Kuliah FTS Steril Infus dan macammacam sediaan parenteral

  • Slides: 54
Download presentation
Kuliah FTS Steril (Infus dan macam-macam sediaan parenteral volume besar, serta sediaan injeksi suspensi

Kuliah FTS Steril (Infus dan macam-macam sediaan parenteral volume besar, serta sediaan injeksi suspensi dan emulsi)

INFUS Infus adalah sediaan steril yang berupa larutan yang diberikan melalui intravena tetes demi

INFUS Infus adalah sediaan steril yang berupa larutan yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok Merupakan sediaan parenteral volum besar (Large Volume Parenteral=LVP's)yang diberikan untuk menambah nutrisi, cairan tubuh atau elektrolit, volume 250 ml atau lebih

Infus tidak boleh mengandung zat bakteriostatik Dikemas dalam wadah besar dosis tunggal Dapat juga

Infus tidak boleh mengandung zat bakteriostatik Dikemas dalam wadah besar dosis tunggal Dapat juga ditambahkan antibiotik atau obat lainnya ke dalam infus. Penggunaan infus: 1) untuk terapi pemeliharaan pada pasien yang akan atau sudah dioperasi 2) Untuk pasien yang tidak sadar dan tidak dapat menerima cairan, elektrolit atau nutrisi secara oral 3) Untuk terapi pengganti pada pasien yang mengalami banyak kehilangan cairan dan elektrolit yg berat

 Pada terapi pemeliharaan, pemilihan jenis bahan yg ada diinfus yang akan diberikan pada

Pada terapi pemeliharaan, pemilihan jenis bahan yg ada diinfus yang akan diberikan pada pasien tergantung pada lamanya infus diberikan, misalnya: 1) untuk pemberian kurang dari 3 hari, maka infus yg diberikan cukup dengan larutan sederhana yg mengandung air dan dektrosa secukupnya, dan sejumlah kecil Na dan K 2) Pada pemberian 3 -6 hari dapat diberikan infus dengan nilai kalori yang tinggi 3) pada pemberian lebih dari satu minggu, digunakan infus yang mengandung nutrisi lengkap parenteral utk menyediakan semua nutrisi esensial (untuk menjaga keadaan normal tubuh), dalam infus ini mengandung: protein, karbohidrat, vitamin, mineral, elektrolit, dan air yg cukup

 Untuk terapi pengganti, misal pada diare berat, muntah 2 X Kebutuhan air, elektrolit,

Untuk terapi pengganti, misal pada diare berat, muntah 2 X Kebutuhan air, elektrolit, dan kalori 1) Kebutuhan air, normalnya adalah sejumlah yg hilang (air kemih, keringat, pernafasan). Untuk org dewasa: kurang lebih 25 -40 m. L/kg BB atau 2 L per meterpersegi luas permukaan tubuh - anak-anak dan dewasa bertubuh kecil membutuhkan air lebih banyak dibandingkan org dewasa bertubuh besar, kebutuhan air lebih erat kaitannya dengan luas permukaan tubuh drpd dgn BB

 Pada terapi pengganti air untuk orang dewasa, dibtuhkan 70 m. L air/kg BB/hr

Pada terapi pengganti air untuk orang dewasa, dibtuhkan 70 m. L air/kg BB/hr disamping kebutuhan air utk pemeliharaan Misal untuk orang dewasa dengan BB 50 kg, berarti untuk terapi pengganti memerlukan 3500 m. L ditambah 2400 m. L Pada pasien dengan gangguan ginjal atau kardiovaskuler perlu monitoring tekanan darah Pada terapi pengganti air secara iv dapat menimbulkn hemolisis osmotik sel darah merah sehingga perlu cek tonisitasnya

2) kebutuhan elektrolit K+ adalah kation utama intrasel (berperan dalam fungsi normal jantung dan

2) kebutuhan elektrolit K+ adalah kation utama intrasel (berperan dalam fungsi normal jantung dan otot polos) Kebutuhan per harinya: krg lbh 100 m. Eq dan kehilangan perharinya krg lbh 40 m. Eq, shg untuk terapi pengganti diperlukan minimal 40 m. Eq ditambah yg diperlukan untuk pengganti Na+ adalah kation utama ekstrasel, penting dlm menjaga kenormalan cairan ekstra sel Kebutuhan perharinya: 135 -170 m. Eq (8 -10 g. Na. Cl),

3)kebutuhan kalori dapat diberikan dekstrosa 5% pada terapi pemeliharaan atau terapi pengganti Pemberian larutan

3)kebutuhan kalori dapat diberikan dekstrosa 5% pada terapi pemeliharaan atau terapi pengganti Pemberian larutan protein jangka panjang iv yg mengandung dekstrosa kadar tinggi (20%), elektrolit, vitamin, atau dapt juga mengandung insulin disebut hiperalimentasi parenteral

Penggolongan sediaan parenteral volum besar berdasarkan komposisi dan kegunaannya 1. Infus elektrolit Digunakan untuk

Penggolongan sediaan parenteral volum besar berdasarkan komposisi dan kegunaannya 1. Infus elektrolit Digunakan untuk mengatasi perbedaan atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 kondisi plasma darah yang menyimpang: 1) Asidosis, yaitu kondisi plasma darah yg terlalu asam akibatnya adanya ion Cl yg berlebihan 2) Alkalosis, yaitu kondisi plasma darah yang terlalu basa sehingga jumlah ion Na, K, dan Ca dalam jumlah berlebih

 Sistem dapar darah adalah keseimbangan asam basa darah mengikuti sistem dapar, yaitu: Hidrogen

Sistem dapar darah adalah keseimbangan asam basa darah mengikuti sistem dapar, yaitu: Hidrogen karbonat-karbonat Hidrogen fosfat-dihidrogenfosfat Serum-protein

 Beberapa istilah: Hipovolemia: kehilangan natrium Dehidrasi: kekurangan air Asidosis metabolik: kekurangan asam karbonat

Beberapa istilah: Hipovolemia: kehilangan natrium Dehidrasi: kekurangan air Asidosis metabolik: kekurangan asam karbonat Hipokalemia: kekurangan kalium Asidosis: berkaitan dengan proses fisiologis yg menyebabkan penurunan p. H darah Asidemia: keadaan p. H arteri < 7, 35

Contoh formula infus Asering (Otsuka) R/ Na+ K+ Cl 130 m. Eq 4 m.

Contoh formula infus Asering (Otsuka) R/ Na+ K+ Cl 130 m. Eq 4 m. Eq 109 m. Eq Ca ++ 3 m. Eq Asetat 28 m. Eq Aqua pi ad 1000 m. L

2. Infus Karbohidrat Infus karbohidrat adalah sediaan infus yang berisi larutan glukosa atau dektrosa

2. Infus Karbohidrat Infus karbohidrat adalah sediaan infus yang berisi larutan glukosa atau dektrosa yang cocok untuk donor kalori Kegunaan : - untuk diuretik (20%) - untuk terapi oedema (30 -50%) - larutan manitol 15 -20% untuk menguji fungsi ginjal

3. Infus elektrolit dan Karbohidrat Contoh : infus KA-EN 4 B paed (otsuka) formulanya:

3. Infus elektrolit dan Karbohidrat Contoh : infus KA-EN 4 B paed (otsuka) formulanya: mengandung: Na+ K+ 30 m. Eq 8 m. Eq Cl- 28 m. Eq Laktat 10 m. Eq Glukosa 37, 5 m. Eq Aqua pi ad 1000 m. L

4. Larutan Irigasi Larutan irigasi adalah sediaan steril berupa larutan dalam jumlah yang besar

4. Larutan Irigasi Larutan irigasi adalah sediaan steril berupa larutan dalam jumlah yang besar (3 liter). Larutan tidak disuntikkan di vena tapi digunakan di luar sistem peredaran darah, umumnya menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yg dipatahkan sehingga memungkinkan pengisian larutan dengan cepat Digunakan untuk merendam atau mencuci luka sayatan bedah atau jaringan tubuh, dapat untuk mengurangi pendarahan

Persyaratan larutan irigasi: - isotonik - steril - tidak diabsorbsi -bukan larutan elektrolit -

Persyaratan larutan irigasi: - isotonik - steril - tidak diabsorbsi -bukan larutan elektrolit - tdk mengalami metabolisme - cepat dieksresi - mempunyai tekanan osmotik diuretik

 Contoh larutan irigasi: *acetic acid irrigation (0, 25%): digunakan untuk irigasi kandung kemih,

Contoh larutan irigasi: *acetic acid irrigation (0, 25%): digunakan untuk irigasi kandung kemih, p. H dibuat 2, 9 -3, 3, digunakan selama prosedur urologi. *Neomicyn dan polimiksin sulfat sol. For irrigation : digunakan sebagai antibakteri topikal dalm irigasi kandung kemih yg terus menerus * ringer irrigation (mgd Na. Cl, KCl, Ca. Cl 2) *Steril water for irrigation, adalah larutan untuk obat suntik yg steril, etiket harus ditulis dengan jelas, hanya untuk irigasi, bukan untuk injeksi

5. Larutan Dialisis Peritoneal Merupakan suatu sediaan larutan steril dalam jumlah besar (2 liter).

5. Larutan Dialisis Peritoneal Merupakan suatu sediaan larutan steril dalam jumlah besar (2 liter). Larutan tidak disuntikkan ke vena tapi dibiarkan mengalir ke dalam ruangan peritoneal dan umumya menggunakan tutup plastik yang dipatahkan sehingga memungkinkan larutan dengan cepat turun ke bawah Penggunaan untuk menghilangkan senyawa toksik yg secara normal diekskresikan oleh ginjal (misal digunakan pada keracunan ginjal, atau gagal ginjal)

 Larutan diabsorbsi dalam membran peritoneal mengikuti peredaran darah. Selanjutnya, di dalam ujung sel

Larutan diabsorbsi dalam membran peritoneal mengikuti peredaran darah. Selanjutnya, di dalam ujung sel peritoneal terjadi penarikan zat toksin dari darah ke dalam cairan dialisis yang bekerja sebagai membran semipermeabel Syarat larutan dialisis peritoneal: hipertonis, steril, dapat menarik toksin dalam ruang peritoneal

 Larutan yg tersedia di perdagangan mengandung dekstrosa, vitamin, mineral, elektrolit dan asam amino(peptida)

Larutan yg tersedia di perdagangan mengandung dekstrosa, vitamin, mineral, elektrolit dan asam amino(peptida) Larutan dibuat hipertonik dengan tujuan untuk mencegah absorbsi air dari larutan dialisis ke dalam sirkulasi

 Contoh : larutan Dianeal 1, 5% dan 2, 5%, 2 liter p. H

Contoh : larutan Dianeal 1, 5% dan 2, 5%, 2 liter p. H 5, 2 Na. Cl 538 mg Na Laktat 448 mg Ca. Cl 2 25, 7 mg Mg. Cl 2 5, 08 mg Dektrosa 1, 5 g 2, 5 g Aqua pi 100 ml Osmolarity 346 396

6. Infus Plasma Expander (Penambah darah) Merupakan sediaan larutan steril yang digunakan untuk menggantikan

6. Infus Plasma Expander (Penambah darah) Merupakan sediaan larutan steril yang digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat perdarahan, luka bakar, operasi, dan lain-lain Macam-macamnya: 1. Whole Blood (darah lengkap), darah yang diambil donor manusia, yg dipilih dengan pencegahan pendahuluan aseptik yg ketat (darah ditambah heparin atau ion sitrat sebagai antikoagulan)

 Kita menyimpan darah yang dikumpulkan pada suhu 1 -10 derajat C dan mempertahankan

Kita menyimpan darah yang dikumpulkan pada suhu 1 -10 derajat C dan mempertahankan tetap konstan pada suhu 2 derajat C. Tanggal kadaluwarsanya maksimal 21 hari setelah pengambilan darah ( jika digunakan sitrat sebagai antikoagulan), dan maksimal 48 jam jika digunakan heparin sebagai antikoagulan Kemasan: 1 unit (500 ml)

2. Human Albumin (minimal 96% protein harus albumin) adalah sediaan steril albumin serum yang

2. Human Albumin (minimal 96% protein harus albumin) adalah sediaan steril albumin serum yang diperoleh dari fraksinasi darah dari donor manusia sehat. Setiap 100 ml mengandung 25 g albumin serum yg sebanding atau ekuivalen keosmotikannya dengan 500 ml plasma manusia normal, atau 5 g sebanding dgn 100 ml plasma manusia normal

 Pemberian infus intravena sebagai penyokong volume darah, yg ekuivalen dgn 25 -75 g

Pemberian infus intravena sebagai penyokong volume darah, yg ekuivalen dgn 25 -75 g albumin setiap harinya. Kadaluwarsa 3 -10 tahun

 Contoh formulanya (infus human albumin 20%) Mengandung 20% protein dengan minimum 96% albumin)

Contoh formulanya (infus human albumin 20%) Mengandung 20% protein dengan minimum 96% albumin) R/ Human albumin Na+ 192 g 125 mmol/L 2, 88 g/L K+ Ca++ Cl- 0, 08 g/L max 2 mmol/L max 100 mmol/L

 3. Plasma protein merupakan larutan steril protein yg terpilih dari plasma darah donor

3. Plasma protein merupakan larutan steril protein yg terpilih dari plasma darah donor manusia dewasa Plasma mengandung 5 g protein per 100 ml, di mana 83 -90% adalah albumin dan sisanya alfa dan beta globulin Pemberian plasma protein 250 -500 ml, tapi dapat sampai 1500 ml sebagai penyokong volum darah Kadaluwarsa 3 -5 th, tergantung penyimpanan

 Contoh infus plasmanate Plasma protein Fraction (Human) 5%, 100 ml USP R/ plasma

Contoh infus plasmanate Plasma protein Fraction (Human) 5%, 100 ml USP R/ plasma protein 5 g Na Karbonat 0, 004 M Na+ K+ Cl- 145 m. Eq/L 0, 25 m. Eq/L 100 m. Eq/L

4. Larutan Gelatin (hidrolisis kolagen), senyawa polipeptida (sebagai cairan pengganti darah) Larutan ini cocok

4. Larutan Gelatin (hidrolisis kolagen), senyawa polipeptida (sebagai cairan pengganti darah) Larutan ini cocok untuk plasma expander (terdiri atas protein, sehingga dapat memberikan efek osmotik yang sama dengan protein) Pada suhu kamar gelatin dapat mengental, sehingga perlu menghangatkan larutan, sementara pada proses pemanasan gelatin dapat terurai

 Untuk memperbaiki kelarutan dapat ditambahkan glioksal atau isosianat agar molekulnya bertambah panjang dan

Untuk memperbaiki kelarutan dapat ditambahkan glioksal atau isosianat agar molekulnya bertambah panjang dan bercabang. Setelah 24 jam dieliminasi atau diurai secara enzimatik, gelatin hilang dari peredaran darah. Digunakan gelatin 5% yg diisotonikan dengan Na. Cl dan dapat disterilkan dengan autoclaf 121 -124 derajat C

 Contoh: infus Haemacel R/3, 5% Colloidal infusion Solution Gelatin dari polipeptides (bovine bone)

Contoh: infus Haemacel R/3, 5% Colloidal infusion Solution Gelatin dari polipeptides (bovine bone) Cl- 5, 14 g 145 mmol K+ 0, 20 g 5, 1 mmol Ca++ Na+ 6, 25 mmol 145 mmol 0, 25 g 3, 33 g 35 g

 5. Larutan Dekstran merupakan senyawa polisakarida yg tertersusun atas glukosa sebagai komponen monomer

5. Larutan Dekstran merupakan senyawa polisakarida yg tertersusun atas glukosa sebagai komponen monomer yg terikat secara glikosidik pd posisi alfa 1, 6. Dekstran terbentuk di dalam media yg mengandung sakarosa di bawah pengaruh enzim dekstran sakarase yg diproduksi oleh berbagai spesies leuconostoc

 Sebagai pengganti plasma digunakan 6 atu 10% larutan dekstran 40 atau 70 dengan

Sebagai pengganti plasma digunakan 6 atu 10% larutan dekstran 40 atau 70 dengan BM 40. 000 sampai 70. 000 dengan penambahan Na. Cl 0, 9% Sterilisasi dengan autoclaf suhu 120 derajat C, penyimpanan suhu 4 der C stabil selama 19 th

 Contoh formula infus Otsutran-70 (Otsuka) R/Dekstran 70 in normal salin Dekstran 70 6,

Contoh formula infus Otsutran-70 (Otsuka) R/Dekstran 70 in normal salin Dekstran 70 6, 0% Na. Cl 0, 9% aqua pi 500 ml osmolaritas : 316, 5 m. Osm/L 6%

6. Infus Protein (asam amino) Larutan terdiri atas: 8 asam amino: L-isoleusin, LLeusin, L-Lisine,

6. Infus Protein (asam amino) Larutan terdiri atas: 8 asam amino: L-isoleusin, LLeusin, L-Lisine, L-Metionin, L-Fenilalanin, LTrionin, L-Triptopan, L-Valin. Semua asam amino tersebut harus ada dalam sediaan infus dalam jumlah dan perbandingan tertentu di dalam infus. Hilangnya satu komponen menyebabkan efek yg diinginkan tidak tercapai, begitu pula dengan jumlah yg berlebihan.

 Sebagai penyangga energi digunakan sorbitol, dapat pula ditambahkan vitamin dan elektrolit PH larutan

Sebagai penyangga energi digunakan sorbitol, dapat pula ditambahkan vitamin dan elektrolit PH larutan dibuat 6 (berhubungan dengan stabilitas) Sterilisasi menggunakan autoclaf 120 der C disertai dengan penjenuhan gas netral Penambahan Na pirosulfit dalam jumlah kecil dapat mengusir oksigen Contoh infus Aminofusin L (Primer)

R/ L-Isoleusin L-Leucin L-Lisine mono. HCl 1, 55 g 2, 20 g 2, 50

R/ L-Isoleusin L-Leucin L-Lisine mono. HCl 1, 55 g 2, 20 g 2, 50 g L-Methionon 2, 10 g L-Fenilalanin 2, 20 g L-Treonin 1, 00 g L-Triptophan 0, 45 g L-Valin 1, 50 g L-alanin 6, 00 g

L-Arginin L- Glutamic acid 4, 00 g 9, 00 g Glisin g 10, 00

L-Arginin L- Glutamic acid 4, 00 g 9, 00 g Glisin g 10, 00 L-Histidin 1, 00 g L-Prolin 7, 00 g Sorbitol g 50, 00 Xylitol g 50, 00

Mg asetat Sodium hidroksid L-Malic acid 1, 07 g 1, 60 g 2, 01

Mg asetat Sodium hidroksid L-Malic acid 1, 07 g 1, 60 g 2, 01 g vitamin aqua pi ml 1000

SUSPENSI UNTUK INJEKSI Digunakan jika zat aktif tidak larut dalam pembawa Dapat digunakan sebagai

SUSPENSI UNTUK INJEKSI Digunakan jika zat aktif tidak larut dalam pembawa Dapat digunakan sebagai depo Kadar partikel padat < 5% Diameter partikel 5 -10 mikrometer Pembuatan dilakukan mensterilkan masing komponen sendiri-sendiri dan dibuat secara aseptik, dan sterilisasi akhir tidak boleh menggunakan penyaring bakteri

 Sterilisasi bahan padat dapat menggunakan sterilisasi panas kering atau gas Perlu diperhatikan laju

Sterilisasi bahan padat dapat menggunakan sterilisasi panas kering atau gas Perlu diperhatikan laju sedimentasi partikel tersuspensi Laju endap partikel dapat dikurangi dengan meningkatkan viskositas medium suspensi

Faktor yg terlibat dalam laju kecepatan mengendap partikel suspensi berhubungan dengan persamaan hukum stokes

Faktor yg terlibat dalam laju kecepatan mengendap partikel suspensi berhubungan dengan persamaan hukum stokes dan aliran tiksotropi 1. Ukuran partikel dan bobot jenis bahan mempengaruhi kec sedimentasi, kecepatan sedimentasi dapat ditekan jika perbedaan BJ dua fase kecil dan viskositas medium ditingkatkan, misal dengan membentuk struktur vehicle, misal dengan penambahan gom, atau bentonit (sifat alir pseudoplastik tiksotropi) 2. sifat alir pseudoplastik tiksotropi, adalah suatu keadaan di mana pada penyimpanan sedimentasi suspensi terbentuk lambat, jika akan digunakan dengan pengojokan ringan

 Viskositas medium cepat menjadi encer, dan sedimen tidak cepat terbentuk kembali. Sehingga memudahkan

Viskositas medium cepat menjadi encer, dan sedimen tidak cepat terbentuk kembali. Sehingga memudahkan dalam pengambilannya ke dalam jarum suntik (dosis tetap homogen). Masalah yg sering muncul yaitu terjadinya caking, solusi: dengan penambahan agent pemflokulasi seperti benzil alkohol atau fenol etanol. Perlu juga ditambahkan suspending agent seperti CMC-Na atau hidroksietilselulosa, yg juga dapat meningkatkan viskositas (koloid pelindung)

 Penambahan wetting agent juga perlu seperti tween 80, pluronik F-68 (BASF Corp), atau

Penambahan wetting agent juga perlu seperti tween 80, pluronik F-68 (BASF Corp), atau sorbitan trioleat dapat membantu partikel berada dalam bentuk tersuspensi Bahan tambahan lain: pengawet, pengatur tonisitas

 Suspensi injeksi dapat berupa suspensi injeksi dalam air atau suspensi injeksi dalam minyak

Suspensi injeksi dapat berupa suspensi injeksi dalam air atau suspensi injeksi dalam minyak 1. Suspensi injeksi dalam air Mengandung: bahan pembantu yang mengurangi sedimentasi, pengisotoni, dapar, pengawet

 Contoh formula: R/ Kortison asetat Tween 80 CMC Na Na. Cl Benzil alkohol

Contoh formula: R/ Kortison asetat Tween 80 CMC Na Na. Cl Benzil alkohol aqua pi 25 mg 4 mg 5 mg 9 mg ad 1 ml

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan suspensi injeksi dalam air 1. Ukuran partikel dan BJ 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan suspensi injeksi dalam air 1. Ukuran partikel dan BJ 2. Sifat alir sediaan 3. Kerja surfaktan (contoh surfaktan), tween, lechitin, polisorbat 80, emulphor EL 620, Pluronic F 60 4. Kecepatan sedimentasi (Gel-Form) untuk mengaturnya dapat ditambahkan koloid hidrofilik (CMC Na 0, 1 -0, 3%, GOM, gelatin, Carmellose sodium, MC), sorbitol, ester

5. Caking dapat diatasi dengan penambahan pembasah atau dengan penambahan natrium sitrat 6. Kelarutan

5. Caking dapat diatasi dengan penambahan pembasah atau dengan penambahan natrium sitrat 6. Kelarutan zat aktif diatasi dengan membentuk kompleks yang sulit larut, misalnya insulin protamin atau prokain penisilin 7. Bahan antibusa (oktil alkohol atau emulsi silikon)

8. sifat alir (reologi) pseudoplastis tiksotropi 9. isotonis, isohidris 10. bahan antibakteri

8. sifat alir (reologi) pseudoplastis tiksotropi 9. isotonis, isohidris 10. bahan antibakteri

Tahapan kerja dalam pembuatan sediaan suspensi injeksi dalam air 1. Menghaluskan ukuran partikel atau

Tahapan kerja dalam pembuatan sediaan suspensi injeksi dalam air 1. Menghaluskan ukuran partikel atau merekristalisasi bahan obat 2. Sterilisasi bahan obat 3. Sterilisasi pembawa 4. Campur bahan aktif dengan pembawa secara aseptik 5. Masukkan dalam wadah steril, tutup, dan segel secara aseptik

2. Suspensi injeksi dalam minyak Sebagai pembawa dapat digunakan minyak seperti oleum arachidis, Oleum

2. Suspensi injeksi dalam minyak Sebagai pembawa dapat digunakan minyak seperti oleum arachidis, Oleum olivarum, Oleum sesami, etil oleat), perlu diperhatikan sifat fisis dan stabilitas suspensi Yg perlu diperhatikan dalam pembuatan suspensi injeksi dalam minyak: 1) perlu peningkatan viskositas dan pencegahan terjadinya caking, misal suspending agent, misal aluminium monostearat 2%

2) Ukuran partikel, yg dikehendaki adalah 5 mikrometer, perlu diperhatikan efek ukuran partikel terhadap

2) Ukuran partikel, yg dikehendaki adalah 5 mikrometer, perlu diperhatikan efek ukuran partikel terhadap afek obat dan juga stabilitas suspensi, Contoh: Zinc insulin amorf : onset 0, 5 -2 jam, durasi efek 10 -16 jam Zinc insulin kristalin 36 jam : onset 4 -6 jam, durasi 24 -

 Contoh formula: injeksi prokain penisilin R/ prokain penisilin Aluminium monostearat 300. 000 S.

Contoh formula: injeksi prokain penisilin R/ prokain penisilin Aluminium monostearat 300. 000 S. I/ml 2. 0 Minyak zaitun netral steril ad 100 ml Cara buat: disuspensikan prokain penisilin yang telah dihaluskan sedikit demi sedikit dalam larutan campuran aluminium monostearat dan minyak zaitun secara aseptik

Emulsi injeksi Perlu emulgator (tidak boleh toksik), contoh: gelatin, lecitin, polisorbat 80, metilselulosa dan

Emulsi injeksi Perlu emulgator (tidak boleh toksik), contoh: gelatin, lecitin, polisorbat 80, metilselulosa dan serum albumin Injeksi phytomenadione (vitamin K) menggunakan lesitin sebagai emulgator.