MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Yusep Ahmadi F M Hum
MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Yusep Ahmadi F. , M. Hum.
SATUAN-SATUAN GRAMATIK • Satuan yang mengandung arti baik arti leksikal maupun gramatikal • Arti leksikal adalah makna yang terkandung dalam kata • Arti gramatikal adalah makna yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik
PENGERTIAN MORFOLOGI • Secara etimologi = Morf = bentuk, logi = ilmu • Morfologi adalah ilmu bahasa yang membahas seluk-beluk bentuk kata (struktur kata) (Arifin & Junaiyah, 2009) • Morfologi merupakan subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata (Whorf dalam Kridalaksana, 2010) • Ilmu yang mempelajari bentuk- bentuk dan pembentukan kata (Chaer, 2008) • Perbedaan leksikologi, morfologi, dan etimologi. leksikologi cabang k • linguistik yang membahas makna kata atau makna leksikal, moerfologi yang membahas seluk beluk kata (bentuk- struktur kata) dan makna gramatikalnya, sedangkan etimologi membahas asal – usul kata.
MORFOLOGI DAN LEKSIKOLOGI • Leksikologi mempelajari selukbeluk kata, ialah mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa. • Morfologi dan Leksikologi sama mempelajari seluk-beluk kata.
• Perbedaan leksikologi morfologi dan Morfologi mempelajari arti yang timbul sebagai peristiwa gramatik, ialah yang biasa disebut arti gramatik (grammatical meaning). Sedangkan leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata, atau yang lazim disebut arti leksikal (lexical meaning).
• Dalam penyelidikan bentuk, morfologi berdekatan dengan etimologi. • Etimologi menyelidiki seluk-beluk asal-usul kata secara khusus sedangkan morfologi menyelidiki seluk-beluk asal-usul kata yang disebabkan akibat sistem bahasa secara umum. • Contoh: dari kata pakai terbentuk kata pakaian, terpakai, memakai, dipakai, berpakaian (perubahan-perubahan itu disebabkan oleh sistem bahasa yaitu sistem afiksasi gejala itulah yang dipelajari oleh morfologi).
• kata kenan berkenan, tuan tuhan (perubahan-perubahan tersebut bukan bersifat umum atau bukan akibat sistem bahasa dan tidak dipelajari oleh morfologi atau ilmu asal-usul kata). • Asal-usul sebuah kata berasal dari bahasa apa, itu dipelajari oleh etimologi. • Contoh: kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna tulisan.
SATUAN GRAMATIK • Satuan gramatik adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatik. • SG tunggal dan bentuk kompleks, bentuk tunggal merupakan satuan gramtik yang tidak bisa diperkecil atau dibelah lagi contohnya merfem ber, -kan, -i. • Bentuk kompleks satuan gramatik yang dapat diperkecil lagi, contohnya : kata bermain, membeli, bertanding • SG Terikat dan Satuan Gramatik Bebas • SG Terikat adalah satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri contoh, morfem ber- me-N, per- , -i, • SG bebas contohnya, mobil, motor, dia, indah. dll.
LEKSEM, MORFEM, ALOMORF DAN KATA. • Leksem adalah bahan baku (input) dalam proses morfologis dan hasilnya berubah menjadi kata (output) (Kridalaksana, 2010). Satuan dasar dalam leksikon (leksikologi) dan diujudkan menjadi satuan gramatika dalam bentuk morfem dasar atau kata. • Morfem adalah satuan terkecil dalam morfologi yg mengandung makna. Dibedakan menjadi morfem bebas dan terikat. • Alomorf adalah variasi bentuk dari sebuah morfem karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Variasi ini terjadi pada perubahan bunyi (fonologis) tanpa perubahan makna. • Contoh. . Morfem ber- berubah menjadi be -dan bel-
HUBUNGAN MORFOLOGI DENGAN LEKSIKOLOGI, DAN SINTAKSIS Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, sedangkan leksikologi mempelejari seluk-beluk kata, yaitu perbendaharan kata, pemakaian kata sertaa artinya seperti dipakai masyarakat pemakai bahasa. Sintaksis merupakan penguasaan atas suatu bahasa yang mencakup kemampuan untuk membangun frase atau kalimat yang berasal dari kata. Sintaksis bersama dengan morfologi merupakan bagian dari subsistem tata bahasa atau gramatika. Morfologi menyelidiki struktur intern kata. Satuan yang paling kecil yang diselidiki oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata. Sementara sintaksis menyelidiki struktur satuan bahasa yang lebih besar dari kata, mulai dari frase hingga kalimat. Dengan kata lain, sintaksis merupakan studi gramatikal struktur antarkata, atau tegasnya menyelidiki selukbeluk frase, klausa, kalimat, dan wacana. Jadi, kata dalam morfologi merupakan satuan yang paling besar sedangkan dalam sintaksis merupakan satuan yang paling kecil.
URUTAN SATUAN GRAMATIK Wacana Kalimat Klausa Frasa Kata Morfem
BENTUK TUNGGAL DAN KOMPLEKS • Bentuk tunggal yaitu satuan gramatik yang tidak terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi. • Bentuk Kompleks yaitu satuan yang terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil lagi.
SATUAN GRAMATIK BEBAS DAN TERIKAT • Satuan gramatik bebas adalah satuan gramatik yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. • Satuan gramatik terikat adalah satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan
AFIKSASI • Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mendapat afiks. • Prefiks atau awalan: • Awalan ber- = ber-, bel • 1. ber- + suku awal mengandung -er – be-, seperti bekerja, beternak+ / yang berfonem awal /r/ , seperti berumput dan beracun • 2. ber-+ (ajar) – belajar, • Ber- +--ber-, seperti berguru dan bertamu • Awalan ber- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal)
MAKNA PREFIKS BER • 1. ‘memiliki’, Ia beranak dua orang. • 2. Menyatakan atau mengakui: “aku beradik kepadanya” ‘ aku menyatakan bahwa aku adiknya’ • 3. menghasilkan, mengeluarkan : “ ayam sudah bertelur” • 4. biasa melakukan , bertindak sebagai: paman bertukang, “ dia bertinju. • 5. memakai, mengunakan: berpayung, berkereta • 6. menjadi kelompok: “ berdua, berenam”
PREFIKS/AWALAN MENG-/ ME-N Alomorfnya: mem-, meny-, menge-, Alomorf meng- muncul pada 10 tempat, bila bertemu kata berawalan fonem /a, e, o, u, , e, i/ dan /g, j, kh, x, h/ : adili-- mengadili , undang– mengundag, khusus—mengkhususkan Alomorf me-: bila dimulai fonem /l. r, w, y, m, n, ng, ny. : larikan—melarikan, wakili —mewakili. Alomorf men-: bila katanya dimulai fonem /d, t, sy, z, /: darat– mendarat, syaratkan—mensyaratkan, zakat--menzakati.
• Alomorf mem-: bila dimulai katanya fonem /b, f, p, v/: basah—membasah, fitnah—memfitnah, piku—memikul. • Alomorf meny-: bila dimulai fonem/s, c, j/: sakit—menyakiti, cinta—mencinta. Mencuci, mencuri • Alomorf menge-: bil bertemu kata yang bersuku kata satu: cat --mengecat, lap--mengelap
PREFIKS DI • dibedkan bentuk di sebagai preposisi dan prefiks. Prefiks di- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif. Berkaitan dengan awalan meng-. • Makna awalan di- : • 1. dikenai laku atau dikenai tindakan. Koran itu seduah dibacanya. , • 2. dikenai dengan: digunting, digergajinya. . ‘ kayu itu dipongnya’ • 3. diberi atau dilengkapi= tembok itu dicat putih.
PREFIKS KE • Prefiks ke- berfungsi sebagai kata kerja ( prefiks verbal) • Memiliki makna: • 1. ‘telah mengalami’, menderita keadaan’. Yang dicari sudah ketemu. • 2. di urutan’ atau ‘ pada urutan’ : ia menjadi juara kedua. • Prefiks ke berfungsi sebagai pembentuk kata benda (prefiks nominal). Memilik makna: • Mempunyai sifat atau ciri: ‘Ketuaan, kehendak, ‘
PREFIKS PER • Fungsinya sebagai pembentuk kata kerja (prefiks verbal): per-; dan sebagai pembentuk kata benda (prefiks nominal: (pe- , pel) • Prefiks per memiliki alomorf per-, pel, pe. Memliki makna: • 1. (men) jadikan lebih: perindah, perjelas. • 2. ‘membagi jadi’: perdua—seperdua: membagi jadi dua. • 3. ‘ yang memiliki’: pejabat, pertanda, persegi. • 4. ’ yang menghasilkan: peternak ayam. , kambing pesusu.
PREFIKS PENG • Memiliki variasi (alomorf) yg sejalan dengan awalan meng-: • 1. peng- bila bertemu kata berfonem awal vokal dan g, k, h, kh, x. • 2. pem- bila bertemu dengan kata yang berfonem awal b, f, p, v. • 3. pen- bila bertemu dengan kata berawal fonem t, d, sy, z. • 4. peny- biala bertemu dengan kata berfonem awl s, c, j. • 5. pe- bila bertemu l, r, w, y • 6. penge- bila bertemu: kata ekasuku • Berfungsi sebagai pembentuk kata benda (nominal)
PREFIKS SE • Prefiks se- terdiri dua jenis, yaitu bentuk klitik dan pembentuk adverbia. • Bermakna ‘satu’. Adik semobil dengan ayah saat pergi ke Bandung. • Bermakna ‘seluruh’. Para pemain sepak bola se-Jawa Barat berkumpul di Gasibu. • Bermakna ‘sama dan sampai’. Air hingga setinggi lutut. Sepandai Ayahnya. • Bermakna ‘dengan’ seizinku adik pergi ke kota. • Bermakna seturut’, ‘menurut’. Setahuku dia orang baik. • Bermakna ‘setelah’. Sepeninggalmu aku sakit.
PREFIKS TER • Awalan ter memiliki variasi. Ter-, tel- • Ter= ter+( konsonan selain /r/dan anjur, ) dan semua vokal • Te= ter+ konsonan /r/ , suku kata pertama /er/ seperti teperdaya, tepercaya. • tel-= ter+ anjur. Telanjur • Bermakna ‘telah mengalami, menderita’ dia tertembak peluru nyasar. • Bermakna ‘dapat’. Terangkat
INFIKS • Infiks –el-, -em-, -er- , -in-. Infiks pada saat initidak lagi produktif. • -el-= Telunjuk=unjuk, pelatuk=patuk. Gelembung= gembung, • -em- kemuning= kuning, kemilau= kilau • -er- serabut= sabut, gerigi= gigi • -in- = kinerja= kerja, sinambung=sambung
SUFIKS ATAU AKHIRAN • Akhiran –an. sebagai pembentuk kata benda. Tanyaan, jawaban, • Sebagai pembentuk kata sifat (ajektifal). Gedean, panasan, banyakan • Kasus masalah, yasinan, tahlilan. ‘melakukan’
AKHIRAN –I, -IAH, -WIAH • Akhiran –i sebagai pembentuk kata kerja. Turuni, tanami, dalami, • Akhiran sebagai pembentuk kata sifat: • Contoh: alami, badani, gerejawi, duniawi, ukhrowi, • -I, -wi, iah, serapan dr bahasa arab
AKHIRAN -KAN • Berfungsi sebagai pembentuk kata kerja. Contoh: dengarkan, bacakan, (bermakna imperatif); menertawakan, memenangkan, memenjarakan. • Akhiran –in dan –at. Serapan dari b. arab. Hadirin, hadirat, mukminin, muslimat, akhirat,
KONFIKS (IMBUHAN TERBELAH) • Ke-. . . -an, sebagai pembentuk kata kerja (verba): contoh: , kemalaman. • Sebagai pembentuk kata sifat, contoh: keterlaluan, kemewahan • Sebagai pembentuk kata benda: keadilan, kemakmuran, kemanusiaan.
KONFIKS BER-…-AN • Berfungsi sebagai pembentuk kata kerja. Berhamburan, berlarian.
KONFIKS PER-…-AN • Konfiks per-…-an memiliki variasi, per-…-an, pel-…-an, pe-…an. Fungsinya sebagai pembentuk kata benda. Perolehan, pelajaran, pekerjaan.
KONFIKS PENG-…-AN • Memiliki variasi bentuk, pe-…-an, pem-…-an, peny-…-an, penge-…, . Fungsinya sebagai pembentuk kata benda. Bertalian bentuknya dengan awalan meng-. Contoh: penulisan, penyerangan, pemukiman, pengaturan.
KONFIKS SE-…-NYA • Fungsinya membentuk kata keterangan (adverbial). Biasanya dilekatkan pada kata ulang. Sebaiknya, sejujurnya. Setinggi- tingginya, secinta-cintanya.
REDUPLIKASI • Reduplikasi atau pengulangan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata yang berbentuk dwipurwa (pengulangan suku awal dengan pelemahan vokal), dwilingga (pengulangan penuh), dwilingga salin suara (penguangan penuh yang berubah bunyi), dwiwasana (pengulangan suku akhir), dan trilingga. • Dwilingga (penuh)= rumah-rumah • Dwilingga salin suara= bolak-balik, beras-petas, sayur-mayur, serta-merta, warna -warni • Dwipurwa= jejala, jejaring, jejari, rerata • Dwiwasana = sekali-kali, perlahan-lahan • Reduplikasi + afiks= dedaunan, pepohonan, mencakar-cakar, diangkat-angkat. • Trilingga merupakan pengulangan onomatope tiga kali dengan variasi fonem. Contoh: cas-cis-cus, dag-dig-dug, ngak-ngek-ngok (suara musik), dar-der-dor.
FUNGSI REDUPLIKASI • Pembentuk verba (verba menjadi verba= berkali-kali), • Pembentuk ajektiva (ajektiva menjadi verba ditambah afiks= tergila-gila) • Pembentuk nomina = Nomina menjadi Nomina= warna-warni, Verba mejadi Nomina= corat-coret, tumbuh-tumbuhan (+ afiks) • Pembentuk adverbia: Numeralia menjadi Adverbia= tiga-tiga ( kerjakan tiga-tiga supaya cepat selesai)
KOMPOSISI • Komposisi adalah proses penggabungan dua leksem atau lebih yang membentuk kata. Kata tersebut berbentuk kata majemuk atau kompositum. Kata majemuk dibedakan dengan frase. Frase adalah gabungan kata yang bukan gabungan leksem. Yang mengolah kata-kata menjadi frase adalah proses sintaksis sedangkan kata majemuk atau kompositum adalah hasil proses morfologis. Menurut Kridalaksana (2010) ciri perbedaan kata majemuk dengan frasa adalah ketaktersisipan. • Ketaktersisipan artinya di antara komponen-komponen kompositum tidak dapat disispi apa pun. Buta warna adalah kompositum karena tidak dapat disisipi apa pun. Sedangkan alat negara merupakan frase karena dapat disisipi partikel dari. Menjadi alat dari negara
BENTUK-BENTUK KOMPOSITUM DITINJAU DR STRUKTURNYA Kompositum berafiks Adu kening Beradu kening Alih nama Beralih nama Angkat bicara Mengangkat bicara Angkat kening Mengangkat kening Tembak jatuh Menembak jatuh Angkat sumpah Mengangkat sumpah Bawa diri Membawa diri Bawa nasib Membawa nasib Diam diri Berdiam diri Tangkap basah Tertangkap basah
BENTUK KOMPOSITUM DITINJAU DARI MAKNA IDIOMATISNYA Kompositum idiomatis Kompositum non-idiomatis Banting tulang Adu lari Buah bibir Akal budi Bulan madu Alih tugas Busuk hati Anak cucu Darah daging Gaji pokok Jantung hati Jual beli Makan angin Sepak terjang (idiomatis)
AKRONIMISASI • Akronim= singkatan dari beberapak kata menjadi sebuahbentuk bahasa yang diperlakukan sebagai kata; diucapkan sepertti sebuah kata • Singkatan=singkatan dari beberapa kata yang ditelus dan diucapkan tidak sepert sebuah kata.
KATEGORI KATA/KELAS KATA • Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Melayu) mengalami perubahan dari zaman Melayu hingga sekarang. Joannes Roman (1653) membagi kelas kata menjadi: nnomina, Pronomina, Verba, Adverbia, Preposisi, Konjungsi, Interjeksi. • Raja Ali Haji, (1857 dan 1859). Ism (Nomina), Fiil (verba) fiil madi, fiil mudari, fiil amr, fiil, lazim, fiil muta’adzi, . Harf (partikel) (preposisi, konjungsi, interogativa, dan onomate). • Anton M. Moeliono (1967). Rumpun” rumpun nominal, rumpun verbal, rumpun partikel,
KELAS KATA BHS. INDONESIA (KRIDALAKSANA, 1994) • Verba • Ajektifa • Nomina • Pronomina • Numeralia • Adverbia • Interogativa • Demonstrativa • Artikula • Preposisi • Konjungsi • Kategori Fatis • Interjeksi
VERBA • Secara umum kata yang menunjukkan perbuatan dan tindakan • Ciri: selalu dapat dilekati partikel (adverbia) tidak dan tanpa • Verba dasar bebas: yaitu berupa morfem dasar bebas. Contoh: duduk, tiang, mobil. • Verba turunan: yaitu verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses, atau berupa, paduan leksem. • 1. verba berafiks: mencintai, dalami, hidupkan • 2. verba bereduplikasi: bangun-bangun, ingat-ingat, makan-makan. • Ditinjau dari banyaknya nomina yang mendampinginya dapat dibedakan menjadi: • A. verba intransitif, contohnya: bersepeda, bersepatu, bermain. • B. verba transitif, : memainkan, menendang • Verba bitransitif: • Ditinjau dri hubungan verba dengan nomina, dapat dibedakan: verba aktif, verba pasif
AJEKTIVA • Ajektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dg partikel tidak, (2) mendampingi nomina, (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, dapat terlihat dari ciri morfologis (-er) honorer, (-if) sensitif, (i) alami, (wi) manusiawi; dapat dibentuk jadi nomina melalui konfiks (ke- -an), keadilan adil, halus kehalusan. • Ditinjau dari bentuknya dapat dibagi menjadi: • 1. Ajektiva dasar, adil, bahagia, sedih, senang • 2. Ajektiva turunan, terhormat, muda, ringan-ringan • AJEKTIVA BERASAL DARI PELBAGAI KELAS DENGAN PROSES BERIKUT: • Deverbalisasi: melengking, mengganggu, tergantung • Denominalisasi : angin-angin, berhati-hati, membudaya, melembaga • De-adverbialisasi, misalnya: berkurang, bertambah, menyengat, melebih
NOMINA • Nomina adalah kategori yang secara sintaksis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari; tidak dapat bergabung dengn adverbia agak , lebih, sangat, dan paling, wajib, dapat didahului adverbia yang menyatukan jumlah seperti, satu, sebuah, sebatang, • Ditinjau dari bentuknya: Nomina dasar: mobil, motor, ember, • Nomina turunan (mengalami afiksasi): Afikasai yang dapat membentuk nomina: pe-, per-, pe-an, per-an, ke-an, -an. Contoh: keuangan, gerigi, perpaduan • Nomina reduplikasi: tetamu, rumah-rumah, • Nomina hasil gabungan proses: batu-batuan, kesinambunagan • Nomina yg berasal dr berbagai kelas karena proses: • Deverbalisasi: permandian, pengembangan, kebersamaan. • Deajektivalisasi: ketinggian, leluhur • Denumeralisasi : kesatuan, kepelbagaian • Deadverbialsasi: kelebihan, keterlaluan • Penggabungan: jatuhnya, tridarma • Nomina paduan leksem: daya juang, loncat indah, • Nomna paduan leksem gabungan: seperti pengambilalihan
• Nominalisasi : adalah proses pembentukan nomina yang berasal dari morfem atau kelas kata yang lain. Proses ini dapat terjadi dengan: • Melalui afiks: ke-, per-, -an, ke-an, pe-an, dan per-an, • Proses nominalisasi jg dapat terjadi dengan melekatkan si, sang, yang
PRONOMINA
NUMERALIA
ADVERBIA
INTEROGATIVA • Adalah kategori dalam kalimat interogatif yg berfungsi menggantikan sesuatu yg ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yg telah diketahui pembicara. Apa yng igi diketahui dan apa yg dikukuhkan itu disebut anteseden. Antesedn selamanya di luar wacana. Contoh, apa, bila, kah (utk mengukuhkan bagian kalimat yg diikuti oleh kah mungkinkan), kapan, mana, dll.
DEMONSTRATIVA • Adalah kategori yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu di dalam maupun di luar wacana. Sesuatu itu disebut anteseden. Dari sudut bentuk dapat dibedakan antara (1) demonstrativa dasar, seperti itu dan ini, (2) demonstrativa turunan, seperti berikut, sekian, (3) demonstrativa gabungan seperti di sini, di situ, di sana, ini itu, di sana-sini. (Kridalaksana, 1994)
ARTIKULA • Artikula dlm BI adalah kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya si kancil, sang dewa, para pelajar) nomina deverbal misalnya (si terdakwa, si tertuduh) • Artikula untuk mengkhususkannomina singularis: si, sang, sri (untuk seseorang yang sangat dihormati seperti sri baginda, sri Ratu, Sri Paus, ). • Artikula yg bertugas utk mengkhususkan suatu kelompok, masing-masing: para, kaum (berideologi sama), umat ( agama)
PREPOSISI • Adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direktif. Contohnya di, ke, dari, akan, akibat, antar, pada, karena, dsb.
KONJUNGSI • Adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi. Konjungsi dapat mmenghubungkan bagian-bagian ujaran yg setataran maupun yang tidak. Banyak kasus yg sulit membedakan preposisi dengan konjungsi. • Contoh: agar, akan tetapi, dan, lalu, jika, kecuali, namun, dll.
KATEGORI FATIS • Adalah kategori yg bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan, komunikasi atara pembicara dan kawan bicara. Biasa terdapat dlm dialog dan wawancara. Kategori fatis utaanya adalah ciri ragam lisan. Contoh • Ah, menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh; ayo menekankan ajakan; dong, deh, halo, kok, lho, ya, sih toh, dll. • Frase fatis: selamat pagi, selamat malam. Terima kasih, turut berduk, assalamualaikum, dll.
INTERJEKSI • Adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara; dan secara sintaktis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran. Contoh: • Aduh, aduhai, amboi, astaga, astagfirulloh, alhamdulillah.
- Slides: 54