PERANAN SIG DALAM MITIGASI BENCANA LONGSOR PENDAHULUAN Bencana
PERANAN SIG DALAM MITIGASI BENCANA LONGSOR
PENDAHULUAN Bencana adalah suatu realitas dalam kehidupan umat manusia terutama bangsa Indonesia yang harus diterima, dihadapi dan ditangani kapanpun saatnya tiba. Dalam keilmuan perencanaan wilayah dan kota risiko yang tinggi disebabkan oleh tingginya hazard yang dibawa oleh bencana dan vulnerability yang dimiliki oleh lokasi terjadinya bencana namun risiko bukan tidak mungkin untuk diturunkan dengan cara meningkatkan kapasitas. Kapasitas dapat berarti preparedness, prevention, mitigation, early warning system, serta recovery yang baik dan semua hal itu telah tercakup dalam sebuah sistem bernama manajemen risiko bencana
AYAT AL-QURAN ﺍ ﺍﺍ ﺍﺍ ﺍ ﺍ ﻳ Artinya : “Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil. ” (QS. Al-Hijr [15]: 72 -74).
MITIGASI BENCANA Secara geografis sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah rawan bencana alam, contohnya adalah longsor. Longsor terjadi karena proses alami dalam perubahan struktur muka bumi, yakni adanya gangguan kestabilan pada tanah atau batuan penyusun lereng. Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi bencana (UU No. 24 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (9).
TUJUAN MITIGASI BENCANA 1. Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya bagi penduduk, seperti korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi (economy cost), dan kerusakan sumber daya alam 2. Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan 3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak atau resiko bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman
Sistem Informasi Geografis SIG adalah suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukkan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya.
ANALISIS SIG DALAM PENENTUAN LOKASI RAWAN LONGSOR Untuk menyusun Peta Lokasi Rawan Longsor idealnya mendasarkan pada survei lapangan atau survei terestris yang dilakukan pada semua lokasi rawan longsor. Namun demikian cara tersebut sangat tidak efektif, tidak efisien, memerlukan waktu yang lama, memerlukan tenaga survei yang banyak dan memerlukan biaya yang besar. Sebagai gantinya maka dibuatlah suatu model lokasi rawan longsor. Model penentuan lokasi rawan longsor berarti mencoba melibatkan semua parameter penyebab terjadinya rawan longsor didalam analisis sedemikian rupa sehingga diperoleh lokasi rawan longsor.
ANALISIS MODEL DIREKTORAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA 1. Parameter Kemiringan Lereng Klasifikasi dan Skor Faktor Kemiringan Lereng Sumber : Nicholas and Edmunson (1975) dalam Purnamasari (2007)
2. Parameter Kelas Jenis Tanah Pembagian Kelas Jenis Tanah Sumber: Soepraptohardjo (1961)
3. Parameter Insensitas Curah Hujan Klasifikasi Intensitas Curah Hujan Sumber: Balai Penelitian Tanah (2006)
4. Parameter Untuk Penggunaan Lahan Kelas Penutupan Lahan Sumber: Balai Penelitian Tanah (2006)
5. Pengkelasan Jenis Batuan Sumber: Balai Penelitian Tanah (2006)
ANALISIS MODEL DIREKTORAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA • Skor Kumulatif = (30% x Faktor Curah Hujan) + (20% x Faktor Tanah) + (20% x Faktor Geologi) + (15% x Faktor Penggunaan Lahan + (15% x Faktor Kemiringan Lereng) Berdasarkan hasil skor kumulatif maka daerah rawan (potensial) tanah longsor dikelompokkan ke dalam tiga kelas, yaitu (i) sangat rawan; (ii) rawan; dan (iii) kurang rawan. Dengan skor kelas kerawanan: 1. Kurang rawan (≤ 2, 5) 2. Rawan (≥ 2, 6 – ≤ 3, 6) 3. Sangat rawan (≥ 3, 7) Jika hasil analisis tersebut ditumpangsusunkan pada Peta Administrasi, maka akan diperoleh informasi lokasi rawan longsor pada masing-masing kecamatan beserta luasnya. Informasinya dapat disajikan dalam bentuk tabel, sedangkan distribusinya secara spasial dapat disajikan pada Peta Lokasi Rawan Longsor.
PETA DAERAH RAWAN LONGSOR
PETA TERDAMPAK LONGSOR
KESIMPULAN Peta dengan keunggulan grafisnya dapat menyajikan informasi potensi kerentanan longsor lahan secara cepat dan tepat karena dapat menggambarkan dimensi ruang dan waktu yang terkonsep suatu fenomena. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa, Peranan Sistem Informasi Geografis dalam mitigasi bencana sangatlah besar. SIG berperan baik pada saat sebelum, selama atau sesudah terjadinya bencana. Dengan SIG analisis pemodelan yang terkait dengan penyediaan peta dan informasi secara digital dapat dilakukan secara cepat, efektif dan efisien. Dengan SIG penanganan bencana akan dapat lebih terlaksana dengan baik
- Slides: 16