LAPORAN KASUS Stroke Infark dengan Afasia Motorik Penyusun

  • Slides: 60
Download presentation
LAPORAN KASUS Stroke Infark dengan Afasia Motorik Penyusun : Kinanti Safira Fajrin 1910221055 Pembimbing

LAPORAN KASUS Stroke Infark dengan Afasia Motorik Penyusun : Kinanti Safira Fajrin 1910221055 Pembimbing : dr. Nurtakdir Kurnia Setiawan, Sp. S, M. Sc. , M. H Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Tanggal Lahir Usia Alamat No. Rekam Medis Tanggal dirawat

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Tanggal Lahir Usia Alamat No. Rekam Medis Tanggal dirawat di RS Agama Pekerjaan Status Menikah : Tn. H : Laki-laki : 21 Oktober 1983 : 37 Tahun 5 Bulan : Perum Ungaran Baru 04/05 : 200229 -2021 : 30 Maret 2021 : Islam : Swasta : Sudah Menikah

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien serta dilengkapi dengan alloanamnesis dengan istri pasien

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien serta dilengkapi dengan alloanamnesis dengan istri pasien pada tanggal 31 Maret 2021, pukul 07. 30 WIB, bertempat di bangsal Mawar Kamar 209. 1 RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo KELUHAN UTAMA Pasien datang ke RSGM dengan keluhan kelumpuhan anggota gerak kanan sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien datang ke IGD RSGM dengan keluhan kelumpuhan anggota gerak kanan

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien datang ke IGD RSGM dengan keluhan kelumpuhan anggota gerak kanan sejak 1 hari sebelum masuk RS. Kelumpuhan anggota gerak kanan yang dirasakan pasien muncul mendadak saat pasien berbaring istirahat. Sehingga pasien tidak dapat mengangkat lengan dan tungkai kanan serta pasien tidak dapat berdiri dan berjalan. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah pasien tidak dapat berbicara, tetapi pasien mengerti perkataan lawan bicara, keluhan ini bersamaan dengan kelumpuhan anggota gerak kanan. Saat pasien diajak bicara, pasien merespon dengan anggukan atau menggelengkan kepala. Pasien dapat membuka mulut saat diminta membuka mulut, tetapi pasien tidak dapat menjulurkan lidah saat diminta menjulurkan lidah. Saat meringis atau tersenyum, ujung bibir sebelah kanan pasien tidak terangkat, sehingga terlihat tidak simetris. Saat pasien mengangkat alis, alis sebelah kanan pasien tidak terangkat sempurna.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien juga mengeluhkan cephalgia bersamaan dengan kelumpuhan anggota gerak kanan, cephalgia

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien juga mengeluhkan cephalgia bersamaan dengan kelumpuhan anggota gerak kanan, cephalgia dirasakan seperti cekot dan ditekan. Cephalgia ini dirasakan pada seluruh lapang kepala pasien. Keluhan cephalgia dirasakan hilang timbul dan membaik dengan istirahat. Skala nyeri yang dirasakan oleh pasien pada saat itu sekitar 7/10. Keesokan harinya pasien dibawa oleh keluarga pasien ke IGD RSGM dengan kondisi sadar penuh. Pasien masih dapat merasakan sentuhan di seluruh anggota gerak dan tidak dirasakan adanya kesemutan. Pasien tidak memiliki gangguan BAK dan BAB. Keluhan ini tidak diawali dengan mual, muntah, jatuh, demam, trauma kepala, pingsan, kejang dan artritis. Informasi tentang riwayat penyakit ini didapatkan dari pasien langsung dan istri pasien. Pasien masih ingat dengan kejadian yang menimpa pasien lengkap dengan waktunya namun pasien tidak dapat menjelaskan dengan lancar karena kesulitan untuk berbicara sehingga pasien menjelaskan dengan tangan kirinya serta beberapa bahasa isyarat yang dikeluarkan oleh pasien sendiri.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Pasien tidak memiliki

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Pasien tidak memiliki riwayat diabetes mellitus dan hipertensi. Riwayat autominun, alergi dan tumor disangkal oleh pasien.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Riwayat penyakit serupa, Riwayat darah tinggi dan Riwayat DM disangkal oleh

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Riwayat penyakit serupa, Riwayat darah tinggi dan Riwayat DM disangkal oleh pasien.

RIWAYAT PRIBADI DAN SOSIAL EKONOMI Pasien saat ini bekerja sebagai pegawai kantoran. Pasien tidak

RIWAYAT PRIBADI DAN SOSIAL EKONOMI Pasien saat ini bekerja sebagai pegawai kantoran. Pasien tidak pernah meminuman beralkohol. Pasien seorang perokok aktif dan pasien mengkonsumsi 4 batang rokok/hari. Pasien suka memakanan seperti gorengan. Pasien tidak suka berolahraga. RIWAYAT PEMBERIAN OBAT Pasien tidak mengkonsumsi obat apapun

ANAMNESIS SISTEM • Sistem serebrospinal : Sakit kepala (+) • Sistem kardiovaskular : Riwayat

ANAMNESIS SISTEM • Sistem serebrospinal : Sakit kepala (+) • Sistem kardiovaskular : Riwayat Hipertensi (-), Riwayat Merokok (+) • Sistem neurologis : Kelumpuhan anggota gerak kanan (+), afasia motorik (+) • Sistem gastrointestional : tidak ada keluhan • Sistem respirasi : tidak ada keluhan • Sistem integumen : tidak ada keluhan • Sistem urogenital : tidak ada keluhan

RESUME ANAMNESIS Tn. H usia 37 tahun datang ke IGD RSGM dengan kelumpuhan anggota

RESUME ANAMNESIS Tn. H usia 37 tahun datang ke IGD RSGM dengan kelumpuhan anggota gerak kanan dan nyeri kepala sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Kelumpuhan anggota gerak kanan yang dirasakan pasien muncul mendadak saat pasien berbaring istirahat. Kelumpuhan anggota gerak bagian kanan disertai ketidakmampuan berbicara, nyeri kepala, bibir dan alis tidak simetris. Pasien dapat mengerti perintah dan pembicaraan, serta menjawab pertanyaan dengan anggukan atau menggelengkan kepala. Keluhan ini belum pernah dirasakan sebelumnya. Keluhan ini tidak diawali dengan mual, muntah, jatuh, demam, tumor, pingsan dan autoimun. Pasien masih sadar penuh. Keluhan BAB, BAK disangkal oleh pasien.

DISKUSI 1 Dari data anamnesis didapatkan suatu kumpulan gejala berupa kelumpuhan anggota gerak kanan,

DISKUSI 1 Dari data anamnesis didapatkan suatu kumpulan gejala berupa kelumpuhan anggota gerak kanan, yang sifatnya mendadak disertai bibir tidak simetris saat tersenyum, alis tidak simetris saat gerakkan keatas dan afasia motoric mendadak dan menetap disertai dengan cephalgia akut yang hilang timbul. Kelumpuhan anggota gerak kanan atas adalah hilangnya kekuatan otot menggerakkan anggota tubuh. Afasia motoric merupakan gangguan fungsi Bahasa dimana pasien tidak dapat memberikan ekspresi Bahasa dan repetisi yang buruk namun pasien masih paham dengan obrolan orang lain yang sedang berbicara dengan pasien dan pasien mengerti apa yang mau pasien bicarakan sehingga pasien ini diklasifikasikan sebagai Afasia Broca.

DISKUSI 1 Defisit neurologis akut yang terjadi secara spontan tanpa adanya faktor pencetus yang

DISKUSI 1 Defisit neurologis akut yang terjadi secara spontan tanpa adanya faktor pencetus yang jelas berupa trauma dan gejala infeksi sebelumnya mengarah ke suatu lesi vaskuler karena onsetnya yang mendadak. Sehingga pada penderita mengarah pada diagnosis stroke. Pada penderita tidak didapatkan defisit neurologis yang terjadi secara progresif, berupa penurunan kesadaran dan kelemahan motorik yang terjadi akibat suatu proses destruksi maupun nyeri kepala kronik akibat dari proses kompresi dengan segala akibatnya yang merupakan gambaran umum pada tumor otak. Gejala-gejala abses serebri berupa nyeri kepala yang cenderung memberat, demam, defisit neurologi fokal dan kejang juga tidak terdapat pada penderita ini

DISKUSI 1 Defisit neurologis yang terjadi mengenai satu sisi anggota gerak tubuh pasien mengarahkan

DISKUSI 1 Defisit neurologis yang terjadi mengenai satu sisi anggota gerak tubuh pasien mengarahkan kemungkinan terdapat lesi vaskular serebri yang terjadi pada sisi kontralateralnya. Pada pasien ini terjadi defisit neurologis disebelah kanan yang dapat dikatakan terdapat lesi vaskular di hemisfer sinistra mengingat adanya penyilangan saraf motorik di batang otak. Defisit neurologis pada pasien ini bersifat mendadak tanpa ada pencetusnya terlebih dahulu. Hal ini dapat mengarahkan pada suatu keadaan stroke. Stroke memiliki faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, herediter dan ras serta faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, merokok, hyperlipidemia, alkohol, obesitas, kurang olahraga dan gaya hidup. Pada pasien ini terdapat faktor risiko yang dimiliki yaitu merokok dan kurang olahraga. Gejala klinis pasien merujuk ke stroke iskemik (Stroke non hemoragik) dikarenakan pasien tidak ada penurunan kesadaran dan tidak ada muntah, namun untuk penegakkan diagnosis stroke harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

DISKUSI 1 Dari data anamnesis juga di dapatkan usia pasien 37 tahun dimana usia

DISKUSI 1 Dari data anamnesis juga di dapatkan usia pasien 37 tahun dimana usia tersebut merupakan usia produktif (15 -40 tahun). Stroke paling sering dijumpai pada orang-orang dengan usia menengah dan usia lanjut tetapi beberapa kasus terakhir menunjukkan stroke yang terjadi pada usia remaja dan produktif. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang banyak lemak dan kurangnya olahraga sehingga dapat meningkatkan kadar kolestrol darah dan memicu terjadinya atherosclerosis dan thrombosis yang mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke otak.

DIAGNOSIS SEMENTARA • Diagnosis Klinis Hemiplegi dextra, afasia motorik, cephalgia akut • Diagnosis Topik

DIAGNOSIS SEMENTARA • Diagnosis Klinis Hemiplegi dextra, afasia motorik, cephalgia akut • Diagnosis Topik Hemisfer cerebri sinistra • Diagnosis Etiologi Cerebrovaskular (Stroke infark dd stroke hemoragik) Dd Neoplasma intrakranial

STROKE Gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik

STROKE Gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian, disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (WHO)

KLASIFIKASI STROKE NON HEMORAGIK/ISKEMIK Gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah otak,

KLASIFIKASI STROKE NON HEMORAGIK/ISKEMIK Gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah otak, sehingga distribusi oksigen dan nutrisi ke area yang mendapat suplai terganggu 1. Stroke Trombotik penggumpalan pada pembuluh darah di otak 2. Stroke Embolik adanya gumpalan dari jantung

KLASIFIKASI STROKE HEMORAGIK/ PERDARAHAN Suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak

KLASIFIKASI STROKE HEMORAGIK/ PERDARAHAN Suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan perdarahan pada area tersebut. 1. Hemoragik Intraserebral perdarahan yang terjadi didalam jaringan otak 2. Hemoragik Subaraknoid perdarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak)

GEJALA KLINIS Gejala SH SNH Cepat Pelan Saat Beraktifitas Saat Istirahat +++ +/- Kejang

GEJALA KLINIS Gejala SH SNH Cepat Pelan Saat Beraktifitas Saat Istirahat +++ +/- Kejang + - Muntah + - +++ +/- Onset Saat Onset Nyeri Kepala Penurunan Kesadaran

FAKTOR RESIKO TIDAK DAPAT DIMODIFIKASI • • Usia tua Jenis kelamin Genetik Riwayat stroke

FAKTOR RESIKO TIDAK DAPAT DIMODIFIKASI • • Usia tua Jenis kelamin Genetik Riwayat stroke DAPAT DIMODIFIKASI • • • Hipertensi Diabetes mellitus Hiperlipidemia Stress Alkohol

ALGORITMA GAJAH MADA

ALGORITMA GAJAH MADA

SIRIRAJ SCORE STROKE RUMUS : (2. 5 x tingkat kesadaran) + (2 x muntah)

SIRIRAJ SCORE STROKE RUMUS : (2. 5 x tingkat kesadaran) + (2 x muntah) + (2 x pusing) + (0. 1 x tekanan darah diastolic) – (3 x atheroma markers) - 12

AFASIA Afasia merupakan gangguan fungsi Bahasa karena kerusakan pusat bahasa di otak. Kerusakan tersebut

AFASIA Afasia merupakan gangguan fungsi Bahasa karena kerusakan pusat bahasa di otak. Kerusakan tersebut dapat disebabkan langsung maupun tidak langsung dari penyakit otak, ataupun dapat diakibatkan oleh proses degeneratif. Stroke merupakan penyebab utama terjadinya afasia.

AFASIA EPIDEMIOLOGI • National Institute of Neurological Disorder and Stroke (NINDS) menyatakan penderita afasia

AFASIA EPIDEMIOLOGI • National Institute of Neurological Disorder and Stroke (NINDS) menyatakan penderita afasia di Amerika Serikat mencapai 1 juta orang atau satu dari 250 warga negara Amerika Serikat mengalami afasia. Sebanyak 15% diantaranya berusia <65 tahun dan 43% berusia > 85 tahun. Tidak terdapat perbedaan bermakna antar jenis kelamin dengan afasia. • Walaupun demikian terdapat kecenderungan bahwa perempuan lebih banyak mengalami afasia Wernicke dan global, sedangkan laki-laki sering mengalami afasia Broca.

AFASIA GEJALA DAN TANDA KLINIS Pengklasifikasian sindrom afasia dapat diawali dan dikerjakan secara bedside

AFASIA GEJALA DAN TANDA KLINIS Pengklasifikasian sindrom afasia dapat diawali dan dikerjakan secara bedside dengan menilai modalitas dari fungsi bahasa, yaitu : • • Kelancaran bicara (fluency ) Pemahaman Kemampuan pengulangan (repetisi) Kemampuan menemukan kata yang sesuai (word finding ) dan atau penamaan (naming). Semua pasien afasia yang juga disertai dengan adanya gangguan kemampuan penamaan termasuk parafasia

AFASIA KLASIFIKASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. Afasia Broca Afasia Wernicke Afasia Global

AFASIA KLASIFIKASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. Afasia Broca Afasia Wernicke Afasia Global Afasia Transkortikal Afasia Anomik Afasia Konduksi

AFASIA TATALAKSANA • • MEDIKAMENTOSA Hingga saati ini belum ada penatalaksanaan medikamentosa yang dinilai

AFASIA TATALAKSANA • • MEDIKAMENTOSA Hingga saati ini belum ada penatalaksanaan medikamentosa yang dinilai efektif. Tata laksana medikamentosa afasia akut akibat stroke terbatas pada kesegaran pengembalian perfusi orak dalam satu jam pertama onset. Walaupun demikian, terdapat studi terhadap pirasetam, donepezil, dan bromokriptin dapat memberikan luaran yang cukup menjanjikan. Donepezil dan agen kolenergik lain, seperti galantamine, bifeleman, dan fisostigmin menunjukkan beberapa efek terapi positif afasia pascastroke. NON MEDIKAMENTOSA Kemajuan teknologi mutakhir dan perkembangan studi neurosains menghasilkan pemahaman lebih mendalam tentang neurorestoratologi, yaitu ilmu yang mempelajari proses reorganosaso otak dan relearning pemulihan fungsional suati keterampilan pascacedera otak

CEPHALGIA Cephalgia adalah gejala dari nyeri di regio dari kepala dan leher

CEPHALGIA Cephalgia adalah gejala dari nyeri di regio dari kepala dan leher

CEPHALGIA EPIDEMIOLOGI • 1 dari 10 pasien di klinik dokter umum adalah cephalgia, lalu

CEPHALGIA EPIDEMIOLOGI • 1 dari 10 pasien di klinik dokter umum adalah cephalgia, lalu 1 dari 3 rujukan ke poli saraf karena nyeri kepaanya, dan 1 dari 5 pasien datang ke IGD karena nyeri kepala. • Cephalgia menempati 5% dari penyakit yang dapat mengganggu produktivitas. Di singapura, prevalensi cephalgia dilaporkan mencapai 82, 7% dan 9, 3% diantaranya adalah migrain

CEPHALGIA KLASIFIKASI 1. Cephalgia Primer • Migraine • Tension-Type Headache • Cluster Headache •

CEPHALGIA KLASIFIKASI 1. Cephalgia Primer • Migraine • Tension-Type Headache • Cluster Headache • Medication Overuse Headache 2. Cephalgia Sekunder • Space-occupying lesions , biasanya tumor intracranial • Infeksi ssp, meningitis ataupun ensefalitis • Subarachnoid haemorrhage • Giant-cell arteritis • Cerebral venous thrombosis • Idiopatic hypertension intracranial

CEPHALGIA DIAGNOSIS • • Waktu yang cukup untuk menggali riwayat sakit kepala dari anamnesis

CEPHALGIA DIAGNOSIS • • Waktu yang cukup untuk menggali riwayat sakit kepala dari anamnesis adalah kunci untuk diagnosis yang efektif. Riwayat yang digali selama beberapa minggu dapat menentukan pola serangan, gejala, dan penggunaan obat. Perubahan pola menandakan sesuatu keadaan baru yang memberatkan, atau timbulnya gangguan sakit kepala baru Pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan neurologis singkat namun komprehensif, termasuk fundus optik, direkomendasikan. Pemeriksaan kepala dan leher dapat menunjukkan nyeri otot, rentang gerakan terbatas, atau krepitasi (yang menunjukkan perlunya pengobatan fisik tetapi tidak selalu menjadi penyebab sakit kepala). Pemeriksaan penunjang, termasuk neuroimaging, jarang berkontribusi pada diagnosis sakit kepala jika riwayat dan pemeriksaan menunjukkan tidak ada penyebab yang mendasari.

CEPHALGIA TATALAKSANA • Tension-Type Headache Untuk TTH episodik, analgesik sederhana seperti parasetamol dan obat

CEPHALGIA TATALAKSANA • Tension-Type Headache Untuk TTH episodik, analgesik sederhana seperti parasetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) umumnya cukup. Penggunaan opioid seperti kodein harus dipertimbangkan dengan hati-hati mengingat kemungkinan efek samping seperti ketergantungan. Karena sakit kepala adalah gejala somatoform yang umum, pertimbangkan kemungkinan masalah kesehatan mental yang mendasari pada pasien yang datang dengan sakit kepala, terutama jika sakit kepala parah dan kronis. Jika diindikasikan, pengobatan pencegahan dengan antidepresan trisiklik atau beta-blocker dapat dipertimbangkan. Mulai pencegahan dengan dosis rendah dan tingkatkan sampai kontrol yang memadai tercapai. Pasien harus diberi tahu bahwa pengobatan pencegahan perlu waktu untuk diterapkan, dan pengobatan tidak perlu seumur hidup.

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Analgesik sederhana mungkin cukup sebagai pengobatan lini pertama untuk migrain

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Analgesik sederhana mungkin cukup sebagai pengobatan lini pertama untuk migrain akut. Antiemetik dapat dipertimbangkan jika disertai mual dan muntah yang terjadi bersamaan. Perawatan lini kedua termasuk triptan (serotonin 5 hydroxytryptamine tipe 1 B / 1 D reseptor agonis) dan turunan ergotamine. Kombinasi triptans dan NSAID mungkin lebih unggul daripada salah satu obat saja. Jika gejala berulang, cari faktor pencetus yang mendasari dan / atau kondisi kejiwaan.

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Terapi pencegahan diindikasikan jika serangan migrain : - Berulang (>

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Terapi pencegahan diindikasikan jika serangan migrain : - Berulang (> 3 hari / bulan) dan menyebabkan kecacatan meskipun pengobatan obat akut sudah optimal; - Berulang dengan aura berkepanjangan dan / atau migrain hemiplegia; - Sering dan memerlukan penggunaan obat pada tingkat yang berisiko menyebabkan sakit kepala berlebihan; - Berulang dan di mana pengobatan akut merupakan kontraindikasi.

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Pilihan pengobatan pencegahan termasuk beta-blocker, antidepresan dan antiepilepsi. Penurunan 50%

CEPHALGIA TATALAKSANA • Migraine Pilihan pengobatan pencegahan termasuk beta-blocker, antidepresan dan antiepilepsi. Penurunan 50% frekuensi episodik sakit kepala selama 6 -8 minggu dianggap sebagai target pengobatan. Tujuan jangka panjang dari pengobatan pencegahan adalah untuk mengurangi ketergantungan pada pengobatan farmakologis akut dan untuk meminimalkan risiko sakit kepala karena obat lama. Pengobatan pencegahan harus dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan setiap 2 -3 minggu sampai efek samping yang efektif atau yang membatasi dosis terjadi. Penghentian bertahap dapat dipertimbangkan setelah 612 bulan terapi pencegahan berhasil.

CEPHALGIA TATALAKSANA • Medication Overuse Headache Sakit kepala akibat penggunaan obat secara berlebihan didefinisikan

CEPHALGIA TATALAKSANA • Medication Overuse Headache Sakit kepala akibat penggunaan obat secara berlebihan didefinisikan sebagai sakit kepala yang timbul dari penggunaan obat secara berlebihan selama tiga bulan atau lebih untuk sakit kepala yang sudah ada sebelumnya. Penggunaan NSAID dan parasetamol ≥ 15 hari per bulan, dan penggunaan triptan dan / atau opioid ≥ 10 hari per bulan dianggap berlebihan. Bukti menunjukkan bahwa untuk sebagian besar pasien dengan sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan, respons terhadap pengobatan pencegahan meningkat setelah penghentian pengobatan yang berlebihan.

STATUS GENERALIS PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tampak sakit sedang Kesadaran kualitatif Compos Mentis, GCS

STATUS GENERALIS PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tampak sakit sedang Kesadaran kualitatif Compos Mentis, GCS E 4 Vx. M 6 Tanda-Tanda Vital Kepala , Mulut TD : 127/90 mm. Hg Nadi : 65 x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat Pernapasan : 20 x/menit, regular Suhu : 36, 7 o. C Sp. O 2 : 98 % tanpa O 2 Dalam Batas Normal, bibir terangkat ke kiri Leher , Telinga, Hidung, Tenggorok Dalam Batas Normal Dada Dalam Batas Normal Jantung Dalam Batas Normal Paru Dalam Batas Normal Abdomen Dalam Batas Normal

STATUS NEUROLOGIS PEMERIKSAAN FISIK Sikap Tubuh Lurus dan simetris Gerakan Abnornal Tidak ada Cara

STATUS NEUROLOGIS PEMERIKSAAN FISIK Sikap Tubuh Lurus dan simetris Gerakan Abnornal Tidak ada Cara Berjalan Tidak dapat dinilai Ekstremitas Lateralisasi Dextra (+)

FUNGSI MOTORIK Refleks Fisiologis Dalam Batas Normal Refleks Patoogis Dalam Batas Normal Rangsang Meningeal

FUNGSI MOTORIK Refleks Fisiologis Dalam Batas Normal Refleks Patoogis Dalam Batas Normal Rangsang Meningeal Dalam Batas Normal Fungsi Sensorik Dalam Batas Normal • Fungsi Luhur : Normal • Fungsi Vegetatif : BAK lancar, BAB belum selama perawatan

SKOR SIRIRAJ (2. 5 x tingkat kesadaran) + (2 x muntah) + (2 x

SKOR SIRIRAJ (2. 5 x tingkat kesadaran) + (2 x muntah) + (2 x pusing) + (0. 1 x tekanan darah diastolic) – (3 x atheroma markers) - 12 (2. 5 x 0) + (2 x 1) + (0. 1 x 90) – (3 x 0) – 12 = -1 HASIL : Meragukan

ALGORITMA GAJAH MADA Nyeri Kepala + Penurunan Kesadaran - Refleks Babinski - Dalam kasus

ALGORITMA GAJAH MADA Nyeri Kepala + Penurunan Kesadaran - Refleks Babinski - Dalam kasus ini didapatkan hanya nyeri kepala yang positif yang artinya mengarah ke pendarahan intraserebral sehingga perlu pemeriksaan penunjang yaitu Head CT Scan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN PENUNJANG

CT - SCAN Kesan : • Infark luas pada lobus parietotemporalis kiri • Tak

CT - SCAN Kesan : • Infark luas pada lobus parietotemporalis kiri • Tak tampak tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial saat ini

DIAGNOSIS AKHIR • Diagnosis Klinis Hemiplegi Dextra, Parase N. VII dan N. XII Sinistra

DIAGNOSIS AKHIR • Diagnosis Klinis Hemiplegi Dextra, Parase N. VII dan N. XII Sinistra UMN, Afasia motorik, cephalgia akut • Diagnosis Topis Hemisfer cerebri sinistra • Diagnosis Etiologi Stroke Infark • Diagnosis Tambahan Dislipidemia

DISKUSI 2 • • Pada pemeriksaan fisik status generalisata ditemukan kesadaran E 4 Vx.

DISKUSI 2 • • Pada pemeriksaan fisik status generalisata ditemukan kesadaran E 4 Vx. M 6 atau kesadaran penuh (compos mentis), dimana pasen memiliki orientasi yang baik terhadap diri maupun lingkungan. Pasien dapat membuka mata secara spontan dan terdapat kontak dengan mata periksa, mampu berkomunikasi dengan orientasi baik dan mampu mengikuti perintah pemeriksa. Saat dilakukan pemeriksaan tanda vital, tekanan darah pasien 127/90 mm. Hg, nadi 65 x/menit dengan irama regular isi cukup, laju nafas 20 x/menit dalam batas normal, suhu 36. 7 derajat (Afebris), dan saturasi oksigern dalam keadaan baik walaupun tanpa bantuan nasal kanul maupun nrm. Pada pemeriksaan fisik lokalis tidak ditemukan adanya kelainan. Selanjutnya pemeriksaan status psikiatri tidak ditemukan adanya kelainan seperti perilaku yang tidak normal atau hilangnya ingatan. Pada pemeriksaan neurologis saraf kranialis ditemukan adanya parese nervus VII dextra dimana terdapat deviasi sudut bibir saat tesenyum dan alis pada saat mengangkat alis sebelah kanan tidak dapat diangkat. Pada pemeriksaan fungsi motorik didapatkan adanya kelumpuhan pada anggota gerak kanan. Hal ini di sebabkan adanya lesi pada korteks motorik yang mengatur pergerakan otot.

DISKUSI 2 • Jika diaplikasikan pada perasat skor Siriraj yang mengandung penilaian kesadaran, ada

DISKUSI 2 • Jika diaplikasikan pada perasat skor Siriraj yang mengandung penilaian kesadaran, ada tidaknya muntah, atheroma dan nilai tekanan diastolik didapatkan skor pada pasien ini adalah -1, yang interpretasinya adalah skor 1 s/d 1 adalah meragukan. Namun untuk diagnosis lebih pasti perlu dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Head CT Scan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin, kimia klinik dan profil lipid untuk mencari faktor resiko lain yang kemungkinan terlibat pada perjalanan penyakit stroke pada pasien ini. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan nilai yang signifikan adalah kadar gula darah sewaktu, Trigliserida, HDL direct, LDL kolestrol, asam urat, kolestrol, dan Creatinin meningkat.

DISKUSI 2 • Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan penunjang CT-Scan kepala tanpa kontras yang merupakan Golden

DISKUSI 2 • Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan penunjang CT-Scan kepala tanpa kontras yang merupakan Golden Diagnosis dalam penegakkan diagnosis jenis stroke. Hasil CT-Scan menunjukkan adanya infark luas pada lobus peritemporal kiri. Kelainan pada hemisfer sinistra inilah yang menyebabkan hemiparesis dextra karena jalur saraf motorik yang berasal dari korteks ini bersilangan di dekusasio piramidalis, sehingga mempersarafi ekstremitas kontralateralnya.

TERAPI MEDIKAMENTOSA • • • IVFD Asering 20 tpm Inj. Brainact 2 x 1000

TERAPI MEDIKAMENTOSA • • • IVFD Asering 20 tpm Inj. Brainact 2 x 1000 mg Inj. Piracetam 4 x 3 gr Inj. Ranitidin 2 x 1 amp Inj. Mecobalamin 1 x 1 amp Inj. Metilprednisolon 2 x 62. 5 mg PO Plasmin 2 x 1 mg PO Clopidogrel 1 x 75 mg PO Tobokan forte 1 x 1 mg PO Allopurinol 1 x 300 mg NON MEDIKAMENTOSA • • • Mulai menggerakan anggota badan Edukasi keluarga mengenai penyakitnya: • Diagnosis pasien • Tatalaksana yang akan dilakukan • Prognosis dari penyakit yang diderita pasien Rehabilitasi Medik (Fisioterapi)

PROGNOSIS • Death : Dubia ad bonam • Disease : Dubia ad bonam •

PROGNOSIS • Death : Dubia ad bonam • Disease : Dubia ad bonam • Dissability : Dubia • Discomfort : Dubia • Dissatisfaction : Dubia ad bonam • Distutition : Dubia ad bonam

DISKUSI 3 • • IVFD Asering 20 tpm Stabilisasi hemodinamik dilakukan dengan pemberian cairan

DISKUSI 3 • • IVFD Asering 20 tpm Stabilisasi hemodinamik dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid secara intravena Inj. Brainact 2 x 1000 mg Brainact adalah obat yang mengandung Citicoline. Citicolin berperan untuk perbaikan membran sel saraf melalui peningkatan sintesis phosphatidylcholine dan perbaikan neuron kolinergik yang rusak melalui potensiasi dari produksi asetilkolin. Citicoline juga menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif, Citicoline diharapkan mampu membantu rehabilitasi memori pada pasien dengan luka pada kepala dengan cara membantu dalam pemulihan darah ke otak.

DISKUSI 3 • Inj Piracetam 4 x 3 gr Piracetam berfungsi untuk meningkatkan deformabilitas

DISKUSI 3 • Inj Piracetam 4 x 3 gr Piracetam berfungsi untuk meningkatkan deformabilitas eritrosit yang merupakan elastisitas dan kemampuan sel darah melewati mikrovaskuler tanpa mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Dengan meningkatnya deformabilitas eritrosit maka akan mempermudah aliran darah melewati pembuluh darah otak yang kecil sehingga memperbaiki keadaan iskemia.

DISKUSI 3 • Inj Ranitidine 2 x 1 amp Ranitidine merupakan antagonis histamin dari

DISKUSI 3 • Inj Ranitidine 2 x 1 amp Ranitidine merupakan antagonis histamin dari reseptor H 2 dimana sebagai antagonis histamin, ranitidine dikenal lebih potensial daripada cimetidine dalam fungsinya untuk menghambat sekresi asam lambung pentagastrin-stimulated. Fungsi ini dikarenakan antagonis histamin dari reseptor histamin H 2 ini bekerja untuk menghambat sekresi asam lambung. Pada pasien ini diberikan rantidine untuk menghambat sekresi asam lambung, sehingga dapat mengurangi keluhan mual pada pasien.

DISKUSI 3 • Inj Mecobalamin 1 x 1 amp Mecobalamin adalah metabolit dari vitamin

DISKUSI 3 • Inj Mecobalamin 1 x 1 amp Mecobalamin adalah metabolit dari vitamin B 12 yang berperan sebagai koenzim dalam proses pembentukan methionin dari homosystein. Reaksi ini berguna dalam pembentukan DNA, serta pemeliharaan fungsi saraf. Mecobalamin berperan pada neuron susunan saraf melalui aksinya terhadap reseptor NMDA dengan 32 perantaraan S-adenosilmethione (SAM) dalam mencegah apoptosis akibat glutamate-induced neurotoxicity. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan peranan mecobalamin pada terapi stroke, cedera otak, penyakit Alzheimer, Parkinson, termasuk juga dapat dipakai untuk melindungi otak dari kerusakan pada kondisi hipoglikemia dan status epileptikus (Meliala & Barus, 2008).

DISKUSI 3 • • Inj Metilprednisolon 2 x 62. 5 Metilprednisolon adalah obat golongan

DISKUSI 3 • • Inj Metilprednisolon 2 x 62. 5 Metilprednisolon adalah obat golongan kortikosteroid. Golongan obat ini merupakan obat yang meredakan peradangan, alergi, dan menekan kerja sistem imun. PO Clopidogrel 1 x 75 mg Clopidogrel adalah inhibitor fungsi platelet yang bersifat ireversibel dengan hambatan pada reseptor adenosine diphosphat untuk mencegah agregasi platelet. Clopidogrel memiliki profil kemanan yang sama dengan aspirin pada penderita dengan resiko tinggi pada kejadian iskemin yang berulang namun disebutkan angka kejadian perdarahan gastrointestinal dan intracranial yang lebih rendah.

DISKUSI 3 • • • PO Plasmin 2 x 1 cap Obat yang digunakan

DISKUSI 3 • • • PO Plasmin 2 x 1 cap Obat yang digunakan untuk melancarkan sirkulasi darah. Obat ini mengandung zat aktif Lumbricus rubellus. PO Tobokan forte 1 x 1 berfungsi untuk vasodilator. Tobokan forte diindikasikan untuk gangguan fungsi serebral seperti pusing, deficit memori, sakit kepala, tinnitus, dan ketidakstabilan emosi. PO Allopurinol 1 x 100 mg Allopurinol merupakan obat yang berfungsi untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah. Allopurinol bekerja dengan menghambat xantihine oksidase.

FOLLOW UP

FOLLOW UP

FOLLOW UP

FOLLOW UP

TERIMAKASIH

TERIMAKASIH