Patofisiologi Penyakit Saluran Cerna Atas KHAIRIZKA CITRA PALUPI

  • Slides: 23
Download presentation
Patofisiologi Penyakit Saluran Cerna Atas KHAIRIZKA CITRA PALUPI, S. GZ, MSC, RD

Patofisiologi Penyakit Saluran Cerna Atas KHAIRIZKA CITRA PALUPI, S. GZ, MSC, RD

Anatomi Dan Fisiologi Saluran Cerna Atas

Anatomi Dan Fisiologi Saluran Cerna Atas

Anatomi Dan Fisiologi Saluran Cerna O Saluran cerna : pipa panjang sekitar 15 kaki

Anatomi Dan Fisiologi Saluran Cerna O Saluran cerna : pipa panjang sekitar 15 kaki atau 450 cm O Saluran cerna atas : mulut, faring, esofagus dan lambung. O Saluran cerna bawah : usus halus (yang terdiri dari duodenum, jejunum, ileum) dan usus besar/kolon. O Organ tambahan : hati, sistem bilier, dan pankreas.

Fungsi Saluran Cerna O Saluran cerna atas mempunyai fungsi motilitas, sekresi, digesti dan absorpsi

Fungsi Saluran Cerna O Saluran cerna atas mempunyai fungsi motilitas, sekresi, digesti dan absorpsi O Motilitas adalah pergerakan makanan yang dikonsumsi di sepanjang saluran cerna. O Dorongan kontraksi dan gerakan pencampuran berfungsi tidak hanya untuk menggerakkan makanan ke arah lokasi tempat digesti dan absorpsi, tetapi mencampur makanan dan sekresi pencernaan serta memaksimalkan absorpsi yang potensial. O Sekresi dari saluran cerna termasuk air, elektrolit, enzim, garam empedu dan mukus.

Fungsi Saluran Cerna O Digesti, molekul kompleks dikonversi menjadi bentuk sederhananya. O Karbohidrat dicerna

Fungsi Saluran Cerna O Digesti, molekul kompleks dikonversi menjadi bentuk sederhananya. O Karbohidrat dicerna dari bentuk kompleksnya polisakarida menjadi bentuk monosakarida seperti glukosa, fruktosa, galaktosa. O Protein dikonversi dari polipetida menjadi asam amino, dipeptida dan tripeptida. O Lipid dicerna menjadi bentuk sederhananya seperti asam-asam lemak bebas, mogogliserida, gliserol, fosfolipid dan kolesterol. O Setelah dicerna, tiga molekul dasar tersebut diabsorpsi bersama air, elektrolit, vitamin dan mineral untuk menyediakan zat gizi esensil bagi setiap sel.

Anatomi dan Fisiologi Esofagus Normal O Esofagus adalah suatu pipa lurus dengan panjang sekitar

Anatomi dan Fisiologi Esofagus Normal O Esofagus adalah suatu pipa lurus dengan panjang sekitar 25 cm dan diameter 2 cm. O Esofagus memiliki otot-otot sphincter di ujung-ujungnya. Dinding esofagus terdiri dari empat lapisan jaringan, mukosa, submukosa, otot dan jaringan penghubung. Seorang individu secara tidak sadar menelan sebanyak 600 kali setiap hari. O Setiap proses menelan terdiri dari empat fase. O Fase pertama adalah oral preparatory phase, dimana makanan dikunyah dan dicampur dengan saliva. O Fase kedua adalah oral transit phase, dimana terjadi gerakan sukarela dari bolus makanan dari bagian depan rongga mulut ke belakang. O Fase ketiga disebut pharyngeal phase. Bagian terpenting pada fase ini adalah untuk memastikan bolus makanan diarahkan menuju esofagus dan mencegah masuk ke trakea. O Fase keempat dari proses menelan adalah esophageal phase. Upper esophageal sphincter (UES) atau pharyngoesophageal sphincter berlokasi di bagian atas esofagus. Sphincter ini, ketika terbuka, membiarkan bolus makanan masuk ke esofagus. Saat spinchter tertutup, hal ini mencegah udara selama bernafas masuk ke saluran cerna. Setelah bolus makanan bergerak melalui UES menuju esofagus, sphincter menutup dan bernafas normal dapat terjadi kembali.

O Ketika fase esofageal mulai, kontrol otonom menginisiasi gerakan peristaltik yang menggerakkan bolus makanan

O Ketika fase esofageal mulai, kontrol otonom menginisiasi gerakan peristaltik yang menggerakkan bolus makanan turun dari esofagus ke lambung. O Mukus disekresi oleh esofagus melumasi bolus makanan. Di ujung bawah esofagus, lower esophageal sphincter (LES) mengontrol pelepasan bolus makanan dari esofagus ke lambung. O LES berfungsi sebagai suatu penghalang yang melindungi mukosa esofageal dari isi lambung, agar tidak naik kembali ke esofagus. Proses menelan selesai ketika bolus makanan melewati LES. O Pada kondisi normal fase Phrayngeal dan esophageal pada proses menelan berkisar antara 6 – 10 detik saja.

O Bagian akhir dari saluran cerna bawah adalah lambung. O Lambung terdiri dari fundus,

O Bagian akhir dari saluran cerna bawah adalah lambung. O Lambung terdiri dari fundus, korpus, antrum, pilorus. O Bagian lambung yang berhubungan esofagus dan duodenum disebut sphincter. Sphincter pada kedua ujung lambung mengatur aliran makanan dari esofagus dan ke usus halus (intestin). O Fungsi utama lambung meliputi 4 proses, yaitu motilitas, sekresi, digesti dan absorpsi.

Motilitas Lambung O Proses motilitas lambung termasuk pengisian lambung, penyimpanan makanan, pencampuran cairan lambung,

Motilitas Lambung O Proses motilitas lambung termasuk pengisian lambung, penyimpanan makanan, pencampuran cairan lambung, dan terakhir pengosongan lambung menuju usus halus. O Saat kosong, volume lambung hanya sekitar 50 m. L, tetapi lambung dapat membesar sampai kapasitas lebih dari 1000 m. L. O Penyimpanan terjadi terutama di bagian badan lambung atau korpus. O Pencampuran terjadi di bagian antrum.

Sekresi Lambung O Lambung mensekresi sekitar 1 sd 3 liter cairan lambung setiap O

Sekresi Lambung O Lambung mensekresi sekitar 1 sd 3 liter cairan lambung setiap O O harinya. Cairan lambung terdiri dari air, mukus, HCl, enzim-enzim, dan elektrolit. Mukosa, yang melapisi fundus dan badan lambung, mengandung kelenjar-kelenjar. Beberapa jenis sel berbeda berlokasi di kelenjar lambung. Mukus sel mensekresi mukus, yang melindungi lapisan lambung dari kerusakan mekanis dan asam. Chief cells mensekresi zimogen pepsinogen dan enzim gastric lipase. Sel-sel parietal mensekresi asam hidroklorida (HCl) dan faktor intrinsik. HCl berfungsi mengaktifkan pepsinogen, membunuh mikroorganisme, dan mendenaturisasi protein. Faktor intrinsik adalah suatu protein yang penting untuk absorpsi vitamin B 12.

Digesti dan Absorpsi Lambung O Digesti atau pencernaan di lambung adalah secara mekanik dan

Digesti dan Absorpsi Lambung O Digesti atau pencernaan di lambung adalah secara mekanik dan kimia. Dari tiga zat gizi makro, protein merupakan zat gizi yang oaling aktif dicerna di lambung, karbohidrat dan lemak sangat terbatas. O Absorpsi di lambung terbatas, tidak ada makanan yang diabsorpsi hanya sebagian kecil air diabsorpsi. Pengecualian untuk alkohol dan bebearpa obat. O Sebagian besar obat diabsorpsi di usus halus, kecuali acetylsalicylic acid (aspirin) dapat masuk ke sel-sel epitelial mukosa lambung

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) O GERD terjadi sebagai

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) O GERD terjadi sebagai hasil dari refluks atau kembalinya isi gaster atau lambung ke esofagus. O Lower esophageal sphincter (LES) secara normal berfungsi sebagai penghalang antara esofagus dan lambung. O Tanda-tanda dan gejala-gejala berhubungan dengan refluks asam lambung dan pepsin, dan terjadi selama relaksasi LES. O Periode ini terjadi diluar periode menelan dapat distimulasi oleh adanya makanan di lambung setelah makan. O Etiologi atau penyebab dari refluks adalah multifaktor dan dapat meliputi faktor fisik dan gaya hidup. O Faktor yang dapat menurunkan tekanan LES dan berkontribusi terhadap ketidakmampuan LES adalah : 1) peningkatan sekresi hormon gastrin, estrogen dan progesteron; 2) adanya kondisi medis seperti hiatal hernoa, scleroderma atau obesitas; 3) merokok; 4) penggunaan obat-obatan termasuk dopamin, morfin, dan theophylline; 5) makanan tertentu. Makanan tinggi lemak, coklat, peppermint, alkohol, kafein, semuanya dapat menurunkan tekanan LES.

O Gejala GERD meliputi disfagia (kesulitan menelan), heartburn (rasa panas terbakar di esofagus) peningkatan

O Gejala GERD meliputi disfagia (kesulitan menelan), heartburn (rasa panas terbakar di esofagus) peningkatan produksi saliva, dan bersendawa. O Pada beberapa kasus, rasa nyeri hebat dapat menjalar ke punggung, leher, atau rahang. Gejala yang mirip pada penyakit jantung. Untuk sebagian pasien rasa nyeri bertambah buruk saat malam hari ketika berbaring tidur. O Komplikasi pada GERD yang tidak terkontrol dapat berupa gangguan menelan, aspirasi isi lambung ke paru-paru, ulkus, dan perforasi atau striktur di esofagus. O Terapi untuk GERD ada tiga tujuan: 1) meningkatkan kemampuan LES; 2) menurunkan keasaman lambung, sehingga menurunkan gejala; 3) meningkatkan pengosongan makanan di esofagus. Pembedahan akan diperlukan jika komplikasi bertabah parah dan obat-obatan tidak dapat direspon dengan baik oleh pasien.

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Disfagia atau kesulitan menelan adalah suatu gejala yang

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Disfagia atau kesulitan menelan adalah suatu gejala yang disebabkan oleh berbagai gangguan. O Gejala tergantung dari gangguan menelan yang terjadi. Jika masalah terjadi pada fase oral preparation, makanan dapat tersimpan di buccal mucosa (area pipi) karena penderita tidak dapat menggerakkan bolus makanan secara efektif dari bagian depan rongga mulut ke area faring. O Gejala umum lainnya termasuk mengeluarkan air liur, batuk, dan tersedak. Banyak penderita mengalami kehilangan berat badan malnutrisi karena asupan gizi yang inadekuat. O Aspirasi atau inhalasi dari isi oropharyngeal merupakan kompllikasi utama dari disfagia. Ini yang dapat menyebabkan aspirasi pneumonia yang menyertai infeksi dan ini yang menjadi alasan direkomendasikannya dukungan gizi dalam bentuk makanan enteral. O Diagnosa dan terapi disfagia melibatkan banyak anggota dari tim kesehatan, seperti dokter, perawat, terapis wicara, dietisien, terapis fisik, dan terapis okupasi.

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Indigesti atau dispepsia, bukan suatu kondisi khusus. Sebagian

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Indigesti atau dispepsia, bukan suatu kondisi khusus. Sebagian besar orang menggunakan istilah “indigesti” untuk menunjukkan sekumpulan gejala yang meliputi nyeri abdomen, perut terasa penuh, bergas, kembung, bersendawa, mual, atau kadang termasuk refluks gastroesofageal. O Nausea/Mual dan Muntah O Nausea adalah sensasi tidak nyaman yang menunjukkan adanya keinginan untuk muntah. Muntah adalah keluarnya isi lambung.

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastritis merupakan inflamasi atau peradangan mukosa lambung. O

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastritis merupakan inflamasi atau peradangan mukosa lambung. O Kondisi ini bukan gangguan tunggal dan dapat sebagai hasil dari sejumlah kondisi. O Pada kondisi normal, mukosa lambung terlindungi dari gangguan. Produksi mukus sebagai penghalang yang mencegah kerusakan sel-sel. Gastritits akut disebabkan iritasi lokal dari mukosa lambung. O Iritasi ini dapat disebabkan karena infeksi, seperti Helicobacter pylori (H. pylori), keracunan makanan konsumsi alkohol, atau obat-obatan seperti nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs). O Gejala gastritis termasuk bersendawa, anoreksia, nyeri abdomen, muntah, dan pada kasus yang parah, pendarahan dan hematemesis.

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastritis kronis biasanya diklasifikasi berdasarkan etiologinya atau bagian

Penyakit Pada Saluran Cerna Atas O Gastritis kronis biasanya diklasifikasi berdasarkan etiologinya atau bagian dari lambung yang terkena. O Gastritis kronis tipe A melibatkan fundus dan berhubungan dengan proses autoimun, yang menghasilkan pembentukan antibodi melawan sel-sel parietal. Gastritis kronis tipe A juga terjadi dengan anemia pernisiosa. O Gastritis kronis tipe B disebabkan atropi mukosa lambung dan paling sering berhubungan dengan infeksi dari H. pylori. O Insiden gastritis kronis meningkat dengan usia dan sering terlihat dengan achlorhydria. Achlorhydria berhubungan denan implikasi gizi termasuk malabsorpsi B 12, zat besi dan kalsium.

O Penyakit Ulkus Peptikum (UP) O Ulkus Peptikum merupakan luka atau borok dari mukosa

O Penyakit Ulkus Peptikum (UP) O Ulkus Peptikum merupakan luka atau borok dari mukosa lambung atau duodenum yang dapat menembus submukosanya. O Ulkus Peptikum biasanya terjadi di bagian antrum dari lambung atau beberapa sentimeter bagian awal duodenum. O Sekitar 92% ulkus duodenum dan 70% ulkus lambung disebabkan oleh H. pylori. O Etiologi juga termasuk faktor-faktor yang dapat menurunkan integritas mukosa, seperti penurunan perlindungan dari prostaglandins karena penggunaan obat NSAIDs (seperti. , ibuprofen) atau alkohol, kelebihan sekresi glucocorticoid atau obat steroid dan faktor-faktor yang menurunkan suplai darah, seperti merokok, stres atau shock. O Faktor-faktor yang meningkatkan sekresi asam, termasuk makanan tertentu, pengosongan lambung yang cepat, atau peningkatan sekresi lambung, juga berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ulkus peptikum.

O Gambar di bawah ini memperlihatkan ulkus pada lambung atau duodenum dan sudah menembus

O Gambar di bawah ini memperlihatkan ulkus pada lambung atau duodenum dan sudah menembus submukosa. Dapat dibayangkan masalah makan yang mungkin dialami oleh pasien ulkus peptikum