Characteristics of Successful Athletes Sport Psychology Indah Praditasari

  • Slides: 46
Download presentation
“Characteristics of Successful Athletes” Sport Psychology Indah Praditasari Jehan Jessica Rezky Okabe

“Characteristics of Successful Athletes” Sport Psychology Indah Praditasari Jehan Jessica Rezky Okabe

Personality Traits and Psychological Dispositions • Ilmu psikologi mempelajari pengaruh kepribadian terhadap seorang atlet

Personality Traits and Psychological Dispositions • Ilmu psikologi mempelajari pengaruh kepribadian terhadap seorang atlet • Kepribadian seseorang dapat mempengaruhi peforma. Ex : percaya diri, kompetitf, self control. • Beberapa penelitian melihat kepribadian → atlet ideal melalui beberapa kuisioner → some, invalid & unreliable • Kuisioner : Good or Bad traits → Inventory, scales, profile (lebih akurat)

 • Personality traits VS Psychological dispositions • Traits : Sifat orang untuk bereaksi

• Personality traits VS Psychological dispositions • Traits : Sifat orang untuk bereaksi dengan cara dalam tingkat tertentu pada sebuah situasi (Lazsrus & Folkman). Lebih statbil • Dispositions : Meliputi cara untuk berhubungan dengan jenis tertentu dari orang atau situasi, lebih umum & meluas. Tergantung dan memiliki kecenderungan.

Using Personality Inventories • Personality profile banyak digunakan untuk memprediksi kemungkinan seseorang untuk mencapai

Using Personality Inventories • Personality profile banyak digunakan untuk memprediksi kemungkinan seseorang untuk mencapai kesuksesan berolahraga. • Personal inventories dapat memprediksi kesuksesan atlet hinggan 10 % (Fisher). • Personality scale are not universally defined and can be faked. • Cattel’s Sixteen Personality Questionnaire, California Personality Inventory (10 th grade reading comperehension), & Minnesota Multiphasic Personality Inventory (diagnosa mental illness) → tidak memiliki item yang berkorelasi dengan keadaan kompetisi olahraga

Personality and Gender Role • Bem Sex Role Inventory: Feminine VS Masculine • Cluster

Personality and Gender Role • Bem Sex Role Inventory: Feminine VS Masculine • Cluster yang terpisah dari personality traits. • Seseorang yang sehat dan dapat beradaptasi apabila memiliki kedua karakter (Androgyny) • atlet wanita cenderung memiliki karakter masculine yang tinggi ( 78 – 87) dibandingkan wanita lainnya, namun lebih memunculkan Androgyny dibandingkan karakter masculinenya. Biasanya lebih memiliki motivasi yang tinggi (Gill) • Stress reduction Masculine ( Jogg, Relaxation, social interaction)

The Elite Athlete : A Profile • Orang yang layak untuk kompetisi di tingkat

The Elite Athlete : A Profile • Orang yang layak untuk kompetisi di tingkat nasional, internasional, atau Olimpiade, atau orang yang berprofesi sebagai olahragawan. • Early Sport Personality Research • William → karakter kepribadian dari atlet wanita yang sukses : atlet individu lebih Dominant, agressive, adventurous, sensitive, independent, self sufficient, & introverted dari atlet berkelompok. • Pesaing wanita secara umum akan tegas, dominan, mandiri, pendiam, berorientasi pada prestasi, cerdas, dan rata-rata emosi rendah. • POMS ( Profile of Moods Sates) melihat ketegangan, depresi, kelelahan.

◆Recent Advances in Sport Personality Research ◆ Terry : Penelitian sebelumnya jarang bagi atlet

◆Recent Advances in Sport Personality Research ◆ Terry : Penelitian sebelumnya jarang bagi atlet untuk tampil baik walaupun memiliki profil ”negatif” secara teoritis. ◆ POMS dikritik tidak invalid dalam competitive sport karena populasi yang berbeda membuat tidak valid.

◆Psychological Disposition ◆Risk Taking ◆Stimulus Seeking ◆Competitiveness ◆Self Confidence ◆Attentional Style ◆Expectation for success

◆Psychological Disposition ◆Risk Taking ◆Stimulus Seeking ◆Competitiveness ◆Self Confidence ◆Attentional Style ◆Expectation for success ◆Mental Toughness ◆Ability to Regulate Stress

◆Behavioral Tendencies ◆ Less effort and intensity into practice than game ◆ Elites do

◆Behavioral Tendencies ◆ Less effort and intensity into practice than game ◆ Elites do and mainting Physical training. ◆ More confident with more detailed competition plans. ◆ Mental plan, what they will do and think, and when they will do it nad think it prior to and during competition.

 • Menggunakan teknik relaksasi sebelum bertanding, teknik digunakan tergantung kebutuhan. • Merasa tenang

• Menggunakan teknik relaksasi sebelum bertanding, teknik digunakan tergantung kebutuhan. • Merasa tenang apabila bertemu dengan pelatih ketika sebelum bertanding sebagai motivator, inspirator dan memperoleh informasi. • Mengetahui lawan tanding (kuat, teknik, latar belakang) bukan untuk dicemaskan. • Dapat mengontrol kecemasan dan ketegangan. • Membangun kepercayaan dan keyakinan melalui gambaran kemenangan.

Routine • Merupakan perilaku yang kita lakukan secara otomatis setiap harinya untuk mencapai tujuan

Routine • Merupakan perilaku yang kita lakukan secara otomatis setiap harinya untuk mencapai tujuan tertentu. • Sama seperti kehidupan sehari-hari, dalam konteks olahraga rutinitas yang dilakukan juga mempunyai tujuan.

Routine • Depth thinking (menciptakan, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah) • Berguna untuk membina

Routine • Depth thinking (menciptakan, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah) • Berguna untuk membina emotional control jika sedang dalam tekanan. • Serta menyiapkan fisik, mental dan emotional sebelum bertanding. • Ritual athlete (Cognitive stage & Automatic stage) – Cognitive (planning & decision making) – Automatic (sport skill perform with minimal thinking)

Routine The 16 -second cure from Dr. James Loehr (1990) • Stage 1 “The

Routine The 16 -second cure from Dr. James Loehr (1990) • Stage 1 “The Positives Physical Response” • Stage 2 “ The Relaxation Response” • Stage 3 “ The Preparation Response” • Stage 4 “The Automatic Ritual Response” Link : https: //www. youtube. com/watch? v=Y 2 z. Tpr. HAFWE

Cognitive Strategies Teknik yang bertujuan untuk meningkatkan proses informasi dan menambah ingatan yang mempengaruhi

Cognitive Strategies Teknik yang bertujuan untuk meningkatkan proses informasi dan menambah ingatan yang mempengaruhi emosi orang (dalam mengurangi kecemasan, berkonsentrasi, dan coping stress). Singer, 1980 –Strategi kognitif memiliki berbagai macam teknik –Tidak semua atlet cocok dengan strategi kognitif yang disarankan oleh konsultan olahraga Hal penting yang harus diperhatikan : –Mental skill, merupakan skill yang harus dipelajari dan dikuasai setiap waktu –Atlet bisa terbebani karena terlalu banyak mempelajari skill baru –Setiap atlet memiliki kebutuhan yang berbeda pada setiap tipe strategi kognitif

Cognitive Strategies Strategi apa yang sering digunakan atlet yang sukses?

Cognitive Strategies Strategi apa yang sering digunakan atlet yang sukses?

Cognitive Strategies • Anticipating → mempercepat kemampuan untuk mengambil keputusan • Association → berfikir

Cognitive Strategies • Anticipating → mempercepat kemampuan untuk mengambil keputusan • Association → berfikir mengenai sensasi tubuh saat bertanding • Automating → “just let it happen” • Boxing → “pikiran negatif di dalam box” • Chunking → “movement”

Cognitive Strategies • Coping → menangani stres – Approach coping → mencari stressor dan

Cognitive Strategies • Coping → menangani stres – Approach coping → mencari stressor dan menghilangkanya – Avoidance coping → menghindari stressor • Cueing • Dissociation → tidak memperdulikan sensasi fisik (keringat, kelelahan) • Distracting → “take a mental break” • Focusing → fokus terhadap tugas posisi • Imagery → membayangkan pertandingan yang sebelumnya

Cognitive Strategies • Labeling → “clock face” • Mental planning → mengetahui terlebih dahulu

Cognitive Strategies • Labeling → “clock face” • Mental planning → mengetahui terlebih dahulu fikiran dan tindakan 12 sampai 24 jam yang lalu • Mental Practice → mengingat kembali motor skill yang sudah dipelajari dan di aplikasikan pada pertandingan • Organizing Input → tidak memperdulikan informasi tidak penting saat menerima masukan yang penting • Planning → memikirkan akan skill dan strategi apa yang akan dipakai saat eksekusi • Possitive self talk → “I feel good”

Cognitive Strategies • Precueing → mendengar stimulus sebelum pertandingan • Psychological distancing → coping

Cognitive Strategies • Precueing → mendengar stimulus sebelum pertandingan • Psychological distancing → coping dengan cara menghindar • Relaxation → penggunaan teknik untuk mereduce hal somatik, seperti otot yang tegang dan tekanan darah • Self monitoring → observasi diri • Thought stopping → “stop” apabila memikirkan hal negatif

Performance Expectations Muhammad Ali, merupakan petinju kelas berat yang menghebohkan dunia pada tahun 60

Performance Expectations Muhammad Ali, merupakan petinju kelas berat yang menghebohkan dunia pada tahun 60 an dan 70 an. Ali terkenal dengan self-centerednya dengan slogan “iam the greatest”.

Performance Expectations Merupakan mental strategy yang bertujuan untuk: 1. Meningkatkan ekspektasi kesukesan 2. Menurunkan

Performance Expectations Merupakan mental strategy yang bertujuan untuk: 1. Meningkatkan ekspektasi kesukesan 2. Menurunkan ekpektasi lawan 3. Membunuh rasa takut

Performance Expectations “attitude qualities” (Denis Waitley, 1978) • Positive Self-Expectancy → optimisme & antusias.

Performance Expectations “attitude qualities” (Denis Waitley, 1978) • Positive Self-Expectancy → optimisme & antusias. • Positive Self Image → mampu menggambarkan hal positif mengenai dirinya. • Possitive Self Control → mampu menerima konsekeunsi apapun yang dihasilkan performanya di lapangan

Performance Expectations • Positive Self Esteem → mampu menyadari kemampuan unik yang dimilikinnya dan

Performance Expectations • Positive Self Esteem → mampu menyadari kemampuan unik yang dimilikinnya dan mengembangkan kemampuan tersebut di atas standar. • Positive Self-Direction → “power of purpose” • Positive Self-Awareness → mampu mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh dirinya

Peak Performances Satu aspek yang membedakan atlet papan atas dan bawah adalah pengalaman peak

Peak Performances Satu aspek yang membedakan atlet papan atas dan bawah adalah pengalaman peak performance. (Ravizza, 1984) 4 categories flow state (Cratty, 1984) : • Anxiety or Arousal • Exremely good feeling • Mental escaping • Postcontest mental break

Peak Performances

Peak Performances

Anxiety about Failure & Success • Tekanan dalam menghasilkan performa terbaik dapat menghasilkan kecemasan

Anxiety about Failure & Success • Tekanan dalam menghasilkan performa terbaik dapat menghasilkan kecemasan • Sebaliknya kecemasan dapat memicu individu untuk sukses • Dilema tersebut adalah – Fear of failure – Fear of success

Anxiety about Failure & Success • Menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan ketakutan seorang

Anxiety about Failure & Success • Menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan ketakutan seorang atlet biasanya berasal dari rasa takut akan kegagalan dan penolakan sosial. (Ronald Smith, 1984) • Fear of Failure (FOF) (Atkin, 1966) “motive untuk menghidari kegagalan” – Para peneliti sebelumnya melihat FOF adalah bentuk dari kecemasan • Membuat alat untuk mengukur FOF untuk melihat seberapa kuat atlet percaya atau mengantisipasi bahwa konsekuensi tertentu akan terjadi ketika mereka merasa bahwa mereka gagal (As Conroy, 2001)

Anxiety about Failure & Success Memberikan rekomendasi untuk para pelatih dan orang tua dalam

Anxiety about Failure & Success Memberikan rekomendasi untuk para pelatih dan orang tua dalam menanganai FOF seorang atlet (Gratty, 1983 ; Passer, 1984) • Support • Emphasize better effort → atlet harus merasa bahwa kesuksesan bisa diraih dengan berlatih • Pandangan yang jelas mengenai sukses dan gagal • Ekspektasi orang lain • Mencari tanda-tanda FOF • Tidak bertanya kepada atlet mengenai emosinya

Fear of Success Lima hal yang menjelaskan sumber dari FOS (Ogilvie, 1968): • Athletes’

Fear of Success Lima hal yang menjelaskan sumber dari FOS (Ogilvie, 1968): • Athletes’ fear of social and emotional isolation that accompanies success • Athletes’ guilt from self-assertion in competition • Athletes protect themselves from competition because they fear discovering their true potential • Athletes may feel anxiety about surpassing a previous record established by an admired performer • Dealing with the pressure to constantly match or exceed one’s previous best performance

 • Silva (1982) → atlet laki-laki memiliki FOS lebih sedikit dibandingkan atlet perempuan

• Silva (1982) → atlet laki-laki memiliki FOS lebih sedikit dibandingkan atlet perempuan

Choking • Kemampuan untuk perform sesuai dengan tingkat kemampuan seseorang dan sesuai dengan kualitas

Choking • Kemampuan untuk perform sesuai dengan tingkat kemampuan seseorang dan sesuai dengan kualitas sebelumnya seringkali membuat cemas • Tekanan yang dianggap bertanggung jawab atas fenomena dalam olahraga tersebut adalah choking

 • Choking dalam olahraga diartikan sebagai penurunan kualitas kinerja di bawah sebuah tekanan,

• Choking dalam olahraga diartikan sebagai penurunan kualitas kinerja di bawah sebuah tekanan, ketidakmampuan untuk mencapai standar dari performa sebelumnya, perform lebih buruk dari yang diharapkan • Bagi banyak penggemar olahraga, setiap pemain atau tim yang tidak perform sesuai dengan harapan diberi label ‘chokers’

How Spectators Affect and Athlete’s Performance • Salah satu kebutuhan terbesar untuk aktualisasi diri

How Spectators Affect and Athlete’s Performance • Salah satu kebutuhan terbesar untuk aktualisasi diri adalah adanya pengakuan dari orang lain (Maslow) • Keberhasilan atletik untuk memenuhi kebutuhan self-esteem juga adanya reinforcement dari masyarakat melalui media dan penonton (Alderman, 1974) • Penonton sangat berpengaruh dalam kompetisi atletik

 • Keuntungan dari tim tuan rumah berkaitan dengan hasil permainan (Swartz & Barsky,

• Keuntungan dari tim tuan rumah berkaitan dengan hasil permainan (Swartz & Barsky, 1977) • Tuan rumah dapat perform lebih baik karena adanya gairah dan tingkat agresi yang lebih tinggi (Courneya & Carron, 1992) • Faktor lain juga berhubungan dengan perjalanan dari tim pengunjung, sepertu perubahan zona waktu, pola tidur dan makan yang berbeda, serta lingkungan yang asing

Hasil penelitian menemukan dua hal: • Keterampilan yang kurang kompleks lebih baik dilakukan dihadapan

Hasil penelitian menemukan dua hal: • Keterampilan yang kurang kompleks lebih baik dilakukan dihadapan penonton evaluatif dibandingkan pengamat • Keterampilan yang lebih sulit cenderung lebih baik dilakukan dihadapan pengamat dibandingkan di bawah pengawasan dari evaluator

Apa yang bisa atlet dan pelatih lakukan untuk mengatasi hal tersebut? • Atlet harus

Apa yang bisa atlet dan pelatih lakukan untuk mengatasi hal tersebut? • Atlet harus memusatkan perhatian mereka pada tugas, bukan pada pengamat, terutama ketika melakukan keterampilan yang kompleks. • Atlet yang mempelajari keterampilan kompleks harus berlatih sampai dikuasai sebelum melakukannya dalam acara yang kompetitif

Coping with Stress • Semua individu yang berpartisipasi dalam olahraga kompetitif harus memiliki kemampuan

Coping with Stress • Semua individu yang berpartisipasi dalam olahraga kompetitif harus memiliki kemampuan untuk menangani kritik, kehilangan, sakit, kesalahan fisik dan mental, serta sumber stres lainnya • Kegagalan untuk cepat beradaptasi dengan pengalaman yang tidak menyenangkan sering menyebabkan kegagalan

Coping with Competitive Situations Bagaimana atlet mengatasi stres? • Merencanakan setiap aspek kinerja mereka

Coping with Competitive Situations Bagaimana atlet mengatasi stres? • Merencanakan setiap aspek kinerja mereka • Memiliki setidaknya satu perilaku alternatif untuk setiap tindakan yang direncanakan Orlick (1980) menyarankan cara terbaik untuk mencegah situasi panik dan cemas adalah mulai memikirkan dan menerapkan solusi sebelum masalah muncul

Coping with Pain Atlet mengikuti beberapa atau semua dari empat tahap dalam menghadapi timbulnya

Coping with Pain Atlet mengikuti beberapa atau semua dari empat tahap dalam menghadapi timbulnya nyeri: • Menggunakan strategi kognitif • Menghadapi dan menangani rasa sakit • Mengatasi rasa sakit pada saat-saat kritis • Menggunakan self-statements

Coping with Sport-Related Stress • Coping style → kecenderungan atlet untuk menggunakan kategori tertentu

Coping with Sport-Related Stress • Coping style → kecenderungan atlet untuk menggunakan kategori tertentu dalam mengatasi bentuk stres kronis atau akut (approach vs avoidance, attention vs distraction, problem focused vs emotion focused) • Coping strategies → tindakan dari atlet yang mengacu pada metode kognitif atau perilaku terhadap stres kronis maupun akut yang muncul (mencari informasi, mencari dukungan sosial, memikirkan dan mencoba untuk menyelesaikan masalah)

Coping Interventions • Gauron’s cognitive self-regulated program → berdasarkan kemampuan atlet untuk mengendalikan sikap,

Coping Interventions • Gauron’s cognitive self-regulated program → berdasarkan kemampuan atlet untuk mengendalikan sikap, persepsi, dan pikiran • Meichenbaum’s stress inoculation training → berfokus pada strategi untuk menghindari efek yang tidak menyenangkan dari stres • COPE → strategi cognitive-behavioral untuk menangani bentuk stres akut yang disebabkan oleh input negatif dari orang lain, terutama pelatih

Psychology of Drug Abuse • Salah satu contoh dari keputusasaan atlet untuk berhasil dalam

Psychology of Drug Abuse • Salah satu contoh dari keputusasaan atlet untuk berhasil dalam olahraga adalah penggunaan zat terlarang • Arti dari obat-obatan berbeda bagi tiap individu • Competitors yang menggunakan anabolic steroids berusaha untuk meningkatkan kinerja mereka, sedangkan individu yang menggunakan narkoba sebenarnya menghambat kinerja mereka

 • Satu yang sangat populer dan disalahpahami adalah creatine • Creatine belum dilarang

• Satu yang sangat populer dan disalahpahami adalah creatine • Creatine belum dilarang di banyak olahraga karena dikategorikan sebagai gizi • Creatine dipercaya dapat meningkatkan kekuatan otot dan kecepatan dalam olahraga

 • Sebuah studi mencoba untuk meneliti penyebab penggunaan narkoba • Hasil penelitian menunjukkan

• Sebuah studi mencoba untuk meneliti penyebab penggunaan narkoba • Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki menggunakan narkoba untuk menjadi lebih kompetitif • Alasan yang paling umum adalah untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan

 • Fungsi utama narkoba bagi atlet adalah mengatasi tekanan untuk berhasil dalam olahraga

• Fungsi utama narkoba bagi atlet adalah mengatasi tekanan untuk berhasil dalam olahraga • Tekanan untuk menjadi kompetitif yang menyebabkan penggunaan narkoba datang setidaknya sebagian besar dari pelatih

TERIMA KASIH

TERIMA KASIH