MOTOR INDUKSI Klasifikasi Motor Listrik PENDAHULUAN Arus rotor

  • Slides: 65
Download presentation
MOTOR INDUKSI

MOTOR INDUKSI

Klasifikasi Motor Listrik

Klasifikasi Motor Listrik

PENDAHULUAN • Arus rotor motor induksi bukan diperoleh dari sumber tertentu. • Arus pada

PENDAHULUAN • Arus rotor motor induksi bukan diperoleh dari sumber tertentu. • Arus pada rotor terinduksi akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dan medan putar pada stator

BAGIAN-BAGIAN MOTOR

BAGIAN-BAGIAN MOTOR

KOMPONEN STATOR • Rangka. • Inti stator • Kumparan/gulungan • Pelat penutup

KOMPONEN STATOR • Rangka. • Inti stator • Kumparan/gulungan • Pelat penutup

KONSTRUKSI STATOR • Dibuat dari pelat-pelat tipis dengan slot. • Belitan ditempatkan pada slot

KONSTRUKSI STATOR • Dibuat dari pelat-pelat tipis dengan slot. • Belitan ditempatkan pada slot • Gulungan tiga fasa dilingkarkan untuk sejumlah kutub tertentu • Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120° antar phasa

INTI STATOR • Terbuat dari lempeng-lempeng baja silikon berlaminasi. • Untuk memperkecil rugi-rugi besi

INTI STATOR • Terbuat dari lempeng-lempeng baja silikon berlaminasi. • Untuk memperkecil rugi-rugi besi akibat arus pusar

KONSTRUKSI ROTOR • • Fungsi : mengubah daya dari stator menjadi tenaga mekanik. Terdapat

KONSTRUKSI ROTOR • • Fungsi : mengubah daya dari stator menjadi tenaga mekanik. Terdapat dua tipe, yaitu : 1. Rotor sangkar 2. Rotor belitan • Komponen-komponen. Rotor: Ø Inti besi rotor, Ø Kumparan/batang penghantar, Ø Cincin Ø Poros (shaft).

ROTOR SANGKAR • Terdiri dari batang penghantar tebal yang diletakkan pada petak-petak slot paralel

ROTOR SANGKAR • Terdiri dari batang penghantar tebal yang diletakkan pada petak-petak slot paralel • Kedua ujungnya dihubungsingkat dengan cincin

ROTOR BELITAN • • • Konduktor yang digunakan adalah belitan Belitan terhubung ke cincin

ROTOR BELITAN • • • Konduktor yang digunakan adalah belitan Belitan terhubung ke cincin geser yang dipasang pada shaft Belitan terhubung ke resistor melalui sikat karbon

PRINSIP KERJA • • • Prinsip kerja motor induksi mirip trafo Rangkaian primer (stator)

PRINSIP KERJA • • • Prinsip kerja motor induksi mirip trafo Rangkaian primer (stator) dan sekunder (rotor) tidak satu inti. Rangkain sekunder berputar

PRINSIP KERJA • • • Listrik dipasok ke stator sehingga menghasilkan medan magnet yang

PRINSIP KERJA • • • Listrik dipasok ke stator sehingga menghasilkan medan magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron Pada rangkaian rotor timbul arus sehingga timbul kopel Rotor berputar searah putaran medan stator

SLIP • • Dalam praktek rotor tidak pernah berputar pada kecepatan sinkron Perbedaan kecepatan

SLIP • • Dalam praktek rotor tidak pernah berputar pada kecepatan sinkron Perbedaan kecepatan antara putaran medan stator dan kecepatan rotor disebut slip Ns = kecapatan putaran sinkron/ stator (rpm) Nr = kecepatan putaran rotor (rpm)

Slip • Slip menghasilkan kopel motor untuk memutar rotor. • Bila ns = nr

Slip • Slip menghasilkan kopel motor untuk memutar rotor. • Bila ns = nr tidak menghasilkan arus induksi pada kumparan jangkar rotor sehingga tidak dihasilkan kopel. • Hubungan antara kopel motor (T) , slip (S) dan tahanan rotor ( R). T R 1<R 2<R 3 Tmaks S S=1 S=0 14

KONSEP MEDAN PUTAR

KONSEP MEDAN PUTAR

Prinsip Kerja t 6 F T FT F FFcb F Fa b -b x

Prinsip Kerja t 6 F T FT F FFcb F Fa b -b x c c -a F FT ib Fc b ib ia ia Fa FFbc T ic FT Fc ia ic ic ib ia ic x F ic ib -c Fa ic a Fb ib ia c Fa ib ia x b t 5 Fb t 4 t 3 F t 2 t 1 Fa t 0 Fa FT

Prinsip Kerja t 1 t 0 t 3 t 2 ia t 5 t

Prinsip Kerja t 1 t 0 t 3 t 2 ia t 5 t 4 ib x ic ib ia -c ic ib ia ic ic ib t 6 ia ic -b Fb x Fa ib ia x b c Fc ib ia ic t 1 -a t 2 t 4 t 3 t 5 FT b b FT -a b Fc -b x c Fb -c x Fa FT xa -b Fb xa -a Fb F -a -c x x c c F -b Fa -c x x c xa Fc a -b F b c T -a x xa b Fa -a -c x x c b xa -b Fb b Fc -c x F Fb F -b Fc b xa Fa FT Fa -c x F F c T t 0 FT a -a x c

Mode Operasi +T Bila ns > nr mesin berfungsi Sebagai motor. Plugging Motor 1.

Mode Operasi +T Bila ns > nr mesin berfungsi Sebagai motor. Plugging Motor 1. 0 -T 0 Generator -1. 0 S Bila ns < nr mesin berfungsi Sebagai generator.

RANGKAIAN EKIVALEN V 1 = tegangan stator R 1 = tahanan stator X 1

RANGKAIAN EKIVALEN V 1 = tegangan stator R 1 = tahanan stator X 1 = reaktansi bocor stator RC = reaktansi inti besi E 1 = tegangan (ggl) stator R 2 = tahanan rotor X 2 = reaktansi bocor rotor Xm = reaktansi magnetisasi

VEKTOR DIAGRAM RANGKAIAN MOTOR INDUKSI

VEKTOR DIAGRAM RANGKAIAN MOTOR INDUKSI

RANGKAIAN PENGGANTI MOTOR INDUKSI Harga sekunder dipindah ke primer Harga primer dipindah ke sekunder

RANGKAIAN PENGGANTI MOTOR INDUKSI Harga sekunder dipindah ke primer Harga primer dipindah ke sekunder a= rasio/perbandingan ggl pada stator (E 1) terhadap ggl pada rotor (E 2)

KOPEL MOTOR INDUKSI kopel = torque: tanaga putaran

KOPEL MOTOR INDUKSI kopel = torque: tanaga putaran

KURVA TORSI DAN SLIP

KURVA TORSI DAN SLIP

 1. Sebuah motor induksi mempunyai tahanan rotor dan reaktansi rotor masing-masing 20, 5

1. Sebuah motor induksi mempunyai tahanan rotor dan reaktansi rotor masing-masing 20, 5 Ohm dan 6, 48 Ohm. Jika pada rotor dilalui arus sebesar 3, 62 A. Hitunglah tegangan (ggl) pada Stator E 1 = 3, 65 (20, 5 + 6, 48) = 98, 5 Volt 2. Sebuah motor induksi mempunyai tahanan dan reaktansi stator masing-masing 5, 73 Ohm dan 1, 6 Ohm. Jika pada motor diberi arus sebesar 10 A, Pada Stator muncul ggl sebesar 45, 82 Volt. Tentukan sumber tegangan yang diberikan motor tersebut. V 1= 45, 82 + 10(5, 73 + 1, 6) = 119, 12 Volt

 3. Sebuah motor induksi bekerja dengan daya 125 W dan frekuensi 60 HZ.

3. Sebuah motor induksi bekerja dengan daya 125 W dan frekuensi 60 HZ. Hitunglah torsi motor tersebut. T = 125 / (2 x 3, 14 x 60) = 0, 33 Nm 4. Sebuah motor induksi bekerja dengan Torsi 0, 86 Nm dan frekuensi 60 HZ. Bila motor diberi sumber tagangan 200 V dan arus yang masuk ke kumparan atator sebesar 1, 25 A. Hitunglah faktor daya motor tersebut. cosф = 0, 86 ( 2) (3, 14) (60) / 3 (200) (1, 25) = 0, 43

 3. Sebuah motor induksi dihubungkan dengan sumber tegangan 220 V. Jika reaktansi bocor

3. Sebuah motor induksi dihubungkan dengan sumber tegangan 220 V. Jika reaktansi bocor pada rotor sebesar 500 Ohm, dan rasio ggl stator terhadap rotor sebesar 8. Hitunglah torsi maksimum motor tersebut. T maks= 3 x 2202 / (2 x 82 x 500) = 2, 27 Nm 4. Sebuah motor induksi bekerja dengan Torsi maksimum 1, 86 Nm , dan rasio ggl stator terhadap rotor sebesar 12. Hitunglah rekatansi bocor pada rotor, jika motor tersebut diberi tegangan 320 V. X 2= 3 x 3202 / 2 x 122 x 1, 86 =573 Ohm

Sampai Sini Aja Dulu Dech Pussiiiinggg. .

Sampai Sini Aja Dulu Dech Pussiiiinggg. .

Torka Motor Induksi R 1 I 1 X 1 a 2 R 2/S I

Torka Motor Induksi R 1 I 1 X 1 a 2 R 2/S I 0 V 1 RC XM E 1 torque: tanaga putaran kopel a 2 X 2 I’ 2 Bila Z 1 = R 1 +j. X 1 dianggap kecil maka E 1 = V 1 , dan T adalah : Harga S untuk mendapatkan T maks maka didapat Tmaks pada dan

Daya motor Induksi Daya masuk Stator : Daya masuk rotor : Daya keluar rotor

Daya motor Induksi Daya masuk Stator : Daya masuk rotor : Daya keluar rotor ( P mekanis ) Rugi-rugi daya : Sehingga P 2 : Pm : Pr = 1 : ( 1 - S ) : S

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI • • • Umumnya berputar dengan kecepatan konstan, mendekati kecepatan

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI • • • Umumnya berputar dengan kecepatan konstan, mendekati kecepatan sinkronnya. Pada penggunaan tertentu dikehendaki adanya pengaturan putaran. Pengaturan kecepatan putaran motor induksi dapat dilakukan dengan beberapa cara : 1. Mengubah jumlah kutub motor 2. Mengubah frekuensi masukan 3. Mengatur teganan masukan

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH JUMLAH KUTUB Jumlah kutub dapat diubah dengan merencanakan kumparan stator sedemikian

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH JUMLAH KUTUB Jumlah kutub dapat diubah dengan merencanakan kumparan stator sedemikian rupa sehingga dapat menerima tegangan masuk pada posisi kumparan yang berbeda-beda.

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH FREKUENSI 1. Pengaturan putaran motor dapat dilakukan dengan mengubah harga frekwensi

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH FREKUENSI 1. Pengaturan putaran motor dapat dilakukan dengan mengubah harga frekwensi jala 2. Hanya saja untuk menjaga kesimbangan kerapatan fluks, 3. Pengubahan tegangan harus dilakukan bersamaan dengan pengubahan frekwensi

Pengaturan Motor Induksi Mengubah frekuensi jala-jala dan jumlah kutup : Bila p ( jumlah

Pengaturan Motor Induksi Mengubah frekuensi jala-jala dan jumlah kutup : Bila p ( jumlah kutup ) semakin besar maka semakin lambat kecepatan putaran dan se baliknya. Jumlah kutup dapat diubah 2 dengan meren canakan kumparan stator sedemikian shg dapat menerima tegangan masuk pada posisi yang berbeda-beda. Dari persamaan diatas diketahui bahwa dengan mengubah f semakin besar maka Menyebabkan kecepatan motor akan semakin besar juga dan sebaliknya.

Pengaturan Motor Induksi Mengatur tegangan jala – jala : Besarnya kopel motor induksi sebanding

Pengaturan Motor Induksi Mengatur tegangan jala – jala : Besarnya kopel motor induksi sebanding dengan pangkat dua tegangan yang di berikan ( V 1) T = k V 2. T Karakteristik beban dapat dilihat seperti gambar disamping, kecepatan akan be V 1 rubah dari n 1 ke n 2 untuk tegangan beban masuk setengah dari tegangan semula. 0. 5 V 1 n 2 n 1 n Harmonic tinggi dan power factor ren dah , pengaturan ini biasanya dipakai untuk peralatan starting torque rendah

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH TEGANGAN

PENGATURAN DENGAN MENGUBAH TEGANGAN

Pengaturan motor induksi Pengaturan tahanan luar Ø Penambahan tahanan luar R 2 pada rotor

Pengaturan motor induksi Pengaturan tahanan luar Ø Penambahan tahanan luar R 2 pada rotor belitan sampai harga tertentu dapat torka Start maksimum. T Ø Penambahan tahanan luar juga diperlukan untuk memba tasi arus awal yg besa saat Start. Ø Dengan mengubah 2 tahanan luar juga diperlukan untuk me ngatur kecepatan motor. R 2 naik n 4 n 3 n 2 n 1 Kurva T terhadap speed ( n ) dengan mengubah-ubah R 2 n Ø Cara ini mengakibatkan rugi daya yang cukup besar pada rotor

PENGATURAN DENGAN TAHANAN LUAR

PENGATURAN DENGAN TAHANAN LUAR

MOTOR INDUKSI SATU FASA • • Motor satu fasa tidak dapat self-starting Perlu metode

MOTOR INDUKSI SATU FASA • • Motor satu fasa tidak dapat self-starting Perlu metode start khusus

MOTOR KAPASITOR • • Banyak digunakan dalam peralatan rumah tangga Contoh : motor pada

MOTOR KAPASITOR • • Banyak digunakan dalam peralatan rumah tangga Contoh : motor pada pompa air, mesin cuci lemari es, AC

KONFIGURASI BELITAN MOTOR KAPASITOR • • • U 1 dan U 2 : Terminal

KONFIGURASI BELITAN MOTOR KAPASITOR • • • U 1 dan U 2 : Terminal belitan utama Z 1 dan Z 2 : Terminal belitan bantu Condenser berfungsi agar belitan utama dan belitan bantu berbeda 90°

MOTOR KAPASITOR DENGAN CENTRIFUGAL SWITCH • • • Digunakan pada motor kapasitor dengan kapasitas

MOTOR KAPASITOR DENGAN CENTRIFUGAL SWITCH • • • Digunakan pada motor kapasitor dengan kapasitas diatas 1 k. W Terdapad 2 buah kondensor Saat 70% putaran nominal, saklar centrifugal membuka untuk memutuskan satu kondensor

MOTOR INDUKSI TIGA FASA Hubungan Delta Hubungan Bintang

MOTOR INDUKSI TIGA FASA Hubungan Delta Hubungan Bintang

NAMEPLATE MOTOR INDUKSI

NAMEPLATE MOTOR INDUKSI

INFORMASI PADA NAMEPLATE • • • Horse Power =: Kemampuan putaran rotor menggerakkan beban

INFORMASI PADA NAMEPLATE • • • Horse Power =: Kemampuan putaran rotor menggerakkan beban makimum. 1 HP = 746 W Volt : biasanya mempunyai toleransi 10 % AMPS : Kemampuan motor dengan beban maksimum HERZT : Frekuensi jaringan listrik RPM : Kecepatan putaran rotor saat tersambung beban maksimum Service Factor : Faktor perkalian kemampuan daya mekanik dimana motor bisa dioperasikan

INSULATION CLASS • • Pembagian Kelas Isolasi : Class A, kemampuan isolasi hanya 105°C

INSULATION CLASS • • Pembagian Kelas Isolasi : Class A, kemampuan isolasi hanya 105°C Class B, kemampuan isolasi hanya 130°C Class C, kemampuan isolasi hanya 155°C Class D, kemampuan isolasi hanya 180°C

NEMA DESIGN • • Menerangkan Karakteristik kemampuan torsi ouput rotor: Nema A, motor mempunyai

NEMA DESIGN • • Menerangkan Karakteristik kemampuan torsi ouput rotor: Nema A, motor mempunyai arus start tinggi dan torsi awal normal Nema B, motor mempunyai arus start rendah dan torsi awal normal Nema C, motor mempunyai arus start rendah dan torsi awal tinggi Nema D, motor mempunyai arus start rendah dan torsi awal sangat tinggi

ARUS START • • • Mereferensikan terjadinya lock rotor, Rotor terkunci sehingga akan menarik

ARUS START • • • Mereferensikan terjadinya lock rotor, Rotor terkunci sehingga akan menarik sumber sangat besar sekali Biasanya untuk motor Nema Design B sebesar 600 – 650 % arus beban penuh

KONVERSI ENERGI PADA MOTOR

KONVERSI ENERGI PADA MOTOR

EFISIENSI MOTOR INDUKSI Ditentukan oleh kehilangan dasar yang hanya dapat dikurangi oleh perubahan pada

EFISIENSI MOTOR INDUKSI Ditentukan oleh kehilangan dasar yang hanya dapat dikurangi oleh perubahan pada rancangan motor dan kondisi operasi Jenis kehilangan Persentase kehilangan total (100%) Kehilangan tetap atau kehilangan inti 25 Kehilangan variabel: kehilangan stator I 2 R 34 Kehilangan variabel: kehilangan rotor I 2 R 21 Kehilangan gesekan & penggulungan ulang 15 Kehilangan beban yang menyimpang 5

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFISIENSI • • Usia Kapasitas Kecepatan Jenis Suhu Penggulungan ulang Beban

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFISIENSI • • Usia Kapasitas Kecepatan Jenis Suhu Penggulungan ulang Beban

BEBAN MOTOR Eff. HP Beban Pi = = Efisiensi operasi motor dalam % Nameplate

BEBAN MOTOR Eff. HP Beban Pi = = Efisiensi operasi motor dalam % Nameplate untuk HP Daya yang keluar sebagai % laju daya Daya tiga phasa dalam k. W

METODE UNTUK MENENTUKAN BEBAN MOTOR 1. Pengukuran daya masuk. Metode ini menghitung beban sebagai

METODE UNTUK MENENTUKAN BEBAN MOTOR 1. Pengukuran daya masuk. Metode ini menghitung beban sebagai perbandingan antara daya masuk (diukur dengan alat analisis daya) dan nilai daya pada pembebanan 100%. 2. Pengukuran jalur arus beban ditentukan dengan membandingkan amper terukur (diukur dengan alat analisis daya) dengan laju amper. 3. Metode Slip. Beban ditentukan dengan membandingkan slip yang terukur bila motor beroperasi dengan slip untuk motor dengan beban penuh.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA MOTOR LISTRIK 1. Mengganti motor Standar dengan motor efisiensi tinggi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA MOTOR LISTRIK 1. Mengganti motor Standar dengan motor efisiensi tinggi 2. Penurunan Pembebanan (menghindari motor yang ukurannya berlebih). 3. Ukuran Motor untuk Beban Yang Bervariasi 4. Memperbaiki Kualitas Daya 5. Penggulungan Ulang (Rewinding) 6. Koreksi Faktor Daya Dengan Memasang Kapasitor

MOTOR EFISIENSI TINGGI 1. Efisiensinya sekitar 3% - 7% lebih besar dari motor standar

MOTOR EFISIENSI TINGGI 1. Efisiensinya sekitar 3% - 7% lebih besar dari motor standar 2. Desain motor disesuaikan untuk menurungkan kehilangan dasar motor 3. Karakteristik motor efisiensi tinggi : • Menggunakan baja silikon • Inti lebih panjang • Kawat lebih tebal • Laminasi lebi tipis • Celah udara lebih tipis • Bearing lebih bagus, dll

PERBANDINGAN MOTOR EFISIENSI TINGGI DENGAN MOTOR STANDAR

PERBANDINGAN MOTOR EFISIENSI TINGGI DENGAN MOTOR STANDAR

PENURUNAN PEMBEBANAN 1. Beban yang kurang akan menurunkan efisiensi motor. 2. Ukuran motor harus

PENURUNAN PEMBEBANAN 1. Beban yang kurang akan menurunkan efisiensi motor. 2. Ukuran motor harus dipilih berdasarkan pada evaluasi beban dengan hati-hati 3. Penyebab ketidak efisienan : a. Pembuat peralatan cenderung menggunakan faktor keamanan yang besar bila memilih motor b. Peralatan kadangkala digunakan dibawah kemampuan yang semestinya. c. Dipilih motor yang besar agar mampu mencapai keluaran pada tingkat yang dikehendaki, bahkan jika tegangan masuk rendah dalam keadaan tidak

UKURAN MOTOR UNTUK BEBAN YANG BERVARIASI • • • Motor industru sering beroperasi pada

UKURAN MOTOR UNTUK BEBAN YANG BERVARIASI • • • Motor industru sering beroperasi pada beban bervariasi Biasanya dipilih motor dengan antisipasi paling tinggi Alternatifnya: memilih motor sedikit lebi rendah dari beban antisipasi tertinggi Hal ini memungkinkan karena motor biasanya dirancang 15 % diatas nilai beban Kriteria pemilihan motor : Kenaikan suhu rata-rata diatas siklus operasi aktual harus tidak lebih besar dari kenaikan suhu pada operasi beban penuh yang berkesinambungan (100%)

MEMPERBAIKI KUALITAS DAYA • • Fluktuasi tegangan dan frekuensi dapat merigikan kinerja motor Ketidakseimbangan

MEMPERBAIKI KUALITAS DAYA • • Fluktuasi tegangan dan frekuensi dapat merigikan kinerja motor Ketidakseimbangan tegangan akan lebih merugikan. Dapat terjadi akibat penggunaan kabel dengan ukuran yang berbeda • Keseimbangan fasa maksimum 1% • Minimisasi ketidakseimbangan dapat dilakukan dengan 1. Menyeimbangkan setiap beban phasa tunggal diantara seluruh tiga phasa 2. Memisahkan setiap beban phasa tunggal yang mengganggu keseimbangan beban dan umpankan dari jalur/trafo terpisah

PENGGULUNGAN ULANG (REWINDING) • • Biasanya dilakukan pada motor yang terbakar Faktor yang dapat

PENGGULUNGAN ULANG (REWINDING) • • Biasanya dilakukan pada motor yang terbakar Faktor yang dapat mempengaruhi efisisensi motor: a. Desain slot dan gulungan b. Bahan gulungan c. Kinerja pengisolasi d. Suhu operasi • Indikator keberhasilan penggulungan ulang adalah perbandingan arus dan tahanan sator tanpa sesudanh digulung ulang dan kondisi orisinil

HAL YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN SAAT REWINDING • • Gunakan perusahaan yang bersertifikasi ISO 9000

HAL YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN SAAT REWINDING • • Gunakan perusahaan yang bersertifikasi ISO 9000 atau anggota dari Assosasi Layanan Peralatan Listrik. Jika biaya pegulungan ulang melebihi 50% hingga 65% dari harga motor baru yang efisien energinya, lebih baik membeli motor yang baru Ukuran motor kurang dari 40 HP dan usianya lebih dari 15 tahun (terutama motor yang sebelumnya sudah digulung ulang) sebaiknya diganti. Untuk motor dibawah 15 HP sebaiknya mengganti motor baru, agar lebih ekonomis

KOREKSI FAKTOR DAYA DENGAN MEMASANG KAPASITOR • • • Faktor daya motor induksi <

KOREKSI FAKTOR DAYA DENGAN MEMASANG KAPASITOR • • • Faktor daya motor induksi < 1 Efisiensi seluruh sistem pabrik akan rendah Kapasitor yang dihubung paralel dapat digunakan untuk memperbaiki faktor daya. Kapasitas kapasitor ditentukan k. VA R tanpa beban yang diserap motor Kapasitas kapasitor tidak boleh lebig dari 90% k. VAR motor tanpa beban. Kapasitas terlalu besar dapat menyebabkan motor terbakar

PERAWATAN MOTOR INDUKSI • • Perawatan yang buruk dapat memperburuk efisiensi Pelumasan yang tidak

PERAWATAN MOTOR INDUKSI • • Perawatan yang buruk dapat memperburuk efisiensi Pelumasan yang tidak benar dapat menyebabkan meningkatkan gesekan motor dan penggerak transmisi peralatan • Kondisi ambien juga akan mempengaruhi kinerja motor Ø suhu ekstrim, Ø kadar debu yang tinggi, Ø atmosfir yang korosif, Ø dan kelembaban dapat merusak sifat-sifat bahan isolasi

PERIKSA PERAWATAN MOTOR INDUKSI • • • Pemeriksaan motor secara teratur untuk pemakaian bearings

PERIKSA PERAWATAN MOTOR INDUKSI • • • Pemeriksaan motor secara teratur untuk pemakaian bearings dan Pemeriksaan kondisi beban untuk meyakinkan bahwa motor tidak kelebihan atau kekurangan beban Pemeriksaan secara berkala untuk sambungan motor yang benar dan peralatan yang digerakkan Dipastikan bahwa kawat pemasok dan ukuran kotak terminal dan pemasangannya benar Penyediaan ventilasi yang cukup dan menjaga agar saluran pendingin motor bersih

PENGENDALIAN KECEPATAN MOTOR 1. 2. 3. 4. Motor dengan beberapa kecepatan Variable Speed Drives

PENGENDALIAN KECEPATAN MOTOR 1. 2. 3. 4. Motor dengan beberapa kecepatan Variable Speed Drives (VSDs) Penggerak Arus Searah (DC) Penggerak motor AC dengan gulungan rotor (motor induksi cincin geser)

Terima Kasih

Terima Kasih