Patofisiologi gangguan homeostasis kelainan sirkulasi cairan tubuh dan
Patofisiologi gangguan homeostasis, kelainan sirkulasi, cairan tubuh dan asam basa PERTEMUAN 7 Dr. NOOR YULIA MM PRODI ILMU KESEHATAN & FAKULTAS RMIK
KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN • Mahasiswa mampu untuk memahami gangguan homeostasis, • Mahasiswa mampu menguraikan proses kelainan sirkulasi cairan tubuh • Mahasiswa mampu menguraikan proses gangguan asam basa
PENDAHULUAN • Homeostasis adalah keadaan dimana tubuh mempertahankan lingkungan internal yang stabil untuk berfungsi nya tubuh. • Adalah upaya tubuh untuk mempertahankan lingkungan internal konstan penyesuaian sebagai perubahan kondisi tubuh • Memelihara lingkungan internal yang konstan, mengharus kan tubuh untuk membuat banyak penyesuaian dalam tubuh disebut sebagai regulasi homeostasis. • Semua sistem organ tubuh bekerja sama untuk mempertahankan homeostasis dalam tubuh.
Pengertian homeostasis • adalah suatu kondisi keseimbangan internal yang ideal/ konstan , di mana semua sistem tubuh bekerja dan berinteraksi dalam cara yang tepat untuk memenuhi semua kebutuhan dari dalam tubuh. • Ketika homeostasis terganggu (sebagai respon terhadap stressor), tubuh mencoba untuk mengembalikannya dengan menyesuaikan satu atau lebih proses fisiologis dari mulai pelepasan hormon-hormon sampai reaksi fisik (seperti berkeringat atau terengah-engah). • Contoh: – Kenaikan atau penurunan suhu tubuh mencerminkan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan homeostasis,
Mekanisme homeostatis • Mekanisme ini diatur oleh otak terutama oleh hipotalamus, • Hipotalamus bila terangsang akan merangsang koordinasi tubuh. • Proses mekanisme homeostasis akan terjadi terus menerus hingga lingkungan dinamis dalam tubuh berada pada kondisi yang normal • Koordinasi yang terlibat ialah: – Koordinasi kimia – > hormon – Koordinasi saraf - -> impuls saraf
• Beberapa proses yang terlibat pada mekanisme homeostasis ialah: – Proses Umpan balik positif ( feedback positif ) -> Contoh demam , badan akan bertambah panas untuk membunuh bakteri dan virus – Proses Umpan balik negatif ( feedback negatif ) -> contoh : keadaan cuaca panas, badan akan diatur untuk mengurangi panas badan. kulit akan merespon dengan mengeluarkan keringat melalui kelenjar keringat pada epidermis kulit , untuk mencegah suhu darahnya meningkat, pembuluh darah akan melebar atau vasodilatasi untuk mengeluarkan panas ke sekitarnya menyebabkan kulit berwarna kemerahan
Regulasi homeostatis • terdiri dari tiga bagian: – Reseptor : menerima informasi tentang perubahan yang terjadi di lingkungan – Pusat kontrol : melakukan proses atas informasi yang diterima – Efektor : mengeksekusi perintah dari pusat kontrol dengan membuat perubahan respon untuk mengembalikan ke keadaan semula
• Contoh : – regulasi hormon insulin : bila kadar glukosa dalam darah berkurang , hati akan dirangsang oleh insulin untuk mengubah glikogen yang disimpan dihati menjadi glukosa yang akan digunakan sebagai sumber energi (tenaga ) untuk kontraksi otot. – Pada saat reseptor pembuluh darah terangsang akibat tekanan yang berlebih akan memberi informasi ke otak agar memperlambat kontraksi pada jantung dan sebaliknya akan terjadi pada saat tekanan darah menurun.
Berbagai Faktor dalam Lingkungan Internal yang membantu tubuh mengatur mempertahankan homeostasis 1. Suhu: – Otot berkontraksi untuk menghasilkan panas dalam tubuh. – Ketika suhu tubuh lebih besar dari lingkungan, kulit kehilangan panas. – Penguapan merupakan sarana pendinginan suhu tubuh dan menyingkirkan kelebihan panas. – Sistem pembuluh darah memungkinkan kelebihan panas meloloskan diri dan mendinginkannya. 2. Osmoregulasi: – Osmoregulasi pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh. – Tubuh memastikan bahwa kadar air dalam tubuh tidak menjadi terlalu encer atau terlalu terkonsentrasi. – Ginjal membuang ion berlebih dari darah -> diekskresikan sebagai urin dan mempengaruhi tekanan osmotik.
3. Glukosa : – Glukosa didalam tubuh juga diatur untuk mempertahankan homeostasis. – Pankreas mengeluarkan dua hormon penting untuk mengatur kadar gula darah yaitu glukagon dan insulin. – Peningkatan kadar gula merangsang pankreas untuk melepaskan insulin -> glukosa disimpan dalam sel-sel tubuh disimpan sebagai glikogen akibatnya kadar gula darah dalam tubuh diturunkan. – Ketika kadar gula darah mencapai titik rendah, glukagon dilepaskan dari pankreas menyebabkan pelepasan glikogen dari sel-sel tubuh yang diubah menjadi glukosa meningkatkan kadar gula darah.
4. Kalsium: – Kelenjar paratiroid mengeluarkan PTH (para tyroid hormon ) yang bekerja meningkatkan kadar kalsium darah dengan pelepasan kalsium dari sel tulang. – Sel C di kelenjar tiroid, mengeluarkan kalsitonin yang membantu penyerapan kalsium ke dalam tulang. 5. Keseimbangan Cairan: – Pemeliharaan homeostasis memerlukan keseimbangan yang memadai cairan dalam tubuh. – Keseimbangan cairan ini mencakup peningkatan atau menghilangnya cairan. – Hormon antidiuretik (ADH) dan aldosteron dua hormon utama yang membantu menjaga keseimbangan cairan.
Peran Sistem Organ tubuh dalam Mempertahankan Homeostasis • Ada 10 sistem organ utama dalam tubuh manusia yang masing-masing memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan dalam tubuh. • Semua sistem bekerja bersamaan untuk mempertahankan homeostasis
1. Sistem Integumen, otot dan rangka: Ketiga sistem bekerja sama untuk mempertahankan homeostasis a. Sistem Integumen terdiri dari kulit, kuku, rambut dan kelenjar. • Fungsi utama adalah melindungi tubuh dari infeksi asing dan pengaturan panas. b. Sistem otot terdiri dari otot rangka, otot polos dan otot jantung. • terlibat dalam kegiatan kontraksi dan relaksasi untuk pergerakan seperti berjalan, berlari, bernapas dsb c. Sistem kerangka terdiri dari semua tulang, ligamen, jaringan ikat dan tendon. • melibatkan sikap yang tepat dari tubuh dan bergerak. • Sistem otot dan rangka bekerja sama, Sistem integumen menutupi sistem tersebut dan membantu tubuh untuk mendinginkan seperti kulit melebarkan dan menyingkirkan kelebihan panas.
2. Sistem kardiovaskular = sistim peredaran darah : • Bertanggung jawab untuk sirkulasi darah ke seluruh tubuh. • Produk limbah dibuang dan transportasi hormon dan nutrisi ke seluruh tubuh • sistem peredaran darah memasok nutrisi, oksigen dan pembuangan produk limbah berbagai sistim didalam tubuh. • Sistem ini bekerja erat dengan semua sistem lain untuk mempertahankan homeostasis.
3. Sistem Pernapasan: • saluran pernapasan menyediakan oksigen ke sistem peredaran darah dan bekerja bersama-sama dengan sistem peredaran darah. • Pernafasan juga bertanggung jawab untuk menghilangkan limbah dari proses metabolisme. • Pasokan oksigen dan pembuangan limbah yang dihasilkan oleh respirasi sel membantu mempertahankan homeostasis dalam tubuh.
4. Sistem Limfatik dan Pencernaan: a. Sistem limfatik suatu sistem kekebalan tubuh • bertanggung jawab untuk melindungi tubuh dari invasi asing. • organ-organ pada sistem limfatik : Getah bening( limfe), kelenjar getah bening( nodus limfatikus) , pembuluh, tonsil (amandel), timus dan limpa b. Sistem pencernaan • bertanggung jawab untuk mencerna makanan dan penyerapan nutrisi dari zat makanan. • Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus besar dan usus kecil. anus • Penyerapan zat dari sistem pencernaan juga terjadi melalui sistem limfatik --> salah satu cara mempertahankan homeostasis.
5. Sistem urin: • Sistem ini terutama bertanggung jawab untuk menyingkirkan limbah berlebih dalam tubuh dan mengatur cairan tubuh serta menjaga Keseimbangan elektrolit dalam tubuh • Menjaga jumlah sel darah merah dalam tubuh dan tingkat p. H optimum dalam darah.
6. Sistem endokrin: • Sistem endokrin mengeluarkan berbagai hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. • Salah satu proses tubuh yang diatur oleh sistem endokrin adalah proses metabolisme berbagai sistem utama dari tubuh seperti sistem saraf, sistem peredaran darah, sistem otot untuk mencapai homeostasis.
7. Sistem Saraf: • Terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. • Hipotalamus dalam otak adalah yang utama dalam mempertahankan homeostasis. • Sistem saraf otonom bertanggung jawab untuk mengendalikan semua organ-organ di dalam tubuh • Kelenjar pituitary (master gland ) mengontrol semua kelenjar lain dalam tubuh. • Sistem saraf mengatur semua sistem lain dalam tubuh untuk mempertahankan homeostasis.
Elektrolit utama yang berperan dalam pengatur homeostatik 1. Konsentrasi O 2 dan CO 2. • Sel memerlukan O 2 untuk keperluan oksidasi guna menghasilkan energi yang digunakan oleh sel. • CO 2 yang diproduksi selama reaksi kimia harus diimbangi dengan pengeluaran CO 2 dari paru-paru, sehingga pembentukan asam dari CO 2 tidak meningkatkan keasaman lingkungan eksternal. 2. Zat makanan • Sel perlu nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan guna menunjang kehidupan dan aktifitas seluler khusus
3. p. H. • Perubahan keasaman dalam lingkungan internal akan mempengaruhi aktivitas sel, • mempengaruhi mekanisme sinyal listrik pada sel saraf dan aktivitas enzim dari semua sel. 4. Konsentrasi garam dan elektrolit yang lain. • Konsentrasi garam-garam dalam lingkungan internal sangat penting untuk memelihara volume sel secara tepat. • Sel-sel tidak berfungsi secara normal bila sel membesar atau mengkerut. • Elektrolit yang lain menampilkan bermacam-macam fungsi vital. Misalnya, denyut jantung yang teratur tergantung pada konsentrasi kalium (K+) dalam cairan ekstraseluler.
5. Sisa metabolisme : zat sampah • Berbagai reaksi kimia menghasilkan produk akhir yang tidak dikehendaki dan memiliki efek racun pada sel-sel tubuh bila zat sampah tersebut terakumulasi sampai diatas batas tertentu. • Tubuh akan tetap berfungsi jika konsentrasi air, nutirisi, oksigen, tekanan, kondisi panas dapat dipertahankan dalam batas aman. • Perubahan kecil dalam lingkungan dinamis dalam tubuh bisa menyebabkan sel-sel mati. • Contoh : – Akibat dehidrasi -> sel mengalami kekurangan cairan – Akibat nutrisi zat makanan berkurang -> tubuh akan kekurangan energi -> menghentikan kerja beberapa organ – Suhu yang berubah mendadak -> akan diikuti kerusakan sel didalam tubuh – Keracunan -> menumpuknya racun didalam tubuh mengakibatkan sel mati
Sistem kontrol yang bekerja memelihara homeostasis • Terdapat dua kategori umum dari sistem kontrol yang bekerja memelihara homeostasis, yaitu: 1. Kontrol intrinsik (dalam) – adalah kontrol yang menyatu atau pada suatu organ. – kontrol intrinsik melayani sendiri satu organ dimana gangguan itu terjadi. – Misalnya, otot yang aktif dengan cepat memerlukan O 2 dan menghasilkan CO 2 serta energi untuk menunjang aktivitas kontraksinya Aktivitas otot cenderung menurunkan konsentrasi O 2 dan meningkatkan konsentrasi CO 2 di dalam otot yang akan mempengaruhi secara langsung pada otot polos dinding pembuluh darah untuk memasok O 2 kembali kepada otot dengan peningkatan aliran darah kedaerah otot yang aktiv tsb.
• Lingkungan internal tubuh yang harus dipertahankan homeostasisnya adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Konsentrasi molekul nutrisi Konsentrasi O 2 & CO 2 Konsentrasi zat sisa p. H Konsentrasi cairan, garam & elektrolit Suhu Volume & tekanan
2. Kontrol ekstrinsik (luar) – yaitu mekanisme regulasi yang berada di luar suatu organ yang mengatur aktivitas organ tersebut. – Kontrol ekstrinsik berbagai organ dan sistem tubuh dilaksanakan dengan baik oleh sistem saraf dan sisten endokrin, yaitu dua sistem kontrol utama dalam tubuh. – Kontrol ekstrinsik memungkinkan regulasi yang terkoordinasi dari beberapa organ – Mekanisme regulasi yang terkoordinasi penting untuk memelihara keadaan konstan yang dinamis dalam lingkungan internal secara keseluruhan. • Misalnya, untuk memperbaiki tekanan darah ke arah tingkat yang tepat saat tekanan turun sangat rendah, maka sistem saraf mempengaruhi organ jantung untuk memompa darah lebih cepat dan merangsang pembuluh darah di seluruh tubuh untuk menghasilkan tekanan darah yang normal.
AKIBAT GAGAL HOMEOSTASIS • Bila satu sistem tubuh atau lebih gagal berfungsi dengan baik, maka homeostasis akan terganggu dan semua sel akan menderita sebab sel-sel tidak lagi berada dalam lingkungan yang optimal untuk hidup dan berfungsi. • Bila gangguan homeostasis menjadi semakin hebat sehingga tidak lagi sesuai untuk kelangsungan hidup, maka tubuh menjadi sakit dan dapat menyebabkan kematian. • Contoh penyakit akibat gagalnya homeostasis adalah : dehidrasi , Gagal ginjal , dsb
Agar fungsi jaringan dapat berjalan normal, maka perlu; 1. Sirkulasi darah yang baik; 2. Keseimbangan antara cairan tubuh, intra dan ekstra vaskuler; 3. Konsentrasi zat-zat dalam cairan yang tetap, termasuk elektrolit. • Pertukaran Zat antara cairan tubuh dan cairan intra seluler terjadi melalui membran sel.
macam-macam kelainan sirkulasi dan cairan tubuh • • • oedem, dehidrasi, hiper/hipokalemia, hiper /hiponatremia, hiper/hipofosfat
Oedem • Definisi : adalah keadaan patologis pembengkakan karena terjadi akumulasi atau kelebihan cairan yang terjebak didalam jaringan tubuh. ( retensi cairan ). • Edema terjadi ketika pembuluh darah meloloskan cairan dan menumpuk didalam jaringan sekitar yang menimbulkan pembengkakan. • Paling sering terlihat di tangan , lengan , kaki, pergelangan kaki dan kaki • Tanda dan gejala edema : – Pembengkakan jaringan dibawah kulit – Kulit tampak meregang – Pada saat ditekan selama bbrp detik akan tampak cekungan yang dipertahankan.
• Edema berarti meningkatnya volume cairan di luar sel (ekstra seluler) dan di luar pembuluh darah (ekstra vaskular) disertai dengan penimbunan cairan di jaringan serosa • Edema adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kondisi bengkak pada jaringan lunak seperti kulit. • Edema adalah satu gejala yang sering dijumpai pada berbagai kelainan : • Misal : 1. gangguan reabsorpsi garam di ginjal – Penyakit renal instrinsik : GNA ( Glomerulo Nefritis akut ), Gagal Ginjal akut / Gagal ginjal kronis – Induksi obat-obatan : Nonsteroidal anti-inflammatory agents , Insulin , Estrogen , Kontrasepsi oral , mineralokortikoid – Refeeding edema : Edema akan memburuk bila berlebihan mengkonsumsi Natrium / garam • Edema dapat dibagi menjadi edema lokal dan edema general.
• Gangguan pada pembuluh vena (Venous occlusion ) – Peripheral deep vein thrombosis, Postphlebitic venous insufficiency, Inferior vena cava occlusion, Superior vena cava occlusion • Kelainan oedema yang terkait dengan kelenjar limfe – Neoplastic obstruction of lymphatics , Surgical interruption of lymphatics, Filariasis • Kelainan oedem yang terkait dengan high cardiac output – Arteriovenous fistula, beri – beri , Anemia , Tirotoksikosis, Paget disease • Kelainan dengan patogenesis yang belum jelas – Edema diopatik, Hipotiroidisme , Toxemia of pregnancy • Kelainan dengan patogenesis kompleks – Congestive heart failure , Sindrom nefrotik, Sherosis Hepatis • Edema akibat Pemakaian suatu obat / efek samping obat : – Pemakaian NSAID , Estrogen , obat diabetes
1. EDEMA LOKAL • terjadi bengkak pada satu sisi tubuh saja, • bersifat ringan dan tidak fatal. ₋ biasa terjadi akibat penyebab lokal seperti gigitan serangga, alergi kulit, sumbatan pembuluh darah di daerah tersebut, dan sebagainya. • Edema angioneurotik : ialah edema setempat , sering timbul dalam waktu singkat tanpa sebab jelas , pada anggota tubuh , akibat alergi/ neurogen. • Edema Akibat tekanan kapiler yang meninggi dapat terjadi pada; 1. Kongesti pasif; akibat obstruksi mekanik pada vena, menyebabkan tekanan darah vena meningkat, misalnya terjadi pada vena iliaca, akibat uterus yang membesar pada kehamilan, edema terjadi pada tungkai. 2. Edema Kardial; terjadi karena tekanan vena meningkat diakibatkan sirkulasi darah terganggu karena payah jantung. Edem bersifat sistemik tapi paling nyata terkena bagian paling bawah yaitu pada kaki penderita. 3. Obstruksi portal; pada cirrhosis hepatis tekanan dalam vena portae meningkat, sehingga mengakibatkan tahanan cairan dalam rongga peritoneum terjadi ascites. 4. Edem Postural; pada orang yang berdiri terus menerus untuk waktu yang lama, terjadi edem pada kaki dan pergelangan kaki
2. EDEMA GENERAL – ANASARCA : • penimbunan cairan dalam jaringan subcutis dan rongga tubuh. ₋ terjadi bengkak pada lebih dari satu bagian tubuh. ₋ akibat gangguan atau kegagalan suatu organ tubuh, seperti gagal jantung, gagal ginjal, gagal hati, tumor, kanker dan sebagainya. ₋ Pada gagal jantung, jantung tidak efektif memompa darah sehingga sebagian darah terbendung pada kaki, perut, dan menyebabkan pembengkakkan. ₋ Pada gagal ginjal, ginjal gagal menjalankan fungsinya untuk menyaring darah dan menghasilkan air urin. Akibatnya, air tidak dapat keluar dan memnyebabkan hampir seluruh tubuh bengkak. ₋ Pada gagal hati terjadi kondisi kekurangan protein yang dihasil kan hati. Protein tersebut berguna untuk menjaga air tetap di dalam aliran darah. Akibat kekurangan protein , air dalam pembuluh darah akan keluar ke rongga-rongga tubuh sehingga menyebabkan bengkak.
Gejala edema pembengkakan di atas kulit. Umumnya teraba kenyal, dapat disertai nyeri ataupun tidak, dapat disertai demam ataupun tidak. Edema biasanya ditemui pada kaki (di atas tulang kering dan di atas punggung kaki), perut, lengan, wajah, dan kelopak mata bagian atas. • Edema yang disertai rasa nyeri dan demam biasanya diakibatkan oleh infeksi. • Edema yang disertai warna kemerahan dan gatal biasanya diakibatkan oleh reaksi alergi. • Edema pada gagal jantung biasanya bersifat pitting, yakni jika kulit yang bengkak ditekan maka kulit tidak akan langsung kembali seperti semula melainkan akan meninggalkan bekas penekanan. • •
PENYAKIT –PENYAKIT PENYEBAB EDEMA • Kwasiorkor (busung lapar) adalah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan ketidak cukupan asupan protein. Kwasiorkor paling banyak ditemui pada anak – anak, terutama usia 1 – 4 tahun • Penyakit riketsia (Rickettsia) adalah infeksi yang disebabkan oleh kelompok bakteri gram negatif dari golongan Rickettsiae, Ehrlichia, Orientia, dan Coxiella. • Parotitis adalah peradangan dan pembengkakan kelenjar ludah akibat infeksi virus. Peradangan dapat terjadi pada salah satu atau kedua kelenjar • Peradangan Sendi , antara lain pada sendi lutut, sendi siku, sendi jari tangan, sendi tulang belakang, sendi pangkal paha • Kaki bengkak saat hamil (edema tungkai) adalah pembengkakan kedua tungkai akibat penumpukan cairan berlebih di jaringan • Kanker payudara ,
• 1. 2. 3. DEHIDRASI Dehidrasi dapat terjadi karena : Kemiskinan air (water depletion) Kemiskinan Natrium (sodium depletion) Water and sodium depletion terjadi bersama-sama • Water depletion atau dehidrasi primer : • terjadi karena masuknya air sangat terbatas, akibat : ₋ Penyakit yang menghalangi masuknya air ₋ Penyakit mental yang disertai menolak air atau ketakutan dengan air (hydrophobia) ₋ Penyakit sedemikian rupa, hingga penderita sangat lemah dan tidak dapat minum air lagi, Koma yang terus-menerus
1. Dehidrasi primer • dapat terjadi pada orang yng mengeluarkan peluh banyak , tanpa mendapatkan penggantian air -> pada musafir di padang pasir, atau pada orang yang berhari-hari terapung ditengah laut tanpa mendapat minum. • Pada stadium permulaan terjadi water depletion, ion natrium dan chlor ikut menghilang dengan cairan tubuh, tetapi kemudian terjadi reabsorsi ion melalui tubulus ginjal yang berlebihan, sehingga cairan ekstraseluler mengandung natrium dan chlor berlebihan -> terjadi hipertoni. • menyebabkan air keluar dari sel sehingga terjadi dehidrasi intraseluler -> menimbulkan rasa haus. • terjadi perangsangan pada hipofisis yang melepaskan hormon antidiuretik sehingga terjadi oligouria
2. Dehidrasi sekunder / sodium depletion • terjadi karena tubuh kehilangan cairan tubuh yang mengandung elektrolit. • Istilah sodium depletion lebih sesuai daripada salt depletion untuk memberi tekanan terhadap perlunya natrium. • Kekurangan intake garam biasanya tidak menimbulkan sodium depletion oleh karena ginjal dapat mengatur dan menyimpan natrium. • Sodium depletion sering terjadi akibat keluarnya cairan melalui saluran pencernaan pada keadaan muntah dan diare yang keras.
Penyebab timbulya dehidrasi dapat dibedakan menjadi 2 hal yaitu : 1. Eksternal (dari luar tubuh ) ₋ Akibat dari berkurangya cairan akibat panas yaitu kekurangan zat natrium; kekurangan air; kekurangan natrium dan air. ₋ Latihan yang berlebihan yang tidak dibarengi dengan asupan minuman. ₋ Sinar panas matahari yang panas. Cuaca/musim yang tidak menguntungkan. ₋ Diet keras dan drastis. ₋ Adanya pemanas dalam ruangan. Ruangan ber AC , walaupun dingin tetapi kering. ₋ Obat-obatan yang digunakan terlalu lama.
2. Internal (dari dalam tubuh) ₋ disebabkan terjadinya penurunan kemampuan homeostatik. ₋ penurunan respons rasa haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolaritas. ₋ penurunan laju filtrasi glomerulus, kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, renin, aldosteron, dan penurunan respons ginjal terhadap vasopresin. ₋ fungsi penyaringan ginjal melemah, ₋ kemampuan untuk menahan kencing menurun, ₋ demam, infeksi, diare, kurang minum, sakit, dan stamina fisik menurun.
Kehilangan cairan tubuh dapat bersifat : a. Normal : Terjadi akibat pemakaian energi tubuh. Kehilangan cairan sebesar 1 ml terjadi pada pemakaian kalori sebesar 1 kal. • Misalnya : – Keringat : Tubuh bisa kehilangan sejumlah besar air ketika mencoba untuk mendinginkan diri dengan keringat. – tubuh panas karena lingkungan (misalnya : bekerja dalm lingkungan yang hangat), – intens berolahraga dalam lingkungan yang panas, – demam yang disebabkan oleh infeksi. – Tubuh menggunakan sejumlah besar air dalam bentuk keringat untuk mendinginkan diri, – tergantung pada kondisi cuaca. – Jalan cepat dapat menghasilkan sampai 16 ons keringat (sat upon air) •
b. Abnormal : • Terjadi karena berbagai penyakit atau keadaan lingkungan • seperti suhu lingkungan yang terlalu tinggi atau rendah. • Pengeluaran cairan yang banyak dari dalam tubuh tanpa diimbangi pemasukkan cairan yang memadai dapat berakibat dehidrasi. • Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh kehilangan cairan elektrolit yang sangat dibutuhkan organ-organ tubuh untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik. • Saat dehidrasi, tubuh dengan terpaksa menyedot cairan baik dari darah maupun organ-organ tubuh lainnya. • Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total. • Proses terjadinya dehidrasi yaitu sekelompok kelenjar lemak / minyak produksinya berkurang akibatnya setiap keringat yang keluar langsung teruapkan, sehingga cairan dalam tubuh berkurang.
• Misalnya : • Muntah : Muntah bisa menjadi penyebab hilangnya cairan dan elektrolit • Diabetes : Pada orang dengan diabetes gula darah menyebabkan kadar gula tumpah ke dalam urine dan akibat sering kencing dapat menyebabkan dehidrasi , haus yang berlebihan adalah gejala awal diabetes. • Burns : luka bakar mengalami dehidrasi karena kulit yang rusak tidak dapat mencegah cairan merembes keluar dari tubuh. • Penyakit peradangan lain dari kulit juga terkait dengan kehilangan cairan. • Ketidakmampuan untuk minum cairan : Ketidak mampuan untuk minum yang memadai dapat menyebabkan dehidrasi. adalah kurangnya ketersediaan air atau kurangnya kekuatan untuk minum dalam jumlah yang cukup, • Diare : Keluarnya sekresi saluran cerna bagian bawah yang banyak mengandung natrium, kalium. pada diare konsistensi feces encer atau bahkan sangat encer, Hal ini berarti volume air lebih banyak dikeluarkan.
Dehidrasi • = Kekurangan air dan elektrolit. • Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang disertai “output” yang melebihi “intake” sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang terutama cairan tubuh , tetapi dehidrasi juga disertai gangguan elektrolit. • Dehidrasi terbagi menjadi 3 jenis utama berdasarkan kadar tonisitas cairan yang hilang yaitu : 1. Dehidrasi iso osmotik / isotonik (kehilangan air yang setara dan elektrolit). 2. Dehidrasi Hiperosmotik / hipertonik (terutama kehilangan air), 3. Dehidrasi Hiposmotik / hipotonik (terutama kehilangan elektrolit, khususnya natrium),
1. Dehidrasi Isosmotik : Dehidrasi isotonik – hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama. – ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135145 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (270 -285 mosmol/liter). – Mula – mula cairan yang hilang berasal dari plasma kemudian diganti cairan dari ruang interstitial. – tidak terjadi perubahan osmolalitas cairan ekstrasel sehingga tidak terjadi pengeluaran cairan dari ruang intrasel, – contoh: plasma dari luka bakar , diare, dan muntah.
2. Dehidrasi Hiperosmotik : Dehidrasi hipertonik – yaitu berkurangnya cairan berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik). – ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter) – Akibat pengeluaran cairan dari plasma menimbulkan hiperosmotik sehingga cairan akan keluar dari ruang interestitial menuju ke plasma. – Peningkatan osmolalitas cairan interestial menyebabkan cairan dari intrasel akan berkurang, – Contoh : Kurangnya intake air, diabetes insipidus, demam dan kehilangan cairan berlebihan dari kulit.
3. Dehidrasi Hiposmotik : Dehidrasi hipotonik – hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air. – ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter. – kehilangan Na. Cl menyebabkan kehilangan air. Diikuti terjadinya retensi air oleh ginjal, – Jika kehilangan Na. Cl tetap berlangsung menyebabkan menurunnya osmolalitas cairan ekstrasel dan terjadi perpindahan dan ekstrasel ke intrasel. – Pada akhirnya Volume Cairan ekstrasel akan berkurang dan cairan Intrasel akan meningkat dan osmolalitas cairan ekstra sel dan intrasel berkurang. – Contoh : kehilangan Na. Cl yang berlebihan melalui keringat dan insufisiensi adrenal (Addison Disease)
Penggolongan dehidrasi berdasarkan banyaknya cairan yang hilang yaitu : • Dehidrasi ringan kehilangan cairan dan elektrolit menyebabkan penurunan cairan tubuh < 5 % dari berat badan • Dehidrasi sedang kehilangan cairan dan elektrolit menyebabkan penurunan cairan tubuh antara 5 - 8 % dari berat badan • Dehidrasi berat kehilangan cairan dan elektrolit dehidrasi berat menyebabkan penurunan cairan tubuh > 8 % dari berat badan.
Tanda-Tanda dan gejala dehidrasi 1. Dehidrasi ringan Muka memerah, Rasa sangat haus, Kulit kering dan pecah-pecah Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya Pusing, lemah, lemas, dan mulai terasa pening dan mual , Kram otot terutama pada kaki dan tangan, Kelenjar air mata berkurang kelembabannya , Sering mengantuk, Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang, Tiba tiba jantung berdetak lebih kencang , Suhu badan meningkat, 2. Dehidrasi sedang Tekanan darah menurun , Pingsan , Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung , Kejang , Perut kembung, Gagal jantung, Ubun-ubun cekung , Denyut nadi cepat dan lemah
3. Tanda – tanda dehidrasi berat • Rasa haus yang ekstrim • Bayi sangat rewel , Kantuk pada anak – anak , mudah marah dan tampak kebingungan pada dewasa • Mulut , kulit dan membran mukosa sanga kering • Sedikit keringat walau di udara panas • BAK sedikit atau tidak BAK • Urin berwarna kuning gelap / kecoklatan • Mata cekung , tidak ada air mata saat menangis • Kulit keriput dan kering , turgor menurun karena kurang elastis • Pada bayi fontanel cekung (ubun – ubun • Tekanan darah rendah , Detak jantung cepat , nafas cepat • Demam • Delirium -> koma
• Tanda dehidrasi pada bayi / anak : ₋ ₋ Mulut dan lidah kering , Tidak keluar air mata saat menangis, Popok tidak basah selama lebih dari 3 jam , Perut, mata, dan pipi cekung , Demam , Lesu atau rewel , Kulit tidak segera kembali ke posisi semula jika dicubit kemudian dilepaskan • dehidrasi pada usia lanjut ( geriatri ) Tanda klinis obyektif yang dapat membantu mengindentifikasi kondisi adalah : ₋ hipotensi ortostatik. aksila lembab/basah, ₋ suhu tubuh meningkat dari suhu basal, ₋ diuresis berkurang, berat jenis (bj) urin lebih dari atau sama dengan 1, 019 (tanpa adanya glukosuria dan proteinuria), ₋ rasio blood urea nitrogen/kreatinin lebih dari atau sama dengan 16, 9 (tanpaadanya perdarahan aktif saluran cerna) ₋ Gejala klasik dehidrasi : rasa haus, lidah kering, penurunan turgor, mata cekung sering tidak jelas.
Pemeriksaan Laboratorium pada kasus dehidrasi Peningkatan hematokrit Peningkatan kadar protein serum Na+ Serum normal (biasanya) Na+ urine <10 meq/L (penyebab dari ekstrarenal) Na+ urine >20 meq/L (penyebab dari renal atau adrenal) • Rasio BUN/Kreatinin serum >20: 1 (normal=10: 1) • Berat jenis urine tinggi • Osmolalitas urine >450 meq/L • • •
SYOK • Ialah suatu keadaan yang diakibatkan oleh defisiensi sirkulasi • akibat ketidakseimbangan antara volume darah dengan vaskuler. • Shock sebenarnya suatu keadaan yang terdiri atas kumpulan gejala /syndrom, dapat bersifat primer atau sekunder. 1. SYOK PRIMER; Terjadi defisiensi sirkulasi akibat ruang vaskuler membesar karena vasodilatasi yang asalnya neurogen. misal pada orang yang mengalami kecelakaan keras, rasa sangat nyeri , penyakit yang keras, rasa takut yang mendadak, kesusahan yang sangat, melihat keadaan yang sangat mengerikan. Biasanya kejadian shock hanya sebentar.
2. SYOK SEKUNDER; Terjadi defisiensi sirkulasi perifer disertai jumlah volume darah yang menurun, aliran darah berkurang, hemokonsentra si dan fungsi ginjal terganggu. Sirkulasi yang berkurang tidak terjadi setelah terkena kerusakan tetapi baru beberapa sesudahnya oleh karena itu disebut, delayed shock, gejala ; lesu lemah, kulit basah, kolaps vena, nadi cepat dan lemah, tekanan rendah, oligouria, kadang disertai muntah. Apabila keadaan ini terjadi terus akan menjadi apatik, stupor, koma dan meninggal dunia.
Penyebab syok • Segala sesuatu yang menyebabkan gangguan kecepatan denyut jantung , volume sekuncup dapat menyebabkan syok 1. Syok kardiogenik : Terjadi setelah curah jantung kolaps – 2. Syok hipovolemik Terjadi kehilangan volume darah sirkulasi sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun drastis – 3. 4. 5. Dapat terjadi pada perdarahan dehidrasi Syok anafilaktik Terjadi setelah respons alergi yang meluas berkaitan dengan degranulasi sel mast dan pelepasan zat inflamasi (histamin dan prostaglandin ) Syok septik Dapat terjadi setelah infeksi sistemik masif dan pelepasan mediator vasoaktif inflamasi Syok neurogenik Terjadi setelah hilangnya tonus vaskular secara mendadak diseluruh tubuh – 6. Sering terjadi akibat infark miokard, fibrilasi , gagal jantung kongestif Dapat terjadi akibat cedera otak yang mengenai pusat kardiovaskular otak , cedera medula spinalis, anestesi umum yang dalam Syok luka bakar Terjadi setelah luka bakar berat yang menegnai seluruh luas permukaan tubuh
Manifestasi klinis Syok • Tergantung penyebab syok, mencakup : – Kulit dingin , lembab – Pucat – Peningkatan kecepatan denyut jantung dan pernafasan – Penurunan tekanan darah yang drastis • kecuali syok neurogenik akan memperlihatkan kecepatan denyut jantung yang normal atau melambat tetapi hangat dan kering
GANGGUAN METABOLIK LAIN • Asidosis Metabolik disertai peninggian Pa. Co 2 akan menimbulkan manifestasi pernafasan Kussmaul • Alkalosis metabolik , alkalosis hipokalemik , hipomagnesemia dapat mengakibatkan tetani • Gangguan Natrium dan Kalium paling sering disebabkan oleh : pemakaian diuretika , penyakit ginjal , payah jantung , penyakit hati. • Kadar Kalium yang tinggi atau rendah menimbulkan gejala paralisis periodik • Kadar fosfat rendah menimbulkan gejala : kelemahan , kolaps, hipotensi, aritmia , hemolisis , disfungsi eritrosit, perubahan kepribadian, gangguan neurologik, serangan kejang
GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA YANG SERING TERJADI • Berkaitan sistim ginjal : – Asidosis Diabetikum : Asidosis metabolik – Vomitus kronik / muntah – muntah yang berkepanjangan : Alkalosis metabolik • Berkaitan dengan sistim respirasi : – Emfisema : Asidosis respiratorik – Hiperventilasi volunter atau berada diketinggian 4000 m selama 3 minggu dapat terjadi Alkalosis respiratorik
KESEIMBANGAN ASAM BASA DIPENGARUHI 2 MEKANISME ORGAN • Mekanisme Ginjal : – Pada pengaturan keseimbangan asam basa tubuh , ginjal berfungsi untuk menyeimbangkan ion hidrogen dan karbonat. – Penurunan jumlah bikarbonat akan dipasok ulang melalui tubulus kontortus ginjal – Reaksi ini dikatalisis oleh karbonik anhidrase – Bikarbonat ( HCO 3) yang terbentuk akan di sekresikan kedalam darah , dan ion hidrogen akan di ekskresikan melalui urine • Mekanisme Paru : – Fungsi paru pada keseimbangan asam basa tubuh berkaitan dengan perbandingan antara HCO 3 dengan H 2 CO 3. – Kadar CO 2 darah akan mengendalikan laju pernafasan dan pembuangan CO 2 melalui paru
Penyebab terjadinya kelainan Asam Basa • Faktor-faktor yang berkontribusi atas kelebihan produksi asam atau mengganggu produksi normal bikarbonat bisa menyebabkan asidosis metabolik (metabolic acidosis) • Dalam tubuh, keseimbangan normal antara asam dan basa dikelola oleh bikarbonat. -> Bikarbonat menetralisir asam dan mencegah akumulasi berlebihan dalam tubuh. • Asam – adalah substansi yang mengandung 1 atau lebih H yang dapat dilepaskan dalam larutan. – Asam biasanya diproduksi sebagai produk sampingan dalam sejumlah aktivitas metabolik termasuk pemecahan lemak , – Asam di bagi dua, yaitu : Asam kuat dan Asam lemah • Basa – adalah substansi yang dapat menangkap/bersenyawa dengan ion hidrogen dari sebuah larutan. – Basa di bagi dua, yaitu : Basa kuat dan Basa lemah
ASIDOSIS • Adalah penurunan p. H dibawah normal yang dapat menimbulkan gangguan baik diginjal maupun paru – paru. • Di Ginjal sebagai asidosis metabolik • Di paru sebagai asidosis respiratorik • Berdasarkan perjalanan penyakit dapat dibagi menjadi akut atau kronis. • Namun asidosis tidak selalu berarti p H yang menurun tapi dapat juga terjadi pada kasus kronik • Gejala utama asidosis adalah depresi SSP : Disorientasi , koma • Gangguan ketoasidosis akibat penyakit diabetes menimbulkan asidosis metabolik akut. juga pada henti jantung
ALKALOSIS • Alkalosis berarti peningkatan nilai p H • Bersifat akut atau kronik • Gejala utama akibat alkalosis adalah rangsangan SSP dalam bentuk tetani • Penyakit fibrosis paru difus mengakibatkan alkalosis respiratorik kronik • Pemberian bikarbonat yang berlebihan akan menimbulkan alkalosis metabolik akut • Diuresis dan kelebihan aldosteron dapat menimbulkan alkalosis metabolik
• Penyebab asidosis metabolik lain meliputi : – Gagal ginjal – Hambatan karbonik anhidrase – Peningkatan kalium ekstras selular – Distress janin dalam rahim • Asidosis respiratorik akut ditemukan pada : – Penyakit – penyakit saluran nafas infeksi , – misal pneumonia – Penyakit saluran nafas non infeksi – Misal Asma , gangguan pernafasan dan gangguan otak • Asidosis respiratorik kronis disebabkan : – Penyakit paru , emfisema
HASIL ANALISA GAS DARAH KETIDAKSEIMBANGAN ASAM BASA KONDISI PH HCO 3 Pa. CO 2 Asam Basa seimbang 7. 35 – 7. 45 22 -26 m. Eq/L 35 – 45 mm. Hg Asidosis Metabolik <7, 35 < 22 m. Eq/L Normal / < 35 m. Eq/L Asidosis Respiratorik <7, 35 Normal / >26 m. Eq/L > 45 m. Eq/L Alkalosis Metabolik > 7, 45 > 26 m. Eq/L Normal / > 45 m. Eq/L Alkaloss Respiratorik > 7, 45 Normal / < 22 m. Eq/L < 35 mm. Hg
GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA YANG SERING TERJADI • Berkaitan sistim ginjal : – Asidosis Diabetikum : Asidosis metabolik – Vomitus kronik / muntah – muntah yang berkepanjangan : Alkalosis metabolik • Berkaitan dengan sistim respirasi : – Emfisema : Asidosis respiratorik – Hiperventilasi volunter atau berada diketinggian 4000 m selama 3 minggu dapat terjadi Alkalosis respiratorik
Lanjut kuliah berikut • Patofisiologi sistem - sistem
- Slides: 66