Biometry IHT OPTIMALISASI BIOMETRI PMN RS MATA CICENDO

  • Slides: 58
Download presentation
Biometry IHT OPTIMALISASI BIOMETRI PMN RS MATA CICENDO 13 Maret 2020 Emmy Dwi S,

Biometry IHT OPTIMALISASI BIOMETRI PMN RS MATA CICENDO 13 Maret 2020 Emmy Dwi S, dr. Sp. M(K), MKes

PARAMETER KEBERHASILAN OPERASI KATARAK • Teknik Bedah? POD 1: • Operasi yg CEPAT? •

PARAMETER KEBERHASILAN OPERASI KATARAK • Teknik Bedah? POD 1: • Operasi yg CEPAT? • Tanpa Komplikasi? - CLEAR CORNEA - ROUND PUPIL - VISUS? • Hasil akhir: penglihatan tetap buram, perlu kacamata? ? ? • REFRACTIVE SURPRISE!!! BIOMETRI YG BAIK (Power IOL Tepat)

Pentingnya Biometri Akurat Katarak dan Bedah Refraktif REFRACTIVE CATARACT PREMIUM IOL LIO Multifokal/EDo. F

Pentingnya Biometri Akurat Katarak dan Bedah Refraktif REFRACTIVE CATARACT PREMIUM IOL LIO Multifokal/EDo. F LIO Toric LIO Multifocal/EDo. F Toric

2 Jenis BIOMETRI • 1. Ultrasound A-Scan • Aplanasi • Imersi • 2. Optical

2 Jenis BIOMETRI • 1. Ultrasound A-Scan • Aplanasi • Imersi • 2. Optical • PCI : IOL Master 500 • SWEPT Source Biometry : IOL Master 700

Komponen Biometri • Panjang aksial (utama) • Keratometri • Lain-lain : • Kedalaman Bilik

Komponen Biometri • Panjang aksial (utama) • Keratometri • Lain-lain : • Kedalaman Bilik Mata Depan (Anterior Chamber Depth / ACD) • Kelainan refraktif • Umur • Surgeon Factor • Posisi Lensa Efektif (Effective Lens Position / ELPo)Lens Factor • A Constant • Ketebalan Lensa (Lens Thickness / LT) • Jarak horizontal limbus (White To White / WTW)

Kesalahan Prediksi Power IOL 38 54 8 AXL K ELPo Olsen T. Sources of

Kesalahan Prediksi Power IOL 38 54 8 AXL K ELPo Olsen T. Sources of errors in intraocular lens power calculation. J Cataract Refract Surg 1992

Formula SRK • P = A - (2. 5)L - (0. 9) K •

Formula SRK • P = A - (2. 5)L - (0. 9) K • • P = kekuatan LIO untuk mendapatkan emetrop L = panjang aksial (mm) K = rerata keratometer (D) A = konstanta A • 1 mm kesalahan pjg. aksial • 1 D kesalahan rerata K = 2. 5 D error = 0. 9 D error BACK

Ultrasound A-Scan • Tidak mengukur panjang aksial secara langsung • Tetapi dari waktu yang

Ultrasound A-Scan • Tidak mengukur panjang aksial secara langsung • Tetapi dari waktu yang dibutuhkan untuk objek memantulkan suara, dikonversi menjadi jarak V (Kecepatan –mm/detik) = D (Jarak-mm) /T (Waktu-detik) • D (AXL) = V x T • 24 mm = 1. 532 m/detik x 0, 0156 detik

Ultrasound A-Scan • Gelombang suara memiliki kecepatan rambat • Kecepatan rambat tergantung media •

Ultrasound A-Scan • Gelombang suara memiliki kecepatan rambat • Kecepatan rambat tergantung media • Kornea - 1641 m/detik • Lensa Jernih - 1641 m/detik • Humor Akuos - 1532 m/detik • Vitreus - 1532 m/detik • Air - 1480 m/detik • Silicone oil - 987 m/detik • Udara - 330 m/detik

A-Scan Aplanasi

A-Scan Aplanasi

A-Scan Aplanasi Optimal • 5 spike 1. Kornea 2. Kap. Ant 90% 3. Kap.

A-Scan Aplanasi Optimal • 5 spike 1. Kornea 2. Kap. Ant 90% 3. Kap. Post 50 -75% 4. Retina 75% (Spike retina curam) 5. Spike sklera 1, 5 -2 mm posterior dari retina kornea sklera kap post Lemak orbita kap ant

Karakteristik A Scan yg Baik • Tall corneal echo • one peak from a

Karakteristik A Scan yg Baik • Tall corneal echo • one peak from a contact probe • double-peaked from immersion probe • Tall anterior and posterior lens capsule echoes • Tall sharply rising echo from retina • Medium tall to tall echo from sclera • Medium to tall echoes from orbital fat

A Scan Kurang Baik: spike retina kurang tegak lurus (kurang tajam)

A Scan Kurang Baik: spike retina kurang tegak lurus (kurang tajam)

Pengukuran terlalu sedikit (minimal 5 s/d 10 x) Echo sklera kurang jelas

Pengukuran terlalu sedikit (minimal 5 s/d 10 x) Echo sklera kurang jelas

Kekurangan A-Scan Aplanasi • Penekanan pada bola mata panjang aksial (AXL) lebih pendek dr

Kekurangan A-Scan Aplanasi • Penekanan pada bola mata panjang aksial (AXL) lebih pendek dr sebenarnya • Kesalahan karena penekanan : • 2. 5 D/mm pd mata normal • 1. 75 D/mm pd mata miop • 3. 75 D/mm pd mata hipermetrop

A-Scan Imersi • Menggunakan corneal shell yang diisi cairan • Probe dimasukkan ke dalam

A-Scan Imersi • Menggunakan corneal shell yang diisi cairan • Probe dimasukkan ke dalam cairan • Kornea tidak akan tertekan (tidak terjadi pemendekan AXL)

A-Scan Imersi

A-Scan Imersi

Kekurangan A-Scan Imersi • Lebih lama dan prosedur lebih rumit • Perlu ruang lebih

Kekurangan A-Scan Imersi • Lebih lama dan prosedur lebih rumit • Perlu ruang lebih besar karena penderita diperiksa dalam posisi berbaring

Optical Coherence Biometry (Biometri Optikal) • Menggunakan prinsip kerja OPTIK Partial Coherence Interferometry (PCI)/SWEPT

Optical Coherence Biometry (Biometri Optikal) • Menggunakan prinsip kerja OPTIK Partial Coherence Interferometry (PCI)/SWEPT SOURCE OCT • Non-kontak • Selain AXL, dapat dinilai K, WTW, ACD, LT dll Gold standard biometry from ZEISS IOL Master 500 Latest biometry from ZEISS IOL Master 700

Gambaran OCB Ideal –IOL Master 500 • Primary maxima yang tinggi dan pipih •

Gambaran OCB Ideal –IOL Master 500 • Primary maxima yang tinggi dan pipih • SNR (Signal-to-Noise Ratio) > 2, 00 • Minimal satu set secondary maxima SNR: 4. 6 AXL: 23. 02

OCB – Gambaran IOL Master yg baik

OCB – Gambaran IOL Master yg baik

Gambaran IOL Master yg buruk

Gambaran IOL Master yg buruk

Kelebihan Biometri Optikal • 5 -10 x lebih akurat daripada Ultrasound A-Scan (akurasi pengukuran

Kelebihan Biometri Optikal • 5 -10 x lebih akurat daripada Ultrasound A-Scan (akurasi pengukuran sampai 0, 01 -0, 02 mm) • Unggul pada kasus-kasus sulit : • Miopia atau hipermetrop ekstrim • Afakia • Pseudofakia • Silikon oil pada rongga vitreus • Akan menggunakan LIO Premium (Toric, Multifocal/EDo. F) • Post LVC (lasik, PRK dll)

Akurasi Pengukuran Panjang Aksial A-Scan Aplanasi + 0, 24 mm Optical Coherence A-Scan Imersi

Akurasi Pengukuran Panjang Aksial A-Scan Aplanasi + 0, 24 mm Optical Coherence A-Scan Imersi Biometry + 0, 12 mm + 0, 01 mm

Kekurangan Biometri Optikal • Prinsip kerja alat secara optikal, sehingga kekeruhan signifikan pada aksis

Kekurangan Biometri Optikal • Prinsip kerja alat secara optikal, sehingga kekeruhan signifikan pada aksis visual akan mengganggu hasil yang baik • • Sikatriks kornea sentral Katarak matur, brunesen, hipermatur Katarak sub kapsular posterior Kekeruhan vitreus (Optical Biometri dgn SWEPT Source OCT (IOL Master 700) meningkatkan penetrasi pengukuran AXL pada media yang keruh dibandingkan IOL Master 500 )

Keratometri • Pengukuran kelengkungan kornea • Kesalahan pembacaan 1 D kesalahan kekuatan LIO 1

Keratometri • Pengukuran kelengkungan kornea • Kesalahan pembacaan 1 D kesalahan kekuatan LIO 1 D • Lepaskan lensa kontak 2 minggu • Metoda : • Manual keratometry • Automated keratometry • Computerized corneal topography • Biometri optikal

FORMULA IOL 1. Teoretikal Berdasarkan prinsip optik geometrik 2. Empirikal Berdasarkan analisis retrospektif data

FORMULA IOL 1. Teoretikal Berdasarkan prinsip optik geometrik 2. Empirikal Berdasarkan analisis retrospektif data 3. Hybrid

Generasi I 1 2 3 4 5 6 7 8 Fedorov & Kolinko (1967)

Generasi I 1 2 3 4 5 6 7 8 Fedorov & Kolinko (1967) Colenbrander (1972) Thijssen (1975) Van der Heijde (1975) Hoffer (1974) Binkhorst (1975) Lloyd & Gills (1978) Retzlaf, Sanders & Kraff (1980)

Generasi II 1. Hoffer (1983) 2. Shammas (1984) 3. Binkhorst (1985) 4. Sanders et

Generasi II 1. Hoffer (1983) 2. Shammas (1984) 3. Binkhorst (1985) 4. Sanders et al (1988) : SRK II 5. Thompson-Maumenee 6. Donzis

Generasi III Hybrid formula • Holladay (1988) : ACD dari rerata kekuatan kornea, faktor

Generasi III Hybrid formula • Holladay (1988) : ACD dari rerata kekuatan kornea, faktor ketebalan retina and konsep surgeon factor • Retzlaff (1990) : SRK/T → faktor koreksi ketebalan retina • Hoffer Q (1993) : modifikasi faktor ACD, lebih akurat pada panjang aksial < 22. 00 mm

Generasi IV Olsen (1995), 4 variabel AXL ACD K LT Holladay 2 (1997), 7

Generasi IV Olsen (1995), 4 variabel AXL ACD K LT Holladay 2 (1997), 7 variabel Olsen WTW Horizontal Umur Refraksi pra-op

Formula Calculated Pamareters IOL Calculation and Axial Length Holladay 1 Hoffer Q SRK/T Haigis

Formula Calculated Pamareters IOL Calculation and Axial Length Holladay 1 Hoffer Q SRK/T Haigis Holladay 2* Barret K's ACD WTW LT LF DF

Aplikasi Klinis Ø AXL antara 22. 0 - 24. 5 mm (NORMAL) • Semua

Aplikasi Klinis Ø AXL antara 22. 0 - 24. 5 mm (NORMAL) • Semua rumus baik • Sebaiknya gunakan generasi III atau IV Ø Ø AXL 24. 5 - 26. 0 mm AXL > 26. 0 mm AXL < 22. 0 mm post refractive surgery Bila tidak tersedia Formula Barret Suite/optical Biometri tak dapat dikerjakam Holladay I SRK T, haigis Hoffer Q Haigis L

IOL Calculation and Formula Based on Axial Length Formula performance for outcomes within ±

IOL Calculation and Formula Based on Axial Length Formula performance for outcomes within ± 0. 50 D of target refraction Extreme Short Normal Extreme Long Holladay 1 Hoffer Q SRK/T a 0, a 1, a 2 optimized Haigis Suite a 0 optimized a 0, a 1, a 2 optimized Holladay II Barrett Suite Axial Length <17 19 of 20 21 E. 22 23 FACS 24 25 26 27 28 data 18 courtesy Warren Hill, MD, 29 30 31 32 33 >34

Pemeriksaan Biometri § Kalibrasi alat § Periksa kedua mata § Pemeriksaan diulang bila (kriteria

Pemeriksaan Biometri § Kalibrasi alat § Periksa kedua mata § Pemeriksaan diulang bila (kriteria ketidak akuratan Holladay): • Rerata keratometri < 40 D atau > 47 D • Panjang aksial < 22, 0 mm atau > 25, 0 mm • Perbedaan antara kedua mata • Panjang aksial > 0, 3 mm • Keratometri > 1 dioptri • Kekuatan IOL > 1 dioptri

A-Scan Tetap Dibutuhkan

A-Scan Tetap Dibutuhkan

Kekuatan LIO berdasar Posisi • Sulkus Kekuatan LIO in the bag Konversi LIO di

Kekuatan LIO berdasar Posisi • Sulkus Kekuatan LIO in the bag Konversi LIO di Sulkus +35, 00 sampai +27, 50 D -1, 50 D +27, 00 sampai +17, 50 D -1. 00 D +17, 00 sampai +9, 50 D -0, 50 D +9, 00 sampai -5, 00 D Tidak ada perubahan • Bilik Mata Depan • Konversi Power LIO sesuai perbedaan konstanta A • Mis : • Konstata LIO PC 118 = 20, 5 D • Konstanta LIO AC 115 17, 5 D

Permintaan Biometri Data Pasien Data Dokter/ Operator Visus / Data Refraksi Pasien Diagnosis Jenis

Permintaan Biometri Data Pasien Data Dokter/ Operator Visus / Data Refraksi Pasien Diagnosis Jenis Biometri (A Scan- US Biometri/Optikal-IOL Master) Formula yang diharapkan Mode mata: fakik, pseudofakik, silicone filled eye, vitrectomized eye dll • IOL yang diperlukan : Asphina/ Lisa Tri/Reyner dll • •

REFRACTIVE SURPRISE

REFRACTIVE SURPRISE

Refractive Surprises • IOL Power Surprise • Gap between data and reality • Absolute

Refractive Surprises • IOL Power Surprise • Gap between data and reality • Absolute biometry prediction error • European Registry for Quality Outcome in Cataract and Refractive Surgery (EUREQUO-2014): > 2 D (87, 1%) > 4 D (11, 7%) > 10 D (1, 1%)

Refractive Surprise sbg Indikator Mutu • Kejadian Refractive Surprise pasca operasi katarak di pertimbangan

Refractive Surprise sbg Indikator Mutu • Kejadian Refractive Surprise pasca operasi katarak di pertimbangan menjadi salah satu INDIKATOR MUTU RS sebagai salah satu ELEMEN PENILAIAN PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN (PMKP) Indikator DISCREPANCY Semua ketidakcocokan antara diagnosis pra dan pasca operasi Tidak sesuainya harapan dan kenyataan (gap)

Definisi Refrsctive Surprise • Terdapat kelainan refraksi (sferis) + 2 DIOPTRI pasca operasi katarak

Definisi Refrsctive Surprise • Terdapat kelainan refraksi (sferis) + 2 DIOPTRI pasca operasi katarak dengan IOL, dari target emetropia (0 D) pada biometri • Terdapat perbedaan refraksi + 2 DIOPTRI dari target refraksi yang telah ditentukan sebelumnya, pada pasien pasca operasi katarak dengan IOL • Contoh: dipilih ukuran IOL dengan target refraksi pasca operasi S-1. 00 D, ternyata yang terjadi pasca operasi ditemukan kelainan refraksi S -3. 00 D

SRK • P = A - (2. 5)L - (0. 9) K • •

SRK • P = A - (2. 5)L - (0. 9) K • • P = kekuatan LIO untuk mendapatkan emetrop L = panjang aksial (mm) K = rerata keratometer (D) A = konstanta A • (-) 1 mm kesalahan pjg. aksial • (-) 1 D kesalahan rerata K = (+) 2. 5 D error = (+) 0. 9 D error BACK

SRK II Modifikasi konstanta A berdasar panjang aksial : • • • < 20

SRK II Modifikasi konstanta A berdasar panjang aksial : • • • < 20 mm > 20 - < 21 > 21 - < 22 >22 - <24, 5 > 24, 5 + 3. 0 D thd konstanta A + 2. 0 D thd konstanta A + 1. 0 D thd konstanta A = konstanta A - 0. 5 D thd konstanta A

SRK T Ditambahkan faktor koreksi ketebalan retina Faktor koreksi ketebalan retina = (0. 65696

SRK T Ditambahkan faktor koreksi ketebalan retina Faktor koreksi ketebalan retina = (0. 65696 - 0. 02029) AXL

Holladay • Refinement of 2 nd gen formulas • Menggunakan panjang aksial dan kekuatan

Holladay • Refinement of 2 nd gen formulas • Menggunakan panjang aksial dan kekuatan kornea untuk memprediksi posisi LIO • “surgeon factor” - analog terhadap konstanta A individual pada SRK II

Holladay Components: • Data screening criteria to identify improbable AXL & keratometry readings •

Holladay Components: • Data screening criteria to identify improbable AXL & keratometry readings • Modified theoretical formula which predicts effective position of IOL based on AXL and average corneal curvature • Personalized SF

Hoffer Q P = f (A, K, Rx, p. ACD) • Hoffer Q refractive

Hoffer Q P = f (A, K, Rx, p. ACD) • Hoffer Q refractive errror • Rx = f (A, K, P, p. ACD) • Personalized ACD (p. ACD) • Set equal to manufacturers ACD-constant or derived from A-constant • p. ACD = ACD-constant = 0. 58337 x A-const - 63. 896

Haigis Use 3 constants : a 0 optimized A constant a 1 tied to

Haigis Use 3 constants : a 0 optimized A constant a 1 tied to the measured ACD a 2 tied to the measured AXL d = a 0 + (a 1 * ACD) + (a 2 * AXL) a 0, a 1 and a 2 can be calculated using Excel spreadsheet from Dr. Wolfgang Haigis at • w. [email protected] uni-wuerzburg. de • • •

Karakteristik A-Scan yg Baik • Tall corneal echo • one peak from a contact

Karakteristik A-Scan yg Baik • Tall corneal echo • one peak from a contact probe • double-peaked from immersion probe • • Tall anterior and posterior lens capsule echoes Tall, sharply rising echo from retina Medium tall to tall echo from sclera Medium to tall echoes from orbital fat

Kesalahan Pengukuran Panjang Aksial • Appropriate echoes from orbital fat and sclera • retinal

Kesalahan Pengukuran Panjang Aksial • Appropriate echoes from orbital fat and sclera • retinal echo that rises 90 degrees from the baseline with no stair steps on the leading edge • set phakic status • do not compress cornea • reproducibility

Keratometri • Untuk mengukur kekuatan kornea • Konversi radius kelengkungan (r) ke dioptri (K)

Keratometri • Untuk mengukur kekuatan kornea • Konversi radius kelengkungan (r) ke dioptri (K) dng indeks refraksi IR = 1. 3375 K = 337. 5 / r • Beberapa menganggap IR terlalu tinggi • Utk koreksi : IR 4/3 (1. 33333) : penurunan kekuatan kornea (atau dikali dng 0. 987654321) Normal r = 7. 704 K = 43. 81 Corrected K = 43. 27 • Lensa kontak harus dilepas sekurangnya 2 minggu

Keratometri • Untuk mengukur kekuatan kornea • Konversi radius kelengkungan (r) ke dioptri (K)

Keratometri • Untuk mengukur kekuatan kornea • Konversi radius kelengkungan (r) ke dioptri (K) dng indeks refraksi IR = 1. 3375 • n 2 – n 1 1, 3375 – 1, 0000 • K= = = 43, 81 D • r 7, 704