Peran Tuberculin Skin Test TST dan Interferon Gamma
Peran Tuberculin Skin Test (TST) dan Interferon Gamma Release Assay (IGRA) dalam deteksi TB Laten pada pasien terinfeksi TB Reviono Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK UNS RSUD Dr Moewardi
Pendahuluan Eliminasi TB pasca 2015 yang disebut end TB Strategy mempunyai misi untuk mencapai angka Zero TB pada tahun 2050. Zero TB adalah Zero death, Zero TB suffering, dan Zero new infection. Misi WHO yang ingin dicapai sampai tahun 2050 adalah menurunkan insidens TB kurang dari 1 kasus per 1 juta penduduk per tahun dan TB tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. (WHO Global Report, 2016)
PENDAHULUAN 1/3 penduduk dunia (2 -3 milyar) penduduk dunia terinfeksi TB 9, 6 juta orang sakit TB 1, 2 juta orang (12%) HIV+ 1, 5 juta orang meninggal karena TB 0, 4 juta orang HIV+ Indonesia 10% (2 besar negara di dunia) Who global report 2017
PENDAHULUAN 1/3 populasi dunia ITBL 5 -20% TB aktif disepanjang hidup Rentang waktu teraktivasi 2 -5 tahun sejak infeksi awal Infeksi HIV faktor risiko utama reaktivasi ITBL risiko infeksi HIV terjadi reaktivasi 5 -15% per tahun Guidelines on the management of latent tuberculosis infection. WHO. 2015
Respirology (2010) 15, 433– 450
(Mohamed Zakaria, 2014)
Mekanisme HIV memicu reaktivasi ITBL Diedrich CR, Flynn JL. HIV-1/Mycobacterium tuberculosis coinfection immunology: how does HIV-1 exacerbate tuberculosis. Infection and Immunity. 2011; 1407 -17.
Definisi Infeksi tuberkulosis laten (ITBL) adalah seseorang yang terinfeksi kuman M. Tuberculosis tetapi tidak menimbulkan tanda dan gejala klinik serta gambaran foto toraks normal dengan hasil uji imunologik seperti uji tuberkulin atau Interferon Gamma Release Assay (IGRA) positif. Istilah TB laten diciptakan Clemens von Pirquet yang mengembangkan uji tuberkulin tahun 1907. Istilah TB laten untuk menggambarkan anak-anak yang tidak menampakkan gejala TB tetapi memiliki respon positif terhadap uji tuberkulin. (PDPI, 2016; WHO, 2016)
Kelompok risiko terinfeksi TB atau TB laten Kontak erat dengan pasien TB aktif atau suspek TB Berada pada tempat dengan risiko tinggi untuk terinfeksi tuberkulosis (lembaga pemasyarakatan, fasilitas perawatan jangka panjang, dan tempat penampungan tunawisma) Petugas kesehatan yang melayani pasien tuberkulosis. Bayi, anak-anak, dan dewasa muda terpajan orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi TB aktif. Kelompok risiko tinggi TB laten menjadi TB aktif Infeksi HIV Bayi dan anak usia < 5 tahun Pasien dengan pengobatan immunoterapi misal ( TNF α ) antagonis, kortikostreroid sistemik, terapi immunosupresi pada transplantasi organ Pasien dengan riwayat terinfeksi tuberkulosis pada 2 tahun terakhir Pasien riwayat TB aktif tidak berobat atau berobat tidak adekuat, foto toraks terlihat fibrotik Pasien diabetes, silikosis, CKD, leukemia, limfoma atau kanker kepala, leher paru Pasien yang telah dilakukan operasi gastrektomi atau bypass usus halus Pasien yang berat badan nya < 90% berat ideal Tuna wisma, perokok, peminum alkohol atau penyalah gunaan obat Warga binaan lapas Petugas kesehatan (PDPI, 2016)
DIAGNOSIS TB LATEN Baik TST maupun IGRA dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi Infeksi TB laten TB aktif Tidak ada gejala Memiliki gejala: demam, batuk, nyeri dada, berat badan turun, keringat malam, hemoptisis, lemah dan nafsu makan menurun Uji tuberkulin atau IGRA positif Foto toraks normal Uji tuberkulin atau IGRA positif Foto toraks abnormal (bisa normal pada orang imunokompromis atau TB ekstraparu) Hasil pemeriksaan mikrobiologi dapat positif negatif (BTA, kultur dan Gene Xpert) ataupun negatif , termasuk pada TB ekstraparu TIdak dapat menularkan Perlu terapi pencegahan kondisi tertentu Dapat menularkan ke orang lain pada Perlu pengobatan sesuai standar terapi TB (PDPI, 2016)
Uji tuberkulin telah digunakan sejak lebih dari 100 tahun, merupakan pengukuran imunitas seluler delayed type hypersensitivity (DTH) terhadap purified protein derivative (PPD) tuberkulin, yang merupakan antigen berbagai mikobakteria termasuk M tb , BCG M bovis dan berbagai mikobakteria di lingkungan
Interferon–Gamma Release Assays (IGRAs) Pemeriksaan IGRA digunakan untuk menentukan TB laten dengan mengukur respons imun terhadap protein TB dalam darah. specimen dicampur dengan peptide untuk menstimulasi antigen dari M tuberculosis dibandingkan dengan kontrol. Pada orang yang terinfeksi TB sel darah putih akan mengenali antigen yang terstimulasi sehingga mengeluarkan IFN-γ, sehingga hasil pemeriksaan IGRA adalah berdasarkan jumlah IFN-γ yang dikeluarkan
Tabel 1. Faktor risiko reaktivasi ITBL Ai JW, Ruan QL, Liu QH, Zhang WH. Updates on the risk factors for latent tuberculosis reactivation and their managements. Emerging Microbes and Infections. 2016; 5: 1 -8.
Perbandingan Uji Tuberkulin dengan Uji Pelepasan Interferon-ɣ (IGRA) Karakteristik Performa & Operasional Uji Tuberkulin IGRA Perkiraan sensitivitas dengan TB aktif) (pada pasien 75 -90% (lebih rendah pada 75 -95% (pada pasien immunocompromised) immunocompromised data tidak adekuat, namun menjanjikan) Perkiraan spesifitas (pada populasi 75 -90% (< pada populasi yang 90 -100% (tetap sama pada pasien sehat yg tidak terpapar ataupun telah tervaksinasi BCG terutama yang telah mendapat vaksin BCG) bila vaksin BCG diberikan setelah terjangkit penyakit TB) bayi) Reaksi silang dengan BCG Ya Reaksi silang dengan infeksi tubercolusis mycobacteria non Ya Cenderung sering Cenderung terbatas sering, namun bukti Hubungan antara tes positif dan risiko Hubungan positif: sedang -kuat Tidak ada cukup bukti berikutnya TB aktif selama tindak lanjut Korelasi dengan Mycobacterium tuberculosis paparan Ya Ya (hubungan erat dengan paparan dibanding dengan uji tuberculin, namun tidak selalu)
Algoritma penatalaksanaan LTBI pada imunokompeten Lee SH, 2015
Algoritma penatalaksanaan LTBI pada immunocompromised. Lee SH, 2015
Karakteristik Performa & Operasional Uji Tuberkulin IGRA Manfaat mengobati hasil uji positif Ya (berdasarkan RCT) Tidak ada bukti Reabilitas Sedang dan bervariasi Bukti terbatas, namun cenderung tinggi; tidak ada bukti mengenai variasi subjek saat serial testing Fenomena peningkatan Potensial terjadi konversi dan reverse Efek samping Biaya bahan Jumlah visitasi pasien untuk mengikuti tes Ya Ya Jarang Rendah 2 kali Tidak Bukti terbatas Jarang Sedang – tinggi 1 kali Wajib menggunakan infrastruktur lab Tidak Waktu yang dibutuhkan untuk 2 -3 hari mendapatkan hasil Ya 1 -2 hari, namun lebih lama bila dilakukan berkelompok Wajib menggunakan personel terlatih Ya Ya
Hauck FR, Neese BH, Panchal AS, El-Amin W. Identification and management of latent tuberculosis infection. American Family Physician. 2009; 79: 879 -86.
• Interferon-gamma release assays tidak dapat membedakan antara TB aktif dan ITBL • Interferon-gamma release assays lebih baik dari TST untuk mengidentifikasi seseorang yang murni respons imun Mycobacterium tuberculosis • Domingques dkk tahun 2008 menyatakan pemeriksaan QFT-GIT tidak terpengaruh terhadap vaksinasi BCG dibandingkan TST • Pemeriksaan IGRAs membutuhkan waktu yang cepat dalam prosesnya dan dilakukan dalam laboratorium, serta mengikuti prosedur standar internasional • IGRA: pengukuran secara langsung respons sel T, tidak ada immune boosting, dan hanya memerlukan satu kali kunjungan pasien saja (Doberne 2011
• IGRAs saat ini tidak dapat dipakai untuk monitoring respons pengobatan TB atau ITBL. • Interferon-gamma release assays membutuhkan biaya yang masih mahal, dan tidak semua tempat mampu mengadakan pemeriksaan ini (ECDC 2011). • Pemeriksaan IGRAs sama halnya dengan TST dapat terganggu dengan rendahnya sensitivitas pasien kondisi imunodefisiensi berat. • Respons IFN-γ spesifik Mycobacterium tuberculosis menurun pada pasien imunosupresif karena anergi sel T (Brock 2006).
RESUME Infeksi tuberkulosis laten (ITBL) adalah seseorang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis tetapi tidak menimbulkan tanda dan gejala klinik serta gambaran foto toraks normal dengan hasil uji imunologi positif Diagnosis ITBL berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, sputum, ronsen toraks, uji tuberkulin dan atau Interferon Gamma Release Assay (IGRA) Harus diperhatikan faktor-faktor risiko individu untuk terinfeksi TB dan reactivation dari ITBL menjadi TB aktif. TST dan IGRA masing-masing mempunyai keunggulan dalam mendiagnosis ITBL
TERIMAKASIH
- Slides: 24