MODUL 5 PENGUKURAN PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PROYEK Diklat
MODUL 5 PENGUKURAN, PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PROYEK Diklat Pengawas Lapangan 1
Pengukuran, Pembayaran dan Pelaporan Pek Jalan Jembatan Pusat Pendidikan dan Pelatihan KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM 2
TUJUAN UMUM SETELAH SELESAI MENGIKUTI MODUL INI, DIHARAPKAN PESERTA DAPAT MENJELASKAN METODE PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN PEKERJAAN JALAN JEMBATAN SERTA DAPAT MENJELASKAN LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN DALAM RANGKA PENGAWASAN KONSTRUKSI
POTONGAN MELINTANG JALAN ≥ 25 m / JALAN RAYA ≥ 15 m / JALAN SEDANG ≥ 11 m / JALAN KECIL ≥ 20 m / ARTERI ≥ 15 m / KOLEKTOR ≥ 10 m / LOKAL BADAN JALAN 4
PERKERASAN LENTUR (FLEXIBLE PAVEMENT) • LAPIS PONDASI BAWAH (SUB BASE COURSE) • LAPIS PONDASI/LAPIS PONDASI ATAS (BASE COURSE) • LAPIS PERMUKAAN (SURFACE COURSE) 5 CM 15 CM 25 CM SUBGRADE/ TANAH DASAR 5
Divisi 2 - Drainase Pengukuran Kuantitas Selokan dan Saluran Air Cakupan Pekerjaan n Selokan Samping (Side Ditch) Pembuatan Selokan Baru n n Line Side Ditch Pasangan batu dengan mortar Unlined Side Ditch Selokan tanah Perataan Selokan Lama Selokan tanah n Saluran Air Relokasi atau perlindungan terhadap sungai, kanal irigasi atau saluran air lainnya yang terganggu karena adanya proyek jalan ini. Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Kuantitas galian dalam satuan pengukuran (m 3) Merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan semua pekerja, perkakas dan peralatan untuk : Galian selokan samping dan saluran air, penyiapan pondasi selokan, semua pekerjaan lainnya utk penyelesaian pekerjaan. 6
Divisi 2 - Drainase Pengukuran Kuantitas Gorong-gorong dan Drainase Beton Cakupan pekerjaan n n Perbaikan, perpanjangan, penggantian atau pembuatan gorong (pipa beton bertulang / tidak bertulang, pipa logam bergelombang, beton bertulang persegi-pelat), tembok kepala, struktur lobang masuk dan keluar dan pekerjaan lainnya yang berkaitan dengan perlindungan terhadap gerusan. Pemasangan concrete lined drains Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Kuantitas gorong-gorong per satuan pengukuran (m) Merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua bahan, galian dan pembuangan bahan, pemadatan, cetakan, penimbunan kembali, lubang sulingan dan semua pekerjaan lainnya utk penyelesaian pekerjaan. 7
Divisi 2 - Drainase Pengukuran Kuantitas Drainase Porous Cakupan Pekerjaan n Pengadaan, pengangkutan, pemasangan dan pemadatan bahan porous untuk landasan drainase beton, landasan drainase pipa dan drainase bawah tanah Mencegah butiran tanah halus tergerus oleh rembesan air tanah Pengadaan dan pemasangan perforated pipe Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Kuantitas bahan porous (m 3), anyaman filter plastik (m 2), perforated pipe (m) sesuai tata cara pengukuran untuk pembayaran. Merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan semua pekerja, perkakas dan peralatan dan semua pekerjaan lainnya utk penyelesaian pekerjaan. 8
Divisi 3 - Pek. Tanah Pekerjaan Tanah Cakupan Galian n Penggalian, penanganan pembuangan atau penumpukan tanah/batu / bahan lain dari jalan atau sekitarnya. Timbunan n Pengadaan, pengangkutan, penghamparan, dan pemadatan tanah atau bahan berbutir utk penimbunan kembali. Penyiapan badan jalan n Penyiapan, penggaruan, dan pemadatan permukaan tanah dasar / jalan Jenis Galian n n Galian biasa Galian batu Galian struktur Galian perkerasan beraspal Timbunan n Timbunan biasa Timbunan pilihan di atas tanah rawa Penyiapan badan jalan n Galian minor atau penggaruan dan pekerjaan timbunan minor yang diikuti dng pembentukan, pemadatan, pengujian tanah / bahan berbutir dan pemeliharaan permukaan 9
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Tanah (1) Pengukuran Kuantitas Galian n Pekerjaan galian yang diukur kuantitasnya untuk pembayaran sebagai volume di tempat, dihitung dalam meter kubik bahan yang dipindahkan, setelah dikurangi bahan galian yang digunakan dibayar sebagai timbunan biasa atau timbunan pilihan dengan faktor penyesuaian berikut ini : Bahan Galian Biasa yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi dengan penyusutan (shrinkage) sebesar 0, 85. Bahan Galian Batu yang dipakai sebagai timbunan harus dibagi dengan faktor pengembangan (swelling) 1, 2. 10
Contoh kondisi hasil galian Volume galian mengembang sebesar 25%
Metode Pengukuran/pembayaran hanya pada volume galian; volume galian < volume timbunan Cara pengukuran; Galian I dibayar Timbunan II tidak ada pembayaran tersendiri, termasuk bagian pekerjaan galian I Volume timbunan III dari borrow pit dibayar
Metode Pengukuran/pembayaran hanya pada volume timbunan Volume galian > volume timbunan Cara pengukuran; Volume galian I dibayar dengan galian biasa Volume galian II tidak diukur untuk pembayaran Volume timbunan III dibayar dengan volume urugan biasa
Luas penampang galian tanah (Fn) Fn = F 1 + F 2 + F 3 + F 4 + F 5 + F 6 + F 7 Misal; F 1 = ½ d 1. h 1 ; F 2 = (h 1 + h 2)/2. d 2 ; F 3 = h 3. d 3 F 4 = (h 3 + h 4)/2. d 4; F 5 = h 5. d 5; F 6 = (h 5 + h 6)/2. d 6; F 7 = ½ d 7. h 6
Penyederhanaan perhitungan volume pekerjaan tanah Rumus; Fn + F (n + 1) e = ----------- x P 2 e = volume (m 3) Fn = luas penampang pada masing station (sta) P = jarak antara sta, sebaiknya ≤ 25 m
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Tanah (2) Pengukuran Kuantitas Timbunan n Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan terpadatkan yang diperlukan, diselesaikan di tempat dan diterima. Volume yang diukur harus berdasarkan gambar penampang melintang profil tanah asli yang disetujui atau profil galian sebelum setiap timbunan ditempatkan dan gambar dengan garis, kelandaian dan elevasi pekerjaan timbunan akhir yang disyaratkan diterima. Metode perhitungan volume bahan haruslah metode luas bidang ujung, dengan menggunakan penampang melintang pekerjaan yang berselang jarak tidak lebih dari 25 m. 16
Divisi 3 - Pek. Tanah Galian Struktur (1) Yang dimaksudkan dengan galian struktur pada pekerjaan struktur adalah galian untuk : n Tempat abutment, pilar, gorong-gorong, tembok sayap jembatan, tembok penahan tanah. Selain galian tersebut, pekerjaan ini mencakup : n n Pembongkaran konstruksi lama pada daerah galian konstruksi Mengisi kembali lubang-lubang galian dengan material sesuai yang dipersyaratkan di dalam spesifikasi Membuang kelebihan material Mengeringkan lubang bekas galian dengan pemompaan jika diperlukan 17
Divisi 3 - Pek. Tanah GALIAN STRUKTUR (2) C C TITIK POTONG TERENDAH = GALIAN NON STRUKTUR (GALIAN TANAH BIASA ATAU GALIAN BATU) = GALIAN STRUKTUR YANG TIDAK DIBAYAR = GALIAN STRUKTUR YANG DIBAYAR. 18
Divisi 3 - Pek. Tanah GALIAN STRUKTUR (3) PENGUKURAN HASIL KERJA Adalah volume prisma yang dibatasi oleh bidang-bidang: Bidang atas, yaitu bidang horizontal seluas bidang pondasi yang melewati titik terendah dari terain tanah asli, bagian di atas ini merupakan galian batu atau galian tanah biasa Bidang bawah, yaitu bidang dasar pondasi Bidang tegak, adalah bidang vertikal keliling pondasi Galian di bawah bidang dasar pondasi atau di bawah bidang batas bawah yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas tidak dibayar, juga yang diakibatkan oleh pengembangan tanah, pemancangan, longsor, bergeser, runtuh atau sebab-sebab lain. 19
Divisi 4 – Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan Pengukuran Kuantitas Pelebaran Perkerasan Cakupan Pekerjaan n n Penambahan lebar jalur lalu lintas sesuai Gambar Penggalian dan pembuangan bahan yang ada Pemangkasan tepi jalur lalu lintas Penyiapan dan pemeliharaan kondisi formasi tanah dasar untuk penyiapan pekerjaan pelebaran Penghamparan dan pemadatan bahan perkerasan Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Tidak ada pengukuran dan pembayaran terpisah untuk pekerjaan pelebaran perkerasan Harus dibayar menurut berbagai mata pembayaran yang digunakan dalam pekerjaan pelebaran perkerasan ini. 20
Divisi 4 – Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan Pengukuran Kuantitas Bahu Jalan Cakupan Pekerjaan n n Pemasokan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan bahu jalan pada tanah dasar yang telah disiapkan atau permukaan lainnya yang disetujui. Pelaburan (sealing) jika diperlukan untuk : Pelaksanaan bahu jalan baru Peningkatan bahu jalan Sesuai dengan garis, kelandaian dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Kuantitas : Lapis Pondasi Agregat Kelas A/B, Semen untuk Lapis Pondasi Semen Tanah, Lapis pondasi Semen Tanah, Agregat Penutup Burtu, Bahan Aspal Untuk Pekerjaan Pelaburan dan Lapis Resap Pengikat sesuai dengan hasil pengukuran utk pembayaran. Merupakan kompensasi penuh untuk perolehan, pemasokan, penghamparan, pemadatan dan semua pekerjaan lainnya utk penyelesaian pekerjaan. 21
Divisi 5 - Pekerasan Berbutir Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Lapis Pondasi Jalan Lapis Pondasi Agregat (satuan m 3) n Mencakup pemasokan, pemrosesan, pengangkutan, penghamparan, pembasahan, dan pemadatan agregat di atas permukaan yang telah disiapkan diterima oleh Direksi Pekerjaan ---> Lapis pondasi agregat kelas A dan kelas B Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal (satuan m 3) n Mencakup pemasokan, pengangkutan, penghamparan, dan pemadatan bahan utk pelaksanaan lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, merupakan suatu lapis permukaan sementara pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah yang telah disiapkan ---> Lapis pondasi agregat kelas C Lapis Pondasi Semen Tanah (satuan : m 3 utk lapis pondasi dan ton utk semen) n Terdiri dari tanah yang distabilisasi dengan semen yang dihampar dan dipadatkan di atas tanah dasar yang telah disiapkan 22
Toleransi Dimensi Lapis Pondasi Toleransi Permukaan atas dari Lapis Pondasi Bawah dari Agregat Kelas B + 0 cm - 2 cm Permukaan atas dari Lapis Pondasi Atas dari Agregat Kelas A + 0 cm - 1 cm
Divisi 5 - Pekerasan Berbutir Pengukuran Kuantitas Lapis Pondasi Semen Tanah Cakupan : n Penyediaan lapis pondasi dari tanah yang diambil dari daerah sekitar proyek distabilisasi dengan semen diatas tanah dasar yang telah disiapkan n termasuk : penghamparan, pembentukan, pemadatan, perawatan, dan penyelesaian akhir. n Bahan : Semen Portland, Air dan Tanah Bahan harus memenuhi persyaratan teknis (Spesifikasi) Untuk tanah, ukuran partikel (batu) < 75 mm dan yang melewati saringan # 200 < 50% (ayakan ) Dasar pengukuran Kuantitas Pekerjaan n Kuantitas Lapis Pondasi Semen Tanah yang diukur untuk pembayaran adalah jumlah meter kubik pekerjaan yang diperlukan sesuai Spesifikasi, dihitung dari perkalian panjang ruas yang diukur, lebar rata-rata yang diterima dan tebal rata yang diterima. Kuantitas semen yang akan diukur untuk pembayaran untuk setiap ruas pekerjaan yang diberikan adalah berat aktual, diukur dalam ton, yang telah dicampur kedalam Lapis Pondasi Semen Tanah yang telah diterima untuk pembayaran. Pengukuran harus dilaksanakan oleh Kontraktor dan diawasi oleh Direksi Pekerjaan. 24
Divisi 6 - Pekerasan Aspal Pengukuran Kuantitas Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat Cakupan : n n n Penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan aspal berikutnya. Lapis resap pengikat harus dihampar di atas permukaan yang bukan beraspal (mis : lapis pondasi agregat) Lapis perekat harus dihampar di atas permukaan yang beraspal (mis : lapis penetrasi Macadam, Laston, Lataston) Bahan lapis resap pengikat n Aspal emulsi medium setting atau reaksi slow setting, memenuhi AASHTO M 140 atau M 208. Bahan lapis perekat n Aspal emulsi jenis rapid setting, memenuhi AASHTO M 140 atau M 208. Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n Kuantitas dari bahan aspal yang diukur untuk pembayaran adalah nilai terkecil di antara berikut ini : jumlah liter pada 15 ºC menurut takaran yang diperlukan sesuai dengan Spesifikasi dan ketentuan Direksi Pekerjaan, atau jumlah liter aktual pada 15 ºC yang terhampar dan diterima. Pengukuran volume harus diambil saat bahan berada pada temperatur keseluruhan yang merata dan bebas dari gelembung udara. Kuantitas dari aspal yang digunakan harus diukur setelah setiap lintasan penyemprotan. 25
Divisi 6 - Pekerasan Aspal Pengukuran Kuantitas Burtu dan Burda Cakupan : n n n Pekerjaan pelaburan aspal (surface dressing), bisa terdiri dari satu lapis atau dua lapis Setiap lapis diberi pengikat aspal Kemudian ditutup dengan agregat (chipping) Surface dressing pada umumnya : n n Dihampar di atas Lapis Pondasi kelas A yang sudah diberi lapis resap pengikat Atau dihampar di atas permukaan aspal lama yang sudah diberi laois perekat Bahan n n Agregat penutup (ukuran nominal agregat 13 mm) Aspal Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Bahan aspal harus diukur untuk pembayaran dalam satuan liter sebagai volume nominal yang telah terpakai dan telah diterima pada setiap lintasan penyemprotan atau penyemprotan secara manual, dikoreksi terhadap pemuaian akibat temperatur dengan volume yang setara pada suhu 15 ºC. Volume nominal harus didefinisikan sebagai luas permukaan yang telah disemprot dengan aspal, dikalikan takaran pemakaian nominal aspal. Agregat BURTU yang diukur untuk pembayaran harus dalam satuan meter persegi permukaan jalan yang telah diberi BURTU, dan telah selesai dan diterima sesuai Spesifikasi dan Gambar dalam Dokumen Kontrak. Agregat BURDA yang diukur untuk pembayaran harus dalam satuan meter persegi permukaan jalan yang telah diberi BURDA dan telah selesai dan diterima sesuai Spesifikasi dan Gambar dalam Dokumen Kontrak. 26
Divisi 6 - Pekerasan Aspal Pengukuran Kuantitas Campuran Aspal Panas Cakupan n Pengadaan lapisan perkerasan padat yang terdiri dari agregat dan bahan aspal yang dicampur di AMP, kemudian dihampar dan dipadatkan di atas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan Campuran dirancang dng prosedur khusus (spesifikasi) berkaitan dengan kadar aspal yang sesuai, rongga udara, stabilitas, kelenturan, keawetan dan ketebalan yang memenuhi persyaratan. Jenis : Sand Sheet Kelas A dan B, Lataston (HRS) dan Laston Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n Kuantitas yang diukur untuk pembayaran campuran aspal haruslah berdasarkan pada beberapa penyesuaian di bawah ini : Untuk bahan lapisan permukaan (misalnya SS, HRS-WC dan AC-WC) jumlah per meter persegi dari bahan yang dihampar dan diterima, yang dihitung sebagai hasil perkalian dari panjang ruas yang diukur dan lebar yang diterima. Untuk bahan lapisan perkuatan (misalnya HRS-Base, AC-BC dan AC-Base) jumlah meter kubik dari bahan yang telah dihampar dan diterima, yang dihitung sebagai hasil perkalian luas lokasi dan tebal nominal rancangan yang diterima. n Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi dengan tebal hamparan kurang dari tebal minimum yang dapat diterima atau setiap bagian yang terkelupas, terbelah, retak atau menipis (tapered) di sepanjang tepi perkerasan atau di tempat lainnya. Lokasi dengan kadar aspal yang tidak memenuhi Spesifikasi tidak akan diterima untuk pembayaran. 27
Faktor Penyesuaian Pembayaran Direksi dpt menerima suatu ketebalan yang kurang berdasar pertimbangan teknis atau menerima ketebalan lebih utk lapis perata. Pembayaran dihitung berdasar luas atau volume hamparan yang dikoreksi dg faktor Ct = Tebal nom yg diterima/ Tebal nom rancangan dengan catatanjika tebal lebih dari nominal tak ada faktor penyesuaian Direksi dpt menerima setiap campuran dengan kadar aspal rata lebih rendah dari kadar aspal sesuai JMF (Rumus Perbandingan Campuran) Pembayaran dihitung berdasar luas atau volume hamparan yang dikoreksi menurut faktor koreksi aspal (Cb) Besarnya Cb = Kadar aspal rata yg didapat dari hasil ekstraksi / kadar aspal yang ditetapkan dalam JMF (RPC) Luas atau Volume yang digunakan utk pembayaran = Luas atau Volume yang diterima x Ct x Cb Jika tidak ada penyesuaian maka Ct = 1 dan Cb = 1 28
Divisi 6 - Pekerasan Aspal Pengukuran Kuantitas Campuran Aspal Dingin Cakupan n Penyediaan, penghamparan dan pemadatan campuran bitumen dingin untuk pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan jalan termasuk : penambahan pekerjaan-pekerjaan kecil perbaikan bentuk permukaan pelebaran tepi jalan (utk jalan dengan lalu lintas rendah) pelapisan kembali jalan dng lalu lintas rendah n Jenis campuran aspal dingin : Kelas C (gradasi semi padat, menggunakan aspal cair) Kelas E (gradasi terbuka, menggunakan aspal emulsi) Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n Kuantitas campuran dingin yang diukur untuk pembayaran harus merupakan volume padat yang dihamparkan ditentukan berdasarkan pengukuran luas permukaan dan tebal campuran dingin yang disetujui untuk perbaikan. 29
Divisi 7 - Struktur Beton (1) Ada 2 aspek yang harus dipenuhi : n n Jaminan terhadap mutu bahan baku, bahan olahan dan pekerjaan jadi, sesuai dengan SII, PBI, SNI / ASSHTO yang dijadikan rujukan dalam spesifikasi Memenuhi standar toleransi : Toleransi dimensi Toleransi bentuk Toleransi kedudukan (dari titik patokan) Toleransi alinyemen vertikal Toleransi ketinggian (elevasi) Toleransi alinyemen horizontal Toleransi untuk selimut beton tulang Untuk mencapai 2 aspek di atas seluruh prosedur dan tata cara kerja harus dilaksanakan oleh kontraktor dan konsultan sesuai dng tugas dan tanggung jawab masing 2 30
Divisi 7 - Struktur Beton (2) Bahan (1) n Semen Jenis : semen portland yang memenuhi “standard chemical requirements” AASHTO M 85 Biasanya untuk melaksanakan proyek hanya digunakan satu merek semen portland Hindari bahan aditif yang dapat menghasilkan gelembung udara dalam campuran beton n Jika semen dan agregat = OK Air Harus bersih dan bebas dari minyak, garam, asam, basa, gula atau bahan organik Memenuhi standar pengujian p. H menurut AASHTO T 26 Air yang memenuhi syarat akan menghasilkan kuat tekan mortar pada umur 7 hari dan 28 hari = minimum 90% x kuat tekan mortar dengan air suling pada periode 7 dan 28 31 hari.
Divisi 7 - Struktur Beton (3) Bahan (2) n Agregat Terdiri dari agregat halus dan agregat kasar Ukuran agregat kasar tidak boleh melebihi 3/4 x jarak minimum baja tulangan atau jarak antara baja tulangan dengan acuan. Memenuhi gradasi yang dipersyaratkan di dalam spesifikasi Merupakan partikel yang bersih, keras, kuat, yang diperoleh dari pemecahan rock atau boulder atau dari pengayakan / pencucian kerikil / pasir sungai Memenuhi batas maximum yang diijinkan untuk keausan, kekekalan bentuk batu terhadap larutan Natrium Sulfat atau Magnesium Sulfat dlsb. 32
Pengukuran Kuantitas Beton akan diukur dengan jumlah meter kubik pekerjaan beton yang digunakan diterima sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. n n n Tidak ada pengurangan yang akan dilakukan untuk volume yang ditempati oleh pipa dengan garis tengah kurang dari 20 mm atau oleh benda lainnya yang tertanam seperti "water stop", baja tulangan, selongsong pipa (conduit) atau lubang sulingan (weephole). Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang akan dilakukan untuk cetakan, perancah untuk balok dan lantai pemompaan, penyelesaian akhir permukaan, penyediaan pipa sulingan, pekerjaan pelengkap lainnya untuk penyelesaian pekerjaan beton, dan biaya dari pekerjaan tersebut telah dianggap termasuk dalam harga penawaran untuk Pekerjaan Beton. Tidak ada pengukuran dan pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pelat (plate) beton pracetak untuk acuan yang terletak di bawah lantai (slab) beton. Pekerjaan semacam ini dianggap telah termasuk di dalam harga penawaran untuk beton sebagai acuan. Kuantitas bahan untuk landasan, bahan drainase porous, baja tulangan dan mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan struktur yang telah selesai dan diterima akan diukur untuk dibayarkan seperti disyaratkan dalam Spesifikasi. n n Beton yang telah dicor dan diterima harus diukur dan dibayar sebagai beton struktur atau beton tidak bertulang. Beton Struktur haruslah beton yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai K 250 atau lebih tinggi dan Beton Tak Bertulang haruslah beton yang disyaratkan atau disetujui untuk K 175 atau K 125. Bilamana beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih tinggi diperkenankan untuk digunakan di lokasi untuk mutu (kekuatan) beton yang lebih rendah, maka volumenya harus diukur sebagai beton dengan mutu (kekuatan) yang lebih rendah. 33
7. 16. Perkerasan Jalan Beton Pengukuran Diukur dlm junlah meter kubik yg terpasang sesuai gambar dan volume yang diukur mrp hasil kali dr lebar jalur kend dg panjang jalur sepanjang garis sumbunya dikalikan tebal perkerasan tegak lurus badan jalan, tidak ada pengurangan u lubang< 1 m 2 Kuantitas yang diukur tdk termasuk perkerasan yg lebih tipis dr sarat ketebalan, sudut tepi pecah/retak dan tempat yang tdk memenuhi kuat karakteristiknya. Ketebalan yang diukur adalah ketebalan nominal rencana sesuai gambar. Jika Direksi menyetujui ketebalan yang kurang dari uk nominal maka dilakukan koreksi utk pembayarn Yaitu ketebalan nom diterima dibagi ketebalan nom renc Tulangan baja diukur dlm jumlah kilogram terpasang dihitung berdasar panjang atau luas diterima, tdk termasuk jepitan, dudukan, dowel, tie bar/pengikat, pemisah, bhn lainnya Membran kedap air bila digunakan hrs dibayar dan diukur dlm jumlah meter persegi terpasang. 34
Perkersan Jalan Beton (2) Pembayaran Kuantitas beton diatas dibayar menurut harga penawaran persatuan pekerjaan dlm meter kubik dan harus mrp kompensasi penuh untuk penyediaan semua beton mutu K-350, besi tulangan sambungan melintang dan memanjang, membran kedap air, agregat dan semen, pencampuran, penempatan, perataan, penyelesaian, perawatan, perlindungan beton, penyediaan dan penempatan serta pembongkaran acuan, melengkapi dan menempatkan semua bh sambungan, menggergaji dan menyegel sambungan, termasuk tenaga kerja dan alat serta pengeluaran tambahan lainnya Wet Lean Concrete (Campuran Betron Kurus) utuk levelling course diukur dan dibayar terpisah dalam meter persegi sesuai gambar rencana, spesifikasi dan direksi pekerjaan 35
Pembesian termasuk penempatan dowel bar, tie bar dan penulangan baja pada pelaksanaan perkerasan kaku. 36
Dowel bar bisa dipasang sebelum pengecoran dgn mengunakan dowel basket, atau setelah penghamparan beton mengunakan pemasang dowel bar otomatis, pemasangan ini merupakan masalah kritis untuk mendapatkan joint load transfer, pemasangan yg miring, terlalu dangkal atau berkarat dapat menyebabkan kerusakan patah, retak pada sambungan. 37
Divisi 7 - Struktur Beton Pratekan (1) Pekerjaan beton pratekan terdiri dari : n n n Fabrikasi struktur beton pratekan pracetak Bagian beton pratekan pracetak dari struktur komposit Tiang pancang pracetak dan mencakup pembuatan (pre tensioned maupun post tensioned), pengangkutan dan penyimpanan balok, tiang pancang, pelat dan elemen struktur dari beton pracetak. Mutu bahan n n Untuk beton mengikuti Seksi 7. 1 dan Baja Tulangan Seksi 7. 3 Untuk kabel pratekan mengikuti : AASHTO M 203 -90 dan AASHTO M 204 -89 38
Divisi 7 - Struktur Beton Pratekan (2) Bahan n Beton Untuk gelegar utama dan diafragma biasanya menggunakan beton K 400 atau lebih tinggi Untuk deck slab beton K 350 Untuk lantai trotoir beton K 250 n Baja tulangan Tergantung pertimbangan dalam proses perencanaan, ada 4 pilihan : U 24, U 32, U 39 dan U 48 n Grouting Bahan penyuntikan ini terdiri dari semen portland biasa dan air. Rasio air semen harus < 0, 45 agar mutu grouting tidak menjadi rendah. 39
Pengukuran Kuantitas Beton Pratekan Unit Beton Pratekan Pracetak n n n Kuantitas yang diukur untuk pembayaran, harus merupakan jumlah aktual unit beton struktur pracetak pratekan, kecuali tiang pancang, dari berbagai jenis dan ukuran yang dipasang di tempat, selesai dikerjakan diterima. Setiap unit harus mencakup beton, baja tulangan, acuan dan baja pra-tegang bersama dengan selongsong, jangkar, pelat, mur, alat pengangkat, dan bahan lain yang terdapat di dalamnya atau disertakan pada unit-unit tersebut. Fabrikasi dan pemancangan tiang pancang harus diukur terpisah sesuai dengan Spesifikasi. Pekerjaan Cor Langsung Di Tempat Dengan Penegangan Setelah Pengecoran (post-tension) n n Beton harus diukur sesuai dengan ketentuan spesifikasi dan baja tulangan juga harus diukur sesuai dengan spesifikasi serta baja pra-tegang harus diukur sebagai berat baja pra-tegang teoritis dalam kilogram. Pengukuran ini harus diambil sebagai berat dari untaian (strand) atau batang (bar) yang diukur antara tepi luar penjangkaran, dan tidak boleh mencakup berat selongsong, jangkar, dan sebagainya. 40
Divisi 7 - Struktur Baja Tulangan Cakupan : n n Pengadaan baja tulangan Pemasangan baja tulangan sesuai dengan Spesifikasi dan Gambar Rencana Toleransi n ø ø ø Toleransi terutama difokuskan pada fabrikasi (ACI 315) tebal selimut beton untuk berbagai ukuran batang tulangan 16 mm atau lebih kecil, perlu selimut beton min. 3, 5 cm 19 mm dan 22 mm, perlu selimut beton min. 5, 0 cm 25 mm atau lebih besar, perlu elimut beton min. 6, 0 cm 41
Pengukuran Kuantitas Baja Tulangan Dasar Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Baja tulangan harus diukur dalam jumlah kilogram terpasang dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. Jumlah kilogram yang dipasang harus dihitung dari panjang aktual yang dipasang, atau luas anyaman baja yang dihampar, dan satuan berat dalam kilogram per meter panjang untuk batang atau kilogram per meter persegi luas anyaman. Satuan berat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan akan didasarkan atas berat nominal yang disediakan oleh pabrik baja, atau bila Direksi Pekerjaan memerintahkan, atas dasar pengujian penimbangan yang dilakukan Kontraktor pada contoh yang dipilih oleh Direksi Pekerjaan. Penjepit, pengikat, pemisah atau bahan lain yang digunakan untuk penempatan atau pengikatan baja tulangan pada tempatnya tidak akan dimasukkan dalam berat untuk pembayaran. Penulangan yang digunakan untuk gorong-gorong beton bertulang atau struktur lain di mana pembayaran terpisah untuk struktur yang lengkap telah disediakan dalam Spesifikasi, tidak boleh diukur untuk pembayaran. 42
Divisi 7 - Struktur Tiang Pancang Jenis tiang pancang yang umumnya dipakai : n Tiang pancang beton Dibuat setempat, ukuran 35 x 35 cm 2 atau 40 x 40 cm 2 Dibuat di pabrik (precast) n n n Umumnya bulat dan bermutu tinggi Diameter 30 cm ke atas Tiang pancang baja Yang biasa digunakan berbentuk pipa dengan diameter 400 mm, 500 mm, 600 mm, 750 mm dan 1000 mm 43
Divisi 7 - Struktur Pengukuran Kuantitas Tiang Pancang (1) Pengukuran kuantitas tiang pancang pipa baja (baja struktur), terdiri dari : o o Kuantitas untuk penyediaan tiang pancang pipa baja termasuk biaya sambungan dan sepatu tiang dalam kilogram Kuantitas beton isian (minimum K-250) dalam meter kubik Pemancangan tiang pancang baja dalam meter panjang Pengujian Pembebanan pada tiang : Diameter sampai 600 mm (buah) Diameter pipa baja : 400 mm, 500 mm, 600 mm. 44
Divisi 7 - Struktur Pengukuran Kuantitas Tiang Pancang (2) Pengukuran kuantitas tiang pancang beton pratekan pracetak , terdiri dari : Kuantitas tiang pancang beton pratekan pracetak (furnished) termasuk sambungan dan sepatu tiang dalam meter kubik n Yang dimaksud dengan furnished disini adalah penyediaan tiang pancang beton “jadi” di mana didalamnya sudah mencakup beton, baja tulangan, acuan, baja prategang termasuk selongsong, jangkar, pelat, mur, alat pengangkat dan bahan-bahan lain yang terdapat di dalamnya. Pemancangan tiang pancang dalam meter panjang Pengukuran untuk tambahan biaya apabila tiang pancang beton dikerjakan di tempat yang berair dalam meter panjang. 45
Divisi 7 - Struktur Pengukuran Kuantitas Tiang Pancang (3) Pengukuran kuantitas tiang pancang beton bertulang, terdiri dari : Kuantitas tiang pancang beton bertulang (termasuk baja tulangan, sambungan, sepatu tiang, cetakan dan pekerjaan penunjang lainnya) dalam meter kubik Pemancangan dalam meter panjang Pengukuran untuk tambahan biaya apabila tiang pancang beton dikerjakan di tempat yang berair dalam meter panjang. 46
Divisi 7 - Struktur Pengukuran Kuantitas Tiang Pancang (4) Pengukuran Kuantitas tiang bor beton cor langsung di tempat, terdiri dari : Kuantitas tiang bor beton (diameter 600 mm, 800 mm, 1000 mm, 1200 mm, 1500 mm) sudah termasuk biaya baja tulangan + pengeboran tanah (diukur dari ujung tiang bor yang dirancang atau disetujui Direksi Pekerjaan sampai elevasi bagian atas tiang bor yang akan dipotong) dalam meter panjang Pengukuran untuk tambahan biaya apabila tiang bor beton dikerjakan di tempat yang berair dalam meter panjang. 47
Divisi 7 - Struktur Pengukuran Kuantitas Tiang Pancang (5) Pengukuran Kuantitas Cerucuk Kayu Mencakup kuantitas pengadaan cerucuk kayu yang sudah di treatment (furnished) dengan bahan anti rayap dan anti lapuk dihitung dalam meter panjang Pemancangan dalam meter panjang Pengukuran Kuantitas Sheet Pile Kuantitas pengadaan sheet pile baja/beton furnished dalam meter panjang Pemancangan sheet pile baja/beton dalam meter panjang 48
Divisi 7 - Struktur Pondasi Sumuran Bahan pondasi sumuran n n Dinding sumuran dari beton bertulang dengan mutu beton K 250 dan mutu baja tulangan U-24 Bahan pengisi pondasi sumuran = beton siklop Beton siklop = campuran beton kelas K 175 dengan batu-batu pecah ukuran besar Pekerjaan pondasi sumuran mencakup n n Penyediaan dinding sumuran Penurunan dinding sumuran bisa dicor ditempat atau membuat unit-unit beton pracetak sesuai spesifikasi 49
Pengukuran Kuantitas Pondasi Sumuran Kuantitas sumuran yang disediakan sesuai dengan ketentuan bahan dalam Spesifikasi dan diukur untuk pembayaran, haruslah jumlah panjang sumuran dalam meter seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dan diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan. Satuan pengukuran untuk penurunan sumuran haruslah jumlah meter panjang penurunan yang diterima, diukur dari tumit sumuran sampai sisi dasar pondasi telapak. Tidak ada pengukuran terpisah untuk pembayaran yang akan dilakukan untuk penggalian, pemompaan, acuan dan setiap pekerjaan sementara untuk pembuatan sumuran, dimana semua pekerjaan tersebut dipandang telah termasuk dalam pengukuran dan pembayaran sumuran 50
Divisi 7 - Struktur Perletakan (Bearing) Cakupan Pekerjaan n n Penyediaan dan pemasangan landasan logam atau elastomer untuk menopang bangunan atas jembatan. Harus memenuhi standar toleransi, baik untuk perletakannya sendiri maupun untuk posisi permukaan beton tempat perletakan diletakkan. Jenis Perletakan n n n Perletakan Roll (Roller Bearing) Rol silinder Rol bukan silinder Perletakan Goyang (Rocker Bearing) Perletakan Sendi (Knuckle Bearing) Perletakan Bidang Geser (Plane Sliding Bearing) Perletakan Elastomer (Elastomeric Bearing) Perletakan Blok Berongga (Pot Bearing) 51
Pengukuran Kuantitas Perletakan (Bearing) Kuantitas perletakan logam akan dihitung berdasarkan jumlah setiap jenis perletakan yang dipasang dan diterima. Kuantitas bantalan perletakan dihitung berdasarkan jumlah tiap jenis, ukuran dan ketebalan bantalan yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima. Perletakan strip akan diukur sebagai jumlah meter panjang yang selesai dikerjakan di tempat dan diterima. 52
Divisi 8 – Pengembalian Kondisi dan Pek. Minor Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama (1) Cakupan Pekerjaan Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama æ Meliputi pengembalian kondisi terhadap : n n Perkerasan lama yang telah rusak (lubang-lubang besar), keriting dengan kedalaman > 3 Cm, retak-retak ke arah lebar jalan, retak struktural atau retak kecil yang menjalar, atau yang mengalami deformasi karena tanah dasarnya melemah. Tepi perkerasan jalan lama yang rusak Bahan n n Hanya bahan baru yang boleh digunakan Bahan perkerasan hasil galian yang masih baik dapat digunakan kembali sebagai timbunan pilihan 53
Divisi 8 – Pengembalian Kondisi dan Pek. Minor Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama (2) Penggunaan bahan n Penambalan Perkerasan Timbunan pilihan, LPA/LPB, Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Lapis Resap Pengikat, Lapis Perekat. n Perbaikan Jalan Berlubang Timbunan pilihan, LPA, HRS-Base, HRS-WC, Campuran Dingin, Penetrasi Makadam, Lapis Resap Pengikat, Lapis Pengikat, Laston. n Penambahan agregat pada perkerasan tanpa penutup aspal LPC, agregat kasar/halus untuk Waterbound Macadam. n Spot Sealing dan Seal Coating Aspal penetrasi 60/70 atau 80/100, aspalm cair MC 250 atau MC 800, atau aspal emulsi yang sesuai. n Spot Levelling Lpc, Lapis Penetrasi Makadam, Campuran Aspal Dingin atau campuran aspal Panas. n Perbaikan tepi Perkerasan LPA, Lapis resap Pengikat, Lapis perekat 54
Pengukuran Kuantitas Untuk Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama Pengukuran kuantitas pengembalian kondisi perkerasan beraspal dianggap sudah mencakup semua operasi pengembalian kondisi seperti pemasokan, pencampuran, penghamparan, pemadatan dan penyelesaian akhir setiap jenis Campuran Aspal Panas dan Campuran Aspal Dingin. Pengukuran tersebut juga dianggap harus sudah mencakup pemasokan, pencampuran dan pemakaian lapis resap pengikat dan atau lapis perekat, bila diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Bahan aspal yang digunakan untuk pelaburan setempat, laburan aspal (BURAS) dan pekerjaan kecil lainnya harus diukur untuk pembayaran menurut Mata Pembayaran Residu Bitumen Untuk Pekerjaan Minor. n n n Volume yang diukur harus merupakan volume residu bitumen. Residu bitumen harus didefinisikan sebagai bahan bitumen yang tetap tinggal setelah semua bahan pengencer (cutter oil) dan air menguap. Kadar residu bitumen harus ditentukan menurut petunjuk Direksi Pekerjaan dengan salah satu cara berikut : dengan pengujian destilasi; dari resep pabrik pembuatnya; dari nilai minimum bitumen residu yang disyaratkan oleh spesifikasi bahan yang sesuai. Pengukuran residu bitumen untuk pekerjaan minor harus mencakup semua pekerjaan dan bahan yang berkaitan, termasuk pembersihan dan pemasokan, pengiriman dan penghamparan setiap jenis agregat penutup atau blotter bahan. 55
Divisi 8 – Pengembalian Kondisi dan Pek. Minor Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Pada Perkerasan Berpenutup Aspal Cakupan Pekerjaan Pengembalian Kondisi Bahu Jalan n Rekonstruksi, pengkerikilan kembali, atau perbaikan bentuk dari bahu jalan lama ( < 50 m untuk setiap panjang 1 km di tiap sisi) Pengisian lubang-lubang besar pada tiap lokasi Penebangan pohon dan pembuangannya Bahan n Semua ketentuan tentang bahan, produksi, toleransi, pemeliharaan, pengendalian lalu lintas, penghamparan dan pengujian yang diatur di dalam Seksi 4. 2 dari Spesifikasi berlaku untuk pengembalian kondisi bahu jalan kecuali : æ Pemadatan lubang-lubang kecil, pembentukan bahu jalan, pembuangan bahan galian, dan penebangan pohon yang diatur tersendiri di dalam Seksi ini. 56
Pengukuran Kuantitas Untuk Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Pada Perkerasan Berpenutup Aspal Rekonstruksi atau pengkerikilan kembali bahu jalan pada lokasi bahu jalan lama yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan sebagai pekerjaan pengembalian kondisi harus diukur untuk pembayaran sebagai volume pekerjaan galian dan/atau bahan berbutir yang telah dipadatkan, yang aktual dihampar dan diterima dalam pekerjaan pengembalian kondisi. Kuantitas penebangan pohon dan pembuangan batang dan akar-akarnya harus diukur untuk pembayaran sebagai jumlah aktual pohon yang ditebang dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. 57
Divisi 8 – Pengembalian Kondisi dan Pek. Minor Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Galian, Timbunan dan Penghijauan Cakupan Pekerjaan Pengembalian Kondisi Selokan dll. n n n Pelebaran dan atau pendalaman selokan lama Pembuatan Selokan Baru Penggantian saluran air lama atau pembuatan saluran air baru dan pembuatan drainase di bawah permukaan Target n n Pengembalian kondisi dan peningkatan sistem drainase Menghilangkan pengaruh aliran air di bawah permukaan maupun di atas permukaan untuk menghindarkan pengsruh buruk air terhadap perkerasan 58
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air, Galian, Timbunan dan Penghijauan Hanya kuantitas stabilisasi dengan tanaman dan penghijauan (penanaman kembali) yang akan diukur dan dibayar menurut Sepesifikasi. Kuantitas Stabilitas Dengan Tanaman yang diukur untuk pembayaran haruslah luas permukaan yang aktual ditanami, diukur dalam meter persegi, pada lereng yang ditanami rumput atau bambu yang diterima Direksi Pekerjaan. Pupuk yang digunakan tidak diukur tersendiri. Bilamana rumput dan bambu, keduanya diperlukan untuk stabilisasi lereng, maka perhitungan untuk pembayaran harus diduakali-lipatkan. Kuantitas Penghijauan (Penanaman kembali) yang diukur untuk pembayaran Semak/ Perdu haruslah luas aktual yang aktual ditanam dalam meter persegi, dan untuk pembayaran pohon dalam jumlah pohon yang aktual ditanam di lokasi penanaman yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan dalam keadaan hidup dan sehat. Rabuk, pupuk, batu kapur dan tanah humus yang digunakan tidak diukur tersendiri. 59
Divisi 8 – Pengembalian Kondisi dan Perk. Minor Pengembalian Kondisi Jembatan Cakupan Pekerjaan Pengembalian Kondisi Jembatan n n Remedial Works untuk komponen fungsional utama pada struktur jembatan (pondasi, pier, abutment), pengembalian kondisi sungai serta bangunan atas jembatan (lantai jembatan, perletakan, expansion joint, kerb, sandaran, trottoir dan sistem drainase. Pengelompokan Pengembalian kondisi untuk komponen beton Pengembalian kondisi untuk komponen kayu Pengembalian kondisi untuk komponen baja 60
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Pengembalian Kondisi Jembatan Pekerjaan pengembalian kondisi untuk landasan jembatan beton harus diukur untuk pembayaran sebagai jumlah aktual dalam meter persegi dari denah luas permukaan lantai jembatan yang telah selesai dikerjakan sampai memenuhi ketentuan diterima secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan pengambalian kondisi untuk lantai jembatan kayu harus diukur untuk pembayaran sebagai jumlah aktual dalam meter persegi dari denah luas permukaan lantai jembatan kayu yang telah selesai dikerjakan sampai memenuhi ketentuan diterima secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan pengembalian kondisi untuk plapisan permukaan Baja Struktur harus diukur untuk pembayaran sebagai jumlah aktual dalam meter persegi dari luas permukaan baja struktur yang telah selesai dikerjakan sampai memenuhi ketentuan diterima secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan. 61
Divisi 9 – Pekerjaan Harian Cakupan Pekerjaan Harian n n Operasi pekerjaan yang tidak tercantum dalam Daftar Kuantitas dari Divisi 1 s/d Divisi 8 akan tetapi diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan agar memenuhi ketentuan-ketentuan Spesifikasi. Terdiri dari jenis pekerjaan apapun, termasuk pekerjaan tambahan untuk drainase, galian, timbunan, stabilisasi, pengujian, pengembalian perkerasan lama ke bentuk semula, pelapisan ulang, struktur ataupun pekerjaan lainnya. Seluruh jenis pekerjaan tersebut baru dapat ditentukan dilaksanakan apabila telah mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Harian dan Pembayaran Pengukuran dan pembayaran untuk pekerja Pengukuran dan pembayaran untuk peralatan Pengukuran untuk bahan 62
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Harian Pengukuran dan Pembayaran Untuk Pekerja n Pengukuran pekerja untuk pembayaran menurut Pekerjaan Harian harus dilakukan menurut jam kerja aktual dari penggunaan pekerja yang disahkan pada Harga Satuan untuk berbagai jenis pekerja yang dimasukkan oleh Kontraktor dalam Daftar dan Kuantitas dan Harga Pengukuran dan Pembayaran Untuk Peralatan n Pengukuran peralatan untuk pembayaran menurut Pekerjaan Harian, baik peralatan yang disewa atau milik Kontraktor harus dilakukan sesuai jam kerja aktual dari penggunaan peralatan yang disahkan pada Harga Satuan menurut jenis peralatan yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga n Pengukuran Untuk Bahan n Kuantitas Pekerjaan Harian yang diukur untuk pembayaran haruslah kuantitas bahan yang aktual digunakan dalam Pekerjaan Harian sebagaimana yang dibuktikan dengan kwitansi pemasok dan catatan pekerjaan harian yang telah disetujui Pembayaran Untuk Bahan n Untuk bahan “khusus” (tidak terdapat dalam Harga Satuan Dasar yang tercantum dalam Penawaran) yang telah digunakan dalam Pekerjaan Harian, pembayaran harus berdasarkan harga netto yang dibayarkan oleh Kontraktor untuk bahan-bahan yang didatangkan ke lapangan, sebagaimana tertulis dalam faktur tagihan dari pemasok, di mana harga tersebut harus ditambah sebesar 15 persen dari jumlah harga bahan yang bersangkutan. Pembayaran yang demikian harus dianggap sebagai kompensasi penuh untuk penyediaan bahan 63
Divisi 10 – Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan Cakupan Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan dll. n n Pemeliharaan untuk menjamin agar perkerasan, bahu jalan dan perlengkapan jalan lama berada dalam kondisi pelayanan yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan (berfungsi optimal dalam melayani arus lalu lintas sesuai dengan umur pelayanan yang telah dicapainya) Pengelompokan Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan Berpenutup Aspal Perkerasan Tanpa penutup Aspal Bahu jalan Drainase Perlengkapan Jalan Jembatan 64
Divisi 10 – Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan n PR untuk Perkerasan Berpenutup Aspal Memelihara permukaan jalur lalu lintas agar kerataannya sama dengan rata kerataan perkerasan lama dengan cara : n n Menutup retak-retak dengan laburan aspal, penambalan lubang-lubang kecil dan galian ekcil yang tidak dicakup dalam pengembalian kondisi PR untuk Perkerasan tanpa Penutup Aspal Mencakup pengisian lubang, perataan jalan keriting atau rusak ringan dengan grader n PR untuk bahu jalan Pengisian lubang-lubang, pembuangan semak-semak, pemotongan pohon berdiameter < 15 Cm, pengkerikilan kembali. n PR untuk Drainase Pembuangan lanau, daun, kotoran dan tanaman dari side ditch dan culvert n PR untuk Perlengkapan Jalan Pembersihan dan perbaikan rambu jalan, patok pengaman dan patok kilometer yang rusak, perbaikan rel pengaman, pengecatan kembali rambu jalan. n PR untuk Jembatan Pemeriksaan semua kondisi komponen utama struktur, pembersihan saluran dan lubang drainase, pembersihan expansion joint dsb. 65
Pengukuran Kuantitas Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan Pengukuran Kuantitas Pekerjaan n n Semua pekerjaan yang dirancang oleh Direksi Pekerjaan sebagai pekerjaan pemeliharaan rutin menurut batas-batas yang diberikan dalam Spesifikasi, harus disahkan untuk pembayaran setiap bulan berdasarkan pengesahan tertulis dari Direksi Pekerjaan dimana standar pelayanan perkerasan, bahu, drainase, perlengkapan jalan dan jembatan telah dipelihara dengan baik menurut ketentuan dalam Spesifikasi. Untuk tempat-tempat dimana Direksi Pekerjaan telah menentukan bahwa cakupan pekerjaan lebih besar dari batas-batas untuk pekerjaan pemeliharaan rutin yang diuraikan dalam Spesifikasi, pekerjaan yang telah dilaksanakan diklasifikasi sebagai pekerjaan pengembalian kondisi dan tidak akan dibayar sebagai pekerjaan pemeliharaan rutin. Pengukuran dan pembayaran harus dilakukan berdasarkan kuantitas bahan yang aktual digunakan dalam pekerjaan, sebagaimana ditentukan dalam Spesifikasi. 66
SISTEM PEMBAYARAN PRESTASI KERJA n n SERTIFIKAT BULANAN SISTEM TERMIN : PEMBAYARAN SETELAH PRESTASI HASIL KERJA MENCAPAI KEMAJUAN PADA SUATU NILAI PROSENTASI TERTENTU
LAPORAN HASIL PEKERJAAN
Laporan Hasil Pekerjaan a. Laporan harian 1) Untuk keperluan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan di lapangan penyedia jasa wajib membuat buku harian. Buku harian diisi oleh penyedia jasa dan diketahui oleh direksi teknis, mencatat seluruh rencana dan realisasi aktivitas pekerjaan sebagai bahan laporan harian. 2) Laporan harian dibuat oleh penyedia jasa, diperiksa oleh direksi teknis dan disetujui oleh direksi pekerjaan. 3) Laporan harian berisi: a) Tugas, penempatan dan jumlah tenaga kerja di lapangan; b) Jenis dan kuantitas bahan di lapangan; c) Jenis, kapasitas, jumlah dan kondisi peralatan di lapangan; d) Jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan; e) Cuaca dan peristiwa alam lainnya yang mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan; f) Perintah dan persetujuan untuk melaksanakan pekerjaan;
4) Dari laporan harian harus dapat diperoleh informasi sebab terjadinya keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, apakah disebabkan karena kerusakan peralatan, penyediaan personil/ bahan/peralatan terlambat, atau disebabkan keadaan cuaca buruk. 5) Laporan harian dibuat sekurang-kurangnya dalam 3 rangkap untuk didistribusikan kepada: a) Asli untuk direksi pekerjaan; b) Tindasan pertama untuk penyedia jasa; c) Tindasan kedua untuk direksi teknis.
b. Laporan mingguan 1) Laporan mingguan terdiri dari rangkuman laporan harian dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan mingguan serta catatan yang dianggap perlu. 2) Laporan mingguan dibuat oleh penyedia jasa, diperiksa oleh direksi teknis dan disetujui oleh direksi pekerjaan. 3) Laporan mingguan dibuat sekurang-kurangnya dalam 3 rangkap untuk didistribusikan kepada: a) Asli untuk direksi pekerjaan; b) Tindasan pertama untuk penyedia jasa; c) Tindasan kedua untuk direksi teknis.
c. Laporan bulanan 1) Laporan bulanan terdiri dari rangkuman laporan mingguan dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan bulanan serta catatan yang dianggap perlu. 2) Laporan bulanan dibuat oleh penyedia jasa, diperiksa oleh direksi teknis dan disetujui oleh direksi pekerjaan. 3) Laporan bulanan dibuat sekurang-kurangnya dalam 5 rangkap untuk didistribusikan kepada: a) Asli untuk direksi pekerjaan; b) Tindasan pertama untuk atasan pengguna jasa; c) Tindasan kedua untuk atasan langsung pengguna jasa; d) Tindasan ketiga untuk penyedia jasa; e) Tindasan keempat untuk direksi teknis.
d. Laporan direksi teknis 1) Direksi teknis wajib membuat laporan bulanan yang akan digunakan sebagai dasar pembayaran, meliputi: a) Hasil pengawasan pelaksanaan pekerjaan; b) Hasil kualitas pekerjaan; c) Hasil perhitungan kuantitas pekerjaan; d) Foto-foto hasil pelaksanaan pekerjaan; e) Laporan lain yang dianggap perlu. 2) Laporan direksi teknis dibuat sekurang-kurangnya dalam 4 rangkap untuk didistribusikan kepada: a) Asli untuk pengguna jasa; b) Tindasan pertama direksi pekerjaan; c) Tindasan kedua untuk atasan pengguna jasa; d) Tindasan ketiga untuk atasan langsung pengguna jasa.
LAPORAN PELAKSANAAN PEKERJAAN LAPORAN HARIAN LAPORAN MINGGUAN LAPORAN BULANAN LAPORAN KHUSUS LAPORAN AKHIR PROYEK
FUNGSI LAPORAN v Pertanggungjawaban (Accountability) v Pengawasan (Control) v Penyampaian informasi v Alat/bahan pengambil keputusan
SYARAT LAPORAN Laporan harus benar dan obyektif Laporan harus jelas dan cermat Laporan harus lengkap Laporan harus tepat mengenai sasaran Laporan harus tepat pada waktunya Laporan harus tepat penerimaanya
Sistematika laporan khusus Executive summary, yaitu ringkasan kemajuan proyek dan persoalan yang dihadapinya. Uraian kemajuan kegiatan-kegiatan pokok proyek seperti: pengadaan, persiapan pelaksanaan, mobilisasi, pelaksanaan konstruksi, pengendalian mutu, dan pengendalian waktu. Laporan keuangan. Laporan administrasi proyek. Rencana kegiatan bulan-bulan mendatang. Kegiatan khusus, seperti pengadaan tanah, koordinasi dengan pihak terkait. Segi-segi yang mengandung kerawanan.
LAPORAN HARIAN Tenaga kerja: tugas, penempatan, dan jumlah; Bahan: jenis dan jumlah; Peralatan: jenis, kapasitas, jumlah, dan kondisi; Perubahan desain, gambar rencana; Perintah dan persetujuan untuk melaksanakan pekerjaan; Realisasi pekerjaan, termasuk perbandingan dengan rencana terhadap jenis dan kuantitas pekerjaan terlaksana; Cuaca dan kondisi alam yang mempengaruhi pelaksanaan; Dokumentasi foto hasil pelaksanaan pekerjaan, yang diambil dari satu titik tetap untuk satu obyek yg sama; Permasalahan yang mempengaruhi produksi pekerjaan.
LAPORAN MINGGUAN Perhitungan pencapaian kemajuan fisik pekerjaan (volume dan bobot) setiap mata pembayaran selama satu minggu Permasalahan: personil, material, peralatan, dan metoda kerja, beserta upaya pemecahan Hasil analisa atas identifikasi permasalahan yang telah dilakukan
LAPORAN BULANAN Ringkasan kemajuan pelaksanaan pekerjaan; Sketsa kemajuan pelaksanaan pekerjaan; Perbandingan realisasi dan rencana kemajuan pelaksanaan pekerjaan (kurva-S), deviasi yang terjadi; Sertifikat dan perincian pembayaran bulanan; Foto dokumentasi, rangkuman kondisi cuaca harian, Review design, CCO, dan perubahan Kontrak (bila ada); Rangkuman tentang berbagai permasalahan yang timbul beserta upaya pemecahannya sesuai dengan hasil penetapan dalam rapat bulanan.
81
- Slides: 81