MEMBANGUN MILITANSI KADER Oleh Dr Ari Anshori M
MEMBANGUN MILITANSI KADER Oleh: Dr. Ari Anshori, M. Ag (Disampaikan pada Rapat Kerja Nasional Majelis Pembinaan Kader, 23 April 2016 di Yogyakarta)
Pendahuluan Bidang pendidikan kader pada periode 2015 -2020 bertumpu pada visi pengembangan yaitu “berkembangnya fungsi dan kualitas perkaderan yang sistematik dengan memperteguh militansi, kompetensi dan peran kader Muhammadiyah (tentu dengan Aisyiyah) sebagai pelaku gerakan dalam menghadapi kompetisi dan tantangan yang kompleks di tengah dinamika persyarikatan, umat, bangsa dan perkembangan global”.
Pengertian Militansi Kader �Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah militansi mengandung arti seseorang yang memiliki sifat ketangguhan dalam berjuang dalam menghadapi berbagai kesulitan yang ditemuinya. �Kader (Perancis: cadre) atau les cadres maksudnya adalah anggota inti yang menjadi bagian terpilih, dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi di sekitar kepemimpinan. Kader bisa berarti pula sebagai jantung suatu organisasi.
Lanjutan… �Jadi, militansi kader atau kader yang militan adalah anggota inti yang merupakan tulang punggung dari sebuah organisasi yang memiliki ketangguhan dalam menghadapi segala macam hambatan dan tantangan hidup dengan penuh semangat dan berhaluan keras.
Celupan Allah �Dalam Q. S. Al-Baqarah ayat 138, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya “Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami tunduk patuh”. Apa yang dikemukakan dalam ayat ini adalah tentang ajaran Nabi Ibrahim, seperti keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala, penyerahan diri secara penuh kepada Allah tentang Islam, dan lain-lain. Kata ﺻﺒﻐﺔ adalah celupan. Jika Anda mencelupkan sesuata, maka sesuatu itu akan mengambil warna sesuai warna celupan, dan ia akan meresap ke dalamnya. Hal ini berbeda dengan cat yang tidah meresap dan hanya mewarnai permukaannya saja. Sedangkan celupan meresap dan menyatu ke dalam pori-pori.
Perbedaan Kita dan Mereka �Celupan kami adalah celupan Allah. boleh jadi warna yang dipilih sama, tetapi kualitasnya berbeda. Kita sama-sama mengagungkan nabi Ibrahim, tetapi kita berbeda dalam memahami ajaran beliau, kita berbeda dalam pandangan hidup. Celupan yang baik tidak akan luntur walau silih berganti panas dan dingin, angin dan embun menerpanya. Demikian juga dengan celupan Allah.
Isi Al-Baqarah ayat 136 -137 �Umat Islam sama sekali tidak membeda-bedakan nabi -nabi sebelum Nabi Muhammad saw. semuanya dipandang sama sebagai utusan Allah dan mengimani ajaran mereka, kitab-kitab mereka, serta mukjizat mereka. Namun, harus dipahami bahwasanya nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad diutus hanya untuk umatnya pada masa tersebut. Sedangkan setelah kedatangan Nabi Muhammad, maka umat Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengajak selain umat Islam untuk mengikuti ajaran Islam.
Kurikulum Pendidikan PUTM �Pola pembinaan ruhiyah disusun dalam berbagai kegiatan seperti sholat lail, puasa senin-kamis, tadarus al-Qur’an, dan lain-lain. Untuk pola pembinaan dakwah disusun dalam program pelatihan dakwah dalam bentuk workshop, seminar, praktik dakwah, dan lain-lain. Sedangkan pola pembinaan ilmiyah disusun dalam program perkuliahan dengan menggunakan pendekatan kajian kitab, sebagaimana yang berlaku di pondok-pondok pesantren dan pendekatan ceramah/diskusi, tugas mandiri dan kelompok sebagaimana yang berlaku di perguruan tinggi.
Membangun Kompetensi Melalui PTM-PTA �PTM (PTA) sebaiknya telah disiapkan sumber daya manusia yang unggul di masing-masing PTM (PTA). Keunggulan sering kali dikaitkan dengan proses dan mutu, selain modal yang cukup, PTM (PTA) sebaiknya memiliki keunggulan bersaing sebagai Universitas, karena proses penyelenggaraan PTM (PTA) selalu berpijak pada empat pilar mutu, di antaranya customer satisfaction, efficiency and productivity, continuous improvement, dan community acknowledment.
Dr. H. Haedar Nashir �“Ke depan Muhammadiyah, agaknya lebih baik menjadi Persyarikatan yang dinamis dan mandiri, dalam konteks PTM, sudah selayaknya PTM menjadikan dirinya sebagai Center of Technopreneurship dan sekaligus menyiapkan change leader, berbekal change leader, akan mampu mengubah constraint menjadi opportunity, kita butuh pemimpin yang berani memulai hari ini, bukan besok, bukan lusa!”. (Rhenald Kasali: Change Leadership Non -Finito, Mizan 2015, P. 116)
�PTM diarahkan sebagai pusat riset, salah satu indikatornya jumlah program studi dan mahasiswa setingkat S 2/S 3 lebih banyak, demikian pula dosennya sudah banyak yang tamatan S 3. Beberapa negara di Asia, seperti Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Thailand, sudah menyadari pentingnya riset di perguruan tinggi. Negara-negara itu mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan dengan mengintegrasikan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. (Intan Ahmad: Kompas, Selasa 19 Januari 2016, P. 12)
�PTM wajib ikut mengembangkan fungsi dan kualitas perkaderan yang sistematik dengan cara memperteguh militansi, kompetensi, dan menempatkan kader Muhammadiyah sebagai pelaku gerakan di tengah dinamika Persyarikatan, umat, dan bangsa serta perkembangan global.
Perkaderan Muhammadiyah. Aisyiyah �Tujuan perkaderan Muhammadiyah-Aisyiyah adalah: “Terbentuknya kader Muhammadiyah yang berjiwa Islam berkemajuan serta mempunyai integritas dan kompetensi untuk berperan dalam Persyarikatan, kehidupan umat, dinamika bangsa dan konteks global. ” (MPK PP Muh: SPM, 2015, P. 47)
Firman Allah dalam Q S. al. Baqarah/2 ayat 132 -133 � 132. “Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". 133. Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku? " mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
Kader Sebagai Penjaga Gawang Ideologi Muhammadiyah/ Aisyiyah �Dalam Muktamar ke-37 tahun 1968 dinyatakan bahwa ideologi yaitu : ajaran atau ilmu pengetahuan yang secara sistematis dan menyeluruh membahas mengenai gagasan, cara-cara, angan-angan atau gambaran dalam pikiran, untuk mendapatkan keyakinan mengenai hidup dan kehidupan yang benar dan tepat”. Dinyatakan pula bahwa ideologi berarti “ keyakinan hidup”, yang mencakup “ 1. Pandangan hidup, 2. Tujuan hidup, 3. Ajaran dan cara yang dipergunakan untuk melaksanakan pandangan hidup dalam mencapai tujuan hidup tersebut”.
Lanjutan… �Oleh karena itu, Peran kader sangatlah penting sebagai penjaga gawang dari kebobolannya pertahanan persyarikatan yang dapat merusak ideologi persyarikatan. �Tentunya, untuk membentuk kader yang siap dan mampu untuk menjadi tameng pertahanan ini diperlukan upaya-upaya yang serius dan sistematis.
Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah �Core business MPK (MPK-PPA), biasa dikaitkan dengan internalisasi nilai-nilai ke-Muhammadiyahan atau pendidikan Ideologi di Muhammadiyah, Ideologi merupakan salah satu pandangan dunia (world view) yang penting dan berpengaruh besar dalam sejarah peradaban manusia, di samping agama dan ilmu pengetahuan.
Pentingnya Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah �Revitalisasi ideologi dalam Muhammadiyah merupakan suatu hal yang penting dan melekat dengan sejarah perkembangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, sekaligus merupakan tuntutan yang mendasar untuk menjaga keutuhan dan kelangsungan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang memiliki “keyakinan dan cita-cita hidup” sebagaimana telah menjadi alam pikiran yang fundamental selama ini, termasuk ketika civitas akademika yang bermaksud membangun militansi kader Muhammadiyah-Aisyiyah.
Purifikasi dan Dinamisasi �Hasil Muktamar tarjih XXII di Malang tahun 1990 disebutkan bahwa dari segi bahasa tajdid berarti pembaruan, sedangkan dari segi istilah memiliki dua arti yaitu: (a) pemurnian; dan (b) peningkatan, pengembangan, modernisasi, dan yang semakna dengannya. Dalam arti “pemurnian” tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran, pengamalan, dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ash-Sunnah Ash-Shahihah atau Al-Maqbullah. Guna melaksanakan tajdid dalam kedua pengertian tersebut diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan fitri, serta akal budi yang bersih, yang dijiwai oleh ajaran Islam.
Lanjutan… �Muhammadiyah dengan tajdid purifikasi dan dinamisasi itu gerakan Islam ini telah melakukan pilihan integratif sekaligus moderat (tawasuth, tawazun). Demikian pula dengan manhaj bayani, burhani dan irfani, Muhammadiyah telah menempuh pendekatan holistik-integratif dalam sistem pemikiran keagamaannya. Pilihan tersebut harus menjadi manhaj gerakan Muhammadiyah secara sistemik, sehingga bukan lagi wacana dan kontroversi.
Lanjutan… �Posisi tajdid Muhammadiyah yang moderat bukanlah bersifat politik sebagaimana tudingan sementara pihak. Posisi moderat merupakan pilihan teologis sekaligus ideologis karena di satu pihak Muhammadiyah telah mengambil tajdid sebagai bagian dari sejarah perjalanan hidupnya. Konstruksi surat Ali-Imran 104 dan 110 tentang dakwah dan khaira ummah (ummatan washata) secara teologis mengisyaratkan Muhammadiyah sebagai gerakan tengahan yang dikontekstualisasikan oleh Prof. Amien Rais sebagai al-amru bil ’adli wa nahyi ‘anidz-dzilmi.
Lanjutan… �KH. Ahmad Dahlan mempelopori berdirinya Muhammadiyah lebih memilih gerak tajdid dan dakwah yang bersifat kultural untuk “menyebarluaskan” dan ‘memajukan” ajaran Islam di nusantara. Pilihan moderat itu bahkan memiliki fungsi maslahat atau tahsinah (fungsi kebaikan dan/kemanfaatan) untuk keluar dari jebakan kebuntuan dan ekstrimitas sebagaimana terjadi dalam kontroversi pemikiran dan gerakan Islam antara genre literal-konservatif dan liberal-progresif yang saling berhadapan.
�Muhammadiyah dengan kekayaan pemikiran dan amaliahnya perlu tampil sebagai gerakan moderattrasformatif yang bersifat alternatif dan produktif. Momentum menjadikan PTM sebagai pilar perkaderan di Muhammadiyah, bukanlah langkah basa-basi, sebaiknya lebih dimaknai pembinaan dan pengembangan human capital dari kalangan muda yang masih penuh idealisme dan siap menerima tantangan ekonomi kreatif (the creative economy).
Fenomena : Generasi X yang akan diganti oleh Generasi Y �Generasi X sebagai generasi yang cenderung egois, segera diganti oleh Generasi Y atau generasi milenial (kelahiran tahun 1980 -1999) memiliki ciri berpikir strategis, inspiratif, inovatif, interpersonal, energik, antusias, egaliter, digital native, dan diprediksi akan menjadi pemimpin yang kuat. Ciri generasi ini terlihat kentara di korporasi. Gaya mereka mengubah kultur dan cara kerja korporasi. Menurut Neil Howe dan William Strauss (millennial rising: the next great generation, 2000), generasi Y menjadi generasi yang peduli pada masalah-masalah sosial. Generasi Y diprediksi memberikan kontribusi dan memperkuat lemaba-lembaga sipil dan negara.
Penutup �Dalam konteks persyarikatan, kini ke depan yang diperlukan adalah pengayaan (enrichment) dalam tajdid Muhammadiyah, baik yang berdimensi purifikasi maupun dinamisasi, termasuk dalam memaknai pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam manhaj tarjih Muhammadiyah. Terpaku dalam dinamisasi dan purifikasi sebagai jalan tengah tidak boleh bersifat pasif-doktriner belaka, karena keduanya memerlukan pengayaan dalam subtansi dan metodologinya.
�Sungguh tepat, apabila PTM atau PT Aisyiyah, senantiasa menempatkan diri dan menyediakan diri sebagai pilar Perkaderan, di Persyarikatan Muhammadiyah. Karena kejayaan Muhammadiyah yang akan datang banyak tergantung pada cara pembibitan dan start up Muhammadiyah-Aisyiyah masa kini. Upaya membangun militansi kader akan tercapai, apabila diupayakan dengan sungguh dan istiqamah, kader memiliki kapasitas dan kemampuan serta mampu membangun jaringan.
- Slides: 26