KODE ETIK PII PERSATUAN INSINYUR INDONESIA PROGRAM PEMBINAAN

  • Slides: 47
Download presentation
KODE ETIK PII PERSATUAN INSINYUR INDONESIA PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 1

KODE ETIK PII PERSATUAN INSINYUR INDONESIA PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 1

BAGIAN - 1 VISI Menjadikan PII organisasi yang anggotanya patuh melaksanakan kode etiknya- Zero

BAGIAN - 1 VISI Menjadikan PII organisasi yang anggotanya patuh melaksanakan kode etiknya- Zero malapraktik MISI INTERNAL- membangun PII melalui pembinaan Etika (Pengaturan- Pemberdayaan- Pengawasan) yg terarah, terstruktur, sistimatis dan berkelanjutan. MISI EKSTERNAL- mensosilisasikan kepada stakeholder PII untuk membangun lingkungan stratejik yang berbasis keinsinyuran yang etikal 2 2

BAGIAN - 1 UPAYA MENCAPAI TUJUAN 1. Membentuk Pribadi yang Etikal • What is

BAGIAN - 1 UPAYA MENCAPAI TUJUAN 1. Membentuk Pribadi yang Etikal • What is ethics? • How should one approach an ethical dilemma? • Why do good people do bad things? 2. Membangun Profesi Insinyur yang Etikal • Why study engineering ethics? • What is a professional engineer? 3. Membangun perusahaan yang Etikal • Conducting business ethically and responsible • What are the common traits in a corporate ethical collapse? 4. Membangun PII yang Etikal • What are the characteristics of an ethical organization? 5. Menebarkan ETIKA PII • kepada lingkungan stratejik keinsinyuran 3

BAGIAN - 1 MEMBANGUN PROFESI INSINYUR - ETIKAL 1. Why study engineering ethics? •

BAGIAN - 1 MEMBANGUN PROFESI INSINYUR - ETIKAL 1. Why study engineering ethics? • To responsibly confront moral issues raised by technological activity • To recognize and resolve moral dilemmas • To achieve moral autonomy 2. What is a professional? • Possesses specialized knowledge and skills • Belongs to and abides by the standards of a society • Serves an important aspect of the public good 3. What is a professional engineer? • Has a bachelor’s degree in engineering from an accredited school • Performs engineering work • Is a registered P. E. • Acts in a morally responsible way while practicing engineering

BAGIAN - 1 “. . … A PROFESSION IS A CALLING WHICH IS PURSUED

BAGIAN - 1 “. . … A PROFESSION IS A CALLING WHICH IS PURSUED ONLY BY AN ORGANIZED BODY OF PEOPLE POSSESSED OF HIGH SCIENTIFIC QUALIFICATIONS FOR THIS SPECIAL WORK BY REASON OF THOROUGH EDUCATIONAL TRAINING AND EXTENSIVE RESPONSIBLE EXPERIENCES AND FROM WHOSE RANKS THE UNFIT AND THE UNWORTHY ARE RIGIDLY EXCLUDED …. . ” Anson Marston, Dean Emeritus of Engineering, Iowa State College, USA 5

BAGIAN - 1 STANDAR KEPROFESIONALAN + PANGGILAN NURANI + TERORGANISASIKAN + PENDIDIKAN TINGGI YANG

BAGIAN - 1 STANDAR KEPROFESIONALAN + PANGGILAN NURANI + TERORGANISASIKAN + PENDIDIKAN TINGGI YANG MEMBERIKAN KECENDEKIAAN + PENGALAMAN LUAS DAN TERSTRUKTUR + SELEKSI KELAYAKAN DAN KEPATUTAN DIKEMBANGKAN DALAM ASOSIASI PROFESI PII 6

BAGIAN - 1 HIGH SCIENTIFIC QUALIFICATIONS BY REASON OF THOROUGH EDUCATION SARJANA LULUSAN PERGURUAN

BAGIAN - 1 HIGH SCIENTIFIC QUALIFICATIONS BY REASON OF THOROUGH EDUCATION SARJANA LULUSAN PERGURUAN TINGGI YANG TERAKREDITASI MELAKSANAKAN LIFE LONG LEARNING – PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN 7

BAGIAN - 1 EXTENSIVE RESPONSIBLE EXPERIENCE § § BERPENGALAMAN KERJA DALAM JANGKA WAKTU YANG

BAGIAN - 1 EXTENSIVE RESPONSIBLE EXPERIENCE § § BERPENGALAMAN KERJA DALAM JANGKA WAKTU YANG CUKUP BERHASIL DALAM TANGGUNG JAWAB YANG DIBERIKAN PENGALAMAN MELUAS SECARA BERTAHAP TIDAK DAPAT DIGANTI DENGAN PENDIDIKAN 8

BAGIAN - 1 ORGANIZED BODY OF PEOPLE HARUS MENJADI ANGGOTA ASOSIASI PROFESI DAN SEYOGIANYA

BAGIAN - 1 ORGANIZED BODY OF PEOPLE HARUS MENJADI ANGGOTA ASOSIASI PROFESI DAN SEYOGIANYA AKTIF DALAM BERORGANISASI WAHANA UNTUK MEMPEROLEH PROFESSIONAL RECOGNITION AND STANDING 9

BAGIAN - 1 RIGID EXCLUSION OF THE UNFIT AND UNWORTHY q q TUGAS UTAMA

BAGIAN - 1 RIGID EXCLUSION OF THE UNFIT AND UNWORTHY q q TUGAS UTAMA ASOSIASI PROFESI : MENYINGKIRKAN YANG TIDAK LAIK DAN TIDAK PATUT DILAKUKAN MELALUI PENERAPAN : - COMPETENCY BASED CERTIFICATION - CODES OF ETHICS and PROFESSIONAL CONDUCT 10

BAGIAN - 1 ENGINEERING PROFESSION Engineering is the profession in which knowledge of the

BAGIAN - 1 ENGINEERING PROFESSION Engineering is the profession in which knowledge of the mathematical and natural sciences gained by study, experience, and practice is applied with judgement to develop ways to utilize, economically, the material and forces of nature for the benefit of mankind. (A. B. E. T. CRITERIA 2000) 11

BAGIAN - 1 Praktek Profesi Insinyur berbasis pada : • ethical behaviour; • •

BAGIAN - 1 Praktek Profesi Insinyur berbasis pada : • ethical behaviour; • • • competent performance; innovative practice; engineering excellence; equality of opportunity; social justice; and sustainable development. 12

BAGIAN - 1 13

BAGIAN - 1 13

BAGIAN - 1 Noreen E. Calderbank, P. Eng. 10/31/2020 14

BAGIAN - 1 Noreen E. Calderbank, P. Eng. 10/31/2020 14

PROFESI VS VOKASI BAGIAN - 1 TENAGA AHLI [ PROFESI ] TENAGA TERAMPIL [

PROFESI VS VOKASI BAGIAN - 1 TENAGA AHLI [ PROFESI ] TENAGA TERAMPIL [ VOKASI ] KELUARAN / OUTPUT KECENDIKIAAN KETERAMPILAN PROSES PENGAJARAN PENDIDIKAN PELATIHAN LEGAL LIABILITY LIABLE TIDAK LIABLE BAKUAN KOMPETENSI PROFESSION RELATED JOB RELATED UJI KOMPETENSI PEER TO PEER ASSESSMENT UJI KETERAMPILAN ORGANISASI ASOSIASI PROFESI SERIKAT SEKERJA 15

KODE ETIK PROFESI INSINYUR PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 16

KODE ETIK PROFESI INSINYUR PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 16

BAGIAN - 2 Prinsip-prinsip profesi • TANGGUNG JAWAB; merupakan komitmen untuk memberikan yang terbaik

BAGIAN - 2 Prinsip-prinsip profesi • TANGGUNG JAWAB; merupakan komitmen untuk memberikan yang terbaik agar mampu menghasilkan kinerja yang optimal dengan mutu kerja tinggi. Selalu berusaha keras, disiplin dan tekun untuk menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas demi kehormatan diri dan profesi. • KEADILAN; etika selalu adil, netral, objektif, rasional dan tidak memihak. Tidak boleh bersikap diskriminatif. Hak setiap orang untuk mendapatkan layanan profesi sesuatu dengan mutu standar. • OTONOMI; kebebasan mengembangkan profesi, kreativitas dan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan profesi maupun masyarakat yang membutuhkan layanan profesi. Tanggung jawab profesional akan memberikan batas/rambu dalam penerapan otonomi. • INTEGRITAS MORAL; Integritas pribadi yang tidak dipertanyakan dan komitmen moral yang tinggi mengharuskan seorang profesional senantiasa menjaga nama baik, martabat, citra, keluhuran dan kehormatan profesi. 17

BAGIAN - 2 Professional Ethics and Conducts Koestenbaum and Gluck Ethics • The philosophical

BAGIAN - 2 Professional Ethics and Conducts Koestenbaum and Gluck Ethics • The philosophical study of morality Ethical • to live by the stern demands of reason (kebutuhan akal budi yang ketat) • not governed or swayed by the seduction of emotions (godaan perasaan). • to be just, consistent, and predictable (adil, tetap tidak berubah - istiqomah, dan terbuka). Codes of Ethics • codes of moral conduct which are specialized subsets of these rules and standards (kumpulan aturan dan standar perilaku yang khusus). Morals • sets of rules of conducts and standards (kumpulan aturan dan standar perilaku) Morality • conduct and motives (perilaku dan motivasi), • right and wrong (benar dan salah), • good and bad character (sifat baik dan buruk) Human Values • ethical conscience – hatinurani etis • moral sense – rasa perilaku luhur 18

KEBERADAAN ETIKA BAGIAN - 2 INTERNATIONAL ETHICS BUSINESS ETHICS PROFESSIONAL ETHICS PERSONAL ETHICS 19

KEBERADAAN ETIKA BAGIAN - 2 INTERNATIONAL ETHICS BUSINESS ETHICS PROFESSIONAL ETHICS PERSONAL ETHICS 19

BAGIAN - 2 Kode Etik Insinyur Indonesia “ Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia

BAGIAN - 2 Kode Etik Insinyur Indonesia “ Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia “ CATUR KARSA - Prinsip Dasar : 1. Mengutamakan keluhuran budi 2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia 3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas & tanggung-jawabnya 4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesi keinsinyuran 20

BAGIAN - 2 Kode Etik Insinyur Indonesia SAPTA DHARMA - Tujuh Tuntunan Sikap dan

BAGIAN - 2 Kode Etik Insinyur Indonesia SAPTA DHARMA - Tujuh Tuntunan Sikap dan Perilaku Insinyur Indonesia senantiasa: 1. mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat 2. bekerja sesuai dengan kompetensinya 3. hanya menyatakan pendapat yg dapat dipertanggungjawabkan 4. menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung- jawab tugasnya 5. membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing 6. memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi 7. mengembangkan kemampuan profesionalnya 21

BAGIAN - 2 PROFESIONAL ENGINEER HAVE THE CHALLENGE AND OPPORTUNITY TO BE LEADERS IN

BAGIAN - 2 PROFESIONAL ENGINEER HAVE THE CHALLENGE AND OPPORTUNITY TO BE LEADERS IN CREATING A BETTER WORLD FOR THE FUTURE

BAGIAN - 2 The World Without Engineers 23

BAGIAN - 2 The World Without Engineers 23

BAGIAN - 2 § § Leadership: – The ability or authority to guide and

BAGIAN - 2 § § Leadership: – The ability or authority to guide and direct others toward achievement of a goal – Leaders are key to influencing an organization’s corporate culture and ethics Leadership styles – influence organizational behavior – Including employees’ acceptance of/adherence to organizational norms and values. § Leadership types – Transactional = Give something to get something – Transformational = Go beyond self interests for the good of the whole Transformational ethical leadership is best suited for organizations with high ethical commitment among employees and strong stakeholder support for an ethical culture § Habits of Strong Ethical Leaders – Ethical Leaders Have Strong Personal Character – Ethical Leaders Have a Passion to Do Right – Ethical Leaders Are Proactive – Ethical Leaders Consider Stakeholders’ Interests – Ethical Leaders Are Role Models for the Organization’s Values – Ethical Leaders Are Transparent and Actively Involved in Organizational Decision Making – Ethical Leaders Are Competent Managers Who Take a Holistic View of the Firm’s Ethical Culture Sumber: Ferrell-Fraedrich-Ferrell 24

STUDI KASUS PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 25

STUDI KASUS PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 25

BAGIAN - 3 Dilemma • The hijacked plane with 200 people is approaching a

BAGIAN - 3 Dilemma • The hijacked plane with 200 people is approaching a building with 50, 000 people • Vote! Will you shoot down the plane? • A true moral dilemma Yes No ? 26

BAGIAN - 3 KASUS KODE ETIK - 1 • A dan B bersahabat sejak

BAGIAN - 3 KASUS KODE ETIK - 1 • A dan B bersahabat sejak kuliah, keduanya sangat menjunjung tinggi etika dan kejujuran, dan keduanya masih sering kumpul seperti karaoke bersama. • A punya perusahaan kontraktor , dan • B bekerja di perusahaan konsultan. • A memenangkan proyek yang ditangani oleh B. • Apakah A dan B tidak boleh lagi karaoke bersama sampai proyek selesai ? 27

BAGIAN - 3 KASUS KODE ETIK - 2 • Pengolahan Limbah sebuah pabrik secara

BAGIAN - 3 KASUS KODE ETIK - 2 • Pengolahan Limbah sebuah pabrik secara berkala dites sebelum dialirkan ke saluran irigasi dan selalu dilaporkan ke BPLH Lokal. • Pada suatu hari Amir menemukan hasil tes buangan sedikit diatas ambang batas. • Bos minta kepada Amir, agar data tes hari itu “disesuaikan”. Alasannya kelebihan hanya sedikit. Hanya masalah pengukuran. Tidak membahayakan bagi ikan atau manusia. • Kalau dilaporkan, menurut Bos, akan ada tindakan represif dari pihak yg berwenang. ( seperti penutupan sementara Pabrik sampai pengolahan diperbaiki atau ada yang kehilangan pekerjaan ) • Apakah Amir melanggar etika kalau mematuhi perintah Bos ? 28

BAGIAN - 3 • • LIMBAH DI MUSIM HUJAN Ridwan, wartawan sebuah surat kabar,

BAGIAN - 3 • • LIMBAH DI MUSIM HUJAN Ridwan, wartawan sebuah surat kabar, dalam suatu acara santai daninformal menerima informasi dari seorang insinyur – manajer pabrik kertas BKN – bahwa tiga bulan terakhir ini pabrik tersebut membuang air limbahnya langsung ke saluran irigasi. Ia langsung turun meliput ke daerah sekitar pabrik. Dari liputannya Ridwan menemukan bahwa penduduk di sekitar pabrik menggunakan saluran irigasi sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus. Ia juga berhasil mengumpulkan fakta yang meyakinkan bahwa tiga bulan terakhir ini penduduk yang kena penyakit kulit dan diare meningkat. Dengan bekal hasil liputannya, Ridwan menemui Direktur BKN untuk wawancara tentang masalah tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. Pada kesempatan itu Ridwan memaparkan hasil liputannya. Sang Direktur kaget. Tapi cepat mengerti dan langsung menjanjikan untuk menghentikan pembuangan air limbah langsung ke saluran irigasi. Pabrik memang sudah tiga bulan membuang air limbahnya tanpa diolah dengan pertimbangan bahwa bulan-bulan itu musim hujan hingga dampak limbahnya minimal. Kebijakan ini ditempuh dalam rangka penghematan biaya. Mereka sama sekali tidak memperkirakan bahwa akan ada akibat buruk dari keputusan ini. Keputusan ini pernah dilaksanakan beberapa kali. Ridwan memutuskan untuk menunda penulisan hasil liputannya menunggu tindakan koreksi dari pimpinan Pabrik. Berita itu datangseminggu kemudian. Insinyur yang mula-mula memberi informasi kepada Ridwan menelpon bahwa perusahaan telah mengolah kembali air limbahnya. Ridwan merasa lega karena berhasil melepaskan penduduk di sekitar pabrik dari gangguan limbah. Beberapa hari kemudian ia menerima surat terlampir dari Direktur pabrik disertai cek sebesar lima puluh juta rupiah. Ridwan mula-mula ingin menolaknya. Tapi sesudah dipikirkannya masak ia sampai pada kesimpulan bahwa suratnyanya jelas mengatakan pemberian itu tanda terima kasih dan bukan karena ancaman. Lagi pula ia memang membutuhkan tambahan uang untuk membayar uang muka membeli rumah yang menjadi idaman seluruh keluargannya. 29

BAGIAN - 3 Sdr. Ridwan yang terhormat, Jakarta, 5 januari 1997 Pertama-tama saya menyampaikan

BAGIAN - 3 Sdr. Ridwan yang terhormat, Jakarta, 5 januari 1997 Pertama-tama saya menyampaikan penghargaan atas hasil kerja Anda yang amat teliti dan cermat dalam meliput hubungan perusahaan kami dengan lingkungannya. Tapi lebih dari itu saya sangat menghargai keputusan Anda untuk langsung menyampaikan informasi itu kepada kami, hingga kami dapat cepat mengambil tindakan koreksi dan mencegah terjadinya akibat yang lebih merugikan masyarakat. Terimalah tanda terima kasih kami yang kami sampaikan dengan tulus dan ikhlas. Hormat kami, PT. BKN Drs. Anu Direktur Tugas Anda : • Buatlah analisis masalah etika dari para pelaku dalam kasus ini. • Gambarkan konflik kepentingan yang ada dan bagaimana penilaian Anda. 30

BAGIAN - 3 PELAKU LIMBAH DI MUSIM HUJAN TINDAKAN INSINYUR • Menyampaikan informasi internal

BAGIAN - 3 PELAKU LIMBAH DI MUSIM HUJAN TINDAKAN INSINYUR • Menyampaikan informasi internal perusahaan kepada pihak eksternal • Menyampaikan berita bahwa perusahaan sudah mengelola limbahnya kembali RIDWAN WARTAWAN • Meliput kondisi disekitar pabrik, setelah menerima informasi • Meng-informasikan kepada direktur hasil liputannya • Menunda pemberitaan dan akhirnya membatalkan pemberitaan • Menerima hadiah DIREKTUR • Memutuskan tidak mengelola limbah pabrik sebelum dialirkan kesaluran irigasi, yang digunakan oleh masyarakat • Keputusan in pernah beberapa kali dilakukan PENDUDUK • Menderita diare dan sakit kulit (gatal-gatal) PIHAK TERKAIT LAINNYA

VENN DIAGRAM MODEL FOR ETHICAL DECISION MAKING BAGIAN - 3 ETHICAL RESPONSIBILITY 2 3

VENN DIAGRAM MODEL FOR ETHICAL DECISION MAKING BAGIAN - 3 ETHICAL RESPONSIBILITY 2 3 1 ECONOMIC RESPONSIBILITY 4 LEGAL RESPONSIBILITY 1 - Profitable, legal, ethical : Go for it 2 - Profitable, Ethical : Proceed cautiously 3 - Legal, Ethical not profitable: Find the way to seek profitability 4 - Legal, profitable, not Ethical: Proceed cautiously 32

BAGIAN - 3 • • • LIMBAH DI MUSIM HUJAN INSINYUR: – Menyampaikan kondisi

BAGIAN - 3 • • • LIMBAH DI MUSIM HUJAN INSINYUR: – Menyampaikan kondisi internal perusahaan (rahasia) terhadap pihak lain – Tidak/belum/sudah pernah berjuang agar atasannya tidak menetapkan pembuangan limbah tanpa diolah ke saluran umum WARTAWAN: – Setelah melakukan observasi lapangan namun kajian tidak segera diterbitkan dalam media cetak – Melakukan (tidak langsung) kompromi dengan Direktur BKN – Menerima cek sebagai tanda terima kasih dari Direktur BKN DIREKTUR: – Menetapkan pembuangan limbah perusahaan tanpa diolah ke saluran umum meskipun sadar akan bahayanya terhadap lingkungan. – Terjadi beberapa kali untuk kepentingan keuntungan finansial. – Memberikan cek kepada Wartawan, sebagai tanda terima kasih PENDUDUK: – Tidak melaporkan Dampak Negatif terhadap lingkungannya kepada pihak yang berwewenang. APARAT PEMDA: – Tidak melaksanakan tugas pengawasan sebagaiman seharusnya untuk melindungi msyarakat banyak dan tidak melakukan Law Enforcement terkait dengan Dampak Lingkungan. MAJELIS KEHORMATAN INSINYUR – Hanya melakukan tindakan terkait kode etik, apabila ada pengaduan (Delik Aduan) 33

PENANGANAN KASUS PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 34

PENANGANAN KASUS PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 34

BAGIAN - 4 TATA CARA PENANGANAN KASUS PELANGGARAN KODE ETIK

BAGIAN - 4 TATA CARA PENANGANAN KASUS PELANGGARAN KODE ETIK

PENUTUP PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 31 MARET 2016, TELKOM UNIVERSITY, BANDUNG 36

PENUTUP PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 31 MARET 2016, TELKOM UNIVERSITY, BANDUNG 36

BAGIAN - 5 A General Framework of the Ethical Decision-Making Process CHARACTERISTICS OF THE

BAGIAN - 5 A General Framework of the Ethical Decision-Making Process CHARACTERISTICS OF THE DECISION MAKER ETHICAL SITUATION DECISION OUTCOMES SIGNIFICANT INFLUENCES 37

BAGIAN - 5 ENGINEER Make Things HAPPEN

BAGIAN - 5 ENGINEER Make Things HAPPEN

BAGIAN - 5 ROADMAP TO WISDOM Philanthropic Responsibility BE A GOOD CITIZEN Ethical Responsibility

BAGIAN - 5 ROADMAP TO WISDOM Philanthropic Responsibility BE A GOOD CITIZEN Ethical Responsibility BE ETHICAL Legal Responsibility OBEY THE LAW Economic Responsibility BE PROFITABLE 39

TERIMA KASIH PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 40

TERIMA KASIH PROGRAM PEMBINAAN PROFESI INSINYUR 40

BAGIAN - 5 Framework for Understanding the Ethical Decision Making Process in Business Sumber:

BAGIAN - 5 Framework for Understanding the Ethical Decision Making Process in Business Sumber: Ferrell-Fraedrich-Ferrell 41

BAGIAN - 5 Everyday Ethics: 5 Questions 1. Did I practice any virtues today?

BAGIAN - 5 Everyday Ethics: 5 Questions 1. Did I practice any virtues today? 2. Did I do more harm than good today? 3. Did I treat people with dignity and respect today? 4. Was I fair and just today? 5. Was my community better because I was in it?

BAGIAN - 5 Yes, I Did It WHICH STEP HAVE REACHED TODAY ? 43

BAGIAN - 5 Yes, I Did It WHICH STEP HAVE REACHED TODAY ? 43

Stages of Moral Thought (Kohlberg) • Child – defines right and wrong in terms

Stages of Moral Thought (Kohlberg) • Child – defines right and wrong in terms of what authorities say • Adolescent – defines right and wrong in terms of group loyalty (friends, family, gang, nation) • Adult – views right and wrong from universal standards of justice, human rights, and human welfare Education is what stimulates growth through levels.

What Is Ethics? Ethics is not the same as feelings. Ethics is not religion.

What Is Ethics? Ethics is not the same as feelings. Ethics is not religion. Ethics is not following the law. Ethics is not following culturally accepted norms. • Ethics is not science. • •

Summary • Transactional = Give something to get something • Transformational = Go beyond

Summary • Transactional = Give something to get something • Transformational = Go beyond self interests for the good of the whole • Transcendental = Service above self • “To Rule or Govern is easy – To Lead is Difficult. ”

BAGIAN - 3 Ethics - Moral • Ethical issue intensity is the perceived relevance

BAGIAN - 3 Ethics - Moral • Ethical issue intensity is the perceived relevance or importance of an ethical issue to the individual, work group, and/or organization(relevansi dirasakan atau pentingnya masalah etis untuk individu , kelompok kerja , dan / atau organisasi ) – Reflects the ethical sensitivity of the individual or work group – Triggers the ethical decision process • Moral Intensity relates to a person’s perception of social pressure and the harm the decision will have on others (persepsi seseorang dari tekanan sosial dan bahaya keputusan akan terjadi pada orang lain) Sumber: Ferrell-Fraedrich-Ferrell 47