HUKUM ISLAM Pengertian Hukum Islam Pembagian Hukum Islam

  • Slides: 16
Download presentation
HUKUM ISLAM Pengertian Hukum Islam Pembagian Hukum Islam Tujuan Hukum Islam

HUKUM ISLAM Pengertian Hukum Islam Pembagian Hukum Islam Tujuan Hukum Islam

PENGERTIAN HUKUM ISLAM • Menurut bahasa (etimologi) hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau

PENGERTIAN HUKUM ISLAM • Menurut bahasa (etimologi) hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakan sesuatu • Menurut istilah (terminologi) Titah Allah (sabda Rasul) mengenai pekerjaan orang mukallaf, baik titah itu bersifat imperatif dan fakultatif (taklif) maupun berupa ketetapan sesuatu sebagai sebab, syarat dan penghalang (wadh’i).

PEMBAGIAN HUKUM • HUKUM TAKLIF • HUKUM WADH’I

PEMBAGIAN HUKUM • HUKUM TAKLIF • HUKUM WADH’I

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN HUKUM TAKLIF • Pengertian hukum Taklif, yaitu Firman Allah yang menuntut

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN HUKUM TAKLIF • Pengertian hukum Taklif, yaitu Firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan atau memilih antara melakukan dan meninggalkan. • Pembagiannya: – – – Wajib Nadb (sunnat) Ibahah (boleh) Karahah (makruh) Tahrim (haram)

PEMBAGIAN WAJIB 1. Dilihat dari segi waktu: a. Wajib mutlaq, yaitu kewajiban (tuntutan) disyariatkan

PEMBAGIAN WAJIB 1. Dilihat dari segi waktu: a. Wajib mutlaq, yaitu kewajiban (tuntutan) disyariatkan tanpa ditentukan waktunya. Contoh: kewajiban membayar kaffarah bagi orang yang melaggar sumpahnya. b. Wajib muwaqqat, yaitu kewajiban yang harus dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Contoh: Shalat, puasa, haji dan sebagainya.

 • Wajib Muwaqqat terbagi kepada: – Wajib muwassa’, yaitu kewajiban yang waktu disediakan

• Wajib Muwaqqat terbagi kepada: – Wajib muwassa’, yaitu kewajiban yang waktu disediakan lebih lama dari pada pelaksanaannya. – Wajib mudhayyaq, yaitu waktunya persis sama dengan palksanaannya. – Wajib zu al-Syibhaen, yaitu kawajiban yang mirip dengan muwassa’ dan mirip pula dengan mudhayyiq.

 • Wajib Muwaqqat dari segi pelaksanaannya terdiri dari: – ‘Ada’ : segala kewajiban

• Wajib Muwaqqat dari segi pelaksanaannya terdiri dari: – ‘Ada’ : segala kewajiban yang dikerjakan dalam waktunya yang telah ditentukan. – I’aadah: kewajiban yang dikerjakan sekali lagi dalam waktunya karena yang pertama dikerjakan tidak begitu sempurna. – Qadha’: kewajiban yang dilaksanakan sesudah lewat waktunya yang telah ditentukan.

2. Dilihat dari segi ukuran yang diwajibkan: a. Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan

2. Dilihat dari segi ukuran yang diwajibkan: a. Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan ukurannya oleh syara’. Misalnya jumlah harta yang wajib dizakati dan jumlah rakaat shalat. b. Wajib gairu muhaddad, yaitu kewajiban yang tidak ditentukan ukurannya tetapi diserahkan kepada mukallaf. Seperti infaq, memberi makan kepada fakir miskin dsb.

3. Dilihat dari segi orang yang dibebani: a. Wajib ‘Ainy, yaitu kewajiban yang ditujukan

3. Dilihat dari segi orang yang dibebani: a. Wajib ‘Ainy, yaitu kewajiban yang ditujukan kepada setiap pribadi orang mukallaf. b. Wajib Kifayah, yaitu kewajiban yang ditujukan kepada seluruh orang mukallaf, tetapi apabila telah dikerjakan oleh sebagian dari mereka, maka kewajiban itu dianggap telah terpenuhi dan orang yang tidak mengerjakan tidak dituntut untuk melaksanakannya.

4. Dilihat dari segi kandungan perintah: a. Wajib Muayyan, yaitu kewajiban yang dituntut adanya

4. Dilihat dari segi kandungan perintah: a. Wajib Muayyan, yaitu kewajiban yang dituntut adanya oleh syara’ secara khusus. Membaca al-fatihah dalam shalat, dsb. b. Wajib mukhayyar, yaitu kewajiban yang bisa dipilih di antara pekerjaan tertentu. Misalnya dalam perkara sumpah kaffarah.

PEMBAGIAN NADAB (SUNNAT) • Sunnat mu’akkadah • Sunnat gairu mu’akkadah • Sunnat zaidah

PEMBAGIAN NADAB (SUNNAT) • Sunnat mu’akkadah • Sunnat gairu mu’akkadah • Sunnat zaidah

PEMBAGIAN MUBAH • Ulama Ushul: – Mubah yang apabila dilakukan atau tidak dilakukan, tidak

PEMBAGIAN MUBAH • Ulama Ushul: – Mubah yang apabila dilakukan atau tidak dilakukan, tidak mengandung mudharat. Contoh: makan, minum, berpakaian dsb. – Mubah yang apabila dilakukan tidak ada mudharatnya, sedangkan perbuatan itu sendiri pada dasarnya diharamkan. Seperti memakan daging babi karena tidak ada makan lain.

PEMBAGIAN MAKRUH • Makruh Tanzih: suatu tuntutan oleh syar’i untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang

PEMBAGIAN MAKRUH • Makruh Tanzih: suatu tuntutan oleh syar’i untuk ditinggalkan dengan tuntutan yang tidak pasti. • Makruh Tahrim: tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan dengan cara yang pasti, tetapi didasarkan pada dalil yang zhanni. Contoh: larangan memakai kain sutra dan perhiasan emas bagi laki-laki.

PEMBAGIAN TAHRIM (HARAM) • Haram lizatih: suatu keharaman langsung dan sejak semula ditentukan keharamannya.

PEMBAGIAN TAHRIM (HARAM) • Haram lizatih: suatu keharaman langsung dan sejak semula ditentukan keharamannya. Contoh: berzina, judi, dsb. • Haram ligairih: sesuatu yang pada mulanya dibolehkan, tetapi dibarengi oleh suatu yang dapat mendatangkan mudharat bagi manusia. Contoh melaksanakan shalat dengan pakaian dari hasil curian.

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN HUKUM WADH’I • Hukum Wadh’i ialah Firman Allah Swt. Yang menuntut

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN HUKUM WADH’I • Hukum Wadh’i ialah Firman Allah Swt. Yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang dari yang lain. • Hukum Wadh’i terbagi kepada: – Sebab – Syarat – Mani’ - Shah - Bathil - Azimah dan Rukhshah

TUJUAN HUKUM ISLAM • Untuk menjadi pedoman bagi manusia serta alat untuk mangutur diri

TUJUAN HUKUM ISLAM • Untuk menjadi pedoman bagi manusia serta alat untuk mangutur diri dan masyarakat dalam menjalani hidup dan kahidupannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. • Untuk menjadi alat penyeimbang antara unsur kebaikan dan kejahatan yang terdapat dalam diri manusia. • Wahana untuk mendidik manusia agar menjadi suci lahir dan bathin.