N A I F T I I T

  • Slides: 15
Download presentation
N A I F T I I T L A E IT N PE

N A I F T I I T L A E IT N PE UAL A K M SI G I A D K I A N R U PA M KO Y R S A E , H E L O E D Y S A U K U A

KONSEPTUALISASI PARADIGMA Ilustrasi Menjalani proses Komunikasi: Seperti berjalan di atas Rel Kereta Api (Engkus

KONSEPTUALISASI PARADIGMA Ilustrasi Menjalani proses Komunikasi: Seperti berjalan di atas Rel Kereta Api (Engkus Kuswarno) 1. Jika memandang jauh ke depan, maka kita akan melihat suatu titik yang akan dituju. itulah Tujuan Penelitian yang akan hendak dicapai. 2. Jika kita memandang ke bawah, kita akan melihat sepasang rel, dimana kita menginjak dan berjalan di atasnya. 3. Rel itu jika dipandang akan semakin menjauh, terlihat dalam satu titik yang sama, akan tetapi hakikatnya tidak pernah bersatu. 4. Rel itulah pijakan gerbong kereta, maka konsistensi rel di atas jalurnyalah yang akan menentukan keselamatan gerbong tiba di stasiun tujuan akhir.

SEHINGGA: Cara memandang ke satu titik di atas satu pijakan jalur rel itulah yang

SEHINGGA: Cara memandang ke satu titik di atas satu pijakan jalur rel itulah yang disebut oleh Engkus Kuswarno sebagai PARADIGMA. Jika dunia penelitian dipandang secara dikotomi (kuantitatif dan Kualitatif), maka satu rel menjadi pijakan (paradigma) bagi “gerbong tradisi kuantitatif” dan satu rel lagi merupakan “Gerbong Tradisi Kualitatif) Kita akan termasuk peneliti yang konsisten (Istiqomah) jika memandang realitas sejalan dengan pijakan rel dimana kita berdiri.

MAKNA ETIKA AKADEMIS SEORANG PENELITI Realitas antar Rel tentu saja berbeda, sehingga tidak bijaksana

MAKNA ETIKA AKADEMIS SEORANG PENELITI Realitas antar Rel tentu saja berbeda, sehingga tidak bijaksana jika kebenaran pada satu rel (misalnya kuantitatif) tentang realita menjadi kebenaran untuk rel yang lainnya (misalnya kualitatif), Sementara kita berdiri kokoh menurut cara pandang kuantitatif. Sebaliknya, kita akan lebih bijaksana jika ingin mengetahui kebenaran satu rel yang lainnya dengan cara memasuki pijakan pada relnya (bukan bersikukuh pada rel sendiri) DISITULAH MAKNA ETIKA AKADEMIS SEORANG PENELITI

PARADIGMA MENURUT GUBA (1990: 17) ADALAH: 1. Serangkaian Keyakinan Dasar yang membimbing tindakan. 2.

PARADIGMA MENURUT GUBA (1990: 17) ADALAH: 1. Serangkaian Keyakinan Dasar yang membimbing tindakan. 2. Berurusan dengan prinsip-perinsip dasar penelitian 3. Menentukan pandangan dunia sebagai BRICOLEUR 4. Paradigma lebih penting daripada Metode. 5. Penelitian kuantitatif dan kualitatif sama-sama dapat digunakan secara tepat sesuai paradigmanya.

BRICOLEUR MENURUT LEVI-STRAUSS (DENZIN & LICOLN, 2009 : 2) 1. Manusia serba bisa atau

BRICOLEUR MENURUT LEVI-STRAUSS (DENZIN & LICOLN, 2009 : 2) 1. Manusia serba bisa atau seseorang yang mandiri dan profesional. Berikoleur menghasilkan Brikolase yaitu: Serangkaian praktek yang disatu padukan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan dalam situasi nyata 2. Pada pijakan kualitatif, brikoleur mahir dalam melaksanakan sejumlah besar pekerjaan mewawancarai, menafsirkan dokumen pribadi dan historis, merefleksikan dan meninstropeksi diri secara mendalam 3. Memahami bahwa penelitian merupakan proses interaksi yang dibentuk oleh perjalanan hidup, biografi, gender, kelas sosial, ras kesukuan. 4. Sebagai peneliti akan menceritakan dunia yang dikaji atau ditelitinya. 5. Seseorang yang harus banyak membaca dan berwawasan luas mengenai berbagai paradigma, khususnya tentang masalah yang ditelitinya.

PARADIGMA MENURUT DENZIM DAN LINCOLN (2009: 123) 1. Menyebutkan ada tiga elemen dalam paradigma

PARADIGMA MENURUT DENZIM DAN LINCOLN (2009: 123) 1. Menyebutkan ada tiga elemen dalam paradigma yaitu, ontologi, epistemologi dan metodologis. 2. Dipandang sebagai metafisika atau kepercayaan dasar yang berurusan dengan prinsip-prinsip puncak atau pertama/awal. 3. Mewakili pandangan dunia, sifat dunia, tempat individu di dalamnya, dan rentang hubungan yang dimungkinkan dengan dunia teresebut beserta bagian-bagiannya. 4. Kpercayaan bersifat dasar, dalam pengertian bahwa kepercayaan tersebut harus diterima semata-mata berdasarkan keyakinan, meskipun argumentasinya kurang bagus.

BAGI PENELITI, PARADIGMA PENELITIAN MEMBERIKAN PENJELASAN TENTANG APA YANG HENDAK DILAKUKAN, DENGAN MENJAWAB 3

BAGI PENELITI, PARADIGMA PENELITIAN MEMBERIKAN PENJELASAN TENTANG APA YANG HENDAK DILAKUKAN, DENGAN MENJAWAB 3 ELEMEN DASAR: 1. BIASANYA PERTANYAAN ONTOLOGI (Apakah bentuk dan sifat realitas atau apa yang dapat diketahui tentangnya? ) Misalnya, menanyakan tentang: Bagaimana keadaan sesuatu itu sesungguhnya? Atau, Bagaimana cara kerja sesuatu itu sesungguhnya? Oleh karena itu, HANYA pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi “NYATA” dan tindakan “NYATA” yang dapat diterima. Pertanyaan-pertanyaan lain, misalnya etika, estetika atau moral tidak termasuk pada ranah ONTOLOGI.

SAMBUNGAN…. 2. Pertanyaan EPISTEMOLOGI (Apakah sifat hubungan yang terjalin antara (calon) peneliti dengan sesuatu

SAMBUNGAN…. 2. Pertanyaan EPISTEMOLOGI (Apakah sifat hubungan yang terjalin antara (calon) peneliti dengan sesuatu yang ditelitinya? Jawaban atas pertanyaan ini dibatasi oleh jawaban yang telah diberikan untuk pertanyaan ontologis, Artinya, tidak sembarangan hubungan dapat di postulatkan (disimpulkan)

SAMBUNGAN… 3. Pertanyaan METODOLOGIS (Apa saja cara yang ditempuh (calon) peneliti untuk menemukan apapun

SAMBUNGAN… 3. Pertanyaan METODOLOGIS (Apa saja cara yang ditempuh (calon) peneliti untuk menemukan apapun yang dipercayainya? ) Artinya, pertanyaan-pertanyaan dibatasi oleh 2 pertanyaan pertama (Ontologi & Epistemologi ), sehingga tidak sembarang metode yang sesuai. Pertanyaan metodologis tidak dapat direduksi menjadi pertanyaan tentang metode.

PARADIGMA PENELITIAN MENURUT DENZI 1. Positivisme 2. Post-Positivisme 3. Konstruktivis 4. Kritis Catatan: -

PARADIGMA PENELITIAN MENURUT DENZI 1. Positivisme 2. Post-Positivisme 3. Konstruktivis 4. Kritis Catatan: - 1 & 2 disebut sebagai paradigma klasik, atau sering juga disebut sebagai paradigma objektif atau kuantitatif. - 3 -4 disebut sebagai paradigma alternatif atau paradigma kualitatif

DIKATAKAN PARADIGMA KLASIK KARENA: POSITIVISME telah mendomonasi wacana formal dalam penelitian ilmu sosial dan

DIKATAKAN PARADIGMA KLASIK KARENA: POSITIVISME telah mendomonasi wacana formal dalam penelitian ilmu sosial dan eksakta selama kira-kira 400 tahun. Awal tahun 1980 -an berkembang POST-POSITIVIS, yang merupakan kelanjutan dari positivisme untuk memberikan jawaban-jawaban terbatas (dengan kepercayaan dasar yang sama) terhadap kritik yang paling problematis dan positivisme.

KONSTRUKTIVIS Merupakan Paradigma Populer untuk penelitian komunikasi dalam dasa warsa terakhir (Sejak tahun 2009)

KONSTRUKTIVIS Merupakan Paradigma Populer untuk penelitian komunikasi dalam dasa warsa terakhir (Sejak tahun 2009) Diantaranya penelitian: fenomenologi, hermeneutika, interaksi simbolik dan konstruksi realitas secara sosial.

PARADIGMA KRITIS Sering juga disebut dengan teori Kritis, (yang diikuti kata “dan Kawankawan”, pada

PARADIGMA KRITIS Sering juga disebut dengan teori Kritis, (yang diikuti kata “dan Kawankawan”, pada hakekatnya terdiri dari : Neo-Marxixme Feminisme Materialisme Penelitian Partisipasif Apabila dibuat kategori Aliran, maka teori-teori kritis terdiri dari 3 aliran yaitu: Post-Strukturalisme Post-Modernisme Dan campuran Keduanya

TERIMA KASIH

TERIMA KASIH