INTERPRETASI LABORATORIUM CAIRAN TUBUH Suriyanti Desember 2017 TES
INTERPRETASI LABORATORIUM CAIRAN TUBUH Suriyanti, Desember 2017
TES CAIRAN TUBUH A. URINALISIS B. Cairan Asites C. Analisis Semen D. Cairan Amnion E. Cairan Otak F. Cairan Sendi G. Cairan Pleura
A. Urinalisis Pemeriksaan sampel urin secara fisik, kimia dan mikroskopik. - Tujuan: - membantu tegakkan diagnosis - mendapatkan informasi ttg fgs organ & metab. tubuh. - mendeteksi kel. asimtomatik - mengikuti perjalanan penyakit & hasil pengobatan
Indikasi v v v Evaluasi kesehatan secara umum Gangguan endokrin Gangguan pada ginjal trak urinarius Monitoring pasien dg diabetes Kehamilan Kasus toksikologi atau over dosis obat.
� Tes Urin : - tes rutin makroskopik, mikroskopik, tes kimia - tes khusus biakan urin, protein kuantitatif 24 jam, dll
TES URINALISIS �MAKROSKOPIK �MIKROSKOPIK �KIMIA
MAKROSKOPIS KEJERNIHAN DAN WARNA VOLUME p. H BAU BERAT JENIS
KIMIA � TES CARIK CELUP GLUKOSA BILIRUBIN UROBILINOGEN KETON PROTEIN NITRIT LEKOSIT BLOOD ASCORBIC ACID (Vit C)
Semiautomated urine chemistry 9
Pra Analitik a. Persiapan pasien ; - tdk dianjurkan konsumsi zat pereduksi. - obat yg menganggu warna urin dihentikan. - hindari sekret vagina, smegma, rambut pubis dll
b. Persiapan sampel Cek identitas pasien: nama, no rekam medis, tgl & jam pengambilan. � Sampel : urin segar < 1 jam, jika menunda tes sampel disimpan pada 2 -8°C atau diberi pengawet �
c. Cara pengumpulan sampel Pengumpulan ketika berkemih. - Kateterisasi - Punksi supra pubik - midstream -
d. Jenis sampel. Urin sewaktu � Urin pagi � Urin post prandial � Time spesimen (sampel terjadwal) �
e. Pengawet. � Toluen pengawet glukosa, aseton, aseto asetat � Timol pengawet sedimen � Formaldehin dan kloroform sedimen � Asam sulfat pekat � Natrium karbonat awetkan urobilinogen � Asam hidroklorida urin 24 jam
1. Glukosa Prinsip: Glukosa glukosa oksidase as. glukonat & hidrogen peroksidase oksidasi potasium iodida berwarna biru muda, hijau sampai coklat. • Sensitivitas pemeriksaan s/ 50 mg/dl • Negatif palsu Vit C, keton, as homogenisat, aspirin, dypiron. • Nilai rujuk : < 30 mg/dl
2. Bilirubin. Prinsip: garam diazonium + bilirubin (suasana asam kuat) coklat muda hingga merah coklat. � Sensitivitas 0, 5 mg/dl. � Negatif palsu Vit C, as salisilat. � Positif palsu chlorpromazine dlm jumlah banyak.
3. Urobilinogen. Prinsip: urobilinogen + reagen ehrlic intensitas warna jingga sampai merah tua. • Sensitivitas: trace-1 EU/dl. • Negatif palsu nitrit yg tinggi. • Nilai rujuk : ♂ 0, 3 -2, 1 mg/2 hours. ♀ 0, 1 -1, 1 mg/2 hours
4. Keton. Prinsip: asam asetoasetat + nitroprusida Warna coklat muda bila tdk terjadi reaksi � Positif palsu urin banyak mgd pigmen, metabolit levodopa, phynylketones. � Sensitif asam asetoasetat a/ 5 mg/dl. � Nilai rujuk : negatif.
5. Protein. Prinsip: urin albumin + bereaksi indikator hijau muda menjadi hijau. � Sensitivitas a/ 10 mg/dl. � Nilai rujuk : < 20 mg/dl
6. Nitrit. Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya bakteriuri. nitrit negatif warna tdk berubah. Dalam suasana asam membentuk warna merah muda. � Sensitivitas a/ 0, 05 mg ( 105 bak/ml) � Nilai rujuk : negatif.
7. Lekosit. Prinsip: rx esterase (enzim pd granula azudofil) akan menghidrolisis derivat ester naftil. Naftil + garam diazonium perubahan warna dr coklat muda menjadi ungu. � Sensitivitas: 10 wbc/µl � Nilai rujuk : negatif.
8. p. H. Berdasarkan adanya indikator ganda ( methyl red & bromthymol blue) perubahan warna sesuai p. H berkisar jingga hingga kuning kehijauan dan hijau kebiruan. � Nilai rujuk : p. H 5 -8.
9. Blood. � � hemoglogin dan mioglolobin akan mengkatalisis oksidasi dr indikator tetramethylbenzidi warna kuning kehijau-hijauan hingga hijau kebiru-biruan dan biru tua. Negatif palsu : vit C, prot kadar tinggi. Positif palsu : urin terdapat bakteri ±. Sensitivitas 5 RBC/µl atau 3 -5 RBC/LP. Nilai rujuk : negatif
10. Berat jenis. Prinsip: Perubahan p. H akan terdeteksi oleh indikator bromthymolblue biru tua hingga hijau pada urin Bj rendah & hijau kekuning-kuningan jika Bj tinggi. � Nilai rujuk : 1, 003 -1, 029
11. Ascorbic acid. Jika kadar ascorbic acid > 25 mg/dl warna ungu. Glukosa, nitrit, adanya darah akan pengaruhi hasil. Sensitivitas 10 mg/dl.
B. Tes mikroskopik Sedimen urin : - elemen organik sel, silinder, oval fat bodies, spermatozoa, bakteri, kandida, parasit - elemen anorganik bahan amorf, kristal, lemak
ERITROSIT < 5/LPK
LEKOSIT < 5/LP
Epitel transisional Epitel squamous
Torak /silinder(cast)
Kristal amonium bilirubin
Kalsium karbonat Uric acid
Magnesium amonium fosfat (struvite) sistin
Tes Protein Manual : - Jumlah protein kuantitatif cara Esbach dengan memakai albuminometer. - Protein bence jones imunoglobulin monoklonal dalam urin. Positif: multiple, mieloma, amiloidosis
KIMIA LAIN Protein urin Semikuantitatif esbach
Tes protein semikuantitatif � Alat dan bahan 1. Tabung reaksi + rak + pipet 2. Penangas air 100°C 3. Reagen : . Na Asetat 11, 8 gr. Asam asetat pekat 5, 85 ml. Aquadest sampai 100 m. L
Cara Kerja 1. 2. 3. 4. 5. Tuangkan 5 m. L urine ke tabung reaksi Tambahkan 0, 5 ml reagen Homogenisasi Masukkan ke dlm penangas air selama 5 menit Keluarkan tabung dan baca dengan melihat gumpalan
Tes Esbach (Protein kuantitatif) � 1. 2. 3. 4. 5. 6. Alat dan bahan Tabung reaksi Urine 24 jam Tabung esbach + sumbat tabung Pipet volumetrik Asam asetat glasial 10% Reagen Esbach : a. asam pikrat 1 gr b. asam sitrat 2 gr c. aquades sampai 100 ml
Interpretasi: Jumlah protein dalam urine sama dengan tinggi endapan (g/L/24 jam).
Tes Glukosa Urin Benedict ALAT dan BAHAN : 1. Tabung reaksi dan penjepitnya. 2. Pipet. 3. Penangas air 100ºC. 4. Reagen Benedict : � Cu. SO 4. 5 H 2 O 17, 3 g. � Na carbonat anhydrous 100 g. � Na sitrat 173 g. � Dilarutkan dalam 1 L aquadest.
CARA KERJA : a. Masukkan 5 m. L reagen Benedict ke dalam tabung reaksi. b. Teteskan 5 – 8 tetes urin ke dalam tabung reaksi yang telah berisi reagen Benedict. c. Homogenisasi sebentar. d. Masukkan ke dalam penangas air selama 5 menit. e. Keluarkan tabung reaksi menggunakan penjepit tabung, lakukan homogenisasi, dan baca hasilnya dengan melihat adanya perubahan warna pada tabung reaksi.
HASIL dan INTERPRETASI : Negatif : biru jernih / sedikit kehijauan agak keruh. (0 -0, 1 g/dl) Positif 1: hijau dengan endapan kuning (0, 5 -1, 0 g/dl) Positif 2: kuning (1, 0 -1, 5 g/dl) Positif 3: oranye. (1, 5 -2, 5 g/dl) Positif 4: merah (2, 5 -4, 0 g/dl)
B. CAIRAN ASITES � Cairan Asites mrpk Akumulasi patologis cairan rongga abdomen/peritoneal � Penyebab tersering dari asites adalah 80% sirosis hepatis , 20% keganasan
CAIRAN ASITES Nilai normal • 1 – 10 cc • Ruang intraperitoneal • >>> asites Fungsi • Membasahi lapisan atau tunika serosa. • Pelumas Tujuan • Mengeluarkan cairan yang berlebihan • Menegakkan diagnosis • Terapi asites
METODE Sampel : Parasentesis 1. TES MAKROSKOPI - Volume - p. H - Warna dan kejernihan - Bekuan 2. TES MIKROSKOPI • Hitung Jumlah lekosit • Hitung Jumlah ERitrosit • Hitung Jenis Sel 3. TES KIMIA - Tes Rivalta - Tes Protein - Tes Glukosa - Tes LDH
METODE (2) 4. TES MIKROBIOLOGI - Pewarnaan Gram - Pewarnaan ZN 5. PETANDA TUMOR CEA - Semiotomatis - Otomatis
Kontraindikasi parasentesis Nyeri abdomen akut � Trombositopenia berat � Kehamilan � Distended kandung kemih, � selulitis dinding abdomen �
Cara test RIVALTA Masukkan 1 tetes cairan peritoneal Hasil Test Rivalta (+) : keruh + presipitat (–) : jernih 5 ml r. RIVALTA Reagen RIVALTA : 100 ml aquadest + 0, 1 ml as. glasial 49
Tabel 2. Ciri Transudat dan Eksudat PARAMETER TRANSUDAT EKSUDAT Warna Kuning Muda Purulen Bau Tidak berbau Kadang berbau busuk Kejernihan Encer, jernih Keruh, mgkn menggumpal BJ < 1, 018 ≥ 1, 018 Bekuan Tidak ada Spontan fibrinogen Protein < 3 gr% ≥ 3 gr% Glukosa ± Plasma Darah < Plasma darah LDH < 200 IU ≥ 200 IU Rivalta Negatif Positif Sel-sel < 1000/mm 3 > 1000/mm 3 Kultur Negatif Positif
C. ANALISIS SEMEN � Ejakulat yang berasal dari seorang pria berupa cairan kental dan keruh � Berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar-kelenjar lain dan spermatozoa � Spermatozoa testis dan berada dalam cairan seminal � Tujuan tes informasi ttg kualitas dan kuantitas semen infertilitas pada pria
METODE Tes Makroskopi Tes Mikroskopi Warna Motilitas Volume Jumlah Likuefaksi Morfologi Viskositas Aglutinasi Bau p. H
Pemeriksaan Semen A. Prosedur Standar 1. Penampungan dan pengiriman sampel ○ Sebaiknya subyek dibekali dengan lembaran instruksi tertulis yang jelas berhubungan dengan cara koleksi dan transportasi semen. a. Sebaiknya sampel dikeluarkan ditampung setelah abstinensi antara 48 jam dan paling lama 7 hari. b. Untuk evaluasi awal sedikitnya diperlukan dua kali pemeriksaan c. Sebaiknya sampel dikumpulkan diruang khusus didekat laboratorium d. Sampel didapat dengan cara masturbasi
Lanjutan ……… e. Kondom yang terdapat dipasaran tidak boleh digunakan karena dapat menyebabkan kematian spermatozoa f. Sample harus dilindungi terhadap perubahan temperatur yang ekstrim g. Botol harus diberi label nama, tanggal dan waktu p engeluaran, serta lama abstinensi 2. Keamanan dalam penanganan sampel ○ Teknisi laboratorium harus hati – hati terhadap sampel semen yang mungkin mengandung virus – virus yang berbahaya (HIV, Hepatitis dan Herpes)
Pemeriksaan Mikroskopis • Pemeriksaan mikroskopis semen dilakukan dengan preparat basah dan preparat hapus. • Pada pemeriksaan preparat basah, penilaian meliputi : motilitas spermatozoa perkiraan konsentrasi, adanya sel – sel lain (epitel, sel bulat, parasit, bakteri, kristal dan sebagainya dan ada/ tidaknya aglutinasi 1. Perkiraan Konsentrasi Spermatozoa • Perkiraan konsentrasi spermatozoa secara kasar ini dilakukan dengan memperkirakan/ menghitung jumlah rata – rata spermatozoa pada beberapa lapang pandang dan hasilnya dikalikan dengan 105 • Misalnya didapatkan jumlah rata – rata spermatozoa 40/LPB, maka perkiraan konsentrasi : 40 x 105 = 4. 106/ml
Lanjutan ……… 2. Pemeriksaan Motilitas Spermatoza • Persiapan - Satu tetes semen (10 – 15 L) diteteskan dengan mikropipet atau melalui jarum 21 G pada kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup - Preparat diperiksa dibawah mikroskop • Penilaian - Pemeriksaan perlu dilakukan pada beberapa lapang pandang ( 4 -6 LPB). Pergerakan spermatozoa dapat diklasifikasikan dalam 4 golongan : a, b, c dan d a : gerak spermatozoa maju kedepan, cepat dan lurus b : gerak spermatozoa maju, lambat atau berkelok c : tidak ada gerak maju kedepan, bergetar ditempat, gerak melingkar d : tidak bergerak sama sekali
Lanjutan ……… - Perhitungan gerak spermatozoa dinyatakan dalam persentase a = …. . % b = …. . % c = …. . % dan d = …. . % Pemeriksaan Mikroskopis Lanjutan 1. Pemeriksaan Vital Spermatozoa a. Pewarnaan vital • Pada sel yang mati akan terjadi kerusakan membran plasma dan selanjtunya akan menyerap zat warna • Sedikit dihitung 100 spermatozoa yang menyerap zat warna (mati) dan yang tidak menyerap warna (hidup) • Teknik ini dapat dibedakan berapa persen spermatozoa immotil yang hidup dan mati
Istilah dalam laporan tes semen Jml Spermatozoa (juta/ml) Motilitas (%) Morfologi (%) Normospermia ≥ 20 ≥ 25 ≥ 50 Oligospermia < 20 ≥ 50 Ekstrim oligospermia <5 ≥ 50 Stenospermia ≥ 20 <50 ≥ 50 Teratospermia ≥ 20 ≥ 50 < 50 Oligo stenospermia < 20 < 50 ≥ 50 Oligo steno terato-zoospermia < 20 < 50 Oligo tertozoospermia < 20 ≥ 50 < 50 Astenozoospermia ≥ 120 < 50 Polizoospermia ≥ 250 ≥ 50 ISTILAH Azoospermia : Bila tdk ada spermatozoa dlm semen Nekrozoospermia : Tdk semua spermatozoa hidup Aspermia : Tdk ada cairan semen
D. CAIRAN AMNION Fungsi Volume • Kantong pelindung di sekitar janin ruang bagi janin untuk bergerak • Meratakan tekanan uterus pada partus • Mencegah trauma mekanik dan trauma termal • Berperan dalam sistem imun bawaan • Kehamilan aterm : 800 ml • Volume cairan amnion sesuai masa kehamilan • Warna : Putih keruh • Diproduksi oleh janin dan ibu
* Amniosintesis adalah tes untuk mengetahui kelainan genetik pada bayi dengan memeriksa cairan ketuban atau cairan amnion * Cairan amnion : analisis kromosom, analisis biokimia dan biologi
MANFAAT PEMERIKSAAN AMNIOSINTESIS � Mengetahui kelainan bawaan (Syndrome down, dll) � Mengetahui jenis kelamin bayi. � Mengetahui tingkat kematangan paru janin. � Mengetahui ada tidaknya infeksi cairan amnion.
PEMERIKSAAN AMNIOSINTESIS UNTUK WANITA HAMIL YANG BERISIKO TINGGI � Wanita yang mempunyai riwayat keluarga dengan kelainan genetik. � Wanita berusia di atas 35 tahun. � Wanita yang memiliki hasil tes yang abnormal terhadap sindrom down pada trimester pertama kehamilan. � Wanita dengan kelainan pada pemeriksaan USG
Risiko Amniosintesis � Kebocoran atau infeksi terhadap air ketuban � Jarum menyentuh bayi � Kelahiran prematur � Keguguran
METODE Sampel : Amniosentesis Makroskopi Warna Volume p. H Kimia - h. CG - AFP -Estriol Pemeriksaan kromosom
E. CAIRAN OTAK Fungsi • Meningkatkan nutrisi otak • Menyingkirkan produk sampingan metabolik • Melindungi otak dari cedera mekanis Volume • Produksi cairan otak ± 20 ml/jam • Direabsorpsi oleh villi arachnoid • Total volume cairan otak adalah 90 -150 ml (dewasa) dan 10 -60 (neonatus) Indikasi Tes • Diagnostik • Tindakan terapi
METODE Sampel : Punksi Lumbal Intervertebra L 3 -L 4/L 4 -L 5 MAKROSKOPI - Warna - Kekeruhan - Bekuan KIMIA - Protein - Glukosa MIKROSKOPI - Cairan jernih - Cairan keruh Hitung Jenis MIKROBIOLOGI - Pewarnaan Gram - Pewarnaan ZN
Pemeriksaan cairan otak • Cairan otak keluar dr plexus choroideus & merupakan filtrasi dr plasma • Fungsi : 1. Bantal cairan melindungi otak dr trauma 2. Mempertahankan volume otak 3. Pengangkut makanan & sisa 2 metabolisme 67
PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS CAIRAN OTAK Jumlah sel : Isap lart Turk pekat dlm pipet lekosit sp tanda 1 Isap cairan otak sampai tanda 11 Tetesan pertama dibuang Hitung dg kamar hitung ( pd 9 kotak) = N Jumlah sel cairan otak = N x 5/4 Bedakan : sel polimorfonuklear (%) sel mononuklear (%) Interpretasi : Normal : 0 – 5 sel/mmk Batas abnormal : 6 – 10 sel/mmk Abnormal : > 10 sel/mmk 68
Pemeriksaan KIMIAWI Tes PANDY Prinsip : Globulin + Albumin + r PANDY mengendap Cara : 1 ml r. PANDY + 1 tetes cairan otak ↓ kekeruhan Interpretasi : – tidak keruh + opalescent (berkabut) ++ keruh +++ sangat keruh ++++ keruh spt susu + endapan 69
Pemeriksaan KIMIAWI Tes NONNE Prinsip : Globulin + reagen NONNE (NH 4)2 SO 4 terbentuk cincin putih Cara : Masukkan dlm tabung 0, 5 ml r. NONNE + 0, 5 ml cairan otak scr hati 2 2 lapisan Tunggu 3 menit lihat cincin putih di antara 2 lapisan Interpretasi : – tidak ada cincin + cincin tipis ++ cincin agak jelas, dikocok cairan berkabut +++ cincin jelas, dikocok cairan keruh ++++ cincin jelas, dikocok cairan sangat keruh 70
Tes NONNE & PANDY M engetahui protein scr KWALITATIF Mengukur Protein & Glukosa scr kwantatif dg spektrofotometer Nilai normal : Glukosa : 50 – 80 mg/dl Protein : Lumbal : 15 – 40 mg / dl 71
F. CAIRAN SENDI Tes cairan sendi adalah tes laboratorium terhadap sendi yg bertujuan menunjang diagnosis, memantau perjalanan penyakit, efektifitas pengobatan, dan komplikasi penyakit. � Jumlah normal : 1 – 3 ml � Fungsi Pelumas : Pergelangan kaki, lutut, pangkal paha, pergelangan tangan, siku dan bahu �
Secara patologi cairan sendi digolongkan 4 kelompok 1. Non Inflamatorik 2. Inflamatorik Akut 3. Septik 4. Hemoragik.
KONTRA INDIKASI 1. Infeksi lokal 2. Diatesis hemoragik 3. Fraktur intra artikuler 4. Osteoporosis juxta-artikuler yang berat 5. Sendi yang tidak stabil 6. Tidak ada indikasi yang tepat 7. Kegagalan suntikan terdahulu
KOMPLIKASI 1. Infeksi 2. Perdarahan 3. Kerusakan kartilago sendi 4. Ruptur tendo/ligamen.
METODE KIMIA MIKROSKOPI Sampel : Artrosentesis MIKROBIOLOGI Sampel : Antrosentesis 1. Tes Glukosa KIMIA 2. Enzim (LDH) SEROLOGI MASKOSKOPI MIKROBIOLOGI MAKROSKOPI MIKROSKOPI 1. Hitung Sel 2. Hitung Jenis Sel 1. Volume 1. Sel 1. Tes Glukosa 1. Tes RF 1. 1. Pewarnaan 3. Jenis Kristal 2. Warna dan 2. Sel 2. Enzim 2. Tes CRP Gram Kejernihan 3. Kristal 2. 2. Pewarnaan 1. Faktor 1. 3. Volume Bekuan Tahan. Asam Rematoid 2. & 4. Warna Viskositas 2. C-Reactive Kejernihan 5. Tes Mucin Protein 3. Bekuan 3. Antinuclear 4. Viskositas Antibodies 5. Tes Mucin
G. CAIRAN PLEURA Nilai Normal Fungsi Tujuan Tes • 1 – 10 cc • >>> efusi pleura • Membasahi tunika serosa (pelicin) • Petunjuk penting penyebab penimbunan cairan, • Menunjang diagnosa • Memantau perjalanan penyakit • Efektifitas pengobatan • Mengetahui interpretasi hasil-hasil tes
CAIRAN EFUSI Transudasi : akumulasi cairan akibat proses non inflamasi atau bukan radang di dalam rongga pleura Eksudasi : akumulasi cairan akibat proses inflamasi didalam rongga serosa
ETIOLOGI Penyakit Infeksi Semua penyakit pneumonia akibat inflamasi, empiema akut, empiema kronik, pleuritis tuberkulosis, infeksi parasit. Tumor malignan Kanker paru, kanker paru metastasis, thymoma (metastasis pleura), leukemia, penyakit Hodgkin, multipel mieloma, mesothelioma pleura malignan Penyakit Kolagen Reumatoid arthritis, SLE Peny. GI Sirosis hepatis, pankreatitis akut, abses hati, abses subphrenic, peritonitis, perforasi esofagus Peny. KV Congestive Heart Failure, infark paru, ruptur aneurisma aorta thoracal
ETIOLOGI cont’d Penyakit Ginjal Sindrom nefrotik Penyakit Kebidanan endometriosis pleura Penyakit Iatrogenik Obat-obatan, komplikasi post operasi thoraks atau abdomen, radiasi Lain-lain Pneumothoraks spontan, sarkoidosis, pulmonary lymphangiomyomatosis
keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura peradangan penumpukan cairan
MANIFESTASI KLINIS � Nyeri dada pleuritis � Dispneu � Batuk kering yang tidak produktif � Penurunan vokal fremitus � Bunyi pekak menurun � Bunyi napas menghilang
DIAGNOSIS � Ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis � Diagnosis pasti melalui Torakosentesis
Torakosentesis Diagnostik kasus baru efusi pleura dan etiologi yang tidak jelas Torakosentesis Terapeutik untuk mengeluarkan cairan dlm jumlah banyak (tdk lebih 1000 -1500 cc), mengurangi sesak, menghambat proses inflamasi yang sedang berlangsung
METODE Sampel : Torakosentesis A. MAKROSKOPI 1. Volume 2. Warna dan kejernihan 3. BJ 4. Bekuan B. MIKROSKOPI 1. Jumlah Eritrosit 2. Jumlah lekosit Morfologi dan hitung jenis C. KIMIA 1. Protein total 2. Rivalta 3. Glukosa 4. LDH
METODE (2) D. TES MIKROBIOLOGI 1. Pewarnaan Gram 2. Pewarnaan Ziehl Neelsen E. PETANDA TUMOR CEA - Semi otomatis - Otomatis
Perbedaan Transudat dan Eksudat Jenis Tes 1. Makroskopis Transudat Jernih, kuning muda, tidak ada Eksudat Keruh, purulen, berdarah, ada bekuan 2. Berat Jenis < 1, 016 >1, 016 3. Rivalta Negatif Positif 4. Hitung lekosit Rendah, < 1000/µL, >50% 500 -1000/µL, peningkatan mononuklear (MN) polymorphonuclear (PMN) 5. Hitung eritrosit Rendah >100. 000/µL, terutama pada keganasan 6. Total protein < 3 gr/dl >3 gr/dl (lebih besar setengah dari kadar di serum) 7. LDH Rendah Meningkat (>200 IU) 8. Glukosa Bervariasi tergantung kadar di Lebih rendah dibanding kadar di serum dengan keadaan infeksi dan peningkatan jumlah sel 9. Kultur Negatif (tidak ada pertumbuhan kuman) Positif (ada pertumbuhan kuman)
PENATALAKSANAAN Bila cairan pusnya kental sebelumnya diirigasi cairan garam fisiologis dan tindakan Operatif � Pleurodesis : penyatuan pleura visceralis dan parietalis baik secara kimiawi, mineral ataupun mekanik � Tujuan Pleurodesis : untuk mencegah berulangnya efusi pleura berulang, menghindari torakosentesis berikutnya, menghindari diperlukannya insersi chest tube berulang �
TERIMA KASIH
- Slides: 93