EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA WAYANG MINI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA WAYANG MINI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN METODE PEMBELAJARAN DARING MAHASISWA BIPA A 1 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG KHAERIYAH 1688201120 ALLPPT. com _ Free Power. Point Templates, Diagrams and Charts
BAB 1 : PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) adalah program pembelajaran Bahasa Indonesia yang di tujukan pada pembelajar asing agar cakap dalam berkomunikasi Bahasa Indonesia. Widianto (2017) “kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia di tengah era global sekarang ini, peran Indonesia dalam pergaulan antar bangsa juga telah menempatkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang dipandang penting di dunia. (h. 124). Budiawan (2018) bahwa keterampilan berbicara penting untuk dikuasai dalam berkomunikasi karena kesalahan dalam berbicara dapat berpengaruh terhadap informasi atau makna yang disampaikan kepada mitra tutur melalui suatu ujaran. (h. 89).
Widianto (2017) bahwa, dengan menggunakan media wayang mini ini, pembelajaran lebih komuikatif dan menarik, menguatkan ingatan pembelajar BIPA terhadap suatu kosakata maupun konsep karena media bersifat ikonis serta pembelajar lebih banyak berkreativitas dalam mengeksplorasi media. (h. 23). Penerapan metode pembelajaran daring dapat menjadi alternatif terhadap proses belajar mahasiswa asing, ketika sedang mengalami hambatan dalam melakukan pembelajaran di kelas. Mustofa (2019) “Salah satu langkah pemanfaatan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di perguruan tinggi adalah sistem kuliah daring (dalam jaringan) antar perguruan tinggi. Salah satu pemrakarsa dari sistem ini adalahkementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. ” (h. 152).
Identifikasi Masalah & Fokus Penelitian Identifikasi Masalah 1. Pembelajar BIPA mengalami kesulitan dalam berbicara terhadap mengembangkan ide dan gagasannya. 2. Jarang dilakukan praktik berbicara Bahasa Indonesia. 3. Kurangnya menguasai kosa kata Bahasa Indonesia. 4. Terbatasnya pengetahuan dan pengalaman tentang mengenal budaya Indonesia. Fokus Penelitian Permasalahan literasi komunikatif pembelajaran BIPA bermuatan budaya. peneliti memfokuskan penelitian ini hanya pada Efektivitas Penggunaan Media Wayang Mini Terhadap Keterampilan Berbicara Dengan Metode Pembelajaran Daring Mahasiswa BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Perumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Perumusan Masalah Tujuan Penelitian • Bagaimana cara penerapan penggunaan media wayang mini terhadap keterampilan berbicara dengan metode pembelajaran daring mahasiswa BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang ? • Untuk mengetahui cara penerapan penggunaan media wayang mini terhadap keterampilan berbicara dengan metode pembelajaran daring mahasiswa BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang. • Bagaimana efektivitas penggunaan media wayang mini terhadap keterampilan berbicara dengan metode pembelajaran daring mahasiswa BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang ? • Untuk mengetahui efektivitas penggunaan media wayang mini terhadap keterampilan berbicara dengan metode pembelajaran daring mahasiswa BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis Manfaat Praktis Digunakan untuk kajian dalam bidang. BIPA, dan hasil dari penelitian ini dapat menambah data penelitian-penelitian tentang BIPA khususnya mengenai media pembelajaran BIPA. Bagi Lembaga Bagi Pembelajar Bagi Peneliti Bagi Guru BIPA Bagi Perpustakaan UMT
BAB II: DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) • Kurniawan (2019) berpendapat bahwa BIPA merupakan salah satu program pelatihan yang diperlukan dalam rangka peningkatkan fungsi bahasa negara sebagai bahasa internasional dan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja asing akan program pelatihan bahasa Indonesia. (h. 14). • Kusmiatun (2016) menyatakan bahwa BIPA merupakan pembelajaran yang subjeknya adalah pembelajar asing. (h. 1). • Astuti (2013) tujuan pembelajaran BIPA secara mendasar adalah agar para penutur asing mampu berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. (h. 6).
Prinsip Pembelajaran BIPA Kusmiatun (2016) mengenai prinsip pembelajaran BIPA sebagai berikut : Sistematis Teruji dan Terpercaya Relevan Menyeluruh dan Lengkap Aktual, Faktual, dan kontekstual Fleksibel
Aspek-Aspek dalam Pembelajaran BIPA dan Budaya dalam Pembeljaran BIPA Kusmiatun (2016) menyampaikan 2 aspek penting dalam pembelajaran BIPA, yaitu aspek instruksional dan aspek noninstruksional Suyitno (2018) “Perilaku budaya yang perlu dikenalkan kepada pelajar asing antara lain adalah cara hidup dalam keluarga, berteman, bermasyarakat, dan sopan santun dalam pergaulan. ” (h. 13).
Keterampilan Berbicara • Arianti (2019) berpendapat bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk mengekspresikan, menyatakan, dan menyampaikan, ide, pikiran, gagasan, atau isi hati kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan yang dapat dipahami orang lain. (h. 6). • Usman (2018) menyatakan bahwa keterampilan berbicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas dan paling penting. (h. 183). • Suharyanti (2017) berpendapat bahwa berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak. (h. 6).
Tujuan Berbicara Arianti (2019) mengemukakan bahwa keterampilan berbicara juga memiliki tujuan dalam pengembangan yang akan dimiliki bagi seorang yang berbicara, diantaranya : Membentuk kebiasaan Kemudahan berbicara Membentuk pendengaran yang kritis Kejelasan Bertanggung jawab
Jenis-jenis Berbicara 1. Berbicara berdasarkan tujuannya 2. Berbicara berdasarkan Situasinya 3. Berbicara berdasarkan Cara penyampaiannya 4. Berbicara berdasarkan Jumlah pendengarnya
Faktor-Faktor yang memengaruhi Efektivitas Berbicara Arianti (2019) tentang faktor-faktor yang mempegaruhi efektivitas berbicara : Ciri-Ciri Kecemasan Berbicara • Detak jantung cepat • Telapak tangan berkeringat • Napas terengah-engah • Tangan dan kaki bergetar • Suara bergetar dan parau • Berbicara cepat dan tidak jelas • Tidak sanggup mendengar atau berkonsentrasi. Faktor-Faktor Penyebab Kecemasan Berbicara • Tidak tahu hal yang harus dibicarakan/dilakukan. • Pembicara berhadapan dengan situasi baru, asing dan ia tidak siap. • Latar belakang pembicara yang kurang menguntungkan, pembicara pernah traumatis sehinngga ia tidak memiliki rasa percaya diri.
Cara Mengatasi Kecemasan Berbicara 1. Melakukan persiapan sebelum berbicara 2. Lakukan latihan di tempat sunyi berupa olah vokal sebelum tampil berbicara. 3. Rileks 4. Lakukan komunikasi yang baik dengan audiens , bersikap tenang dan terarah (komunikatif). Faktor Penunjang dan Penghambat Keterampilan Berbicara 1. Faktor Penunjang Faktor Kebahasaan Faktor Non kebahasaan 2. Faktor Penghambat Dari Segi Pembicara Dari Segi Pendengar Dari Segi Lingkngan
Media Wayang • Kusmiatun (2016) bahwa “Wayang adalah media realita yang menarik dan sarat budaya. ” (h. 118). • wayang merupakan sebuah media yang unik yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran dan bisa juga diartikan untuk hiburan atau tontonan berupa budaya yang terdapat di Indonesia • Dalam pembelajaran BIPA media wayang ini sangat menarik digunakan. Sebab, dalam peggunaan media ini selain untuk menambah ilmu pengtahuan mengenai budaya Indonesia media wayang juga dapat mempengarhi pembelajar lebih merasa menyenangkan dan tidak monoton.
Kusmiatun (2016) menyatakan ada beberapa alternatif dalam penggunaan media wayang dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut : Bermain peran Belajar kosakata Mendongeng mendengarkan Menulis cerita
Metode Pembelajaran Daring • Mustofa (2019) “Perkuliahan daring adalah salah metode pembelajaran online atau dilakukan melalui jaringan internet. ” (h. 153). • Rimbarizki (2017) “Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang memadukan dengan teknologi informasi yang dituangkan dalam website sehingga peserta didik dapat leluasa mengakses dan mengunduh modul serta dapat memudahkan pendidik memantau keaktifan peserta didik mulai dari keaktifan membuka laman, mengoreksi kuis, dan Ujian Tengah Semester serta Ujian Akhir Semester. ” (h. 3) • Dewi (2017) “Daring (online learning) merupakan model pembelajaran yang berbasis ICT. Daya dukung program ini adalah fasilitas ICT berupa web LMS, program monitoring, modular dan suplemen dalam bentuk multimedia. ” (h. 3).
Penerapan Metode Pembelajaran Daring Proses pembelajaran yang akan dilakukan dalam menggunakan metode daring ini dilakukan sebagai berikut : Pendahuluan Penyajian Penutup 1. Sapaan mahasiswa 2. Gambaran umum materi 3. Relevansi dengan 1. Uraian bahan ajar (text, audio, video, simulasi) 2. Contoh latihan 1. Tes/soal/tugas Umpan balik untuk menilai diri sendiri 2. Tindak lanjut (saran) pengetahuan 3. Rangkuman 3. Refleksi mahasiswa 4. Forum diskusi 4. Evaluasi 4. Capaian pembelajaran
Penelitian Relevan Faizin dan Mohamad Isnaini (2018) Eko Widianto (2017) Eko Kuntarto (2017) • “Peningkatan Kemampuan Berbicara Pemelajar BIPA Level Dasar dengan Menggunakan Kartu Kosa Kata” • “Media Wayang Mini dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara bagi Pembelajar BIPA A 1 Universitas Ezzitouna Tunisia” • “Keefektifan Model Pembelajaran Daring Dalam Perkuliahan Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi”.
Kerangka Berpikir dan Hipotesis Penelitian Kerangka Berpikir 1. BIPA 2. Keterampilan Berbicara 3. Media Wayang Mini 4. Pembelajara Daring
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian : Pusat Bahasa Universitas Muhammadiyah Tangerang. Mei 2020
Metode Penelitian Quasi Eksperimen True Eksperimental Design Time Series Design. • Penggunaan metode quasi eksperimen ini pembelajaran berlangsung secara alami dan siswa tidak merasa dieksperimenkan, sehingga dengan situasi yang demikian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap tingkat kevalidan penelitian. • Sampel yang digunakan untuk eksperimen diambil secara random. • Sugiyono (2016) Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol. (h. 78).
Populasi dan Sampel Penelitian Populasi : seluruh mahasiswa kelas Thailand BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang. Sampel : sebagian mahasiswa kelas Thailand BIPA A 1 Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Teknik Pengumpulan Data 1. Soal Pretest dan Posttest : Tes Uraian, Djiwandono (2011) memiliki 4 aspek penilaian terhadap kompetensi keterampilan berbicara pada mahasiswa asing. 2. Memberi perlakuan berupa tindakan pembelajaran pada pembelajar asing kelas eksperimen yang menggunakan media pembelajaan wayang mini terhadap keterampilan berbicara dengan menggunakan metode daring. 3. Memberikan posttest kepada pembelajar asing kelas eksperimen untuk mengetahui kemampuan keterampilan berbicara dengan menggunakan media wayang mini setelah dilakukan pemberian treatment.
Instrumen Penelitian Instrumen Dependen Variabel (Y) Definisi Konseptual Keterampilan Berbicara Definisi Operasional Kisi-Kisi Instumen Uji Validitas Instumen dan Reabilitas Uji Validitas dari Sulaeman Kemudahan dalam berbicara, kejelasan, bertanggung jawab, Membentuk pendengaran yang kritis, Membentuk kebiasaan. Indikator = Mampu berdialog menggunakan wayang mini dengan tema jalan menggunakan metode pembelajaran daring Uji Reabilitas dari Sulaeman (Test-retest)
Instrumen Independen Variabel (X) Definisi Konseptual Penggunaan Media Wayang Mini (Metode Daring) Definisi Operasional BIPA Hipotesis Penelitian Pretest H o : µ 1 = µ 2 H 1 : µ 1 ≠ µ 2 Posttest H o : µ 1 = µ 2 H 1 : µ 1 ≠ µ 2
Teknik Analisis Data Analisis Deskripsi Data Uji Persyaratan Data Uji Hipotesis • Penyajian Data • Rerata Atau Ukuran Pemusatan Data (Central Tendency) = Mean, Median, Modus • Ukuran Penyebaran Data (Dispersion) = Range, Varians, Simpangan Baku • Uji Normalitas • Uji Homogenitas • Variabel Berdistribusi Normal • Variabel Berdistribusi Tidak Normal
- Slides: 28