FERTILITAS KELAHIRAN KONSEPDEFINISI FERTILITAS dan FEKUNDITAS FERTILITAS Hasil

  • Slides: 39
Download presentation
FERTILITAS (KELAHIRAN)

FERTILITAS (KELAHIRAN)

KONSEP-DEFINISI FERTILITAS dan FEKUNDITAS FERTILITAS: Hasil reproduksi nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita

KONSEP-DEFINISI FERTILITAS dan FEKUNDITAS FERTILITAS: Hasil reproduksi nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita atau fertilitas yang menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Berarti FERTILITAS: Kemampuan seorang wanita untuk melahirkan hidup seorang anak. Sedangkan Potensi seorang wanita untuk melahirkan disebut FEKUNDITAS.

JUMLAH KELAHIRAN Jumlah kelahiran: banyaknya kelahiran hidup yang terjadi pada waktu tertentu di wilayah

JUMLAH KELAHIRAN Jumlah kelahiran: banyaknya kelahiran hidup yang terjadi pada waktu tertentu di wilayah tertentu. ANAK LAHIR HIDUP (ALH = Children Ever Born) Suatu kelahiran seorang bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misal: bernafas, ada denyut jantung atau denyut tali pusat atau gerakan-gerakan otot (live birth).

LAHIR MATI (STILL BIRTH): Kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur Paling sedikit 26

LAHIR MATI (STILL BIRTH): Kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur Paling sedikit 26 minggu tanpa menunjukkan tanda kehidupan. Anak Masih Hidup (AMH-Children Still Living) Jumlah anak yang masih hidup yang dimiliki seorang wanita sampai saat wawancara dilakukan.

ABORTUS (ABORTION): Kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 (20) minggu.

ABORTUS (ABORTION): Kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 (20) minggu. Ada 2 macam Aborsi, yaitu disengaja (induced) dan tidak disengaja (spontaneous) MASA REPRODUKSI (CHILDBEARING AGE): Masa dimana perempuan mampu melahirkan dimulai dari saat menarche hingga memasuki masa menapouse, yang disebut juga usia subur (15 -49 tahun).

SUMBER DATA FERTILITAS a. Registrasi Penduduk Kebaikan: ideal jika setiap kejadian segera dilaporkan. Kelemahan:

SUMBER DATA FERTILITAS a. Registrasi Penduduk Kebaikan: ideal jika setiap kejadian segera dilaporkan. Kelemahan: ketepatan definisi yang dipakai (misal: lahir hidup versus lahir mati). kelengkapan registrasi (tidak sama di semua daerah). ketepatan alokasi tempat (tempat kejadian versus tempat pelaporan). ketepatan alokasi waktu (waktu kejadian versus waktu pelaporan).

b. Sensus Penduduk Data yang tersedia: jumlah anak lahir hidup, jumlah anak masih hidup,

b. Sensus Penduduk Data yang tersedia: jumlah anak lahir hidup, jumlah anak masih hidup, jumlah perempuan. Kelemahan: - keterangan tentang jumlah anak lahir hidup tergantung pada daya ingat ibu. - keterangan tergantung pada ketepatan waktu (periode pengamatan, misal: setahun yang lalu, bisa terlalu panjang atau terlalu pendek) - kesalahan pelaporan umur.

c. Survei Penduduk Antar Sensus Mempunyai kelemahan yang terdapat juga pada SP. Akan tetapi,

c. Survei Penduduk Antar Sensus Mempunyai kelemahan yang terdapat juga pada SP. Akan tetapi, data mengenai fertilitas yang dikumpulkan lebih terperinci, misal: riwayat kelahiran mulai dari anak pertama hingga anak yang terakhir (birth and pregnancy history). d. Survei-survei lain yang mempunyai cakupan nasional, misal Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).

UKURAN-UKURAN DASAR FERTILITAS Terdapat 2 macam pendekatan ukuran fertilitas: a. Ukuran yang sifatnya “penampang

UKURAN-UKURAN DASAR FERTILITAS Terdapat 2 macam pendekatan ukuran fertilitas: a. Ukuran yang sifatnya “penampang lintang (cross sectional) dalam satu tahunan (yearly performance), sering disebut sebagai current fertility. Ukuran ini mencerminkan tingkat fertilitas dari suatu kelompok penduduk atau wanita pada jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. b. Ukuran longitudinal yang sifatnya mencerminkan riwayat kelahiran atau riwayat reproduksi (reproductive history).

A. YEARLY PERFORMANCE CURRENT FERTILITY (CBR, GFR, ASFR dan TFR) 1. ANGKA KELAHIRAN KASAR

A. YEARLY PERFORMANCE CURRENT FERTILITY (CBR, GFR, ASFR dan TFR) 1. ANGKA KELAHIRAN KASAR (CRUDE BIRTH RATE/CBR) ANGKA YG MENUNJUKKAN BANYAKNYA KELAHIRAN PER 1000 ORANG PENDUDUK DLM WKT 1 THN. RUMUS: CBR = B P X k dimana: B = jumlah kelahiran selama suatu periode P = jumlah penduduk pada pertengahan periode yang sama k = konstanta, biasanya 1000.

CBR: sifatnya sederhana karena tidak mempertimbangkan potensi penduduk yang mampu melahirkan (WUS), yang menjadi

CBR: sifatnya sederhana karena tidak mempertimbangkan potensi penduduk yang mampu melahirkan (WUS), yang menjadi penimbang adalah semua penduduk (laki, perempuan, anak-anak, dan penduduk lanjut usia). Contoh: Banyaknya kelahiran di DKI Jakarta pada tahun 1970 adalah 182. 880 bayi. Banyaknya penduduk DKI Jakarta sebesar 4. 546. 942 orang pada pertengahan tahun 1970. 182. 880 Maka: CBR = -------- x 1000 = 40, 2 4. 546. 942 Berarti angka kelahiran kasar di Propinsi DKI Jakarta pada tahun 1970 adalah sebesar 40 per seribu penduduk.

BEBERAPA DATA CBR: Sensus 1990, CBR Indonesia = 28 per 1000 penduduk Sensus 2000,

BEBERAPA DATA CBR: Sensus 1990, CBR Indonesia = 28 per 1000 penduduk Sensus 2000, CBR Indonesia = 23 per 1000 penduduk Hasil Proyeksi berdasar SP 1990 dan SP 2000 = 22 per 1000 penduduk

2. ANGKA KELAHIRAN UMUM (GENERAL FERTILITY RATE/GFR) BANYAKNYA KELAHIRAN PER 1000 WANITA YG BERUMUR

2. ANGKA KELAHIRAN UMUM (GENERAL FERTILITY RATE/GFR) BANYAKNYA KELAHIRAN PER 1000 WANITA YG BERUMUR 15 -49 THN ATAU 15 -44 THN. RUMUS: GFR = B Pf 15 -49 X k atau GFR = B X k Pf 15 -44 dimana: Pf 15 -49 = jumlah penduduk perempuan umur 15 -49 tahun Pf 15 -44 = jumlah penduduk perempuan umur 15 -44 tahun.

Kelebihan: Ukuran ini lebih cermat karena populasi yang dipertimbangkan adalah penduduk yang berpotensi melahirkan

Kelebihan: Ukuran ini lebih cermat karena populasi yang dipertimbangkan adalah penduduk yang berpotensi melahirkan (WUS). Kelemahan: yaitu belum mempertimbangkan potensi melahirkan yang berbeda antar kelompok umur. Kesuburan wanita meningkat sejalan dengan meningkatnya umur dan menurun kembali kira-kira pada usia 35 tahun (U terbalik).

Contoh: Banyaknya kelahiran di DKI Jakarta pd thn 1970 adalah 182. 880 bayi. Sedangkan

Contoh: Banyaknya kelahiran di DKI Jakarta pd thn 1970 adalah 182. 880 bayi. Sedangkan banyaknya penduduk wanita berumur 15 -49 tahun pada pertengahan tahun sebesar 1. 165. 680 orang. 182. 880 GFR = x 1000 = 159, 9 1. 165. 680 Berarti angka kelahiran di DKI Jakarta pada tahun 1970 adalah sebesar 160 per seribu wanita berumur 15 -49 tahun.

3. ANGKA KELAHIRAN MENURUT KELOMPOK UMUR (AGE SPECIFIC FERTILITY RATE/ASFR) ANGKA YG MENUNJUKKAN BANYAKNYA

3. ANGKA KELAHIRAN MENURUT KELOMPOK UMUR (AGE SPECIFIC FERTILITY RATE/ASFR) ANGKA YG MENUNJUKKAN BANYAKNYA KELAHIRAN PER 1000 WANITA PADA KLP UMUR TERTENTU. Rumus: bi ASFRi = -------- x k Pfi (i=1, 2, …, 7) dimana: bi = banyaknya kelahiran pada perempuan kelompok umur i pada suatu periode i=1 untuk kelompok umur 15 -19 i=2 untuk kelompok umur 20 -24 i=7 untuk kelompok umur 45 -49 Pfi = jumlah penduduk perempuan pada kelompok umur i

Kebaikan ASFR: Ukuran ASFR lebih cermat daripada GFR karena memperhitungkan jumlah wanita menurut tingkat

Kebaikan ASFR: Ukuran ASFR lebih cermat daripada GFR karena memperhitungkan jumlah wanita menurut tingkat kesuburannya Ukuran ASFR memungkinkan dilakukan studi fertilitas menurut kohort atau umur tertentu ASFR merupakan dasar perhitungan ukuran fertilitas yang selanjutnya (TFR, GRR dan NRR). Kelemahan ASFR: Diperlukan data rinci akan jumlah kelahiran menurut kelompok umur wanita, data ini kadang tidak tersedia, terutama untuk negara berkembang dimana kualitas sumber datanya belum baik.

Contoh: Tabel : Perhitungan ASFR, DKI Jakarta 1970 Umur wanita (1) Penduduk wanita (2)

Contoh: Tabel : Perhitungan ASFR, DKI Jakarta 1970 Umur wanita (1) Penduduk wanita (2) 15 -19 20 -24 25 -29 30 -34 35 -39 40 -44 45 -49 Kelahiran (3) 254. 960 208. 080 200. 880 163. 440 151. 200 110. 160 66. 960 ASFR tiap 1000 wanita (4) = ((3) : (2)) x 1000 15. 840 41. 040 50. 400 49. 680 18. 000 7. 200 720 60 197 251 304 119 65 11

MISALNYA: ASFR untuk perempuan umur 25 -29 tahun adalah 251. Artinya, pada tahun 1970

MISALNYA: ASFR untuk perempuan umur 25 -29 tahun adalah 251. Artinya, pada tahun 1970 terdapat 251 kelahiran per 1000 penduduk perempuan usia 25 -29 tahun di DKI Jakarta.

Age Specific Fertility Rate (ASFR), Indonesia, Data SP 2000

Age Specific Fertility Rate (ASFR), Indonesia, Data SP 2000

4. ANGKA FERTILITAS TOTAL (TOTAL FERTILITY RATE/TFR) JUMLAH DARI ASFR DENGAN CATATAN UMUR DINYATAKAN

4. ANGKA FERTILITAS TOTAL (TOTAL FERTILITY RATE/TFR) JUMLAH DARI ASFR DENGAN CATATAN UMUR DINYATAKAN DLM SATU TAHUNAN. RUMUS: TFR = 5 Σ 45 -49 ASFR x=15 -19 rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu pada akhir masa reproduksinya jika ibu tersebut mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung.

Contoh: Berdasarkan Tabel 1, maka TFR = 5 (60 + 197 + 251 +

Contoh: Berdasarkan Tabel 1, maka TFR = 5 (60 + 197 + 251 + 304 + 119 + 65 + 11) = 5 x 1007 = 5035 per 1000 wanita usia 15 -49 tahun atau 5, 035 untuk tiap wanita usia 15 -49 tahun. Artinya: setiap wanita Jakarta yang mampu menyelesaikan masa reproduksinya (15 -49 tahun) secara rata-rata akan mempunyai lima anak.

n Kebaikan TFR: Dapat dijadikan ukuran kelahiran untuk seluruh wanita usia respoduksi (15 -49

n Kebaikan TFR: Dapat dijadikan ukuran kelahiran untuk seluruh wanita usia respoduksi (15 -49 tahun), yang telah memperhitungakn tingkat kesuburan wanita masing-masing kelompok usia. Beberapa Angka Fertilitas Indonesia menurut SDKI 20022003: TFR = 2. 6 per 1000 perempuan GFR = 89 per 1000 perempuan CBR = 21, 9 per 1000 penduduk

B. Reproductive History (cumulative fertility) Cumulative fertility: data kelahiran yang dikumpulkan merupakan data kelahiran

B. Reproductive History (cumulative fertility) Cumulative fertility: data kelahiran yang dikumpulkan merupakan data kelahiran dari awal masa reproduksi sampai saat wawancara dilakukan (retrospektif). 1. CEB (children ever born (jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup (ALH)) Mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok atau beberapa kelompok perempuan selama masa reproduksinya (disebut juga paritas).

Kelebihan ALH: Mudah mendapatkan data (dari sensus/survei) Tidak ada referensi waktu, karena menyatakan jumlah

Kelebihan ALH: Mudah mendapatkan data (dari sensus/survei) Tidak ada referensi waktu, karena menyatakan jumlah ALH sejak wanita tersebut mulai masa rerpoduksinya sampai saat wawancara terjadi. Kelemahan ALH: Tidak akurat karena sering terjadi salah pelaporan, terutama umur ibu. Bersifat retrospektif, sehingga ada faktor/kecenderungan dalam melaporkan jumlah kelahiran terutama pada wanita berusia lebih tua. Kelahiran mati ikut dilaporkan dalam ALH , karena tidak tau apakah kelahiran yang dilaporkan adalah kelahiran mati atau kelahiran hidup.

Contoh: Tabel 2. Rata-rata Anak Lahir Hidup per Wanita Pernah kawin (ALH/CEB) DKI Jakarta

Contoh: Tabel 2. Rata-rata Anak Lahir Hidup per Wanita Pernah kawin (ALH/CEB) DKI Jakarta , 1995 Sumber: Biro Pusat Statistik. 1996. Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995. Jakarta. Untuk perempuan pada kelompok umur 45 -49 tahun rata-rata ALH disebut completed family size.

2. CWR (Child Woman Ratio): rasio antara jumlah anak berusia dibawah lima tahun (0

2. CWR (Child Woman Ratio): rasio antara jumlah anak berusia dibawah lima tahun (0 -4 tahun) dengan jumlah penduduk perempuan usia reproduksi. P 0 -4 Rumus: CWR = ------ x k Pf 15 -49 atau P 0 -4 CWR = ------ x k Pf 15 -44 dimana P 0 -4 = jumlah penduduk usia 0 -4 tahun.

Kelebihan CWR: Data mudah diperoleh, karena publikasi sensus/survei umumnya dalam bentuk kelompok umur. Rasio

Kelebihan CWR: Data mudah diperoleh, karena publikasi sensus/survei umumnya dalam bentuk kelompok umur. Rasio ini berguna untuk indikasi fertilitas pada luas area yang kecil. Kelemahan CWR: Kualitas pelaporannya dipengaruhi oleh keakuratan pelaporan baik mengenai jumlah anak umur 0 -4 tahun maupun umur ibu. Dipengaruhi oleh tingkat mortalitas wanita dan kematian anak. Perlu diingat bahwa tingkat mortalitas anak lebih tinggi dibandingkan tingkat mortalitas dewasa. Tidak memperhitungkan distribusi umur dari penduduk wanita.

Contoh: P 0 -4 = 3. 193. 185 orang Pf 15 -49 = 5.

Contoh: P 0 -4 = 3. 193. 185 orang Pf 15 -49 = 5. 117. 015 orang Maka 3. 193. 185 CWR = -------- x 1000 = 624 5. 117. 015 Artinya: rasio antara jumlah anak umur 0 -4 th dengan jumlah penduduk perempuan 15 -49 th adalah 624.

C. Ukuran-ukuran Reproduksi Angka reproduksi: ukuran yang berkenaan dengan kemampuan suatu penduduk untuk menggantikan

C. Ukuran-ukuran Reproduksi Angka reproduksi: ukuran yang berkenaan dengan kemampuan suatu penduduk untuk menggantikan dirinya. Oleh karenanya yang dihitung hanyalah bayi perempuan saja. 1. GRR (Gross Reproduction Rate (Angka Reproduksi Kotor)): banyaknya perempuan yang dilahirkan oleh suatu kohor perempuan.

1 a. Melalui perhitungan TFR Jika diasumsikan bahwa rasio jenis kelamin pada saat dilahirkan

1 a. Melalui perhitungan TFR Jika diasumsikan bahwa rasio jenis kelamin pada saat dilahirkan oleh setiap kelompok umur perempuan misal: 103 (103 bayi laki-laki dibandingkan 100 bayi perempuan) maka: Rumus: 100 GRR = ----- x TFR 203

Contoh: GRR DKI Jakarta pada tahun 1970 jika RJKo (rasio jenis kelamin = 103

Contoh: GRR DKI Jakarta pada tahun 1970 jika RJKo (rasio jenis kelamin = 103 adalah: 100 GRR = ----- x 5035 = 2480, 3 per 1000 perempuan umur 15 -49 tahun 203 GRR=2480 per 1000 perempuan atau terdapat 2, 4 anak perempuan. Artinya tanpa memperhatikan kematian yang mungkin dialami anak sesudah kelahiran, akan terdapat 2 anak perempuan yang akan menggantikan ibunya melahirkan.

1 b. GRR melalui perhitungan ASFR Apabila diketahui jumlah bayi perempuan yang lahir pada

1 b. GRR melalui perhitungan ASFR Apabila diketahui jumlah bayi perempuan yang lahir pada setiap kelompok umur perempuan (bfi) maka: Rumus: GRR = 5 x (ASFRf 1 + ASFRf 2 + ASFRf 3 + …. + ASFRf 7) dimana ASFRfi = banyaknya bayi perempuan dari perempuan pada kelompok umur i per 1000 perempuan kelompok umur i.

Tabel 3 Perhitungan Angka Reproduksi Bruto (GRR) DKI Jakarta Tahun 1970, (Asumsi RJK 100/203)

Tabel 3 Perhitungan Angka Reproduksi Bruto (GRR) DKI Jakarta Tahun 1970, (Asumsi RJK 100/203) GRR = 5(496)x 1000 wanita = 2480 per 1000 wanita atau 2, 4 per wanita

GRR = 5(496)x 1000 wanita = 2480 per 1000 wanita atau 2, 4 per

GRR = 5(496)x 1000 wanita = 2480 per 1000 wanita atau 2, 4 per wanita Artinya: setiap wanita akan digantikan oleh 2, 4 orang anak perempuan yang akan menggantikan ibunya melahirkan, tanpa memperhitungkan kenyataan bahwa banyak bayi lahir ada yang meninggal dan tidak sempat mengalami usia reproduksi. Kelemahan: tidak memperhitungkan kemungkinan meninggal dari bayi perempuan sebelum masa reproduksinya.

2. NRR (Net Reproduction Rate (Angka Reproduksi Bersih)): Angka ini memperhitungkan kemungkinan si bayi

2. NRR (Net Reproduction Rate (Angka Reproduksi Bersih)): Angka ini memperhitungkan kemungkinan si bayi perempuan meninggal sebelum masa reproduksinya. Asumsi: bayi perempuan mengikuti pola fertilitas dan pola mortalitas ibunya.

Tabel 4. Jumlah perempuan usia 15 -49 tahun, jumlah kelahiran bayi perempuan, ASFR, Rasio

Tabel 4. Jumlah perempuan usia 15 -49 tahun, jumlah kelahiran bayi perempuan, ASFR, Rasio Masih Hidup (RMH) dan ASFR bayi perempuan. (1) (2) (3) (4) (5) (1) = Penduduk wanita (4) = life table (2) = Kelahiran bayi wanita (5) = ASFR bayi wanita = (3) x (4) (3) = ASFR per 1000 wanita hanya utk bayi wanita { (2) : (1)} x 1000

Perhitungan: NRR = 5 x (1, 558 + 53, 192 + 95, 686 +

Perhitungan: NRR = 5 x (1, 558 + 53, 192 + 95, 686 + …. + 0, 074) = 1006, 23 per 1000 perempuan = 1, 00623 per ibu Artinya: rata-rata banyaknya anak perempuan yang dimiliki oleh suatu kohor perempuan yang akan tetap hidup hingga masa reproduksinya adalah antara satu dan dua orang.