 200 Rp 440. 000 180 buah x Rp 1. 100 (Rp 318. 000) 100 buah x Rp 1. 200 100 buah x Rp 1. 000 Rp 122. 000 20 buah x Rp 1. 000 FIFO perpetual dan FIFO periodik hasilnya sama, yaitu : § Persediaan akhir = 280 buah § Harga persediaan akhir = Rp 318. 000 § Unit yang terjual = 120 buah § Harga unit yang terjual = Rp 122. 000 POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan LIFO q Memiliki keselarasan penandingan antara pendapatan dan beban q Penjualan saat ini berasal dari harga beli saat ini LIFO Perpetual Tgl 1 -10 4 -10 5 -10 6 -10 7 -10 Pembelian Penjualan Unit HPP (Rp) Jumlah (Rp) 200 1, 100 1, 200 220, 000 120, 000 Saldo HPP (Rp) Jumlah (Rp) Unit HPP (Rp) 60 1, 100 60 1, 200 66, 000 72, 000 100 200 140 100 140 1, 000 1, 100 1, 200 1, 000 1, 100 1, 200 Unit Jumlah (Rp) 100, 000 220, 000 100, 000 154, 000 120, 000 100, 000 154, 000 48, 000 Maka: Nilai HPP = Rp 138. 000 (66. 000 + 72. 000) POLITEKNIK NSC Nilai persediaan akhir = Rp 302. 000 (100. 000 + 154. 000 + 48. 000)
Metode Penilaian Persediaan LIFO Periodik Persediaan Awal Pembelian Yang tersedia untuk dijual Persediaan akhir (tersisa 280 buah) 100 buah x Rp 1. 000 200 buah x Rp 1. 100 buah x Rp 1. 200 100 buah x Rp 1. 000 180 buah x Rp 1. 100 Rp 100. 000 Rp 340. 000 Rp 440. 000 (Rp 298. 000) HPP (terjual 120 buah) 100 buah x Rp 1. 200 20 buah x Rp 1. 100 Rp 142. 000 LIFO perpetual dan LIFO periodik hasilnya tidak selalu sama, yaitu : § Persediaan akhir = 280 buah (sama) § Harga persediaan akhir = Rp 298. 000 (Rp 302 untuk LIFO Perpetual) § Unit yang terjual = 120 buah (sama) § Harga unit yang terjual = Rp 142. 000 (Rp 138. 000 untuk LIFO Perpetual) Tidak sama krn pd metode perpetual disesuaikan terus menerus, POLITEKNIK NSC sedangkan metode periodik tidak
Metode Penilaian Persediaan AVERAGE q Perhitungan unit terjual berdasarkan harga rata-rata dari persediaan yang masuk Average Perpetual Pembelian Tgl Unit Penjualan Jumlah (Rp) HPP (Rp) Jumlah (Rp) 100 1, 000. 00 100, 000 Unit HPP (Rp) 1 -10 4 -10 5 -10 6 -10 7 -10 1, 100 220, 000 300 1, 066. 67 320, 000 60 1, 067 64, 000 240 1, 066. 67 256, 000 1, 200 120, 000 340 1, 105. 88 376, 000 60 1, 106 66, 353 280 1, 105. 88 309, 647 200 100 Unit Saldo 1. 066, 67 berasal dari (Rp 100. 000 + Rp 220. 000)/300 1. 105, 88 berasal dari (Rp 256. 000 + Rp 120. 000)/340 Maka: Nilai HPP = Rp 130. 353 (64. 000 + 66. 353) Nilai persediaan akhir = Rp 309. 647 POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan AVERAGE Average Periodik Persediaan Awal Pembelian Yang tersedia untuk dijual Persediaan akhir (tersisa 280 buah) HPP (terjual 120 buah) 100 buah x Rp 1. 000 200 buah x Rp 1. 100 buah x Rp 1. 200 400 buah x Rp 1. 000 280 buah x Rp 1. 100 120 buah x Rp 1. 100 Rp 100. 000 Rp 340. 000 Rp 440. 000 (Rp 308. 000) Rp 132. 000 § Persediaan akhir 400 buah dg nilai persediaan Rp 440. 000 maka harga pokok per unit = Rp 1. 100 § Total persediaan akhir = 120 buah x Rp 1. 100 = Rp 132. 000 Dengan menggunakan Metode Average maka perhitungan perpetual dan periodik tidak sama hasilnya POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan IDENTIFIKASI KHUSUS q Metode ini berdasarkan anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. q Tiap jenis barang dipisah berdasarkan harga pokoknya dan tiap kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri. Contohnya ponsel merek A tipe 123 dibuatkan kartu persediaan sendiri. q Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual, dan sisanya merupakan persediaan akhir. q Metode ini dapat digunakan perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan cara periodik maupun perpectual. q Tetapi karena cara ini menimbulkan banyak pekerjaan tambahan maupun gudang yang luas maka jarang digunakan. q Metode ini biasanya diterapkan pada perusahaan yang menjual produk dengan harga mahal, jumlah dan jenis produknya terbatas. POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan IDENTIFIKASI KHUSUS Misalnya : PT Poltek NSC mempunyai persediaan 5 buah kamus bahasa yang berbeda dengan harga masing 2 Rp 10. 000, Rp 11. 000, Rp 12. 000, Rp 13. 000 dan Rp 14. 000. Jika kamus yang terjual adalah dengan kamus bahasa dengan harga perolehan Rp 13. 000 maka HPP kamus bahasa tersebut adalah Rp 13. 000 dst POLITEKNIK NSC
Metode Penilaian Persediaan Perbandingan persediaan akhir dari 3 metode : Persediaan akhir HPP FIFO Perpetual LIFO Average 318, 000 302, 000 309, 647 62, 000 72, 000 66, 353 Jika terjadi inflasi atau kenaikan harga mana yang menghasilkan laba yang lebih besar? POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Digunakan sebagai upaya mengatasi keterbatasan penilaian persediaan dan HPP dengan menggunakan harga perolehan. Metode LCM (Lower of Cost or Market) Metode Laba Kotor (Gross Profit Method) Metode Retail/Eceran (Retail Inventory Method) POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Metode LCM (Lower of Cost or Market) - LCM q Prinsip konservatisme, bahwa nilai persediaan adalah dinilai mana yang lebih besar antara harga perolehan dengan harga pasar. q Harga pasar adalah nilai realisasi bersih (Net Realizable Value – NRV) q NRV adalah taksiran harga penjualan dikurangi taksiran biaya penjualan. q Contoh : § Harga perolehan persediaan Rp 1. 000 § Estimasi harga jual Rp 1. 200 § Estimasi biaya penjualan Rp 300 § Maka nilai realisasi bersih (NRV) Rp 900 § Nilai yang disajikan di Neraca adalah NRV bukan Harga perolehan § Pada tahun berikutnya jika terbukti NRV > Harga Perolehan maka jumlah penurunan nilai persediaan harus dijurnal balik. Jurnal balik tidak boleh melebihi Harga Perolehan. POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan LCM Contoh aplikasi, berikut merupakan persediaan PT Poltek NSC (dlm Rp 000) Jenis Persediaan NRV Harga Perolehan LCM per unit persediaan? LCM per jenis persediaan? Meja Makan - Tipe 1 10. 500 9. 000 - Tipe 2 15. 000 16. 000 - Tipe 3 19. 800 19. 000 Jumlah 45. 300 44. 000 - Tipe 1 1. 010 1. 000 - Tipe 2 1. 480 1. 450 - Tipe 3 2. 510 2. 600 Jumlah 5. 000 5. 050 Meja Komputer POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan LCM Alternatif 1 Jika mengunakan LCM per jenis persediaan Rp 49. 000 (44 jt + 5 jt) Metode pencatatan perpetual HPP Rp 50. 000 Persediaan Rp 50. 000 (Rp 49. 050. 0000 – Rp 49. 000 = Rp 50. 000) Metode pencatatan periodik Persediaan akhir Rp 49. 000 HPP Rpxxx (berubah 2) Pembelian Rpxxx Persediaan awal Rpxxx POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan LCM Alternatif 1 Jika mengunakan LCM per item persediaan Meja Makan Rp 43. 000 (9 jt + 15 jt + 19 jt) Meja Komputer Rp 4. 960. 000 (1 jt + 1. 450. 000 + 2. 510. 000) Jumlah Rp 47. 960. 000 Metode pencatatan perpetual HPP Rp 1. 090. 000 Persediaan Rp 1. 090. 000 (Rp 49. 050. 0000 – Rp 47. 960. 000 = Rp 1. 090. 000) Metode pencatatan periodik Persediaan akhir Rp 47. 960. 000 HPP Rpxxx (berubah 2) Pembelian Rpxxx Persediaan awal Rpxxx POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Metode Laba Kotor (Gross Profit Method) -GPM q Metode ini dilakukan karena keterbatasan dari cek fisik persediaan, misalnya banyaknya cabang di banyak tempat q Metode ini juga digunakan ketika persediaan yang telah tercatat mengalami kebakaran di gudangnya atau rusak karena bencana lainnya atau secara fisik barangnya tidak ada. POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan GPM q Misal PT Poltek NSC tahun 2014 memiliki catatan persediaan awal sebesar Rp 30. 0000, dengan pembelian selama tahun 2014 sebesar Rp 50. 000. Untuk menghitung persediaan akhir, perusahaan menggunakan metode Gross Profit. Adapun data penjualan selama 2014 sebesar Rp 100. 000 (nilai harga jual) Dengan rata-rata Gross Profit sebesar 40% dari harga jualnya. Persediaan Awal 30. 000 Pembeliaan 50. 000 Yang tersedia untuk dijual 80. 000 Penjualan (berdasarkan harga jual) 100. 000 Margin Penjualan (40% dr harga jual) 40. 000 HPP/Barang yang terjual (Harga perolehan historis) Perkiraan persediaan akhir (60. 000) 20. 000 POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Metode q Berdasarkan harga jual eceran Retail/Eceran q Perusahaan harus meiliki data (Retail Inventory persediaan dalam bentuk harga jual Method) - Retail q Tidak perlu melakukan penghitungan fisik eceran q Istilah-istilah dalam metode Retail: § Harga eceran (retail) yaitu harga jual persediaan yang dimilik § Mark Up yaitu kenaikan harga eceran § Pembatalan Mark Up yaitu penurunan harga eceran setelah harga tersebut dinaikkan, tetapi penurunannya maksimal sebesar mark up § Mark down yaitu penurunan harga eceran yang disebabkan oleh berbagai hal misalnya barang yang rusak, kelebihan pasokan, pengaruh kompetisi pasar ataupun sebab lain yang relevan § Pembatalan Mark Down yaitu kenaikan harga eceran setelah harga tersebut diturunkan, tetapi kenaikannya maksimal sebesar mark down. POLITEKNIK NSC § Rasio harga pokok dan harga eceran, rasio ini digunakan
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Retail Rasio Harga Pokok dan Harga Eceran dengan cara : Persediaan akhir berdasarkan harga x = perolehan 100% Persediaan akhir berdasarkan harga Metode penjualan eceran ini pada dasarnya dapat eceran i=diimplementasikan dengan 2 pendekatan yaitu : 1. Harga Perolehan Dalam pendekatan ini, persediaan akhir berdasarkan harga perolehan dihitung dari persediaan akhir berdasarkan harga eceran dikalikan dengan rasio harga pokok dan harga eceran setelah mark up dan mark down Rasio Harga Pokok dan Harga Persediaan akhir = Persediaan akhir x Jual (harga jual (termasuk mark up dan mark (harga eceran) down) POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Retail Rasio Harga Pokok dan Harga Eceran dengan cara : Persediaan akhir berdasarkan harga x = perolehan 100% Persediaan akhir berdasarkan harga Metode penjualan eceran ini pada dasarnya dapat eceran i=diimplementasikan dengan 2 pendekatan yaitu : 1. Harga Perolehan Dalam pendekatan ini, persediaan akhir berdasarkan harga perolehan dihitung dari persediaan akhir berdasarkan harga eceran dikalikan dengan rasio harga pokok dan harga eceran setelah mark up dan mark down Rasio Harga Pokok dan Harga Persediaan akhir = Persediaan akhir x Jual (harga jual (termasuk mark up dan mark (harga eceran) down) POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Retail q Yang membedakan keduanya adalah perhitungan rasio harga pokok dan harga jualnya. q Rasio Harga Perolehan > Rasio LCM karena mempertimbangkan mark down q Persentase yang lebih tinggi akan menyebabkan nilai persediaan akhirnya lebih tinggi pendekatan LCM POLITEKNIK NSC
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Retail Harga Perolehan Eceran Persediaan awal 10, 000 15, 000 Pembelian 40, 000 60, 000 Tersedia dijual 50, 000 75, 000 5, 000, 00 Mark Up 0 (2, 000 Pembatalan Mark Up ) Total Mark Up 3, 000 Tersedia dijual (stlh mark up) 50, 000 78, 000 Rasio Harga Pokok & Eceran 50 jt/78 jt x 100% = 64, 1% --> Pendekatan LCM 4, 000, 00 Mark Down 0 (3, 000 Pembatalan Mark Down ) Total Mark Down (1, 000) POLITEKNIK NSC Tersedia dijual (stlh mark down) 50, 000 77, 000
Metode Alternatif Penilaian Persediaan Retail Jadi persediaan akhirnya adalah: 1. Pendekatan LCM Persediaan akhir = 64, 1% x 32. 000 = 20. 512. 000 2. Pendekatan Harga Perolehan Persediaan akhir = 64, 93% x 32. 000 = 20. 777. 600 POLITEKNIK NSC
Penyajian dan Pengungkapan q Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, misalnya pemilihan metode penilaian persediaan apakah mengunakan FIFO, LIFO atau yang lainnya. q Jumlah nilai tercatat secara total atau menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan, misalnya dengan menunjukkan nilai total persediaan dan nilai persediaan berdasarkan tingkat penyelesaiannya. q Jumlah tercatat persediaan yang dicatat menggunakan nilai pelepasan bersih. Misalnya perusahaan bisa menyajikan di catatan laporan keuangan bahwa persediaan mereka menggunakan harga perolehan dan sisannya menggunakan nilai realisasi bersih q Jumlah pemulihan atas penurunan nilai persediaan. Penggunaan LCM akan memungkinkan terjadinya penurunan persediaan dibawah harga perolehannya, pemulihan (meningkatkan kembali) nilai persediaan diperbolehkan. q Nilai persediaan yang dijadikan jaminan kewajiban. POLITEKNIK NSC
TERIMA KASIH POLITEKNIK NSC
- Slides: 38