INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL DAN NASIONAL TINDAK PIDANA EKSPLOITASI



















- Slides: 19
INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL DAN NASIONAL TINDAK PIDANA EKSPLOITASI SEKSUAL ANAK (TPESA) EDY WIBOWO Hakim/Asisten Ketua Kamar Pembinaan Mahkamah Agung Wk. Sekretaris Kelompok Kerja Perempuan dan Anak Mahkamah Agung Republik Indonesia
EDY WIBOWO Tujuan Pembelajaran a. Hakim/Asisten Ketua Kamar Pembinaan Mahkamah Agung/Wk. Sekretaris Kelompok Kerja Perempuan dan Anak Mahkamah Agung. b. Anggota Aktif dalam Kelompok Kerja Mahkamah Agung: 1. Kelompok Kerja Mediasi Mahkamah Agung. 2. Kelompok Kerja Gugatan Sederhana (Small Claim Court). 3. Kelompok Kerja Upaya Hukum Persaingan Usaha Keberatan Putusan KPPU. 4. Kelompok Kerja Pemberian Ganti Rugi Pengadaan Tanah Kepentingan Umum. 5. Kelompok Kerja Hak Kekayaan Intelektual Mahkamah Agung. 6. Kelompok Kerja Kemudahan Berusaha (Ease of Doing Business) Mahkamah Agung. 7. Kelompok Kerja Dewan Ketua Mahkamah Agung ASEAN (Council of ASEAN Chief Justice/CACJ). c. Pendidikan S-2 = Universitas Indonesia. Sedang menyelesaikan Program Doktor di UNPAD, Bandung dengan Beasiwa LPDP. d. Mengajar Berbagai Pendidikan dan Pelatihan: 1. Diklat Sertifikasi Mediator dan SPPA bagi Hakim di Pusdiklat MA. 2. Pendidikan Sertifikasi Mediator di berbagai lembaga IICT/IMN/PMN, dll. 3. Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). 3. Mengajar di beberapa Perguruan Tinggi: UPH, STIH, UMSU. 4. Menjadi narasumber hukum perbankan, persaingan usaha, IPR, hukum perusahaan dll, di OJK, BI dan berbagai kementerian/lembaga. Di akhir pelatihan ini diharapkan Peserta mampu: 1. Memahami instrumen hukum internasional tentang TPESA. 2. Memahami instrumen hukum nasional terkait TPESA. 3. Memahami poin-poin penting dalam instrumen tersebut yang dapat digunakan untuk mengadili perkara TPESA. 4. Mengidentifikasi instrumen hukum yang dapat digunakan untuk mengadili perkara TPESA melalui contoh kasus yang diberikan.
INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL I. CONVENTION ON THE RIGHTS OF THE CHILD (KONVENSI HAK-HAK ANAK). DISAHKAN INDONESIA DENGAN KEPPRES 36 TAHUN 1990. II. OPTIONAL PROTOCOL TO THE CONVENTION ON THE RIGHTS OF THE CHILD ON THE SALE OF CHILDREN, CHILD PROSTITUTION AND CHILD PORNOGRAPHY (PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI PENJUALAN ANAK, PROSTITUSI ANAK, DAN PORNOGRAFI ANAK). (DISAHKAN INDONESIA DENGAN UU 10 TAHUN 2012). III. PROTOCOL TO PREVENT SUPPRESS AND PUNISH TRAFFICKING IN PERSONS, ESPECIALLY WOMEN AND CHILDREN, SUPPLEMENTING THE UNITED NATIONS CONVENTIONS AGAINST TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME (Protokol Palermo). (PROTOKOL UNTUK MENCEGAH, MENINDAK DAN MENGHUKUM PERDAGANGAN ORANG, TERUTAMA PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK, MELENGKAPI KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENENTANG TINDAK PIDANA TRANSNASIONAL YANG TERORGANISASI). (DISAHKAN INDONESIA DENGAN UU 14 TAHUN 2009)
INSTRUMEN UTAMA ADALAH PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI PENJUALAN ANAK, PROSTITUSI ANAK, DAN PORNOGRAFI ANAK ü Sebagai instrumen utama TPESA yang menetapkan hak -hak tambahan dan kewajiban-kewajiban dari Konvensi Hak-Hak Anak. Bentuk komitmen negara kepada dunia internasional untuk melarang bentuk eksploitasi seksual anak meliputi perdagangan anak, pelacuran anak dan pornografi anak.
Pengaturan Definisi dan Perbuatan yang Dilarang dalam Protokol Opsional Jenis TPESA Pasal 2 Definisi: Penjualan Anak Setiap tindakan atau transaksi dimana seorang anak dipindahkan kepada orang lain oleh siapapun atau kelompok demi keuntungan atau dalam bentuk lain, Pasal 3 (Perbuatan yang Dilarang) (i) Menawarkan, mengantarkan atau menerima anak dengan berbagai cara untuk tujuan berikut: a. Eksploitasi seksual anak; b. Mengambil organ tubuh anak untuk suatu keuntungan; c. keterlibatan anak dalam kerja paksa. (ii) Penculikan anak untuk adopsi Definisi: Prostitusi Anak Menggunakan seorang anak untuk aktivitas seksual demi keuntungan atau dalam bentuk lain, Definisi: Pornografi Anak Pertunjukkan apapun atau dengan cara apa saja yang melibatkan anak di dalam aktivitas seksual yang nyata atau eksplisit atau yang menampilkan bagian tubuh anak demi tujuan seksual. Menawarkan, mendapatkan dan menyediakan anak untuk prostitusi Memproduksi, mengirimkan, menyebarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, menjual atau memiliki untuk tujuan pornografi anak
Peran Hakim dalam Kasus TPESA Berdasarkan Protokol Opsional Hakim menjadi pihak yang memiliki peran besar dalam memastikan agar semua aturan hukum di wilayah negara dapat diterapkan secara tepat dan adil. Dalam Protokol Opsional tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh Hakim dalam mengadili kasus TPESA, adalah: 1. 2. Tiap-tiap negara pihak harus menghukum kejahatan ini dengan hukuman-hukuman yang pantas yang mempertimbangkan beratnya kejahatan-kejahatan tersebut [Pasal 2 ayat (3)] Mengabulkan permohonan penyitaan benda-benda yang digunakan atau untuk memfasilitasi serta uang hasil kejahatan TPESA. 3. Melindungi hak-hak dan kepentingan korban TPESA di semua tahapan proses peradilan, dengan cara: • Menginformasikan kepada para korban anak mengenai hak-hak korban, peran dan lingkup, pemulihan waktu dan perkembangan penyelesaian kasus. • Menyertakan pandangan, kebutuhan dan kepentingan para korban anak yang akan dipresentasikan dimasukan ke dalam proses. • Memberikan dukungan pelayanan yang layak kepada korban anak selama proses hukum. • Memberikan perlindungan yang layak kepada rahasia pribadi dan identitas anak serta mengambil tindakan-tindakan yang perlu sesuai dengan hukum nasional untuk menghindari menyebarnya informasi yang menyebabkan korban anak dapat dikenali. • Untuk kasus-kasus tertentu, menyertakan jaminan keselamatan untuk para korban anak dan para keluarganya dan para saksi atas nama mereka, dan intimidasi dan dendam. • Menghindari penundaan yang tidak perlu dalam proses kasus dan pelaksanaan hukuman atau keputusan yang menjamin ganti rugi para korban.
II. INSTRUMEN HUKUM NASIONAL Indonesia telah mengesahkan Protokol Opsional melalui UU 10/2012. Apa dampak pengesahan? Apakah norma di Protokol otomatis berlaku tanpa memerlukan suatu legislasi tersendiri? Ada dua teori cara berlakunya ketentuan hukum internasional dalam sistem hukum nasional. 1. TEORI INKORPORASI/MONISME Aturan hukum internasional secara otomatis menjadi bagian dan berlaku dalam lingkup nasional tanpa memerlukan suatu legislasi nasional tersendiri. Ini karena anggapan bahwa hukum nasional dan internasional adalah dua perangkat hukum dalam satu kesatuan sistem 2. TEORI TRANSFORMASI/DUALISME Aturan hukum internasional berlaku dalam lingkup nasional melalui suatu legislasi nasional tersendiri (dalam peraturan perundang-undangan yang mentransformasikan aturan hukum internasional). Ini konsekuensi logis dari ajaran dualisme yang menganggap hukum internasional dan hukum nasional adalah sistem terpisah dan masing-masing berdiri sendiri. Contoh TRIPS’ Agreement walau sudah disahkan melalui UU 7/1994 tetapi jika UU Bidang HKI belum berubah, norma dalam TRIPS’ belum berlaku.
UU 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tidak tegas mengatur Indonesia menganut paham yang mana. Banyak ahli menyimpulkan Indonesia menganut teori dualisme. Jadi norma-norma hukum internasional walaupun sudah diratifikasi harus diintegrasikan dulu dalam hukum nasional (Seperti UU dll) untuk bisa berlaku. Saat ini belum ada UU khusus Pencegahan dan Pemberantasan TPESA. Norma dan sanksinya terpencar-pencar dalam berbagai UU. Undang-Undang tersebut yaitu: 1. 2. 3. UU 35/2014 Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Penghapusan KDRT) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana diubah dengan UU 19/2016 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 6. Tentang Hak Asasi Manusia 5. 4.
1. UU 35/2014 Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak No 1. 2. Pasal Keterangan Pasal • • Pasal 76 E jo. Pasal 82 Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5. 000, 00 (lima miliar rupiah). Jika dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan Anak. Ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 60. 000, 00 (enam puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 300. 000, 00 (tiga ratus juta rupiah). • • Pasal 76 F jo. Pasal 83 Unsur-Unsur Tindak Pidana • Setiap orang; Melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak; Untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul Setiap orang; Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan Anak.
1. UU 35/2014 Perubahan Atas UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak No 3. Pasal Keterangan Pasal 76 I jo. Pasal 88 Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak. Ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. 000, 00 (dua ratus juta rupiah). Unsur-Unsur Tindak Pidana • • Setiap orang; Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga No 1. Pasal 47 Keterangan Pasal Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp 12. 000, 00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling banyak Rp 300. 000, 00 (tiga ratus juta rupiah). Unsur-Unsur Tindak Pidana • • Setiap orang; Memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual (Pasal 2 huruf a Korban termasuk Anak); Dengan orang lain; Untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
3. Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana diubah dengan UU 19/2016 No 1. Pasal 27 Ayat (1) jo. 45 ayat (1) jo. Pasal 52 Ayat (1) Keterangan Pasal Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1. 000, 00 (satu miliar rupiah) dan dalam hal menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok. Unsur-Unsur Tindak Pidana • • Setiap Orang; Dengan sengaja dan tanpa hak; Mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau, Dokumen Elektronik; Memiliki muatan yang melanggar kesusilaan; Dalam hal memenuhi pula unsur: • Menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok Dalam hal pelaku adalah korporasi sesuai Pasal 52 (4) dipidana dengan pidana pokok ditambah dua pertiga
4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (P TPPO) Pasal Keterangan Pasal 2 Ayat (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang Pasal 2 atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh ayat (1) persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 120. 000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600. 000, 00 (enam ratus juta rupiah). Unsur-Unsur Tindak Pidana • • Setiap orang Melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang Dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain; Untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia.
KOMPONEN PEMENUHAN UNSUR TPPO PERBUATAN/TINDAKAN - Merekrut, Mengangkut, Menampung, Mengirim, Memindahkan, atau - Menerima. CARA - Ancaman kekerasan, Penggunaan kekerasan, Penculikan, Penyekapan, Pemalsuan, Penipuan, Penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, Penjeratan utang, atau Memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan orang yang memegang kendali atas orang lain. (Sesuai Pasal 3 huruf c Protokol Palermo/UU 14/2009 jika Korban adalah Anak Tidak harus penuhi CARA). TUJUAN/MAKSUD Untuk tujuan mengeksploitasi.
EKSPLOITASI DAN PENGATURAN KHUSUS DALAM UU P TPPO Eksploitasi Tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil. Pengaturan Khusus - Percobaan atau Membantu Melakukan TPPO ancaman pidananya sama dengan pelaku. - Persetujuan korban perdagangan orang tidak menghilangkan penuntutan tindak pidana perdagangan orang. - Pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi juga dipidana. - Pelaku tindak pidana perdagangan orang kehilangan hak tagihnya atas utang atau perjanjian lainnya terhadap korban, jika utang atau perjanjian lainnya tersebut digunakan untuk mengeksploitasi korban. - Penyelenggara negara yaitu pejabat pemerintah, anggota TNI/Polri , aparat keamanan, penegak hukum atau pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan atau mempermudah tindak pidana perdagangan orang dipidana.
5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi No 1. Pasal 4 Ayat (1) jo. Pasal 11 jo pasal 29 jo. Pasal 37 Keterangan Pasal Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, atau pornografi anak yang melibatkan anak dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250. 000, 00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 6. 000, 00 (enam miliar rupiah) ditambah 1/3 (sepertiga). Unsur-Unsur Tindak Pidana • • Setiap orang; Memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, atau pornografi anak; Melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek.
5. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi No 2. Pasal 40 Ayat (1) dan (7) Keterangan Pasal Selain pidana denda, korporasi yang melakukan tindak pidana pornografi dapat Dalam hal tindak pidana pornografi dilakukan dijatuhkan pidana tambahan berupa: oleh atau atas nama suatu korporasi, tuntutan a. pembekuan izin usaha; dan penjatuhan pidana dapat dilakukan b. pencabutan izin usaha; terhadap korporasi dan/atau pengurusnya yang c. perampasan kekayaan hasil tindak pidana; untuk korporasi dijatuhi pidana denda atau maksimum pidana dikalikan 3 (tiga) dari d. pencabutan status badan hukum. pidana denda yang ditentukan dalam setiap Ketentuan yang sama berlaku dalam TPPO pasal dan dapat dikenai pidana tambahan dengan penambahan pengaturan berupa pembekuan izin usaha, pencabutan izin pidana pemecatan pengurus dan/atau usaha, perampasan kekayaan hasil tindak pelarangan kepada pengurus tersebut pidana, dan pencabutan status badan hukum. untuk mendirikan korporasi dalam bidang usaha yang sama.
6. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia No 1. 2. Pasal Unsur-Unsur Penting dalam Pasal Keterangan Pasal 64 Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi ekonomi dan setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya, sehingga dapat mengganggu pendidikan, kesehatan fisik, moral, kehidupan sosial, dan mental spiritualnya. Pasal 65 Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta dari berbagai bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. • • • Anak Perlindungan kegiatan eksploitasi ekonomi • • • Anak Perlindungan kegiatan eksploitasi dan pelecehan seksual
SEKIAN & TERIMA KASIH