Injeksi Bahanbahan tambahan Injeksi adalah sediaan steril yang
Injeksi Bahan-bahan tambahan
Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui selaput lendir.
Syarat-syarat obat suntik 1. Aman 2. Harus jernih 3. Tidak berwarna 4. Sedapat mungkin isohidris 5. Sedapat mungkin isotonis 6. Harus steril 7. Bebas pirogen
Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. Bahan obat / zat berkhasiat 2. Zat pembawa / zat pelarut 3. Bahan pembantu / zat tambahan 4. Wadah dan tutup
Bahan obat / zat berkhasiat 1. Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. 2. Pada etiketnya tercantum : p. i ( pro injection ). 3. Obat yang beretiket p. a ( pro analisa) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya, tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi.
Zat pembawa / zat pelarut 1. Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi Na. Cl, injeksi glukosa, injeksi Na. Cl compositus. Menurut FI. ed. IV, zat pembawa mengandung air, menggunakan air untuk injeksi sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. Na. Cl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik. Kecuali dinyatakan lain, injeksi Na. Cl dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi
2. Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. Sesami, Ol. Olivarum, Ol. Arachidis.
Pembawa tidak berair diperlukan apabila : 1)Bahan obatnya sukar larut dalam air 2)Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. 3)Dikehendaki efek depo terapi.
Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0, 2 - 0, 9 (4) Bilangan iodium 79 - 128 (5) Bilangan penyabunan 185 - 200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik NOTE ; Obat suntik dengan pembawa minyak, tidak boleh disuntikkan secara i. v , hanya boleh secara i. m.
BAHAN-BAHAN TAMBAHAN PADA PEMBUATAN OBAT SUNTIK Bahan pembantu adalah substan yang ditambahkan dalam pembuatan sediaan jadi, sehingga obat ini mempunyai sifat-sifat yang lebih baik dan memungkinkan untuk digunakan sebagai obat.
Tujuan penambahan zat pembantu 1. Untuk memelihara kelarutan obat 2. Untuk mencapai isotoni larutan 3. Memelihara stabilitas fisika dan kimia obat 4. Memelihara sterilitas larutan bila diberikan dalam takaran berganda. 5. Mencapai p. H optimal dari sediaan 6. Memudahkan pemakaian obat, dengan mengurangi rasa sakit sewaktu penyuntikan atau mengiritasi jaringan.
Menurut FI. ed. IV, bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan, tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar.
Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna, jika hanya mewarnai sediaan akhir. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dari 5 ml. Kecuali dinyatakan lain berlaku sebagai berikut : ü ü ü Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik, tidak lebih dari 0, 01 Golongan Klorbutanol, kreosol dan fenol tidak lebih dari 0, 5 % Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit, bisulfit atau metabisulfit , tidak lebih dari 0, 2 %
Untuk mendapatkan p. H yang optimal p. H optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7, 4 dan disebut Isohidri. Karena tidak semua bahan obat stabil pada p. H cairan tubuh, sering injeksi dibuat di luar p. H cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut.
Pengaturan p. H larutan injeksi diperlukan untuk: 1. Menjamin stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. 2. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. NOTE : Jika p. H terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati), sedangkan p. H yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl, Vit. C, Vit. B 1.
syarat-syarat umum zat pembantu 1) Harus inner dan tidk toxis. 2) Bahan pembantu, secara kimia, fisika dapat bercampur dengan bahan obat, atau tidak menyebabkan iritasi, maupun reaksi alergi 3) Tidak boleh mengganggu penentuan atau pemeriksaan zat berkhasiat 4) Pengaruh bahan pembantu terhadap liberasi dan sifat resorpsi bahan berkhasiat haruslah diketahui. Dalam hal ini pengaruh negatif tidak dikehendaki
p. H dapat diatur dengan cara : 1. Penambahan zat tunggal , misalnya asam untuk alkaloida, basa untuk golongan sulfa. 2. Penambahan larutan dapar, misalnya dapar fosfat untuk injeksi, dapar borat untuk obat tetes mata.
Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : 1. Kecuali darah, cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. 2. Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. 3. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang, maka sebaiknya obat didapar pada p. H yang tidak jauh dari isohidri. Jika kestabilan obat pada p. H yang jauh dari p. H isohidri, sebaiknya obat tidak usah didapar, karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar.
Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. ( darah, air mata ). Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh. Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh
Osmosa adalah proses perlintasan molekul-molekul pelarut melalui membrane semi permiabel. tonisitas adalah konsentrasi relatif dari zat terlarut yang dilarutkan dalam larutan yang menentukan arah dan tingkat difusi.
Larutan dengan konsentrasi partikel (molariti) yang sama, akan mempunyai tekanan osmosa yang sama pula, dan larutan ini dikatakan isotonis. “isoosmotis= isotonis
Isotonis/ isoosmotik: suatu larutan mempunyai konsentrasi zat terlarut sama dengan konsentrasi zat terlarut di dalam sel darah (Suatu larutan memiliki tekanan osmosis yang sama dengan tekanan osmotik sel darah) • Setara dengan Na. Cl 0, 9% /penurunan titik beku 0, 52°C (titik beku-0, 52 °C)
Hipotonis q. Hipotonis: larutan yang konsentrasi zat terlarut lebih kecil/ tekanan osmosis lebih rendah/penurunan titik beku lebih kecil dari dalam sel darah. q. Cairan melintasi membran sel darah (tekanan dalam sel mjd lebih besar dan sel darah lisis /hemolisa q. Hipertonis (lawan hipotonis)
Batas tonisitas yang masih dapat ditolerir adalah: 0, 7 % sampai dengan 1, 4 % Na. Cl dalam buku lain 0, 5%-1, 6% larutan Na. Cl
Sediaan parental yang harus isotonis vsubcutan(SC) Jika tidak isotonis, akan terasa sakit, sel-sel disekitar penyuntikan akan rusak (nekrosis) dan resorpasi obat akan terganggu. v. Intrathekal Injeksi ke dalam cairan cerebrospinal saluran sumsum tulang belakang penyimpangan akan menyebabkan rangsangan pada selaput otak.
Infus (intravena dalam jumlah besar) Bila terlalu jauh menyimpang dan disuntikan dalam jumlah besar bisa terjadi hemolisa (erythrocit hancur dan Hb akan keluar)
Bahan-bahan pembantu yang banyak dipakai untuk pembuatan larutan isotonis ialah: Na. Cl-glucose-natriumcitratacidum boricum-KN 03
Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah, cairan lumbal, air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan Na. Cl 0, 9 % b/v. 2. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh, yaitu - 0, 520 C.
NOTE Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan Na. Cl 0, 9 % b/v, disebut " hipertonis ", jika lebih kecil dari larutan Na. Cl 0, 9 % b/v disebut " hipotonis " Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan, air dalam sel akan ditarik keluar dari sel , sehingga sel akan mengkerut, tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel, akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. Jika yang pecah itu sel darah merah, disebut " Haemolisa ". Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis, kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis, tetapi jangan sampai hipotonis. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan Na. Cl 0, 6 - 2, 0 % b/v.
Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai, yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku. Penurunan titik beku darah, air mata adalalah 0, 520 C. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : 1) Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB). 2) Dengan cara Equivalensi Na. Cl. 3) Dengan cara derajat disosiasi. 4) Dengan cara grafik
Cara PTB dengan rumus menurut FI. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata, jika membeku pada suhu -0, 520 C. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan Na. Cl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : 0, 52 -b 1 c B= b 2
Rumus-1 : 0, 52 - b 1 c B= b 2 B adalah bobot zat tambahan ( Na. Cl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan 0, 52 adalah titik beku cairan tubuh ( -0, 520 ) b 1 adalah PTB zat khasiat C b 2 adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( Na. Cl )
Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 ; maka b 1 C = 0, 52 2. Keadaan hipotonis apabila nilai B positip ; maka b 1 C < 0, 52 3. Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip ; maka b 1 C > 0, 52
Contoh soal : Jika diketahui bahwa penurunan titik beku air yang disebabkan oleh 1 % b/v Asam Borat 0, 288 , maka kadar asan borat dalam 300 ml larutan asan borat isotonis adalah. . . . Jawab : Misalkan kadar asam borat = X%b/v B= 0, 52 - b 1 C b 2 0, 52 - 0, 288 * X Agar isotonis, maka 0 = b 2 0, 288 X = X= 0, 52 1, 805
Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis, kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis, tetapi jangan sampai hipotonis. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan Na. Cl 0, 6 - 2, 0 % b/v.
Sedapat mungkin isohidris, dimaksudkan agar bila diinjeksikan ke badan tidak berasa sakit dan penyerapannya obat dapat optimal. Isohidris artinya p. H larutan injeksi sama dengan darah dan cairan tubuh lain yaitu p. H= 7, 4.
Cara Ekivalensi Na. Cl. Yang dimaksud dengan ekivalen dari Na. Cl ( E ) adalah sekian gram Na. Cl yang memberikan efek osmose yang sama dengan 1 gram dari suatu zat terlarut tertentu. Jika E Efedrin HCl = 0, 28 ; berarti tiap 1 gram Efedrin HCl = 0, 28 gram Na. Cl. Jadi dapat dianalogikan sebagai berikut : Ex = a ; artinya tiap 1 gram zat X ~ a gram Na. Cl Ex = E ; artinya tiap 1 gram zat X ~ E gram Na. Cl Jika bobot zat X = W gram, maka ekivalennya adalah = W x E gram Na. Cl Larutan isotonis Na. Cl 0, 9 % b/v ; artinya tiap 100 ml Na. Cl terdapat 0, 9 gram Na. Cl
Jika bobot Na. Cl = W x E gram ; maka Volume yang isotonis adalah ( W x E )100/0, 9 ; sehingga dapat kita rumuskan sebagai berikut : Rumus-2 V’ = ( w x E ) 100/0, 9 = ( w x E) 111, 1 Keterangan : V' = Volume larutan yang sudah isotonis dalam satuan ml. W = bobot zat aktif dalam satuan gram E = Nilai ekivalensi zat aktip
Jika Volume larutan = V ml dan Volume yang sudah isotonis = V' ml ; maka Volume yang belum isotonis adalah (V - V') ml , sedangkan volume untuk tiap 100 ml Na. Cl agar isotonis ~ 0, 9 gram Na. Cl, maka bobot Na. Cl ( B ) yang masih diperlukan agar larutan menjadi isotonis adalah ( V - V ' ) x 0, 9 / 100 , maka B = ( V - V ' ) x 0, 9 / 100 atau B = ( 0, 9/100 x V ) - ( 0, 9/100 x V' ). Jika V' kita ganti dengan ( W x E ) 100 / 0, 9 , maka B = { 0, 9/100 x V } – { 0, 9/100 x ( W x E ) 100/0, 9 }
akhirnya kita dapatkan rumus sebagai berikut : Rumus-3 : B = 0, 9/100 x V - ( W x E ) Keterangan : B = bobot zat tambahan dalam satuan gram. V = Volume larutan dalam satuan ml W = bobot zatkhasiat dalam satuan gram E = Ekivalensi zat aktif terhadap Na. Cl
Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 ; maka 0, 9/100 x V = ( W x E ). 2. Keadaan hipotonis apabila nilai B positip; maka 0, 9/100 x V > ( W x E ). 3. Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip; maka 0, 9/100 x V < ( W x E )
Contoh Soal Bila 0, 76 gram Na. Cl harus ditambahkan ke dalam 100 ml 1 % b/v larutan Atropin Sulfat, maka larutan Atropin Sulfat isotonis adalah. . . Cara 1 : E Atropin sulfat = 0, 900 - 0, 760 = 0, 140 Artinya 1 gram Atropin sulfat ~ 0, 14 gram Na. Cl (dalam 100 ml). Jadi untuk larutan isotonis 0, 9 gram Na. Cl dalam 100 ml ekivalen dengan 0, 9/0, 14 x 1 gram Atropin sulfat = 6, 43 gram/100 cc = 6, 43 % b/v
Cara 2: E Atropin sulfat = 0, 900 - 0, 760 = 0, 140 ; dan volume 100 ml Dengan rumus 3 jika isotonis = 0, 9/100 x 100 = W x 0, 140 W= 0, 9/0, 140= 6, 43 Jadi larutan Atropin Sulfat isotonisnya adalah 6, 43 gram dalam 100 ml atau 6, 43 % b/v
Untuk mendapatkan isoioni Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ion-ion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++, Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena.
Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. 2. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. 3. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. 4. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.
Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. 2. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.
zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na.
Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk: 1. Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N 2 atau gas CO 2. b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O 2 dari udara. Contohnya : penambahan Na-metabisulfit/Na-pirosulfit 0, 1 % b/v pada larutan injeksi Vit. C, Adrenalin dan Apomorfin.
2. Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas/wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. 3. Mencegah terjadinya perubahan p. H dengan menambah larutan dapar. 4. Menambah/menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol. Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin.
Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : q q q Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup karet. Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial (flakon ) , botol.
Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat 2. Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. 3. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. 4. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. 5. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. 6. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "
Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ). Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO 2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida.
Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas/kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksiminyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : 1. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. 2. Setelah dingin tidak boleh keruh. 3. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat).
Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium/Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.
Cara sterilisasi : masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0, 1 % selama tidak kurang dari 48 jam.
- Slides: 56