Ergonomi Pengorganisasian Kerja Pengorganisasian kerja terutama menyangkut waktu

  • Slides: 11
Download presentation
Ergonomi

Ergonomi

Pengorganisasian Kerja • Pengorganisasian kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, kerja lembur dan

Pengorganisasian Kerja • Pengorganisasian kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, kerja lembur dan lainnya yang dapat menentukan tingkat kesehatan dan efisiensi tenaga kerja. • Diperlukan pola pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat yang baik, terutama untuk kerja fisik yang berat. • Jam kerja selama 8 jam/hari diusahakan sedapat mungkin tidak terlampaui, apabila tidak dapat dihindarkan, perlu diusahakan group kerja baru atau perbanyakan kerja shift.

 • Untuk pekerjaan lembur sebaiknya ditiadakan, karena dapat menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja

• Untuk pekerjaan lembur sebaiknya ditiadakan, karena dapat menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja serta meningkatnya angka kecelakaan kerja dan sakit. • Disamping itu kerja lembur yang melebihi 25 % dari jam kerja tidak akan melindungi tenaga kerja dari pengaruh buruk bahaya dari lingkungan kerja dan beban tambahan lainnya.

Pengendalian Lingkungan Kerja • Lingkungan kerja yang lestari dan manusiawi merupakan faktor pendorong bagi

Pengendalian Lingkungan Kerja • Lingkungan kerja yang lestari dan manusiawi merupakan faktor pendorong bagi kegairahan dan efisiensi kerja. • Sedangkan lingkungan kerja yang buruk (melampaui Nilai Ambang Batas yang telah ditetapkan), yang melebihi toleransi manusia untuk menghadapinya, tidak hanya akan menurunkan produktivitas kerja tetapi juga akan menyebabkan penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja, pencemaran lingkungan sehingga tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya tidak mendapat rasa aman, nyaman, sehat dan selamat.

 • Terdapat berbagai faktor lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan, keselamatan dan efisiensi

• Terdapat berbagai faktor lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan, keselamatan dan efisiensi serta produktivitas kerja, yaitu faktor fisik seperti : pengaruh kebisigan, penerangan, iklim kerja, getaran ; faktor kimia seperti : pengaruh bahan kimia, gas, uap, debu ; faktor fisiologis seperti : sikap dan cara kerja, penentuan jam kerja dan istirahat, kerja gilir, kerja lembur ; faktor psikologis seperti : suasana tempat kerja, hubungan antar pekerja dan faktor biologis seperti : infeksi karena bakteri, jamur virus, cacing.

 • Untuk pengendalian lingkungan kerja dapat dilakukan melalui beberapa tahapan/cara, yaitu pengendalian secara

• Untuk pengendalian lingkungan kerja dapat dilakukan melalui beberapa tahapan/cara, yaitu pengendalian secara teknik, pengendalian secara administratif dan pengendalian dengan pemberian Alat Pelindung Diri (APD). • Banyak dijumpai adanya tenaga kerja yang enggan menggunakan alat pelindunga diri, meskipun ditempat kerjanya terjadi pencemaran bahan kimia di udara tempat kerja.

 • 49 ºC Suhu yang dapat ditolerir selama ± 1 jam. Kemampuan Fisik

• 49 ºC Suhu yang dapat ditolerir selama ± 1 jam. Kemampuan Fisik dan Mental jauh menurun. • 29, 5 ºC Aktifitas mental dan daya tangkap menurun dan tenaga kerja dapat melakukan kesala – lahan dalam melakukan kesalahan. Timbul Kelelahan Fisik. • 24 ºC Kondisi Optimum • 10 ºC Kekakuan mulai terjadi

Kelelahan Kerja • Penyebab kelelahan akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana dan lingkungan kerja

Kelelahan Kerja • Penyebab kelelahan akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana dan lingkungan kerja merupakan faktor dominan bagi menurunnya atau rendahnya produktivitas kerja seorang tenaga kerja. • Suasana kerja yang tidak ditunjang oleh kondisi lingkungan kerja yang sehat antara lain adalah sebagai penyebab timbulnya kelelahan kerja. • Banyak dijumpai kasus kelelahan kerja sebagai akibat pembebanan kerja yang berlebihan, antara lain irama kerja yang tidak serasi, pekerjaan yang monoton dan kondisi tempat kerja yang tidak menggairahkan.

 • Kelelahan (fatigue) merupakan suatu kondisi yang telah dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Istilah

• Kelelahan (fatigue) merupakan suatu kondisi yang telah dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan pada umumnya mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun ini bukan merupakan satu-satunya gejala. • Kelelahan dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu : a. Kelelahan otot (muscular fatigue) b. Kelelahan umum (general fatigue)

 • Kedua bentuk kelelahan ini muncul dari proses fisiologik yang berbeda sama sekali.

• Kedua bentuk kelelahan ini muncul dari proses fisiologik yang berbeda sama sekali. • Kelelahan otot ditunjukkan melalui gejala sakit nyeri, seperti ketegangan otot dan sakit disekitar sendi, sedangkan kelelahan umum dapat terlihat pada munculnya sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan beraktivitas. • Menurut para ahli, terdapat keterkaitan antara kelelahan dengan tingkat stress. • Hal ini dapat ditunjukkan melalui reaksi tubuh terhadap jenis stress yang berbeda-beda.

 • • Untuk itu perlu dilakukan pengukuran untuk mendapatkan solusi bagi kecenderungan implikasi

• • Untuk itu perlu dilakukan pengukuran untuk mendapatkan solusi bagi kecenderungan implikasi kelelahan yang diderita oleh tenaga kerja terhadap kinerja perusahaan. Kesulitan terbesar dalam pengukuran kelelahan adalah karena tidak adanya cara yang langsung dapat mengukur sumber penyebab kelelahan itu sendiri. Belum ada satupun ukuran yang mutlak dalam pengukuran kelelahan. Pengukuran kelelahan hanya mampu mengukur “indikator” kelelahan saja.