KEBUDAYAAN DEFINISI Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa

  • Slides: 29
Download presentation
KEBUDAYAAN

KEBUDAYAAN

DEFINISI Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak

DEFINISI Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia

DEFINISI Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu

DEFINISI Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.

DEFINISI Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Menurut ilmu antropologi,

DEFINISI Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat)

Bahasa Sistem Pengetahuan Kesenian UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN Sistem Kemasyarakatan Sistem Religi Sistem Mata Pencaharian Hidup

Bahasa Sistem Pengetahuan Kesenian UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN Sistem Kemasyarakatan Sistem Religi Sistem Mata Pencaharian Hidup Sistem Peralatan & Perlengkapan Hidup

Wujud Kebudayaan Aktivitas Ide/gagasan Artifak/ hasil karya

Wujud Kebudayaan Aktivitas Ide/gagasan Artifak/ hasil karya

KAITAN KEBUDAYAAN DENGAN MASYARAKAT

KAITAN KEBUDAYAAN DENGAN MASYARAKAT

“Cultural relativism is primarily a method (not a world-view)” Eriksen (2004: 13) Cultural relativism

“Cultural relativism is primarily a method (not a world-view)” Eriksen (2004: 13) Cultural relativism didesain untuk mengeksplorasi variasi kultur secara bebas yang mungkin diperoleh dari prejudices (prasangka) peneliti

Cultural Relativism Ideologi arus utama (mainstream) dalam ilmu Antropologi Mempelajari tentang “budaya orang lain”

Cultural Relativism Ideologi arus utama (mainstream) dalam ilmu Antropologi Mempelajari tentang “budaya orang lain” (other cultures); dalam segala aspek kemanusiaannya agar dari hasil kajian tersebut mereka bisa bercermin tentang siapa diri mereka

Cultural Relativism Menjelaskan apa sebabnya suatu perbuatan tertentu dipandang pantas dalam kebudayaan yang satu;

Cultural Relativism Menjelaskan apa sebabnya suatu perbuatan tertentu dipandang pantas dalam kebudayaan yang satu; tetapi sebaliknya merupakan perbuatan yang seratus persen amoral dalam kebudayaan yang lain.

TORAJA BALI

TORAJA BALI

Mengapa Berbeda? Karena mengacu pada standar tingkah laku Standar-standar tingkah laku berhubungan dengan kebudayaan

Mengapa Berbeda? Karena mengacu pada standar tingkah laku Standar-standar tingkah laku berhubungan dengan kebudayaan dimana standar-standar itu berlaku, yaitu suatu gejala yang disebut dengan relativitas kebudayaan

Mengapa? Alasan: Bangsa yang unggul Setiap bangsa dalam bidang mempunyai ekonomi dan militer, ITU

Mengapa? Alasan: Bangsa yang unggul Setiap bangsa dalam bidang mempunyai ekonomi dan militer, ITU HARUS nilai dan belum tentu secara DIHARGAI ! spiritual, etika, sosial, keunikan kultural dan politis juga sama sendiri unggulnya

STEREOTYPE KEBUDAYAAN

STEREOTYPE KEBUDAYAAN

. . . Gambaran subyektif mengenai kebudayaan suku bangsa tertentu dan biasanya dijadikan sebagai

. . . Gambaran subyektif mengenai kebudayaan suku bangsa tertentu dan biasanya dijadikan sebagai ciri khas yang melekat Stereotype Kebudayaan Positif Negatif Lebih Dominan

Contoh: Mahasiswa yang berasal dari Medan (suku Batak) dinilai sebagai orang yang tegas, berpendirian,

Contoh: Mahasiswa yang berasal dari Medan (suku Batak) dinilai sebagai orang yang tegas, berpendirian, dan kasar (kasar dalam artian tegas). Mahasiswa yang berasal dari Melayu dikatakan pemalu, religius, dan merasa lebih bisa diterima di mana pun berada.

Contoh: Mahasiswa Jawa, akibat pengaruh orde baru, menganggap dirinya paling maju dari daerah lain.

Contoh: Mahasiswa Jawa, akibat pengaruh orde baru, menganggap dirinya paling maju dari daerah lain. Sehingga ketika berhubungan dengan orang luar Jawa, maka stigma yang terbentuk adalah stigma negatif seperti malas, kasar, dan pemberontak

Bahan Diskusi: Stereotype merupakan imaginasi mentalitas yang kaku; yaitu dalam wujud memberikan penilaian negatif

Bahan Diskusi: Stereotype merupakan imaginasi mentalitas yang kaku; yaitu dalam wujud memberikan penilaian negatif yang ditujukan kepada out-group, sebaliknya kepada sesama in-group memberikan penilaian yang positif.

Cara Menyikapi Pengaruh Cultural Relativism _ Beberapa Alternatif Solusi_

Cara Menyikapi Pengaruh Cultural Relativism _ Beberapa Alternatif Solusi_

Cara Pertama: Manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan tidak diharuskan untuk terlalu fanatik terhadap

Cara Pertama: Manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan tidak diharuskan untuk terlalu fanatik terhadap kebudayaan yang telah dianut selama ini. Dalam menerima kebudayaan luar perlu dilakukan seleksi terlebih dahulu, unsur-unsur mana yang pantas diterima dan elemen-elemen mana yang harus ditolak, yang mana diselaraskan dengan sikap jiwa dan mental bangsa yang bersangkutan.

Cara Kedua: Setiap individu sebaiknya bisa membedakan antara kebudayaan yang ideal dari sebuah masyarakat

Cara Kedua: Setiap individu sebaiknya bisa membedakan antara kebudayaan yang ideal dari sebuah masyarakat yakni (kebudayaan yang menurut para anggotanya mereka miliki dan secara verbal dinyatakan berupa perasaan-perasaan yang abstrak); dan kebudayaan yang nyata dari masyarakat itu, yaitu (tingkah laku/aturan yang sesungguhnya diwujudkan di dalam aktivitas mereka sehari-hari)

CUPLIKAN HASIL PENELITIAN “Sebuah Bahan Renungan”

CUPLIKAN HASIL PENELITIAN “Sebuah Bahan Renungan”

Koentjaraningrat: “ Gotong royong pada masyarakat Jawa di daerah Jawa Tengah bagian selatan” (1961).

Koentjaraningrat: “ Gotong royong pada masyarakat Jawa di daerah Jawa Tengah bagian selatan” (1961). Fakta: Gotong royong yang dianggap sebagai ciri masyarakat pedesaan tradisional tentunya juga telah mulai berkurang atau berubah di desa yang letaknya lebih dekat dengan kota.

Johsz R. Mansoben Menelaah sebuah ritual inisasi pada masyarakat Biak Numfor yang dikenal dengan

Johsz R. Mansoben Menelaah sebuah ritual inisasi pada masyarakat Biak Numfor yang dikenal dengan nama Wor k’bor yang kini sudah tidak pernah dilakukan lagi. Wor k’bor berarti pesta atau perayaan “menusuk atau mengiris bagian atas dari sesuatu”, yang dalam ritual ini adalah bagian atas dari alat kelamin pria.

… Upacara ini dijalani oleh seorang pemuda yang telah selesai melewati masa pendidikannya di

… Upacara ini dijalani oleh seorang pemuda yang telah selesai melewati masa pendidikannya di rum sram yakni “rumah bujang atau rumah laki-laki yang berfungsi sebagai tempat atau pusat pendidikan dan pemujaan roh nenek moyang”.

… Di sinilah seorang anak laki-laki Biak Numfor yang telah berusia 12 tahun biasa

… Di sinilah seorang anak laki-laki Biak Numfor yang telah berusia 12 tahun biasa dimasukkan untuk dididik. Ritual k’bor yang menandai selesainya pendidikan ini, biasa dilakukan ketika si anak berusia 15 tahun

Fungsi Ritual K’bor Lambang penyatuan seseorang ke dalam kelompok secara tetap, di mana terlibat

Fungsi Ritual K’bor Lambang penyatuan seseorang ke dalam kelompok secara tetap, di mana terlibat di dalamnya berbagai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi Menguji keberanian dan ketabahan seorang pemuda Biak-Numfor Melambangkan hubungan-hubungan sosial tertentu yang dianggap penting dalam masyarakat

“Kesenjangan atau perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat tentang gunung Merapi di Yogyakarta” Secara

“Kesenjangan atau perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat tentang gunung Merapi di Yogyakarta” Secara kebetulan pula kajian ini semuanya berasal dari ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada, yaitu: Dr. Laksono, Drs. Handoyo Adi Pranowo, dan Drs. Lukas Sasongko Triyoga.

International Conference LOCAL WISDOM FOR EARLY WARNING SYSTEM ON THE ERUPTION OF MOUNT MERAPI

International Conference LOCAL WISDOM FOR EARLY WARNING SYSTEM ON THE ERUPTION OF MOUNT MERAPI DISASTER Poerwanti Hadi Pratiwi FIS – UNY