Kelompok 8 PENGERTIAN SINONIM DAN PERBANDINGANNYA DENGAN ALQURAN
Kelompok 8 PENGERTIAN, SINONIM, DAN PERBANDINGANNYA DENGAN ALQUR’AN 1. FADILA GUSMAN 2. ISRAMIL HUSNA
Pengertian Hadist, Sunnah, Khabar dan Atsar 1 hadist pengertian hadits secara etimologis Menurut Ibn Manzhur, kata ‘hadis ‘ berasal dari bahasa arab, yaitu al-hadist, jamaknya al-Ahadist , al. Hadistan dan al-hudtsan. Secara etimologis , kata ini memiliki banyak arti, diantaranya aljadid (yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-khabar, yang berarti kabar atau berita.
Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuqaha, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian hadits secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang di dalaminya. • Ulama hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut : • “Segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW, baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi. ” • Adapun menurut istilah para fuquha, hadis adalah: • “Segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalah fardhu atau wajib. ”
2 sunnah • Sunnah menurut bahasa berarti : "Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak". • Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli Hadith) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW. , baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW. , dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya.
3. Kabar Khabar menurut bahasa berarti berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang. Untuk itu dilihat dari sudut pendekatan ini (sudut pendekatan bahasa), kata Khabar sama artinya dengan Hadith 4. atsar Atsar menurut lughat atau etimologi ialah bekasan sesuatu, atau sisa sesuatu, atau berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. dan berarti nukilan (yang dinukilkan Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini. Pertama, kata atsar sinonim dengan hadits. Kedua, atsar adalah perkataan, tindakan, dan ketetapan Shahabat.
Perbedaan antara Hadist dengan Sunnah, Khabar dan Atsar a. Hadits dan sunnah: hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, takrir yang bersumber pada Nabi SAW, sedangkan sunnah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, tabiat, budi pekerti atau perjalanan hidupnya, baik sebelum di angkat menjadi rasulmaupun sesudahnya.
Laring terdiri dari cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot yang mengandung pita suara dan mengubungkan faring dengan trakea
Fungsi laring • Produksi suara, suara memiliki nada, volume dan resonansi. • Bebicara, berbicara terjadi saat ekspirasi ketika suara yang dihasilkan oleh pita suara dimamipulasi oleh lidah, pipi dan bibir. • Pelindung saluran nafas bawah , saat menelan, laring bergerak keatas , menyumbat saluran faring dan trakea. • Jalan masuk udara , bawah laring berfungsi sebagai penghubung jalan nafas antara faring • dan trakea. • Pelembab, penyaring, dan penghangat , diamana proses ini berlanjut saat udara yang diinspirasi berjalan melalui laring
b. Hadits dan khabar: sebagian ulama hadits berpendapat bahwa khabar sebagai suatu yang berasal atau disandarkan kepada selain nabi SAW. , hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan pada Nabi SAW. c. Hadits dan atsar: jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya dengan khabar dan hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW, sahabat dan tabiin.
Persamaan antara Hadist dengan Sunnah, Khabar dan Atsar Dari keempat istilah yaitu Hadith, Sunnah, Khabar, dan Atsar, menurut jumhur ulama Hadith dapat dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu bahwa hadith disebut juga dengan sunnah, khabar atau atsar. Begitu pula halnya sunnah, dapat disebut dengan hadith, khabar dan atsar. Maka Hadith Mutawatir dapat juga disebut dengan Sunnah Mutawatir atau Khabar Mutawatir. Begitu juga Hadith Shahih dapat disebut dengan Sunnah Shahih, Khabar Shahih, dan Atsar Shahih.
Bentuk- bentuk Hadist • Hadits Qawli • Hadits qawli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, ucapan, ataupun sabda yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan yang berkaitan dengan akidah, syariah, akhlak, atau lainnya ● ● ﺍﺍ ﺍ Artinya: ”Tidak (sah/sempurna) shalat bagi orang yang tidak membaca surat al. Fatihah”. (Shahih al. Bukhari, III: 204, hadits 714)
• Hadits Fi’li • Hadits fi’li ialah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi Muhammad saw yang sampai kepada kita ● ● Misalnya hadits riwayat al. Bukhari dari Jabir ibn ‘Abd Allah: ﺍﺓ ﺍ ﺍﻳ ﺍ ﺍ ﺍ ﻯ ﻱ ﺍﻟ ﻯ ﺍﻟ ﻭ ﺍ Artinya: ”Rasulullah saw pernah shalat di atas tunggangannya, ke mana pun tunggangannya menghadap. Apabila ia mau melaksanakan shalat fardhu, ia turun dari tunggangannya, lalu menghadap ke kiblat ”. (Shahih al. Bukhari, III: 204, hadits 714)
• • Hadits Taqriri Maksud hadits taqriri ialah Penetapan (Taqririyyah) yaitu perkataan atau perbuatan tertentu yang dilakukan oleh sahabat di hadapan Nabi Muhammad atau sepengetahuan beliau, namun beliau diam dan tidak menyanggahnya dan tidak pula menampakkan persetujuannya atau malahan menyokongnya ● ● ● contoh, pengakuan Nabi Muhammad terhadap ijtihad para sahabat berkenaan dengan shalat Ashar di perkampungan Bani Quraizhah, sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abd Allah Ibn Umar: ﺍﺍ ﺍﻟ ﻯ ﻟ ﺍ ﻱ ﺍ ﺍ ﻯ ﻱ ﺍ ﺍ ﺍﻟ ﻳ ﻱ ﺍ ﻱ ﻱ ﺍ ﺍ ﺍ Artinya: “Janganlah salah seorang (di antara kamu) mengerjakan shalat Ashar, kecuali (setelah sampai) di perkampungan Bani Quraizhah. Lalu sebagian mereka mendapati (waktu) ‘Ashar di perjalanan. Sebagian mereka mengatakan, kita tidak boleh shalat sehingga sampai di perkampungan, dan sebagian lainnya mengatakan, tetapi kami shalat (dalam perjalanan), tidak ada di antara kami yang membantah hal itu. Hal itu lalu dilaporkan kepada Nabi saw, ternyata beliau tidak menyalahkan seorang pun dari mereka”. (Shahih al-Bukhari, III: 499, hadits 894)
• • Hadits Hammi Hadits hammi adalah hadits yang menyebutkan keinginan Nabi saw yang belum sempat beliau realisasikan ● ● seperti halnya keinganan untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura sebagai diriwayatkan dari ‘Abd Allah ibn ‘Abbas: ﺍ ﺍ ﺍ ﺍﻟ ﻯ ﺍﻟ ﻭ ﺍ ﺍﻟ ﺍﻯ ﺍﻭ ﺍﻟ ﻭ ﺍ ﺍﻭﺍ ﺍﻟ ﻯ ﺍﻟ ﻭ ﺍ ﻳ ﺍﻟ ﻯ ﺍﻟ ﻭ ﻯ ﺍ ﺍﺍ ﺍ ﺍﻟ ﺍ ﺍﻟ ﺍ Artinya: “Sewaktu Rasulullah saw berpuasa pada har ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”. Rasulullah saw menjawab, ”Tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan(nya)”. ‘Abd Allah ibn ‘Abbas mengatakan, “Belum tiba tahun mendatang itu, Rasulullah saw pun wafat”. (Shahih Muslim, V: 479, hadits 1916
• Hadits Ahwali • Hadits ahwali adalah hadits yang menyebutkan hal ihwal Nabi saw yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat, dan kepribadiannya ● ● ● Contohnya, pernyataan al. Barra` ibn ‘Azib berikut ini: ﺍﻱ ﺍ ﺍﻟ ﻳ ﺍ ﺍ ﺍﻟ ﺍ ﺍﻟ ﻯ ﺍﻟ ﻭ ﺍ Artinya: “Rasulullah saw adalah manusia memiliki sebaik-baik rupa dan tubuh. Kondisi fisiknya, tidak tinggi dan tidak pendek ”. (Shahih al-Bukhari, XI: 384, hadits 3285)
Periwayatan Hadist Secara lafal, Makna, dan meringkas hadist • a. Periwayatan dengan lafaz (riwayat bil lafzi) • Meriwayatkan hadis dengan lafaz adalah meriwayatkan hadis sesuai dengan lafaz yang mereka terima dari Nabi Muahmmad. Dengan istilah lain yaitu meriwayatkan hadis dengan lafaz yang masih asli dari Nabi Muhammad SAW. Kebanyakan sahabat menempuh periwayatan hadis melalui jalur ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Nabi Muhammad SAW bukan menurut redaksi mereka. Malahan semua sahabat menginginkan agar periwayatan itu dengan lafzi bukan maknawi.
2 Pernafasan dalam (Internal) • Pernafasan dalam adalah pertukaran gas dalam jaringan tubuh. Pada pernafasan dalam, darah masuk ke jaringan tubuh. Oksigen meninggalkan hemoglobin dan berdifusi masuk kecairan jarinagn tubuh. Reasksi nya sebagai berikut : • Hb. O 2 Hb + O 2.
• Periwayatan dengan makna • meriwayatkan hadis dengan maknanya itu sebagai berikut: • 1. Tidak diperbolehkan, pendapat segolongan ahli hadis, ahli fiqh dan ushuliyyin. • 2. Diperbolehkan, dengan syarat yang diriwayatkan itu bukan hadis marfu’. • 3. Diperbolehkan, baik hadis itu marfu’ atau bukan asal diyakini bahwa hadis itu tidak menyalahi lafaz yang didengar, dalam arti pengertian dan maksud hads itu dapat mencakup dan tidak menyalahi. • 4. Diperbolehkan, bagi para perawi yang tidak ingat lagi lafaz asli yang ia dengar, kalau masih ingat maka tidak diperbolehkan menggantinya. • 5. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hadis itu yang terpenting adalah isi, maksud kandungan dan pengertiannya, masalah lafaz tidak jadi persoalan. Jadi diperbolehkan mengganti lafaz dengan murodif-nya. • 6. Jika hadis itu tidak mengenai masalah ibadah atau yang diibadati, umpamanya hadis mengenai ilmu dan sebagainya,
- Slides: 20