HISAB MENURUT MUHAMMADIYAH Antara Realita Dalil Syari Oleh
HISAB MENURUT MUHAMMADIYAH (Antara Realita & Dalil Syar’i) Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i, S. Th. I
DASAR HISAB MAH I D D A MUQ Dalam penentuan awal bulan kamariah, hisab memiliki kedudukan yg sama dg rukyat. OKI, hisab sah secara syar’i : [٥: ٥٥] ﺍﻟ ﺍ ﺍ Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar-Rahman : 5) ﺍﻱ ﺍﻟ ﺍ ﺍ ﻭﺍ ﺍﻟ ﻳ ﺍﺍ Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (Yunus : 5)
ﺻﻠﻰ - ﺍ ﻭ ﺍﻟ - ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ - ﻯ ﺍ ﺍﻟ ﺍﻟ . « ﻭ » ﺍ ﻭ ﻭﻭﺍ ﺍ ﻭ ﻭﺍ ﺍﻭﺍ - ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ Telah menceritakan kepada kami Salim bin Abdillah bahwa Abdullah bin Umar RA berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila melihat hilal maka berbukalah (beridul fitri) maka jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah (HR. Bukhari, beserta lafalnya, juga diriwayatkan oleh Muslim) ﻻ ﻻ ﺍﻟ ﺍ ﺍ » ﺍ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺍﻟ - ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ - ﺍ ﺍﻷ ﺍ ﻳ ﻭ ﻳ ﺍ ﺍﻳﻌﻨﻲ ﻣﺮﺓ ﺗﺴﻌﺔ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻭﻣﺮﺓ ﺛﻼﺛﻴﻦ Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari al-Aswad bin Qais berkata : Aku mendengar Sa’id bin Amr bin Sa’id bahwa dia mendengar Abdullah bin Umar bercerita dari Nabi saw bersabda : Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak bisa menulis dan melakukan hisab, bulan itu adalah demikian 2, (kadang 2 29 atau 30 hari) (HR. Bukhari & Muslim)
Wajhuh istidlal (cara memahami-nya) adalah bahwa pada surat ar-Rahman : 5 dan Yunus : 5, Allah swt menegaskan bahwa benda-benda langit berupa matahari dan Bulan beredar dalam orbitnya dengan hukum-hukum yang pasti sesuai ketentuan-Nya. Oleh karena itu peredaran benda-benda langit tersebut dapat dihitung (dihisab) secara tepat. Penegasan kedua ayat ini tidak sekedar pernyataan informative belaka, karena dapat dihitung dan dipridiksinya peredaran benda-benda langit itu, khususnya matahari dan bulan, bisa diketahui manusia sekalipun tanpa informasi samawi. Penegasan itu justru merupakan pernyataan imperatif yg memerintahkan untuk memperhatikan dan mempelajari gerak dan peredaran benda-benda langit itu yg membawa banyak kegunaan seperti untuk meresapi keagungan sang pencipta. Dan untuk kegunaan praktis bagi manusia sendiri antara lain untuk dapat menyusun suatu system pengorganisasian waktu yg baik seperti dengan tegas dinyatakan oleh surat Yunus ayat 5 (… agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu)
REALITA & DALIL SYAR’I ZAMAN NABI SAW & SAHABAT Pada zaman Nabi saw & Sahabat tidak menggunakan hisab untuk menentukan masuknya bulan baru kamariah, melainkan menggunakan rukyat karena keadaan umat yg waktu itu masih ummi. (metode manual : melihat bulan dg mata telanjang yaitu bila hilal terlihat secara fisik berarti bulan baru dimulai pd malam itu dan keesokan harinya dan bila hilal tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan 30 hari dan bulan baru dimulai lusa) KONTEKSTUALISASI ZAMAN Muhammadiyah mencoba mengkontekstualisasikan dalil dg fenomena kondisi zaman sekarang (suitable QS. Yunus & ar-Rahman : 5) dg alat bantu qaidah ushul dan fikhiyah sbg pijakan proses istinbath ahkam serta data 2 ilmiah tentang astronomi (ilmu astronomi)
ALASAN KONTEKSTUALISASI MUHAMMADIYAH DALIL AQLI (ILMIAH) DALIL NAQLI (NASH) 1. semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55: 5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. 1. dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
2. jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab. 2. rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24 jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
iah m l I ber Sum Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”. Argumentasi Muhammadiyah Tentang Hisab
METODE HISAB MUHAMMADIYAH Deskripsi Hisab yang dimaksud dan digunakan untuk penentuan awal bulan baru kamariah di lingkungan Muhammadiyah adalah hisab hakiki wujudul hilal. Dalam hisab hakiki wujudul hilal, bulan baru kamariah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria : Telah terjadi ijtimak (konjungsi) Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam Pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (Bulan belum terbenam)
3. Jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan. 4. rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau
STANDARD PENILAIAN KOMULATIF YAITU ; ketiganya harus terpenuhi sekaligus, jika salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum dimulai. Apabila ketiga kriteria di atas sudah terpenuhi dikatakanlah hilal telah wujud, artinya bulan baru telah mulai. DASAR ; QS. Yasin : 39 -40 Bulan beredar mengelilingi bumi rata 2 selama : 29 hari 12 jam 44 menit 2, 8 detik (29, 5 hari). Dalam perjalanan keliling itu Bulan dapat mengejar matahari sebanyak 12 kali dalam 1 tahun, yaitu saat terjadinya ijtimak. Saat terjadi ijtimak menandai Bulan telah cukup umur satu bulan karena ia telah mencapai titik finish dalam perjalanan kelilingnya. OKI, kita dapat memanfaatkannya sebagai kriteria mulainya bulan baru.
Lanjutan Titik Koordinat : lintang = -070 48’ dan bujur 1100 21’ n General Definitio ‘Hisab Hakiki” adalah metode hisab yg berpatokan pada gerak benda langit, khususnya Matahari dan Bulan faktual (sebenarnya) “Wujudul Hilal” adalah istilah yg digunakan untuk menggambarkan pada saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam. Secara Geometrik : pada saat Matahari terbenam posisi bulan masih di atas ufuk berapapun tingginya.
Konjungsi : adalah peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat. Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Pada saat tertentu, konjungsi ini dapat menyebabkan terjadinya gerhana matahari. Saat konjungsi/ijtima adalah saat Bulan berada diantara Matahari-Bumi, dimana wajah Bulan menjadi tidak nampak dari Bumi. Para astronom menyebut ijtima atau konjungsi itu sebagai ’New Moon’ (Bulan baru) atau disebut juga ’Bulan mati’ karena wajahnya tidak tampak. Dengan kata lain, konjungsi Bulan terjadi saat bulan baru.
NEW MOON
OLD MOON
Keterangan • A (Kawasan yg memasuki Ramadhan tgl 28 Juni 2014) • B (Kawasan yg memasuki Ramadhan tgl 29 Juni 2014) Diskripsi : Garis yg membentang dr arah barat laut ke tenggara merupakan petunjuk bahwa di tempat-tempat yg terlewati garis itu pd hari jum’at 27 Juni 2014 Matahari dan Bulan terbenam bersamaan. Kawasan A adalah tempat-tempat yg pd hari jum’at 27 juni, matahari terbenam lebih dulu dr terbenam Bulan, sedangkan kawasan B adalah sebaliknya. Garis tersebut melewati utara sabang, utara pontianak, Balikpapan, dan Kendari. Menurut kriteria wujudul hilal, kawasan A sdh masuk tgl 1 Ramadhan 1435 H sejak maghrib hari jum’at, 27 Juni 2014 (konversinya sabtu, 28 Juni 2014), sdgkan kawasan B baru masuk tanggal 1 Ramadhan sejak maghrib, sabtu 28 Juni 2014 (konversinya Ahad 29 Juni 2014).
Karena menggunakan kriteria wujudul hilal menganut teori mutlak wilayatul-hukmi, yaitu pd suatu hari yg sama hanya ada 1 tanggal di seluruh wilayah Indonesia, maka kawasan B mengikuti tanggal yg ada di kawasan A. dg demikian 1 Ramadhan 1435 H ditetapkan mulai maghrib hari Jum’at 27 Juni 2014 (konversinya Sabtu 28 Juni 2014) untuk seluruh wilayah Indonesia.
- Slides: 22