Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi Dosen Dr
Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya, dan Teknologi Dosen : Dr. Cik Suabuana, M. Pd Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia
Kelompok 6 Keanekaragaman Sosial, Budaya, dan Peradaban (Masalah Culture Shock) Anggota kelompok : Berlian Nurlianti (1003056) Diki Donyanto (1006023) Dini Syamsiah (1001797) Irma Wahyu Nurvian (1001973) Pita Arianti (1006212) Silmi Tilawati (1001427)
Kajian Teori Latar Belakang Pembahasan masalah Kesimpulan & Saran Foto-foto & Video Angket Faktor-faktor Penyebab Solusi
Latar Belakang Dalam kurun waktu terdekat ini kemajuan disegala aspek kehidupan menuntut masyarakat untuk terus Fenomena datangnya para pendatang di lembaga meningkatkan kemampuannya dengan menuntut ilmu. pendidikan khususnya pendidikan tinggi ini telah Berbagai macam lembaga pendidikan telah menggugah semangat penulis untuk melakukan riset bermunculan menawarkan berbagai pilihan kepada mengenai penyesuaian diri para mahasiswa yang masyarakat. Tidak menutup kemungkinkan adanya berasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Belitung, siswa ataupun mahasiswa yang datang dari budaya Padang, dan Papua di perguruan tinggi Universitas yang berbeda untuk belajar bersama-sama di tempat Pendidikan Indonesia Bandung-Jawa Barat yang mereka datangi. notebenenya berada diluar wilayah yang biasa ditinggali oleh para mahasiswa yang menjadi objek penelitian.
Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraiakan diatas, untuk memperoleh suatu kesimpulan yang jelas maka perlu adanya peumusan masalah yang tepat dan mampu membatasi agar pembahasan lebih ringkas. Rumusan masalah tersebut diantaranya sebagai berikut: 1. Apa faktor penyebab terjadinya culture shock atau gegar budaya? 2. Apa efek atau akibat dari terjadinya culture shock? 3. Bagaimana solusi dari permasalahan culture shock tersebut?
Pendekatan dan Metode Pendekatan yang digunakan dalam menyusun dan menganalisis serta mengkaji pembuatan makalah mengenai culture shock atau gegar budaya ini berdasarkan pendekatan multi aspek artinya dalam mengkaji setiap pembahasan kami menggunakan berbagai aspek seperti dari pendidikan, lingkungan, sosial, budaya, teknologi, dan aspek-aspek lainnya yang erat kaitannya dengan kasus yang dikaji. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode kuantitatif. Selain itu kelompok juga melakukan studi pustaka dan browsing internet dalam pengumpulan data yang berkaitan dengan culture shock.
Konsep Dasar Keanekaragaman Sosial Masyarakat merupakan suatu tempat terjadinya interaksi sosial antar individu dengan individu. Individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lainnya yang membentuk suatu masyarakat yang lebih luas dan komplek keberagaman masyarakat tercipta karena adanya perbedaan suku bangsa atau etnik, keanekaragaman ras, keanekaragaman agama, perbedaan jenis kelamin dan keanekaragaman profesi. Keanekaragaman masyarakat adalah merupakan suatu keragaman dalam berbagai aktifitas sosial di masyarakat dalam bidang agama, jenis kelamin, profesi, etnis, suku yang tid ak mempersoalkan tinggi dan rendahnya yang berkuasa dan yang dikuasai. bentuk Keragaman masyarakat merupakan salah satu indikator bahwa budaya semakin tinggi.
Konsep Budaya dan Keanekaragamannya Budaya dalam segi historis diartikan sebagai warisan yang diahliturunkan dari generasi ke generasi atau dari generasi satu kegenerasi berikutnya. Pakar kebudayaan Lehman, Himstreet dan Betty yang diperoleh dari situs (http: //carapedia. com/pengertian-definisi-budaya-menurut-para-ahliinfo 481/) menjelaskan bahwa: budaya diartikan sebagai “sekumpulan pengalaman hidup yang ada dalam masyarakat mereka sendiri”. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja sangatlah banyak dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan atau kepercayaan dari para sekumpulan masyarakat itu sendiri yang mendiami suatu wilayah tertentu. • Dari beberapa definisi budaya menurut para ahli diatas, bisa diambil kesimpulan tentang beberapa hal penting yang dicakup dalam arti budaya yaitu: • Sekumpulan pengalaman hidup, • Pemrograman kolektif, • Sistem sharing, dan • Tipikal karakteristik perilaku setiap individu yang ada dalam suatu masyarakat.
Konsep Peradaban Berdasarkan hasil study pustaka denagn browsing internet di situs yang dapat diakses di http: //refleksibudi. wordpress. com/2010/03/02/konsep-peradaban/ , kelompok menemukan pemahaman pearadaban dari beberapa tokoh, diantaranya yaitu : Will Durant yang mengemukakan bahwasannya peradaban merupakan “Tatanan sosial yang menggerakkan pencapaian prestasi intelektual, budaya manusia dalam empat unsur; ekonomi, sistem politik, etika dan iptek”. Dalam Situs lain yang dapat diakses di www. anneahira. com/pengertianperadaban. html kelompok menemukan informasi lain berkaitan dengan peradaban. Peradaban menurut webster dictionary diartikan sebagai kadaan atau suatu proses peradaban, kemajuan kehidupan sosial dan kebudayaan, kurun dari keidupan sosial tertenu atau seluruh dunia yang sudah maju. • Maka kelompok meyimpulkan ciri-ciri peradaban yaitu: • Adalah hasil pemikiran manusia • Perkembangan kearah yang lebih baik • Memberikan kemudahan • Mengandung unsur budaya didalamnya • Pemikiran yang didapat dari proses sosialisasi • Berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti
Masalah Culture Shock Berdasarkan riset dengan mengambil sample diantaranya adalah orang yang berasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Belitung, Padang serta Papua yang notabenenya merupakan daerah yang berada diluar Jawa Barat. Orang terbiasa dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya, dan orang cenderung suka dengan familiaritas tersebut. Familiaritas membantu seseorang mengurangi tekanan karena dalam familiaritas, orang tahu apa yang dapat diharapkan dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Maka, ketika seseorang meninggalkan lingkungannya yang nyaman dan masuk dalam suatu lingkungan baru, masalah komunikasi akan dapat terjadi. Menurut sumber dari internet dalam situs (repository. usu. ac. id), yang didalamnya mengulas tentang culture shock, salah satu pakar budaya Adler mendefiniskan bahwa: . . . culture shock sebagai suatu set reaksi emosional terhadap hilangnya penguat dari lingkungan individu tersebut, dan digantikan dengan stimulus kebudayaan baru yang memiliki sedikit arti, dan menyebabkan kesalahpahaman dengan kebudayaan baru, dan dapat menyebabkan perasaan tidak berdaya, mudah marah , dan ketakutakan di tipu, dilukai ataupun diacuhkan. Berbeda lagi, dari sumber (www. luciatriedyana. wordpress. com) menurut Deddy Mulyana mendasarkan bahwa: . . . gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami. kelompok menyimpulkan Culture shock/gegar budaya/kekagetan terhadap budaya baru merupakan suatu reaksi negatif terhadap berbagai segi kehidupan suatu masyarakat asing yang dirasakan rumit.
Foto-foto & Video Mahasiswi cilacap Video Mahasiswi Papua
Belitung
Jawa Tengah
jogyakarta
Padang
Papua
Bentuk Angket • Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya culture shock/gegar budaya/kekagetan terhadap budaya baru bagi mahasisiswa yang berbeda budaya di Universitas Pendidikan Indonesia. • Pilihlah sesuai dengan pendapat anda urutkan 3 faktor dari yang terkecil sampai yang terbesar: • Faktor agama • Faktor bahasa keseharian • Faktor ekonomi • Faktor teknologi • Faktor pergaulan • Faktor adat istiadat • Faktor sosiologis • Faktor geografis
Faktor penyebab culture schock No. Faktor penyebab Jumlah prosentase 1 0, 13 % 1. 1. Faktor bahasa keseharian 13 17, 30% 1. Faktor ekonomi 13 17, 30% 1. Faktor teknologi 14 18, 60% 1. Faktor pergaulan 23 33, 33% 1. Faktor adat istiadat 12 16% 1. Faktor geografis 14 18, 60% 90 100% Faktor agama Jumlah keseluruhan
Agama; 0. 13% Teknologi; 18. 60% Geografis; 18. 60% Bahasa; 17. 30% Ekonomi; 17. 30% Adat istiadat; 16. 00% Pergaulan; 33. 33%
Teknologi, 18. 60% Geografis, 18. 60% Adat istiadat, 16. 00% Pergaulan, 33. 33% Ekonomi, 17. 30% Bahasa Agama Bahasa, 17. 30% Agama, 0. 13% 0. 00% 5. 00% 10. 00% 15. 00% 20. 00% 25. 00% 30. 00% 35. 00%
Berdasarkan hasil akumulasi angket di atas, maka kelompok dapat mengurutkan faktor penyebab timbulnya “Masalah Culture shock” dari yang dominan hingga paling rendah, berikut ini penjabarannya: Faktor pergaulan Faktor teknologi Faktor geografis Dewasa ini perkembangan teknologi semakin melaju pesat. Perkembangan teknologi yang semakin mutakhir ini menyebabkan masyarakat harus selalu ingin berusaha untuk Pada faktor ini, individu cenderung mengikuti perkembangan teknologi agar Faktor geografis identik dengan keadaan mengalami ketakutan akan perbedaan mampu bersaing di dunia global. Teknologi juga geografis di daerah tersebut, . Faktor pergaulan disetiap tempat yang baru. merupakan faktor penting dalam Ketakutan ini menjadikan individu merasa geografis ini merupakan faktor lingkungan mempengaruhi timbulnya masalah culture canggung dalam menghadapi situasi yang secara fisik, misalnya perbedaan cuaca, shock. Individu merasa takut tidak bisa baru, tempat tinggal yang baru dan suasana perbedaan letak wilayah seperti daerah mengikuti perkembangan teknologi di tempat pantai dengan daerah pegunungan. Hal ini yang baru. Akibat ketidak pahaman tinggal barunya sehingga individu cenderung akan menyebabkan individu tersebut mengenai pergaulan ini, individu juga akan merasakan ketakutan. Individu disini mengalami gangguan kesehatan. merasa terasing dengan orang-orang dituntut untuk berpikir keras bagaimana disekelilingnya yang dirasa baru baginya. caranya untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi serta mampu mengaplikasikannya dikehidupannya.
Faktor bahasa keseharian Faktor ekonomi Faktor adat istiadat Faktor ini merujuk pada Faktor agama Ketakutan terhadap biaya hidup tradisi-tradisi yang biasa berbeda yang memiliki Bahasa merupakanyang cerminan dilakukan oleh masyarakat kemungkinan lebih tinggi dari sebuah kebudayaan yang Agama dianggap sebagai di setiap daerah yang beradab. Bahasa merupakan tidak bisa salah satu faktor salah satu penghambat notebene memiliki ciri khas penyebab timbulnya culture dianggap dengan sebelah mata individu shock. yang Ini merupakan hal umum kebudayaan yang berbeda dalam usahanya dewasa ini. Individu menyesuaikan di tempat yang terjadi bahwa setiap mengalami kekagetan satu sama lain. Untuk itu daerah di negara Indonesia terhadap budaya baru sering tinggal yang baru. individu harus mampu memiliki kali dihubungkan dengankemampuan konsumsi mengalami beradaptasi dengan. Individu adat yang berbeda-beda. Perbedaan faktor bahasa sebagai salah istiadat di daerahnya yang ketakutan tersendiri inilah yang menyebabkan satu ketakutan yang cukup baru. Namun beradaptasi terhadap agama yang individu guncang ketika besar ketika akan menetap dengan adat istiadat yang perbedaan yang dihadapkan ditempat yang baru. Tidak pada permasalahan menjadi baru bukanlah hal yang tempat tinggal yang baru. menguasai atau bahkan tidak sangat rentan dan tidak Individu harus mulai berusaha, mudah bagi seorang mengerti sama sekali bahasa bisa disatukan dengan bersiap merupakan suatu hal yang serta berwaspada pendatang, maka individu mudahnya. mengantisipasi agar mampu wajar yang menyebabkan cenderung mengalami bertahan tinggal timbulnya culture shock. hidup ditempatkekagetan budaya terutama yang baru. dalam hal adat istiadat tersebut.
Solusi Pemecahan Masalah Culture shock Dari bebrapa faktor penyebab terjadinya culture shock, kelompok merumuskan solusi untuk mengatasinya. Antara lain yaitu : Individu harus belajar membiasakan diri beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan barunya, dengan pembiasaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri Faktor teknologi dari individu tersebut dalam bersosialisasi dengan orang-orang dan lingkungan barunya tersebut. Dewasa seseorang ini teknologi semakin berkembang pesat dikalangan Pergaulan yang baik akan membuat lebih banyak, semakin pesat teknologi berkembang maka mudah menjalani kehidupanorang sosialnya. Faktor pergaulan orang-orang dituntut untuk semakin keras mempelajari dan mengaplikasikan teknologi yang ada dalam kehidupannya. Seorang individu yang berada di lingkungan baru baginya pasti akan merasakan perbedaan teknologi yang berkembang di lingkungan tersebut, terlebih lagi apabila individu yang berasal dari daerah pelosok kemudian datang ke daerah yang cukup pesat perkembangan teknologinya.
Faktor geografis dalam persentasenya memperoleh 18, 60% dari keseluruhan total faktor penyebab terjadinya culture shock. Karena faktor geografis ini berkaitan erat dengan kondisi fisik lingkungan maka hal ini dapat diatasi dengan cara individu lebih menjaga kesehatan yang cenderung menurun ketika individu tersebut tinggal di suatu tempat tinggal yang baru, yang tentunya jauh berbeda dengan tempat tinggal semula. Pencegahan yang baik perlu dilakukan secara terus menerus agar individu tetap berada di kondisi yang prima dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Bahasa memiliki prosentase sebesar 17, 30% dari Faktorkeseharian bahasa keseluruhan faktor penyebab terjadinya culture shock. Untuk keseharian mengatasinya kelompok memberikan solusi diantaranya yaitu dengan menumbuhkan kemauan belajar bahasa kepada setiap individu ketika tinggal ditempat yang baru. Kemauan belajar bahasa tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada teman yang memang berasal dari daerah tersebut untuk mengajarkan bahasa keseharian di daerah tersebut.
Faktor ekonomi ini dapat diatasi dengan cara pengelolaan keuangan yang baik sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, agar individu dapat menyesuaikan pemasukan keuangan dengan pengeluarannya. Pada saat proses pendidikan alan lebih Pada dasarnya kebudayaan individu melekatnya juga melakukan program Faktor adat istiadat baiknya terhadap seorang membutuhkan saving money, untukindividu mengatasi kebutuhan proses dan waktu, semua tidak terjadi tidak terduga. begitu saja. Solusi menurut kelompok adalah individu harus lebih membuka dirinya terhadap adat istiadat, kebiasaan, tingkah laku yang umumnya terjadi Faktor agama yang. Dengan menyebabkan terjadinya dimasyarakat. cara tersebut culturediharapkan shock ini hanya mendapat individu dapat lebih persentase sebesarterjadinya 0. 13 %. Artinya faktor menghindari culture agama tersebut dianggapbudaya. tidak terlalu shock/gegar mendominasi terjadinya culture shock. Solusinya yaitu individu harus lebih meningkatkan sikap toleransinya antar umat beragama. Faktor ekonomi
Kesimpulan Berdasarkan hasil riset penyusun menyimpulkan bahwasannya culture shock atau gegar budaya merupakan sebuah istilah psikologis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Faktor yang mendominasi terbanyak adalah faktor pergaulan dengan persentase 33, 33%. Disusul dengan faktor teknologi yang mendapatkan persentase sama dengan faktor geografis yaitu 18, 60%, kemudian dibawahnya ada faktor bahasa keseharian dan faktoe ekonomi dengan perolehan sebesar 17, 30% dan kemudian faktor adat istiadat dengan persentase 16%dan terahir faktor agama sebesar 0, 13%. Individu yang mengalami culture shock akan merasa berbeda dan kurang memahami keadaan sekitarnya. Seseorang yang mengalami culture shock dapat digambarkan bagai orang yang kebingungan dalam berhubungan dengan lingkungannya. Culture chock/gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama.
Saran Bedasarkan hasil riset, penyusun memiliki rekomendasi yang dapat digunakan sebagai alternatif pemecahan masalah dalam menangani kasus culture schock tersebut. Hasil riset kelompok menemukan bahwa keterlibatan individu dalam berbagai organisasi akan sangat membantu individu untuk mengatasi culture shock dengan memberikan dukungan sosial dan memampukan individu untuk melakukan penyesuaian budaya. Kelompok pun menjabarkan bebarapa kegiatan yang dapat mengatasi gejala-gejala gegar budaya atau culture schock ini dengan menyarankan hal-hal berikut ini untuk mengatasinya yaitu antara lain: 1. Ketika individu akan masuk kedalam dunia yang terbilang asing maka alangkah lebih baiknya individu melakukan pencarian data atau pengetahuan berkaitan dengan tempat yang dimaksudkan. Hal ini ditujukan agar individu merasa tenag dengan sedikit memiliki info/pengetahuan sehingga dapat dijadikan pedoman ketika telah benar-benar berada dalam lingkungan yang baru tersebut. 2. Bersikap terbuka dengan menerima kebudayaan yang baru, lingkungan pergaulan yang baru serta mencoba mnyesuaikan diri dengan baik agar tumbuhlah perasaan nyaman yang menjadikan individu tidak akan mengalami kecemasan yang berkelanjutan. 3. Bersosialisasi dengan baik sesama teman dengan tidak membedakan budaya, suku serta adat yang berbeda. 4. Berteman dengan siapapun yang mau membantu dalam penyesuaian diri di lingkungan baru tersebut. 5. Mencoba berinteraksi lebih dekat lagi dengan masyarakat luas dan pelan-pelan meta permahami karakteristik serta perilaku kebiasaan sehari-hari yang membudaya. 6. Bersedia untuk belajar kultur yang baru. Individu perlu menyadari bahwa kultur bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi sesuatu yang dipelajari. Hal yang dibawa sejak lahir adalah kemampuan individu untuk belajar kultur, apapun kultur itu. Oleh karena itu, kesediaan untuk belajar kultur yang baru akan membantu untuk mengatasi kesalahpahaman dan menolong teratasinya persoalan-persoalan sosial di tempat yang baru.
PERTANYAAN 1. Santi S (0700391) Keterkaitan antara jumlah angket dengan jumlah responden? Mengapa menampilkan ketiga diagram? 2. Citra A (1000307) Apakah ada dampak yang terjadi ketika individu kembali ke daerah asalnya? Bagaimana dengan dampak psikis? 3. Dera F (1000854) Sinkronisasi antara kesimpulan dari pengertian culture shock dengan faktor penyebab yang paling dominan? 4. Astrid J () Bagaimana dampak individu terhadap pergaulan dari daerah baru ke daerah asalnya?
- Slides: 28