PARAGRAF KOHESI KOHERENSI DAN PENALARAN PARAGRAF Kohesi adalah

  • Slides: 23
Download presentation
PARAGRAF (KOHESI, KOHERENSI, DAN PENALARAN PARAGRAF)

PARAGRAF (KOHESI, KOHERENSI, DAN PENALARAN PARAGRAF)

Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada

Kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Contoh : Listrik mempunyai banyak kegunaan. Orang tuaku berlangganan listrik dari PLN. Baru-baru ini tarif pemakaian listrik naik 25%, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh. Akibatnya, banyak pelanggan listrik yang melakukan penghematan. Jumlah peralatan yang menggunakan listrik sekarang meningkat. Alat yang banyak menyedot listrik adalah AC atau alat penyejuk udara. Di kantor-kantor sekarang penggunaan alat penyejuk udara itu sudah biasa, bukan barang mewah.

Contoh wacana di tersebut dikatakan kohesif, karena menggunakan alat kohesi pengulangan, yaitu kata ‘listrik’

Contoh wacana di tersebut dikatakan kohesif, karena menggunakan alat kohesi pengulangan, yaitu kata ‘listrik’ yang diulang beberapa kali. Namun, paragraf tersebut tidak padu karena bagian-bagian paragraf itu tidak mempunyai kepaduan secara maknawi.

Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki

Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Contoh: (a) Buah Apel adalah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. (b) Menurut beberapa penelitian dibalik kelezatan dari rasa buah apel ternyata juga mengandung banyak zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. (c) Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya. (d) Dengan kandungan zat-zat tersebut buah apel memiliki manfaat yang dapat mencegah dan menanggulangi berbagai penyakit. (e) Berikut ini adalah beberapa manfaat buah apel bagi kesehatan yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber yaitu buah apel dapat mencegah penyakit asma, dapat mengurangi berat badan, melindungi tulang, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker hati, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus, mengontrol diabetes, membersihkan dan menyegarkan mulut.

Bagian-bagian pada wacana tersebut saling mempunyai kaitan secara maknawi, kalimat-kalimatnya menjelaskan secara rinci zat-zat

Bagian-bagian pada wacana tersebut saling mempunyai kaitan secara maknawi, kalimat-kalimatnya menjelaskan secara rinci zat-zat dan manfaat yang terkandung dalam buah apel. Wacana itu termasuk wacana padu karena hampir setiap kalimat berhubungan padu secara maknawi dengan bagian lain. Selain itu, wacana itu juga kohesif. Ada beberapa kata yang diulang (buah apel pada setiap kalimat). Dalam paragraf, keterpaduan (koherensi) yang harus diutamakan.

Penanda Kohesi Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi terbagi atas dua macam, yaitu

Penanda Kohesi Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi terbagi atas dua macam, yaitu unsur gramatikal dan unsur leksikal. Piranti kohesi gramatikal merupakan piranti atau penanda kohesi yang melibatkan penggunaan unsur kaidah bahasa. Piranti kohesi leksikal adalah kepaduan bentuk sesuai dengan kata. 1. Piranti Kohesi Gramatikal Dalam bahasa Indonesia ragam tulis, digunakan piranti kohesi gramatikal seperti berikut :

A. Refrensi Referensi berarti hubungan antara kata dengan benda. Kata pena misalnya mempunyai referensi

A. Refrensi Referensi berarti hubungan antara kata dengan benda. Kata pena misalnya mempunyai referensi sebuah benda yang memiliki tinta digunakan untuk menulis. Halliday dan Hasan (1979) membedakan referensi menjadi dua macam, yaitu eksoforis dan endoforis. Ø Referensi eksoforis adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di luar teks wacana. Contoh: itu matahari. Kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda yang berpijar yang menerangi alam ini. ” Ø Referensi endofora adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Referensi anafora yaitu satuan lingual yang disebut lebih dahulu atau ada pada kalimat

1. Referensi anafora yaitu satuan lingual yang disebut lebih dahulu atau ada pada kalimat yang lebih dahulu, mengacu pada kalimat awal atau yang sebelah kiri. Contoh: a. Hati Adi terasa berbunga-bunga. b. Dia yakin Janah menerima lamarannya. Kata Dia pada kalimat (b) mengacu pada kata Adi. Pola penunjukkan inilah yang menyebabkan kedua kalimat tersebut berkaitan secara padu dan saling berhubungan. 2. Referensi katafora yaitu satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu pada kalimat yang sebelah kanan. Contoh : Karena bajunya kotor, Gani pulang ke rumah. Pronomina enklitik-nya pada kalimat pertama mengacu pada antaseden Gani yang terdapat pada kalimat kedua.

B. Substitusi (penggantian) Penggantian adalah penyulihan suatu unsur wacana dengan unsur yang lain yang

B. Substitusi (penggantian) Penggantian adalah penyulihan suatu unsur wacana dengan unsur yang lain yang acuannya tetap sama, dalam hubungan antarbentuk kata, atau bentuk lain yang lebih besar daripada kata, seperti frasa atau klausa. Penggantian dapat berupa kata ganti orang, kata ganti tempat, dan kata ganti sesuatu hal. 1. Kata ganti orang merupakan kata yang dapat menggantikan nama orang atau beberapa orang. Contoh: Nurul mengikuti olimpiade matematika. Ia mewakili Kalimantan Selatan. 2. Kata ganti tempat adalah kata yang dapat menggantikan kata yang menunjuk pada tempat tertentu. Contoh: Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di sana banyak terdapat pabrik sawit sebagai alat untuk mengolah buah sawit menjadi minyak mentah.

3. Dalam pemakaian Bahasa untuk mempersingkat suatu ujaran yang panjang yang digunakan lagi, dapat

3. Dalam pemakaian Bahasa untuk mempersingkat suatu ujaran yang panjang yang digunakan lagi, dapat dilakukan dengan menggunakan kata ganti hal. Sesuatu yang diuraikan dengan panjang lebar dapat digantikan dengan sebuah atau beberapa buah kata. Contoh: Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara. Dengan demikian, Pancasila merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh penyelenggaraan negara Repubublik Indonesia. Kata demikian pada contoh di atas merupakan kata ganti hal yang menggantikan seluruh preposisi yang disebutkan sebelumnya.

C. Elipsis (penghilangan/ pelepasan) Elipsis adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis

C. Elipsis (penghilangan/ pelepasan) Elipsis adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis juga merupakan penggantian unsur kosong (zero), yaitu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan. Contoh: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat - saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. (Saya mengucapkan) terima kasih Tuhan.

D. Konjungsi (kata sambung) Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan

D. Konjungsi (kata sambung) Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat. Piranti konjungsi dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut. 1. Piranti urutan waktu Proposisi-proposisi yang menunjukkan tahapan-tahapan seperti awal, pelaksanaan, dan penyelesaian dapat disusun dengan menggunakan urutan waktu. Berikut ini beberapa konjungsi urutan waktu. Setelah itu, sebelum itu, sesudah itu, lalu, kemudian, akhirnya, waktu itu, sejak itu dan ketika itu. Contoh: Ani memberikan sambutan di Kantor Walikota Balikpapan. Setelah itu dia akan berkunjung ke Pulau Kumala.

2. Piranti Pilihan Untuk menyatakan dua proposisi berurutan yang menunjukan hubungan pilihan. Contoh: Pergi

2. Piranti Pilihan Untuk menyatakan dua proposisi berurutan yang menunjukan hubungan pilihan. Contoh: Pergi ke Pasar Lama atau ke Pasar Baru. 3. Piranti Serasian Piranti keserasian digunakan apabila dua buah ide atau proposisi itu menunjukkan hubungan yang selaras atau sama. Contoh: Nia sangat dermawan, demikian juga dengan ibunya. 4. Piranti Ketidaserasian Ketidakserasian itu pada umumnya ditandai dengan perbedaan proposisi yang terkandung di dalamnya, bahkan sampai pada pertentangan. Contoh: Nyasar di Martapura, padahal saya sudah melihat penunjuk jalan.

5. Piranti Jelasan Piranti ini digunakan untuk memberikan penjelasan yang berupa proposisi (pikiran, perasaan,

5. Piranti Jelasan Piranti ini digunakan untuk memberikan penjelasan yang berupa proposisi (pikiran, perasaan, peristiwa, keadaan, dan sesuatu hal) lanjutan. Contoh: Yang dimaksud braille adalah sistem tulisan dan cetakan untuk orang buta.

2. Piranti Kohesi Leksikal Secara umum, piranti kohesi leksikal berupa kata atau frasa bebas

2. Piranti Kohesi Leksikal Secara umum, piranti kohesi leksikal berupa kata atau frasa bebas yang mampu mempertahankan hubungan kohesif dengan kalimat mendahului atau mengikuti. Menurut Rentel (1986: 268 -289), piranti kohesi leksikal terdiri atas dua macam yaitu: Ø Reiterasi (pengulangan) Reiterasi merupakan cara untuk menciptakan hubungan yang kohesif. Ø Kolokasi Suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain, biasanya diasosiasikan sebagai kesatuan.

Penanda Koherensi Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk

Penanda Koherensi Istilah koherensi mengacu pada aspek tuturan, bagaimana proposisi yang terselubung disimpulkan untuk menginterpretasikan tindakan ilokusinya dalam membentuk sebuah wacana. Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemerkah penghubung kalimat yang di gunakan. Contoh: (a) Guntur kembali bergema dan hujan menderas lebih hebat lagi. (b) Hati Darsa makin kecut. Biarpun tidak terdapat pemerkah hubungan yang jelas antara kalimat (a) dan (b), tiap pembaca akan menafsirkan makna kalimat (b) mengikuti kalimat (a). Pembaca mengandaikan adanya ‘hubungan semantik’ antara kalimat-kalimat itu, biarpun tidak terdapat pemerkah eksplisit yang menyatakan hubungan seperti itu.

Jenis – Jenis Paragraf terdiri dari beberapa jenis, mulai dari jenis paragraf berdasarkan isinya,

Jenis – Jenis Paragraf terdiri dari beberapa jenis, mulai dari jenis paragraf berdasarkan isinya, fungsinya dan juga peletakan gagasan utama dari sebuah tulisan. Jenis paragraf berdasarkan isinya : 1. 2. 3. 4. 5. Paragraf Eksposisi Paragraf Deskripsi Paragraf Persuasi Paragraf Argumentasi Paragraf Narasi

Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsi 1. Paragraf Pembuka 2. Paragraf Isi 3. Paragraf Penutup 4.

Jenis Paragraf Berdasarkan Fungsi 1. Paragraf Pembuka 2. Paragraf Isi 3. Paragraf Penutup 4. Paragraf Penghubung Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Gagasan Utama 1. Paragraf Deduktif 2. Paragraf Induktif 3. Paragraf Ineratif 4. Paragraf Campuran

Penalaran Paragraf Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang

Penalaran Paragraf Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu deduktif dan induktif. 1. Penalaran deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.

Macam-macam Penalaran Deduktif Macam-macam penalaran deduktif diantaranya : Ø Silogisme adalah suatu proses penarikan

Macam-macam Penalaran Deduktif Macam-macam penalaran deduktif diantaranya : Ø Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Ø Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui. Ciri – ciri paragraf berpola deduktif 1. Letak kalimat utama di awal paragraf 2. Diawali dengan pernyataan umum disusul dengan uraian atau penjelasan khusus 3. Diakhiri dengan penjelasan

2. Penalaran Induktif Paragraf Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan khusus (mengandung

2. Penalaran Induktif Paragraf Induktif adalah paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum. Contoh : Pada saat ini remaja lebih menukai tari-tarian dari barat seperti breakdance, Shuffle, salsa (dan Kripton), modern dance dan lain sebagainya. Begitupula dengan jenis musik umumnya mereka menyukai rock, blues, jazz, maupun reff tarian dan kesenian tradisional mulai ditinggalkan dan beralih mengikuti tren barat. Penerimaan terhadap bahaya luar yang masuk tidak disertai dengan pelestarian budaya sendiri. Kesenian dan budaya luar perlahan-lahan menggeser kesenian dan budaya tradisional.

Macam-macam Penalaran Induktif Macam-macam penalaran induktif diantaranya : Ø Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku

Macam-macam Penalaran Induktif Macam-macam penalaran induktif diantaranya : Ø Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dll. Macam-macam generalisasi: 1. Generalisasi sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki. 2. Generalisasi tidak sempurna Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

Ciri-ciri paragraf berpola induktif : 1. Letak kalimat utama di akhir paragraf 2. Diawali

Ciri-ciri paragraf berpola induktif : 1. Letak kalimat utama di akhir paragraf 2. Diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum 3. Paragraf induktif diakhiri dengan kesimpulan