NEMATODA JARINGAN NEMATODA JARINGAN 1 2 3 4

















































- Slides: 49
NEMATODA JARINGAN
NEMATODA JARINGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Wucehereia bancrofti Brugia malayi Brugia timori Mansonella Ozardi Onchocerca volvulus Loa loa Dracunculus Medinensis
Cacing Filariarsis • Mempunyai 200 spesies • hanya beberapa yg terdapat pada manusia. • Spesies yang paling sering mensinfeksi : 1. Wucehereia bancrofti 2. Brugia malayi 3. Brugia timori
Filariasis • penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. • 3 spesies cacing penyebab Filariasis yaitu: – Wuchereria bancrofti; Brugia malayi; Brugia timori • Semua spesies tersebut terdapat di Indonesia, • > 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi.
FILARIASIS Cacing tersebut hidup di kelenjar dan saluran getah bening sehingga menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang dapat menimbulkan gejala akut dan kronis. Gejala akut: �peradangan kelenjar dan �saluran getah bening (adenolimfangitis) terutama di daerah pangkal paha dan ketiak, pembesaran skrotum/vagina yang pembengkakan(edema)nya bersifat permanen, tapi dapat pula di daerah lain
FILARIASIS • Gejala kronis terjadi akibat penyumbatan aliran limfe terutama di daerah yang sama dengan terjadinya peradangan dan menimbulkan gejala seperti kaki gajah (elephantiasis), dan hidrokel(penumpukan cairan pada alat vital.
epidemiologi Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota, jumlah kasus kronis filariasis yang dilaporkan sampai tahun 2009 sudah sebanyak 11. 914 kasus Ditularkan oleh seluruh jenis spesies nyamuk. Di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 23 spesies vektor nyamuk penular filariasis yang terdiri dari genus Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia, dan Armigeres. Untuk menimbulkan gejala klinis penyakit filariasis diperlukan beberapa kali gigitan nyamuk terinfeksi filaria dalam waktu yang lama. Org dewasa >30 thn
Epidemiologi masalah kesehatan masyarakat dunia sesuai dengan resolusi World Health Assembly (WHA) pada tahun 1997. Program eleminasi filariasis di dunia dimulai berdasarkan deklarasi WHO tahun 2000. Di Indonesia program eliminasi filariasis dimulai pada tahun 2002. Untuk mencapai eliminasi, di Indonesia ditetapkan dua pilar yang akan dilaksanakan yaitu: �Memutuskan rantai penularan dengan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) di daerah endemis; dan �Mencegah dan membatasi kecacatan karena filariasis.
Eliminasi Filariasis (Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) • Penularan akan menurun atau bahkan tidak terjadi bila jumlah mikrofilaria yang beredar dalam masyarakat sangat rendah sehingga meskipun ada nyamuk sebagai vektor, tetapi gigitannya tidak akan mampu menularkan filariasis karena rendahnya jumlah mikrofilaria dalam darah penderita
POMP Pada kasus filariasis dilakukan tindakan pengobatan massal secara “blanket approach”. Artinya; obat diberikan kepada setiap orang dalam satu wilayah tanpa memeriksa satu per satu lebih dahulu untuk menentukan apakah seseorang menderita filariasis atau tidak. Setiap orang yang tinggal di daerah dengan kepadatan filaria tertentu akan diberi obat sehingga kepadatan filarial di daerah tersebut akan menurun. Pemeriksaan darah lebih dahulu yang dimaksudkan untuk menemukan penderita yang akan diobati tidak bermanfaat, karena tidak semua penderita menunjukkan mikrofilaria positif dalam test darah malamnya
POMP Obat yang saat ini digunakan untuk pengobatan massal berdasarkan kesepakatan global di bawah arahan WHO adalah Dietilkarbamazin (DEC) + Albendazol, diberikan dalam dosis tunggal sekali setahun dan diulang sekali setiap tahun selama lima tahun di daerah endemis filariasis. Dalam riwayat Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis di Indonesia DEC selalu digunakan karena DEC adalah obat pilihan untuk filariasis. Obat ini membunuh mikrofilaria, akan tetapi efeknya pada filaria dewasa masih dipertanyakan Albendazol dipakai untuk membunuh filarial dewasa. Albendazol selama ini merupakan obat bebas yang dipakai untuk mengobati investasi cacing dalam usus.
Brugia malayi dan Brugia timori • Hospes : – Brugia malayi : • Manusia • Binatang : kucing, kera, – Brugia timori : Manusia • Penyakit : filariasis malayi dan filariasis timori filariasis brugia
Penyebaran Geografis • Penyebaran geografis: – Brugia malayi : Asia – Brugia timori : Indonesia Timur( NTT, Timor Lorosae)
Morfologi dan Daur hidup • Habitat : saluran dan kelenjar limfe • Halus seperti benang putih susu • Cacing dewasa : – B. malayi : ♀ 55 mm x 0, 16 mm ♂ 22 -23 x 0, 09 mm – B. timori : ♀ 21 -39 mm x 0, 1 mm ♂ 13 -23 mm x 0, 08
B. malayi
B. timori
Siklus Hidup B. malayi & B. timori
Daur hidup Brugia malayi/B. timori
• Mikrofilaria : – bersarung, – ukuran : 200 -260 µ x 8 µ(B. malayi) dan 280 - 310 µ x 7 µ(B. timori) – Periodisitas : • B. malayi nokturna, subperiodik nokturna atau non periodik • B. timori : periodik nokturna
• Vektor : – B. malayi periodik : An. barbirostris – B. malayi subperiodik : Mansonia spp. – B. timori : An. barbirostris • Cara infeksi : gigitan nyamuk vektor yang mengandung larva filaria stadium III.
Patologi dan gejala klinis • filariasis malayi = filariasis timori • Stadium akut : – serangan demam dan radang saluran dan kel. limfe hilang timbul beru-lang kali. – Limfadenitis kel. limfe inguinal unilateral – Limfangitis retrograd – Peradangan tampak sebagai garis merah yang menjalar kebawah
• Menahun : elefantiasis hanya mengenai tungkai bawah lutut atau lengan bawah siku.
Elephantiasis yang disebabkan oleh B. malayi
Diagnosis • • Gejala klinis Diagnosis parasitologi = filariasis bankrofti Radiodiagnosis umumnya tidak dilakukan Diagnosis Imunologi belum dapat dilakukan
Pengobatan • DEC dgn dosis 5 mg /kg. bb selama 10 hari • Efek samping obat jauh lebih berat daripada filariasis bankrofti • Untuk pengobatan masal : dosis rendah jangka panjang(100 mg /minggu selama 40 minggu) atau garam DEC 0, 2 -0, 4% selama 9 -12 bln.
Epidemiologi • Hanya terdapat di daerah pedesaan • B. malayi yang hanya pada manusia dan B. timori di daerah persawahan • B. malayi manusia dan binatang di pinggir pantai atau aliran sungai, rawa-rawa. • Peneyebaran bersifat fokal.
Mansonella Ozzardi • Penyebab filariasis ozzardi /mansoneliasis • Persebarannya amerika
Loa loa • menginfeksi mata manusia • awalnya ditemukan di Afrika dan sekarang telah mencapai Asia. Lalat bakau diyakini sebagai pembawa cacing ini • Beberapa kasus di temukan di india
HOSPES • Hospes : Manusia • Penyakit : loaiasis = Calabar swelling (fugitive swelling) • Penyebaran geografik : daerah katulistiwa berhutan (rain forest) Afrika tropis bagian Barat
Epidemiologi • Daerah endemi adalah daerah lalat Chrysops silacea dan C. dimidiata dgn tempat perindukan di hutan berhujan dng kelembaban tinggi
Morfologi dan Daur Hidup • Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan • Mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari • Mikrofilaria bersarung, dapat ditemukan dalam urin, sputum, kadang-kadang dalam cairan sumsum tulang blakang • Vektor : lalat Chrysops
Patologi dan Gejala Klinik • Cacing dewasa dalam jaringan subkutan dan mikrofilaria dalam darah tidak menimbul-kan gejala • Cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh tubuh gangguan di konjungtiva mata • Kelainan khas calabar swelling atau fugitive swelling • Bila masuk ke otak ensefalitis
Diagnosis • Menemukan mikrofilaria dalam darah yang diambil pada siang hari • Menemukan cacing dewasa dari conjunctiva mata atau dalam jaringan subkutan.
Pengobatan • DEC 2 mg/kg bb, 3 x sehari sesudah makan selama 14 hari • Cacing dewasa pada mata dengan operasi.
Onchocerca volvulus
HOSPES • Hospes : Manusia • Penyakit : onkosersiasis, river blindness, blinding filariasis • Penyebaran : Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan
Morfologi dan Daur Hidup • Cacing dewasa hidup dalam jaringan ikat • Bentuk seperti kawat putih, opalesen dan transparan • Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria dalam jar. subkutan migrasi ke kulit • Vektor : lalat Simulium
Epidemiologi • Tempat perindukan vektor di daerah pegunungan yang mempunyai air sungai yang deras • Kebutaan pada penduduk yang berdekatan dgn aliran sungai river blindness.
Patologi dan Gejala Klinik • Ada 2 tipe onkosersiasis 1. Tipe forest kelainan kulit lebih dominan 2. Tipe savanna kelainan mata yg dominan • • Manifestasi utama berupa kelianan pada kulit, sistem limfatik dan mata Dua macam proses patologi: – Cacing dewasa dalam jaringan ikat – Mikrofilaria yg beredar menuju kulit
Patologi dan Gejala Klinik • Kelainan oleh cacing dewasa disebut onkoserkoma • Kelainan oleh mikrofilaria terutama menge-nai mata gangguan serat-serat optik dan retina • Bila menahun kebutaan • Kulit kehilangan elastisitas hanging groin
Diagnosis • Klinis • Parasitologik : menemukan mikrofilaria atau cacing dewasa dalam benjolan sub-kutan. • USG nodul • Pelacak DNA dgn teknik PCR dgn pelacak ONCHO-150 • Mazotti test
Pengobatan • Ivermectin • Suramin
Drancunculus Medinensis
Thanks a lot