PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HYPNOTEACHING
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HYPNOTEACHING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMA OLEH: Nur Faiqmah Febriani 1684202031 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG 2020
• Pendidikan menjadi modal utama dalam membangun suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, pengetahuan akan semakin luas yang akan menjadikan suatu bangsa semakin maju. Pendidikan mampu mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi. • National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) 2012 menentukan standar matematika sekolah, yaitu: bilangan dan operasinya, aljabar, geometri, pengukuran, peluang dan analisis data, pemecahan masalah, penalaran, dan pembuktian, komunikasi, koneksi, dan representasi ( Dewi, Susanto, & Sri Le, 2015). • Branca (Sumarmo, 2010) mengemukakan bahwa pemecahan masalah matematis meliputi metode, prosedur, dan strategi yang merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika atau merupakan tujuan umum pembelajaran matematika, bahkan sebagai jantungnya matematika (Hendriana, Rohaeti, & Sumarmo, 2018)
Berdasarkan Observasi Terlihat bahwa siswa belum mampu memahami masalah, mengubah kedalam model matematika, dan siswa tidak mampu menyelesaikan masalah dengan tepat. Berdasarkan Wawancara Siswa masih kesulitan dalam memecahkan suatu masalah. Penggunaan model pembelajaran di sekolah juga diduga berpengaruh, pembelajaran yang kurang efektif dapat menimbulkan kebosanan, kurang paham terhadap materi yang diajarkan dan akhirnya dapat menurunkan motivasi peserta didik dalam belajar.
Diharapkan siswa dapat mengoptimalkan pembelajaran yang menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah matematis, namun memecahkan masalah siswa juga memerlukan suasana dan keadaan yang menyenangkan, adanya motivasi dan dorongan dari guru dalam membantu siswa semangat dalam menghadapi suatu masalah.
q Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis pada siswa q Pembelajaran Problem based Learning berbasis Hypnoteaching belum diterapkan di sekolah. q Pembelajaran matematika masih berpusat pada guru yang menjadikan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. q Kurangnya ketertarikan siswa terhadap bentuk persoalan matematika, khususnya soal cerita yang membutuhkan langkah-langkah pemecahan masalah.
Apakah terdapat pengaruh kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diberi model pembelajaran Problem Based Learning berbasis Hypnoteaching dengan pembelajaran konvensional?
Ø Manfaat Teoretis Ø Manfaat Praktis Secara praktis penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi banyak kalangan, baik untuk pihak sekolah, masyarakat atau orang tua murid maupun penulis sendiri pada khususnya. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini diantaranya: • Bagi Guru • Bagi Siswa • Bagi Sekolah • Bagi Peneliti
Kemampuan Pemecahan Masalah Polya (1973) mengemukakan bahwa pemecahan masalah adalah usaha mencari jalan keluar dari suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dapat dicapai (Hendriana, Rohaeti, & Sumarmo, 2018). Senthamarai (2016) mengemukakan bahwa pemecahan masalah merupakan jantung dari matematika sehingga dalam pembelajaran matematika penting untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah matematika dan menemukan solusi dari permasalahan sehari-hari (Chrisna , Hidayah, & Pujiastuti , 2015). Pemecahan masalah menurut Krulik, Rudrick & Milou (2003), adalah suatu proses yang dimulai dengan siswa menghadapi masalah sampai suatu jawaban (answer) diperoleh dan siswa telah menguji penyelesaiannya (solution) (Mairing , 2018)
Kemampuan Pemecahan Masalah Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah yang digunakan peneliti, Menurut Polya sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Memahami masalah Menyusun rencana penyelesaian Menyelesaikan masalah sesuai rencana penelitian Memeriksa kembali
Problem Based Learning (PBL) (Arrent, dkk, 2015) adalah suatu model pembelajaran pada materi tertentu yang berorientasi pada masalah yang dalam pelaksanaannya melalui tahapan menyajikan masalah, mengorganisasi untuk mendiskusikan masalah, membimbing penyelidikan, membimbing siswa mempresentasikan hasil dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Arismawati & W, 2017). Barrow mendefinisikan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah (Huda, 2017) Duch (1995) mengemukakan bahwa Problem based learning adalah model pembelajaran yang terdapat adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan (Shoimin, Model pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013, 2014)
Problem Based Learning Langkah-Langkah Problem Based Learning yang digunakan peneliti menurut Arends, sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Orientasi siswa pada masalah Mengorganisasi siswa untuk belajar Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Hypnoteaching Pengertian Hypnoteaching sendiri berasal dari kata hipnosis yang berarti mensugesti dan teaching yang berarti mengajar. Jadi hypnoteaching merupakan bentuk sikap dari seorang guru untuk mensugesti siswa dengan tujuan memberi pembelajaran yang baik sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa (Wati & Kusuma, 2016). Yustisia (2012) mengemukakan bahwa Hypnoteaching merupakan metode pembelajaran yang dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bahwa sadar yang bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri kepada anak didik (Yustisia, 2012, p. 75). Hypnoteaching menurut Astuti (2014) adalah merupakan cara yang kreatif, unik dan imajinatif karena guru mempersiapkan kegiatan pembelajarannya dengan memperhatikan aspek emosional dan psikologi peserta didik sekaligus memberikan sugesti kepada mereka melalui motivasi, cerita dan kata-kata positif agar peserta didik tergugah semangatnya (Shobirin & Syahlan , 2018).
Hypnoteaching Langkah –langkah Hypnoteaching yang digunakan peneliti, menurut Novian Triwidia Jaya yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Yelling Jam emosi : jam tenang, jam diskusi, jam lepas dan jam tombol Ajarkan dan puji Pertanyaan ajaib
Hipotesis Penelitian Postest H 0 : Tidak terdapat pengaruh kemampuan pemecahan masalah pada materi program linear antara siswa yang diberi model pembelajaran Problem Based Learning berbasis Hypnoteaching dengan siswa yang diberi metode konvensional. H 1 : Terdapat pengaruh kemampuan pemecahan masalah pada materi program linear antara siswa yang diberi model pembelajaran Problem Based Learning berbasis Hypnoteaching dengan siswa yang diberi metode konvensional.
Populasi Dan Sampel Tempat dan Waktu Penelitian SMA Negeri 13 Kab. Tangerang tahun ajaran 2020/2021 Populasi : Siswa/siswi SMA Negeri 13 Kab. Tangerang kelas XI IPS yang berjumlah: 138 yang terbagi oleh 4 kelas Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi experiment ini adalah Nonequivalent Control Group Design. Kelompok Perlakuan Posttest Eksperimental X Y’e Kontrol - Y’k Sampel : Kelas XI IPS A sebagai kelas kontrol yang berjumlah 34 siswa dan siswa kelas XI IPS B sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 34 siswa.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan tes tertulis berbentuk soal-soal uraian. Uji Validitas Uji Reabilitas Uji Taraf Kesukaran Uji Daya Pembeda Soal
Teknik Analisis Data • Penyajian Data = tabel distribusi frekuensi, histogram, polygon, dan diagram ogive. • Pemusatan Data = Mean, Median, Modus • Penyebaran Data = Rentang Data, Varians, Standar Deviasi Uji Prasyaratan Analisis • Uji Normalitas • Uji Homogenitas Uji Hipotesis • Uji Parametris = The Separate Model t-test dan The pooled Varians Model t-test • Uji Non Parametris = Uji Mann Whitney U-test.
Terima Kasih…
- Slides: 19