I S A K 12 I N 0

  • Slides: 18
Download presentation
I S A K 12 I N 0 U T 2 MR E O

I S A K 12 I N 0 U T 2 MR E O A K M I 9 R 1 O , TEE N I N S

Belajar teori, artinya belajar mengenai fenomena, tanpa harus mengalaminya. Pengetahuan mengenai teori : •

Belajar teori, artinya belajar mengenai fenomena, tanpa harus mengalaminya. Pengetahuan mengenai teori : • Mengetahui asumsi dasarnya • Memahami karakteristik dalam berbagai perspektif • Mengetahui manfaat teori dalam penelitian dalam praktek sosial masyarakat

PENGELOMPOKAN TEORI KOMUNIKASI • Berdasarkan level (massa, organisasi, kelompok, dll) • Berdasarkan aspek komunikasi

PENGELOMPOKAN TEORI KOMUNIKASI • Berdasarkan level (massa, organisasi, kelompok, dll) • Berdasarkan aspek komunikasi (komunikator, komunikan, pesan, media, dll) • Berdasarkan keragamaman perspektif • Berdasarkan tradisi kajian komunikasi • Berdasarkan teknologi komunikasi dan masyarakat

PENGEMBANGAN WAWASAN • Aplikasi teori komunikasi dalam memahami berbagai realitas komunikasi • Teori komunikasi

PENGEMBANGAN WAWASAN • Aplikasi teori komunikasi dalam memahami berbagai realitas komunikasi • Teori komunikasi dan metode dalam penggunaannya • Isu dan perkembangan kontemporer yang terkait dengan teori komunikasi • Perspektif dan cabang ilmu lain yang mempengaruhi teori komunikasi

RUJUKAN • Littlejhon & Karen A Foss (Theories of Human Communication) Cengage learning •

RUJUKAN • Littlejhon & Karen A Foss (Theories of Human Communication) Cengage learning • Katherine iller (Communication theories erspectives, processes, and contexts) MC Graw Hill • m Griffin (A First Look at Communication Theory) MC Graw Hill

DEFINISI TEORI Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan

DEFINISI TEORI Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan di antara konsep-konsep tersebut yang akan membantu kita untuk memahami sebuah fenomena (Stephen Littlejohn & Karren Foss (2005), menyatakan bahwa sistem yang abstrak ini didapatkan dari pengamatan yang sistematis). Jonathan H Turner (1986) Mendefinisikan teori sebagai sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi. Fred Kerlinger, teori adalah konsep diri, definisi, proposisi untuk menjelaskan hubungan unsur suatu fenomena dengan tujuan untuk mengontrolnya.

PARADIGMA TEORI KOMUNIKASI Paradigma diartikan sebagai kacamata atau sudut pandang dalam melihat obyek sesuatu

PARADIGMA TEORI KOMUNIKASI Paradigma diartikan sebagai kacamata atau sudut pandang dalam melihat obyek sesuatu yang diamati. Menurut Kuhn (1970). Paradigma adalah satu kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Paradigma juga inti dari ilmu pengetahuan. Meskipun paradigma memiliki posisi dan kedudukan yang kuat dalam ilmu pengetahuan, namun paradigma dapat mengalami perubahan sesuai kemajuan pengetahuan dan kepentingan praktis masyarakat. Disiplin ilmu lahir sebagai proses revolusi paradigma. Bisa jadi, suatu pandangan teori ditumbangkan oleh pandangan teori baru yang mengikutinya.

KLASIFIKASI PARADIGMA TEORI KOMUNIKASI Penggolongan paradigma bermacam-macam sesuai dengan asumsi dan cara pikir ahli

KLASIFIKASI PARADIGMA TEORI KOMUNIKASI Penggolongan paradigma bermacam-macam sesuai dengan asumsi dan cara pikir ahli dibidangnya masing-masing. Menurut Dedy N. Hidayat, paradigma-paradigma tersebut diantaranya: 1. Paradigma Klasik (Classical Paradigm) 2. Paradigma Konstruktivis (Constructivism Paradigm) 3. Paradigma Kritis (Critical Paradigm)

1. PARADIGMA KLASIK (CLASSICAL PARADIGM) Paradigma ini menempatkan ilmu-ilmu sosial seprti halnya ilmu-ilmu alam

1. PARADIGMA KLASIK (CLASSICAL PARADIGM) Paradigma ini menempatkan ilmu-ilmu sosial seprti halnya ilmu-ilmu alam fisika. Menempatkan ilmu sosial sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris. Bertujuan menemukan hubungan sebab akibat yang dapat digunakan untuk memprediksi pola-pola umum dari gejala sosial tertentu. Menurut Dedy N Hidayat, bersifat interventionist yakni melakukan pengujian hipotesis dalam struktur hypotetico-deductive method, melalui laboratorium, eksperimen, atau survey eksplanatif dengan analisis kuantitatif. Dengan demikian objektivitas, validitas dan reliabilitas

2. PARADIGMA KONSTRUKTIVIS (CONSTRUCTIVISM PARADIGM) Menurut Paradigma ini, antara peneliti dengan subjek yang diteliti,

2. PARADIGMA KONSTRUKTIVIS (CONSTRUCTIVISM PARADIGM) Menurut Paradigma ini, antara peneliti dengan subjek yang diteliti, perlu acta empati dan interaksi dialektis agar mampu merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif seperti “participant observation” Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action. Ilmu diperoleh melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap perilaku sosial dalam suasana keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan atau mengelola dunia sosial mereka.

Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua

Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum klasik. Paradigma konstruktivisme menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri. Kajian paradigma konstruktivisme ini menempatkan posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan berusaha memahami dan mengkonstruksikan sesuatu yang menjadi pemahaman si subjek yang akan diteliti.

3. PARADIGMA KRITIS (CRITICAL PARADIGM) Paradigma kritis lebih berorientasi “participative” dalam arti menggutamakan analisis

3. PARADIGMA KRITIS (CRITICAL PARADIGM) Paradigma kritis lebih berorientasi “participative” dalam arti menggutamakan analisis komprehensif, kontekstual, multi level analisis dan peneliti berperan sebaagi aktivis/partisipan. Paradigma ini mendefinisikan ilmu sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap “the real structures” dibalik ilusi atau kesadaran palsu yang ditampakkan dipermukaan. Bertujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar seseorang atau masyarakat dapat memperbaiki dan merubah kondisi kehidupannya.

Paradigma ini memiliki ide suatu teori atas ketidakadilan yang terjadi dibalik fenomena sosial. Teori

Paradigma ini memiliki ide suatu teori atas ketidakadilan yang terjadi dibalik fenomena sosial. Teori kritis banyak diilhami oleh ajaran Marxis atau neo-Marxis (kiri baru). Dalam teori kritis, perilaku orang akan mengubah makna konteks yang terkandung selanjutnya. Teori kritis bersifat aktif dalam menciptakan makna, bukan hanya sekedar pasif menerima makna atas dasar perannya pada teori konflik.

TINGKAT GENERALITASNYA 1. Teori dalam arti luas (Grand Theory) Bertujuan untuk menjelaskan semua perilaku

TINGKAT GENERALITASNYA 1. Teori dalam arti luas (Grand Theory) Bertujuan untuk menjelaskan semua perilaku komunikasi dengan cara yang benar secara universal Grand theory mampu menyatukan semua pengetahuan tentang komunikasi yang kita miliki ke dalam suatu kerangka yang terintegrasi (Sungguh sangat sulit menciptakan grand theory, karena terdapat terlalu banyak kasus di mana teori komunikasi berbeda dari satu kelompok ke kelompok lainnya atau ketika perilaku komunikasi dimodifikasi oleh perubahan-perubahan dalam konteks atau waktu)

TEORI DALAM ARTI MENENGAH (MID RANGE THEORY) Mid range theory, menjelaskan perilaku dari sekelompok

TEORI DALAM ARTI MENENGAH (MID RANGE THEORY) Mid range theory, menjelaskan perilaku dari sekelompok orang dan bukannya semua orang, sebagaimana yang dilakukan oleh Grand Theory, dan tidak berusaha untuk menjelaskan perilaku dari semua orang berdasarkan konteks dan waktu tertentu. Contoh : teori-teori dengan pertimbanga waktu (uncertainty reduction theory), konteks (komunikasi dalam kelompok kecil dijelaskan oleh group think), atau tipe perilaku komunikasi (perilaku konflik dijelaskan oleh face negotiation theory)

TEORI DALAM ARTI SEMPIT (NARROW THEORY) Narrow theory, lebih menjelaskan pada orang-orang tertentu, pada

TEORI DALAM ARTI SEMPIT (NARROW THEORY) Narrow theory, lebih menjelaskan pada orang-orang tertentu, pada situasi yang tertentu pula. Lebih terspesifikasi dan terfokus Contoh : teori yang berfokus pada simbol interaksi (teori interaksi simbolik), teori yang berfokus pada pesan atau pengiriman pesan (teori retorika), teori yang melihat komunikasi sebagai alat pengembangan hubungan (teori penetrasi sosial), dll

BAGIAN PENTING DARI TEORI 1. Konsep Konep adalah kata-kata atau istilah yang memberikan label

BAGIAN PENTING DARI TEORI 1. Konsep Konep adalah kata-kata atau istilah yang memberikan label elemen paling penting dalam sebuah teori. Beberapa teori dinamami dengan menggunakan konsep-konsep pokoknya, Contoh : Disonansi (cognitive dissonance theory), interaksi (symbolic interaction theory) Ada 2 jenis konsep : • Konsep nominal (konsep-konsep yang tidak dapat diamati) Ex : Demokrasi, Kredibilitas, perasaan, dll • Konsep nyata (konsep-konsep yang dapat diamati) Ex : jarak spasial, kegiatan, program, dll 2. Hubungan adalah cara-cara di mana konsep dalam sebuah teori dikombinasikan.

FUNGSI TEORI (LITTLEJHON) 1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. 2. Memfokuskan. Pada

FUNGSI TEORI (LITTLEJHON) 1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. 2. Memfokuskan. Pada dasarnya teori hanya menjelaskan suatu hal bukan banyak hal. 3. Menjelaskan. Maksudnya teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamati. 4. Pengamatan. Teori tidak saja menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana “cara” mengamatinya. 5. Prediksi atau perkiraan. Fungsi ini penting sekali bagi bidang-bidang kajian ilmu komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media massa. 6. Heuristik. Fungsi ini harus mampu menstimuli penelitian selanjutnya, bila konsep -konsepnya jelas dan memiliki penjelasan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penellitian-penelitian selanjutnya. 7. Komunikasi. Teori ini harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritik-kritik, sehingga penyempurnaan teori dapat dilakukan 8. Normatif. Mampu mengontrol kehidupan manusia atau masyarakat, karena teori ini sangat berpotensi berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupanmasyarakat sehari.